KANDUNGAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SERAT WEDHATAMA

Oleh: Muchson AR*

A.  Pendahuluan

Pendidikan saat ini hanya mengedepankan aspek keilmuan dan kecerdasan intelektual anak. Adapun pembentukan karakter dan budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Rapuhnya karakter dan budaya dalam kehidupan bangsa dapat membawa kemunduran dalam peradaban bangsa. Sebaliknya, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara. Persoalan itu mengemuka dalam Saresehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis 14 Januari 2010, yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.

Sebenarnya dalam Pasal 3  Undang-Undang  No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah dirumuskan : ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Akan tetapi dalam hal pembentukan watak (karakter), rumusan yang bersifat normatif tersebut tidak secara nyata diimplementasikan dalam kebijakan pendidikan maupun praktik persekolahan kita.

Berbagai kasus yang tidak sejalan dengan etika, moralitas, sopan santun atau peroilaku yang menunjukkan rendahnya karakter telah sedemikian marak dalam masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, perilaku itu tidak sedikit ditunjukkan oleh  orang-orang yang terdidik. Ini membuktikan bahwa pendidikan kurang berhasil dalam membentuk watak (karakter) yang terpuji. Dalam kondisi yang demikian, kiranya cukup relevan untuk diungkapkan kembali “paradigma lama” tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai. Warisan nilai-nilai budaya masa lalu itu tidak sedikit yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter.

Persoalan yang muncul dalam wacana pendidikan karakter menyangkut banyak hal, antara lain aspek substansi-materi dan aspek pedagogi. Dengan kata lain, menyangkut ”apa” yang diajarkan dan ”bagaimana” mengajarkannya. Beberapa tahun yang lalu pernah dikeluarkan kebijakan menteri tentang pendidikan budi pekerti, yang arahnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan karakter. Persoalan yang diramaikan saat itu justru tentang curriculum design, apakah dikembangkan berdasar konsep separated curriculum atau integrated curriculum. Maksudnya, apakah akan berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri (terpisah) atau akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang telah ada.

Substansi-materi pendidikan karakter yang utama pada dasarnya adalah nilai-nilai moral, baik yang bersifat universal maupun lokal kultural. Nilai-nilai moral itu dapat berasal dari ajaran agama, etika, adat istiadat, tradisi, dan ajaran-ajaran moral yang diwariskan melalui tradisi tutur maupun tertulis. Salah satu warisan naskah lama yang di dalamnya terkandung ajaran moral adalah Serat Wedhatama, buku kumpulan tembang karya KGPAA Mangkunegara IV (1811-1881, naik tahta 1853).

Isi buku Serat Wedhatama itu secara selintas cukup dikenal oleh berbagai kalangan, namun isi yang lebih dalam masih belum banyak diungkapkan. Pengungkapan isi yang lebih dalam itu antara lain tentang : profil buku Serat Wedhatama dan sosok pengarangnya; nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam buku Serat Wedhatama;  dan sebagainya. Kandungan nilai-nilai moral itu sangat relevan untuk diteliti dan diungkapkan kembali dalam kondisi moralitas yang carut marut seperti sekarang ini. Nilai-nilai moral dalam Serat Wedhatama itu dapat memberikan sumbangan dan menjadi tawaran alternatif bagi upaya perbaikan moralitas bangsa.

B.  Serat Wedhatama dan Sosok Pengarangnya

Secara harfiah, Serat Wedhatama berasal dari kata-kata: serat  yang berarti tulisan; wedha yang berarti ajaran atau ilmu pengetahuan; dan tama berasal dari kata utama yang berarti kebaikan. Jadi Serat Wedhatama berarti tulisan yang berisi tentang ajaran kebaikan atau tuntunan moral. Serat Wedhatama adalah karya sastra dalam bentuk tembang, sebagaimana dinyatakan pada bagian awal buku tersebut yang berbunyi: sinawung resmining kidung, yang artinya: dihias dengan indahnya lagu (tembang).

Tembang-tembang dalam Serat Wedhatama dikategorikan dalam jenis tembang macapat. Menurut Suwarno (2008: 4-7) dan Suwardi Endraswara (2006: 87), ada beberapa pendapat tentang pengertian tembang macapat. Pertama, tembang macapat  dibaca per  empat wanda (suku kata) untuk setiap penggalan. Penggalan terakhir jika tidak genap empat wanda dibaca sisa wanda yang ada. Contoh : bapak pocung/dudu watu/dudu gunung/ asal saka/ Plembang/; Ngon- ingone/sang bupati/yen lumampah/si pocung lem-/beyan grana. Dalam Serat Wulang Reh juga demikian, misalnya pada pupuh Pocung pada/bait 7 yang berbunyi : lamun bener/lan pinter pa-/momongipun/kang ginawe/ tuwa/haja nganggo/habot sisih/ dipun padha/ pamengkune/mring santana. Kedua, tembang macapat  itu berasal dari kata maca cepet (cara membacanya dengan cepat). Akronimnya adalah macapet, namun dalam perkembangannya agar enak didengar menjadi macapat. Ketiga, tembang macapat termasuk jenis sekar (tembang) klasisifikasi empat. Klasifikasi satu adalah sekar ageng sapadaswara. Klasifikasi dua adalah sekar ageng sapadadirga. Klasifikasi tiga adalah sekar tengahan.

