Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun

a.  1.      Mengenal Sosok Ibnu Khaldun

Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan adalah nama lengkap dari sosok yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Beliau hidup dan berkembang dalam sebuah keluarga asli arab dari Qabilah Yamani yang menekuni ilmu dan politik. Pendidikan yang pertama yang beliau pelajari pada masa kecilnya adalah mempelajari dasar-dasar ilmu bahasa arab tentang pemahaman dasar-dasar Al-Qur’an, beliau belajar ini kepada gurunya yang bernama Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Said Al-Anshary.

Hampir sepanjang hidupnya, beliau didedikasikan untuk menekuni ilmu pengetahuan. Tidak sedikit guru-guru yang telah beliau timba ilmunya, antara lain Syaikh Abu Abdillah bin Al Araby Al-Hashoyiry, Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syawas Az-Zarzaly, Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Qashar dan Abu Abdillah Muhammad bin Bahr mereka semua merupakan guru yang mengajarkan bahasa Arab. Tidak heran jika Ibnu Khaldun termasuk pemikir yang mudah diterima hasil-hasil pemikirannya karena kepiawaian beliau dalam menggunakan bahasa. Bukan bahasa Arab saja yang beliau tekuni, melainkan ilmu-ilmu yang lainnya juga. Hal ini beliau perdalam ketika beliau menginjak dewasa, beliau mulai mendalami kesusastraan, gramatika, ilmu hadits, imu tafsir,ushul fiqh dan fiqh yang bermadzhab Maliki. Ibnu kholdun juga mempelajari filsafat, logika.

Ini menunjukkan keseriusan beliau dalam menekuni ilmu pengetahuan, jadi tidak hanya asal-asalan saja dan tidak merasa cukup dalam berguru kepada satu atau dua guru saja. Sealin itu, beliau juga mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya agar beliau bersungguh-sungguh dalam menekuni ilmu Pengetahuan.

Selama 40 tahun, Ibnu Khaldun hidup di Spanyol dan Afrika Utara. Di sini ia senantiasa dihadapkan pada situasi pergolakan politik dan memegang beberapa jabatan penting di bawah para penguasa yang silih berganti. Sekembalinya ia ke Afrika Utara Khaldun memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun 1832 M, ia kemudian pergi ke Iskandariyah. Akan tetapi dalam perjalannya, ia terlebih dahulu singgah di  Mesir. Karena popularitas dan kredebilitasnya sebagai seorang ilmuan, maka atas permintaan raja dan rakyat Mesir, ia ditawari menduduki jabatan guru dan ketua Mahkamah Agung Dinasti Mamluk. Dari tahun 1832 M hingga wafatnya, Ibn Khaldun memegang jabatan sebagai guru besar dan rektor di Madrasah Qamliyah serta Ketua Hakim Agung (mufti) di Mesir selama 6 periode. Di sinilah ia memanfaaatkan sisa usianya untuk mengembangkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan yang selama ini ditinggalkannya.

Ketenaran Khaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari karya momumentalnya, al-Muqoddimah. Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang berjudul Kitab  al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asarahun min Dzami as-Sulthan al-Akbar. Beliau membagi muqaddimah tersebut menjadi bagian yang membahas tentang ilmu sejarah, yang terdiri dari 6 pasal yakni:

–          Pasal pertama : tentang kehidupan manusia menurut jumlah, dan jenis-jenis serta penyebarannya di bumi

–          Pasal kedua    : tentang kehidupan orang Baduwi dan kabilah-kabilahnya beserta bangsa-bangsa primtif

–          Pasal ketiga    : tentang negara, kerajaan, dan disebutkan pula tentang tingkat-tingkat kekuasaannya

–          Pasal keempat   : tentang kehidupan peradaban, kota-kota dan tempat-tempat tinggal

–          Pasal kelima   : tentang pekerjaan, penghidupan, beserta hasil-hasil karya

–          Pasal keenam   : tentang ilmu pengetahuan dan cara-cara memperolehnya

2.      Gambaran Umum Model Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun

Pendidikan dalam pandangan Ibnu Khaldun merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia. Artinya, pendidikan dalam hal ini harus mampu mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman agar eksistensi manusia dalam masyarakat tetap bertahan. Maka dalam hal ini, berarti Ibnu Kholdun telah memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia. Pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal pendidikan ia tuangkan dalam karya monumentalnya yang dikenal dengan sebutan Muqaddimah. Sebagai seorang filsuf muslim pemikirannya memanglah sangat rasional dan berpegang teguh pada logika. Corak ini menjadi pijakan dasar baginya dalam membangun konsep-konsep pendidikan. Adapun tujuan pendidikan menurut beliau adalah:

a. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktifitas penting dari terbukanya pikiran dan kematangan  individu, yang pada gilirannya kematangan individu ini bermanfaat bagi masyarakat.

b. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebaga alat yang membantu manusia agardapat hidup dengan baik, dalam rangka terwujudnya masyarakat yang maju dan berbudaya.

c. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.

