Pengaruh Perkembangan Jiwa Anak Saat Ditinggal Ibu Bekerja

1. Pendahuluan

Saat ini, jumlah wanita yang bekerja sudah hampir seimbang dengan jumlah pria. Pengaruh industrialisasi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong terjadinya perubahan peran sosial-budaya dari kaum wanita. Apabila dulu jenis pekerjaan yang dapat dan boleh dilakukan oleh para wanita masih sangat terbatas. Namun sekarang kondisinya sangat leluasa hingga dapat ditemukan wanita yang mampu mengerjakan segala jenis pekerjaan. Bila zaman dahulu karir wanita sudah berhenti sebelum mencapai posisi menengah maupun puncak, namun zaman seperti sekarang ini sudah banyak ditemukan wanita menduduki jabatan yang justru lebih tinggi daripada pria.

Gejala semacam ini patut membesarkan hati oleh sebagian pihak karena memang dari dulu sudah timbul aspirasi wanita untuk dapat mengembangkan potensinya sampai batas tertinggi. Terlebih lagi kebiasaan dan berbagai norma kebudayaan jangan sampai menghambat wanita untuk dapat berkembang sebagaimana halnya kaum pria. Nampaknya saat ini aspirasi kaum wanita sudah hampir menjadi kenyataan.

Sementara itu, timbul persoalan baru yang khas, siapa yang akan menggantikan peran ibu di rumah jika ia pergi bekerja?

Masalah yang berkaitan dengan ketidakadaan seorang ibu di rumah, pengurusan dan perawatan anak-anaknya masih dilimpahkan kepada mereka yang masih kerabat dekatnya. Tetapi sekarang keadaannya berbeda secara struktur keluarga, terutama di kota-kota besar, struktur keluarga sudah mulai berubah dari struktur keluarga besar ke keluarga inti (kecil) sehingga tidak biasa lagi antar kerabat untuk diajak tinggal bersama.

Menghadapi realita seperti inilah, menuntut semua masyarakat untuk sedapat mungkin bisa menyediakan sesosok orang yang mampu menjalankan profesinya mendampingi sang anak tersebut. Itu berarti harus tersedia wadah pendidikan yang dapat mengasuh dan mendidik mereka bagi mereka yang berminat menjalankan profesi tersebut.

2. Proses perkembangan anak

Berikut akan diuraikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak dari segi psikologis. Kesemuanya itu tak lain ditujukan agar dapat merancang program pendidikan yang bermanfaat bagi mereka yang betugas mendampingi anak yang ditinggal sang ibu bekerja.

Proses pertumbuhan dan perkembangan anak umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor hereditas / bawaan yang dimiliki oleh anak, sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan yang meluputi faktor belajar dan latihan. Proses tumbuh kembang yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik ialah yang menyangkut proses menjadi matang (maturation) dan menyebabkan perubahan dimensi fisik pada diri anak. Proses kematangan (maturation) ini biasanya tergantung oleh sifat gen sebagai faktor yang membawa sifat keturunan. Sedangkan proses tumbuh kembang yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik, seperti faktor belajar, akan terjadi melalui pengalaman-pengalaman empirik, bisa melalui pendidikan formal, atau bisa pula terjadi secara tidak disengaja.

            1. Ciri-ciri perkembangan anak usia 0 – 2 tahun (masa bayi)

Secara fisik, seorang anak pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Tinggi dan berat badan si bayi cepat sekali bertambah, begitu pula kemampuannya di bidang motorik (pergerakan) nya. Sebelum usia dua tahun, anak-anak sudah dapat berjalan, berlari, bahkan melompat. Keseimbangan tubuhnya makin lama makin baik walaupun kemungkinan sering jatuh, menabrak dan lain sebagainya masih tetap ada.

Salah satu aktivitas fisik yang sering dilakukan pada masa ini adalah bermain, sebab bermain merupakan kegiatan yang amat menyenangkan bagi mereka. Oleh sebab itu, aktivitas bermain ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana mendidik anak mengenai berbagai hal. Dengan kata lain, melalui bermain anak dapat dicerdaskan dapat dikembangkan alam perasaannya, dapat diperkaya alam fantasi dan kreativitasnya. Namun manfaat utama dari kegiatan bermain ini adalah untuk menggembirakan anak sambil melatih kemampuan motoriknya, yakni menyangkut latihan otot-otot berikut koordinasinya.

Selanjutnya dari segi mental, anak-anak pada usia 0 – 2 tahun juga berkembang pesat. Perkembangan mental amat erat kaitannya dengan perkembangan berbicara dan bahasa. Sebelum umur satu tahun, anak tersebut sudah mulai mencoba bersuara dan berkata-kata. Merangsang perkembangan berbicara berarti merangsang perkembangan kecerdasan. Perkembangan mental amat dipengaruhi oleh perkembangan panca indera. Jadi melatih kemampuan pendengaran, penglihatan, penciuman dan lain sebagainya sejak usia dini amatlah dianjurkan.

Kemudian dari segi sosial-emosional, perkembangan seorang anak belum begitu menonjol, kecuali bahwa hendaknya ia memperoleh pengalaman sosial yang menyenangkan dengan orang dewasa dalam keluarganya. Ia hendaknya merasa aman berada di antara keluarganya. Apabila ia memperoleh kasih sayang dan kelembutan (love and tender care) dari lingkungan sosialnya, maka dasar-dasr suatu sikap (attitude) sosial yang positif telah terbentuk. Namun proteksi (perlindungan) atau pemanjaan yang berlebihan justru akan merusak perkembangan sikap sosial selanjutnya.

2. Ciri-ciri perkembangan anak usia 3 – 5 tahun (masa prasekolah / balita)

Secara fisik, seorang anak pada masa-masa ini terjadi penguatan otot-otot dan peningkatan kemampuan koordinasi sensorimotorik, artinya anak sudah mulai mampu melakukan gerakan yang lebi halus dan mengatur kerjasama antara mata dengan tangan dan kakinya. Pada masa balita ini, anak terlihat selalu bergerak dengan amat lincah. Bagi mereka, bergerak berarti memperoleh kesenangan walaupun bagi orang dewasa menganggapnya gerakan ini seolah-olah tanpa tujuan. Selain penguatan otot kasar dan tulang-tulang, terjadi juga penguatan otot-otot halus, sehingga pada masa prasekolah, anak sudah mampu mengerjakan gerakan yang sulit, seperti menulis, menggambar, menguntai dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan perkembangan mentalnya, masa-masa ini adalah masa-masa bertanya bagi mereka. Sebab anak balita memiliki rasa ingin tahu yang tak terpuaskan tentang segala sesuatu yang terdapat di sekelilingnya. Dan juga pada usia ini adalah usia berfantasi / bergaul, berimajinasi, bermain-main, bercanda dan berpura-pura.

Dari segi bahasa, terjadi perkembangan yang sangat menonjol yang dibuktikan dengan penguasaan perbendaharaan kata-katanya yang sudah cukup kaya serta diiringi dengan kemampuan membuat kalimat dengan tata bahasa yang cukup tepat. Makin banyak teman sebaya yang diajak bercakap-cakap maka makin baik pula perkembangan bahasanya, demikian juga bila ia sering dibacakan cerita atau membaca buku. Sehingga minat terhadap ilmu pengetahuan sudah dapat mulai dirangsang.

