ARTI DAN MACAM-MACAM ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM

2.1 APA ITU FILSAFAT?

Filsafat adalah sebuah faham pemikiran yang berasal Persia dan Yunani. Filsafat mulai dijadikan sebagai metode berfikir umat Islam sejak terjadinya interaksi antara kaum Muslimin dengan orang-orang Yunani dan Persia. Semenjak itulah taraf berfikir sebagian kaum Muslimin yang menggunakan taraf berfikir dengan berpijak pada Al-Quran dan Hadits mulai menjadikan akal sebagai sumber utama dalam berfikir. Akibat yang terjadi muncullah pemikiran-pemikiran yang dapat membuat ragu akidah umat Islam pada saat itu. Muncullah aliran-aliran seperti Mu’tazilah, Jabbariyyah, Maturidiyah, dan sebagainya.

Di era sekarang filsafat telah menjadi disiplin ilmu di beberapan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Buku-buku yang membahas filsafat dengan berbagai cabangnya telah beredar di lingkungan kampus dengan jumlah yang besar. Salah satu cabang filsafat adalah Filsafat Pendidikan Islam yang membahas pemikiran filosof-filosof dari kalangan umat Islam tentang pendidikan. Selain itu juga dipelajari pemikiran filosof-filosof Barat tentang pendidikan. Sehingga oleh sebagian orang mencoba mencari faktor yang menyebabkan kemajuan barat, sehingga diambil nilai positifnya.

2.2 ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

2.2.1. Progressivisme

Progressivisme berasal dari kata progresip yang diserap dari kosakata Bahasa Inggris progressive yang mendapat akhiran -isme. Progress dalam bahasa Inggris bermakna kemajuan atau maju, sedangkan progressive artinya orang yang progresip. Dalam bahasa sepakbola, progresip artinya bergerak cepat. Sehingga progressivisme adalah faham tentang bergerak cepat, entah itu berkenaan dengan pemikiran, tindakan, antisipasi atau yang lainnya.

Sedangkan Menurut Zuhairini, Progressivisme dapat diartikan sebagai pandangan hidup yang bersifat fleksibel, toleran, curious, dan open-minded. Fleksibel artinya tidak kaku, lentur, dan tidak rumit. Curious artinya ingin tahu, aneh,, dan heran. Sedangkan open-mind artinya berpandangan terbuka, tanpa prasangka. Jadi progressivisme adalah suatu faham yang ia bebas, terbuka, tidak tertutup, tidak terikat dengan apapun. Sehingga progressivisme sebagai aliran dalam filsafat pendidikan adalah sebagai aliran yang pemikirannya bebas, tidak terikat oleh dogma apapun, terbuka, tidak tertutup.

Dari pengertian secara bahasa dapatlah dimengerti secara jelas mengenai karakteristik aliran progressivisme. Dalam buku yang sama, Zuhairini berpan-dangan tentang sifat aliran progressivisme dan membaginya menjadi sifat nega-tive dan sifat positif.

Sifat itu dikatakan negatif dalam arti bahwa, progressivisme menolak otoritarisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika, dan epistimologi. Positif dalam arti, bahwa progressivisme menaruh kepercayaan tehadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi manusia dari sejak lahir—man’s natural powers. Terutama yang dimaksud adalah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus–menerus melawan dan mengataasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul, dan kegawatan-kegawatan yang timbul dari ling-kungan hidup yang selamanya mengancam.

Progressivisme muncul pada abad ke-18 sejak peristiwa revolusi gereja oleh para filosof Barat yang kecewa dengan otoritas pihak negara yang menjadikan agama Kristen sebagai dasar negara.  Banyak kalangan ilmuwan yang dijatuhi hukuman mati karena teori yang dirumuskannya tentang ilmu pengetahuan bertentangan dengan dogma gereja. Sehingga kalangan filosof ,Kaum Borjuis, dan warga gereja melakukan gerakan menentang Pihak Gereja yang kemudian dikenal

dengan revolusi Gereja. Revolusi pun pecah, dan kesepakatan dicapai antara pihak gereja dengan kelompok tersebut dengan menjadikan agama hanya mengatur urusan privat. Inilah awal munculnya Demokrasi, Liberalisme, Sekulerisme, dan Kapitalisme. Progressivisme sendiri adalah cabang dari sekulerisme.

Sejak revolusi tersebut, orang Barat mengalami kemajuan yang pesat dalam Ilmu pengetahuan dan Sains. Bangsa yang sebelumnya terbelakang, tidak berperadaban, jauh tertinggal dari Islam sebagai sistem yang sempurna, berubah total. Barat perlahan mulai manjadi saingan Islam sebagai peradaban agung. Yang tidak lagi ada campur tangan agama di dalamnya. Hingga era sekarang ini Barat masih memimpin dengan teknologinya. Sistem pendidikan di Barat sebagaimana dikatakan Dewey bertujuan membentuk masyarakat demokratis. Dan fakta membuktikan bagaimana peradaban Barat dengan demokrasinya telah menyebabkan kerusakan alam, lingkungan, dan moral manusianya. Ini karena faham/teori yang mereka cetuskan tidak memiliki batasan yang jelas yang sesuai fitrah manusia.

