RUWATAN: SEBUAH AKULTURASI TRADISI JAWA-ISLAM DI BULAN MUHARRAM

Ruwatan, yang istilah ini sangat erat hubungannya dengan budaya jawa, merupakan salah satu dari berbagai tradisi kejawen yang oleh beberapa masyarakat asli jawa masih dilestarikan hingga saat ini. Namun uniknya, tradisi ini hingga sekarang masih mengundang permasalahan dan tak jarang menimbulkan pertentangan antara kalangan Islam dengan masyarakat jawa pada umumnya. Dari kalangan Islam sendiri meyakini tradisi ini terkesan sarat dengan aura kemusyrikan lantaran terdapat beberapa amalan yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam, sehingga dengan mudah memvonis bahwa tradisi ini adalah suatu yang baru dan diada-adakan yang tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Maka dari itu, di benak kita seakan-akan timbul tanda tanya besar tentang tradisi ruwatan ini.

Atas permasalahan yang timbul tersebut, maka sangat tidak arif kiranya apabila kita menilai tradisi ruwatan hanya dari satu perspektif saja, hanya mencari kelemahan tanpa mencari segi positif, begitu pula sebaliknya. Walaupun di kalangan umat Islam sangat menentang tradisi ini, tetapi sangat disayangkan dan terkesan agama Islam kurang memiliki toleransi apabila langsung menyimpulkan tradisi ini penuh kesyirikan dan bid’ah tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakang, sejarah munculnya serta tujuan historis dari tradisi ini. Ibarat gelas yang berisi air urine (seni), dalam membersihkannya tidak harus dengan memecah gelas, tapi cukup membuang air urinenya dan cuci gelas tersebut dengan menggunakan air bersih. Sehingga hal ini menimbulkan kesan perlunya kearifan kita dalam menghadapi budaya lokal, tidak hanya budaya jawa saja namun budaya yang dimiliki oleh masyarakat lain di Indonesia. Justru sudah menjadi tugas kita sebagai umat Rasulullah saw untuk mengkonstruk ulang budaya-budaya lokal agar sesuai dengan asas dan prinsip ajaran Islam diiringi dengan menanamkan iman dan aqidah kepada mereka melalui jalan dakwah Islam, lebih lanjut pada gilirannya masyarakat akan mengerti dengan sendirinya. Agar lebih mengetahui seluk beluk tradisi ruwatan ini, terlebih dahulu dijelaskan mengenai bulan Muharram menurut pandangan masyarakat Jawa, kemudian lebih lanjut memberikan pemahaman tentang tradisi ruwatan itu sendiri.

1.   Beberapa Tradisi Jawa Dalam Bulan Muharram

Dalam tradisi kalenderial jawa, bulan Muharram diistilahkan dengan bulan Suro. Akar dari kata “suro” ini berasal dari bahasa Arab “Asyura” yang berarti sepuluh. Maksud dari kata ini adalah pada hari kesepuluh di bulan Muharram, umat Islam dianjurkan melaksanakan amalan ibadah puasa sunnah yang disebut puasa Asyura. Karena begitu populernya kata asyura ini maka orang jawa menamai bulan Muharram tersebut dengan nama suro.

Cara menyikapi datangnya bulan ini antara umat Islam dengan masyarakat jawa sangat berbeda. Jika mayoritas umat Islam menyambutnya dengan banyak beribadah dan bersyukur sebagai bentuk kegembiraan atas datangnya bulan pertama dari tahun hijriyah ini dikarenakan banyak sekali keutamaan yang diperoleh di dalamnya. Tetapi bagi masyarakat jawa pada umumnya, bulan ini dianggap sebagai bulan yang penuh malapetaka dan kesialan. Hal ini dapat diperhatikan sekilas dari pemaknaan bulan ini yang bernama “suro”, kemudian seakan-akan beralih maknanya menjadi “soro” yang berarti sial. Karena bulan tersebut dianggap sial, maka masyarakat Jawa kuno menggelar berbagai macam ritual yang bertujuan agar mereka terhindar dari kesialan dan marabahaya yang terjadi di bulan tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan, bulan Suro ini bagi masyarakat Jawa adalah bulan yang dianggap penting dalam kalenderial Jawa sehingga perlu dikeramatkan. Adat-adat nenek moyang seperti pemberian sesaji ke punden-punden, nenepi dan tirakatan sebagai sarana pembuka tabir penyekat antara manusia dengan makhluk halus serta pembangkit aura benda-benda magis dan mistik dipusatkan pada bulan ini. Lebih lanjut masyarakat dihadapkan pada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar pada bulan ini, seperti melangsungkan akad nikah, membangun rumah dan masih banyak lagi.

