PERKEMBANGAN SEKTARIANISME DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM

copy-2-of-e-96

A. Pengertian Sektarianisme Dan Sebab-Sebabnya

Istilah Sektarianisme berasal dari kata ‘sekte’ yang berarti kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan yang sama dalam suatu agama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah sektarianisme dapat diartikan sebagai sebuah semangat membela suatu sekte atau mazhab, kepercayaan, atau pandangan agama yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut[1]. Dengan demikian, istilah sekte ini lebih cenderung kepada sebutan golongan, aliran, atau kelompok dalam suatu agama atau kepercayaan.

Sektarianisme adalah bigotri, diskriminasi, atau kebencian yang muncul sebagai akibat perbedaan di antara suatu kelompok, seperti perbedaan denominasi agama atau fraksi politik[2]. Fenomena sektarianisme ini merujuk pada aliran-aliran, yang muncul diakibatkan pada cara pandang atau perbedaan pemahaman tertentu, baik itu bersifat religius maupun dalam berpolitik. Seringkali nampak dalam sektarian melahirkan sikap atau perilaku yang antikomunikasi, reaksioner, amat emosional, tidak kritis, angkuh dan anti dialog yang akan menyebabkan seseorang atau sekelompok masyarakat membabi buta membela kelompoknya atau mahdzabnya.

Banyak hal yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran dalam Islam. Ada yang dilatar belakangi oleh kepentingan politik, pribadi, kelompok atau golongan. Secara garis besar, yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran atau sekte-sekte dalam Islam dari mulai awal perkembangannya hingga saat ini diantaranya adalah:

1. Adanya kepentingan kelompok atau golongan

Kepentingan kelompok atau golongan pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sebagai contoh timbulnya aliran seperti Syi’ah dan Khawarij yang penyebabnya penyebabnya sangat jelas, yaitu karena adanya kepentingan kelompok atau golongan, dimana Syi’ah dalam sejarahnya sangat berlebihan dalam mencintai dan memuja Ali bin Abi Thalib, sedangkan Khawarij sebagai kelompok yang sebaliknya, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan-kepentingan tersebut.

2. Pengaruh Dari Luar Islam

Ada kalanya penyebab timbulnya perpecahan ditubuh umat Islam yaitu pengaruh dari luar Islam, seperti golongan luar Islam yang menyusup menjadi orang Islam, contohnya seperti salah seorang Yahudi tulen yang mengaku Islam yaitu Abdullah bin Saba’ pada era Rasulullah SAW.

3. Mengedepankan Akal

Akibat dari mempertuhankan akal dalam memahami Islam, dapat memmbulkan perpecahan dikalangan umat Islam, seperti munculnya sekte Mu’tazilah yang juga disebut sebagai aliran selalu mengedepankan akal dalam memahami Islam.

4. Terpengaruh Paham Filsafat Yunani

Diterjemahkannya buku-buku karya para filosof Yunani pada era Bani Abbasiyah, disamping banyak membawa manfaat juga ada sisi negatifnya bila ditangan kalangan yang tidak punya pondasi yang kuat tentang aqidah dan syari’at Islam. Seperti paham Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh paham filsafat Yunani.

5. Termasuki Doktrin Paham Orientalisme

Syaikh Ghalib bin Ali Iwaji menambahkan beberapa hal yang melatarbelakangi timbulnya firqah-firqah dalam Islam diantaranya adalah:

a. Adanya orang yang mengaku Ulama, namun beraqidah menyimpang dan aqidah Islam.

b. Kebodohan yang merajalela yang timbul dikalangan umat Islam.

c. Tidak memiliki standar pemahaman yang benar dalam memahami Islam.

d. Adanya perbedaan pendapat yang didasari oleh hawa nafsu, seperti demi kepentingan politik, golongan, organisasj, pribadi atau aliran tertentu.

e. Timbulnya fanatik golongan atau Madzhab secara berlebihan.

6. Adanya kedengkian terhadap sesama Muslim.

7. Adanya sikap mempertuhankan akal dan menomorduakan Al-Qur’an dan Hadits

8. Akibat adanya pengaruh internal yang memicu timbulnya aliran-aliran[3].

B. Sejarah dan Perkembangan Sektarianisme Dalam Islam

Fenomena munculnya aliran-aliran dalam Islam ini tidak terlepas dari sejarah penyebab lahirnya sektarianisme ini.

1. Masa Rasulullah

H.R. Gibb dalam A. Djazuli memandang peran Muhammad setidaknya menggunakan dua periode besar, yakni periode Makkah dan periode Madinah. Dalam periode Makkah, kedudukan Muhammad disebutnya sebagai Nabi atau Rasul semata sebagaimana Isa. Ia tidak pernah memaklumkan sebuah komunitas baru dengan segala prinsip-prinsipnya. Ia juga tidak melakukan usaha-usaha proteksi dengan kekuatan senjata meski ia dipojokkan. Tidak pernah ditemukan sebuah konflik politik yang besar, yang kemudian memungkinkan terjadinya perang antara kaum Muhammad dengan kaum Arab lainnya. Bahkan dipandang dalam kehidupan di Makkah ini, Muhammad sebagai seorang Nabi tidak membedakan antara umat beriman dengan tidak beriman[4].

Sedangkan dalam periode Madinah, fungsi dan peran kenabian dari Muhammad berubah fungsi menjadi seorang raja. Dalam pandangan Gibb pula, Muhammad menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin Islam dari komunitas masyarakat Islam yang khas. Ia tidak hanya menjalankan peran kenabian akan tetapi lebih menjalankan tugas seorang raja yang mengatur suatu komunitas[5]. Lebih lanjut Al-Mubarakfuri mengemukakan, kehidupan di Madinah semenjak Muhammad menjadi seorang kepala Negara, ia berusaha mengaktualisasikan wahyu yang diterimanya dalam wujud Piagam Madinah, perjanjian antara umat Islam dengan elemen masyarakat Madinah di bawah kekuasaan Islam. Isi dari perjanjian itu sangat monumental sepanjang sejarah Islam, yaitu usaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Hal ini dimaksudkan agar fanatisme jahiliyah menjadi cair dan tidak ada yang dibela kecuali Islam. Dan juga perbedaan-perbedaan keturunan, ras, warna kulit, dan daerah tidak mendominasi agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan yang lain lebih rendah kecuali karena ketakwaannya[6]. Pertautan persaudaraan antara saudara muslim serta masyarakat Madinah secara umum inilah yang merupakan usaha yang benar-benar mampu memecahkan banyak persoalan yang terjadi semenjak era beliau, salah satunya ialah menanggulangi munculnya aliran-aliran/sekte-sekte yang berusaha merusak persaudaraan Islam.

2. Masa Khulafaur Rasyidin

Persoalan politik pertama dihadapi kaum muslimin adalah pada saat setelah Nabi wafat. Sebelum wafat, beliau tidak menentukan siapa penggantinya, sehingga dikenal berbagai mekanisme penetapan kepala Negara dan berbagai kriteria yang sesuai sosiohistoris yang ada. Pada akhirnya sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ditetapkan sebagai khalifah penggantri Rasulullah saw berdasarkan “pemilihan suatu musyawarah terbuka”. Kemudian khalifah kedua, Umar bin Khattab, melewati “penunjukkan oleh kepala Negara pendahulunya”. Begitu pula halnya dengan khalifah ketiga dan keempat, Utsman bin Affan, yang berdasarkan “pemilihan dalam suatu dewan formatur”, dan Ali bin Abu Thalib melalui musyawarah dalam pertemuan terbuka[7].

Pada saat dilantiknya Abu Bakar sebagai khalifah pertama, sebagaimana dikemukakan Khudari Bek yang dikutip A. Hasimy, pada masanya sering terjadi pemberontakan yang dilakukan beberapa suku Arab terhadap Islam[8]. Maka disinilah timbul pertama kali perpecahan di kalangan umat Islam. Untuk menghadapi kaum pemberontak ini, khalifah mempersiapkan beberapa pasukan untuk menghadapi pasukan pemberontak dan memukul lumat mereka sehingga dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian persatuan umat Islam di Arab pulih kembali.

Gejolak terbesar dan paling massif dalam perpecahan di kalangan umat Islam terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib. Sebagai akibat dari suatu pergolakan politik antara Ali bin Abu Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka lahirlah golongan atau sekte yang muncul pertama kali terhadap masing-masing pihak. Masing-masing golongan yang berseteru tersebut memiliki basis kekuatan yang besar dengan jumlah pengikut yang banyak. Maka tidaklah aneh bila secara politis, dua kekuatan ini bukannya menjadi padam tapi justru malah bertambah dahsyat. Pada masa ini muncul tiga aliran politik yang dikenal sering berseteru: pertama golongan Syi’ah, yaitu para pengikut Ali yang hingga kini masih eksis, kemudian golongan Murji’ah yang lebih cenderung memihak Bani Umayyah, dan golongan Khawarij yang secara terang-terangan menganggap golongan Syi’ah dan Murji’ah telah keluar dari agama mereka. Untuk itulah pada saat itu dalam dunia Islam sedang mengalami kegoncangan yang besar sekali, dan konflik ini masih tetap berlanjut hingga masa setelahnya, yakni masa Bani Umayyah[9].

Awalnya munculnya aliran-aliran itu membahas persoalan politik, namun lambat laun persoalan tersebut berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah yang akhirnya memunculkan aliran-aliran baru yang memusatkan diri pada permasalahan teologis.

3. Masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, timbullah masa dinasti yaitu kekuasaan yang dipegang oleh keturunan Umayyah dan kemudian keturunan Abasiyah. Pada masa Abbasiyah, dunia Islam dipegang oleh beberapa dinasti dalam wilayahnya masing-masing: dinasti Abbasiyah di Baghdad, dinasti Umayyah di Andalusia, dan dinasti Fathimiyyah di Mesir.

Pada masa Nabi tercermin prinsip-prinsip politik dari adanya piagam Madinah yang dipegung teguh oleh para Khulafaur Rasyidin. Prinsip-prinsip itu berupa: persatuan, persamaan, keadilan, perdamaian, musyawarah, kemanusiaan, kejujuran dan pemimpin sebagai abdi masyarakat. Tetapi pada masa setelahnya, prinsip-prinsip itu tergeser sehingga kekuasaan yang menjadi panglima dan bukan hukum menjadi panglima dengan perebutan kekuasaan. Akhirnya tergambarkan dari keruntuhan kekuasaan Abbasiyah dan Umayyah[10].

Pada masa Bani Umayyah, kondisi wilayah Islam kembali stabil, rakyat kembali merasa aman dan tenang pasca terjadinya konflik pada masa Ali bin Abu Thalib. Kekuatan militernya bertambah kuat dan wilayah kekuasaannya semakin luas. Hanya saja di wilayah Irak (termasuk Kufah, Bashrah, dan sekitarnya) sering terjadi gejolak dan fitnah yang dilakukan oleh golongan Syi’ah, namun masih dapat diatasi oleh pemerintah Umayyah[11]. Begitu pula dengan kelompok Khawarij yang merupakan duri bagi pemerintahan Bani Umayyah. Khawarij terus-menerus mengganggu dan berusaha untuk tetap memeranginya, seperti di daerah Irak (dekat Bashrah) dan di Jazirah Arab (Hadramaut, Yaman, Tha’if). Pemerintahan Umayyah tidak mampu memberantas kelompok ini, namun pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, basis kekuatan kelompok ini lambat laun menurun dan berkurang[12].

Sistem pemerintahan yang dijalankan ialah sistem kerajaan berupa pewarisan tahta kepada putra mahkota, namun sebagaimana dituturkan Ibnu Khaldun, Mu’awiyah melakukan hal tersebut karena selain merupakan tokoh Quraisy yang paling disegani, ia juga ingin menjaga keutuhan dan persatuan umat dengan cara ini, yang itupun melalui persetujuan dewan tinggi (ahlul hill wal aqd)[13]. Sistem pewarisan putra mahkota ini tetap terus berlanjut hingga berakhirnya masa kekuasaan Bani Umayyah.

Setelah kekuasaan Bani Umayyah berakhir, periode kekuasaan Islam dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Pada masa ini, Islam berada pasa masa keemasannya, baik secara politik, militer, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan[14]. Pada aspek teologis, muncul aliran-aliran baru yang merupakan kelanjutan dari aliran-aliran yang muncul pada masa Ali bin Abu Thalib dan awal Bani Umayyah. Aliran tersebut antara lain Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Aliran-aliran ini muncul sebagai akibat perkembangan pemikiran teologis yang dibawa oleh pemikiran Yunani, yang pada akhirnya membawa pemikiran rasional dalam Islam. Munculnya tokoh-tokoh seperti Abu Al-Huzail Al-Allaf (135-235 H/752-849 M, perumus pemikiran aliran Mu’tazilah) dan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (873-935 M, pendiri aliran Asy’ariyah) membawa nafas baru di bidang teologi Islam. Begitupun di bidang keagamaan, banyak mujtahid bermunculan yang mengeluarkan pendapatnya serta mendirikan mazhab-mazhab. Namun karena pengikutnya tidak berkembang, sebagian besar mazhab-mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman, kecuali empat mazhab yang masih dikenal dan dianut oleh umat Islam seluruh dunia sampai saat ini[15].

4. Pada Pertengahan Abad Kedua Puluh

Pada masa ini terjadi dekolonisasi Negara-negara muslim yang terpisah satu sama lain akibat imperialisme yang dilakukan Negara-negara Barat/Eropa. Banyak Negara-negara Islam mulai memerdekakan diri, yang umumnya negeri-negeri Islam yang merdeka ini dipimpin oleh pimpinan yang terdidik secara barat.

Dunia Islam dewasa ini dilihat dari pelaksanaan siyasah syar’iyyah (politik Islam) dapat dibagi menjadi 3 tipe :

a. Negara yang melaksanakan hukum Islam secara penuh (pola integralistik)

b. Negara yang menolak hukum Islam secara penuh (pola sekuleristik)

c. Negara yang tidak menjadikan sebagai suatu kekuatan struktural (dalam sektor politik) tetapi menempatkannya sebagai kekuatan kultural atau mencari kompromi (pola simbiostik)[16].

Pemikiran tokoh-tokoh dalam politik Islam dapat dikategorikan menjadi dua periode, yakni periode pra modern dan modern. Kedua masa itu pada hakikatnya para pemikir politik Islam bergulat pada upaya untuk mencari basis intelektual dari hubungan politik dan Islam.

a. Pada masa pra modern pemikiran politik Islam dipengaruhi oleh pemikiran yunani, melalui kajian filsafat.

b. Sedangkan pada masa modern pengaruh politik barat terhadap politik Islam sudah masuk melalui imperalisme[17].

Dikalangan Umat Islam sampai sekarang terdapat tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan politik.

a. Aliran pertama, berpendapat bahwa Islam bukan semata-mata agama dalam pegertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Tokoh utama aliran ini antara lain Syekh Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Rasyid Ridla dan Abul A’la al-Maududi.

b. Aliran kedua, berpendapat bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Muhammad hanyalah seorang Rasul biasa seperti halnya Rasul-rasul yang lain, dengan tugas utama mengajak (dakwah) manusia kepada jalan Tuhannya dengan menjunjung tinggi nilai moral, dan Nabi tidak dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai suatu negara. Pendapat ini dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer diwakili oleh seorang ulama Mesir, Ali Abd ar-Raziq, dalam risalahnya yang sangat ramai diperdebatkan, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan), pernah mengemukakan bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul dan juru dakwah, bukan seorang pemimpin negara.

c. Aliran ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Tetapi aliran ini pula menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian sekuler yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Aliran ini berpendapat bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Salah satu tokoh yang mendukung pendapat ini diantaranya adalah Mohammad Husein Haekal, Fazlur Rahman dan di Indonesia tokohnya Nurcholish Madjid[18].

C. Profil Masing-Masing Sekte atau Aliran Dalam Sejarah Islam

Sektarianisme dalam Islam ini cukup banyak. Namun bila dikelompokkan, secara garis besar menurut beberapa pakar sejarah, aliran-aliran tersebut diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni aliran politik dan aliran kepercayaan (aqidah). Masing-masing dari aliran tersebut akan diulas secara rinci sebagai berikut:

  1. Aliran Politik

Pada masa Nabi SAW dan para Khulafaur Rasyidin, umat Islam bersatu. Mereka berada pada satu aqidah, satu siyasah, satu politik, satu akhlaqul karimah. Apabila terjadi perselisihan pendapat di antara kaum muslimin masih dapat diatasi dengan wahyu. Meski begitu benih-benih perpecahan sudah dimulai pada zaman Nabi saw, yakni munculnya Abdullah bin Ubay, seorang munafik yang berusaha memecah belah Umat Islam di Madinah[19]. Kemudian perselisihan ini muncul kembali dengan hadirnya figur seperti sosok Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi) pada pemerintahan Utsman bin Affan dan berlanjut pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib[20].

Cikal bakal munculnya aliran politik ini bermula pada masa khalifah Utsman bin Affan. Pada masa itu, terjadi perselisihan yang dilatarbelakangi oleh kepentingan kelompok yang mengarah pada peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman. Kemudian kepemimpinan umat Islam digantikan oleh Ali bin Abu Thalib. Pada masanya, permasalahan umat Islam masih tetap berlanjut dan kondisinya pun semakin kacau, hingga pada puncaknya terjadilah perang Jamal antara Khalifah Ali dengan Aisyah yang terjadi pada tahun 36 H. Namun perang ini dapat diselesaikan oleh khalifah. Kemudian muncul perang Shiffin, antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang terjadi pada tahun 37 H. Bermula dari sinilah awal perpecahan umat Islam benar-benar tampak. Di saat pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Amr bin Ash nyaris mengalami kekalahan, kemudian Amr mengangkat al-Qur’an sebagai isyarat perdamaian. Usulan ini kemudian diterima sehingga terjadilah perundingan (tahkim). Hasilnya, Ali diturunkan dari jabatannya dan Muawiyah diangkat menjadi Khalifah. Dari sinilah muncul aliran politik yang pertama kali, yakni Syi’ah, Khawarij, dan Murji’ah[21].