Selanjutnya, dari segi perkembangan sosial-emosional, pada masa tersebut sang anak sudah dapat dididik untuk berdisiplin walaupun dalam batas-batas tertentu yang ditentukan dengan kemampuan anak. Pada masa ini, pertama kali terbentuk “pribadi” anak sebagai sebuah unit yang disadari oleh anak, atau dalam bahasa psikologinya lebih dikenal dengan sebutan egosentris. Agar pribadi ini, atau yang biasa disebut “aku”nya anak dapat berkembang dengan baik, ia perlu diakui dan dihargai. Kepercayaan akan dirinya akan mulai muncul jika orang dewasa memberi “support” (semangat) ada anak tersebut. Namun yang perlu diingat, memberi support bukan berarti memanjakan anak.

Pada masa prasekolah ini pula anak sudah mulai menunjukkan kebutuhan untuk berkawan sehingga penanaman akan norma-norma sosial bisa dimulai. Usia 3 – 5 tahun merupakan usia dimana anak dapat dilatih untuk membedakan baik dan buruk.

  3. Ciri-ciri perkembangan anak usia 6 – 12 tahun (masa Sekolah Dasar)

Perkembangan anak pada masa ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai masa-masa / usia yang cukup tenang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang dewasa –terutama pendamping anak- mendidik dengan menyeimbangkan antara bermain, belajar dan istirahat bagi mereka. Aktivitas belajar misalnya, orang dewasa perlu membantu anak mengembangkan disiplin belajar yang akan sangat membantu bagi keberhasilan belajar selanjutnya.

Anak pada usia 6 – 12 tahun suka sekali menjelajah kesana kemari, seperti suka bermain agak jauh dari rumah. Mereka juga suka sekali berkawan hingga sering meninggalkan rumah.

  4. Ciri-ciri perkembangan anak usia 13 – 18 tahun ( masa remaja)

Pada masa ini, sang anak mulai dihadapkan dengan berbagai masalah dan cobaan. Maka tak jarang masa-masa ini disebut-sebut sebagai masa penuh gejolak. Kadang-kadang mereka bertengkar dengan orang tua, sering terganggu komunikasi antara anak dengan orang tua. Kecenderungan berkelompok dan kegiatan bersama dengan teman seumurannya makin menonjol. Anakpun makin sering keluar rumah dan beberapa diantaranya sudah mulai mempunyai pasangan (pacar).

3. Peran orang tua pendamping

Perkembangan zaman yang semakin kompleks seperti saat ini nampaknya menuntut tumbuhnya suatu perubahan dalam pribadi seseorang. Begitu pula dengan bertambahnya sebuah profesi baru yang dinamakan “surrogate mother” atau ibu pendamping. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa peluang pekerjaan yang diperuntukkan bagi wanita semakin hingga kesulitan untuk mengatur waktunya bagi buah hatinya di rumah. Maka menuntut pula keberadaan seorang ibu pendamping untuk mengganti perannya mengurus anak. Nah, tugas utama ibu pendamping adalah mengasuh anak selama ditinggal ibu bekerja.

Sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu diperdebatkan lagi bahwa tanggung jawab mengasuh anak sesungguhnya terletak di bahu seorang ibu, walaupun tanggung jawab tersebut juga harus dipikul oleh seorang bapak. Kewajiban ini harus dilaksanakan sebab proses tumbuh kembang anak memerlukan pendamping, pengawasan dan suri taudanan dari orang tuanya.

Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda-beda dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Di dalam pola asuh tersebut, interaksi (hubungan timbal balik) antara anak dengan orang tua akan tertata dengan baik. Disamping tersampainya keinginan anak kepada orang tua, interaksi yang kondusif juga akan membentuk akhlak dan moral sang anak melalui didikan yang positif, seperti anjuran, larangan maupun pengendalian aktivitas anak.

Setiap orang tua pastilah menyadari akan kewajiban ini, membina dan mendidik anaknya supaya bertanggung jawab dan menghormati nilai-nilai di masyarakat dan  memenuhi kebutuhan sang anak, mulai dari kebutuhan akan makanan dan pakaian yang merupakan kebutuhan yang bersifat fisik-biologis sampai pada pendidikan, pemberian rasa aman dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang merupakan kebutuhan yang bersifat psikologis-sosial. Maka lama-lama orang tua secara langsung ataupun tidak langsung berusaha memenuhi kebutuhan anaknya.

Namun tidak semua kebutuhan sang anak dapat dipenuhi oleh ibu kandungnya disebabkan sang ibu sedang bekerja, walaupun keberadaannya di samping anak tidak tergantikan. Maka disinilah peran penting seorang ibu pendamping dalam menggantikan posisinya sebagai ibu sejati. Berikut ini beberapa kriteria seorang ibu pendamping yang ideal bagi anak:

  1. Memiliki watak yang baik dan kepribadian yang sehat.
  2. Mempunyai minat untuk merawat dan mendidik, walaupun yang dirawat dan dididik itu adalah anak orang lain.
  3. Memiliki latar belakang pendidikan umum yang cukup memadai dan telah memperoleh pendidikan khusus membina anak dalam keluarga.
  4. Beberapa ilmu yang dikuasainya antara lain mengenai: kesehatan anak, pendidikan anak dalam keluarga, dan psikologi perkembangan yang meliputi tentang proses tumbuh kembang anak hingga etika sopan santun agama.
  5. Pandai berkomunikasi dengan anak dan keluarganya, berani mengutarakan pendapat dan mampu bermusyawarah dengan orang tua mengenai hal-hal yang pelu disepakati bersama atau dicarikan jalan keluarnya bersama. Dalam kata lain, ia mampu menjalin hubungan baik dengan seluruh anggota keluarganya.
  6. Sadar akan posisinya sebagai seorang pendamping anak yang profesional sehingga tidak dianggap sebagai baby sitter biasa apalagi pembantu rumah tangga.

Dengan begitu, sang ibu sedapat mungkin tetap menjalankan tugasnya dalam mengasuh anak kandungnya dan tidak membiarkan ibu pendamping mengambil seluruh kasih sayang anak hingga mengurangi kualitas hubungan anak dengan ibu kandungnya.

 

Iklan

GANJARAN YANG DIRAIH DALAM SHALAT TARAWIH PADA BULAN RAMADHAN

Menurut Ali bin Abi Thalib RA, yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibadah shalat tarawih di bulan puasa, Allah menjanjikan:

Malam ke-1: Allah menghapuskan dosa-dosanya seperti sang bayi yang baru lahir dari perut sang ibu.

Malam ke-2: Allah menghapuskan dosa-dosanya dan dosa-dosa kedua orang tuanya jika mereka mukmin.

Malam ke-3: Malaikat dari Arsy mohon kepada Allah agar diterima ibadah hamba-Nya serta dihapuskan dosa-dosanya yang telah lewat.

Malam ke-4: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang yang membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.

Malam ke-5: Diberikan pahala seperti pahala orang yang mengerjakan shalat di Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, serta Masjidil Aqsha di Palestina.

Malam ke-6: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang  yang tawaf di Baitul Makmur. Serta seluruh batu dan bata pada bangunan itu memintakan ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Malam ke-7: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang yang ikut Nabi Musa AS melawan Fir’aun dan Haman.

Malam ke-8: Diberikan pahala seperti pahala yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim AS.

Malam ke-9: Akan diberikan pahala sesuai dengan ibadah seorang Nabi.

Malam ke-10: Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Malam ke-11: Akan dihapuskan dosa-dosanya bila telah meninggal sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya.