       Menurut Suwarno (2008: 8-9), sebagian besar pendapat mengatakan bahwa tembang macapat terdiri dari 11 macam tembang. Sebagian ada yang mengatakan hanya 9 macam tembang, namun malah ada juga yang mengatakan 15 macam tembang. Macam-macam tembang tersebut adalah : (1) Mijil; (2) Kinanthi; (3) Sinom; (4) Asmaradana; (5) Dhandanggula; (6) Maskumambang; (7) Durma; (8) Pangkur; (9) Pocung; (10) Gambuh; (11) Megatruh; (12) Balabak; (13) Wirangrong; (14) Jurudemung; (15) Girisa.

       Penamaan tembang-tembang tersebut menggambarkan tahap-tahap perkembangan hidup manusia. Kehidupan manusia dimulai  dari lahir (mijil) dan dilanjutkan masa kanak-kanak yang masih dibimbing atau digandeng (kinanthi) orang tua.  Selanjutnya tahapan  masa muda (sinom) dan mengenal asmara (asmaradana). Pada tahapan selanjutnya orang merancang kehidupan yang baik, manis, indah, sejahtera (dandanggula). Pada perkembangan selanjutnya orang sudah memikirkan kebaikan atau keutamaan, namun belum mengendap (maskumambang). Perkembangan selanjutnya, orang memasuki masa tua, yang seharusnya sudah mundur dari ‘ma lima’ (durma). Tahapan selanjutnya ditandai dengan sikap yang menghindari (nyimpang) dan mengesampingkan atau membelakangi (mungkur) berbagai urusan duniawi (pangkur). Kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian dan kemudian dikafani (pocung).

      Serat Wedhatama pada umumnya dikenal sebagai buku tembang yang berisi ajaran moral karangan KGPAA Mangkunegara IV, dengan nama kecil Sudira, yang lahir pada 1811. Namun dalam buku Serat Wedhatama tulisan Anjar Any, terbitan CV Aneka Ilmu Semarang (hal. 21-23) dikemukakan kontroversi pengarang buku tersebut. Ada sebuah sumber yang menyatakan bahwa Wedhatama itu sebenarnya ditulis oleh satu team yang dipimpin oleh RT Padmodipuro, seorang bangsawan Mangkunegaran. Ada pula yang menyatakan bahwa buku tersebut ditulis oleh RM.Ng. Wiryokusumo. Sementara itu di Mangkunegaran saat ini masih tersimpan sebuah surat dari RMT Tondokusumo, cucu R.M.Ng. Wiryokusumo, tertanggal 10 April 1941,  yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar pertanyaan kakaknya yang bernama KPH Suryokusumo kepada neneknya, yaitu R.Ay. Wiryokusumo. Jawaban yang diperoleh menyatakan bahwa KGPAA Mangkunegara IV adalah pengarang Serat Wedhatama. Beliau  mempunyai beberapa orang murid untuk pengajaran Bahasa Kawi, yaitu BRMH Suryoputro, BRMH Suryohasmoro, BRM Suryodarmojo, RMH Tondokusumo, RM. Ng. Joyosaroso, RM. Ng. Cokrowijoyo, dan RM. Ng. Wiryokusumo. Mereka sering menerima batu tulis (sabak) dan oleh RM. Ng. Wiryokusumo, batu tulis yang sudah berisi tulisan itu  dikumpulkan untuk diserahkan kembali kepada KGPAA Mangkunegara IV.

KGPAA Mangkunegara IV adalah cucu Mangkunegara II dari garis ibu dan saudara sepupu Mangkunegara III. Ia menjadi penguasa Mangkunegaran (1853-1881), sebuah kadipaten (kerajaan kecil) yang didirikan oleh KGPAA Mangkunegara I atau RM Said, yang juga terkenal dengan panggilan Pangeran Sambernyawa. Kadipaten itu didirikan   berdasarkan Perjanjian Salatiga pada tahun 1757, dua tahun sesudah Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua (palihan nagari), yaitu Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Berdasar Perjanjian Salatiga itu wilayah kekuasaan Surakarta Hadiningrat dikurangi lagi oleh wilayah kekuasaan Mangkunegaran.

Sesudah berakhirnya palihan nagari dan sekaligus berakhirnya perang suksesi itu merupakan zaman renaisans, yang melahirkan pujangga-pujangga besar. Mereka adalah Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita. Masa kepujanggaan Surakarta itu berlangsung selama kurang lebih 120 tahun, dihitung sejak Perjanjian Salatiga 1757  hingga wafatnya Ranggawarsita pada 1873 atau mangkatnya Mangkunegara IV pada 1881 (Hasanu Simon, 2004: 515).

Mangkunegara IV telah menjalankan dua peran ganda yang kontradiktif, yaitu peran pemegang kekuasaan pemeritahan dan peran pujangga. Dua peran tersebut sulit dijalankan oleh sosok pribadi yang sama dalam kurun waktu yang bersamaan. Ini yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang raja yang dalam terminologi Jawa disebut raja pinandhita (raja yang berwatak pendeta). Dalam dunia pewayangan, yang tidak lain merupakan dunia ide, sosok seperti itu ditemukan pada diri Begawan Abiyasa. Setelah lengser dari  kedudukannya sebagai raja Hastina, ia kemudian menjadi seorang begawan di Pertapan Wukiratawu atau Pertapaan Sapta Arga.

C.  Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wedhatama

Dalam tradisi sastra Jawa, buku-buku tembang pada umumnya berisi ajaran moral atau tuntunan budi pekerti yang luhur. Hal itu berbeda dengan gendhing-gending dolanan yang isinya lebih bersifat hiburan. Dalam konteks masa kini, keinginan untuk menjadikan nyanyian atau lagu-lagu agar berfungsi sebagai media pendidikan nilai masih sering mengemuka, tidak hanya dari kalangan pemikir dan praktisi pendidikan, namun juga dari sebagian artis penyanyi itu sendiri.