Persoalan awal dari perpecahan ini sebenarnya bukan terletak pada ambisi politik dari Mu’awiyah untuk meraih jabatan yang lebih tinggi, melainkan karena adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mu’awiyah sebagai gubernur Damaskus pada saat itu bermaksud untuk melawan Ali bin Abu Thalib bukan karena ingin merebut kekuasaan atau menginginkan jabatan khalifah, namun karena ingin menuntut dijatuhkannya qishash bagi pembunuh Utsman. Namun bagi Ali, ia bukan bermaksud mengulur-ulur waktu dalam mengusut dan menjatuhkan hukuman bagi pembunuh Utsman, tapi masih ada permasalahan lain yang jauh lebih besar dan segera dituntaskan, seperti munculnya kaum pemberontak yang masih menguasai Kota Madinah di kala itu[22].

Begitu halnya dengan Aisyah, isteri Nabi saw yang terlibat dalam perang Jamal. Semuanya tidak lepas dari persoalan politik. Ketika Ali telah dibaiat sehari setelah Utsman terbunuh di Madinah. Semua sahabat membaiatnya, demikian juga Thalhah dan Zubair yang membaiatnya dengan terpaksa dan bukan dengan kerelaan. Mereka pergi ke Bashrah untuk menunutut mati pembunuh Utsman. Ali mendengar kabar ini dan menyusulnya hingga menemui mereka semua. Disinilah terjadinya Perang Jamal. Pada peperangan ini Thalhah dan Zubair serta beberapa orang lainnya terbunuh. Peperangan ini menelan tiga belas ribu jiwa dan meraka itu adalah kaum muslimin.[23] Peristiwa ini merupakan salah satu pertentangan antarkelompok sehingga penumpahan darah pertama yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Peperangan inilah kemudian pada akhirnya membagi umat Islam ke dalam kelompok besar atau aliran politik yang menjurus kepada sektarianisme yang cukup kuat.

Adapun profil masing-masing aliran (sekte) dalam aspek politik ini akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Sekte Syi’ah

Secara bahasa, kata ‘Syi’ah’ berarti pengikut. Dalam perkembangannya, istilah ‘Syi’ah’ ini dipakai oleh kalangan umat Islam sebagai kaum yang beri’tiqad bahwa Ali bin Abu Thalib adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi[24]. Sedangkan menurut Asy-Syahrastani, sekte Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abu Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui nash (wahyu) dan wasiat dari Nabi, baik secara terang-terangan maupun secara eksplisit. Mereka juga beranggapan bahwa imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalur keturunan Ali[25].

Secara historis, aliran atau sekte ini berawal dari sebuah pendapat yang muncul dari kalangan sahabat pada saat Nabi saw wafat dan segera digantikan posisi beliau dalam kepemimpinan Islam, bahwa Ali bin Abu Thalib lah yang lebih utama memegang kepemimpinan umat Islam bila dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka yang berpendapat demikian ialah Ammar, Abu Dzar, Salman Al-Farisi, Jabir bin Abdullah, Al-Abbas dan anaknya, Ubay bin Kaab, Huzaifah, dan lainnya[26].

Namun aliran ini baru menampakkan diri setelah terjadinya proses perundingan (tahkim) antara Ali dengan Mu’awiyah pasca perang Shiffin. Pada saat proses tahkim ini, ternyata tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Umat Islam terpecah menjadi tiga aliran, salah satunya adalah Syi’ah (pengikut Ali). Bagi kaum Syi’ah, jabatan kepala negara bukanlah hak tiap orang Islam, dan bukan hak setiap orang Quraisy, tetapi adalah hak monopoli Ali bin Abu Thalib dan keturunannya. Mereka tidak mengakui kepemimpinan khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), dan mereka juga tidak mengakui kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah[27].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Syi’ah dari segi politik antara lain:

1) Pangkat khalifah pengganti Nabi setelah Nabi wafat diwarisi oleh ahli waris Nabi dengan jalan penunjukan langsung dari Nabi. Siapa saja yang tidak menerima paham ini adalah orang yang tidak mau menuruti wasiat Nabi dan termasuk orang yang terkutuk.

2) Khalifah atau ‘imam’ (menurut istilah Syi’ah) adalah pangkat yang tertinggi dalam Islam. Artinya, pangkat khalifah itu tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada pilihan rakyat, melainkan harus ditunjuk terlebih dulu oleh Nabi dan imam-imam yang lain yang ditunjuk pula oleh Imam itu. Adapun orang-orang yang memilih khalifah dengan jalan Syura (musyawarah) adalah orang-orang yang berdosa.

3) Khalifah atau imam adalah ma’shum keberadaannya, artinya tidak pernah berbuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan dikritik karena ia adalah pengganti Nabi yang sama kedudukannya dengan Nabi.

4) Khalifah atau imam masih mendapat wahyu dari Tuhan walaupun tidak dengan perantaraan jibril, dan wahyu yang dibawanya tersebut wajib ditaati[28].

b. Sekte Khawarij

Secara bahasa, kata ‘Khawarij’ berarti keluar, artinya kaum atau sekte yang keluar dari Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan[29]. Menurut Asy-Syahrastani, istilah ‘Khawarij’ ini dipergunakan untuk menyebut kelompok yang memberontak dan tidak mengakui keabsahan imam yang sah, baik pada zaman sahabat (empat orang khalifah pilihan), atau pada masa tabi’in atau terhadap imam-imam yang sah sepanjang masa[30].

Dalam sejarah, aliran Khawarij ini dimulai sejak terjadinya perundingan (tahkim) antara Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan pasca peperangan Shiffin. Mereka ingin berunding untuk menyelesaikan perkara tersebut secara damai antara kedua belah pihak. Dari sinilah timbul perpecahan (salah satunya Khawarij). Khawarij tidak bisa menerima tahkim karena mereka merasa bahwa Ali bin Abu Thalib adalah khalifah yang sah pada saat itu, dan sebaliknya mereka menyalahkan Ali karena menerima tahkim tersebut dan menuduhnya sebagai kafir[31].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Khawarij dari segi politik antara lain:

1) Pengangkatan khalifah-khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, begitu pula dengan pengangkatan Ali bin Abu Thalib yang juga sah hingga terjadi persitiwa tahkim. Semenjak itulah kedudukan Ali sebagai khalifah gugur.

2) Kekhalifahan adalah haknya seluruh kaum muslimin, baik merdeka maupun budak asalkan mampu dan adil[32].

c. Sekte Murji’ah

Secara bahasa, kata ‘Murji’ah’ berasal dari kata irja’ yang berarti menangguhkan. Jadi kaum Murji’ah dapat diartikan sebagai kaum yang menangguhkan[33]. Maksud dari penangguhan ini menurut Asy-Syahrastani, ialah penundaan kepemimpinan Ali bin Abu Thalib dari yang pertama menjadi yang keempat. Sesuai dengan pengertian ini, maka sekte Murji’ah adalah lawan dari sekte Syi’ah[34]. Sedangkan menurut Ahmad Amin, istilah Murji’ah ini dialamatkan pada upaya penangguhan yang dilakukan golongan ini terhadap persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukumnya bagi golongan yang berselisih ini[35]. Penjelasan lebih lanjut tentang pendapat Ahmad Amin mengenai Murji’ah ini akan dijelaskan pada bab aliran kepercayaan.

Dari sini dapat diketahui bahwa golongan Murji’ah ini adalah golongan politik yang tidak mau mengotori tangan mereka dengan berbagai fitnah meski secara politik nampaknya lebih cenderung memihak kepada Mu’awiyah dalam perundingan tahkim. Mereka tidak mau menentukan kesalahan atau kebenaran dari salah satu golongan yang berselisih (Syi’ah dan Khawarij). Golongan Khawarij mengkafirkan Ali dan Utsman serta orang-orang penyokong tahkim, sementara Syi’ah mengagung-agungkan Ali dan keturunannya namun mangkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Namun untuk Murji’ah tidak mau terlibat dalam hal tersebut[36].

Adapun intisari dari pemahaman Murji’ah secara politis ialah tidak mau menyalahkan orang lain. Mereka tidak mau mencampuri persoalan seolah-olah mereka hanya mau ‘berpangku tangan’ atau pasif saja. Mereka hanya menjawab bahwa persoalan tersebut ditangguhkan sampai di hadapan Tuhan, nama yang benar dan mana yang salah[37].

  1. Aliran kepercayaan (Aqidah/Teologi)

Dalam kaitannya dengan teologi Islam, aliran kepercayaan ini lebih disebut dengan aliran kalam. Kajian ini dalam disiplin ilmu agama dimasukkan ke dalam ilmu kalam. Menurut Ibnu Khaldun seperti yang dikutip A. Hanafi, ilmu kalam ini mengulas beberapa alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah[38].

Di masa Nabi Muhammad umat Islam belum mengenal namanya teologi. Karena sumber penyelesaian segala permasalahan masa di tangan Nabi. Setelah wafatnya Nabi barulah mulai muncul sedikit permasalahan yang penyelesaiannya agak rumit. Persoalan pertama itu adalah masalah politik, siapa yang akan menggantikan Nabi. Namun persoalan ini masih dapat diselesaikan dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah. Hingga di zaman Umar bin Khattab persoalan teologi belum muncul. Hingga pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, aliran kepercayaan/teologi ini muncul sebagai simbol pertama perpecahan di kalangan umat Islam. Berangkat dari permasalahan politik waktu itu yang kemudian berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah. Jadi, persoalan-persoalan yang terjadi dalam masalah politik sebagaimana digambarkan di atas inilah pada akhirmya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi, seperti persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam islam, kedudukan umat Islam di akhirat, dan lain sebagainya.

Adapun beberapa aliran yang muncul pada aspek teologis/kepercayaan masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.

a. Aliran Khawarij

Kelompok ini pada awalnya adalah suatu aliran kelompok yang memberontak terhadap imam yang sah pada saat itu, yakni Ali bin Abi Thalib. Lebih tepatnya ialah kelompok yang tidak sepakat dengan tahkim yang diusulkan oleh kelompok Muawiyah. Pada awalnya, kelompok ini membela dan membantu Ali dalam pertempuran Shiffin melawan Mu’awiyah. Namun mereka merasa tidak puas terhadap gencatan senjata hingga melahirkan tahkim yang diputuskan antara kedua belah pihak. Mereka yang tidak puas itulah akhirnya keluar dari pasukan Ali dan membentuk kelompok Khawarij ini. Tokoh Khawarij pertama dari pergolakan ini ialah Al-Asy’asy bin Qais Al-Kindi, Mas’ar bin Fudaki At-Tamami, dan Zaid bin Husain Ath-Thai[39].

Kelompok ini beranggapan bahwa genjatan senjata dengan cara tahkim adalah tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam hukum Islam karena hukum Allah sudah sangat jelas. Bagi Khawarij, berperang melawan pemberontak (maksudnya Mu’awiyah) mereka yakini itulah yang benar, dan golongan ini menuntut agar Ali mengakui kesalahan dan kekafirannya karena menerima perundingan dengan Mu’awiyah. Begitu kerasnya keyakinan Khawarij ini sehingga melahirkan semboyan ‘Laa hukma illallaah’ (tidak ada hukum kecuali dari Allah)[40].

Khawarij dianggap sebagai kelompok politik pertama yang kemudian memunculkan persoalan teologi yakni tuduhan siapa yang kafir di kalangan kaum muslimin. Mereka memandang bahwa orang yang berdosa besar telah berubah menjadi kafir. Orang-orang yang terlibat dan menyetujui perundingan pascaperang Shiffin adalah orang-orang berdosa besar. Kelompok inilah menganggap hanya dirinya yang benar, sehingga Ali dan Muawiyah harus dibunuh. Dan hal itu terwujud pada Ali yang berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (salah satu pengikut Khawarij), namun untuk Muawiyah tidak berhasil[41].

Di antara paham-paham yang melekat dan menjadi ciri khas kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1) Kelompok ini sangat keras dalam hal iman dan kufur. Mereka lekas-lekas menuduh ‘kafir’ dan halal darah serta hartanya bagi orang-orang di luar kelompoknya atau lawan-lawan politiknya. Bahkan Ali bin Abu Thalib, Mu’awiyah (Gubernur Damaskus yang menjadi rivalnya Ali saat perang Shiffin), dan Aisyah binti Abu Bakar (yang merupakan lawan Ali saat perang Jamal) juga dicap sebagai kafir.

2). Iman menurut Khawarij, bukan hanya pengakuan dari dalam hati dan ucapan dengan lisan saja, tapi amal ibadah menjadi rukun iman pula. Maka dari sini menurut pemahaman Khawarij, orang yang tidak shalat, zakat, puasa, dan haji maka orang itu telah kafir.

3). Pelaku dosa, baik besar maupun kecil sekalipun pelaku tersebut seorang mukmin adalah kafir, wajib diperangi, dan boleh dibunuh serta dirampas hartanya.

4). Anak kecil yang orang tuanya kafir, bila mati maka statusnya juga kafir karena mengikuti ibu bapaknya[42].

b. Aliran Murji’ah

Nama ‘Murji’ah’ ini mencuat setelah dari kelompok Khawarij menyatakan pernyataannya dalam hal teologi (iman dan kufur), sehingga kemunculannya seringkali disandingkan dengan Khawarij. Bahkan bisa diibaratkan, bila tidak ada persoalan politik (kepemimpinan/khalifah), maka tidak ada Khawarij. Bila tidak ada Khawarij maka tidak ada pula Murji’ah dan Syi’ah[43].

Kelompok ini dipelopori oleh Jaham bin Shafwan, yang berusaha bersikap netral atas persoalan yang mendera umat Islam pada masa itu, tepatnya pada masa Ali. Secara teologis, kelompok ini menyatakan bahwa orang Muslim yang melakukan dosa sebesar apapun tidak boleh dihukumi kafir selama dia masih tetap muslim[44]. Maka dari itu, Ahmad Amin menuturkan bahwa kelompok ini dinamai Murji’ah sebab mereka menangguhkan persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukum bagi orang atau golongan yang berselisih ini, apakah ia berubah menjadi kafir ataukan tidak[45].

Adapun beberapa paham yang menjadi keyakinan kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1). Iman itu adalah mengenal Tuhan dan para Rasul-Nya. Bila seseorang sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup untuk menjadi seorang yang mukmin.

2). Orang yang telah beriman di dalam hatinya, percaya pada Tuhan dan Rasul-Nya meski kelihatan menyembah berhala atau mengerjakan dosa-dosa besar, orang ini masih dianggap mukmin.

3). Seperti pada sebutannya, Murji’ah yang berarti memberi tangguh, mereka berusaha menangguhkan orang yang bersalah/berdosa sampai ke hadapan Tuhan pada hari kiamat. Tidak ada balasan dari Tuhan di dunia[46].

Beberapa paham Murji’ah di atas seolah-olah bertentangan dan saling berseberangan dengan paham yang diyakini Khawarij. Tetapi memang begitulah bila dilihat dari sudut pandang historis bahwa keberadaan aliran Murji’ah ini adalah sebagai bentuk perlawanan teologis terhadap apa yang diyakini Khawarij yang sangat ekstrem dan keras.

c. Aliran Qadariyah

Qadariyah berakar pada ‘qadara’ yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan. Sedangkan sebagai aliran, Qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. Dalam paham Qadariyah, manusia dipandang mempunyai gudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar atau qada Tuhan. Aliran Qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya.

Aliran yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani. Ia berpandangan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam menentukan hidupnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia menentukan segala perbuatan yang dia inginkan.

d. Aliran Jabariyah

Nama Jabariyah berasal dari kata ‘jabara” yang mengandung arti memaksa. Paham Jabariyah disebut fatalisme atau predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia ditentukan sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan. Dengan demikian posisi manusia dalam paham ini tidak memilki kebebasan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Dalam sejarah tercatat, aliran Jabariyah ini dibawa oleh Ja’ad bin Dirham. Selanjutnya aliran ini mengembangkan pahamnya sejalan dengan perkembangan masyarakat pada masa itu.  Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Jabariyah ini mengajarkan paham bahwa manusia dalam melakukan perbuatannya berada dalam keadaan terpaksa. Manusia dianggap tidak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Golongan ini sangat berlawanan dengan paham Qadariyah, karena manusia dianggap tidak mempunyai kehendak. Perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Tuhan. Golongan yang diprakarsai oleh Jahm bin Safwan (penggagas paham Murji’ah) ini, bahkan menyalahkan Tuhan atas perbuatan dosa manusia. Di mana hal itu sudah menjadi setingan Tuhan. Manusia tinggal menjalankan skenario yang telah ada tersebut.

e. Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah adalah aliran pemikiran Islam yang terbesar yang memegang peranan penting dalam konseptualisasi teologi Islam. Aliran ini lahir kurang lebih pada permulaan abad kedua hijriyah di kota Basrah, yang pada saat itu menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam. Di kota ini pula dijadikan tempat perpaduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama[47].