Selain konsep mengenai pengertian dan tujuan pendidikan, Ibnu kholdun juga mengemukakan konsep pendidikannya dalam komponen pendidikan, diantaranya:

a. Pendidik

Pendidik dalam pandangan Ibnu Khaldun haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik, karena pendidik selain sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya. Dalam hal ini, keteladanan guru yang merupakan keniscayaan dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Kholdun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, pengajaran atau perintah-perintah.

b. Peserta Didik

Ada dua konsep atau cara pandang Ibnu Kholdun terhadap peserta didik. Yang pertama, Ibnu Kholdun memandang peserta didik sebagai subjek didik, bukan objek didik, yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Peserta didik yang merupakan subjek didik dituntut kreativitasannya agar dapat mengemangkan diri dan potensinya. Adapun dalam posisinya sebagai wildan (memerlukan guru), Ibnu Kholdun memandang peserta didik sebagai seorang anak manusia yang memerlukan bantuan orang lain agar terbimbing kearah kedewasaan. Dalam konteks inilah, Ibnu Kholdun memandang peserta didik sebagai objek didik yang memerlukan guru sebagai subjek belajar.

c. Kurikulum dan Materi

Konsep kurikulum pendidikan menurut Ibnu Khaldun, meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair). Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).

Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menjadi dua macam yaitu ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah: bersumber dari al-Qur’an dan Hadits) Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab, dan ilmu tasawuf. Yang kedua yaitu ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah: Ilmu yang bersifat alami bagi manusia, yang diperoleh melalui kemampuannya untuk berfikir) sepertti Ilmu logika, Ilmu fisika, Ilmu metafisika dan Ilmu matematika.

d. Metode Pengajaran

Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran yaitu di dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik. Setelah itu pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci. Pada langkah selanjutnya, pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna. Itulah metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses belajar mengajar.

Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir lebih inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar. Dalam pandangan Ibnu Khaldun prinsip dari belajar bukanlah penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya. Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik.

Demikianlah terlihat betapa besarnya  Ibnu Khaldun memberikan perhatiannya di bidang pendidikan. Dan jika diperhatikan dengan seksama secara umum Ibnu Khaldun menekankan pada proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Adapun beberapa prinsip dasar yang senantiasa harus diperhatikan oleh para pendidik yang akan dianalisa secara rinci pada point berikutnya.

3.      Analisis Model Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun

Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui gambaran umum mengenai model pendidikan menurut Ibnu Khaldun, mulai dari pengertian pendidikan, tujuan pendidikan sampai dengan pandangan umum Ibnu khaldun terhadap komponen pendidikan. Dan dalam point ini, akan dijelaskan secara rinci bagaimana pandangan ataupun konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun yang akan kami titik beratkan bagaimana metode pengajaran atau prinsip-prinsip pengajaran yang diterapkan oleh Ibnu Kholdun dalam pendidikan.

Sebelum melakukan analisis lebih lanjut mengenai konsep pendidikan menurut Ibnu Kholdun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu mengenai prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai sesuatu hal yang mendasar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

a.      Adanya pengulangan dan penahapan (Tadarruj Wat Tikraari), Ibnu Khaldun dalam mengajar anak didiknya didasarkan atas pandangan bahwa tahap permulaan pengetahuan adalah bersifat total,kemudian secara bertahap, baru secara terperinci, sehingga anak dapat menerima dan memahami permasalahan pada tiap bagian dari ilmu yang diajarkan, lalu guru mendekatkan ilmu itu pada pikirannya dengan penjelasan dan uraian-uraian sesuai dengan penjelasan dan uraian sesuai dengan tingkat kemampuannya.