Salah satu tradisi yang sering kita jumpai di lingkungan masyarakat Jawa pada bulan Muharram ini adalah ruwatan. Tradisi ini hingga sekarang masih diabadikan oleh sebagian masyarakat dan sering kita jumpai di beberapa daerah di Jawa, terutama di daerah jawa tengah dan jawa timur. Kebanyakan tradisi ruwatan ini diselenggarakan di lingkungan pemerintah, pabrik-pabrik, kampus-kampus, di pedesaan dan bahkan juga di tempat-tempat wisata.

2.   Ruwatan: Sejarah Dan Perkembangannya

Ruwatan diambil dari kata “ruwat” yang berarti merawat dan menjaga. Secara umum, ruwat diartikan sebagai usaha untuk mengembalikan kepada keadaan yang lebih baik dengan melakukan ritual pembuang sengkolo (kesialan). Membuang kesialan disini bisa berupa kesialan diri (pribadi), lingkungan, atau masyarakat. Adapun ritualnya bisa dengan mengadakan acara pagelaran pewayangan atau proses ritual untuk membuka aura diri.

Ruwatan untuk lingkungan, yang sering disebut sebagai mageri, proses ritualnya antara lain seperti memberikan daya magis pada lingkungan yang terdeteksi mengandung pengaruh gaib yang bersifat menahan, menolak atau memindahkan aura-aura gaib tersebut. Hal ini biasa dilakukan dengan menanam semacam tumbal seperti kepala kerbau atau kepala kambing. Proses ritual yang lain ialah memberikan pagar gaib yang bertujuan agar tidak dimasuki oleh orang yang berniat jahat, dan memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir dan mengurung makhluk halus.

Ruwat mempunyai asal-usul yang akar ceritanya berasal dari dongeng Hindu-Budha yang bersifat mitos. Konon, Bathara Guru dan permaisurinya yang bernama Dewi Uma ketika bercengkerama di atas laut Pemancingan dengan mengendarai lembu  Andhini. Suatu ketika, Bathara Guru berkeinginan untuk bersatu rasa. Tetapi Dewi Uma tidak mengizinkan, sehingga benih Bathara Guru tumpah ke lautan. Benih yang tumpah itu kemudian berubah wujud menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti yang dinamakan Bathara Kala. Raksasa ini selanjutnya naik ke tempat bersemayamnya para Dewa yang disebut Suralaya. Sesampainya di sana, raksasa meminta makanan dari manusia-manusia. Manusia-manusia ini dijadikan mangsanya Bathara Kala yang oleh Bathara Guru disebut manusia Sukerta dan Jalma Aradan. Manusia sukerta dan Jalma Aradan inilah yang nantinya dilakukan proses periwatan.

Pelaksanaan ruwatan biasanya diselenggarakan secara besar-besaran dengan mengadakan pagelaran wayang kulit, yang ceritanya telah diatur secara khusus bagi pelaksanaan ruwat, seperti Baratayuda, Sudamala, dan Kunjarakarma. Orang yang meruwat pun harus seorang dalang khusus yang mempunyai kemampuan dalam bidang peruwatan.

Sang anak –dengan sebutan anak sukerta– yang akan menjalani proses ruwat, setelah selesai pewayangan akan dilakukan siraman dengan air yang sudah dicampur dengan bunga tujuh rupa dan diiringi dengan pemotongan rambut untuk dihanyutkan di sungai. Kemudian dalang tersebut memberinya semacam rajah yang disebut rajah kalacakra. Rajah ini ditulis dalam huruf jawa melalui tirakatan khusus. Bagi orang tua yang kurang mampu, biasanya hanya mengundang dalangnya saja untuk meruwat anaknya tanpa mengadakan acara pewayangan. Si dalang hanya perlu bercerita tentang riwayat Dewa Kala sehingga prosesi peruwatan seperti ini disebut Dalang Kanda (dalang bercerita)

3.   Ruwatan Menurut Cara Pandang Islam

Bulan suro (Muharram) menurut Islam merupakan bulan yang terletak di awal tahun menurut penanggalan hijriyyah. Sudah menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia menggelar doa akhir tahun di penghujung bulan Dzulhijjah dan doa awal tahun di awal bulan Muharram. Di Indonesia sendiri, umat Islam dalam menghadapi bulan Muharram banyak menggelar berbagai macam acara –termasuk doa awal dan akhir tahun– dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, seperti istighosah, mujahadah, i’tikaf, pengajian dan berbagai acara lainnya di lingkungannya masing-masing (masjid, musholla dan semacamnya).

