Sistem Pendidikan Islam

1.  Tinjauan Umum Tentang Sistem 

1.1. Pengertian Sistem

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa berada dalam bingkai sistem di mana ia berada. Manusia tidak bisa menghindar dari sistem, karena sistem lahir dari komunitas makhluk dalam hubungannya dengan komunitas makhluk yang lainnya. Dalam lingkungan keluarga, ia berada dalam sistem keluarga, dalam kehidupan masyarakat ia berada dalam lingkungan sosial. Dalam kehidupan berbangsa ia berada dalam sistem nagara dimana ia tinggal. Dalam diri manusia, tubuh merupakan suatu sistem, bahkan pembelajaran juga sebagai suatu sistem, begitu pula dengan pendidikan adalah suatu sistem.

Istilah sistem merupakan suatu konsep yang abstrak. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam konteks pembelajaran, sistem dapat didefinisikan sebagai keseluruhan komponen terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan untuk bekerjasama mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, sistem mempunyai sejumlah komponen, setiap komponen mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi antar komponen yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan dan bekerjasama untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Semua sistem tersebut memiliki batasan tersendiri yang membedakan antara sistem yang satu dengan sistem yang lainnya, apabila di tinjauh dari unsur-unsur sistem yang menjadi input proses dan hasil yang dicapai. Akan tetapi ciri-ciri sistem memiliki kesamaan dalam bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan.

1.2. Sifat-sifat Sistem

a.  Terbuka vs Tertutup.

Terbuka berarti menerima informasi dari luar, tertutup berarti tak dapat menerima informasi dari luar.

b.  Sederhana vs Komplek.

Makna Sederhana adalah: a) Secara relatif hanya terdiri atas beberapa komponen, misalnya: amuba, sel-sel tubuh. (b) Hasil/produknya mungkin sederhana, misal hasilnya sama un¬tuk sepanjang waktu (hasil cetakan bata). Komplek (rumit); (a) Terdiri banyak komponen yang saling berinteraksi, misalnya pabrik televisi. (b) Keseluruhannya (totalitasnya) lebih daripada sekedar jumlah dari bagian-bagian. (c) Bagian-bagiannya tak bisa dipahami kalau berdiri terpisah satu sama lain. (d) Bagian-bagiannya saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.

1.3. Ciri-ciri Sistem

Adapun ciri-ciri sistem adalah memiliki tujuan fungsi masing-masing komponen, keterkaitan komponen yang satu dengan komponen yang lainnya dan keterpautan atau kerjasama, proses transformasi, umpan balik dan ada kawasan.

Suatu sistem sudah pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan menjadi pegangan kerja dan arah dari semua proses sistem kerena titik akhir produk yang dihasilkan dari kerja adalah tercapainya tujuan. Misalnya: tujuan pembelajaran adalah pelajar dapat bertingkah laku tertentu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Adanya tujuan yang hendak dicapai maka suatu sistem menuntut terlaksananya berbagai fungsi dari masing-masing komponen yang diperlukan untuk menunjang tercapainya tujuan secara maksimal. Dalam konteks pembelajaran, dituntut berfungsinya komponen pengembangan, penelitian, pelaksanaan pembelajaran dan sebagainya.

Supaya masing-masing komponen berfungsi dengan baik dalam mencapai tujuan pembelajaran maka dalam suatu sistem fungsi masing-masing komponen harus dilakukan tenaga yang berkompeten. Misalnya; fungsi pengembangan dilakukan oleh ahli desain pembelajaran, fungsi pelaksana dilakukan oleh guru, intruktur, dosen sesuai dengan bidangnya.

Keterpaduan dan kerjasama merupakan ciri sistem. Di mana bagian-bagian terorganisasi. Semua komponen terjalin secara padu sebagai suatu sistem yang bekerjasama untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Seperti hasil pembelajaran akan tercapai jika semua komponen pembelajaran bekerjasama secara utuh dan padu.  Kuutuhan ditunjukkan oleh kelengkapan unsur-unsur komponen yang harus ada dalam mempengrahui keberhasilan pembelajaran. Kepaduan ditunjukkan dengan adanya keterkaitan, kesesuaian, dan kerjasama antar komponen pembelajaran dalam mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran.

