KENAKALAN ANAK CERMINAN KENAKALAN ORANG TUA

Masa muda dan remaja menurut Zakiah Daradjat merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa-masa ini ditandai dengan dengan adanya goncangan dan kegelisahan. Tanda-tanda ini mengisyaratkan bahwa ia telah merasa dewasa dan mampu melakukan sesuatunya dengan baik sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua. Ia merasa telah mampu berpikir dengan baik dan mandiri tanpa bantuan orang lain.

Kasus baru-baru ini, kurang lebih 2-3 tahun yang lalu, tayangan televisi dihebohkan dengan hadirnya kerusuhan yang diakibatkan oleh geng motor di Jawa Barat. Tidak hanya itu, hampir  setiap tempat di Indonesia terjaring kasus kerusuhan dan tawuran antar para pelajar, baik SMP dan SMA. Melihat fenomena tersebut, banyak pengamat menyatakan bahwa usia muda dan remaja adalah masa mencari jati diri dan identitas diri. Banyak juga orang yang memiliki perspektif bahwa usia muda sering dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, hura-hura, dan membuat aksi-aksi yang berpotensi dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Namun yang menjadi permasalahan, apakah setiap yang dialami oleh para remaja dan kaum muda semata-mata karena faktor dari dalam diri dan lingkungan? Faktor internal sudah memang merupakan bawaan fitrah dari dalam dirinya, sebab masa-masa ini merupakan masa peralihan dan pencarian identitas diri. Faktor eksternal, seperti faktor keadaan lingkungan dan teman sebaya juga sangat potensial menyebabkan kondisi jiwa anak terguncang dan lebih tendensius ke arah kondisi tersebut. Namun, apakah tidak ada upaya untuk membentengi dan mengantisipasi keadaan yang kurang stabil dari anak tersebut? Salah satunya yang memiliki peran ini adalah keluarga (orang tua). Apabila orang tua anak tersebut mampu mengontrol perilaku keseharian sang buah hatinya dengan penanaman norma-norma, pendidikan karakter dan agama, maka dapat diprediksi anak tersebut akan mampu mengendalikan diri dari pengaruh luar. Tetapi di sisi lain, kelakuan atau kurang berperannya orang tua juga berpotensi meningkatkan tingkat kekacauan kejiwaan sang anak.

1. Kelalaian orang tua pada tugasnya mengawasi sang anak.

Seorang anak, dalam fase pertumbuhannya sangat membutuhkan bimbingan dan bantuan orang lain, terutama orang yang lebih tua. Tanpa itu semua, sang anak akan beranggapan bahwa semua hal-hal yang ia lakukan itu benar, namun keliru. Mereka belum mampu mengatur perasaan dirinya dan orang lain. Inilah yang dalam ilmu psikologis disebut dengan sifat egosentris anak. Maka, disinilah peran penting orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya ke arah budi pekerti yang baik.

Kerusakan moral anak remaja, baik kasus tawuran antar pelajar dan geng motor, tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak institusi pendidikan, terlebih para pendidik. Seakan-akan mereka memikul tanggung jawab anak lebih dari yang lain. Namun sebenarnya, yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak adalah seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua dari anak itu sendiri. Saat ini, orang tua terlalu disibukkan oleh urusan dunia, materi dan bisnis sehingga melupakan tugas pokok mendidik anaknya. Banyak seorang anak yang kehilangan kasih sayang dari orang tuanya sehingga perkembangan anak tersebut menjadi tidak terkendali, melampiaskan keguncangan psikisnya kepada hal-hal yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain disekitarnya.

Orang tua seperti itu biasanya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawabnya kepada orang lain. Bila orang tuanya tergolong orang yang secara finansial sangat mampu dan kaya, maka tugasnya diserahkan sepenuhnya oleh baby sister atau pembantu rumah tangga. Mereka diberi amanah mengganti peran orang tua sehingga tiap bulannya dibayar dan digaji. Maka akibatnya ialah orang tua dari anak tersebut lalai dan mangkir dari tugasnya mendidik anak lantaran kesibukan ekonomi mereka masing-masing.

Perkembangan zaman seperti saat ini membuat banyak masyarakat berpikiran serba modern, dan bergaya hidup layaknya kehidupan orang elite. Kebanyakan seorang perempuan merasa malu disebut ibu rumah tangga agar disebut-sebut sebagai orang gaul. Padahal istilah “gaul” bisa bermakna positif atau juga bermakna negatif. Bila orang tua gaul dimaksudkan sebagai orang tua yang lebih mementingkan bekerja dan membanting tulang dari pada mengurus anaknya sendiri, maka istilah gaul ini patut dipertanyakan, jangan-jangan ini bermakna negatif, merusak norma yang tengah berlaku di masyarakat dan sebagainya. Maka kemungkinan akibat yang akan timbul adalah mereka jarang bahkan tidak pernah melihat perkembangan putra-putrinya selama diasuh oleh orang lain, baik fisik, psikis maupun emosinya.