Munculnya golongan ini benar-benar membawa sejarah baru dalam konsep teologi Islam yang berpegangan kepada konsep rasionalitas. Aliran  Mu’tazilah ini dipelopori oleh Washil bin Atha’ Al-Ghazal Al-Farisi (wafat 131 H). Browne dalam bukunya Literature History of Persia’ seperti yang dikutip A. Hasimy, Washil bin Atha’ adalah salah satu murid dari Hasan Al-Basri, seorang ulama hukum Islam terkenal. Ia berselisih paham dengan gurunya ketika dihadapkan pada persoalan apakah masih mukmin ataukah sudah kafir bila seseorang telah melakukan kejahatan besar, dan juga persoalan-persoalan yang lain seperti al-Qadar. Karena paham yang bertentangan dengan gurunya lah akhirnya Washil disuruh memisahkan diri dari majelis pengajiannya. Setelah berpisah dengan gurunya, maka ia mendirikan suatu aliran baru dan menyebarluaskan pahamnya kepada murid-muridnya[48].

Prinsip-prinsip teologis Mu’tazilah terhimpun dalam apa yang disebut Al-Ushul Al-Khamzah atau “pokok-pokok yang lima” yaitu Keesaan tuhan (At-Tauhid), keadilan tuhan (Al-Adl), Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid), Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin), dan Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)[49]. Beberapa prinsip dari aliran Mu’tazilah akan dijelaskan sebagai berikut:

1). Keesaan tuhan (At-Tauhid)

Tauhid adalah dasar Islam yang pertama dan utama. Hanya saja aliran Mu’tazilah menafsirkannya secara khusus dan sedemikian rupa sehingga dapat dipertahankan dengan sungguh-sungguh. Untuk itu dalam sejarah Islam, aliran ini dikenal sebagai ahli tauhid.

Menurut aliran Mu’tazilah, Allah tidak mempunyai ‘sifat azali’ seperti ilmu, qudrah, iradah, hayat, sama’, dan bashar yang bukan Dzatnya, tetapi Allah itu ‘alim, qadir, hayyun, sami’un, dan bashirun dengan Dzatnya, dan sama sekali tidak ada sesuatu sifat yang bukan Dzatnya.

2). Keadilan tuhan (Al-Adl)

Dasar keadilan ialah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia dan tidak menghendaki keburukan. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan juga menjauhi larangan-larangan-Nya karena qudrah-Nya yang ada pada diri mereka.

Dengan dasar keadilan ini mereka menolak pendapat aliran Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia dalam segala perbuatannya tidak mempunyai kebebasan, bahkan menganggap suatu kedzaliman bila Tuhan menjatuhkan siksa karenanya.

3). Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid)

Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip keadilan (Al-Adl) yang ada pada keyakinan Mu’tazilah. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah akan melaksanakan janji dan ancamannya. Allah berjanji akan memberikan pahala bagi orang yang berbuat baik, dan Allah tidak akan memberi ampun dan akan memberikan siksa kepada orang yang berbuat jahat kecuali dengan taubat. Kalau itu tidak dilaksanakan, maka mustahil Allah bersifat adil.

Prinsip ini mengisyaratkan bahwa siapapun yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan yang berupa pahala, dan siapa yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatan yang berupa murka dan siksa-Nya. Dengan demikian, prinsip ini bertolakbelakang dengan keyakinan aliran Murji’ah. Bila keyakinan Murji’ah ini dibenarkan, maka menurut aliran Mu’tazilah, ancaman Tuhan tidak ada artinya sama sekali sehingga dianggap Tuhan tidak adil.

4). Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin)

Prinsip ini sangat menarik yang karena keyakinan inilah, Washil memisahkan diri dengan gurunya, Hasan Basri. Mu’tazilah memiliki keyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan kejahatan besar statusnya bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan fasik. Orang yang fasik berada pada tempat tersendiri, yakni di antara iman dan kafir. Maka dalam hal ini, Mu’tazilah mengambil jalan tengah dengan menggunakan pola prinsip rasionalis – etis – filosofis yang dibawa oleh Plato dan Aristoteles, yaitu pengambilan jalan tengah antara dua ujungnya yang berlebih-lebihan.

Berangkat dari upaya ini, maka akhirnya Mu’tazilah membagi perbuatan maksiat kepada dua bagian, yaitu besar dan kecil. Untuk maksiat besar dibagi menjadi dua: maksiat yang sampai merusak dasar agama (contohnya syirik) sehingga menyebabkan pelakunya menjadi kafir, dan maksiat yang tidak sampai merusak dasar agama (contohnya dosa-dosa besar selain syirik) sehingga tidak menjadikan pelakunya kafir, melainkan hanya fasik. Sehingga dari pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa sikap aliran Mu’tazilah berada diantara sikap Khawarij dan Murji’ah.

5) Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)

Prinsip ini lebih banyak berhubungan dengan taklif dan lapangan fiqih daripada lapangan kepercayaan atau tauhid, yakni kewajiban menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Prinsip ini harus dijalankan oleh setiap orang Islam dalam menyebarluaskan ajaran agamanya dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat. Dalam praktiknya, aliran Mu’tazilah sangat konsisten dalam memegang teguh prinsip ini. Dibuktikan dalam sejarah, bahwa pada era Abbasiyah inilah seringkali para pengikutnya mempraktikkan Amar ma’ruf nahi munkar, bahkan kepada orang yang tidak sepaham dengannya. Maka wajar bila Mu’tazilah sering menggunakan kekerasan dalam menerapkan prinsip ini kepada masyarakat luas[50].

Selain keenam prinsip pokok yang menjadi landasan keyakinan aliran Mu’tazilah, ada juga keyakinan lain yang menjadi ciri khas dari aliran ini. Di antaranya ialah:

1). Cara mereka membentuk mazhabnya yang tertuju pada penggunaan akal daripada nash. Artinya, mereka lebih mengutamakan akal daripada wahyu. Bila ditimbang, maka akal lebih berat bagi mereka dibanding dengan ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits[51].

2). Mereka lebih cenderung suka berdebat, terutama di hadapan umum. Bila ada yang berlainan pendapat dengan mereka, maka orang tersebut diajak berdebat karena mereka yakin akan kemampuan dan kekuatan akal mereka[52].

3). Baik dan buruk ditentukan oleh akal, bukan wahyu[53].

4). Aliran Mu’tazilah menganggap bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bukan sifat Allah yang Qadim. Kepercayaan ini adalah kelanjutan dari pemahaman mereka bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Keyakinan inilah yang menyebabkan Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri mazhab Hanbali) disiksa dan Imam Buwaihi disiksa sampai mati oleh kelompok Mu’tazilah[54].

5). Tuhan menurut aliran Mu’tazilah tidak dapat dilihat meski seluruh umat Islam masuk surga[55].

6). Mereka menafikkan mi’raj Nabi Muhammad saw, ‘arsy (singgasana Allah), azab kubur, mizan (timbangan), hisab, shirath (jembatan), kolam, syafa’at, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan akal mereka[56].

f. Aliran Asy’ariyah

Aliran Asy’ariyah adalah aliran teologi tradisionil yang lahir dan disusun oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dari Baghdad. Asy’ariyah muncul pada saat suasana paham Mu’tazilah yang keruh karena ajarannya yang dirasa bertentangan namun dipaksakan untuk diyakini oleh masyarakat Islam pada masanya[57].

Tokoh terpenting sekaligus pendiri aliran Asy’ariyah yang bernama lengkap Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M) adalah keturunan dari Abu Musa Al-Asy’ari. Sebagai pribadi yang pernah belajar dan menjadi penganut paham Mu’tazilah, beliau telah terbiasa dengan argumentasi pikiran dan upaya pemakaian akal dalam soal-soal agama. Hasil karyanya juga banyak, terhitung ada 90 karya yang pernah ditulis. Isinya sebagian besar menyangkut masalah-masalah teologis, seperti menolak pemikiran-pemikiran Aristoteles, golongan materialis, antropomorphis, khawarij, dan golongan-golongan Islam lain. Di antara beberapa karyanya tersebut, yang paling populer ada tiga, yaitu Maqalat Al-Islamiyyin (Beberapa Pendapat Golongan-Golongan Islam), Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah (Keterangan Tentang Dasar-Dasar Agama), dan Al-Luma (Sorotan)[58].

Aliran Asy’ariah juga disebut dengan Ahlussunnah atau Sunni sejak kemunculannya yang menentang paham Mu’tazilah. Dalam hal ini, Harun Nasution menukil keterangan Tasy Kubra Zadah, yang menjelaskan bahwa aliran Sunni muncul atas keberanian dan usaha Abul Hasan Al-Asy’ari sekitar tahun 300 Hijriyah[59]. Al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah setelah berumur 40 tahun  dan mengumumkannya pada jama’ah masjid Basrah dan meyatakan akan membeberkan keburukan-keburukan Mu’tazilah. Menurut Ibnu ‘Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah konon Al-Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah SAW sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 dalam bulan Ramadhan. Dalam tiga kali mimpinya, Rasulullah memperingatkan agar segera meninggalkan Mu’tazilah dan segera membentuk paham yang sesuai dengan sunnah beliau[60].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Asy’ariah antara lain:

1). Dalam hal sifat Tuhan, Asy’ariah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat seperti ilmu, hayat, sama’, bashith dan qudrat. Sifat-sifat tersebut bukanlah dzat- Kalaui itu dzat-Nya berarti dzat-Nya adalah pengetahuan, dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukanlah ilmu melainkan ‘alim (yang mengetahui).

2). Persoalan akal, aliran Asy’ariah berpendapat bahwa akal tidak begitu besar daya kekuatannya, tapi sebaliknya, wahyu lah yang paling banyak berperan dalam menyelesaikan masalah teologis maupun persoalan baik dan buruk. Hal ini berbeda dengan Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio (akal) daripada wahyu.

3). Kaitannya dengan masalah Al-Kasb, aliran Asy’ariah lebih cenderung pada paham kekuasaan mutlak berada pada otoritas Tuhan. Berdasarkan pandangan ini, Asy’ariah lebih dekat pada pemahaman aliran Jabariyah (fatalisme) daripada aliran Qadariyah (kebebasan manusia)[61].

Salah satu unsur utama kemajuan aliran Asy’ariyah adalah tidak sedikit pengikut yang mendukung pemikiran Al-Asy’ari dalam membangun dan mengkonstruksikan paham-pahamnya. Tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah yang terkemuka setelah Abu Hasan Al-Asy’ari adalah Al-Baqillani (wafat 403 H/1013 M), Al-Juwaeni (419-478 H/1028-1085 M), dan Al-Ghazali (450-505 H, tokoh tasawuf terkenal), dan Al-Sanusi (833-895 H/1427-1490 M)[62].

g. Aliran Maturidiyah

Aliran Maturidiyah adalah aliran yang kemunculannya bersamaan dengan aliran Asy’ariyah yang masih tergolong Ahlus Sunnah. Pendiri aliran Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur Al-Maturidi (lahir di Samarkand, wafat 332 H). Beliau semasa hidupnya sering bersama dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, pendiri aliran Asy’ariyah. Kedua-duanya sama-sama menentang pemikiran Mu’tazilah. Hanya saja Al-Asy’ari menghadapi Mu’tazilah di pusatnya (Basrah), sedangkan Al-Maturidi menghadapinya di daerahnya, Samarkand, yang juga mengulang-ulang pemikiran-pemikiran Mu’tazilah di Basrah[63].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Maturidiyah antara lain:

1). Mengenai konsep Ketuhanan, Maturidiyah meneguhkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang berbeda dari segala yang temporal. Jadi, Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

2). Kalam Allah merupakan sifat yang ada pada Dzat Allah. Ini memberikan kesempatan untuk membedakan mana yang termasuk Al- Kalam Al-Nafsi (sifat Maha Beriman yana ada pada Allah) dan mana yang termasuk Al-Kalam Al-Lafdzi (bicara dengan kata-kata).

Namun bila diselidiki lebih lanjut, antara aliran Asy’ariyah dengan Maturidiyah perbedaanya lebih jelas lagi. Perbedaan tersebut terletak pada persoalan-persoalan antara lain:

1). Menurut Asy’ariyah, mengetahui Tuhan diwajibkan syara’. Sedangkan Maturidiyah, mengetahui Tuhan diwajibkan akal. Dari sini, pemahaman Maturidiyah serupa dengan Mu’tazilah.

2). Menurut golongan Asy’ariyah, suatu perbuatan tidak memiliki sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Sedangkan Maturidiyah, pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk.

3). Aliran Asy’ariah menganggap sifat baqa’ sebagai sifat tambahan bagi zat Allah, sementara aliran Maturidiyah menolak sifat ini yang mempunyai pendapat bahwa al Baqa’ itu adalah kenyataan adanya Dzat di dalam zaman, bukan sesuatu yang ditambahkan pada Dzat[64].

D. Nilai-Nilai yang Dapat Diambil Dari Fenomena Sektarianisme Dalam Periode Sejarah Islam

Dalam mempelajari dan menginterpretasi ajaran Islam pasti tidak lepas dari sebuah perbedaan yang itu adalah sunatullah yang musti harus diterima. Termasuk munculnya aliran-aliran yang berkembang dalam ajaran agama Islam selama ini. Mujiburrahman menuturkan, munculnya berbagai aliran di tubuh Islam sudah terjadi pada sejak zaman sahabat. Pada era Nabi belum ada perpecahan dalam tubuh Islam karena penafsiran terhadap agama itu cukup disampaikan oleh Nabi saja sebagai otoritas pemegang ajaran agama. Ketika Nabi sudah meninggal dunia, Al-Quran dan Hadits kemudian ditafsir sehingga pengertiannya bisa berbeda-beda. Itulah sebabnya sejak zaman para sahabat sampai sekarang terjadi berbagai kelompok dan aliran[65].

Adapun nilai-nilai yang dapat diambil dari fenomena sektarianisme dalam periode sejarah islam antara lain:

  1. Umat Islam akan tergerak hatinya untuk semakin mendalami pemikiran dari berbagai aliran yang masih bersumber pada dalil dan argumennya dengan cara memperbanyak membaca sumber atau literatur-literatur ilmiah lainnya. Sebab hal tersebut akan mendorong untuk saling bersikap toleransi dan menghargai pendapat.
  2. Memotivasi diri terhadap masa depan Islam dengan senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah-tengah umat Islam. Sebab ilmu bagi umat Islam adalah harta yang paling berharga demi kemajuan Islam dari masa ke masa.
  3. Dapat menyadarkan umatnya agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan meski berbeda pandangan. Sebab persatuan dan kesatuan dapat memperkuat barisan umat Islam di dunia.
  4. Perbedaan cara pandang bukanlah penghambat kemajuan atau pemecah persatuan. Justru dengan perbedaan itulah yang akan mewujudkan rahmat. Maka diharapkan agar umat Islam tetap menjaga hubungan antara sesama muslim dengan baik dengan saling menghormati.
  5. Sikap umat Islam yang seharusnya ditunjukkan terhadap aliran-aliran atau sekte-sekte yang dikatakan menyimpang adalah harus senantiasa mengedepankan cara-cara yang ma’ruf (yang baik), bukan dengan jalan anarkhi. Hal tersebut penting sebab ajaran pokok Islam (Qur’an dan Hadits) tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan yang anarkhi dan main hakim sendiri baik oleh individu atau kelompok seperti yang terjadi pada masa Bani Abbasiyah periode pertengahan yang ideologi keagamaan dikuasai oleh paham Mu’tazilah yang terkenal anarkhis dalam hal pahamnya yang dipaksakan kepada masyarakat pada masa itu.
  6. Mengambil pelajaran dan hikmah akan kekurangan maupun kesalahan yang dilakukan umat Islam sepanjang sejarah peradaban Islam, baik dari sisi teoritis maupun praktis supaya tidak terulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin. Cet. 2008. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2010. Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Amin, Ahmad. 1968. Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan. Jakarta: Bulan Bintang.

Anwar, Rosihon, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel. 2006. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.

As-Suyuthi, Imam. 2005. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Asy-Syahrastani. Tt. Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia, terj. Asywadie Syukur. Surabaya: Bina Ilmu.

Djazuli, A. 2013. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah. Jakarta: Kencana.

Hasimy, A. 1973. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hanafi, Ahmad. Cet. 2010. Teologi Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Saleh. 2014. Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin. Jakarta: Pustaka Zaman.

Nasution, Harun. cet  2011. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I. Jakarta: UI Press.

_____________.  1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan. Jakarta: UI Press.

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: Rajawali Pers.

Aziz, F. Aminuddin. Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam. Dikutip dalam situs http://www. aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

Novi Novitasari. Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam. Dikutip dalam situs http://bilikislam.blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya. Dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.

Sektarianisme. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

CATATAN KAKI / FOOTNOTE

[1] Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

[2] Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

[3] Novi Novitasari, Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam, dikutip dalam situs http://bilikislam. blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html, diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

[4] A. Djazuli. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 25.

[5] Ibid., hlm 25-26.

[6] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 206-207.

[7] A. Djazuli, op.cit., hlm. 27-28

[8] A. Hasimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 127.

[9] A. Hasimy, op.cit., hlm. 157.

[10] A. Djazuli. op.cit., hlm. 21-23

[11] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Buku Pintar Sejatah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin (Jakarta: Pustaka Zaman, 2014), hlm. 241.

[12] Ahmad Amin, Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan (Jakarta: Bulan Bintang, 1968),  hlm. 330-331

[13] Ibid., hlm. 248.

[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 55-57.

[15] Ibid., hlm. 57.

[16] A. Djazuli, op.cit., hlm. 25.

