PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU SINA

 

Ibnu Sina

Ibnu Sina

A. Biografi Ibnu Sina

Nama asli dari Ibnu Sina adalah Abu Ali al-Husain Ibn Abdullah Ibnu Sina, yang lahir pada tahun 980 M / 370 H di sebuah kampung bernama Afsahan, di daerah Kahrmisan Bukhara, Asia Tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Belkh, sebuah kota yang termasyhur dikalangan orang-orang Yunani. Kota tersebut sebagai pusat kegiatan politik, juga sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan. Ia hidup di dalam sebuah keluarga yang kaya raya. Di Bukharalah juga beliau menumpukan dalam bidang bahasa dan sastera dan hidupnya diabadikan dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sejak kecil beliau telah mempelajari banyak ilmu seperti filsafat, geometri, ilmu hisab, fiqh, logika, kedokteran dan lain sebagainya. Beliau belajar langsung dibimbing oleh orang tuanya sendiri, ilmu yang didapatkan langsung dari keluarganya sendiri. Selain belajar dari ayahnya yang bernama Abdullah beliau juga belajar dari guru yang telah dipiihkan orang tuanya.

Ibnu sina mendapat penghormatan yang besar dari kalangan masyarakat, satunya dikarenakan beliau telah mampu mengunakan perpustakaan istana yanng banyak yang sulit didapati. Melalui perpustakaan tersebut beliau mempunyai banyak ilmu pengetahuan. Kemasyhuran dan kepakaran Ibnu Sina ini kemudian telah beliau diberi gelar Mahaguru Pertama (al-Syaikh al-Ra’is). Selama masa hidupnya Ibnu Sina mampu menghasilkan lebih kurang 276 tulisan dan buku, komentar, risalah dalam berbagai bidang. Namun yang paling terkenal adalah dua buah karyanya, yakni “Qanun fi’l-Tibb” (Undang-undang kedokteran) dan Asy-Syifa’ (sembuh dari pada kesalahan). Tidak dapat dinafikan bahawa karya Ibnu Sina yang membincangkan panjang lebar tentang falsafah pengetahuan dalam asy-syifa.

B. Pandangan Ibnu Sina tentang Pendidikan

1.      Pendidikan menurut Ibnu Sina

Menurut Ibnu Sina pendidikan merupakan pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah perkembangan yang sempurna, yaitu aspek pada diri manusia mulai dari perkembangan fisik, intelektual, budi pekerti, mental maupun moral.

Dalam pandangan Ibnu Sina,  pendidikan tak hanya memperhatikan aspek moral, namun juga membentuk individu yang menyeluruh termasuk jiwa, pikiran dan karakter.  Menurutnya, pendidikan sangat  penting diberikan kepada anak-anak untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa dewasa.

Ibnu Sina menegaskan tahap awal pendidikan anak adalah pendidikan akhlak. Ibnu Sina menggunakan istilah Ta’dib bagi menjelaskan kepentingan pendidikan akhlak yang bersifat definsif iaitu sebelum kanak-kanak ini berhadapan dengan tingkahlaku yang tidak baik dan kecenderungan yang buruk ( al-akhlak al-laimah ). Ini sesudah tentu dalam kontek pergaulan dengan rakan sebaya dan lain-lain. Alasan Ibnu Sina dalam konteks ini ialah biasanya kanak-kanak itu cepat boleh terpengaruh dengan bentuk-bentuk akhlak yang buruk atau tabiat yang tidak baik. Mereka juga katanya belum tahu tentang nilai dan perbezaan baik-buruk dan belum tahu untuk mengelak darinya. Justeru itu adalah lebih berfaedah kepada mereka sendiri supaya senantiasa berjauhan dari bentuk-bentuk berkenaan. Inilah pendekatan definsif yang ditekankan oleh Ibnu Sina pada tahap awal ini.