Untuk itu, masa-masa awal perkembangan anak adalah masa-masa yang paling penting dalam kehidupan sang anak. Sebab masa depan anak sangat bergantung pada masa-masa kecilnya dulu. Bila di masa kecilnya kurang diperhatikan oleh orang tuanya, maka dapat dipastikan kehidupan masa depannya akan suram. Anak merupakan generasi penerus cita-cita keluarga dan masyarakat. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh generasi penerus kita, mau dibawa kemanakah masa depan bangsa ini akan dipertaruhkan. Jika anak-anak sudah berani melanggar norma dan etika yang tengah berlaku karena alasan orang tuanya mangkir dari tanggung jawabnya, dapat dibayangkan bagaimana kondisi mereka di masa depan.

2. Kenakalan orang tua meningkatkan emosional anak.

Orang tua bisa juga bertingkah laku layaknya seorang anak muda. Sebab sebagaimana potongan syair lagu yang dilantunkan oleh Rhoma Irama “masa muda masa yang berapi-api”. Karakter anak muda sangat berpotensi untuk mengubah sejarah, bisa mengarah kepada kebaikan atau mungkin juga dapat mengarah kepada kehancuran. Orang tua merupakan sumber inspirasi bagi anaknya, karena anak memandang orang tua sebagai sosok yang layak dan harus ditiru. Apabila orang tua memberi contoh yang kurang baik kepada anaknya, maka lama-kelamaan anak tersebut meniru dan mencontoh perilaku orang tuanya tersebut. Proses meniru dan mencontoh yang dilakukan sang anak tersebut sedikit demi sedikit tertanam dalam ingatannya sehingga akan membentuk karakter yang sama identik dengan orang tuanya. Bila suatu saat anak tersebut ditanya seseorang, “Mengapa kamu lakukan itu?”. Maka dengan relaks anak tersebut menjawab, “Lha wong bapak saya aja kesehariannya seperti ini, saya ya tinggal ikut aja”. Apakah pernyataan seperti itukah yang diharapkan?

Fenomena kekerasan yang dialami oleh kaum muda, seperti tawuran atau geng motor adalah satu contoh bukti orang tua tidak mempersiapkan generasi muda dengan baik. Karakter yang ditanam dalam jiwa anak semacam itu memang sudah disetting sedemikian rupa oleh keadaan eksternal dari anak tersebut. Kepribadian orang tua adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap masa depan buah hatinya. Akibat kelalaian orang tua sedikit saja, anak bisa tergelincir kepada hal-hal yang negatif. Apalagi orang tua yang tidak menunjukkan sikap kedewasannya kepada anak, sebagaimana istilah yang lazim diketahui orang jawa “wong tuwo kelakuane koyok gaplek pringkilan”.

Maka dari itu, guna mengantisipasi peluang kenakalan orang tua, perlu adanya penataan kembali sikap dan kepribadian dewasa bagi orang tua. Sudah saatnya orang tua bertegur sapa dan bercanda sembari mendidik anaknya hingga memberikan pengertian tanpa harus menggurui. Dengan sentuhan hangat anak-anak lama-kelamaan akan mengerti dengan sendirinya tentang identitas yang dibangun melalui sikap dan pola didik dari bapak ibunya.

3. Tindak kekerasan orang tua terhadap anak.

Tindak kekerasan dalam bentuk apapun, tidak pantas ditunjukkan kepada anaknya sendiri. Kekerasan semacam ini sudah saatnya dihindari oleh masing-masing orang tua. Sebab, tindak kekerasan hanya akan menimbulkan kebencian antara orang tua dan anak. Dampak dari tindak kekerasan ini sebagian besar akan terlihat ketika sang anak sudah menginjak dewasa. Kemungkinan besar efek yang timbul dari sifat sang anak akibat didikan keras orang tuanya bisa jauh lebih besar dari apa yang dialami semasa kecilnya. Malah anak tersebut dapat melakukan hal-hal yang lebih meresahkan.

Oleh sebab itu, kesadaran orang tua untuk meluangkan waktu mendidik dan membimbing anaknya dengan penuh kasih sayang akan mampu mengarahkan generasi muda menjadi insan mandiri dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s