PELAJARAN BERHARGA TENTANG WAFATNYA PARA ULAMA DAN PERTANDA ZAMAN

Masjidil Aqsha

Tiada pernah kita sadari, kita telah kehilangan sekian banyak ulama. Ulama yang berkiprah pada jalur pemerintahan dan juga ulama yang menyalurkan keulamaannya di pesantren dengan ribuan siswanya. Masih teringat secara jelas bagaimana sosok “Hamka”, suaranya tenang bak air sewindu, mampu meneduhkan dan menenangkan hati yang bagaimanapun gundahnya. Kita sering dibuat tertawa gembira manakala diingatkan oleh janji Allah berupa surga-Nya dan kita sering dibuat ketakutan jika mendengar pedihnya siksa neraka Allah. Petuah-petuahnya tidak hanya disukai oleh kaum muslimin, namun juga dikagumi oleh orang-orang di luar Islam. Dan banyak di antara mereka yang terbuka kesadarannya menyatakan diri sebagai ikhwan kita alias masuk Islam.

Suara-suara itu tidak lagi kita jumpai, walau banyak bermunculan para pengganti untuk mendapatkan generasi yang sejajar dengan mereka, namun hal itu sungguh sulit. Para ulama yang almarhum telah dipanggil oleh Allah diiringi tangisan dan doa yang dilakukan oleh sekian puluh ribu umat Islam. Masih teringat di dalam ingatan kita, ketika ditinggal oleh salah satu ulama dan kyai terkenal, KH Zainuddin MZ, yang oleh sebagian besar kalangan dijuluki dai sejuta umat. Kemudian secara berurutan para kyai / ulama yang lain akan menyusul menghadap ke hadirat-Nya. Mereka dengan kualitasnya masing-masing telah banyak menyumbangkan tenaga untuk umat, bangsa dan negara.

Memang banyak orang sepakat bahwa dari sekian banyak peristiwa yang muncul terjadi secara kebetulan dan tidak perlu diperhatikan, yang didasari suatu anggapan bahwa penciptaan Tuhan terhadap alam semesta sama halnya manusia membuat jam waktu. Ketika jam itu sudah berjalan, maka penciptaan itu dianggap sempurna. Sang Pencipta tak lagi ikut campur terhadap perjalanan selanjutnya dari jam itu. Apakah ia mati atau berhenti sejenak dengan berbagai sebab, sang pembuat tidak ikut campur dan tidak menentukan. Demikianlah anggapan sebagian manusia terhadap Tuhan. Mereka percaya yang mencipta segala sesuatu adalah Rabb Semesta Alam, tetapi mereka mengingkari bahwa Dia mengatur kejadian-kejadian kecil di alam ini. Sekilas pendapat diatas dapat diterima, tetapi manakala dikaji lebih dalam maka banyak bermunculan fakta-fakta yang menyanggahnya. Apabila penciptaan Tuhan berhenti pada kejadian suatu benda tanpa ikut campur dalam kinerja benda tersebut, berarti disana akal manusia akan memiliki “daya tentu”. Akal sanggup mengatur segala benda dan peristiwa agar selalu sejalan dengan niat akal. Tapi ternyata tidak demikian, banyak benda dan peristiwa yang dianggap berlepas diri dari aturan Tuhan, sedangkan benda dan peristiwa yang menyeleweng jauh dari perhitungan akal malah bertentangan.

Dari sini kemudian banyak orang yang percaya bahwa ada hukum lain yang lebih berkuasa dan sangat menentukan. Akal dan kemampuan manusia hanya sekedar usaha, dan ada kekuatan yang menentukan usaha tersebut. Ketentuan ini ada kalanya selaras dengan usaha akal, namun ada kalanya bertentangan yang berarti menunjukkan relatifitas dari kerja akal dan manusia itu sendiri. Sehingga ketentuan diatas menganjurkan manusia menggunakan pikirannya untuk merenungkan segala apa yang ada di langit dan dibumi. Hal itu akan lebih jelas jika menyimak Firman Allah berikut:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghaasiyah: 17-20)

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati (QS.Ali Imran: 13)

Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (QS. An-Nuur: 44)

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya) (QS. An-Naazi’aat: 26)

Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan (QS. Al-Hasyr: 2)

Demikian halnya dengan Tuhan, Dia tidak hanya bertindak sebagai pencipta, kemudian melepaskan hasil ciptaan-Nya dengan hukum-Nya sendiri. Tuhan akan selalu ikut campur, namun bukan berarti Dia bertindak otoriter yang kemudian menyalahi kebiasaan yang berlaku. Misal orang yang baik dibalas dengan keburukan atau sebaliknya, orang yang berlaku buruk justru mendapat imbalan baik, walaupun hal itu adalah hak prerogatif Allah. Dalam menentukan sesuatu, Allah berangkat dari kasih sayang-Nya yang selalu melekat pada Dzat-Nya dan senantiasa mewarnai pada setiap pemberian-Nya.

