Memahami Pendidikan Islam

1.  Definisi Pendidikan Islam

Dalam segi definisi, para tokoh dan pakar pendidikan Islam banyak berbeda pendapat dalam mengartikan pendidikan Islam. Perbedaannya tak lain hanya terletak pada paradigma atau sudut pandang. Di antara para pakar tersebut ada yang mengartikan pendidikan melalui istilah bahasa, ada yang melalui hakekat manusia dan kehidupan, dan ada pula yang melihat dari proses kegiatan yang dilakukan dalam penayelenggaaraan pendidikan.

Salah satu pakar pendidikan Syed Muhammad al-Naquib al Attas misalnya, ia mendefinisikan pengertian pendidikan Islam dengan membandingkan peristilahan “Tarbiyah”, “Ta’lim”, dan “Ta’dib”.

Menurutnya, istilah tarbiyah diambil dari kata “rabbaa” ( رَباَّ ) yang berarti: memberi makan, memelihara, dan mengasuh. Istilah tarbiyah juga diambil dari kata “ghadza” (غَذَا) atau “ghadzaw” (غَذَو) yang berarti “mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Penerapan bahasa arab tidak hanya terbatas pada manusia saja, namun medan-medan semantiknya meluas kepada spesies-spesiaes lain, seperti: unatuk mineral, tanaman, dan hewan.

Di dalm al-Quran di sebutkan:

dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa’: 24 )

Istilah “rabbayani” di situ mempunyai arti “rahman”, yakni ampunan atau kasih sayang, pakaian dan tempat berteduh, serta perwaatakan. Pendeknya, pemeliharaan yang diberikan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya.

Tarbiyah (masdar dari “rabbaituhu”: رَبَّيتُهُ) sama dengan rahmah atau ampunan. Dengan demikian, pengertian utama,”ar-rabb” adalah “at-tarbiyah” yang bermakna: membawa sesuatu kepada keadaan kelengkapan secara berangsur”, sebagai tindakan, ”rahmah” dan bukan melibatkan pengetahuan.

Dari sini menunjukan secara sederhana, bahwa “tarbiyah” berarti “membesarkan”, tanpa meski mencangkup penanaman pengetahuan dalam proses itu.

Istilah “Ta’lim” berasal dari kata “allama” berarti “mengajar” (pengajaran), yaitu transfer ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan hanya merupakan sebagian saja dari unsur yang hendak di transformasikan dalam pendidikan Islam.

Dalam konteks lain istilah “Ta’lim” masih terbatas pada ”Pengenalan”, belum sampai pada “Pengakuan” sebagaimana telah menjadi unsure dasar konsep pendidikan Islam. Pengakuan disini sebagai pengikraran penerimaan atau “mewujudkan sehingga benar ada” dalam diri seseorang tentang apa yang dikenali.

Jadi, pengertian “Ta’lim” adalah hanaya berupa pertukaran informasi, tidak sampai kedalam atakaran mendidik.

Sedangkan istilah “Ta’dib” berasal dari kata “addaba”, yaitu disiplin tubuh, jiwa dan roh. Disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniyah, intelektual, dan rohaniah. Pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hiararkhis sesuai dengan berbagai tingkat (maradib) dan derajatnya. Dalam definisi ini terkandung “ilmu” dan “amal”, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

“Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik”.

Dengan demikian, istilah “Ta’dib” lebih tepat untuk dipakai dalam pengertian pendidikan dari pada “Ta’lim” atau  “ Tarbiyah ” yang dipakai sampai saat sekarang. Hal ini dikemukakan oleh Syed Muhammad al-Naquib al-Attas sebagai berikut:

Bahwa tarbiyah -dalam pengertian aslinya dan dalam penerapan dan pemahamanya oleh orang Islam pada masa-masa yang lebih dini- tidak dimaksudkan untuk menunjukan pendidikan maupun proses pendidikan. Penonjolan kualitatif pada konsep tarbiyah adalah kasih saying (rahmah) dan bukannya pengetahuan (‘ilm). Sementara dalam Ta’lim pengetajhauan lebih di tonjolkan dari pada kasih sayang. Dalam konseptualnya Ta’dib sudah menacangkup unsure-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan yang baik. Karenanya, tidak perlu lagi untuk mengacu kepada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim dan ta’dib sekaligus. Karena itu ta’dib merupakan istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukan pendidikan dalam arti Islam.