Malam ke-12: Pada hari kiamat, orang tersebut akan dibangkitkan dengan muka yang cemerlang seperti bulan.

Malam ke-13: Pada hari kiamat, orang tersebut akan terbebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.

Malam ke-14: Para malaikat akan memberikan kesaksian shalat tarawihnya dan Allah tidak menghisabnya lagi.

Malam ke-15: Akan diberi shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy dan Kursi.

Malam ke-16: Akan mendapatkan tulisan “selamat” dari Allah, dimasukkan ke dalam surga dan terbebas dari api neraka.

Malam ke-17: Akan diberikan pahala sesuai dengan pahala para Nabi.

Malam ke-18: Malaikat akan memohon kepada Allah agar dia dan orang tuanya selalu mendapat restu.

Malam ke-19: Allah akan mengangkat derajatnya ke Firdaus (surga tertinggi).

Malam ke-20: Akan diberikan pahala seperti pahala yang diperoleh para syuhada’ dan shalihin.

Malam ke-21: Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya di surga.

Malam ke-22: Akan dihindarkan dari rasa takut yang amat sangat sehingga akan merasa aman dan bahagia di hari kiamat.

Malam ke-23: Allah akan membuatkan sebuah kota di dalam surga.

Malam ke-24: Allah akan mengabulkan 24 permohonan hamba-Nya selagi masih hidup di dunia.

Malam ke-25: Akan dibebaskan dari siksa kubur.

Malam ke-26: Allah akan mengangkat derajat amal kebaikannya sebagaimana derajat amal kebaikannya selama 40 tahun.

Malam ke-27: Akan melewati shiratal mustaqim secepat kilat.

Malam ke-28: Akan dinaikkan derajatnya seribu kali oleh Allah di surga kelak.

Malam ke-29: Allah akan memberi pahala sebagaimana orang yang melakukan ibadah haji seribu kali diterima oleh Allah (haji mabrur)

Malam ke-30: Allah akan menyuruhnya memakan semua buah-buahan di surga, minum air di telaga al-kautsar, mandi air salsabil. Karena Allah Rabbnya dan dia adalah hamba Allah yang setia.

Metode Tanya Jawab Dalam Proses Belajar Mengajar

Guru Bertanya

Seorang Guru Bertanya Kepada Siswanya

Tanya jawab adalah salah satu metode pengajaran yang paling sering dipakai dalam mengajarkan pelajaran Agama dan pelajaran non eksak lainnya. Hal ini mengingat pelaksanaannya yang sederhana, artinya tidak terlalu banyak biaya atau fasilitas yang diperlukan seperti metode proyek karyawisata, sosiodrama, dan lain sebagainya. Namun metode ini mempunyai banyak sekali manfaat, yaitu:

1. Untuk meninjau pelajaran yang lalu (melalui metode ceramah).

2. Melatih siswa untuk berani mengemukakan atau menanyakan sesuatu yang menurutnya tidak/kurang jelas

3. Untuk mengarahkan pemikiran siswa ke suatu kesimpulan (generalisasi).

4. Membangkitkan perasaan ingin tahu dan ingin bisa pada diri siswa.

Berdasarkan manfaat tersebut yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan kembali bahwa: Pertama, seorang guru ketika mengajar dapat melihat umpan balik dari siswa yang akan memudahkan baginya untuk mengevaluasi dan menentukan tindakan selanjutnya. Kedua, bagi siswa, di samping menjadi aktif dan berani mengemukakan buah pemikirannya, merekapun juga semakin bertambah kreatif.

Disamping itu, semua para ahli menggambarkan tentang pentingnya metode tanya jawab dalam proses belajar mengajar, yaitu:

1. Bertanya dengan baik berarti mengajar dengan baik.

2. Seni/strategi mengajar adalah seni/strategi menuntun pertanyaan.

3. Berpikir itu sendiri adalah bertanya.

4. Pertanyaan yang sudah tersusun baik sebenarnya sudah sebagian terjawab.

Dan masih banyak manfaat lain dari metode tanya jawab tersebut. Namun yang menjadi permasalahan sekarang, bagaimana tanya jawab itu bisa berjalan dengan baik dan efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan? Atau sejauh manakan efektivitas pertanyaan yang telah dilaksanakan?

Proses belajar yang efektif bisa ditimbulkan oleh pertanyaan yang efektif. Kenyataannya pun membuktikan demikian. Namun metode ini sering ditemukan berbagai hambatan dan kelemahan yang tidak diinginkan, baik dari segi pendidik, siswa dan efisiensi waktu. Untuk itu, kepada para pendidik diharapkan:

1. Adanya pengertian tentang eksistensinya di dalam kelas.

2. Memahami peranan pertanyaan saat proses belajar berlangsung.

3. Menguasai teknik mengajukan pertanyaan.

Agar pertanyaan yang diajukan menjadi efektif, dibutuhkan penguasaan keterampilan dasar sebagai berikut:

1. Phrasing

Phrasing adalah menyusun kalimat tanya yang jelas dan singkat. Dan hendaknya hindari pertanyaan yang bisa mengaburkan pikiran siswa. Juga kata-kata yang dipakai disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa.

2. Focusing

Focusing adalah memusatkan perhatian siswa ke arah jawaban yang diminta oleh sang penanya (pendidik). Ini menyangkut tingkat scope pertanyaan dan aspek jumlah tugas dari pertanyaan. Yang diminta adalah respon tunggal, bukan respon ganda.

3. Pausing

Pausing adalah memberi kesempatan sejenak kepada siswa untuk menyusun jawabannya. Ini disebabkan adanya perbedaan siswa dalam kecepatan merespon dalam berpikirnya (persepsi). Sehingga cara ini memperhatikan perbedaan individual.

4. Reinforcement

Reinforcement yaitu teknik memberi hadiah atau dorongan yang dikehendaki siswa. Hadiah ini bisa berupa ucapan-ucapan atau pesan fissi seperti senyuman dan anggukan kepala, dan lain sebagainya.

5. Promting

Promting adalah memancing siswa dengan pertanyaan lain agar terbimbing dalam menemukan jawaban dari pertanyaan pertama. Cara ini dapat ditempuh dengan cara:

  • Menyusun pertanyaan baru, tapi maksudnya sama.
  • Menjelaskan pertanyaan tersebut dengan contoh-contoh konkrit.
  • Menyederhanakan pertanyaan.
  • Menurunkan tingkat kesukaran dari isi pertanyaan.

6. Probing (pelacakan)

Yaitu mengajukan pertanyaan yang bersifat melacak. Guru mengikuti respon siswa kemudian merangsang siswa untuk memikirkan jawaban yang telah mereka ajukan dengan maksud untuk mengembangkan jawaban pertama tadi agar lebih jelas, akurat dan original.

Apa yang disebutkan pada point-point diatas sebenarnya tidak begitu sulit untuk dilaksanakan, hanya saja tumbuhnya kesadaran dalam bertanya dan menjawab inilah yang kadang-kadang sulit. Namun dengan berangsur-angsur mencoba, Insya Allah akan berjalan secara otomatis pada diri kita. Semoga ada manfaatnya, bisa dicoba dan diterapkan.

Sumber: Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”. Edisi 171, Oktober 1985.