b.      Tidak membebani pikiran siswa. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa, pemikiran manusia berkembang secara bertahap (berproses). Dan hal ini juga yang akan mempengaruhinya dalam hal ilmu pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya selalu mempersiapkan cara yang akan dilakukan dan dikembangakan dalam proses pemberian ilmu pengetahuan secara bertahap. Terutama ketika seorang guru berusaha memberikan materi baru yang tentunya akan memberikan beban terhadap siswa dalam proses penerimaan materi baru. Seorang guru juga harus menjelaskan tujuan dan target yang ingin dicapai secara bertap. Jika tidak memperhatikan hal tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai akan selalu berjalan ditempat.

c.       Tidak mencampur adukan Dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu. Ibnu Khaldun beralasan bahwa ketika seorang guru mencampurkan dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu maka hal itu akan memecah konsentrasi pikiran dan melepaskan ilmu yang lainnya untuk memahami problematika yang lain. Hal ini menurut beliau mengakibatkan kerugian dan kesulitan. Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa ketika suatu ilmu telah selesai, maka sebenarnya ilmu itulah yang akan menjadi pembuka ilmu yang selanjutnya.

d.      Sering mengulang dan mempelajari kembali materi-materi yang telah diberikan. Dalam prinsipnya, Ibnu Khaldun menjelaskan agar seorang guru juga memperhatikan terhadap proses pendidikan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa. Pendidikan terhadap potensi terhadap individu menuntut agar siswa memenuhi kebutuhannya. Hal itu tentu saja memerlukan proses waktu, dan waktu berperan secara negative terhadap memori seseorang. Jika seorang siswa tidak senantiasa mengulang kembali materi-materi yang telah diajarkan, maka hal ini akan mendatangkan sifat lupa dan sulit untuk membentuk potensi. Namun, apabila sejak awal proses belajar seorang siswa dengan sentiasa mengulang kembali materi yang ia dapatkan dan mempunyai usaha yang kuat untuk menghilangkan sifat lupa, tentu saja hal ini akan memudahkan siswa tersebut untuk mendapatkan hasil yang kuat dan mendekatkan pada sebuah bentuk potensi diri. Adapun potensi diri pada individu akan terbentuk melalui proses perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus dan dengan melakukan pengulangan.

e.       Tidak bersikap keras terhadap siswa. Ibnu Khaldun selalu menganjurkan agar bersikap kasih sayang dan lemah lembut terhadap anak, karena beliau berpendapat jika anak diperlakukan secara keras maka akan menjadi sempit hatinya, dan hilang kecerdasannya, bahkan cenderung malas. Sejalan dengan wasiat yang diberikan olehAl-Rasyid bahwa hukuman sebagai alat mendidik yang penting, akan tetapi janganlah dilakukan oleh guru kecuali dalam keadaan terpaksa karena tak ada jalan lain (semua cara lembut tidak berhasil).

f.        Widya-Wisata merupakan alat untuk mendapatkan pengalaman yang langsung, Ibnu Khaldun mendorong agar melakukan peerlawatan (rihlah) menuntut ilmu karena murut beliau dengan menggunakan cara ini maka murid-murid akan mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan yang banyak melalui observasi langsung. Dan hal itu juga akan membantu dalam memperjelas pemahaman terhadap pengetahuan lewat pengamatan indrawinya. Perlu kita ketahui bahwa dalam masa beliau menuntut ilmu itu ada dua macam, yaitu dengan mendengarkan guru yang membacakan kitabnya kemudian diambil istinbathnya dan yang kedua dengan jalan mendatangi ulama-ulama (langsung kepada sumbernya). Yang kedua inilah yang disukai Ibnu Khaldun karena bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan langsung dari sumbernya.

Dengan tetap memperhatikan beberapa point diatas, maka kita dapat mengetahui bahwa Ibnu Kholdun dalam konsep pendidikannya lebih banyak menitik beratkan pada peran guru dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa hal pertama yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik adalah kondisi kejiwaan anak, yang terpenting adalah pendidik harus mengetahui tingkat kemampuan (akal) dan kematangan peserta didik, karena seperti yang kita ketahui bahwa Ibnu Khaldun menghendaki penerapan metode pendidikan bertahap sesuai dengan perkembangan kerja akal dengan alasan bahwa seorang anak itu berkembang setingkat demi setingkat dalam seluruh aspek-aspek jasmaniyah maupun aqliyah secara menyeluruh.