Dalam akhlak, Ibnu Sina berpendapat bahwa siapa yang akan membimbing orang lain, haruslah terlebih dahulu dapat membimbing dirinya sendiri, kerana dirinya itulah yang terdekat kepadanya, paling mulia dan paling perlu mendapat perhatian. Bahkan mengendalikan diri itu lebih susah daripada mengendalikan orang lain. Sehingga siapa yang sanggup mengendalikan dirinya dengan sebaik-baiknya, tidak akan susah mengatur suatu bandar, malah suatu negara.

Kekuatan jiwa ada tiga, yaitu syahwat, marah (ghadhab) dan akal, yang merupakan tiga kehinaan (razilah). Tetapi ketiga macam keluruhan/kekuatan ini, terdapat keluruhan yang disebut keadilan, yaitu yang menghimpunkan segala macam keluruhan itu. Ketika melengkapkan setiap kumpulan itu dengan cabang-cabangnya sebagai unsur yang membentuknya. Misalnya suci diri (iffah), pemurah (sakha’) dan berpuas diri (qana’ah) yang termasuk dalam keluruhan syahwat. Manakala keluruhan ghadab adalah keberanian (syaja’ah), kesabaran (shabr), penyayang (hilm) dan lapang dada (rahh al-baa). Keluruhan akal (al-Quwah al- Natiqah) adalah bijaksana (hikmat), cerdik (fathonah), keaslian (asalah al-ray), tegas (hazm), kebenaran (siddiq), setia (wafa), pengasih (rahmah), malu (haya), keras kemahuan (izamul himmah), memelihara janji (husnul wal muhafazah) dan merendah diri (tawadhu’). Dan induk segala keluruhan ini adalah keadilan adalah, yang mengikut Ibnu Sina adalah kesimbangan semua keluruhan itu sehingga yang satu tidak melebihi orang lain.

  1. Tugas dan fungsi pendidikan Islam

Pada hakikatnya, pendidikan adalah proses yang berlangsung secara kontuniu dan berkesinambungan. Berdasarkan hal ini, maka tugas dan fungsi yang perlu diemban oleh pendidikan Islam pendidikan manusia seutuhnya yang berlangsung sepanjang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh dam berkembang secara dinamis mulai dari kandungan hingga akhir hayat.

Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupan sampai mencapai titik kemampuan optimal. Secara sruktural, pendidiakn Islam menuntut adanya struktur organisasi yang mengatur jalannya proses pendidikan, baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Sementara secara institusional, ia mengandung implikasi bahwa proses pendidikan yang berjalan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan dan mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang.

Menurut Ibnu Sina fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk, yakni:

  1. Alat untuk memelihara, memeperluas dan menghubungkan tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional
  2. Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan. Pada garis besarnya, upaya ini dilakukan melalui potensi ilmu pengetahuan dan skill yang dimiliki, serta melatih tenaga manusia (peserta didik) yang produktif dalam menemukan perimbangan perubahan sosial ekonomi yang demikian dinamis.

3.      Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam

Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu dasar yang terpenting dari pendidikan Islam Al-Qur’an dan hadits.

Dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu:

  1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam dalam al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya.
  2. Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama para sahabat.

Menurut Ibnu Sina tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’adat) kebahagian dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang dikemukakannya, yaitu kebahagiaan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan masyarakat, kebahagian manusia secara menyeluruh dan kebahagian akhir adalah kebahagian manusia di hari akhirat. Kebahagian manusia secara menyeluruh menurut Ibnu Sina hanya akan mungkin dicapai melalui risalah kenabian. Jadi para nabilah yang membawa manusia mencapai kebahagian secara menyeluruh.

Menurut Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dimilikinya.

Khusus pendidikan yang bersifat jasmani, ibnu sina mengatakan hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olah raga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan. Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’adat).

Melalui pendidikan jasmani olahraga, seorang anak diarahkan agar terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan pendidikan budi pekerti di harapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya hayalnya.

Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dsb. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara professional.

Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil  (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi diinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah  di masyarakat.

4.      Kurikulum pendidikan Islam

Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai satu gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crow dan Crow yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isisnya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematik yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Kurikulim disini berfungsi sebagai alat mempertemukan kedua pihak sehingga anak didik dapat mewujudkan bakatnya secara optimal dean belajar menyumbangkan jasanya untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakatnya.

Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum  didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik. Untuk usia anak 3 sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian.

Pelajaran olahraga tersebut diarahkan untuk membina kesempurnaan pertumbuhan fisik si anak dan berfungsinya organ tubuh secara optimal. Sedangkan pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali si anak agar memiliki kebiasaan sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Selanjutnya dengan pendidikan kebersihan diarahkan agar si anak memiliki kebiasaan mencintai kebersihan. Dan dengan pendidikan seni suara dan kesenian diarahkan agar si anak memiliki ketajaman perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya sebagaimana telah disinggung di atas.

Mengenai mata pelajaran olah raga, Ibnu Sina memiliki pandangan yang banyak dipengaruhi oleh pandangan psikologisnya. Dalam hubungan ini Ibnu Sina menjelaskan ketentuan dalam berolahraga yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik serta bakat yang dimilikinya. Dengan cara demikian dapat diketahui dengan pasti mana saja diantara anak didik yang perlu diberikan pendidikan olahraga sekedarnya saja, dan mana saja diantara anak didik yang perlu dilatih olah raga lebih banyak lagi. Ibnu Sina lebih lanjut memperinci tentang mana saja olahraga yang memerlukan dukungan fisik yang kuat serta keahlian dan mana saja olahraga yang tergolong ringa, cepat, lambat, memerlukan peralatan dan sabagainya. Menurutnya semua jenis  olahraga ini disesuaikan dengan kebutuhan bagi kehidupan anak didik. Dari sekian banyak olahraga, menurut Ibnu Sina yang perlu dimasukan kedalam kurikulum adalah olahraga kekuatan, gulat meloncat, jalan cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta.

Mengenai pelajaran kebesihan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pelajaran hidup berusia dimulai dai sejak anak bangun tidur, ketika hendak makan, sampai ketika hendak bangun kembali. Dengan cara demikian, dapat diketahui mana saja anak yang telah dapat menerapkan hidup sehat, dan mana saja anak yang berpenampilan kotor dan kurang sehat. Selanjutnya kurikulum untuk usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an, pelajaran agama, pelajaran sya’ir dan pelajaran olah raga.

Pelajaran membaca dan menghafal menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-qur’an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran Tfasi Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, Akhlak dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya Al-qur’an. Selain itu pelajara membaca dan menghafal Al-Qur’an juga mendukung keberhasilan dalam mempelajari bahasa arab, karena dengan menguasai Al-Qur’an berarti ia telah menguasai kosa kata bahasa arab atau bahasa Al-qur’an.dengan demikian penetapan pelajaran membaca Al-qur’an tampak bersifat startegis dan mendasar, baik dilihat daru segi pembinaan sebagai pribadi muslim, maupun dari segi pembentukan ilmuwan muslim, sebagaimana yang diperlihatkan Ibnu Sina sendiri. Sudah menjadi alat kebiasaan umat islam mendahulukan pelajaran Al-Qur’an dari yang lain-lain.

Hikmahnya :

    1. untuk mengambil berkat dan mengharapkan pahala
    2. khawatir kalau anak-anak tidak terus belajar lalu keluar sebelum sampai membaca/ menghafal al-qur’an. Akhirnya anak-anak tidak mengenal al-qur’an sama sekali.

Selanjutnya kurikiulum untuk usia 14 tahun ke atas menurut Ibnu Sina mata pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya, namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak. Ini menunjukkan perlu adanya pertimbangan dengan kesiapan anak didik. Dengan cara demikian, si anak akan memiliki kesiapan untuk menerima pelajaran tersebut dengan baik. Ibnu Sina menganjurkan kepada para pendidikagar memilihkan jenis pelajaran yang berkaitan dengan keahlian tertentu yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya.

Kedua, bahwa startegi penyusunan kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina juga didasarkan pada pemikiran yang bersifat pragmatis fungsional, yakni dengan melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari dengan tuntutan masyarakat, atau berorientasi pasar (marketing oriented). Dengan cara demikian, setiap lulusan pendidikan akan siap difungsikan dalam berbagai lapangan pekerjaan yang ada dimasyarakat.