Pengertian dan ciri-ciri sistem atau pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisik (misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit dibanding analisis sistem fisis dan sistem biotis; sistem sosial pada umumnya dan khususnya sistem pendidikan bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistemnya (rentan terhadap pengaruh luar), misalnya: sistem sekolah mudah dipengaruhi oleh situasi masya­rakatnya (supra sistemnya). Karakter sistem pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang kritis (dalam mawas diri) dan kreatif (dalam mencari alternatif pengembangan yang positif) secara berkesinambungan.

Secara lebih rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem atau pendekatan sistem, adalah:

          1. Adanya tujuan

Setiap rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentu­kan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok ukur pemilihan kompo­nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng­arah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu sistem.

          2. Adanya komponen sistem (selain tujuan)

Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.

            3. Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem

Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang keseluruhan­nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia ber­jalan secara sehat dan semestinya.

Penyelenggaraan pengajaran di sekolah merupakan suatu sis­tem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi tertentu itu mesti menyumbang secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan dan semua fungsi tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran berlangsung secara efektif dan cfisien. Misalnya: fungsi komponen yang berstatus guru adalah pem­bimbing belajar siswa (pendorong motivasi belajar siswa, peng­arah, pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai nara sumber (fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil belajar siswa. Jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat membantu kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.

           4. Adanya interaksi antar komponen

Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kri­tis, dan koordinatif banyak membantu guru dalam mengem­bangkan kariernya. Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik.

Sedangkan menurut Darwyn Syah sistem memiliki ciri-ciri sistem adalah sebagai berikut:

  1. Adanya struktur tertentu (suatu gabungan, kombinasi atau kumpulan) unsur, elemen, komponen, bagian, hal yang disebut subsistem.
  2. Bagian- bagian atau unit-unit memiliki sistem masing-masing.
  3. Bagian atau unit yang ada memiliki hubungan satu sama lain.
  4. Rangkaian bagian atau unit tersebut merupakan kebulatan yang utuh dan bergerak kearah tujuan.

1.4. Manfaat Sistem

Pengetahuan tentang sistem sangat bermanfaat bagi kegiatan penyusunan perencanaan pembelajaran. Ely (1979) mengemukakan bahwa perencanaan merupakan suatu proses dan cara berfikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan.

Kegiatan perencanaan pembelajaran dilakukan melalui beberapa tahap, yang dimulai dari memilih suatu cara terbaik berdasarkan pertimbangan dan penilaian dengan memperhatikan faktor tujuan, karakteristik pelajar, dan pemanfaatan sumber-sumber belajar guna mencapai hasil yang maksimal. Dengan pendekatan sistem, penyusunan perencanaan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara menganalisis lebih dulu semua komponen yang mempengaruhi pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilakukan atau hasil yang ingin dicapai dapat direncanakan dengan baik, bukan berdasarkan spekulasi semata atau coba-coba.

Dengan demikian, manfaat yang diperoleh dari penyusunan perencanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem antara lain bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang kadang tidak disadari. Karena itu diperlukan: 1). Penyusunan perencanaan pembelajaran yang sistematis sebagai alat untuk menganalisis, mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang sesuai yang dibutuhkan. 2). Perencanaan yang sistematis mempunyai daya ramal dan daya kontrol yang baik sehingga hasil yang diinginkan dapat dicapai secara optimal.

2.  Pendekatan Sistem Pembelajaran

2.1.  Pengertian Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem adalah suatu proses kegiatan mengidentifikasi kebutuhan, memilih problem, mengidentifikasi syarat-syarat pemecahan problem, memilih alternatif pemecahan problem yang paling tepat, mengevaluasi hasil dan merevisi sebagian atau seluruh dalam memecahkan masalah secara lebih baik.

Pola pendekatan sistem pembelajaran, menurut Oemar Hamalik (2002: 9), melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan pendidikan (merumuskan masalah); (2) analisis kebutuhan untuk mentransfomasikan menjadi tujuan pembelajaran (analisis masalah); (3) merancang metode dan materi pembelajaran (pengembangan suatu pemecahan); (4) pelaksanaan pembelajaran (eksperimental); dan (5) menilai dan merevisi.