TRADISI MASYARAKAT JAWA PADA BULAN SAFAR

Bulan Safar menurut penanggalan Islam merupakan bulan kedua dalam kalender hijriyah. Tidak ada amalan ibadah khusus yang dicontohkan oleh Rasulullah saw di bulan ini sebagaimana di bulan-bulan lain. Hanya saja, bulan ini menurut anggapan masyarakat awam memiliki karakteristik yang sangat unik dan sarat dengan mitos sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi orang-orang yang belum tahu. Banyak tradisi atau kepercayaan nenek moyang yang saat sekarang masih dipertahankan dan dilestarikan yang dikaitkan dengan beberapa peristiwa yang muncul di bulan ini. Cukup banyak yang harus dikaji tentang tradisi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat kita yang begitu konsisten mempertahankan budaya dan kepercayaan masing-masing yang diwariskan nenek moyang pada zaman dahulu.

1. Mitos hari sial

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa umumnya, sifat bulan safar hampir sama dengan bulan sebelumnya yang merupakan kelanjutan dari bulan Suro (Muharram). Bulan ini diyakini sebagai bulan yang penuh bencana, bala’, malapetaka dan kesialan. Mayoritas masyarakat jawa hingga saat ini masih mempercayai bahwa bulan ini dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan.

Tidak hanya masyarakat Jawa saja tentunya, bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia pun juga masih beranggapan yang sama terhadap bulan ini. Seperti contoh Bangsa Yunani kuno, yang telah menganggap bulan safar adalah bulan yang secara mitos sebagai bulan sial yang tidak baik untuk melakukan segala aktivitas, sehingga mereka menunda atau menyegerakannya. Bangsa arab pun juga beranggapan demikian, bulan ini dijuluki dengan istilah dabbar (hari kebinasaan dan kerusakan). Sebab pada zaman peradaban awal bangsa Arab telah terjadi serentetan peristiwa na’as pada hari rabu pada bulan ini, seperti dihancurkannya kaum ‘Aad, ditumpasnya kaum Tsamud, dan tenggelamnya Raja Fir’aun pada zaman Nabi Musa as.

Masyarakat Jawa sendiri yang beraliran kejawen, menganggap hari rabu legi pada bulan safar dianggap sebagai hari yang jelek sekali sehingga tidak boleh dibuat bepergian, dan hari rabu pahing yang dipercaya sebagai dina taliwangke yaitu hari yang sebaiknya disirik.

Di kalangan umat Islam sendiri masih meyakini bahwa ketidakberuntungan bulan ini disebabkan karena Al-Qur’an menyinggung tentang perihal hari na’as, seperti yang telah disebutkan dalan QS Fushilat ayat 16, QS. Al-Haaqah ayat 7 dan QS Al-Qamar ayat 19. Para mufassir (ahli tafsir hadits) banyak menafsirkan bahwa hari rabu berdasarkan hadits mauquf riwayat Thabrani merupakan hari na’as. Kemudian dipertegas dengan karena adanya sabda Rasulullah yang berbunyi, “Barangsiapa yang memberikan kabar gembira kepadaku tentang telah berlalunya (bulan) safar, maka aku akan memberi mereka berita gembira tentang surga yang akan dimasukinya”.

Walaupun sekilas dapat dimaknai bahwa Rasulullah juga tidak menyukai bulan safar karena ketidakberuntungannya, tetapi sebenarnya makna dari hadits tersebut bukan seperti itu. Menurut riwayat yang lain, Rasulullah mengatakan seperti itu lantaran diberitahu oleh Allah bahwa beliau akan dipanggil oleh-Nya pada bulan sesudahnya (Rabi’ul Awal). Untuk itu, Rasulullah memberitahu ummatnya bahwa beliau menanti tibanya bulan Rabi’ul Awal sebagai bulan yang dinanti-nanti keberkahannya dengan dipertemukannya dengan Allah swt melalui perantara kematian.

Jadi, sebenarnya sudah ada pemahaman tentang hari na’as di sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Terbukti dengan berkembangnya hitungan hari sebagai langkah ikhtiar supaya mendapat keberuntungan, baik dalam kosmologi kejawen, Arab dan Bangsa Maya. Hanya saja, banyak terjadi penyimpangan perilaku di dalamnya yang mengarah pada kesyirikan dan menafikan pengaruh takdir Allah. Dan tak jarang sebagian orang mempercayai bahwa hari punya roh, punya kekuatan dan punya pengaruh sendiri yang berdampak pada perubahan kondisi pada hari itu. Hal inilah yang dapat membahayakan aqidah umat sehingga perlu diluruskan.

2. Tradisi Rebo Wekasan

Rebo wekasan (istilah masyarakat Jawa Timur), Rebo Pungkasan (istilah Yogya dan Jawa Tengah), dan Rebo Kasan (istilah Sunda Banten) adalah sebutan untuk hari rabu minggu keempat pada bulan safar. Rebo (rabu) merupakan hari ketiga dalam sepekan. Sedangkan wekasan adalah istilah yang berasal dari akar kata wekas yang berarti “pesan” atau “wanti-wanti”. Kemudian istilah pungkasan berasal dari akar kata pungkas yang berarti “akhir”. Yang terakhir, kasan adalah kata yang berasal dari kedua istilah diatas dengan menghilangkan suku kata di depannya.

Menurut Sarjana Belanda, Pyper, dalam bukunya yang berjudul “Beberapa Aspek Tentang Sejarah Islam Indonesia Abad ke-19” menyebutkan sejak awal abad ke-17, tradisi ini sudah muncul di masyarakat muslim, khususnya di Aceh, Sumatera Barat dan Jawa. Masyarakat Cirebon misalnya, mempercayai bahwa ritual rebo pungkasan digagas oleh Sunan Kalijaga dan disetujui oleh Sunan Gunung Jati, bermula dari peristiwa dieksekusi matinya Syekh Lemah Abang/Syekh Siti Jenar di Masjid Agung Cirebon karena telah menyebarkan paham sesat “wihdatul wujud” (bersatunya Allah dengan manusia). Saat dieksekusi, dari mulut Syekh Siti Jenar keluar sumpah serapah yang tidak mengenakkan. Kemudian untuk ngemong murid-murid Syekh Siti Jenar, dibuatlah tradisi sedekah dengan membagikan kue apem kepada tetangga-tetangga.

Di beberapa tempat pula, misal dari kalangan Islam Sufiyah atau di pondok-pondok pesantren Salaf pada saat memasuki bulan safar, didapati mereka tengah sibuk melakukan tirakat dan bershadaqah hingga bulan tersebut berlalu. Kemudian pada puncaknya yakni pada hari rabu akhir bulan Safar, mereka melaksanakan shalat sunnah hajat untuk memohon kepada Allah agar dijauhi dari bala’ bencana. Kemudian mereka melanjutkan agenda dengan melakukan ritual mandi dan minum air barokah, atau air yang sudah dicampur dengan doa-doa atau rajah-rajah tertentu. Walaupun banyak kalangan yang meyakini tradisi seperti ini merupakan bid’ah yang tidak diajarkan oleh Nabi, tapi masih banyak pula yang meneruskan dan melestarikannya.

3. Bulan safar perspektif Islam

Islam adalah agama rahmat yang tidak berdasarkan asumsi dan anggapan apalagi ramalan semata, sehingga sangat tidak benar bahwa bulan safar adalah satu satunya bulan yang penuh kesialan dan malapetaka. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui takdir manusia sehingga Allah-lah yang berhak memberikan kemujuran dan kesialan terhadap manusia yang Dia kehendaki, bukan melalui hari maupun bulan apapun. Justru dengan hadirnya mitos hari sial tersebut, orang akan semakin mendekatkan diri kepada Allah swt dan dapat meningkatkan takwa kepada-Nya.