Dengan dipakainya ta’dib dalam pendidikan Islam, mak menurutnya, yang dimaksud pendidikan Islam adalah:

Pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang secara beransur-ansur  ditanamkan kedalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan  sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing kea rah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.

Imam Bawani dan Isa Ansori menjelaskan bahwa pengertian disini menekankan pada proses pendidikan, beruapa transformasi ilmu pengetahuan dan nilai kepada peserta didik secara berangsur-ansur, yang diharapkan bisa diakatualisasikan melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari; yaitu kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan, sehubungan dengan diri, keluarga, kelompok, komunitas, dan masyarakatnya, serta kepada disiplin pribadinya. Hal ini berarti, mereka harus mengetahui posisinya di dalam tatanan kemanusiaan dan bertindak sesuai dengan pengetahuan yang positif dan terpuji, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT di dalam kitab suci-Nya.

Namun, berbeda dengan Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Abdul Fatah Jalal dalam memberikan pengertian pendidikan Islam mengatakan bahwa kata-kata “tarbiyah” tidak tepat untuk diterapkan, karena sempit jangkauannya dan terlalu khusus sifatnya. Menurutnya, lebih tepat mempergunakan istilah “Ta’lim” saja. sebagaimana ia katakan:

… Islam memandang proses ta’lim lebih universal dibandingkan dengan proses tarbiyah. Sebab ketika mengajarkan tilawati Qur’an kepada kaum muslimin, Raasulullah atidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca saja, melainkan “membaca dengan perenungan” yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah. Dari “ membaca” semacam ini, Rasul membawa mereka kepada tazkiah (pensucian), yaitu pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri itu berada dalam satu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-Hikmah, serta mempelajari segala apa yang bermamfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. Al-Hikmah tidak dapat dipelajari secara parsial aatau secara sederhana, melainkan mencangkup keseluruhan ilmu secara integrative. Kata Hikmah baerakar dari kata al-Ihkam, yang berarti kesungguhan di dalam ilmu, amal, perkataan, atau di dalam semua itu. … Yang dimaksud tarbiyah ialah proses persiaapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau menurut istilah yang kita gunakan dewasa ini adalah pada fase bayi dan kanak-kanak. Penggunaan kata tarbiyah pada surat al-Isra’: 24 menunjukan, bahwa pendidikan pada fase ini menjadi tanggung jawab keluarga.

Abdul Fatah Jalal memang tidak sependapat dengan penggunaan kata-kata “tarbiyah” dalam pendidikan Islam, karena apabila kata-kata tersebut diterapkan di dalam pendidikan Islam, maka berarti pendidikan Islam itu hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan biologis dan moral, tanpa memberikan “ilmu” dalam pengertian yang lebih luas. Padahal Ilmu sangat dibutuhkan oleh manusia dalam merealisasikan fungsi-fungsi kehidupannya sebagai makhluk individu, social dan hamba Allah SWT. kegiatan Tarbiyah merupakan sebagian saja dari kegiatan pendidikan Islam.

Namun lebih jauh lagi, Syahminan Zaini memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai pengembangan fitrah manusia atas dasar ajaran-ajaran Islam. Dengan dikembangkannya fiatrah tersebut, diharapkan manusia dapat hidup secara sempuarna dari lahir dan batinnya, sebagai mana ia ungkapkan:

“Pendidikan  Islam  ialah: Usaha mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran Islam, agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia”

2. Paradigma Pendidikan Islam

            Paradigma adalah sebuah sistem berfikir  yang paling mendasar bagi sebuah tatanan kehidupan bagaikan inti dari sebuah barang, akar dari sebuah pohon, dan pondasi bagi sebuah bangunan, jadi sungguh sangat menentukan, bahkan ia merupakan pusat dari daya hidup sistem yang terlahir darinya. Maka, tak aka nada pohon tanpa akar, tak aka nada bangunan tanpa adanya pondasi, dan tidak ada sistem termasuk sistem pendidikan tanpa adanya paradigma

Berkenaan dengan itu Muhammad Ismail Yusanto dan kawan-kawannya menjelaskan bahwa pendidikan Islam lahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia, sebelum dunia dan kehidupan setelahnya serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya, dan pendidikan Islam sendiri terbangun dari paradigma Islam, mustahil membangun paradigma pendidikan Islam tanpa memperhatikan paradigma Islam terutama menyangkut hakiakat hidup manusia sebagai kholifatullaoh yang harus memakmurkan bumi dengan taat dan melaksanakan segala hukum-hukumNya tanpa terkecuali.