Dari uraian di atas, dapat penulis rumuskan bahwa untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien dibutuhkan pengelolaan komponen pembelajaran secara baik. Dalam pendekatan sistem bahwasanya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal harus didukung dengan komponen pembelajaran yang baik, yang meliputi tujuan, siswa, guru, metode, media, sarana, lingkungan pembelajaran dan evaluasi.

Masing-masing komponen memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Akan tetapi dari beberapa komponen-komponen tersebut guru merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran, karena guru bersifat dinamis, sehingga dapat mengelola dan menggerakkan komponen-komponen yang lain.

2.2. Model Pendekatan Sistem

Pada mulanya pendekatan sistem digunakan dalma bidang teknik yang pertama-tama dilaksanakan untuk mendisain sistem-sistem elektronik, mekanik, dan militer. Dalam hal ini pendekatan sistem dilibatkan dalam sistem-sistem manusia dengan mesin dan selanjutnya dilaksanakan pula dalma bidang keorgainisasian dan menajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960an.

Pendekatan sistem mulai dipergunankan dlam bidang latihan dan pendidikan (merumuskan  masalah), analisis kebutuhan dengan maksud menstransformasikannya menjadi tujuan-tujuan (analisis masalah), desain metode dan materi instruksional (pengembangan dan pemecahan), pelaksanaan secara eksperimental, dan akhirnya menilai dan merevisi.

2.3. Pendekatan Sistem Pengajaran

Pendekatan sistem mengandung dua aspek, aspek filososif dan aspek proses. Aspek filosofis adalah pendangan hidup yang mendasari sikap perancang sistem yang terarah pada kenyataan. Aspek proses adalah suatu proses dan suatu perangkat alat konseptual.

Gagasan inti filosofis ialah bahwa suatu sistem merupakan kumpulan dari sejumlah komponen yang berinteraksi dan saling bergantung satu sama lain. Untuk mengenal suatu sistem kita harus mengenal semua komponen yang beroperasi di dalamnya. Perubahan suatu sistem harus pula dilihat dari perubahan komponen-komponen tersebut. Kita tidak akan mungkin mengubah suatu sistem tanpa perubahan sistem secara menyeluruh.

Pendekatan sistem merupakan suatu perangakat alat atau teknik. Alat-alat itu berbentuk kemampuan dalam:

  1. Merumuskan tujuan-tujuan secara operasional
  2. Mengembangkan deskripsi tugas-tugas secara lengkap dan akurat
  3. Melaksanakan analisis tugas-tugas.

Alat-alat dan pendekatan rancangan sistem pengajaran menuntut para guru agar pengajaran agar menyediakan kondisi belajar bagi siswa. Jadi, prinsip-prinsip belajar merupakan petunjuk bagi guru dalam menata kondisi belajar yang efektif.

Ada dua ciri pendekatan sistem pengajaran yakni sebagai berikut:

  1. Pendekatan sistem merupakan suatu pendapat tertentu yang mengarah ke proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu penataan yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi satu sama lain untuk memberikan kemudahan bagi siswa belajar.
  2. Penggunaan metodologi khusus untuk mendisain sistem pengajaran. Metodologi khusus itu terdiri atas prosedur sistemik, perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penilaian keseluruhan dari proses belajar mengajar. Penerapan metodologi tersebut akan menghasilkan suatu sistem belajar yang memanfaatkan sumber manusiawi dan non manusiawi secara efisien dan efektif.

2.4. Aplikasi perencanaan pendekatan sistem

Perencanaan pembelajaran yang sistematis pada hakikatnya sama dengan proses pemecahan masalah secara umum (a general problem solving process). Untuk dapat membuat perencanaan pembelajaran yang sistematis diperlukan pola pemikiran sistematis yang biasanya dituangkan dalam bentuk model.