[17] F. Aminuddin Aziz, Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam, dikutip dalam situs http://www.aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

[18] Ibid.

[19] Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, op.cit., hlm. 215.

[20] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 214-215.

[21] Lihat Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, cet. 2008), hlm. 109-117. Dan Ahmad Amin, op.cit., hlm. 327-328.

[22] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 228.

[23] Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm. 202.

[24] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93.

[25] Asy-Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia (buku 1), terj. Asywadie Syukur (Surabaya: Bina Ilmu, tt), hlm. 124.

[26] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 341

[27] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I (Jakarta: UI Press, cet  2011), hlm. 93-94.

[28] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93-94.

[29] Ibid., hlm. 168.

[30] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[31] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328 dan 331.

[32] A Hasimy. op.cit., hlm. 160.

[33] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182.

[34] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 174-175.

[35] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 358.

[36] Ibid., hlm. 358-359.

[37] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182-183.

[38] Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. 2010), hlm. 3.

[39] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[40] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328.

[41] Ibid., hlm. 330.

[42] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm.174-180.

[43] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 357-358.

[44] A Hasimy. op.cit., hlm. 164,

[45] Ibid., hlm. 358.

[46] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 186-188.

[47] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 43.

[48] A Hasimy. op.cit., hlm. 165-166.

[49] Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35.

[50] Lihat Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35; Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 37-39; A Hasimy. op.cit., hlm. 166-167; Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 46-50.

[51] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 195.

[52] Ibid., hlm. 198.

[53] Ibid., hlm. 203.

[54] Ibid., hlm. 210.

[55] Ibid., hlm. 219.

[56] Ibid., hlm. 225, 234, 246,dan 251.

[57] Harun Nasution, op.cit., hlm. 35.

[58] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 65-66.

[59] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan  (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 12

[60] Rosihon Anwar, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel, Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 19-20.

[61] Harun Nasution, Islam Ditinjau….., hlm. 38-39.

[62] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 69-77.

[63] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 78-79.

[64] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 79.

[65] Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya, dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html, diakses pada tanggal 8 oktober 2010.

PEDOMAN PENULISAN MAKALAH : GAMBARAN, URGENSI, DAN SISTEMATIKA PEMBUATAN BAGI SISWA SMA DAN YANG SEDERAJAT

A. LATAR BELAKANG

Di dalam proses pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi, tradisi menulis adalah suatu hal yang sangat penting. Dikatakan demikian karena menulis merupakan  suatu  kegiatan yang dapat memberi kontribusi yang cukup potensial bagi pelajar dalam memahami suatu materi/topik tertentu pada suatu mata pelajaran. Lebih lanjut bila seorang pelajar ingin mengeksplorasikan sebuah ide atau gagasan yang dapat mendukung proses belajarnya, menulis menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Peristiwa yang bersifat aktual dan penting untuk dikaji, suatu ide yang ingin diungkapkan, maupun gagasan yang dapat mendukung suatu ilmu pengetahuan, dapat dituangkan melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan  begitu, tulisan  tersebut  dapat  dikategorikan  sebagai  karya  ilmiah. Karya tersebut dapat berupa artikel, laporan, makalah, ataupun karya tulis.

Di samping karena  tuntutan yang cukup tinggi dari kurikulum terhadap pentingnya  menulis bagi siswa, maka kali ini, kita akan belajar membuat suatu karya tulis ilmiah yang masih cukup sederhana untuk dibuat, yaitu penulisan makalah.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Pembuatan makalah ini dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya dalam memahami suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan topik yang diulas melalui sebuah  karya tulis. Disebabkan karena isi makalah harus dapat dipertanggungjawabkan, maka ide maupun gagasan yang ditulis harus didukung dengan sumber data atau referensi yang relevan dan terpercaya.

Kemudian, tujuan dari pembuatan makalah ialah agar siswa terbiasa dalam membuat tugas yang bersifat obyektif (siswa  mengeksplorasi  idenya sendiri  dalam memahami  materi tertentu) dan kredibel (hasilnya  dapat  dipertanggungjawabkan). Dengan  tugas  makalah ini, diharapkan siswa lebih mampu memahami materi tertentu secara komprehensif dan menyeluruh. Atau dalam teori taksonomi Bloom, siswa harus terpenuhi aspek kognitif mulai dari C1 hingga C6 (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi)

Urgensi dari tugas ini sebenarnya tercermin pada Firman Allah yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan  perantaraan kalam (pena/tulisan). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

C. PENGERTIAN

Apa sih sebenarnya makalah itu? Bagi yang masih asing dengan istilah ini, atau barangkali ada yang sudah tahu istilah ini tetapi belum mengerti bagaimana cara membuatnya, maka marilah kita ulas bersama-sama.

Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya sudah dijelaskan secara panjang  lebar  tentang penulisan makalah ini. Namun secara ringkasnya, istilah makalah hampir sama  maknanya dengan paper, kertas kerja, atau laporan ilmiah yang tersusun secara sistematis. Lebih tepatnya, makalah dapat disebut sebuah karya tulis yang membahas suatu  masalah/topik tertentu berdasarkan logika (ide/gagasan), pustaka (sumber atau literatur), atau fakta di lapangan yang disajikan dalam sebuah diskusi maupun seminar. Isi makalah  dapat berupa gagasan atau pandangan penulis terhadap sesuatu yang belum dibuktikan  terlebih dahulu melalui proses penelitian, atau bisa juga ditulis berdasarkan laporan  penelitian berupa temuan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan makalah pada umumnya terdiri dari enam komponen: judul, identitas penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, isi atau pembahasan, kesimpulan,  dan daftar pustaka. Namun format penulisan makalah tidak selalu seperti  itu.  Terkadang  bagi pemula atau untuk ukuran siswa SMA dan yang sederajat, sistematika penulisan tidak harus selalu persis seperti di atas.  Lebih rincinya, format penulisan makalah paling tidak sebagai berikut:

1.Cover makalah

Di dalam cover makalah terdiri atas judul makalah, maksud ditulisnya suatu makalah (biasanya ditulis: makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajaran …. yang dibina oleh Bapak/Ibu ….), nama penulis (NIS bila punya), logo lembaga,  dan nama lembaga beserta alamat.

2.Kata pengantar

Di dalam kata pengantar ini bisanya ditulis ungkapan rasa syukur, maksud ditulisnya suatu makalah dan diberi penjelasan singkat tentang tujuan dari ditulisnya makalah ini, dan  ucapan terima kasih serta permohonan maaf apabila ada suatu kekurangan.

3.Daftar isi

Ditulis mulai cover halaman sampai daftar pustaka.

4.Pendahuluan

Pendahuluan merupakan suatu uraian singkat yang menyatakan secara jelas tentang  maksud dari topik yang diulas, mulai dari ungkapan kerisauan penulis akan judul makalah  yang ditulis, kemudian kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi nyata. Singkatnya, pada pendahuluan ini, penulis mengungkapkan alasan-alasan logis tentang pentingnya  topik itu dibicarakan.

5.Pembahasan

Bagian ini merupakan bagian utama atau inti dari makalah. Semua ide, teori pendukung,  identifikasi dan analisis permasalahan, dan penyelesaian ditulis dalam pembahasan ini.

6.Penutup

Dalam penutup ini, penulis mengungkapkan kesimpulan dari makalah yang dibuat.

7.Daftar pustaka

Tulis beberapa literatur yang menjadi rujukan dalam penulisan makalah ini, baik dari buku, majalah, surat kabar, internet, atau bahkan hasil wawancara atau  penelitian. Beberapa  literatur tersebut disusun berdasarkan kaidah penulisan daftar pustaka yang berlaku.

Demikian gambaran dan penjelasan singkat tentang bagaimana sistematika pembuatan makalah bagi siswa SMA dan yang sederajat. Bagi pembaca yang memang memiliki bakat menulis, maka tidak ada salahnya mencoba membuat karya tulis sendiri yang mampu mempengaruhi pembaca yang lain, mulai dari membuat makalah ini. Memang pada awalnya agak-agak susah (seperti saya waktu SMA dulu) karena cukup banyak aturan-aturan penulisan yang harus dipatuhi, tetapi bila sering dilatih dan sering bertanya pada guru (terutama guru Bahasa Indonesia), lama kelamaan pasti akan terbiasa dan mudah. Sebab nanti ketika mulai masuk perguruan tinggi, membuat makalah adalah salah satu tuntutan tugas yang harus dibuat oleh mahasiswa pada setiap mata kuliah. Dari sini tidak jarang pula para mahasiswa yang stress dan frustasi pada saat dosen menyuruh membuat makalah –biasanya dosen menuntut makalah yang dibuat harus perfect – . Apalagi bagi yang pada waktu SMA dulu sama sekali tidak dilatih dan diberi tugas membuat makalah, maka akan lebih susah lagi.

Maka dari itu, yuk mulai sekarang sering-seringlah menulis. Ungkapkan ide atau gagasan anda dalam wujud tulisan ilmiah. Terutama dalam membuat makalah.

ALIRAN REKONSTRUKSIONISME DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

1.Pengertian Aliran Rekonstruksionisme

Istilah Rekonstruksionisme berasal dari kata Rekonstruksi yang tersusun atas dua kata: “Re” yang berarti kembali dan “konstruk” yang berarti menyusun. Bila kedua kata tersebut digabung maka dapat dimaknai menjadi penyusunan kembali (Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, 2001:664). Adapun imbuhan ‘-isme’ yang disisipkan dalam istilah di atas akan mengubah makna tersebut kepada penegasan bahwa ia merupakan suatu paham atau aliran tertentu.

Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme adalah aliran yang berupaya merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern, serta berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruk-sionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Untuk tujuan tersebut diperlukan kerja sama antarumat manusia (Jalaluddin, 2010:119).

Aliran Rekonstruktivisme ini intinya merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme yang menyatakan bahwa peradaban manusia di masa depan sangat diutamakan. Dalam konteks pendidikan, aliran ini bertujuan hendak membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia, dengan merombak kembali tata susunan pendidikan lama dengan tata susunan pendidikan yang sama sekali baru (Zuhairini, 1991:29). Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

2.Sejarah Perkembangan Aliran Rekonstruksionisme di Dunia Barat

Lahirnya aliran rekonstruksionisme ini berawal dari krisis kebudayaan modern, sama halnya dengan aliran perenialisme. Menurut Muhammad Noor Syam seperti yang dikutip Jalaluddin (2010:118-119), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Meskipun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perenialisme memilih cara tersendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama (regressive road culture) yang mereka anggap paling ideal.

Suatu ketika pada tahun 1930, George Count dan Harold Rugg muncul gagasan yang bermaksud ingin membangun masyarakat baru, yang pantas dan adil. Dari sinilah awal kemunculan aliran ini. Ide gagasannya selanjutnya didukung oleh pemikiran progresif Dewey, dan menjelaskan bahwa aliran rekonstruksionisme berlandaskan filsafat pragmatisme (Teguh Wangsa, 2011:190). Berawal dari pemikiran Theodore Brameld, mereka terinspirasi melalui karya filsafat pendidikannya, mulai dari Pattern of Educational Philosophy (1950), Toward a reconstructed Philosophy of Education (1956), dan Education as Power (1965).

3.Tokoh-Tokoh Aliran Rekonstruksionisme dan Pemikirannya

Rekonstrusionisme sebagai salah satu aliran dalam filsafat pendidikan pertama kali diprakarsai oleh John Dewey pada tahun 1920 melalui karyanya yang berjudul “Reconstruction in Philosophy”. Kemudian aliran ini berlanjut dengan munculnya tokoh-tokoh lain seperti Caroline Pratt, George Counts, Harold Rugg, John Hendrik dan Muhammad Iqbal sebagai wakil dari tokoh intelektual muslim.

George Counts dan Harold Rugg sebagai tokoh penggerak aliran rekonstrusionisme yang dipelopori John Dewey bermaksud ingin membangun masyarakat baru yang dipandang pantas dan adil. Dalam karya klasik milik George Counts yang berjudul “Dare the Schools Build a New Social Order” yang terbit pada tahun 1932 sebagaimana yang dikutip Arthur K. Ellis, ia berkeinginan menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana rekonstruksi masyarakat (Muhmydaieli, 2011:172).

Hal yang sama dikemukakan oleh John Hendrik, bahwa rekonstrusionisme merupakan reformasi sosial yang menghendaki budaya modern para pendidik. Rekonstrusionisme memandang kurikulum sebagai problem sentral dimana pendidikan harus menjawab pertanyaan beranikah sekolah membangun suatu orde sosial yang baru. Sehingga tujuan utama dan tertinggi hanya dapat diraih melalui kerjasama antar bangsa tanpa membeda-bedakan warna kulit, nasionalitas, dan kepercayaan supaya peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran di tatanan sosial masyarakat akan terwujud. (Muhmydaieli, 2011:173)

Tak tertinggal pula dari kalangan intelektual muslim, Muhammad Iqbal (w. 1938) dalam hal ini mengungkapkan, bahwa perubahan mendasar dalam pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang meliputi keseluruhan sistem pendidikan guna untuk membentuk pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Menciptakan masyarakat baru melalui rekonstruksi pendidikan merupakan suatu keharusan.

4.Islam dan Aliran Rekonstruksionisme

Aliran rekonstruksionisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang kemunculannya diawali dengan sebuah keprihatinan terhadap kondisi kehidupan modern sehingga menuntut apa yang harus dipersiapkan manusia di masa depan. Sama halnya dengan aliran perenialisme, kehidupan manusia modern adalah zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang terganggu, sakit, penuh kebingungan, serta kesimpangsiuran proses. Namun aliran rekonstruksionisme ingin membentuk susunan tata kehidupan yang baru dan membutuhkan kerjasama antar manusia. Dan memang, tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa (Teguh Wangsa, 2011:190). Hal ini persis ketika Islam turun ketika kondisi dunia pada saat itu berada dalam kejahiliyyahan dari segi budaya dan perilaku manusia saat itu, terutama kaum Quraisy di Jazirah Arab, tempat turunnya agama Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa tujuan Islam diturunkan ke dunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai penutup dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Dalam ajarannya, Islam sangat peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tidak terikat dengan zaman-zaman tertentu, sehingga diharapkan mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi umat manusia dan rahmat dari semesta alam dari generasi ke generasi. Segala persoalan yang terjadi di tengah-tengah manusia, baik terkait urusan keduniaan maupun ukhrawi dalam konteks sosial cukup dikembalikan pada sumber hukum Islam itu sendiri (QS.4:59).

Muhammad Iqbal, tokoh intelektual muslim India yang dikutip Mukti Ali (1993:187) pernah menyatakan bahwa upaya menginterpretasikan prinsip-prinsip hukum Islam pada era pendiri-pendiri mazhab adalah belum final, sebab realitas yang dihadapi pada setiap generasi akan selalu berubah. Karenanya sangat perlu untuk terus menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar pada setiap generasi, terutama pada kondisi kehidupan modern ini. Juga dalam karyanya “Reconstruction of Religious Thought in Islam”, beliau sangat menekankan pada ‘ijma” sebagai sebuah metodologi yang harus diambil oleh umat muslim dalam kondisi modern seperti saat ini. Disebutkan di dalamnya bahwa upaya ijma ditempatkan pada sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Hadits.

Pemikirannya yang cukup revolusioner dalam merekonstruksi pemahaman Islam dirasa cukup berpengaruh di era modern ini. Terlebih pula pada ketegasan dalam mengemukakan pendapatnya bahwa ajaran Islam tidak sekaku seperti yang dipersepsikan masyarakat di zamannya. Beliau melalui kutipan Mukti Ali (1993:187) menyatakan,

“Tuntutan generasi muslim sekarang ini untuk menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar dalam pandangan dan pengalaman mereka sendiri serta kondisi kehidupan modern yang mengalami perubahan ini, menurut pendapat saya adalah sah. Ajaran Al-Qur’an bahwa hidup ini adalah suatu proses dari penciptaan yang progresif mengharuskan bahwa setiap generasi harus dibimbing, tetapi tidak terhalang oleh pandangan-pandangan para ulama terdahulu, harus dipersilahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri”.

Terkait substansi dari Islam itu sendiri yang ajarannya senantiasa berlaku sepanjang zaman, maka upaya interpretasi terhadap sebuah fenomena yang sedang berkembang saat ini paling tidak harus disinergikan pada dasar agama secara kontekstual. Secara teks, Islam memang dinyatakan sebagai ajaran yang tidak pernah berubah sampai berakhirnya zaman (QS.15:9), hanya saja secara realitas, zaman itu senantiasa berkembang. Semua itu adalah fenomena kehidupan yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi sumber tekstual (Al-Qur’an dan Sunnah) tidak dapat dimaknai begitu saja bila dihadapkan dengan zaman yang senantiasa terus berubah. Ditambah lagi dalam tulisan Atho’ Mudzhar (2006:19) disebutkan, para ahli sosiologi bersepakat bahwa agama tidak semuanya mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam fungsi-fungsi sosial, seperti persoalan psikologis dapat diselesaikan oleh psikoterapi, fungsi penanaman rasa cinta oleh humanisme, dan fungsi memahami arti hidup dan arti alam oleh sains. Meski begitu, beberapa disiplin ilmu diatas dapat disinergikan dalam agama sehingga menjadikannya sebagai functional equivalent of religion.