2.2.2. Esensialisme

Esensialisme berasal dari kosakata Bahasa Inggris essentials yang artinya hal-hal yang perlu, barang-barang yang perlu, dan sifat-sifat dasar yang mendapat akhiran –isme. Sehingga esensialisme dapat diartikan faham/aliran yang memiliki karakteristik mendasar, yang perlu, mengenai hakikatnya sebagai manusia. Bahwasannya yang dimaksud dengan sifat mendasar manusia adalah fitrah manusia itu sendiri. Secara fitrah, manusia adalah lemah dan terbatas, ia tidak mengetahui hakikat dirinya dan alam sekitarnya yang ia tidak bisa menjangkaunya dengan akal, sehingga ia membutuhkan informasi dari yang Maha Tahu.

Esensialisme dalam konteks pendidikan adalah aliran/faham pemikiran dalam bidang pendidikan yang ia terikat dengan aturan-aturan, tidak memberikan sepenuhnya kepada akal manusia untuk mencari pengetahuan. aliran ini adalah lawan dari progressivisme karena esensialisme tidak memberikan dasar berpijak mengenai pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin trtentu, sehingga mudah goyah dan kurang terarah, sehingga aliran ini memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan arah yang jelas.

Esensialisme mulai dikembangkan oleh para pengusungnya pada abad ke-16. Diantara pengusungnya adalah John Amus Comenius (1592-1670) yang ber-pendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk paserta didik sesuai dengan kehendak Tuhan, karena dunia pada hakikatnya adalah dinamis dan bertujuan. sedangkan Johann Friederic Frobel (1782-1852) berpendapat bahwa pendidikan adalah memimpin anak didik ke arah kesadaran diri sendiri yang murni dan selaras dengan fitrah kejadiaannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan umum aliran esensialisme adalah untuk membentuk pribadi yang bahagia di dunia dan di akhirat.

2.2.3. Perennialisme

Perennialisme berasal dari kosakata Bahasa Inggris perennial—yang artinya tumbuh-tumbuhan abadi, kekal, dan bertahun-tahun – yang mendapat akhiran -isme. Menurut Zuhairini, perenialisme adalah kepercayaan filsafat yangberpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi, dan pendidikan yang berpijak pada aliran ini berperan untuk mengembalikan keadaan manusia zaman modern sekarang ini kepada kebudayaan lama karena krisis kehidupan umat sekarang karena telah tidak bercermin pada kesuksesan zaman dahulu.

Dari penjelasan di atas dapat dikembangkan bahwa aliran ini melihat ada yang salah pada cara berpikir masyarakat terhadap kehidupan sekarang ini. Ada yang salah pada pendidikan zaman sekarang sehingga menghasilkan orang-orang yang justru menyebabkan berbagi problem kehidupan. Aliran ini memandang penyebabnya adalah karena telah meninggalkan cara berpikir orang-orang dulu. Sehingga mereka hendak menjadikan penddikan ini seperti masa-masa Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas yang memiliki tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia.

2.2.4. Rekonstruksionalisme

Rekonstruksionalisme sebagaimana aliran-aliran sebelumnya juga berasal dari kosakata bahasa Inggris construction—yang artinya pembangunan, bangunan, dan tafsiran – yang mendapat imbuhan re- dan –isme. Re- berarti kembali. –isme adalah faham. Jadi rekonstruksionalisme adalah sebuah faham yang bertujuan untuk membangun kembali sesuatu yang menjadi topik bahasannya. Sedangkan dalam konteks pendidikan, aliran ini bertjuan hendak membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia, dengan merombak kembali tata susunan pendidikan lama dengan tata susunan pendidikan yang sama sekali baru.

Aliran ini memiliki kesamaan dengan perenialisme dalam hal yang melatarbelakangi munculnya tori tentang pendidikan. Berbagai kerusakan yang terjadi dalam sendi kehidupan mengharuskan adanya perubahan total terhadap pendidikan. Perubahan yang dimaksud dengan merujuk pada pengertian rekonstruksionalisme di atas adalah perubahan hingga ke akar-akarnya. Perubahan yang dikehendaki adalah berubah sama sekali baru.

2.2.5. Eksistensialisme

Eksistensialisme berasal dari kosakata Bahasa Inggris exist—yang artinya ada dan hidup – yang mendapat imbuhan –isme. Dari pengertian secara bahasa dapat diartikan bahwa eksistensialisme adalah aliran yang berpandangan bahwa sesuatu diakui karena keberadaannya. ,sehingga hal-hal yang tidak ada faktanya tidak diakui keberadannya. Dalam konteks pendidikan, aliran ini tidak menjadikan sejarah sebagai disiplin ilmu. Karena para pengusung aliran ini mengatakan sejarah bersifat spekulatif dan faktanya tidak bisa diketahui langsung. Aliran ini tidak banyak dibicrakan di dalam filsafat pendidikan.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s