Pelaksanaan ruwat menurut tatacara Islam –tentunya dengan menghilangkan ritual-ritual yang mengundang kemusyrikan, namun tidak merubah makna essensialnya– yakni memohon keselamatan kepada Allah melalui pendekatan budaya seperti hal-hal yang mengandung unsur-unsur dan simbol-simbol dasar (pagelaran wayang kulit, siraman, potong rambut). Dengan demikian, disinilah letak kehebatan dakwah ulama-ulama terdahulu (wali songo tentunya) yang berusaha memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya setempat tanpa menghapus ajaran Islam yang pokok, sehingga dapat menarik perhatian masyarakat yang justru lama-kelamaan akan sadar dengan sendirinya atas kepercayaannya yang selama ini mereka peluk. Dalam satu sisi mereka menyebarkan agama Islam, namun di sisi lain mereka tidak berkeinginan untuk menolak apa yang telah menjadi tradisi mereka. Dengan itu, mereka melakukan dakwah dengan cara yang santun melalui beberapa inovasi dan konstruksivasi budaya nenek moyang yang sarat kesyirikan dan kejahiliyyahan yang kemudian diarahkan pada budaya yang tidak bertentangan dengan Islam.

Salah satu contoh yang lazim dilakukan dalam prosesi ruwatan ini adalah pengambilan air dari sumur tertentu yang sudah diberi larutan doa yang biasa dipakai oleh seorang kyai untuk siraman. Kemudian memotong rambut dan labuhan yang hanya sebatas simbol saja sebagai sarana penyucian diri sebagaimana seseorang yang bertaubat, mu’allaf ataupun simbol hijrah. Lalu pembuatan sesajen, yang ditaruh di punden atau tempat-tempat yang dianggap keramat untuk ditujukan kepada roh-roh halus, kemudian diubah menjadi sedekah. Jadi, walaupun namanya ruwat, tapi unsur-unsur di dalamnya telah terislamkan.

Meski masyarakat Jawa pada umumnya sudah mulai paham bahwasanya ruwatan merupakan tradisi yang sarat dengan tahayyul. Apalagi di zaman modern ini, pola pikir masyarakat yang sudah sangat berkembang dan maju menganggapnya acara semacam ini hanyalah dongeng belaka, namun mereka masih sangat berat meninggalkan tradisi yang unik ini karena sudah melekat erat dengan kebiasaan mereka selaku orang Jawa. Termasuk pagelaran wayang kulit selaku unsur penting dalam pelaksanaan ruwatan, yang oleh Sunan Kalijaga diubah inti ceritanya yang sarat dengan kebiasaan lama dan tahayyul untuk diganti dengan isi cerita yang lebih islami. Cerita tentang kepahlawanan dan karakter seorang tokoh, dewa-dewa dan berbagai cerita fiktif lainnya tidak serta-merta langsung dihilangkan. Misalnya pagelaran wayang kulit yang bercerita tentang Ramayana dan Mahabarata yang merupakan kisah yang lahir dari ajaran agama Hindu, kemudian di sela-sela cerita disusupi ajaran-ajaran tasawuf dan syari’at yang sesungguhnya termasuk agenda dakwah.

Wayang bukan hanya bernilai budaya semata, namun juga berfungsi sebagai alat komunikasi religius dan sarana dakwah Islam. Wayang juga bukan tontonan dan hiburan semata, namun  juga merupakan tuntunan yang harus diajarkan kepada penonton dalam pengarahan mindset masyarakat yang terkesan kaku menuju kepada kehidupan yang religius. Pagelaran wayang kulit juga dapat dijadikan sarana yang efektif untuk memasukkan doktrin dan ajaran-ajaran agama Islam. Maka dari itu, sudah menjadi tanggungan kita semuanyalah untuk meluruskan hal tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s