5.Aliran Rekonstruksionisme dan Hubungannya Dengan Pendidikan Islam

Islam turun membawa rahmat bagi seluruh alam. Inilah yang menjadi misi ajaran Islam. Nuansa risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin ini akan memberi dampak pada aspek-aspek yang lain, termasuk dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang merupakan bagian dari manifestasi ajaran Islam harus mengikuti kaidah-kaidah pada nilai-nilai keislaman dan berorientasi pada tujuan penciptaan manusia. Mengingat manusia diciptakan Allah ke dunia ini mempunyai misi religus-sosial, maka pendidikan dipahami sebagai media untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia yang sejalan dengan tujuan penciptaan manusia. Diharapkan tugas pendidikan menurut aliran rekonstruksionisme ditekankan pada pengembangan aspek individual dan sekaligus pengembangan aspek tanggung jawab kemasyarakatan, serta lebih bersikap proaktif dan antisipatif dalam menghadapi permasalahan di masa depan (Muhaimin, 2003:143).

Demikian halnya dalam wacana pendidikan Islam, pendidikan bukanlah persoalan yang stagnan. Sebagai sebuah kegiatan yang menitikberatkan pada fungsi pembentukan manusia seutuhnya pada setiap perkembangannya, persoalan yang dihadapi akan selalu berubah dan dinamis. Sehingga berbagai macam problem yang sama sekali baru di dunia pendidikan sangat membutuhkan penyelesaian secara ijtihadiyah (Mujamil Qamar, 2005:225). Lebih jelasnya Hasan Langgulung (1980:187-235) mengemukakan bahwa sumber-sumber pemikiran pendidikan Islam dalam konteks ini tidak hanya kitab Allah dan Sunnah, tetapi juga perkataan sahabat, kemaslahatan sosial, nilai-nilai dan kebiasaan sosial, serta pemikir-pemikir Islam. Oleh karenanya kendatipun Allah secara tekstual telah menurunkan wahyu dan berfungsi sebagai sarana petunjuk bagi manusia, namun dalam kenyataannya isi dari wahyu tersebut perlu dijabarkan secara detail yang melibatkan akal untuk menafsirkan problem-problem kehidupan secara mendalam, utamanya saat mengupas permasalahan dalam pendidikan.

Meski begitu Azra sebagaimana dikutip Muhaimin (2003:131) merasa prihatin ketika mengamati pendidikan Islam yang ada selama ini, salah satunya ialah fenomena pendidikan Islam yang seringkali terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat, baik sekarang maupun yang akan datang. Untuk itulah rekonstruksionisme menghendaki agar pendidikan sekarang mampu membangkitkan kemampuan peserta didik untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga para peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas (Muhaimin, 2003:41). Bertolak dari hal tersebut, maka Islam juga menuntut seseorang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang menurut Ismail Yusanto (2011:70) agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan misi sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Dengan pola pengintegrasian potensi agama dan iptek, diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat menuju tatanan sosial yang lebih baik.

6.Implementasi Pembelajaran Menurut Aliran Rekonstruksionisme

Bila dikaitkan pada sebuah implementasi pendidikan, maka rekonstruksionisme dapat diimplikasikan dalam proses pendidikan dan pembelajaran, yang penerapan tersebut beserta metodologinya dalam pembelajaran dapat dipetakan sebagai berikut (Uyoh Sadulloh, 2006:171; Muhaimin, 2003:65-67):

Tujuan Pendidikan 1.      Siswa memiliki kesadaran akan problem sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Siswa memiliki keterampilan untuk memecahkan problem tersebut.

3.      Membangun tatanan masyarakat baru.

Tema pendidikan Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
Kurikulum 1.      Semua bidang kajian yang meliputi sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Problem sosial dan personal dari siswa sendiri.

Kedudukan siswa Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, mana kala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
Metode Scientific inquiry sebagai metode kerja problem solving
Peran Guru 1.      Membuat siswa sadar akan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia.

2.      Project director dan research teacher

Peran Sekolah 1.      Perantara utama bagi perubahan sosial, politik, ekonomi dalam masyarakat.

2.      Mengembangkan insinyur sosial.

Selepas mempelajari aliran rekonstruksionisme ini, maka sebagai calon pendidik PAI harus berupaya mampu memahami dan menerapkannya. Dikarenakan seorang guru dituntut mampu memberi arahan kepada peserta didik terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapinya. Guru juga berupaya membantu peserta didik dalam mengidentifikasi masalah-masalah tersebut untuk dipecahkan dalam proses pembelajaran melalui problem solving. Disamping itu pula seorang guru juga harus mampu mendorong peserta didik untuk dapat berpikir tentang beberapa alternatif solusi dalam memecahkan masalah di kehidupan modern ini, utamanya terkait dengan keagamaan Islam.

 

QUNUT DALAM SHALAT: ANTARA ANJURAN DAN LARANGAN

Ilustrasi Gerakan Shalat

Ilustrasi Gerakan Shalat

A.      Pendahuluan

Qunut, yang dalam sebutannya mengindikasikan pada salah satu doa dalam shalat, merupakan perihal agama yang sampai saat ini statusnya masih terus menjadi tema perdebatan oleh sebagian kaum muslimin. Kedudukannya dalam syariat Islam masih begitu rumit untuk ditempatkan secara pasti apakah masuk ke dalam koridor ajaran Islam atau tidak. Sebab sudah terlalu sering perihal qunut ini diulas, kemudian diperselisihkan hingga pada akhirnya berakibat pada terpecahnya kaum muslimin menjadi dua golongan besar yang berseberangan paham. Terlebih sifat ashabiyah (fanatik) terhadap salah satu pendapat juga seringkali muncul saat dihadapkan pada ulasan ini. Mengapa demikian? Sebab teramati hampir semua umat muslim di masa ini telah mengalami krisis multidimensional. Selain mengalami kemerosotan akhlak, umat saat ini telah nampak semakin surut semangatnya untuk terus belajar agama serta mengkaji lebih dalam akan keagungan dan keluasan syariat Allah, belum lagi tidak fair dalam menyikapi dalil-dalil (nash-nash) yang ada.

Artikel ini sengaja ditulis mengingat tidak sedikit dari kalangan kaum muslimin yang cenderung mempersoalkan persoalan cabang (furu’iyyah) dan mengabaikan persoalan prinsip (ushuliyyah) dalam Islam. Ini berakibat sangat fatal karena justru akan memperlemah persatuan dan persaudaraan sesama kaum muslimin dan cenderung berpecah-belah (mukhalafah). Bila hal ini terjadi, maka akan semakin mudah lagi bagi orang kafir untuk memperdaya dan menghancurkan kaum muslimin. Padahal bila dari diri umat Islam timbul kesadaran dan mau berkaca diri atas kesalahan yang sudah dilakukan, maka akan muncul pemikiran bahwa permasalahan qunut ini tidak perlu terus-menerus diusut, yang justru dipikirkan ialah bagaimana mempersatukan kaum muslimin walaupun berbeda pemahaman.

Bila kita melihat kembali pada perjalanan sejarah umat Islam, ditemukan bahwa salah satu faktor kehancuran Daulah Islamiyyah, seperti halnya di Cordova (Bani Umayyah di Andalusia) ialah sering terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam disana. Perbedaan pendapat (ikhtilaf fil furu’) ini sering terjadi di tengah-tengah mereka. Berawal dari perbedaan pendapat inilah pada akhirnya mengesampingkan persoalan pokok yang justru lebih penting, yaitu jihad fii sabilillah dan mempertahankan persatuan dan kesatuan kaum muslimin di seluruh dunia dalam naungan daulah khilafah yang saat ini sirna, sehingga dengan mudah diserang oleh musuh.

Namun sebelum diulas lebih lanjut, perlu disampaikan bahwa tulisan ini sepenuhnya tidak bersumber dari pemikiran saya sendiri, namun mengambil intisari (atau dalam istilah lainnya disebut dengan ringkasan) dari buku yang berjudul “Qunut Antara Pro dan Kontra” Karya KH. M. Ihya’ Ulumiddin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang. Dalam buku tersebut, beliau menulis dengan gaya bahasa sekaligus cara penyampaiannya yang santun dan lugas, sehingga menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi saya pribadi. Selain itu, penulisan artikel ini sama sekali bukan bermaksud untuk menyudutkan ataupun memihak pada salah satu golongan. Namun berangkat dari artikel inilah kita mencoba bersama-sama untuk belajar, mengkaji, dan berusaha menyampaikannya secara apa adanya berdasarkan fakta tertulis yang tertuang dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.

Dengan dasar kerisauan yang tinggi akan masa depan kaum muslimin inilah, saya merasa berkewajiban untuk memaparkannya kembali melalui artikel ini. Dan tentu harapannya, perbedaan pendapat (khilafiyah furu’iyyah) ini jangan menjadikan faktor penghalang bersatunya kaum muslimin. Perbedaan ini justru kita tempatkan pada proporsi yang tepat, yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam serta menjadi nilai positif tersendiri bahwa ajaran Islam sangat luas, fleksibel tapi konsisten, mengikat dan tegas namun tidak mempersulit. Maka dari itu kaum muslimin seharusnya senantiasa membuka diri dengan terus menggali cakrawala pemikiran yang tidak lepas dari dasar ilmu dan wawasan keislaman yang benar sehingga dapat memberikan sebuah solusi maupun toleransi dalam masalah furu’iyyah demi terwujudnya izzul Islam wal muslimin. Dan terakhir, semoga jasa hasil tulisan dan ilmu beliau mendapatkan balasan yang tiada akhir oleh Allah swt di yaumil qiyamah. Amin.

B.      Definisi dan Sejarah Kronologis Qunut

Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), qunut berasal dari kata-kata berikut:

  1. Taat, sebagaimana ayat, “Dan laki-laki yang taat dan perempuan yang taat” (QS. Al-Ahzab: 35).
  2. Berdiri lama dalam shalat, sesuai dengan hadits, “Seutama-utama shalat adalah yang lama berdirinya” (HR. Muslim dalam kitab Shahih Musllim Jilid I hlm. 336).
  3. Diam, sebagaimana ayat, “Berdirilah karena Allah dengan diam” (QS. Al-Baqarah: 238).
  4. Doa, baik berdoa untuk kebaikan maupun berdoa untuk keburukan (Lihat Al-Majmu’ III/502)

Sedangkan dari segi istilah (terminologi), qunut adalah: suatu dzikir tertentu yang mencakup doa dan syiir/pujian. Seperti ucapan, “Ya Allah, berilah pengampunan kepadaku, wahai Dzat yang Maha Pengampun” (Lihat An-Nafahatush Shamadiyah hlm. 107). Lebih khusus, qunut adalah berdoa di tempat tertentu sewaktu berdiri di dalam shalat (lihat Syarh Az-Zarqani Jilid I hlm. 322).

Adapun sejarah qunut, bermula dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Kabilah Ri’il, Dzakwan, dan Kabilah Ushayyah (semuanya berasal dari Bani Salim) terhadap tujuh puluh Al-Qurra’(duta dakwah) dari kalangan Ahlus Shuffah yang saat itu dikirim oleh Rasulullah saw. Pengiriman ini atas dasar permintaan mereka sendiri kepada Nabi ketika datang ke Madinah untuk menyatakan masuk Islam. Pengiriman mereka pada awalnya bermaksud agar kaum musyrikin dari kalangan bangsa Najd mau menerima ajaran Islam.

Akan tetapi misi mereka hanyalah tipu muslihat belaka untuk menghentikan dakwah Nabi. Sebab di tengah perjalanan, mereka membantai 70 Al-Qurra’ di tempat yang bernama Bi’ru Ma’unah. Diantara 70 Al-Qurra’ yang dibantai, hanya satu yang selamat, yaitu Ka’ab bin Zaid al-Anshari. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun keempat hijriyah.

Mendengar cerita peristiwa tersebut, beliaupun akhirnya murka dan pada saat shalat lima waktu, di tiap-tiap rakaat akhir beliau selalu berdoa yang intinya ialah beliau mengutuk mereka (di dalam riwayat Anas beliau hanya berdoa di akhir shalat maghrib dan shubuh saja) selama satu bulan berturut-turut. Peristiwa inilah sebagai awal mula disyariatkannya Qunut. Oleh sebagian kaum muslimin berpendapat qunut ini lazim disebut qunut nazilah. (Lihat Bidayatul Mujtahid Jilid I/103, Fiqhus Sunnah I/167), dan Hasyiah Sindi I/178).

C.      Dalil Ketetapan (Itsbat) Qunut

Mengenai dalil yang menunjukkan ketetapan (itsbat) akan keberadaan qunut antara lain:

Dari Muhammad, ia berkata, “Anas ditanya, apakah Nabi saw. melakukan qunut?” Ia menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari I: 177).

Dari Al-Bara’, sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut di dalam shalat shubuh. (HR. Abu Dawud II: 337).

Dari Al-Baro’ bin Azib, sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut di dalam shalat shubuh dan shalat maghrib. (HR. Tirmidzi I: 249).

Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. senantiasa melakukan qunut Shubuh hingga beliau wafat”. (HR. Abdurrazaq, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim, dalam kitab Bulughul Maram: 326, dan Aunul Ma’bud IV: 320)

Dari Anas r.a., ia berkata: “Adalah qunut itu dilakukan di dalam shalat maghrib dan Shubuh”. (HR. Bukhari I: 178, dan Aunul Bari’ II: 106).

Dari Said bin Thariq, aku bertanya kepada ayahku, “ Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah melaksanakan shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, maka apakah mereka melakukan qunut shubuh?”. Ayahku menjawab, “Wahai putraku, karena itu ceritakanlah”. (HR. Nasa’i dan Tirmidzi, dalam Majmu’ III: 504).

Dari hadits-hadits di atas, maka Imam Asy-Syafi’i dalam Al –Majmu’ III:  502 memberi penegasan adanya qunut dalam shalat, walaupun ada hadits tentang “meniadakan qunut” – yang insya Allah akan diulas pada bagian peniadaan (nafi) qunut –, beliau masih belum memastikan atau menjamin tidak bolehnya melakukan qunut, terutama dalam shalat shubuh.

D.      Dalil Peniadaan (Nafi) Qunut

Selanjutnya, ada beberapa riwayat menyebutkan peniadaan (nafi) qunut. Hal tersebut terdapat pada beberapa hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan qunut selama sebulan setelah ruku’ melaknat tokoh-tokoh Arab, kemudian beliau meninggalkannya”. (HR. Mukhari Muslim)

Dari Saad bin Thariq Al-Asyja’i r.a., aku berkata kepada ayahku, “ Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah melaksanakan shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, maka apakah mereka melakukan qunut shubuh?”. Ayahku menjawab, “Wahai putraku, itu adalah perkara baru (muhdats)”. (HR. Al-Khamsah kecuali Abu Dawud, dalam Al-Majmu’ III: 504, Bulughul Maram: 74, Zaadul Ma’ad I: 69, dan Misykatul Mashabih I: 403)

Thariq Al-Asyja’i kepada putranya: Aku shalat di belakang Rasulullah saw, maka beliau tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Abu Bakar, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Umar, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Utsman, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Ali, beliaupun tidak qunut. Kemudian ia berkata, “Wahai putraku, sesungguhnya qunut adalah perkara bid’ah”. (HR. Nasa’i, dalam Tuhfatul Ahwadzi II: 436).

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. tidak melakukan qunut kecuali bila mendoakan kebaikan atau keburukan atas suatu kaum. (HR. Ibnu Khuzaimah, dalam Sulubussalam I: 150)

Dari Saad bin Zubair, ia berkata, “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya qunut pada shalat shubuh adalah bid’ah”. (HR. Daraquthni, dalam Zaadul Ma’ad I: 69)

Dari Abu Makhlad, aku shalat shubuh bersama Ibnu Umar, maka beliau tidak qunut. Aku pun bertanya, “Aku tidak melihat tuan qunut”. Beliau menjawab, “Aku tidak meriwayatkannya salah satu pun dari sahabat-sahabat kami”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Zaadul Ma’ad I: 69)

Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah qunut dalam shalat beliau”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Al-Majmu’ III: 505)

Dari Ummu Salamah r.ha., sesungguhnya Nabi saw. melarang qunut dalam (shalat) shubuh”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Al-majmu’ III: 504)

Dari beberapa hadits di atas, maka lebih lanjut Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan ulama’-ulama’ yang sepandangan dengan beliau berpendapat bahwa qunut adalah perkara baru (muhdats) dan identik dengan perbuatan bid’ah yang terlarang.

E.       Pencarian Titik Temu

Cukup rumit dalam mencari penyelesaian dan titik temu tentang permasalahan qunut ini, karena masing-masing pihak memiliki dasar yang sama-sama kuat dan sulit terbantahkan. Bagi kelompok yang kontra qunut, mereka berlandaskan pada argumen bahwa hadits yang dijadikan pegangan disyariatkan qunut tidak memenuhi syarat-syarat yang sah untuk dipakai hujjah. Seperti contoh hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. berikut ini:

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut selama sebulan untuk mendoakan jelek kepada pembunuh-pembunuh sahabatnya di Bi’ru Maunah, kemudian beliau meninggalkannya. Adapun shalat shubuh beliau tidak meninggalkan qunut sampai meninggal dunia. (HR. Daraquthni, Abdurrazzaq, Abu Mu’a’m, Baihaqi, dan Hakim, dalam Shahih Tuhfatul Ahwadzi II: 433)

Di dalam sanad hadits ini terdapat Abu Ja’far Arrazy. Walaupun oleh sebagian ulama dianggap tsiqah, namun ada pula yang berpendapat bahwa ia memiliki kelemahan, seperti tidak kuat hafalan, kacau hafalannya, banyak bimbang, jelek hafalannya, dan pernah berbuat salah. Beberapa kelemahan ini diungkapkan oleh beberapa tokoh, seperti Ali Al-Madini, Abu Zur’ah, Amr bin Ali Fallah, Ibnu Ma’in, dan Ad Duwary. Dari penuturan beberapa tokoh ini, maka hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik menjadi tidak shahih (baca: tidak murni) lagi. Coba bandingkan dengan hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut:

Kami bertanya kepada Anas, bahwa sesungguhnya suatu kaum berpandangan Nabi saw. senantiasa melakukan qunut shubuh. Anas menjawab, “Mereka berdusta (tidak benar), beliau hanya melakukan qunut sebulan mendoakan jelek kabilah dari kabilah-kabilah orang-orang musyrik”. (Tuhfatul Ahwadzi II: 433).