Pada tahap permulaan, pendidik tidak diperkenankan memberikan materi yang sukar dipelajari karena pada awal belajar pastilah peserta didik masih nampak lemah dalam menerima maupun memahami pengetahuan yang diajarkan kepadanya. Dan beliau juga menuturkan bahwa kemampuan dan kesanggupan peserta didik dalam memahami sesuatu itu bersifat bertahap, sedikit demi sedikit (tadarruj). Oleh karena itu, tahap yang disebut Ibnu Khaldun sebagai taraf wildan ini, sangatlah membutuhkan peran guru untuk membantu mempermudah belajarnya yaitu bisa dengan cara menggunakan alat-alat peraga yang sederhana, ataupun dengan tidak mencampur adukkan ilmu pengetahuan satu dengan ilmu pengetahuan lain (tidak mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan sekaligus), selain itu Ibnu Kholdun juga tidak membenakan menggunakan metode hafalan karena dapat menghambat pemahaman nantinya.

Pada taraf wildan ini, Ibnu Kholdun juga menganjurkan agar ta’lim diberikan secara al-qurb wa al-mulayanah (kasih sayang dan kelembutan) dan menolak metode al-syiddah wa al-ghizhah (kekerasan dan kekasaran). Ibnu Khaldun berkata “Hukuman keras berupa tindakan fisik di dalam ta’lim itu berbahaya bagi muta’allim, terutama bagi ashaghir al-walad (anak-anak kecil)” Alasan yang beliau kemukakan adalah mendidik dengan kekerasan akan membawa dampak buruk bagi peserta didik, mereka akan merasa sempit hati, kurang aktif bekerja dan cenderung berdusta dalam melakukan perbuatan karena takut akan kekejaman. Ini juga akan merusak kemanusiaan yang ada pada dirinya.

Meskipun Ibnu Kholdun menerapkan metode al-qurb wa al-mulayanah dalam peserta didik yang bertaraf wildan, beliau tetap berusaha untuk bersikap moderat, yaitu tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut. Karena memang jika diterapkan sebaliknya yaitu sikap yang terlalu lembut maka akan menjadikan mereka bersikap malas, santai bahkan cenderung meremehkan. Jadi sebisa mungkin tetap memperbaiki dengan kasih sayang, baru ketika cara itu gagal kekerasan sekali waktu juga merupakan alternatif supaya anak patuh.

Pada perkembangan selanjutnya, peserta didik akan memasuki tahap yang dinamakan Ibnu Khaldun sebagai taraf belajar (muta’allim). Disinilah muta’allim dituntut untuk mulai mengembangkan potensi yang telah diberikan oleh Allah sebagai potensi fitrah yang dibawa sejak lahir. Karena sebagaimana disebutkan pada Bab sebelumnya bahwa Ibnu kholdun tidak hanya memandang peserta didik sebagai objek didik (wildan) yang membutuhkan pendampingan dalam kegiatan belajarnnya, akan tetapi peserta didik juga akan berperan sebagai subjek didik ketika telah menjadi muta’allim, dimana peserta didik tersebut akan dituntut kekreativitasannya agar dapat mengembangkan diri dan potensinya dengan baik.

Jadi, dengan kata lain dapat dkatakan bahwa dalam taraf muta’allim ini peserta didik harus aktif. Ibnu Khaldun mencela pendidik yang masih menggunakan metode verbalistis dan metode mendengar karena metode tersebut sulit menimbulkan kesan pada fikiran peserta didik. bagaimana yang kita tahu, bahwa Ibnu kholdun menghendaki pemahaman dalam setiap kegiatan pendidikan, oleh karena itu untuk merealisasikan hal tersebut, maka beliua menghmbau kepada pendidik untuk memenggunakan metode ilmiah yang modern sebagaimana dewasa ini yaitu dengan berdiskusi dan pengkajian mengenai problematika yang ada. Dengan demikian, kelancara berbicara dalam diskusi maupun pembahasan mengenai problematika ilmiyah akan mempermudah kemampuan memahami suatu ilmu.

Adanya perbedaan istlah yang digunakan Ibnu Kholdun dalam merujuk pengertian peserta didik diatas, sebenarnya menandai adanya perkembangan belajar pada manusia. Pada tahap awal, peserta didik adalah wildan yang memerlukan guru. Ini berlaku pada jenjang pendidikan tingkat dasar. Pada tahap berikutnya, peserta didik adalah muta’allim yang dituntut mandiri dalam mengembangkan potensinya. Dan konsep ini berlaku pada jenjang pendidikan tingkat tinggi karena pada tahap ini peserta didik sudah dapat berfikir rasional dan logis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s