Franky Sahilatua, pelantun lagu Bis Kota, Kereta Malam, Orang Pinggiran, dan Perahu Retak itu mengatakan bahwa ia lebih suka berbicara tentang nilai-nilai dan realitas sosial. Ia berpesan kepada generasi muda yang bergelut di bidang seni musik agar mampu mengangkat tema-tema lagu yang sarat dengan nilai-nilai yang didasari pemahaman terhadap realitas sosial (Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi UII, “Mimpi Indah Masyarakat Etis” majalah Kognisia; No. 02 Tahun II, September 2000),

Persoalan nilai dan realiatas sosial yang timpang juga muncul dalam pikiran Bimbo, kelompok musikus yang melegenda.  Ia mengemukakan kegelisahannya dalam melihat karut-marut negeri ini. Ia merasakan bangsa Indonesia saat ini sudah kehilangan rasa (roh) Indonesianya, yakni akhlak santun, budi pekerti, dan nuansa-nuansa filosofis, spiritual. Ada perubahan nilai, perubahan karakter pada bangsa ini, bahkan rasanya bangsa ini bukan bangsa Indonesia lagi (Kompas, Jumat 11 Sepember 2009).

Adapun kandungan nilai-nilai moral atau budi pekerti dalam buku tembang Serat Wedhatama itu tersebar di dalam lima pupuh tembang yang ada. Nilai-nilai yang terkandung dalam masing-masing tembang dapat dideskripsikan pada unit-unit tembang berikut ini.

 

1. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Pangkur

           Bait ke 1. Dengan menjauhi sifat angkara murka (mingkar mingkur ing angkara), Sri Mangkunegara IV berkenan mendidik para putra, yang dirangkai dalam bentuk tembang  (sinawung resmining kidung). Dalam hubungan ini, agama merupakan pegangan hidup yang berharga (agama ageming aji).

           Bait ke 2. Petuah agar jangan menjadi orang yang lemah budinya. Sebab, jika lemah budinya dan tumpul perasaannya (yen tan mikani rasa), meskipun sudah tua, ia bagaikan sepah tebu dan ketika dalam pertemuan sering bertindak memalukan (gonyak-ganyuk nglelingsemi).

            Bait ke 3-4. Petuah agar tidak bertindak semaunya sendiri (nggugu karepe priyangga). Sifatnya, jika berbicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, tidak mau dianggap bodoh, dan mabuk pujian. Adapun perilaku orang yang dungu, bualannya tidak karuan dan tidak masuk akal (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Namun bagi orang yang bijaksana, dengan cara yang halus (sinamun ing samudana) hal itu ditanggapi dengan baik (sesadon ing adu manis).

            Bait ke 5. Ajaran tentang ilmu sejati, yang membuat nyaman di hati. Ilmu ini mengajarkan agar menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh (bungah ingaran cubluk) dan tetap gembira jika dihina (sukeng tyas yen den ina). Tidak demikian halnya dengan si Dungu yang selalu sombong (anggung gumrunggung) dan ingin dipuji setiap hari (ugungan sedina-dina).

            Bait ke 6-8. Petuah yang menggambarkan tentang hidup yang hanya sekali, namun berantakan (uripe sepisan rusak). Orang yang demikian, pikirannya tidak berkembang dan kacau (nora mulur nalare pating seluwir), ibarat dalam gua yang gelap (kadi ta guwa kang sirung), picik pengetahuannya, namun sombong. Anak yang demikian, jika menghadapi kesulitan, ia mengandalkan orang tuanya yang bangsawan (pelayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur). Wataknya tampak ketika bertutur kata, tak mau kalah (lumuh asor kudu unggul), sombong dan meremehkan orang lain (sumengah sesongaran).

       Bait ke 9. Ajaran tentang keburukan ilmu karang (ilmu gaib, ilmu kekebalan, ilmu sihir). Ilmu tersebut diibaratkan bedak, tidak meresap ke dalam jiwa (iku boreh upaminipun, tan rumasuk ing jasad), dan jika menghadapi mara bahaya tidak dapat diandalkan.

       Bait ke 10-11. Petuah agar berguru tentang kebaikan (puruita kang patut), serta dapat menempatkan diri (traping angganira) dan mematuhi tatanan negara (angger ugering keprabon). Juga agar berguru pada orang bijak yang berjiwa pertapa (sarjana kang martapi), untuk memahami ilmu yang hakiki, tidak harus kepada orang yang lebih tua, namun bisa juga kepada anak muda ataupun orang kebanyakan (tan mesthi neng janma wredha, tuwin mudha sudra).

            Bait ke 12. Ajaran tentang sebutan “orang tua” (wong tuwa, wong sepuh).Dia adalah orang yang memahami wahyu Allah, menguasai ilmu kesempurnaan, serta memahami makna dwitunggal (roroning atunggil, yaitu makhluk dan Khalik, titah dan yang menitahkan). Orang disebut “orang tua” bila ia tidak dikuasai hawa nafsu (lire sepuh sepi hawa).