Juga dikuatkan oleh riwayat Ibnu Khuzaimah sebagai berikut:

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. tidak melakukan qunut kecuali bila mendoakan kebaikan atau mendoakan keburukan atas suatu kaum. (Subulussalam I: 150).

Sehingga dari sini, pihak yang kontra qunut berkesimpulan, riwayat-riwayat yang menetapkan qunut (itsbaatul qunut) tidak bisa dijadikan pegangan karena sudah tidak shahih dan murni lagi, dan terkesan kacau lantaran dibantah oleh riwayat-riwayat yang meniadakan qunut (nafi qunut) yang lebih rajih (kuat). Akhirnya mereka berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja (nazilah).

Selanjutnya kelompok yang setuju atas disyariatkannya qunut (pro qunut) berpendapat, hadits yang diriwayatkan oleh Saad bin Thariq – yang sudah disebutkan di atas – dan hadits-hadits lain yang menunjukkan ketetapan qunut (Itsbaatul Qunut) menggambarkan tambahan ilmu (ziyadah ‘ilmu) dan riwayat tersebut lebih banyak daripada yang menunjukkan peniadaan qunut (Nafi Qunut).

Oleh karena itu lebih lanjut Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits Itsbaatul qunut wajib lebih didahulukan. Dalam hal ini hadits Ibnu Mas’ud menunjukkan Nafiul qunut, sedangkan hadits Anas bin Malik menunjukkan Itsbaatul qunut, maka hadits Anas lah yang lebih didahulukan. Dalam kaidah ushul disebutkan: Idzaa ta’aaradha al-itsbaatu wannafyu quddima al-itsbaatu (Jika itsbat dan nafi bertentangan, maka itsbat lebih didahulukan).

Imam Asy-Syaukani menyebutkan bahwasanya Al-Hafidz Al-Iraqi menceritakan qunut dari sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ibnu Abbas, ia berkata: Perihal qunut dari mereka benar-benar shahih. Beliau menambahkan: Jika itsbat dan nafi bertentangan, maka itsbat lebih didahulukan (Nailul Authar II: 385).

Imam Al-Hamdani berkata: Hadits-hadits kami menunjukkan itsbaatul qunut dan hadits-hadits mereka menunjukkan nafiul qunut, sedangkan itsbat harus lebih didahulukan daripada nafi karena asal mulanya adalah tiadanya qunut, atau hadits-hadits kami lebih memberi tambahan hukum karena telah menetapkan qunut. Jadi lebih utama. (Al-I’tibar , hlm. 97).

Dan bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi berkata: Hadits-hadits riwayat Anas semuanya shahih. Antara satu dengan yang lainnya saling membenarkand an tidak bertentangan. Adapun qunut yang disebutkan sebelum ruku’ sebenarnya berbeda dengan yang disebutkan setelah ruku’. Begitu pula qunut yang waktunya dibatasi berbeda dengan qunut yang waktunua tidak dibatasi. Qunut yang disebut oleh sahabat Anas sebelum ruku’ bermakna berdiri lama untuk qira’ah (bacaan dalam shalat), sedang yang disebut setelah ruku’ bermakna berdiri lama untuk berdoa. Qunut ini dilakukan Rasulullah saw. selama sebulan tujuannya mendoakan kebaikan untuk suatu kaum dan mendoakan keburukan atas kaum yang lain. Hal itu berlangsung lama sampai kemudian berlanjut menjadi doa dan pujian hingga beliau meninggal dunia. Sedangkan beliau tinggalkan adalah qunut untuk mendoakan buruk atas kaum-kaum bangsa Arab, dan demikian itu dilakukan beliau setelah ruku’. (Zaadul Ma’ad I: 72-73).

Lain lagi dengan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud berikut:

Rasulullah saw. tidak pernah melakukan qunut sama sekali dalam shalatnya. (HR. Baihaqi)

Hadits diatas sangat lemah, karena di dalamnya terdapat Muhammad bin Jabir As-Sahmi. Ia sangat dhaif dan bahkan matruk (ditinggalkan haditsnya). Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, sangat dhaif. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Abu Laila Al-Kufi. Lebih lanjut Imam Al-baihaqi berkata: Hadits ini tidak shahih. Abu Laila Al-Kufi matruk, dan kami sendiri meriwayatkan hadits: Sesungguhnya Nabi saw. berqunut. Begitu pula hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah r.ha, juga dhaif. Hadits ini bersanadkan Muhammad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Nafi dari ayahnya Nafi dari Ummu Salamah r.ha. Imam Ad-Daraquthni berkata: Ketiga perawi itu dhaif. Tidaklah shahih bila nafi mendengar dari Ummu Salamah. (Lihat Al-Majmu’ III: 505).

Sementara haditsnya Ibnu Umar yang mengatakan: Aku tidak menghafal (riwayat) qunut dari satupun sahabat kami. Ucapan Ibnu Umar ini menunjukkan bahwa beliau tidak menghafalnya atau beliau lupa akan qunut shubuh. Di samping Ibnu Umar, ternyata sahabat Anas, Al-Bara’ bin Azib, dan yang lainnya tidak lupa. Maka selayaknya yang tidak lupa didahulukan (Lihat Al-Majmu’ III: 505).

Kembali pada fokus hadits yang diriwayatkan Saad bin Thariq di atas, baik yang pro maupun yang kontra qunut. Dapat diperhatikan dalam hadits tersebut terdapat perbedaan matan. Satu matan menyebutkan, “Ay bunayya muhdatsun” (puteraku, qunut adalah perkara baru), dan yang lain menyebutkan, “ Ay bunayya fahaddats” (puteraku, maka ceritakanlah perkara qunut ini). Para ulama mazhab menanggapi hadits ini secara berlainan. Imam Abu Hanifah mengambil yang pertama, sedangkan Imam Asy-Syafi’i yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawi mengambil matan yang kedua.

Dalam usaha memadukan dua pendapat ini, ada sebuah cerita, suatu ketika Imam Asy-Syafi’i (yang pro qunut) menjadi Imam shalat shubuh di sebuah masjid yang mayoritas masyarakatnya mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah yang kontra qunut, beliau tidak berqunut, padahal qunut adalah hasil ijtihad beliau (Lihat Ar-Risalah Al-Islamiyyah hlm. 47 dan Mauqiful Ikhtilafi hlm. 113).

F.       Upaya Jalan Tengah

Ulasan tentang beberapa argumen di atas cukup menggambarkan secara jelas dan terperinci perihal qunut tersebut, yang masing-masing mempunyai pendapat yang mampu dipertanggungjawabkan di atas landasan syariat yang benar meski bertolakbelakang. Untuk menanggapinya, ada beberapa ulama yang tidak terlalu memihak terhadap salah satu kelompok yang senantiasa berusaha untuk mencari jalan tengah, yaitu dengan jalan pemaduan (jama’) sebelum menyatakan bahwa kedudukannya saling bertentangan dalam hakikatnya.

Ulama-ulama tersebut salah satunya ialah, seperti Imam An-Shan’ani. Beliau berpendapat, dari sini terdapat petunjuk yang dilakukan oleh para sahabat bahwa praktik mengenai qunut ini diamalkan oleh sebagian dari mereka pada saat yang lain meninggalkannya. Begitu pula pendapat yang diutarakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau berkata, “Perihal qunut tidaklah mengherankanku (laa yu’jibuni) ”. Pada kesempatan yang lain beliau berkata, “Aku tidak bersikap keras terhadap orang yang qunut (laa a’tu man yaqnutu)”. (Al-Inshaf II: 174).

Berangkat dari pertentangan terhadap dalil qunut tersebut, Syaikh Ad-Dahlawi berkata:

“Menurutku, qunut dan tidak qunut sama saja”. (Hujjatullah Al-Balighah II: 11).

Dengan adanya hadits-hadits qunut yang kontradiktif di atas, maka sebagian ulama berpendapat: “Bisa jadi nafi qunut memberikan petunjuk bahwa qunut hukumnya jawaz (mubah), tidak sampai ke tingkat sunnah ataupun haram”. (Lihat Sulubussalam I: 150).

Ada pula golongan yang berpendapat bahwa mengerjakan qunut adalah sunnah, begitu pun meninggalkan qunut juga sunnah. Orang yang konsisten melakukan qunut di setiap shalat shubuh tidaklah bid’ah dan tidak pula menentang sunnah. Demikian pula orang yang meninggalkan qunut tidak dapat dikatakan bid’ah dan menentang sunnah. Bagi mereka, melakukan qunut dan meninggalkannya sama-sama baik. (Zaadul Ma’ad I: 70).

Sekedar menambahkan, beberapa sahabat dan tabi’in yang tidak melakukan qunut shubuh antara lain Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka semua berpendapat, “Tidak ada qunut shubuh”. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menambahkan dalam pendapatnya bahwa yang boleh melakukan qunut adalah khalifah.

Sebaiknya, beberapa sahabat dan tabi’in yang melakukan qunut shubuh antara lain Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, semuanya termasuk Khulafaur Rasyidin. Selain mereka, ada pula para sahabat yang lain seperti Ammar bin Yasir, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Al-Bara’, Anas bin Malik, Mu’adz bin Harits Al-Anshari, Khalaf bin Imaa’ bin Rahadlah, Ahban bin Shaifi, Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi, Arfajah bin Syuraih, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Aisyah. Di kalangan tabi’in ada Sa’id bin Musayyib, Hasan bin Al-Hasan, Muhammad bin Sirin, Rabi’ bin Khaitsam, Aban bin Utsman, Qatadah, Thawus, Ubaid bin Umair, Ayyub As-Salmani, Urwah bin Zubair, Ziyad bin Utsman, Abdurrahman bin Abu Laila, Umar bin Abdul Aziz, dan Humaid Ath-Thawil. Terakhir, dari kalangan fiqih ada Abu Ishaq, Abu Bakar bin Muhammad, Hakam bin Utaibah, Hammad, Malik bin Anas, Auza’i, Ulama Hijaz, mayoritas Ulama Syam, Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya, dan lain-lain. Mereka semuanya berpendapat, “Sunnah melakukan qunut Shubuh”. (Tuhfatul Ahwadzi I: 432).

Perbedaan ini berlanjut hingga generasi khalaf (kontemporer) yang akhirnya datang ke Indonesia diikuti oleh dua organisasi besar, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang masing-masing memegang pada salah satu pendapat di atas.

G.     Kesimpulan

Masalah qunut sudah menjadi ikhtilaf semenjak masa sahabat, tabi’in, sampai kepada masa mazhab empat. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pro qunut dan kelompok kontra qunut. Adanya dua kubu/kelompok di atas justru merupakan cerminan dinamika umat yang dapat memperkaya khazanah ilmu agama, sehingga perbedaan pendapat yang bersifat khilafiyah furu’iyyah masih dianggap wajar selama tidak masuk pada ranah aqidah. Bahkan keberadaan ikhtilaf ini merupakan rahmat bagi umat. Rasulullah saw. telah bersabda:

“Ikhtilaf (perbedaan pendapat) umatku merupakan rahmat”. (HR Ibnu Al-Hajib dan Al-Khaththabi).

Sebagaimana kisah Imam Asy-Syafi’i saat menjadi imam shalat shubuh di atas, dapat dilihat bagaimana para mujtahid terdahulu menghargai mendapat mujtahid lainnya sekalipun bertentangan. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih:

“Al-Ijtihaadu laa yunqadhu bi al-ijtihaadi” (Suatu ijtihad tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad lainnya.

Oleh karena itu, dalam menyikapi ikhtilaf seharusnya tidak jumud (kaku) dan eksklusif (tertutup) dan mengklaim pendapat sendiri yang benar. Perbedaan seperti ini justru jadikan antara umat satu dengan umat yang lain saling bertasamuh, ta’awun, dan mahabbah dalam lingkaran ukhuwah islamiyah semata-mata mengharapkan ridha Allah. Silakan masing-masing beramal pada pendapatnya sesuai dengan hujjahnya sendiri, dalam arti tidak perlu memperuncing persoalan ini dan menjadikannya sebagai jalan untuk bermukhalafah (berpecah belah) di kalangan kaum muslimin. Sebab bermukhalafah, saling mengejek, menghina, menyalahkan, membid’ahkan, hingga memvonis saudara muslim sendiri agar masuk neraka adalah tindakan yang dapat mendatangkan murka Allah. Terlebih perbedaan pendapat mengenai qunut ini  sudah terjadi semenjak periode empat belas abad silam.

Untuk itu, semua umat Islam, mulai dari kalangan tokoh-tokoh agama, ulama, hingga kalangan masyarakat muslim biasa, baik yang pro maupun yang kontra, hendaknya memaklumi situasi semacam ini dan jangan terlalu dipermasalahkan, malah justru diarahkan agar perbedaan ini dapat dijadikan wawasan baru sekaligus menyadarkan umat Islam bahwa ada persoalan yang lebih penting dan urgen, yakni persatuan umat.

Semoga ulasan tentang qunut ini menjadi tambahan ilmu, mampu bersikap fair dalam menerapkan ilmu, yang akan semakin mewarnai keragaman  dalam satu bingkai kesatuan umat Islam di tengah-tengah pluralitas masyarakat Islami.

Wallaahu a’lamu bishawaab.

Tradisi Tahlilan

1. Pendahuluan

Acara tahlilan yang kedengarannya tak lagi asing di telinga orang Indonesia merupakan salah satu tradisi zaman wali songo yang sampai sekarang masih diamalkan oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan ada sebagian orang masih mempercayai bahwa tradisi semacam ini dapat membawa keberuntungan tersendiri bagi yang menyelenggarakannya. Keberuntungan ini bisa berupa ketenangan hati bagi yang berhajat, berlimpahnya rezeki serta menambah rasa kebersamaan antar sesama dan bahkan mampu menambah dekat kepada Sang Pencipta selaku pemberi rezeki.

Namun apabila kita mau jujur, asal usul tradisi ini sebenarnya berasal dari kebudayaan Hindu-Budha yang termodifikasi oleh ide-ide kreatif pada wali songo, penyebar agama Islam di Jawa. Awalnya tradisi tahlilan ini belum ada, sebab masyarakat zaman dulu masih mempercayai kepada makhluk-makhluk halus dan gaib. Oleh sebab itu, mereka berusaha meminta sesuatu kepada makhluk-makhluk gaib tersebut berdasarkan keinginan yang dikehendakinya. Agar keinginan itu terkabul, maka mereka membuat semacam sesajen yang nantinya ditaruh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti punden dan pohon-pohon besar.

Melihat kenyataan tersebut, selain menyebar dakwah Islam, para wali songo juga bertekad ingin merubah kebiasaan mereka yang sangat kental akan nuansa tahayyul untuk kemudian diarahkan kepada kebiasaan yang bercorak islami dan realistik. Untuk itulah, mereka berdakwah lewat jalur budaya dan kesenian yang cukup disukai oleh masyarakat dengan sedikit memodifikasi serta membuang unsur-unsur yang berseberangan dengan Islam. Dengan begitu, agama Islam akan cepat berkembang di tanah Jawa dengan tidak membuang mentah-mentah tradisi yang selama ini mereka lakukan.

2. Tahlilan dan Pelaksanaannya

Kata “Tahlilan” berasal dari kata “tahlil” yang dalam bahasa Arab bermakna mengucapkan kalimat thayyibah “Laa ilaaha illallah”, yang berarti tiada Tuhan selain Allah swt. Makna tahlil kemudian berkembang menjadi serangkaian bacaan yang terdiri dari kumpulan dzikir seperti tasbih, tahmid, shalawat, takbir, tahlil dan beberapa bacaan dzikir yang lain, serta ayat-ayat Al-Qur’an dan doa. Oleh karena bacaan tahlil lebih dikenal dan lebih dominan daripada yang lainnya, maka kata tahlil terpilih menjadi nama serangkaian bacaan tersebut. Dengan demikian, rangkaian bacaan inilah yang menimbulkan istilah tahlilan, yang berarti kegiatan berkumpulnya orang-orang di suatu tempat untuk membaca tahlil.

Tradisi tahlilan ini diadakan oleh sebagian besar masyarakat agar orang yang sudah meninggal diterima amalnya di sisi Allah dan mendapat ampunan atas dosanya yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah.

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berkata, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 10)

Tahlilan memiliki beberapa tujuan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan bagi keluarga yang melaksanakan saja, namun juga dapat dirasakan oleh para undangan yang menghadirinya. Di antara tujuan tahlilan bagi para undangan yang hadir dalam acara ini adalah:

  1. Menghibur keluarga almarhum/almarhumah
  2. Mengurangi beban keluarga almarhum/almarhumah
  3. Mengajak keluarga almarhum/almarhumah agar senantiasa bersabar atas musibah yang telah dihadapinya.