Ketiga, strategi pembentukan kurikulum Ibnu Sina tampak sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya. Pengalaman pribadinya dalam mempelajari berbagai macam, ilmu dan keterampialan ia coba tuangkan dalam konsep kurikulumnya. Dengan kata lain, ia menghendaki agar setiap orang yang mempelajari berbagai ilmu dan keahliaan menempuh sebagaimana cara yang ia lakukan.

Dengan meliha ciri-ciri tersebut dapat dikatakan bahwa konsep kurikulum Ibnu Sina telah memenuhi persyaratan penyusunan kurikulum yang dikehendaki masyarakat modern saat ini. Konsep kurikulum untuk anak 3 sampai 5 tahun misalnya, tampak masih cocok untuk diterapkan dimasa sekarang, sepeti pada kurikulum Taman Kanak-Kanak.

5.      Metode pengajaran

Konsep metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain terlihat pada setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran Ibnu Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologinya, Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.

Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.

Yang dimaksud dengan metode talqin dalam cara kerjanya digunakan untuk mengajarkan membaca al-qur’an, dimulai dengan cara memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada anak didik sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran dengan modul.

Selanjutnya mengenai metode demontrasi menurut Ibnu Sina dapat digunakan dalam cara mengajar menulis. Menurutnya jika seorang guru akan mempergunakan metode tersebut, maka terlebih dahulu ia mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muriodnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.

Berkenaan dengan metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dmengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan denganm perkembangan jiwa si anak, sebagaimana hal ini telah disinggung pada uraian diatas.

Selanjutnya metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama.

Berkenaan dengan metode magang, Ibnu Sina telah menggunakan metode ini dalam kegiatan pengajaran yang dilakukannya. Para murid Ibnu Sina yang mempelajari ilmu kedokteran dianjurkan agar menggabungkan teori dan praktek. Yaitu satu hari diruang kelas untuk mempelajari teori dan hari berikutnya mempraktekan teori tersebut dirumah sakit atau balai kesehatan.

Selanjutnya berkenaan dengan metode penugasan adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam bahasa arab pengajaran dengan penugasan ini dikenal dengan istilah at-ta’iim bi al-marasil (pengajaran dengan mengirimkan sejumlah naskah atau modul).

Dalam keseluruhan urasian mengenai metode pengajaran tersebut diatas terdaoat empat ciri penting, yakni uraian tentang berbagai metode tersebut memperlihatkan adanya keinginan yang besar dari ibnu sina terhadap keberhasilan pengajaran. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina juga selalu memperhatikan minat dan bakat si anak didik.

Metode yang ditawarkan ibnu Sina telah mencakup pengajaran yang menyeluruh mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan tingka perguruan tinggi. Ciri-ciri metode tersebut hingga sekarang masih banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam bidang metode pengajaran masih relevan dengan tuntutan zaman.

6.      Konsep hukuman dalam pengajaran

Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan terpaksa hukuman dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari sepenuhnya, bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar dan lebih suka diperlakukan halus. Atas dasar pandangan kemanusiaan inilah maka Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan hukuman.

Penggunaan-penggunaan bantuan tangan adalah pembantu paling diandalkan dan merupakan seni bagi seorang pendidik. Dengan ada control secara terus-menerus, maka mendidik anak dapat diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan sebagainya.

7.      Kelembagaan pendidikan Islam

Didalam salah satu karangan Ibnu Sina menyebutkan bahwa keluarga merupakan institusi terpentik dalam pendidikan. Karena keluarga merupakan pranata sosial pertama dan utama, mempunyai arti paling strategis dan membekali nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan anggotanya dalam mencai makna kehidupan. Didalam keluarga mereka mempelajari sifat-sifat mulia, kesetiaan, kasih sayang, dan sebagainya. Dari kehidupan seorang ayah dan ibu terpupk sifat keuletan, keberanian, sekaligus tempat berlindung, bertanya, dan mengarahkan bagi anggotanya.