Salah satu contoh model perencanaan pembelajaran sistematis di kemukakan adalah sebagai berikut:

Dari model tersebut, langkah-langkah kerja suatu perencanaan yang sistematis dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah berdasarkan kebutuhan. Masalah adalah kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi riil dari kebutuhan yang diinginkan. Sebagai contoh, kondisi ideal untuk memudahkan belajar pelajar. Perlu menggunakan media yang cocok sesuai dengan karakteristik isi mata pelajaran. Akan tetapi, kondisi riilnya guru tidak tidak mampu menggunakan media yang cocok sesuai karakteristik isi mata pelajaran yang diajarkan. Maka timbul kesulitan dalam belajar pada pelajar karena ketidakmampuan guru dalam menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik isi mata pelajaran yang diajarkan.

3. Konsep Sistem Pengajaran

3.1. Pengertian Sistem Pengajaran

Gagne dan Atwi Suparman mengatakan bahwa sistem pengajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar. Proses belajar yang dilakukan siswa bisa digerakkan oleh guru yang dikenal dengan pengajaran, bisa juga dilakukan dengan sendiri oleh siswa dengan menggunakan sumber belajar.

Kegiatan pengajaran sebagai suatu sistem terdapat subsistem-subsistem sebagai berikut: siswa, guru, tujuan,  bahan pengajaran, tes, setrategi pengajaran dan evaluasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem pengajaran adalah suatu kombinasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan serta sebagai panduan dalam rangka perencanaan dan penyelenggaraan pengajaran.

3.2. Ciri-ciri Sistem Pengajaran

Berdasarkan rumusan di atas, ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pengajaran, ciri-ciri tersebut adalah:

1)      Rencana, penataan intensional orang, material, dan prosedur, yang merupakan unsur sistem pengajaran sesuai dengan suatu rencana khusus, sehingga tidak mengembang.

2)      Kesalingtergantungan (interpendent). Unsur-unsur suatu sistem merupakan bagian yang koheren dalam keseluruhan, masing-masing bagian bersifat esensial. Satu sama lain memberikan sumbangan tertentu.

3)      Tujuan, setiap sistem pengajaran memiliki tujuan tertentu, ciri itu menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dengan sistem-sistem alam.

Tujuan sistem pengajaran adalah siswa belajar dalam bentuk terjadinya perubahan tingkah laku baik aspek koknitif, afektif maupun psikomotorik. Karenanya perencanaan pengajaran harus dirancang oleh seorang perancang sistem pengajaran dengan tugas utama mengorganisasi sumber daya manusia, sumber daya material, dan prosedur pengajaran agar siswa melakukan kegiatan belajar secara efisien.

Unsur minimal yang harus ada dalam sistem pengajaran adalah suatu tujuan, seorang siswa serta suatu prosedur kerja untuk mencapai tujuan. Fungsi guru dalam suatu sistem pengajaran ialah sebagia disainer (perancang) sekaligus sebagai pelaksana pengajaran (unsur suatu sistem). Fungsi guru sebagai perancang sistem pengajaran adalah penyusun suatu sistem pengajaran. Sedangkan sebagai pelaksana sistem pengajaran guru melaksanakan kegiatan mengajar di kelas yang ditunjukan kepada siswa. Tugas sebagai pelaksana sistem pengajaran yang dilaksanakan oleh guru harus didukung oleh: kompetensi mengajar, sikap profesional , penguasahan materi pelajaran, menguasahi prinsip-prinsip dan teknik pengajaran serta keterampilan-keterampilan dasar mengajar lainnya.

3.3. Komponen-komponen Sistem Pengajaran

Secara sederhana komponen-komponen pengajaran telah diuraikan di atas. Namun demikian dari sudut pandang teknologi intruksional komponen sistem pengajaran diuraikan secara lebih luas sebagai berikut: 1). Spsifikasi isi pokok bahan 2). Spesifikasi tujuan pengajaran 3). Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa 4). Penentuan cara pendekatan, metode dan teknik mengajar 5). Pengelompokan siswa 6). Penyediaan waktu 7). Pengaturan ruangan 8). Pemilihan media 9). Evaluasi dan 10). Analisis  umpan balik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s