Adapun tujuan tahlilan bagi keluarga almarhum/almarhumah adalah:

  1. Dapat menyambung dan mempererat tali silaturahmi antara para undangan dengan keluarga almarhum/almarhumah.
  2. Meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat oleh almarhum/almarhumah semasa hidupnya kepada para undangan.
  3. Sebagai sarana penyelesaian terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajiban almarhum/almarhumah terhadap orang-orang yang masih hidup.
  4. Melakukan amal shaleh dan mengajak beramal shaleh dengan bersilaturahmi, membaca doa dan ayat-ayat al-Qur’an, berdzikir, dan bersedekah.
  5. Berdoa kepada Allah agar segala dosa-dosa almarhum/almarhumah diampuni, dihindarkan dari siksa neraka dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah.
  6. Untuk mengingat akan kematian bagi para undangan dan keluarga almarhum serta dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Tahlilan sudah merupakan tradisi yang sudah dilakoni oleh sebagian masyarakat secara turun-temurun semenjak masuknya Islam di Jawa hingga sekarang ini untuk memperingati waktu kematian seseorang. Tradisi ini diselenggarakan secara berurutan, yaitu mulai malam ketujuh, keempat puluh, keseratus, pendak pisan (satu tahun), pendak pindho (dua tahun) hingga keseribu hari dari wafatnya seseorang. Setelah itu, tahlilan dilaksanakan secara periodik setiap tahun pada tanggal dan bulan kematiannya yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan istilah kenduri atau slametan dalam rangka kirim doa, atau juga sering disebut dengan istilah “haul”.

Setelah acara selesai, biasanya yang mempunyai hajat (dalam hal ini adalah tuan rumah atau ahli warisnya) menghidangkan makanan dan minuman kepada para undangan tahlil, bahkan sebelum pulang pun juga diberi berkat (makanan/jajanan yang dibungkus untuk dibawa pulang) dengan maksud bersedekah. Seperti yang sudah disebutkan di atas, tujuan diadakannya tahlilan ialah mengirim doa dan pahala yang diperuntukkan bagi si mayit melalui serangkaian bacaan tahlil dan diteruskan dengan doa agar amal seseorang yang ditahlili (si mayit) diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah swt.

Maksud pahala disini bukan hanya berarti balasan dari Allah terhadap seseorang atas ketaatannya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, namun makna pahala dalam acara tahlilan ini ialah kenyamanan dan kenikmatan atas Rahmat dan Maghfirah Allah swt yang dirasakan seseorang baik diperoleh dari amal salehnya selama hidup di dunia maupun atas pemberian hadiah dari orang lain melalui mengirimkan pahala kepada seseorang yang dituju. Sehingga menghadiahkan pahala dimaksudkan untuk menjadikan ganjaran dari sebuah amal agar dapat dinikmati oleh orang lain yang dituju dan juga dapat dinikmati oleh orang yang membaca itu sendiri.

3. Tahlilan: Bid’ah Atau Bukan?

Tradisi tahlilan ini memang tidak terdapat pada zaman Nabi saw. Lebih tepatnya tradisi ini lebih identik dengan perpaduan antara kebudayaan Jawa Kuno dengan tradisi Islam. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan menolak, bahkan menentang tradisi ini. Sebab, mereka meyakini bahwa acara tahlilan merupakan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw, sehingga termasuk bid’ah. Dan mereka tak segan-segan menjatuhkan vonis neraka jahannam bagi orang-orang yang tetap mengamalkannya. Mereka merujuk pada sebuah hadits Rasulullah saw yang sangat populer berikut:

و شرّ لأمر محدثاتها وكلّ بدعة ضلالة وكلّ ضلالة في النّار (رواه مسلم و النّساء)

Artinya: “Perkara yang terburuk adalah pembaharuan-pembaharuan, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempat tinggalnya di neraka” (HR Muslim dan Nasa’i).

Namun perlu diingat, para wali songo dalam berdakwah sangat mengedepankan kehati-hatian serta strategi yang jitu dalam misinya menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Sebab, di kala itu kondisi mereka yang masih beragama Hindu dan Budha masih belum mampu merubah total apa yang menjadi kebiasaan dan tradisi mereka, sehingga sangat sulit bagi para wali apabila langsung mengkikis kebudayaan yang mereka lakukan selama itu dalam dakwahnya. Mereka juga tidak sembarangan membuang adat-istiadat yang mereka lakukan serta sangat selektif dan teliti memilah-milah kebiasaan mana yang masih dalam koridor syari’at dan mana yang bertentangan. Sebab apabila para wali songo bertindak gegabah dalam menjalankan misinya, maka agama Islam pun sulit diterima oleh orang Jawa pada waktu itu. Bahkan tak jarang merekapun semakin membenci pada Islam yang justru semakin menghambat berkembangnya agama yang dibawa baginda Rasulullah saw ini. Strategi wali songo ini kemudian diperkuat dengan statement Imam Syafi’i yang dikutip dalam buku “Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam” karangan Ibnu Rajab yang berbunyi:

Bid’ah itu ada dua, yaitu bid’ah hasanah (terpuji) dan bid’ah dhalalah (tercela). Bid’ah hasanah berarti bid’ah yang selaras dengan sunnah, sedangkan bid’ah dhalalah berarti bid’ah yang bertentangan dengan sunnah.

Maka dari itu, definisi bid’ah perlu diluruskan kembali pemahamannya. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa’i diatas merupakan dasar agama yang sangat urgen dan universal sehingga maknanya masih umum. Akan tetapi, hadits tersebut dibatasi maknanya dengan hadirnya hadits yang lain:

من أحدث في أمرنأ هذا ما ليس منه فهو ردّ (رواه بخاري ومسلم)

Artinya: “Barangsiapa yang membuat pembaharuan dalam agamaku ini dengan hal yang bukan dari-Nya maka ia tertolak” (HR Bukhari Muslim)

عن ابن مسعود موقوفا: ما راد المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما راد المسلمون قبيحا فهو عند الله قبيح (أخرجه أحمد)

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud ra: “Apa yang menurut kaum muslimin baik maka menurut Allah adalah baik. Dan apa yang menurut kaum muslimin jelek maka menurut Allah adalah jelek” (Hadits Mauquf dan ditakhrij oleh Ahmad)

Maksud hadits di atas adalah segala jenis pembaharu-pembaharu yang sama sekali tidak berdasarkan kaidah syara’ maka amalannya ditolak oleh Allah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bid’ah adalah setiap amalan yang dilakukan tanpa ada legalitas syari’at sama sekali, bukan hanya dimaknai dengan setiap amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw saja.

Memang setiap perbuatan atau amalan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw adalah sunnah dan dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam, namun bukan berarti segala apa yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh beliau disebut bid’ah seperti yang telah dinashkan pada hadits yang pertama tadi. Dicek terlebih dahulu apakah amalan yang tidak dicontohkan oleh beliau masih terkandung nilai-nilai yang selaras dengan sunnah atau tidak sama sekali. Bila ditemukan suatu hal yang mana bid’ah lebih banyak daripada sunnah, maka perlu dibenahi kembali amalan tersebut, apakah masyarakat masih memerlukan dan sangat berat untuk meninggalkan amalan tersebut ataukah tidak. Jika masih diperlukan, maka perlu memodifikasi kembali agar sesuai dengan sunnah, bukan malah membuangnya mentah-mentah kecuali jika benar-benar dilarang oleh hukum syara’ dan mengandung madharat yang besar.

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan tahlilan ini? Apakah ada dasar syari’atnya ataukah tidak? Hal tersebut hingga saat ini masih dalam permasalahan perbedaan pendapat (khilafiyah) dan sukar untuk memutuskan hukum yang pasti yang status hukumnya bersifat universal. Karena masing-masing kelompok bersikukuh mempertahankan pendapatnya masing-masing yang sama-sama merujuk pada nash yang sama, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Kalaupun tahlilan tidak pernah dilakukan pada masa kehidupan Rasulullah, maka harus dikaji dan diteliti kembali apakah pelaksanaan tahlilan mengandung nilai-nilai yang dibenarkan syara’ ataukah tidak. Yang jelas, tradisi tahlilan ini dirintis oleh para wali songo yang hingga saat ini masih dianggap sebagai generasi tabiit tabiien yang sangat diacungi jempol keberadaannya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Jika tahlilan dianggap bid’ah sehingga pelakunya diancam neraka, maka seharusnya dari dulu-dulu wali songo sudah menentangnya karena tradisi ini bertentangan dengan Islam.

Sebagaimana yang telah diungkap diatas, diadakannya tahlilan dimaksudkan agar amal armarhum diterima dan segala dosa yang diperbuat sewaktu didunia diampuni oleh Allah swt. Hal ini wajar sebab Rasulullah sendiri menganjurkan agar umat muslim selalu mendoakan umat muslim yang lain. Maka dari sinilah muncul istilah mengirim pahala yang ditujukan kepada almarhum.

Mengirim pahala ini pula tak jarang mengundang kontroversi, dikarenakan terdapat sebuah ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa si mayit tidak dapat menerima pahala dari orang lain yang masih hidup, yakni di surat An-Najm ayat 39:

وَأَنْ لَّيْسَ لِلْإَنْسَانَ إِلاَّ مَاسَعَى (النجم: 39)

Artinya: “Dan sesungguhnya seorang manusia tidak mempunyai hak selain pahala dari amal yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39)

Ayat diatas dengan tegas bahwa pahala seseorang diperolehnya hanya karena amal saleh yang dilakukan sewaktu di dunia. Namun ayat diatas dipersempit maknanya oleh Hadits populer berikut:

عن أبي هريرة رصي االله عنه أنّ رسول االله صلّى االله عليه وسلّم قال: إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلاّ من ثلاث, صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له (رواه الترمذي)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya” (HR. Turmudzi).

Hadits kedua inilah yang oleh kelompok pro-tahlilan dijadikan sumber dalil diperbolehkannya tahlilan. Namun ada pula kelompok yang bersikukuh tetap tidak memperbolehkan tahlilan lantaran isi hadits tersebut hanya dipahami secara tekstual yang disitu dijelaskan bahwa amalan si mayit akan tetap mengalir apabila terpenuhinya tiga hal, salah satunya ialah anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Maka selain ahli waris, pengiriman pahala tidak akan sampai kepada si mayit. Walaupun begitu, kita tetap tidak bisa menyalahkan kelompok yang mentradisikan tahlilan karena mereka memiliki pemahaman sendiri terhadap hadits tersebut.

Status hukum tahlilan pun juga masih belum jelas, apakah sunnah ataukah sebaliknya. Yang jelas, ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan bahwa al-urf (adat/tradisi masyarakat) yang masih sejalan dengan sunnah maka tidak bisa dihukumi haram dan bid’ah karena masih sejalan dengan sunnah. Karena itu, kita tidak perlu ribut-ribut memperselisihkannya sebab akan menimbulkan masalah baru yang dapat memperkeruh suasana keberagaman pandangan di tengah-tengah umat Islam.

Agar tidak timbul pertentangan dan konflik yang berkepanjangan di kalangan internal umat Islam, maka jalur tengahnya adalah saling mentolerir dan membuka diri antar sesama muslim. Bagi pihak yang pro-tahlilan, dipersilakan untuk melakukannya asal tidak menganggapnya sebagai hal yang mutlak wajib dilakukan. Namun bagi yang sangat antipati terhadap tahlilan, alangkah baiknya jika diam dengan tidak menjelek-jelekkan apalagi membid’ahkan pihak yang menyukai tradisi ini, atau lebih baik men-tabayyun-i (menyampaikan argumennya secara bijak) kepada pihak yang menyukai tahlilan maupun tidak. Sebab Islam adalah agama yang tidak mengajarkan perpecahan dan permusuhan antar sesama umat muslim. Justru perbedaan ini akan semakin memperkaya ajaran Islam yang berdampak pada umat Islam dan non-muslim akan semakin tertarik untuk mempelajari dan mendalami agama Islam.

Semoga dengan diuraikannya bahasan singkat tentang tradisi tahlilan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi khazanah keilmuan Islam, khususnya kepada kaum muslimin dimanapun berada agar senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah dan saling bertoleransi ketika terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Hanya Allah yang Maha Tahu yang terbaik.

Tradisi Masyarakat Jawa Tentang Kelahiran

Masyarakat Jawa terkenal dengan keteguhannya mempertahankan dan melestarikan tradisi nenek moyangnya. Setelah Islam masuk, para ulama’ seperti wali songo memodifikasi kebudayaan yang berbau mistik dan tahayyul kepada tradisi yang sesuai dengan norma-norma Islam. Tradisi Jawa mengenai kelahiran seorang anak misalnya, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, bahkan penuh dengan pengkultusan, kemusyrikan dan kemubadziran. Lalu oleh usaha kreatifitas wali songo diubahlah kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi yang Islami. Di antara kebiasaan yang lazim dilakukan orang Jawa yang telah diakulturasikan dengan tradisi Islam berkenaan dengan kelahiran seorang anak seperti berikut:

1. Adzan dan Iqamah Bagi Bayi Yang Baru Lahir

Adzan dan iqamah adalah kalimat dakwah yang sempurna, pula yang keberadaannya merupakan salah satu tonggak awal berdirinya ajaran Islam.  Lantunan adzan secara hukum syar’i  tidak hanya dikumandangkan pada saat akan melaksanakan ibadah shalat saja, namun boleh dilakukan kapan saja, termasuk ketika sang bayi baru lahir dari rahim ibunya.

Para ulama’ sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan dan iqamah ketika bayi baru lahir. Kesunnahan ini dapat diketahui dari sebuah hadits berikut:

Dari Ubaidah r.a. dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali r.a. ketika Fatimah melahirkannya” (HR. Abu Daud).

Selain hadits di atas, anjuran disunnahkannya adzan dan iqamah pada sang bayi beralasan bahwa sebelum mendengarkan ucapan atau suara lain dari luar, alangkah baiknya sang bayi terlebih dahulu mendengarkan kalimat tauhid untuk mengingatkan janji yang telah diikrarkan oleh sang bayi ketika berusia 4 bulan di dalam kandungan di hadapan Allah. Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka, dan Allah mengambil janji terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf: 172)

Selain itu, suara adzan juga berfaedah untuk mendidik aqidah dan kepercayaan yang benar dan merupakan awal dari serangkaian proses pendidikan selanjutnya. Hanya dengan aqidah yang benar sajalah seseorang dapat mengarungi hidup secara sempurna melalui tauhid yang benar demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pelaksanaan adzan dan iqamah dilakukan pada saat sang bayi sudah dibersihkan dari cairan dan kotoran lainnya. Lantunan adzan dikumandangkan di telinga bayi sebelah kanan, sedangkan iqamah dilantunkan di telinga bayi sebelah kiri. Hal ini berfungsi agar kedua telinga sang bayi terbentengi oleh suara kalimat tauhid. Ditambah kalimat “Qad qaamatis shalah” pada saat iqamah yang mengisyaratkan bahwa terdapat penegasan tentang penghambaan diri manusia kepada Allah dan sebagai sarana berkomunikasi antara manusia dengan Allah melalui penegakan shalat.

Dengan demikian, pelantunan adzan dan iqamah bertujuan tidak lain sebagai sarana doa serta seruan kepada bayi agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.

2. Tahnik dan Brokohan Untuk Bayi

Tahnik artinya suapan pertama dari makanan yang diberikan pada bayi yang baru lahir. Pada umumnya, makanan yang akan ditahnik terlebih dahulu dilumat atau dihaluskan, kemudian diberikan kepada sang bayi sambil menggosok-gosokkannya kelangit-langit mulut. Terkadang makanan yang akan diberikan juga diberi madu dengan maksud sebagai pelatihan bagi sang bayi untuk dapat makan, memberikan rangsangan terhadap makanan dan minuman, dan menjaga kondisi fisik dan kesehatan bayi agar tahan terhadap serangan penyakit.

Brokohan artinya meminta doa dan keberkahan. Maksudnya ialah serangkaian acara –mulai dari pelaksanaan adzan dan iqamah di telinga bayi, memohon doa kepada para ulama dan masyarakat bagi keselamatan si jabang bayi hingga memberi nama– dalam rangka memperingati kelahiran bayi dalam wujud selamatan atau kenduri.

Pelaksanaan brokohan sudah menjadi tradisi  yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara dan sebagian masyarakat muslim Indonesia, sebab asal-usul tradisi ini sebenarnya meniru kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. 1400 tahun yang lalu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Dari Aisyah r.a. berkata: Asma’ binti Abu Bakar telah keluar sewaktu hijrah. Padahal pada waktu itu ia sedang berat mengandung bayi Abdullah bin Zubair. Pada saat ia melewati dan sampai di Quba’, ia melahirkan Abdullah.  Setelah lahir, ia keluar menemui Rasulullah saw. supaya beliau meletakkan sesuatu pada langit-langit mulut anaknya. Lalu Rasulullah saw. mengambil anak tersebut darinya dan meletakkannya ke pangkuannya, kemudian beliau meminta buah kurma. Aisyah berkata, “Kami harus mencarinya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada beliau”. Beliau meludahkannya ke dalam mulut anak tersebut sehingga yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludahnya Rasulullah saw. Selanjutnya Asma’ berkata, kemudian Rasulullah saw. mengusap kepala anak tersebut sembari mendoakannya dan menamainya dengan nama Abdullah. Kemudian apabila anak itu berumur tujuh ata delapan tahun, ia datang dan berbai’at kepada Rasulullah saw., karena ayahnya, Zubair, memerintahkannya berbuat demikian. Rasulullah saw. tersenyum ketika melihat anak itu menghadapnya, kemudian ia berbai’at kepada beliau. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 1257).