3. Asas Pendidikan Islam

Menurut Muhammad Ismail Yusanto, asas pendidikan Islam adalah aqidah Islam, asas ini berpengaruh pada penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi diantara semua komponen pendidikan.

Mereka, juga menjelaskan bahwa penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari aqidah Islam. Karena Islam tidak memerintahkan demikian, lagi pula hal itu tidak sesuai dengan kenyataan. Karena memang atidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari aqidah Islam. Yang dimaksud menjadikan aqidah Islam  sebagai asas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah dengan menjadikan aqidah Islam sebagai standart penilaian. Dengan Istilah lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur perbuatan. Sebagai cotohnya ilmu pengetahuan yang bertolak belakang dengan aqidah Islam dan dilarang kaum muslimin untuk mengajarkan ataupun mengadopsi adalah teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera.

4. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi yang menjadi target dari proses-proses pendidikan termasuk penyampaian ilmu pengetahuan yang dilakukan. Tujuan pendidikan menjadi panduan bagi seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan. Dalam hal ini Muhammad Ismail Yusanto dan kawan-kawannya menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai.

  1. Membentuk kepribadian Islam

Tujuan yang pertama ini, hakikatnya merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim, yakni bahwa seorang muslim harus memegang identitas kemuslimannya yang tampak pada aqliyah dan nafsiyahnya, yang senantiasa di dasarkan pada ajaran Islam.

pada prinsipnya ada tiga lanagkah metode pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam. Pertama, menanamkan aqidah Islam dengan metode yang menggunakan akal, menggetarkan jiwa dan menyentuh perasaan. Kedua, mendorong untuk senantiasa menegakan cara berfikir dan bertingkah laku sesuai dengan aqidah dan syariat Islam yang telah menghujam dengan kuat dalam hatinya.

Dan, siapakah yang lebih baik perkataannya, dari pada orang yang menyeru pada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin”. (QS. Al-Fushilat; 33)

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sehingga dia menjadikan hawa nafsunya mengikuati apa-apa (dinul Islam) yang kubawa. (Hadits Arba’in an-Nawawiyyah)

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku menjadi akalnya yang ia berfikir dengannya (Hadits Qudsi)

  1. Menguasai Tsaqafah Islam

Tujuan kedua ini sebenarnya juga merupakan tujuan lanjutan atas keislaman seseorang. Islam mendorong seseorang untuk menuntut ilmu. Adapun Imam al-Ghazali menerangkan bahwa ada ilmu yang wajib untuk dipelajari dan hukumnya adalah fardhu ‘ain misalnya ilmu-ilmu tsaqafah Islam, seperti pemikiran, ide dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah Nabawiyyah, al-Qur’an, al-Hadits dan sebagainnya. Dan yang kedua yaitu ilmu yang hukumnya adalah fardhu kifayyah, yaitu ilmu yang wajib unatuk dipelajari segolongan atau beberapa kaum muslimin saja, ilmu ini berkaitan dengan ilmu-ilmu kehidupan seperti matematika, kimia, fisika, kedokteran, teknik, pertanian dan sebagainya.

Berkaitan dengan Tsaqafah Islam, khususnya bahasa Arab, Rasulullah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar untuk pendidikan dan urusan penting lainnya, seperti bahasa diplomatic dan pergaulan anatar bangsa. Oleh karenanya orang muslim sekalipun bukan bangsa Arab wajib untuk mempelajarinya. Imam Syafi,I mengatakan: “ Allah SWT mewajibkan seluruh umat untuk mempelajari lisan arab dengan tekun dan sungguh-sungguh agar dapat memahami kandungan al-Qur’an dan untuk beribadah”.

  1. Menguasai Ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian)

Menguasai ilmu kehidupan (iptek) diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan misi sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Islam menetapkan penguasaan ilmu kehidupan sebagai fardlu khifayah.

Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan  akal pikiran manusia dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. Sebagai contohnya Rasulullah pernah mengutus dua orang sahabatnya untuk ke negeri Yaman mempelajari teknik pembuatan senjata yang mutakhir untuk ukuran pada waktu itu, yang bernama dabbabah, sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda yang dapat menerjang benteng lawan.

Penguasaan sains teknologi dan keahlian yang serba material ini juga merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam rangka pelaksanaan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.

“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qashash: 77)

dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. al-Anfal: 60)

“dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s