Sial menurut kacamata syari’at adalah etika yang jelek, tempat yang tidak mendatangkan berkah dan apa yang menjadi sumber bencana. Kekufuran dan kemaksiatan adalah sial, bahkan ada yang berpendapat bahwa setiap apa-apa yang melalaikan dan memalingkan dari Allah swt adalah sial. Namun sial secara syara’ secara khusus juga dimaknai sebagai akibat dari ditimpanya bala’ bencana. Jadi kesialan tidak dikhususkan bagi bulan atau hari yang dianggap sial saja, tapi Allah juga berhak menimpakan kesialan dan bala’ pada hari-hari selain bulan safar dan hari rabu menurut apa yang Dia kehendaki. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw yang artinya:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada hammah (ruh dan jiwa manusia berada pada burung saat meninggal), tidak ada tathayyur (mengundi nasib dengan burung), tidak ada kesialan pada bulan shafar dan tidak ada ‘adwa (penularan)”. (HR. Bukhari Muslim)

Semua bulan menurut Islam adalah baik, tidak ada bulan maupun hari yang dianggap buruk karena semua itu adalah asumsi dan anggapan semata dari manusia. Manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang hari na’as maupun hari mujur. Bahkan Allah swt dengan tegas menyebutkan bahwa bala’ bencana yang terjadi justru akibat dari perbuatan manusia itu sendiri, bukan karena hari sial atau semacamnya, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka sehingga datanglah janji Allah” (QS. Ar-Ra’d :31)

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41)

Malapetaka, bencana dan bala’ menurut Islam justru dapat dicegah dengan memperbanyak amalan sedekah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Artinya: Diriwayatkan dari Ali ra. Dalam hadits marfu’: “Bersegeralah sedekah karena bala’ tidak akan melangkahinya” (HR Thabrani).

Umat Islam dianjurkan untuk berdoa dan memperbanyak amalan shalat sunnah di setiap waktunya. Tidak hanya di bulan safar saja, namun juga di bulan-bulan yang lain, sebab melalui do’a-lah takdir Allah dapat diubah. Para wali songo pun sudah mengajarkan tradisi yang Islami bagi masyarakat Jawa seperti sedekah, shalat hajat, berdiam diri di masjid dan berdoa sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian, maka akan semakin menyadarkan manusia supaya mereka yakin bahwa semua kemujuran dan kesialan adalah sepenuhnya berada pada genggaman takdir Allah swt dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Wallahu A’lamu Bishawab.

TRAGEDI RUSAKNYA PEMIKIRAN BARAT MELALUI PAHAM SEKULARISME

Dunia Islam dewasa ini sedang mengalami suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sepanjang sejarahnya. Krisis ini ditimbulkan oleh benturan peradaban Barat terhadap dunia Islam. Keadaan ini dimulai ketika kekuatan-kekuatan imperialis Barat merencanakan strategi mereka yang halus dan licik ke arah penghancuran jiwa dan budaya, di satu pihak mereka menentukan nasibnya sendiri di antara umat Islam, dan di pihak yang lain dikenalkan dengan suatu sistem pendidikan yang bertujuan memperbudak pikiran umat Islam.

Betapa permusuhan dan diaturnya dengan baik strategi yang dibuatnya itu dapat dinilai, walaupun kita hanya memperhatikan laporan Macaulay (The Macaulay Report) tentang politik pendidikan di daerah jajahan Inggris, undang-undang yang disusun oleh kolonialis Perancis untuk menggerogoti Islam di Afrika dan politik tekanan imperialis yang dijalankan Belanda di Indonesia.

Kekuatan-kekuatan imperialis Barat melaksanakan strategi mereka dengan segala kebiadaban dalam pemerintahan mereka, sementara rencana imbangan (Counter Planning) umat Islam terbukti tidak dapat diharapkan dan tidak memadai dalam segala hal. Dan “hasil bersih” dari semua ini adalah walaupun sebagian besar daerah-daerah Islam telah memperoleh kembali kemerdekaan politik, Islam tetap belum mampu mendapatkan kemerdekaan kembali untuk dirinya sendiri secara hakiki. Islam masih tetap sebagai apa yang diperbuat oleh imperialis Barat, yaitu: suatu urusan / persoalan individu secara pribadi, sedangkan segala masalah bersama (all the collective problems) berada di bawah kekuasaan Barat. Sungguhpun proses westernisasi (pembaratan) masih terus berlangsung dengan tidak berkurang di seluruh dunia Islam. Hal tersebut agaknya mendapatkan momentum di kebanyakan daerah-daerah Islam sejak pengakhiran perbudakan politik.

Kebudayaan Barat, dalam satu segi adalah anak Islam (The Child of Islam). Tetapi dia adalah anak yang durhaka lantaran kemajuannya, seperti di bidang teknologi yang telah diambil alih oleh mereka yang secara diametral bertentangan dengan cara hidup Islam. Tiga babakan sejarah yang telah dilalui oleh peradaban sejak Reneisans antara lain: Sekularisme, materialisme dan komunisme, serta darah kehidupan inderawi (The Sensate Culture) yang lambat laun mengakibatkan keyakinan tentang tidak adanya Tuhan dan jiwa. Maka jelaslah bahwa darah ini apabila diinjeksikan ke dalam badan politik Islam hanya akan merupakan racun, bukan sebagai obat. Ada berbagai macam tragedi yang dialami oleh peradaban Barat, antara lain:

1. Melalui sekularisme ke komunisme

Sekularisme, materialisme dan komunisme adalah saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Dalam penafsiran hidup yang materialistis, tingkatan yang pertama dicapai oleh kebudayaan Barat adalah tingkatan tingkatan Sekularisme dimana negara dipisahkan dari gereja dan berbagai cabang ilmu pengetahuan dipisahkan dari kepercayaan kepada Tuhan. Tingkatan ini akhirnya membukakan pintu selebar-lebarnya bagi materialisme yang mengatakan bahwa segala realitas atau kenyataan yang hakiki semata-mata hanyalah materi.

Materialisme filosofi ini (philosophical materialism), setelah menembus / memasuki secara cukup ke dalam berbagai medan kehidupan Barat, mentransformir (mengubah) dirinya sendiri menjadi materialisme ilmiah (scientific materialism) di tangan Karl Marx yang pada abad ke-19 memberikan kepada dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, filsafat materialistis yang sangat sempurna dan agresif.

2. Pintu gerbang Kristen

Sekularisme berhutang budi kepada dua faktor. Pertama, agama Kristen yang menjadi satu-satunya agama di dunia Barat sejak beberapa abad yang lalu dan telah meletakkan sebuah kaidah, undang-undang dan hukum “Give unto Caesar what is Caesar’s and unto God what is God’s”, berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi miliknya (haknya), dan berikanlah kepada Tuhan apa-apa yang sudah menjadi miliknya (haknya).

Demikianlah agama Kristen telah membagi hidup manusia ke dalam dua bidang / bagian secara ketat. Salah satu dari padanya yaitu bidang / bagian spiritual yang dipegang oleh Tuhan, sedangkan yang lainnya yakni bidang / bagian kehidupan duniawi diletakkan di bawah bimbingan dan kekuasaan manusia.