       Bait ke 13-14. Ajaran tentang pemahaman terhadap sukma (roh, namun ada yang memaknai Tuhan) (tan samar pamoring sukma). Caranya dengan diresapi dan direnungkan di kala sepi (sinuksmaya winahya ing asepi), di simpan di lubuk hati (sinimpen telenging kalbu), dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, bagaikan mimpi. Dalam kondisi demikian itu lah hadirnya rasa yang sejati. Jika mampu mencapainya, ia telah mendapatkan anugerah Tuhan. Ia mampu mencapai alam kosong (bali alaming ngasuwung), kembali ke asal mula (mulih mula mulanira), tidak mabuk dunia yang sifatnya kuasa-menguasai

2. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Sinom

           Bait ke 15-18. Petuah agar meniru perilaku yang baik (laku utama), yang dicontohkan oleh Panembahan Senopati, raja Mataram (wong agung ing Ngeksiganda). Ia sungguh-sungguh dalam menekan hawa nafsu (kapati amarsudi sudaning hawa lan nefsu), yang dijalani dengan bertapa (pinesu tapa brata). Ia berusaha membuat senang hati orang lain dan dalam setiap pertemuan ia membuat suasana tenteram. Di kala tiada kesibukan ia berkelana mencari ilham (kala kalaningasepi lelana teki-teki), untuk mencapai cita-cita (nggayuh geyonganing kayun), yang terpesona pada ketenteraman hati (kayungyun eninging tyas), senantiasa menjalani prihatin, kuat dalam mengurangi makan dan tidur (puguh panggah cegah dhahar lawan nendra). Setiap pergi meninggalkan istana, ia berkelana ke tempat yang sunyi (lelana laladan sepi) untuk menyerap kesempurnaan ilmu agar jelas apa yang dituju. Tujuannya untuk mencapai kehalusan budi (budya tulus) dan kemampuan yang optimal (mesu reh kasudarman). Di tepi samodra (neng tepining jalanidhi), ia memahami kekuasaan samodra, yang seakan digenggamnya dalam satu genggaman.

            Bait ke 19-21. Pada bait (pada) ini lebih banyak berisi mitos tentang hubungan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul, kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

           Bait ke 22-24. Ajaran tentang corak keislaman yang tidak begitu islami. Hal itu tampak pada sindiran terhadap anak muda yang dianggap suka meniru Nabi (manulad nelad Nabi), hanya untuk pamer, sebelum bekerja singgah dahulu di masjid (saben seba mampir mesjid). Bagi pengarang, anak muda seperti itu hanya berkutat pada syariat dan tidak sampai pada hakikat (anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi). Bahkan terungkap sinisme, jika berkhotbah berirama Dandanggula gaya palaran (kalamun maca kotbah, lelagone Dandanggendis, swara arum ngumandang cengkok palaran). Ia menghendaki keislaman yang tidak mendalam (sathitihik bae wus cukup), jangan bersemangat meniru ahli fikih (nelad kas ngepleki pekih).

            Bait ke 25-28. Ajaran yang cenderung pada pragmatisme, yaitu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi pengarang, dari pada mendalami agama, lebih baik mencari nafkah (ngupa boga). Berhubung ditakdirkan sebagai orang lemah, lebih baik mengabdi raja, bertani, atau berdagang (suwiteng nata, tani tanapi agrami). Dengan nada sarkastis terhadap diri sendiri, ia memberi alasan “ini karena saya orang bodoh, belum tahu cara hidup orang Arab” (padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab). Ia pernah menghadapi dilema, antara mengutamakan perintah agama atau pekerjaan (bot Allah apa Gusti, tambuh-tambuh solah ingsun). Pada masa mudanya ia rajin beribadah dan dalam hatinya ada perasaan takut menghadapi hari akhir (sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan ngakir jaman). Akan tetapi hal itu terhenti, karena alasan pekerjaan. Tidak sempat sembahyang, karena ketika dipanggil yang memberi makan, jika tidak segera menghadap akan dimarahi (nora kober sembahyang, gya tinimbalan, marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani).

            Bait ke 29. Petuah tentang tiga nilai yang mengangkat kedudukan manusia, yaitu pangkat, harta, dan kepintaran (wirya harta tri winasis). Jika seseorang tidak memiliki satu pun di antara ketiganya, maka tidak ada artinya sebagai manusia, bahkan lebih berharga daun jati kering, sehingga ia menjadi peminta-minta atau gelandangan (kalamun kongsi sepi saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman, ngulandara).

            Bait ke 30-32. Ajaran tentang samadi atau meditasi, sehingga seseorang mampu melihat hakikat pribadinya sendiri secara jelas  (wosing jiwangga melok tanpa aling-aling), serta menerawang keadaan yang seakan tanpa batas (angelangut tanpa tepi). Demikian itu manusia yang luhur,  gemar menyepi (tuman tumanem ing sepi), mempertajam dan membersihkan jiwa (masah amemasuh budi), namun secara lahiriah tetap menjalankan tugas kewajibannya, bersikap rendah hati, dan senantiasa membuat senang hati orang lain.

3. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Pucung

            Bait ke 33-34. Ajaran bahwa ilmu itu dapat tercapai dengan diamalkan (ngelmu iku kelakone kanthi laku), yang dimulai dengan kemauan kuat. Adapun budi yang baik akan mampu menghancurkan nafsu angkara yang berada di dalam diri manusia itu sendiri.

            Bait ke 35-37. Ajaran bahwa orang yang terpesona pada kehidupan ruhani (wus sengsem reh ngasamun), bersifat pemaaf dan  sabar. Dalam sunyi, hati yang jahat dapat ditenggelamkan oleh cinta kasih (karana karoban ing sih).