Dalam hadits lain juga diceritakan:

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw, katanya: Rasulullah saw. selalu diserahkan beberapa orang bayi supaya didoakan dengan keberkatan serta mentahnik mereka. Sebaik sahaja beliau diserahkan seorang bayi, bayi tersebut kencing diatas beliau. Beliau meminta sedikit air kemudian mencurahkannya di atas kencing tersebut tanpa membasuhnya. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 158).

Jadi tidak benar apabila tradisi ini disebut-sebut sebagai bid’ah yang dilarang dalam Islam hanya karena sebab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sehingga munculnya tradisi ini –walaupun secara penyebutan istilah berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh beliau, tetapi intinya sama saja – tetap bersumber dari sunnah Rasulullah saw.

3. Ritual Barakahan

Sebagaimana acara “brokohan” di atas, setiap bayi yang baru lahir kemudian oleh Rasulullah saw. didoakan. Doa merupakan salah satu komponen paling penting dalam Islam dan sebagai perisai orang-orang mukmin. Tak terkecuali bagi sang bayi, sangat dianjurkan untuk didoakan agar ia memperoleh kebaikan dalam beragama Islam dan kebahagiaan di dunia maupun akhiratnya. isteri Rasulullah saw, Aisyah r.a. menuturkan:

“Setiap bayi yang dihadapkan kepada Rasulullah saw., maka beliau mendoakannya, menyuapinya dengan kurma yang sudah dikunyah, dan mendoakannya dengan keberkahan” (HR. Abu Daud).

Pelaksanaan doa dalam acara barakahan di antaranya: Ayat Kursi 7 kali, Surat Alam Nasyrah 3 kali, Surat al-Qadr 7 kali, Surat al-Ikhlas 7 kali, Surat al-Falaq, Surat an-Naas dan Surat  al-fatihah masing-masing satu kali, dan dilanjutkan dengan doa:

“Dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bayi beserta keturunannya terhindar dari godaan syetan yang terkutuk” (QS. Ali-Imran: 36).

Sedangkan para tetangga dan kerabat dekat dianjurkan untuk menjenguk saudaranya yang sedang dikaruniai anak. Hal ini dimaksudkan untuk mendoakan anak tersebut supaya menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tua.

4. Mengebumikan Ari-Ari

Mengebumikan ari-ari dalam istilah lain ialah mengubur tali pusar yang sewaktu masih berada di dalam kandungan ibunya menjadi bagian dari tubuh sang bayi. Dalam tradisi Islam, semua yang termasuk bagian dari tubuh manusia dianjurkan dikubur atau dikebumikan, seperti kuku, rambut dan bagian-bagian tubuh yang lain akibat pembunuhan atau kematian seseorang yang tidak lazim. Termasuk tali pusar (ari-ari), darah dan semua yang menyertai kelahiran bayi ini tetap disyariatkan untuk dikubur.

Tradisi mengebumikan ari-ari ini sudah cukup populer dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu yang hingga saat inipun masih tetap dilestarikan. Merujuk pada ketentuan syariat, masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa tradisi seperti ini menjadi suatu hal yang sangat utama, ari-ari beserta “batir”nya supaya dikebumikan layaknya orang yang sudah mati. Sebab, mengubur anggota badan atau semua yang termasuk di dalamnya adalah anjuran yang sangat ditekankan demi menghormati (memuliakan) pemiliknya.

Semua anggota-anggota tubuh manusia, sebagaimana di atas adalah organ-organ vital ketika sang bayi berada dalam kehidupan di alam kandungan. Namun atas qudrah dan sunnatullah, di saat sang bayi berpindah dari alam kandungan menuju alam dunia, organ-organ ini akan tidak berfungsi dan mengalami kematian dengan sendirinya. Sehingga organ-organ tersebut ketika masih berada di dalam kandungan ibunya juga memiliki nyawa selama mendampingi anaknya hingga melahirkan. Maka dari itu, wajar bila masyarakat memperlakukannya sebagaimana manusia, yakni dengan mengebumikan atau menguburnya.

Adapun pelaksanaannya ialah seperti proses pemakaman, namun dalam pengebumian ari-ari ini, ditambah dengan pemberian kunyit, bunga, dan lainnya. Terkadang ditambah pula dengan pemasangan lampu, lilin dan dimasukkan ke dalam “takir”. Akan tetapi penambahan ini dianggap sangat berlebihan dikarenakan tidak adanya kejelasan akan maksud dan tujuannya secara syar’i, sehingga dipandang haram hukumnya dalam norma agama.

5. Tradisi “Njagong” Bayi dan Sepasaran

Sebagaimana syukuran dan barakahan di atas, tradisi “njagong” atau majelis dzikir bagi kelahiran sang bayi juga ditradisikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Para tetangga dan sanak saudara diundang untuk datang ke tempat orang yang baru melahirkan dalam rangka membaca doa dan dzikir. Acara ini ditujukan sebagai rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan atas kelahiran si jabang bayi selaku calon generasi penerus bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Kata “njagong” ini berasal dari bahasa jawa yang berarti duduk-duduk bercengkerama bersama sambil menikmati hidangan. Para undangan datang dalam rangka turut berbahagia atas kelahiran sang buah hati dari orang yang mempunyai hajat. Tuan rumah juga ikut njagongi (menemani ngobrol) para undangannya sambil makan bersama, yang makanan yang disuguhkan tersebut dimaksudkan sebagai sedekah.

Dalam pelaksanaan njagong ini, para undangan beserta tuan rumah diminta untuk membacakan kitab-kitab Maulid Nabi Muhammad saw, seperti al-Barzanji (berzanjian), shalawat Burdah Syaikh al-Bushairi (burdahan), dan kitab maulid ad-Diba’i (diba’an), terkadang pula dibacakan kitab manaqib. Pembacaan beberapa kitab-kitab tersebut dimaksudkan untuk memohon keberkahan kepada Allah melalui kemuliaan Rasul-Nya sehingga semua yang dihajatkan mendapat ridha dari Allah swt. Tradisi ini berlangsung lima hari hingga pada puncak acaranya ialah pada hari kelima, yakni diadakan tradisi “sepasaran”.

6. Pelaksanaan Aqiqah

Setelah upacara sepasaran dilangsungkan, kemudian pada hari ketujuh dilanjutkan dengan acara penyembelihan kambing, mencukur rambut bayi dan memberi nama. Dalam Islam, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan aqiqah. Para tamu dan tetangga diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan maksud yang sama dengan acara sepesaran di atas, yakni mendoakan agar supaya sang bayi yang akan diaqiqahi menjadi insan yang senantiasa taat kepada perintah Allah, menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tuanya serta berguna bagi masyarakat.

Pelaksanaannya pun hampir sama dengan sepasaran. Dengan melalui pendekatan syariat, para tamu diundang dan diminta untuk membaca kitab Maulid Nabi Muhammad saw dan kitab manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kenduri, seperti membaca tahlil dan ditutup dengan doa. Setelah selesai, para undangan disuguhkan dengan makanan yang menu utamanya ialah berupa daging sembelihan hewan aqiqah.

7. Menindik Telinga Bagi Anak Perempuan

Khusus anak perempuan, pada saat pelaksanaan aqiqah biasanya disertai dengan tradisi melubangi daun telinga yang nantinya dimaksudkan untuk tempat dipasangnya anting-anting atau tindik. Tradisi ini memang belum ada pada zaman Rasulullah dengan tidak adanya pernyataan langsung dari beliau tentang hal ini. Sehingga tradisi menindik telinga anak perempuan dihukumi boleh (mubah) asal diniatkan untuk tempat perhiasan semata. Namun untuk anak laki-laki hukumnya makruh, bahkan haram apabila akan menyerupai wanita.

Tradisi menindik ini sebenarnya sudah ditradisikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. Ceritanya ialah suatu ketika Nabi Ibrahim diusir oleh keluarganya karena menyebarkan agama Tauhid. Kemudian dia lari ke utara (ke arah Haran). Di sanapun juga dimusuhi masyarakat sehingga ia pindah ke Kana’an (Palestina Selatan). Namun karena suatu sebab, ia dan isterinya pindah kembali ke Mesir. Ternyata disana terdapat seorang Raja yang justru menginginkan isterinya, yang tak lain bernama Sarah. Kemudian Ibrahim mencari akal agar istrinya supaya tidak jadi diperistri oleh Raja tersebut, yaitu dengan cara melubangi daun telinga milik Sarah. Menurut masyarakat Mesir pada masa lalu, wanita yang diketahui telinganya lubang dikategorikan sebagai orang yang cacat, yang menandakan bahwa ia adalah seorang budak. Dengan demikian, sang Raja mengurungkan niatnya untuk memperisteri Sarah.

Setelah tidak jadi memperistri Sarah, sang raja malah menghadiahkan seorang wanita dari keturunan Habsyi kepada Ibrahim. Wanita tersebut tak lain adalah Hajar, ibunda Ismail. Beberapa saat kemudian, Sarah kaget dan marah-marah ketika melihat daun telinganya berlubang. Maka dari itu, Ibrahim menutupi daun telinga istrinya dengan emas agar ia lebih kelihatan cantik. Nah, dari kisah inilah kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat setempat, tak terkecuali oleh masyarakat Jawa.

Tidak hanya menindik daun telinga perempuan, khitan bagi anak laki-laki juga merupakan tradisi dari Nabi Ibrahim as. yang sampai saat ini tetap dilaksanakan. Begitupun budaya memakai sarung, yang akar sejarahnya juga berasal dari bapaknya Ismail as. Ini. Singkat cerita, saat Nabi Ibrahim as. berkhitan pada umur 97 tahun, beliau menggunakan kain penutup yang lebar sejenis sarung. Maka dari itulah, nabi kita tercinta Rasulullah saw.membiarkan kebiasaan tersebut agar tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as. Begitu pula agama Islam yang sudah dirintis sebelumnya oleh Nabi Ibrahim as. dalam bingkai agama Tauhid.

Allah swt. berfirman:

Katakanlah: “Benarkah (apa yang telah difirmankan) Allah?” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukankah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95).

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah millah Ibrahim seorang yang hanif”. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. An-Nahl: 123).

Demikianlah rincian mengenai tradisi tentang kelahiran, semoga menjadi wawasan bagi kita selaku umat Islam serta penerus tradisi para pendahulu kita.

Dikutip: Berbagai sumber

Tradisi Jawa Tentang Kematian

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Jawa pada umumnya masih berpegang teguh dalam melestarikan tradisi kebudayaan nenek moyangnya. Mayoritas masyarakat Jawa juga masih mempercayai eksistensi ruh seseorang yang telah berpisah dari raganya sebagai penghormatan terakhir padanya. Berikut beberapa tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Jawa umumnya berkenaan tentang peristiwa kematian seseorang, antara lain:

Brobosan

Yakni suatu upacara yang diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal. Waktunya pun dilaksanakan ketika jenazah akan diberangkatkan ke peristirahatan terakhir (dimakamkan) dan dipimpin oleh salah satu anggota keluarga yang paling tua. Tata cara pelaksanaannya antara lain: 1) Keranda/peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah doa jenazah selesai; 2) Secara berturutan, para ahli waris yang ditinggal (mulai anak laki-laki tertua hingga cucu perempuan) berjalan melewati keranda yang berada di atasnya (mbrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam; 3) Secara urutan, yang pertama kali mbrobosi keranda adalah anak laki-laki tertua dan keluarga inti, selanjutnya disusul oleh anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.

Upacara ini dilakukan untuk menghormati, menjunjung tinggi, dan mengenang jasa-jasa almarhum semasa hidupnya dan memendam hal-hal yang kurang baik dari almarhum. Dalam istilah jawanya disebut “Mikul dhuwur mendhem jero”.

Surtanah

Kata “surtanah” berasal dari ungkapan “ngesur tanah” yang bermakna membuat pekuburan. Istilah ini dilakukan dengan membuat sajian saat almarhum baru saja dimakamkan.

Tigang dinten

Yaitu semacam kenduri/slametan yang dilakukan pada hari ketiga dari kematian almarhum.

Pitung dinten

Sama halnya dengan kenduri tigang dinten, yakni dilakukan pada hari ketujuh dari kematian almarhum.

Petang puluh dinten

Yakni kenduri pada hari keempat puluh dari kematian almarhum.

Nyatus dinten

Yakni kenduri pada hari keseratus dari kematian almarhum.

Mendhak

Yakni kenduri yang dilakukan setelah satu tahun (pendhak siji) dan dua tahun (pendhak pindho) dari kematian almarhum.

Nyewu

Yakni kenduri pada hari keseribu dari kematian almarhum.

Kol (kirim-kirim)

Sebagaimana kenduri yang dilakukan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu dari kematian almarhum, namun diselenggarakan setelah kenduri keseribu dan dilakukan pada waktu bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya.

Adapun syarat sajian yang mesti disiapkan dalam acara kematian, merujuk pada adat yang telah ditradisikan Keraton Yogya, antara lain:

Surtanah

Sajian yang harus disiapkan antara lain nasi gurih (sekul uduk), ingkung (ayam yang dimasak utuh), urap (daun sayuran rebus dengan kelengkapannya), cabe merah utuh, bawang merah yang sudah dikupas kulitnya, kedelai hitam, krupuk rambak, garam yang sudah dihaluskan, bunga kenanga, dan tumpeng yang sudah dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng ungkur-ungkuran). Maknanya ialah bahwa orang mati itu telah terpisah antara ruh dan jasadnya, sehingga upacara ini dimaksudkan untuk mendoakan almarhum yang telah berpindah dari alam dunia ke alam kubur.

Tigang dinten

Sajian yang dipersiapkan antara lain: 1) Takir pontang berisi nasi putih dan nasi kuning yang dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang sudah dipotong, bawang merah yang sudah diiris, garam yang sudah dihaluskan, kue apem putih, uang, dan gantal dua buah; 2) Nasi asahan tiga tampah, daging sapi yang sudah dimasak, lauk-pauk yang kering, sambal santan, sayur menir dan jenang merah; 3) Dan makanan yang disukai almarhum juga dibuat dan diletakkan di samping kuburannya selama tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari setelah kematiannya.

Pitung dinten

Sajian yang dipersiapkan antara lain: 1) Takir berisi kue apem, uang logam, ketan dan kolak; 2) Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang yang  diikat kecil-kecil, daging jerohan yang ditaruh di dalam conthong (wadah berbentuk kerucut), dan pindang putih.

Petang puluh dinten Nyatus dinten

Sajian yang dihidangkan sama dengan sajian ketika tujuh hari, kemudian ditambah nasi uduk, ingkung, kedelai hitam, cabe merah utuh, kerupuk kulit rambak, bawang merah yang sudah dikupas kulitnya, garam dan bunga kenanga.

Pendhak siji lan pendhak pindho

Sama halnya dengan sajian yang dihidangkan pada saat hari keempat puluh dan keseratus.

Nyewu

Sama halnya dengan sajian yang dihidangkan pada saat mendhak. Lalu ditambah: 1) daging kambing/domba yang dimasak becek. Sehari sebelum disembelih, kambing/domba tersebut disiram dengan bunga setaman, dicuci bulunya dan diselimuti dengan kain mori selebar satu tangan, diberi kalungan bunga dan diberi makan daun sirih. Keesokan harinya, domba tersebut ditidurkan di tanah dan diikat talinya, badan domba digambar dengan ujung pisau, kemudian disembelih dan dimasak becek; 2) sepasang burung merpati yang dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung tersebut dilepas dan diterbangkan. Hal ini dimaksudkan agar arwah orang yang meninggal diberi tunggangan agar cepat kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci, bersih dan tanpa beban sedikitpun; 3) Sesaji yang terdiri atas tikar bangka, benang lawe sebanyak empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua, cermin/kaca, kapun, kemenyan, pisang raja dan gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dan perlenglapannya untuk nginang, dan bunga boreh. Semua perlengkapan ini ditaruh di atas tampah dan diletakkan di tangah-tengah orang yang berkenduri untuk melakukan doa.

Kol (kirim-kirim)

Kol atau ngekoli dilakukan dengan cara kenduri dengan bahan-bahan yang dipersiapkan: apem, kolak, ketan yang semuanya ditaruh di dalam takir, pisang raja setangkep, uang dan dupa.

Semua rangkaian upacara dan persiapan sesajen diatas kemudian oleh wali songo di-islamisasi-kan dengan ditambah doa-doa mayit, yasinan, fida’an, tahlilan yang dilakukan pada waktu-waktu itu. Walaupun tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang ini terlihat sangat kental dengan aura mistik yang sangat mendekati kemusyrikan dan kejahiliyyahan, namun oleh gagasan kreatif wali songo, tradisi tersebut dimodifikasi kembali hingga sesuai dengan ajaran Islam. Pelaksanaan kenduri lebih ditekankan pada pembacaan doa yang ditujukan kepada almarhum, sedangkan sesaji nantinya dimaksudkan untuk bersedekah. Sehingga tradisi tahlilan dan semacamnya ini bertujuan untuk bahan pembelajaran masyarakat (piwulang) yang lebih baik dan lebih Islami, dan bukan untuk tujuan nihayah (meratapi si mayit).

Selain itu, acara semacam ini dimaksudkan sebagai sarana dakwah yang mampu melebur dengan budaya setempat dan menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat lokal bahwa kematian bukan merupakan sesuatu yang harus ditakuti dan dikeramatkan, melainkan sebagai proses penyadaran akan beratnya proses kematian yang dialami seseorang sehingga timbul rasa bakti dan hormat kepada orang tua yang dapat dimplementasikan dalam wujud doa.