Dengan cara ini, agama Kristen telah meratakan jalan bagi Sekularisme, ketika sebuah faktor baru menampilkan diri di atas panggung sejarah Eropa, suatu faktor yang membawa dogma Kristen sampai batas-batas inspirasi yang berakar pada permusuhan terhadap gereja Kristen, dan akibat-akibat yang muncul darinya adalah sangat suram dan kelam bagi kemanusiaan.

Faktor ini menimbulkan peperangan antara agama Kristen dengan kekuatan-kekuatan zaman “Pencerahan” (Enlightenment; Aufklarung) setelah masa Renesans di Eropa.

3. Pengaruh Islam

Sebagaimana para penyelidik sejarah mengetahui bahwa agama Kristen datang ke dunia ketika cahaya ajaran dan kebudayaan Yunani-Romawi sedang mengalami proses kehancuran, redup dan hampir mati. Tetapi jangankan menghidupkan api yang hampir padam supaya kembali tumbuh dan berkembang cahayanya, agama Kristen sejak kemunculannya malah justru memaklumatkan perang terhadap segala ajaran filsafat dan ilmiah, yang akibatnya adalah abad-abad antara pengenalan agama Kristen di Eropa dan munculnya Renesans yang oleh sejarawan-sejarawan Barat disebut-sebut sebagai “Abad-Abad Kegelapan (The Dark Ages)”.

Waktu demi waktupun berlalu, kegelapan yang dialami Eropa sedikit demi sedikit sirna ketika matahari Islam Memancar dari lembah Faran (Jazirah Arabia) yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Zaman tersebut disebut sebagai zaman pengetahuan modern (Inaugurated the Modern Scientific Area). Ulama-ulama dan sarjana-sarjana Islamlah yang menggali beberapa cabang ilmu pengetahuan dari bawah puing-puing kebudayaan yang telah mati, yakni kebudayaan Yunani, Romawi, Babilonia, Iran, India dan Cina.

Mereka menggali ilmu pengetahuan, mengklasifikasi, memperbaiki, dan mengembangkannya dan kemudian menyerahkannya ke Eropa melalui Universitas-universitas mereka di Baghdad, Kairo dan Spanyol. Dengan demikian jelaslah bahwa pendiri zaman Reneisans di Eropa sebenarnya adalah ajaran Islam dan guru-guru Islam yang melalui ajaran mereka dapat membangunkan orang-orang seperti Roger Bacon, Pope Syivester II dan lainnya.

4. Gereja versus Enlightenment (masa Pencerahan; Aufklarung)

Zaman Reneisans benar-benar merupakan benturan yang keras terhadap agama Kristen. Dan ketika agama Kristen memiliki kekuatan poliitk, dia memberikan reaksi dengan menggunakan segala cara, tak terkecuali dengan menaburkan racun yang berada di bawah kekuasaannya. Pemimpin Renesans dikejar-kejar dan sejumlah dari mereka dibakar hidup-hidup. Mereka dipaksa supaya menarik kembali pendapat-pendapat mereka. Bagi yang tidak mau, akan mengalami berbagai macam siksaan dan penderitaan.

Suatu Mahkamah pemeriksaan yang kejam didirikan. Maka akibat dari semua ini adalah para pemimpin Renesans bersumpah untuk menjadi musuh-musuh gereja Kristen. Permusuhan terhadap gereja ini segera berubah menjadi permusuhan terhadap agama Kristen. Kemudian berlanjut ke arah kebencian dan permusuhan terhadap semua agama yang pada akhirnya memuncak kepada kebenciannya terhadap Tuhan itu sendiri.

5. Sekularisme sebagai suatu dogma

Seorang ahli dan ilmuwan besar pertama yang bekerja meletakkan dasar-dasar sekularisme pemikiran Barat adalah Charles Darwin (1809-1882) dengan bukunya yang berjudul “Origin of the Species” atau Asal Dari Berbagai Macam Spesies. Dia mencoba untuk menerangkan fenomena biologis atas dasar sebab-sebab mekanis dimana kebutuhan untuk membutuhkan dan menguatkan Tuhan tidak diperlukan lagi.

Pendapat Darwin dalam bidang biologi itu diterapkan ke dalam ilmu Sosiologi oleh Huxley dan Helbert Spencer; ilmu Metafisika oleh Hume; ilmu Hukum, Moral dan Politik oleh Bentham, Mill dan Hobbes. Pemikiran tersebut terus berkembang dan sejak itu alam pikiran Barat semakin bertambah materialistis dan sekuler, sehingga dewasa ini paham Sekularisme telah menjadi kepercayaan yang menghujam jauh ke dalam pikiran dan hati sarjana-sarjana Barat. Sebagai contoh, seorang sarjana yang konservatif seperti Marshall mengatakan dalam hubungannya dengan ilmu Ekonomi:

“In Economics, we are concerned only with the economics facts and not with any ethical considerations”.

(dalam Ilmu Ekonomi, kita hanya mengurusi (berpegang) pada fakta-fakta ekonomis dan tidak pada pertimbangan-pertimbangan etis).

6. Berbagai Akibat Dari Sekularisme

Pemisahan berbagai aktivitas manusia ke dalam bagian-bagian yang terpisah secara ketat menimbulkan apa yang oleh para ahli ilmu jiwa disebut sebagai disintegration in the social order and dissosiation in the human personality (kehancuran dalam tata-sosial dan keretakan dalam kepribadian manusia).

Mengenai disintegrasi tata-sosial manusia, ada suatu dorongan hati yang menjadi dasar di dalam etos sosial manusia untuk bersatu dan manunggal (unity and coordination). Sekarang, dimana tidak ada wawasan yang menyeluruh (comprehensive outlook) atau dimana nilai-nilai spiritual tidak dipertimbangkan sebagai nilai tertinggi seperti yang terjadi di dunia Barat, aspek material dari kehidupan menjadi prinsip utama. Dan demikianlah materialisme menjadi titik awal dan akhir segala kehidupan (be all and end all of life).

Hal ini merupakan sebuah akibat yang dialami oleh Barat yang mana segmentasi ilmu pengetahuan dan fragmentasi kehidupan telah membawanya kepada sekularisme. Sekularisme telah membawanya kepada metrialisme, yang akhirnya menyeretnya menuju malapetala.

Mengenai dissosiasi dalam kepribadian manusia, yaitu kepribadian individu, dissosiasi ini menurut ilmu jiwa akan mengakibatkan disharmoninya fungsi-fungsi yang ujung-ujungnya akan menimbulkan neurosis (penyakit saraf). Neurosis ini selanjutnya akan meningkatkan volume kejahatan-kejahatan, termasuk bunuh diri. Hal inilah yang dewasa ini sedang diderita oleh sejumlah besar penduduk Barat sebagai bentuk akibat dari penyakit neurosis ini, dan prosentase orang-orang gila dan penjahat-penjahat adalah yang paling tinggi di negeri-negeri maju di dunia Barat. Keadaan ini terus berlanjut dan semakin memburuk seiring berjalannya hari dan waktu.

