Hukum Bercanda Dengan Lawan Jenis

Canda (gurauan/guyon) dalam bahasa Arab disebut muzah atau mumazahah. Al-Jailany dalam Syarah kitab Al-Adabul Mufrad karya Al-Bukhari, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hal. 116). Hukumnya menurut Ibnu Hajar Al-Haitsami adalah mustahab (sunnah) karena dicontohkan Rasulullah SAW (ibid. hal 120). Tapi yang lebih tepat adalah pendapat An-Nawawi, yaitu hukumnya mubah (An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 279). Dalil kemubahannya antara lain hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah bercanda dengan kami.” Rasulullah SAW menjawab,”Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar (haq).” (HR. Tirmidzi, Al-Adzkar, hal. 279)
Jadi, bercanda itu pada asalnya adalah mubah. Tentu saja, seperti kata Rasul SAW, candanya haruslah benar. Karena itu para ulama selanjutnya memberikan rambu-rambu untuk membedakan canda yang benar (mubah) dan canda yang haram, yaitu yang melanggar syariah. Al-Jailani menjelaskan, canda adalah sesuatu yang dianjurkan kepada saudara, kawan, atau rekan, selagi tidak ada kata-kata yang menyinggung perasaan, tidak menyakiti, tidak ada dampak buruknya, tidak menuduh, tidak meng-ghibah (menggunjing), dan tidak merendahkan martabat orang lain (ibid. hal. 116).
Itu hukum canda secara umum. Lalu, bolehkah bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah), sepanjang dilakukan sesuai koridor aturan syariah. Dalilnya, karena Rasulullah SAW pernah bercanda dengan seorang wanita tua kalangan Anshar yang bertanya,”Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku ke dalam surga!” Rasulullah berkata,”Hai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki wanita tua.” Seketika wanita itu berpaling sambil menangis. Lalu Rasullah SAW bersabda kepada orang-orang,”Beritahukan kepadanya, bahwa dia tidak masuk surga dalam keadaan tua renta, karena Allah berfirman (artinya),”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah : 35-37)(HR Tirmidzi, dari Aisyah RA. Hadits hasan). Wanita tua itu lalu tertawa riang mendengar senda gurau Rasulullah tersebut (Nasy’at Al-Masri, Senyum-Senyum Rasulullah, hal. 65-66). Rasulullah SAW juga pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik. Rasul berkata kepada gadis yatim itu,”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda.” Ummu Sulaim lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak akan muda selama-lamanya.” (HR Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA) (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hal. 134)            
Jadi, bercanda dengan lawan jenis non mahram, juga mubah berdasarkan dalil-dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kirim SMS.
Tetapi, meski hukumnya mubah, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya : 
Pertama, materi canda tidak melanggar syariah. Misalnya : (1) tidak mengolok-olok/mempermainkan ajaran Islam, (2)  tidak menyakiti perasaan, (3) tidak mengandung dusta, ghibah (gunjingan), atau kecabulan (porno), (4) tidak melampaui batas syariah, yaitu tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak mengantarkan kepada yang haram (Al-‘Abdul Al-‘Ali, Pemuda dan Canda, hal. 36-44). 
Kedua, pihak wanita tidak boleh bersuara manja, merayu, mendesah dan semisalnya (jika di dunia nyata), atau tidak boleh menggunakan kalimat/ungkapan yang menggoda, genit, merangsang, dan semisalnya (jika di dunia maya atau SMS) (lihat QS Al-Ahzab : 32). 
Ketiga, pihak wanita wajib menutup aurat (jika di dunia nyata), yaitu mengenakan kerudung (QS An-Nuur : 31) dan jilbab, yakni baju longgar yang menutupi seluruh tubuh wanita (QS Al-Ahzab : 59). 
Keempat, pihak wanita dan pria tidak boleh berkhalwat (jika di dunia nyata), yaitu tidak boleh bertemu secara menyendiri atau bersepi-sepi.
Kelima, pihak wanita dan pria wajib menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) jika berinteraksi di dunia nyata (QS An-Nuur : 31)
Keenam, jika di dunia nyata dan dalam kehidupan umum (seperti kampus), interaksi yang ada dilaksanakan karena mengerjakan suatu aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti aktivitas jual-beli dan belajar-mengajar) dan memang mengharuskan pertemuan (ijtima’) antara pria dan wanita. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 40). Maka, kalau tidak mengharuskan pertemuan alias bisa dikerjakan masing-masing, tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh pula ada canda di antara kedua lawan jenis. Misalnya, aktivitas makan-makan bersama di kantin/kafe, atau jalan-jalan bersama di mall, pulang kampung bersama, kongkow-kongkow bersama di taman kampus, rekreasi bersama di pantai, dan sebagainya. Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama-sama oleh wanita dan pria, karena aktivitas tersebut dapat dikerjakan sendiri-sendiri oleh masing-masing tanpa mengharuskan terjadinya pertemuan pria dan wanita. Walhasil, dalam keadaan demikian, tidak dibenarkan pula adanya canda di antara lawan jenis. 
Ketujuh, jika di dunia nyata dan dalam kehidupan khusus (seperti rumah/kos), interaksi yang ada wajib berupa suatu aktivitas yang dibolehkan oleh syara’ (seperti karena silaturahmi antar kerabat dan undangan makan/walimahan), dan bagi pihak wanita wajib disertai mahramnya dan menutupi auratnya. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 37). Maka, jika aktivitasnya tidak dibolehkan syara’, seperti mahasiswa yang ngapelin mahasiswi sambil ngobrol ngalor ngidul di kos-kosan, dan/atau pihak wanita tidak disertai mahramnya dan tidak menutup auratnya, berarti tidak boleh ada interaksi di antara kedua lawan jenis itu. Selanjutnya, tidak boleh pula ada canda dan gurau di antara lawan jenis dalam kondisi yang demikian itu. Wallahu a’lam.
Yogyakarta, 8 September 2004
Penulis: Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s