Lalu hubungannya dengan wafatnya sekian banyak ulama secara beruntun, bahwa ulama ditegaskan oleh Rasulullah saw sebagai pewaris para Nabi. Tentunya mereka harus mampu meneruskan perjuangan perjuangan Nabi, menyiarkan Islam dan menegakkan kalimah Allah pada setiap umat. Jika mereka tidak ada, logika dangkalnya adalah siapakah yang akan meneruskan misi para Nabi, sedangkan pintu kenabian sudah dinyatakan ditutup.

Di zaman akhir nanti, Allah akan memberikan cobaan perjuangan yang lebih berat berupa meratanya kebodohan. Makna bodoh disini bukan berarti lenyapnya para kaum sarjana, terbakarnya sejumlah buku, dan musnahnya berbagai ilmu pengetahuan yang saat ini tengah berkembang. Bahkan saat ini jumlah lulusan sarjana makin banyak, para ilmuwan makin tidak terhitung jumlahnya, dan kemampuan hampir mampu menjawab segala pertanyaan. Mereka mampu menembus angkasa dan bukan mustahil bisa bertempat tinggal disana. Apalagi berbagai macam penemuan baru menyebutkan bahwa telah ditemukan sejumlah planet yang berhamburan di jagat raya ini yang dapat dihuni sebagaimana hanya bumi. Setiap hari lahir sarjana-sarjana baru dengan beragam disiplin ilmunya. Namun sekali lagi, untuk ulama, dari hari ke hari makin sedikit jumlahnya.

Kecenderungan masyarakat tanpa disadari justru mendukung krisis ulama. Anak-anak mereka semua anak-anak mereka semua digiring untuk memasuki bidang-bidang ilmu pengetahuan umum dan menelantarkan ilmu pengetahuan agama. Betapa bangganya mereka ketika putra-putrinya berhasil menyelesaikan studinya walaupun di dalam jiwanya tidak tersisa nafas agama. Belajar ilmu pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang dilarang dalam Islam, bahkan Al-Qur’an hingga ratusan kali menyebutkan agar manusia memanfaatkan akalnya untuk mengetahui rahasia alam bagi kesejahteraan hidupnya. Namun itu semua harus diniati dan ditujukan hanya kepada keridhaan Allah swt.

Dan kini nampaknya Allah mulai memenuhi janji-Nya, satu demi satu ulama dipanggil ke hadirat-Nya. Kecenderungan manusia tampaknya mempercepat proses percobaan yang berat tersebut, sehingga bukan hal yang mustahil bahwa kaum ulama menjadi suatu hal yang sangat langka, dan kaum sarjana yang sama sekali kehilangan dimensi transendentalnya. Orang-orang inilah yang akan mengangkat pemimpin golongan ini.

Dengan kecongkakannya, mereka mencoba menjawab segala permasalahan dengan akal telanjang, mengatur dunia dan mengarahkannya kepada pertimbangan akal semata, serta sama sekali tidak terikat oleh unsur agama. Dapat dibayangkan bagaimana kehidupan masyarakat yang tanpa dikendalikan oleh aturan agama kemudian menggantungkan semua kepada akal pikiran semata-mata yang terkadang bisa saja menghalalkan segala cara.

Realita yang telah digambarkan diatas, menggugah kita semua untuk mencoba merefleksi dan mendeteksi apa yang bakal terjadi, serta apa yang kita lakukan untuk menghadapi situasi yang tidak menentu tersebut. Para ulama yang secara beruntun berpulang ke Rahmatullah barangkali dianggap kebetulan bagi segelintir orang, tetapi bagi kaum mukmin yang percaya dengan kudrat iradat Allah, hal itu adalah tanda-tanda zaman sebagaimana yang pernah diingatkan oleh Rasulullah:

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari seorang hamba-Nya. Akan tetapi ilmu itu direnggut dengan kematian para ulama hingga tak ada lagi tinggal seorang alimpun. Maka banyak orang yang mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Ia akan memberi fatwa tanpa ilmu. Akibatnya menjadi sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Turmudzi).

Pertanda zaman telah muncul. Tidak ada alat yang tepat untuk menghadapinya kecuali makin mendekatkan diri kepada Allah dengan mencoba semaksimal mungkin menunaikan aturan-Nya, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dijauhi. Dan diiringi dengan usaha mendakwahkan pentingnya meningkatkan keimanan kepada Allah melalui pengajaran ilmu agama kepada orang lain sebisa mungkin. Inilah barangkali satu-satunya kunci keselamatan. Semoga kita mampu merenungkan dan bersiap diri. Amien.

Sumber: Inspirasi Dari Artikel “Tanda-Tanda Zaman” Yang Ditulis Oleh Nircholis Dalam Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s