Apabila personality (kepribadian) manusia terpecah menjadi beberapa segmen dan tiap-tiap segmen diperlukan secara individual, maka hal ini adalah wajar adanya. Sebab kepribadian manusia yang berupa segmen fisik adalah sangat dekat dengan pengalaman manusia sehingga menjadi pusat dari kecintaan manusia (the centre of human love). Apabila segman fisik menjadi pusat kecintaan, maka sifat tamak akan muncul dan hasrat untuk mencapai sesuatu, termasuk kesenangan dan kenikmatan fisik menjadi cita-cita hidup manusia yang paling tinggi. Lantaran cita-cita ini tidak dapat dicapai tanpa menghilangkan aspek-aspek kepribadian seseorang dan merugikan kepentingan-kepentingan orang lain, maka kasus-kasus kriminalitas menjadi berlipat ganda, prosentase orang yang bunuh diri semakin meningkat, dan kehidupan menurut mereka sudah menjadi basi. Oleh karena itu, dunia Barat yang berdiri tegak berdasarkan paham sekularisme saat ini sedang berada di ujung tanduk dan dilematis, yakni dalam keadaan sangat sulit dan berbahaya. Lebih jelasnya, dunia Barat sedang berada diantara lingkaran setan dan lautan yang dalam (between the devil and the deep sea).

Inilah pendapat yang telah disuarakan dengan penuh gairah dan semangat oleh filosof sejarah modern terbesar, Arnold J. Toynbee dengan pendalulunya, Sprengler.

7. Timbulnya Komunisme

Apabila kita menganalisis konsep Sekularisme, kita menemukan dua aliran pemikiran yang mungkin, yaitu:

Pertama, suatu masyarakat yang mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan dan Agama, namun mereka memisahkan segala urusan-urusan duniawi mereka dari agama. Pandangan hidup inilah yang lebih lanjut kita kenal sebagai paham kapitalisme. Salah satu contoh negara yang memiliki paham ini adalah negara-negara demokrasi Barat semisal AS dan imitator-imitatornya.

Kedua, suatu masyarakat yang sama sekali tidak percaya terhadap Tuhan dan Agama, yang akibatnya mereka memiliki pandangan hidup yang sama sekali tanpa Tuhan dan sangat materialistis terhadap segala hal. Pandangan hidup ini lebih lanjut kita kenal dengan paham sosialisme dan komunisme. Salah satu contoh negara yang memiliki paham ini adalah negara Uni Soviet dan negara-negara komunis yang lain.

Namun demikian, paham sekularisme yang mentolerir Tuhan hanyalah merupakan sebuah langkah pendahuluan ke arah paham sekularisme tanpa Tuhan. Fakta ini telah dibuktikan dengan baik oleh sejarah. Seperti contoh, ketika agama kristen datang ke Eropa, imperium kristen yang tumbuh sebagai konsekuensi logisnya pada dasarnya bukanlah sekuler, namun justru teokratis. Kemudian datang suatu ketika fungsi-fungsi negara dan gereja dipisahkan dan negara-negara sekuler. Sekularisme ini lambat laun menggerogoti kekuatan-kekuatan agama dan moralitas yang prosesnya terus berlangsung hingga sekarang ini.

Sementara itu, anak kandung Sekularisme dilahirkan dalam bentuk Komunisme. Sekularisme yang mentolerir Tuhan diganti oleh Sekularisme yang membenci Tuhan. Adalah Karl Marx, pendiri Komunisme, tidak menginginkan membangun rumah-rumah setengah jadi (half way house). Dia menggiring Sekularisme dan mengangkatnya sampai ke titik puncak, yaitu “materialisme yang tidak kenal malu” atau “Scientific Materialism” (materialisme ilmiah).

Nampaknya Komunisme menjadi suatu doktrin ekonomi. Tetapi sesungguhnya ia bertujuan ke arah suatu filsafat hidup yang lengkap. Karl Marx yang telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap bukunya yang berjudul “Das Kapital” tidak memulai dengan problema-problema ekonomi, tetapi dengan kepercayaan falsafi. Dia memulai dengan membicarakan tentang Materialisme Dialektik. Dia menerapkan filsafat dialektikanya dengan fenomena sosial, yang membuat Materialisme menjadi awal dan akhir segala kehidupan (be all and end all of life). Dia memberikan filsafat yang membenci Tuhan, mencela agama dan memandang dengan rasa jijik terhadap nilai-nilai dan ide-ide yang ideal. Baginya, realitas yang sebenarnya hanyalah rasa lapar dan seks, dan menuntut untuk mendeduksikan segala sesuatu dari dua hal ini.

Inilah agamanya, dan inilah agama bagi setiap orang Komunis yang konsisten………..

Dengan demikian, makin jelaslah bahwa ada hubungan alamiah dan logis antara Sekularisme, Materialisme dan Komunisme.

8. Trinitas Baru Materialis (The New Materialist Trinity)

Seperti yang telah dikemukakan diatas, kebudayaan sekuler Barat Modern yang untuk tujuan-tujuan praktis adalah suatu kebudayaan materialistis dimana ide tentang ketuhanan hanya ia masukkan sebagai bagian yang irrasional. Bangsa-bangsa Barat telah banyak menganut Trinitas (Trinitarians) sejak beberapa waktu lamanya. Tetapi mereka telah mengganti arti Trinitas.

Makna trinitas pada mulanya adalah berasal dari ajaran Kristen, yakni God the father (Tuhan Ayah), God the Son (Tuhan Anak), dan God the Holy Ghost (Ruhul Kudus) menjadi Trinitas Sekularis 3W, yakni Wealth (Harta / Kekayaan), Wine (Arak / Anggur), dan Women (Wanita). Inilah Tuhan-Tuhan baru yang dipuja oleh kebudayaan Barat dewasa ini.

9. Dasar-Dasar Peradaban Barat

Keadaan diatas merupakan situasi yang dapat diamati dalam kehidupan praktis (practical life). Secara teoritis, berdasarkan suatu analisa falsafah hidup peradaban Barat menunjukkan bahwa dasar-dasar kebudayaan Barat tersebut adalah:

a. Wawasan metafisis: Materialisme

b. Wawasan psikologis: Sensasionisme; seni dan segala bentuknya membuktikan fakta ini dengan sangat meyakinkan.

c. Wawasan etis: Keenakan, kebebasan / liberal dan nafsu (Expediency and Lust).

d. Wawasan ekonomis: pemerasan terhadap kemanusiaan yang terbelakang (under development humanity). Walaupun cara yang dilakukan berbeda, baik kapitalisme maupun komunisme, namun itu tetap disebut pemerasan (exploiters) karena keduanya memperbudak manusia.

e.Wawasan politis: pertentangan rasional dan perbedaan warna kulit.

Sesungguhnya segala karakteristik atau ciri-ciri khas ini merupakan pernyataan dari “sesuatu” yaitu pandangan hidup yang materialistik.

10. Komunisme Sebagai Titik Puncak

Apabila kita mempelajari komunisme, kita menemukan ciri-ciri khas peradaban Barat ini telah dilipatgandakan sertaus kali dalam ideologi itu (Komunisme). Yang pertama, kebudayaan Barat sebagai “si kerdil”. Dan yang kedua, Komunisme sebagai raksasa.

Tetapi keduanya termasuk jenis yang sama. Sungguh, tanpa kebudayaan Barat Modern yang sekuler, paham Komunisme tidak akan lahir di dunia ini.

Sumber: Artikel “Islam dan Peradaban Barat” yang dikutip dari Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.

