PSM dan Kisah Pahit Di Era 1940an

Pondok PSM, sesungguhnya memiliki kisah masa lalu yang sungguh miris dan memilukan hati. Bagaimana tidak, di kala itu ketika PSM dipimpin oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien terjadilah peristiwa besar yang hingga sekatang tercatat sebagai peristiwa paling bersejarah di era pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Awal mula pemberontakan PKI ini dilancarkan di daerah Madiun pada tahun 1948, yang ketika itu dipimpin oleh Muso dan Amir  Syafrudin. Banyak tokoh-tokoh agama yang ikut menjadi korban keganasan dan kebiadaban PKI ini. Tak terkecuali PSM, mereka sangat berduka karena kehilangan satu sosok sesepuh PSM yang paling dihormati oleh warganya, yaitu Kyai Imam Mursyid Muttaqien.

PKI dengan ideologi sosialis-komunisnya sebenarnya sudah lama menanam rasa kebencian yang mendalam kepada Islam pada umumnya, dan kepada para ulama dan kyai pada khususnya. Sebab, mereka itulah yang oleh PKI tergolong sebagai kelompok yang berusaha menghalangi misi mereka dalam menyebarkan paham komunisme di Indonesia. Islam sangat membenci komunisme yang bersikap atheis dan tak adanya peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Bagi mereka, Tuhan adalah akal pikiran mereka, dan oleh sebab kemampuan berpikir merekalah yang menjadikan mereka berkuasa. Oleh karena itu, umat Islam berupaya keras untuk membendung aksi komunis yang dilancarkan oleh partai ini karena khawatir aqidah yang ditanam oleh umat muslim di Indonesia ternodai oleh model pemikiran komunisme yang anti tuhan.

Pada awalnya, pondok PSM menjadi target pengepungan basis PKI. Menurut beberapa cerita yang diungkapkan narasumber, dikisahkan bahwa suatu ketika, pesantren mendapat sebuah kabar tentang munculnya paham komunisme yang tengah menyebar di Indonesia. Kemudian santri PSM langsung was-was dan siap siaga untuk menghadapi kemungkinan yang akan timbul. Kebetulan saja, basis pertama pemberontakan PKI berada di Madiun pada tahun 1948. Sehingga para warga PSM mengambil inisiatif untuk mengadakan penjagaan rutin (ronda bersama) siang dan malam dengan membentuk pagar betis di setiap sudut pondok.

Selanjutnya, dengan segera pondok mendapat informasi bahwa PKI sudah menguasai hampir seluruh wilayah di Madiun dan Magetan. Sedangkan PSM sendiri berada dalam situasi yang sangat genting dan tidak menentu, karena massa PKI sudah mengepung PSM dari penjuru sektor. Sektor timur berada di desa Sawojajar dan Tawangrejo, sektor utara berada di desa Waduk, sektor barat berada di Goranggareng, dan sektor selatan berada di desa Kenongomulyo. Hal ini bermula pada kecurigaan para santri terhadap seseorang yang melewati gerbang depan PSM sebagai penjual minyak tanah (mohon maaf, bagi pembaca yang lebih tahu kronologis peristiwa ini, disarankan untuk diklarifikasi kembali karena data yang diperoleh penulis belum valid, -pen). Kebetulan santri tersebut ketika itu sedang berjaga-jaga, yang pada akhirnya orang tersebut terindikasi sebagai mata-mata PKI.

Lebih lanjut pula, PSM yang kala itu masih berada pada masa pembaharuan dan modernisasi yang diprakarsai oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien, menjadi target sasaran pemberontakan PKI ini. Kyai Imam Mursyid selaku pemimpin dan mursyid PSM turut menjadi korban keganasan PKI. Alkisah, pada hari jumat 18 september 1948, beliau didatangi oleh para tokoh PKI. Mereka sengaja berkunjung ke PSM untuk mengajak Kyai Imam Mursyid agar ikut bermusyawarah dalam rangka pembentukan Republik Soviet Indonesia. Kedatangan mereka disambut rasa cemas dan khawatir oleh masing-masing santrinya. Entah karena apa, Kyai Imam Mursyid menyetujui dan bersedia ikut rombongan PKI.

Namun tak disangka sama sekali, kepergian beliau merupakan kepergian untuk selama-lamanya dan tak akan pernah kembali. Apa yang dikhawatirkan santrinya benar-benar terbukti. Hingga saat ini, jenazah beliau tidak pernah ditemukan, walaupun menurut beberapa informasi bahwa para korban PKI teridentifikasi dibuang di beberapa sumur, seperti sumur yang terletak di desa Soco Kecamatan Bendo misalnya. Setelah diupayakan sepenuhnya oleh tim pencari korban kebiadaban PKI dengan membongkar sumur di desa Soco tersebut, namun jenazah Kyai Imam Mursyid tetap tidak kunjung ditemukan. Dari daftar korban yang telah ditemukan, ternyata nama Kyai Imam Mursyid Muttaqien tidak tercantum. Hal inilah yang menyebabkan santri PSM hingga sekarang masih percaya bahwa beliau kemungkinan masih hidup, namun entah dimana keberadaannya.

Demikianlah kisah, semoga menjadi pelajaran kita semua selaku manusia yang lemah dan senantiasa mengharap sesuatu kepada Allah agar supaya diberi ketabahan dan jalan keluar. Amien.

2 thoughts on “PSM dan Kisah Pahit Di Era 1940an

  1. hamim rosyidi mengatakan:

    Smua mahluq fauna hanya Allah yg baqa. Rasul wafat’ imam mursyid menurut ukuran USIA org indonesiapun klau msh hudup with ITU skrg ya sdh wafat

    • Irfan Yudhistira mengatakan:

      Wallaahu a’lamu bishawaab. kita smua mnanggap Kyai Imam Mursyid Muttaqien telah tiada, telah syahid di jalan Allah walaupun be2rapa dr kita ada yg menanggap bliau msh hidup. Kita semuanya serahkan sama Allah dan ambil hikmah dr ini smua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s