            Bait ke 38-41.  Pandangan yang bernada sarkastis terhadap praktik keislaman kalangan muda, dengan ucapan: belum mampu tetapi berani memaknai lafadz seperti sayid dari Mesir (durung pecus keselak besus, amaknani rapal kaya sayid seka Mesir), aneh, tidak suka ke-Jawa-annya, memaksa diri mencari pengetahuan di Mekah (elok Jawane den mohi, paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah). Sedangkan inti pengetahuan yang dicari itu ada pada diri sendiri. Asal mau berikhtiar, di sana dan di sini (Jawa) tidak berbeda.

           Bait ke 42. Pandangan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan nalar (logika) (ngelmu iku mupakate lan panemu) dan untuk mencapainya dengan bertapa (pasahe lan tapa).

            Bait ke 43. Ajaran tentang tiga hal yang perlu dijadikan pegangan, yaitu: rela jika kehilangan sesuatu, menerima dengan sabar jika mendapat perlakuan yang menyakitkan hati, ikhas menyerahkan diri pada Tuhan (lila lamun kelangan nora gegetun, trima lamun ketaman saserik sameng dumadi, legawa nalangsa srah ing bathara).

            Bait ke 44. Pandangan sepintas tentang teologi yang bersifat mistis, kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

            Bait ke 45-47.  Petuah tentang sifat-sifat angkara, yang kesukaannya mencaci maki tanpa isi, asalkan marah-marah (kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring), kesalahannya sendiri ditutupi, kemarahannya  dilampiaskan untuk memukul orang lain, belum seberapa ilmunya namun ingin dianggap pandai, itupun sering terhalang oleh pamrih.

4. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Gambuh

           Bait ke 48. Ajaran tentang empat macam sembah (sembah catur), yaitu sembah raga, cipta, jiwa, dan rasa.

           Bait ke 49-57. Ajaran sembah raga yang dianggap sebagai tahapan akan memulai perjalanan (semacam thariqat) (amagang laku). Pembersihannya dengan air sebagaimana bersuci sebelum shalat lima kali sehari (sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu). Pada tahapan ini, orang tergesa-gesa ingin melihat cahaya Tuhan (kesusu arsa weruh, pan cahyaning Hyang), tetapi belum mampu. Tahapan ini disebut syariat, ritualnya dilakukan dengan tetap dan tekun.

            Bait ke 56-62. Ajaran sembah kalbu (cipta) yang jika dilakukan secara terus-menerus akan menjadi ritual (laku). Pembersihannya tanpa air, melainkan dengan mengendalikan hawa nafsu (sesucine tanpa banyu, hamung nyuda mring hardaning kalbu). Jika dilakukan dengan baik, orang akan berada pada suasana batin yang remang-remang atau sayup-sayup (tumalawung) dan terbukanya alam yang di atas. Pada tahapan ini syaratnya adalah sabar dalam segala tindakan dan terlaksananya dengan tenang, jernih, dan sadar (eneng, ening, eling).

            Bait ke 63-69. Ajaran sembah sukma, yaitu sembah yang dilakukan setiap saat dan merupakan perjalanan (ritual) terakhir (pepuntoning laku). Pembersihannya dengan waspada dan ingat (sadar) (awas, emut). Pemeliharaannya dengan membiasakan diri untuk menguasai dan merangkul tiga alam (yang dimaksud adalah: alam fisik, alam rasa, dan alam angan-angan). Selain itu, makrokosmos (jagad agung) digulung ke dalam mikrokosmos (jagad alit).

            Bait ke 70-72. Ajaran sembah rasa, yang dengan sembah ini akan mampu memahami hakikat (makna terdalam) dari kehidupan (sembah rasa karasa wosing dumadi). Tercapainya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Di sini tidak ada lagi was-was dan keragu-raguan, hanya percaya sepenuhnya pada takdir (wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ing takdir). Dipesankan agar jika belum mampu sampai pada tahapan ini jangan mengaku telah mampu, sebab akan mendapat laknat.

            Bait ke 73. Untuk melaksanakan petuah-petuah dalam tembang ini, orang harus sentausa dan teguh budinya. Demikian pula harus sabar, tawakal, ikhlas di hati, rela dan menerima segala keadaan, berjiwa pandhita, dan paham terhadap akhir dari hidup ini.

            Bait ke 74. Petuah agar segala tindak-tanduk dikerjakan sekedarnya (tidak berlebihan), memberi maaf kesalahan orang kain (den ngaksama kasisipaning sesami), menghindari tindakan tercela dan sifat angkara (sumimpanga ing laku dur).

            Bait ke 75. Petuah agar orang mampu membedakan antara baik dan buruk, agar terpancar pelita yang menerangi hati (pandaming kalbu).

            Bait ke 76-82. Lebih banyak berisi pandangan yang bersifat mistis tentang  rasa dan wujud (endi manis, endi madu) dan ajaran-ajaran lain yang kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

5. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Kinanthi

           Bait ke 83. Petuah agar dalam hidupnya, orang berbekal ingat dan waspada (eling lan waspada; awas lan eling). Ingat yang dimaksud adalah ingat pada petunjuk atau contoh pelajaran yang diberikan oleh alam (eling lukitaning alam).

            Bait ke 84. Petuah agar mempertajam perasaan (angulah lantiping ati) dan menyingkirkan hawa nafsu agar menjadi manusia yang berbudi luhur (bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami).

            Bait ke 85. Ajaran tentang cara mempertajam hati, yaitu dengan samadi di tempat yang sunyi (pangasahe sepi samun). Ketajamannya dapat mengikis gunung penghalang, yang menjadi penghalangnya budi (bengkas kahardaning driya, kekes srabedaning budi).