Keluarga merupakan denyut nadi kehidupan yang dinamis dan termasuk salah satu pranata yang secara kontributif mempunyai andil besar dalam pembentukan, pertumbuhan, dan pengembangan pendidiakn karakter anak, karena keluarga dibangun lewat hubungan-hubungan kemanusiaan yang akrab dan harmonis, sarta lahir dan tumbuh gejala sosial dan pendidikan dilingkungan pergaulan keluarga.

Ibnu Sina memandang penting institusi keluarga. Karena didalam keluarga terdapat suatu ikatan perkawinan. Perkawinan itu sendiri adalah tiang yang utuh kearah pembentukan masyarakat. Menurut Ibnu sina betapa pentingnya negara menerangkan undang-undang perkawinan. Perkawinan boleh membawa kepada penerusan generasi, justeru itu ia perlu diurus di bawah penentuan undang-undang negara. Untuk mengelak lahirnya gejala-gejala yang kurang sihat dalam masyarakat, maka Ibnu Sina merakamkan bahawa semua upacara dalam perkahwinan itu mestilah mengikut norma-norma agama. Kaum wanita mestilah dijaga dan diawasi, baik pakaiannya atau pun keselamatannya.

Disini juga ada dijelaskan bahawa ibu bapak mestilah memberikan pendidikan yang sempurna kepada anak-anak. Anak-anak perempuan hendaklah dijuruskan dalam bidang-bidang yang sesuai dengan ”nature” mereka (fii ma yakhussuha) sementara lelaki dibidang-bidang untuk mencari nafkah hidup (ai-nafaqa).

Menurut Ibnu Sina dalam pelaksanaan pendidikan disini tidak terhadap kepada perancancangan (planing) dan pelaksanaan (implementation), tetapi juga lebih luas daripada itu. Pelaksanaan berkait rapat dan takrif ilmu, yang pembagiannya kepada ilmu teoritikal dan ilmu pratikal, ta’rif ilmu pratikal menurut Ibnu sina adalah pengetahuan terhadap perkara-perkara yang wujudnya bergantung pada perbuatan dan kemauan kita, seperti akhlak, politik, keluarga, syariat. Tujuan ilmu ini adalah kebaikan, sedangkan tujuan ilmu teorikal adalah kebenaran. Oleh itu ilmu yang dikaitkan dengan amalan dan kemauan kita disebut ilmu pratikal, dan itulah yang kita maksudkan dengan pelaksanaan, seperti yang kita lihat, pelaksanaan memang melibatkan perancangan, pentadbiran, pengajaran, kaidah dan aspek-aspek lain yang boleh disebut sebagai pelaksanaan itu. Falsafah pratikal ini menurut Ibnu Sina, terbagi empat bahagian ilmu yaitu akhlak, pengurusan bandar, pengurusan keluarga dan ilmu Nabi.

8.      Konsep guru

Konsep guru yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam hubungan ini Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni.

Lebih lanjut Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membingbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak dll.

Berkenaan dengan tugas pendidikan, maka tugas seorang guru tidaklah mudah. Sebab pada hakekatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi factor utama guna mencapai kebahagiaan anak, oleh karena itu orang yang ditiru hendaklah menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak meninggalkan kesan  buruk dalam jiwa anak yang menirunya.

Jika diamati secara seksama, tampak bahwa potret guru yang dikehendaki Ibnu Sina adalah guru yang lebih lengkap dari potret guru yang dikemukakan para ahli sebelumnya. Dalam pendapatnya itu Ibnu Sina selain menekankan unsure kompetensi atau kecakapan dalam mengajar, juga berkepribadian yang baik. Dengan kompetensi itu, seorang guru akan dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan yang diajarkannya, dan dengan akhlak ia dapat membina mental dan akhlak anak. Ibnu Sina mengungkapkan, seseorang harus memiliki profesi tertentu dan harus bisa berkontribusi bagi masyarakat.

Menurut Ibnu Sina seorang guru yang baik adalah guru yang bijak dan beragama, sentiasa praktis akhlak yang baik dan ada minat untuk menolong kanak atau pelajar, bersih, amanah, mudah mestra, mempunyai adab, makan-minum, berbicara dan bersosial.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s