            Bait ke 86-88.  Petuah agar waspada, artinya mengetahui penghalang dalam hidup (wruh warananing urip). Juga agar tidak lengah dalam hati (aywa sembrana ing kalbu) dan memperhatikan pada kata-kata yang diucapkan sendiri,  menghilangkan keraguan dalam hati, dan waspada dalam memandang sesuatu (waspada ing pangeksi).

            Bait 88-90. Petuah agar tidak membiasakan diri berbuat nista (awya mematuh nalutuh), hati-hati terhadap berbagai rintangan dalam hidup. Umpama orang berjalan, jalan yang berbahaya dilalui, apabila kurang waspad, dapat tertusuk duri (sayekti kasandung ri) atau terantuk batu.

            Bait 91-93. Petuah agar tidak seperti diibaratkan ‘berobat sesudah terluka’ (atetamba yen wus bucik). Yang demikian itu, meskipun orang mempunyai pengetahuan, tetapi tidak ada gunanya, sehingga pengetahuannya hanya untuk mencari nafkah dan pamrih (kawruhe kinarya ngupaya kasil lan melik).

            Bait ke 94. Ajaran bahwa syarat menjalani ilmu sejati (lakune ngelmu sejati) adalah tidak iri dan dengki (tan dahwen pati openan), tidak berhati panas (tan panasten), tidak mengganggu orang lain (nora jail), tidak melampiaskan hawa nafsu (tan njurung ing kahardan), namun hanyalah diam agar tenang (amung eneng amrih ening).

       Bait ke 95-98. Ajaran bahwa budi yang baik itu biasanya pandai bergaul dengan berbagai kalangan (bangkit ajur ajer). Meskipun pengetahuannya yang benar berbeda dengan pendapat orang lain, ia bersikap baik, sekedar untuk menyenangkan hati orang lain (mung ngenaki tyasing lyan). Oleh karena itu hendaknya dapat berpura-pura bodoh (den bisa mbusuki ujaring janmi).

       Bait ke 99-100. Petuah agar mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan itu sebagai langkah mencapai kemuliaan. Meskipun tidak mampu untuk persis, tetapi harus ikhtiar semampunya. Jika tidak demikian berarti sungguh rugi hidup ini (yekti tuna tinitah).

D. Makna Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wedhatama

Sesuai dengan metode penelitian, inferensi atau pemaknaan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Serat Wedhatama dikelompokkan ke dalam unit-unit tematik, yang dikonstruk menjadi tema-tema : etika pribadi, etika sosial, dan etika terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.  Dalam inferensi atau pemaknaan ini juga dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu, baik yang bersifat historis, sosiologis, maupun kultural.

 

Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika pribadi adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasar uraian tersebut tampak bahwa Serat Wedhatama menekankan pentingnya pendidikan bagi setiap orang. Sebagaimana ajaran-ajaran dalam kultur Jawa, termasuk dalam Serat Wulang Reh, pendidikan yang dimaksud lebih menekankan pada pengembangan hati, rasa, emosionalitas, atau bahkan spiritualitas. Hal itu terungkap pada pesan agar: mempertajam perasaan (angulah lantiping ati),  menyingkirkan hawa nafsu agar menjadi manusia yang berbudi luhur (bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami), dan jangan menjadi orang yang lemah budinya dan tumpul perasaannya (tan mikani rasa). Serat Wedhatama memberi pujian pada orang yang terpesona pada kehidupan ruhani (wus sengsem reh ngasamun), yang sifatnya pemaaf dan  sabar. Sebagaimana ajaran Serat Wulang Reh, pengembangan hati, rasa, emosionalitas, atau bahkan spiritualitas itu akan menghasilan ‘ilmu sejati’, yang membuat nyaman di hati. Orang yang telah memiliki ilmu ini akan menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh (bungah ingaran cubluk) dan tetap gembira jika dihina (sukeng tyas yen den ina).

       Namun demikian, Serat Wedhatama juga menekankan pentingnya pengembangan akal, pikiran, rasionalitas, atau intelektualitas. Hal itu terungkap pada pesan agar: jangan sampai hidup yang hanya sekali ini berantakan (uripe sepisan rusak), yaitu orang yang pikirannya tidak berkembang dan kacau (nora mulur nalare pating seluwir), ibarat dalam gua yang gelap (kadi ta guwa kang sirung), sehingga picik pengetahuannya. Pandangan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan pendapat akal sehat (nalar, logika) (ngelmu iku mupakate lan panemu).

       Tentang etos belajar (menuntut ilmu), terutama “ilmu sejati’ yaitu dengan samadi di tempat yang sunyi (pangasahe sepi samun) atau dengan bertapa (pasahe lan tapa). Dalam sunyi, hati yang jahat dapat ditenggelamkan oleh cinta kasih (karana karoban ing sih) Oleh karena itu, pencapaian ilmu itu harus dijalani dengan suatu proses (ngelmu iku kelakone kanthi laku) dan dimulai dengan kemauan kuat (lekase klawan kas). Syarat untuk menjalani ilmu sejati (lakune ngelmu sejati) adalah tidak iri dan dengki (tan dahwen pati openan), tidak berhati panas (tan panasten), tidak mengganggu orang lain (nora jail), tidak melampiaskan hawa nafsu (tan njurung ing kahardan), tetapi lebih menyukai diam agar tenang (amung eneng amrih ening). Untuk itu dianjurkan agar berguru pada orang bijak yang berjiwa pertapa (sarjana kang martapi). Orang hendaknya tidak menggunakan pengetahuannya semata-mata hanya untuk mencari nafkah dan pamrih (kawruhe kinarya ngupaya kasil lan melik).

       Serat Wedhatama mengajarkan tiga hal yang perlu dijadikan pegangan, yaitu: rela jika kehilangan sesuatu (lila lamun kelangan nora gegetun),  menerima dengan sabar jika mendapat perlakuan yang menyakitkan hati (trima lamun ketaman saserik sameng dumadi), ikhas menyerahkan diri pada Tuhan (legawa nalangsa srah ing bathara).

       Serat Wedhatama mengajarkan tiga nilai yang mengangkat kedudukan manusia, yaitu pangkat, harta, dan kepintaran (wirya harta tri winasis). Jika seseorang tidak memiliki satu pun di antara ketiganya, maka tidak ada artinya sebagai manusia, bahkan lebih berharga daun jati kering, sehingga ia menjadi peminta-minta atau gelandangan (kalamun kongsi sepi saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman, ngulandara).

       Serat Wedhatama mengajarkan agar dalam hidupnya, orang berbekal ingat dan waspada (eling lan waspada; awas lan eling). Ingat yang dimaksud adalah ingat pada petunjuk atau pelajaran yang diberikan oleh alam (eling lukitaning alam). Adapaun maksud waspada adalah mengetahui penghalang dalam hidup (wruh warananing urip), tidak lengah dalam hati (aywa sembrana ing kalbu) dan memperhatikan pada kata-kata yang diucapkan sendiri,  menghilangkan keraguan dalam hati, dan waspada dalam memandang sesuatu (waspada ing pangeksi).  Orang jangan sampai  diibaratkan ‘berobat sesudah terluka’ (atetamba yen wus bucik). Yang demikian itu, meskipun orang mempunyai pengetahuan, tetapi tidak ada gunanya.

       Serat Wedhatama mengajarkan agar segala tindak-tanduknya tidak berlebihan, memberi maaf kesalahan orang kain (den ngaksama kasisipaning sesami), menghindari tindakan tercela dan sifat angkara (sumimpanga ing laku dur). Orang juga harus mampu membedakan antara baik dan buruk, agar terpancar pelita yang menerangi hati (pandaming kalbu). Juga dipesankan  agar orang mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan dalam buku itu sebagai langkah mencapai kemuliaan. Meskipun tidak mampu untuk persis, tetapi harus berikhtiar semampunya. Jika tidak demikian berarti sungguh rugi hidup ini (yekti tuna tinitah).

       Serat Wedhatama mengajarkan agar orang menghindari sifat-sifat angkara dan perbuatan nista (awya mematuh nalutuh). Sifat angkara itu suka mencaci maki tanpa isi, asalkan marah-marah (kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring) dan  kemarahannya  dilampiaskan untuk memukul orang lain.

       Serat Wedhatama memberikan contoh sosok Panembahan Senopati, raja Mataram pertama (wong agung ing Ngeksiganda), sebagai modeliing dalam pendidikan karakter dan tingkah laku yang terpuji (laku utama).  Bait ini cukup populer di kalangan masyarakat Jawa. Panembahan Senopati digambarkan sebagai pribadi yang sungguh-sungguh dalam menekan hawa nafsu (kapati amarsudi sudaning hawa lan nefsu), yang dijalani dengan bertapa (pinesu tapa brata). Ia berusaha membuat senang hati orang lain dan dalam setiap pertemuan ia membuat suasana tenteram. Di kala tiada kesibukan ia berkelana mencari ilham (kala kalaningasepi lelana teki-teki), untuk mencapai cita-cita (nggayuh geyonganing kayun), yang terpesona pada ketenteraman hati (kayungyun eninging tyas), senantiasa menjalani prihatin, kuat dalam mengurangi makan dan tidur (puguh panggah cegah dhahar lawan nendra). Setiap pergi meninggalkan istana, ia berkelana ke tempat yang sunyi (lelana laladan sepi) untuk menyerap kesempurnaan ilmu agar jelas apa yang dituju. Tujuannya untuk mencapai kehalusan budi (budya tulus) dan kemampuan yang optimal (mesu reh kasudarman). Di tepi samodra (neng tepining jalanidhi), ia memahami kekuatan samodra, yang baginya seakan digenggamnya dalam satu genggaman.

 

Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika sosial adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

       Serat Wedhatama mengajarkan agar orang jangan sampai bertindak kurang sopan santun dalam pertemuan, sehingga memalukan  (gonyak-ganyuk nglelingsemi). Demikian juga, jangan bertindak semaunya sendiri (nggugu karepe priyangga). Sifatnya, jika berbicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, tidak mau dianggap bodoh, dan mabuk pujian. Orang harus dapat menempatkan diri (traping angganira) dan mematuhi tatanan negara (angger ugering keprabon).

       Dalam pandangan Serat Wedhatama, orang yang baik budinya itu biasanya pandai bergaul dengan berbagai kalangan (bangkit ajur ajer). Meskipun pengetahuannya benar dan berbeda dengan pendapat orang lain, ia bersikap baik, sekedar untuk menyenangkan hati orang lain (mung ngenaki tyasing lyan). Oleh karena itu kadang kala ia  berpura-pura bodoh (den bisa mbusuki ujaring janmi). Orang yang bijaksana akan menanggapi orang yang dungu dengan cara yang halus (sinamun ing samudana)  dan baik (sesadon ing adu manis).

Serat Wedhatama mengajarkan agar jangan berperilaku seperti perilakunya orang yang dungu, yang bualannya tidak karuan dan tidak masuk akal (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Orang yang dungu itu suka sombong (anggung gumrunggung) dan ingin dipuji setiap hari (ugungan sedina-dina). Orang yang picik pengetahuannya, namun sombong, wataknya tampak ketika bertutur kata, tak mau kalah (lumuh asor kudu unggul), dan meremehkan orang lain (sumengah sesongaran).

3.  Etika terhadap Tuhan Yang Maha Esa

     Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika terhadap Tuhan adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam bait yang cukup populer, Serat Wedhatama mengajarkan bahwa agama merupakan pegangan hidup yang berharga (agama ageming aji). Namun pandangan keagamaannya bersifat mistis, pandangan keagamaan khas Jawa yang kerap kali menggunakan term-term Islam. Hal itu tampak pada ajaran tentang empat macam sembah (sembah catur), yaitu sembah raga, cipta, jiwa, dan rasa. Dengan sembah rasa, orang akan mampu memahami hakikat (makna terdalam) dari kehidupan (sembah rasa karasa wosing dumadi). Tercapainya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Di sini tidak ada lagi was-was dan keragu-raguan, hanya percaya sepenuhnya pada takdir (wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ing takdir). Ajaran yang bersifat mistis itu juga tampak pada ungkapan tentang ilmu kesempurnaan yang mengajarkan makna dwitunggal (roroning atunggil, yaitu makhluk dan Khalik, titah dan yang menitahkan).

Serat Wedhatama mengajarkan tentang pemahaman terhadap sukma (roh, namun ada yang memaknai Tuhan) (tan samar pamoring sukma). Caranya dengan diresapi dan direnungkan di kala sepi (sinuksmaya winahya ing asepi), di simpan di lubuk hati (sinimpen telenging kalbu), dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, bagaikan mimpi. Dalam kondisi demikian itu lah hadirnya rasa yang sejati. Jika mampu mencapainya, ia telah mendapatkan anugerah Tuhan. Ia mampu mencapai alam kosong (bali alaming ngasuwung), kembali ke asal mula (mulih mula mulanira), tidak mabuk dunia yang sifatnya kuasa-menguasai.

       Serat Wedhatama mengajarkan tentang samadi atau meditasi, sehingga seseorang mampu melihat hakikat pribadinya sendiri secara jelas (wosing jiwangga melok tanpa aling-aling), serta menerawang keadaan yang seakan tanpa batas (angelangut tanpa tepi). Manusia yang luhur gemar menyepi (tuman tumanem ing sepi), mempertajam dan membersihkan jiwa (masah amemasuh budi), namun secara lahiriah tetap menjalankan tugas kewajibannya, bersikap rendah hati, dan senantiasa membuat senang hati orang lain.

       Serat Wedhatama tampak kurang sepaham dengan corak keislaman yang islami. Hal itu tampak pada sindiran terhadap anak muda yang dianggap suka meniru Nabi (manulad nelad Nabi), hanya untuk pamer, sebelum bekerja singgah dahulu di masjid (saben seba mampir mesjid). Anak muda seperti itu katanya hanya berkutat pada syariat dan tidak sampai pada hakikat (anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi). Bahkan terungkap sinisme, jika berkhotbah berirama Dandanggula gaya palaran (kalamun maca kotbah, lelagone Dandanggendis, swara arum ngumandang cengkok palaran). Ia menghendaki keislaman yang tidak mendalam (sathitihik bae wus cukup), jangan bersemangat meniru ahli fikih (nelad kas ngepleki pekih).

       Pandangan yang bernada sarkastis terhadap praktik keislaman kalangan muda, dengan ungkapan: belum mampu tetapi berani memaknai lafadz seperti sayid dari Mesir (durung pecus keselak besus, amaknani rapal kaya sayid seka Mesir), aneh, tidak suka ke-Jawa-annya, memaksa diri mencari pengetahuan di Mekah (elok Jawane den mohi, paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah). Sedangkan, katanya, inti pengetahuan yang dicari itu ada pada diri sendiri. Asal mau berikhtiar, di sana dan di sini (Jawa) tidak berbeda.

Serat Wedhatama bahkan mengemukakan ajaran yang cenderung pada pragmatisme. Hal itu tampak pada pesan yang menyatakan bahwa dari pada mendalami agama, lebih baik mencari nafkah (ngupa boga). Berhubung ditakdirkan sebagai orang lemah, lebih baik mengabdi raja, bertani, atau berdagang (suwiteng nata, tani tanapi agrami). Dengan nada sarkastis terhadap diri sendiri, pengarang memberi alasan “ini karena saya orang bodoh, belum tahu cara hidup orang Arab” (padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab). Ia pernah menghadapi dilema, antara mengutamakan perintah agama atau pekerjaan (bot Allah apa Gusti, tambuh-tambuh solah ingsun). Pada masa mudanya ia rajin beribadah dan dalam hatinya ada perasaan takut menghadapi hari akhir (sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan ngakir jaman). Akan tetapi hal itu terhenti, karena alasan pekerjaan. Tidak sempat sembahyang, karena ketika dipanggil yang memberi makan, jika tidak segera menghadap akan dimarahi (nora kober sembahyang, gya tinimbalan, marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani).

 

*Artikel ini ditulis dalam rangka tugas penelitian Prodi Kewarganegaraan UNY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s