RUWATAN: SEBUAH AKULTURASI TRADISI JAWA-ISLAM DI BULAN MUHARRAM

Ruwatan, yang istilah ini sangat erat hubungannya dengan budaya jawa, merupakan salah satu dari berbagai tradisi kejawen yang oleh beberapa masyarakat asli jawa masih dilestarikan hingga saat ini. Namun uniknya, tradisi ini hingga sekarang masih mengundang permasalahan dan tak jarang menimbulkan pertentangan antara kalangan Islam dengan masyarakat jawa pada umumnya. Dari kalangan Islam sendiri meyakini tradisi ini terkesan sarat dengan aura kemusyrikan lantaran terdapat beberapa amalan yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam, sehingga dengan mudah memvonis bahwa tradisi ini adalah suatu yang baru dan diada-adakan yang tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Maka dari itu, di benak kita seakan-akan timbul tanda tanya besar tentang tradisi ruwatan ini.

Atas permasalahan yang timbul tersebut, maka sangat tidak arif kiranya apabila kita menilai tradisi ruwatan hanya dari satu perspektif saja, hanya mencari kelemahan tanpa mencari segi positif, begitu pula sebaliknya. Walaupun di kalangan umat Islam sangat menentang tradisi ini, tetapi sangat disayangkan dan terkesan agama Islam kurang memiliki toleransi apabila langsung menyimpulkan tradisi ini penuh kesyirikan dan bid’ah tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakang, sejarah munculnya serta tujuan historis dari tradisi ini. Ibarat gelas yang berisi air urine (seni), dalam membersihkannya tidak harus dengan memecah gelas, tapi cukup membuang air urinenya dan cuci gelas tersebut dengan menggunakan air bersih. Sehingga hal ini menimbulkan kesan perlunya kearifan kita dalam menghadapi budaya lokal, tidak hanya budaya jawa saja namun budaya yang dimiliki oleh masyarakat lain di Indonesia. Justru sudah menjadi tugas kita sebagai umat Rasulullah saw untuk mengkonstruk ulang budaya-budaya lokal agar sesuai dengan asas dan prinsip ajaran Islam diiringi dengan menanamkan iman dan aqidah kepada mereka melalui jalan dakwah Islam, lebih lanjut pada gilirannya masyarakat akan mengerti dengan sendirinya. Agar lebih mengetahui seluk beluk tradisi ruwatan ini, terlebih dahulu dijelaskan mengenai bulan Muharram menurut pandangan masyarakat Jawa, kemudian lebih lanjut memberikan pemahaman tentang tradisi ruwatan itu sendiri.

1.   Beberapa Tradisi Jawa Dalam Bulan Muharram

Dalam tradisi kalenderial jawa, bulan Muharram diistilahkan dengan bulan Suro. Akar dari kata “suro” ini berasal dari bahasa Arab “Asyura” yang berarti sepuluh. Maksud dari kata ini adalah pada hari kesepuluh di bulan Muharram, umat Islam dianjurkan melaksanakan amalan ibadah puasa sunnah yang disebut puasa Asyura. Karena begitu populernya kata asyura ini maka orang jawa menamai bulan Muharram tersebut dengan nama suro.

Cara menyikapi datangnya bulan ini antara umat Islam dengan masyarakat jawa sangat berbeda. Jika mayoritas umat Islam menyambutnya dengan banyak beribadah dan bersyukur sebagai bentuk kegembiraan atas datangnya bulan pertama dari tahun hijriyah ini dikarenakan banyak sekali keutamaan yang diperoleh di dalamnya. Tetapi bagi masyarakat jawa pada umumnya, bulan ini dianggap sebagai bulan yang penuh malapetaka dan kesialan. Hal ini dapat diperhatikan sekilas dari pemaknaan bulan ini yang bernama “suro”, kemudian seakan-akan beralih maknanya menjadi “soro” yang berarti sial. Karena bulan tersebut dianggap sial, maka masyarakat Jawa kuno menggelar berbagai macam ritual yang bertujuan agar mereka terhindar dari kesialan dan marabahaya yang terjadi di bulan tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan, bulan Suro ini bagi masyarakat Jawa adalah bulan yang dianggap penting dalam kalenderial Jawa sehingga perlu dikeramatkan. Adat-adat nenek moyang seperti pemberian sesaji ke punden-punden, nenepi dan tirakatan sebagai sarana pembuka tabir penyekat antara manusia dengan makhluk halus serta pembangkit aura benda-benda magis dan mistik dipusatkan pada bulan ini. Lebih lanjut masyarakat dihadapkan pada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar pada bulan ini, seperti melangsungkan akad nikah, membangun rumah dan masih banyak lagi.

Salah satu tradisi yang sering kita jumpai di lingkungan masyarakat Jawa pada bulan Muharram ini adalah ruwatan. Tradisi ini hingga sekarang masih diabadikan oleh sebagian masyarakat dan sering kita jumpai di beberapa daerah di Jawa, terutama di daerah jawa tengah dan jawa timur. Kebanyakan tradisi ruwatan ini diselenggarakan di lingkungan pemerintah, pabrik-pabrik, kampus-kampus, di pedesaan dan bahkan juga di tempat-tempat wisata.

2.   Ruwatan: Sejarah Dan Perkembangannya

Ruwatan diambil dari kata “ruwat” yang berarti merawat dan menjaga. Secara umum, ruwat diartikan sebagai usaha untuk mengembalikan kepada keadaan yang lebih baik dengan melakukan ritual pembuang sengkolo (kesialan). Membuang kesialan disini bisa berupa kesialan diri (pribadi), lingkungan, atau masyarakat. Adapun ritualnya bisa dengan mengadakan acara pagelaran pewayangan atau proses ritual untuk membuka aura diri.

Ruwatan untuk lingkungan, yang sering disebut sebagai mageri, proses ritualnya antara lain seperti memberikan daya magis pada lingkungan yang terdeteksi mengandung pengaruh gaib yang bersifat menahan, menolak atau memindahkan aura-aura gaib tersebut. Hal ini biasa dilakukan dengan menanam semacam tumbal seperti kepala kerbau atau kepala kambing. Proses ritual yang lain ialah memberikan pagar gaib yang bertujuan agar tidak dimasuki oleh orang yang berniat jahat, dan memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir dan mengurung makhluk halus.

Ruwat mempunyai asal-usul yang akar ceritanya berasal dari dongeng Hindu-Budha yang bersifat mitos. Konon, Bathara Guru dan permaisurinya yang bernama Dewi Uma ketika bercengkerama di atas laut Pemancingan dengan mengendarai lembu  Andhini. Suatu ketika, Bathara Guru berkeinginan untuk bersatu rasa. Tetapi Dewi Uma tidak mengizinkan, sehingga benih Bathara Guru tumpah ke lautan. Benih yang tumpah itu kemudian berubah wujud menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti yang dinamakan Bathara Kala. Raksasa ini selanjutnya naik ke tempat bersemayamnya para Dewa yang disebut Suralaya. Sesampainya di sana, raksasa meminta makanan dari manusia-manusia. Manusia-manusia ini dijadikan mangsanya Bathara Kala yang oleh Bathara Guru disebut manusia Sukerta dan Jalma Aradan. Manusia sukerta dan Jalma Aradan inilah yang nantinya dilakukan proses periwatan.

Pelaksanaan ruwatan biasanya diselenggarakan secara besar-besaran dengan mengadakan pagelaran wayang kulit, yang ceritanya telah diatur secara khusus bagi pelaksanaan ruwat, seperti Baratayuda, Sudamala, dan Kunjarakarma. Orang yang meruwat pun harus seorang dalang khusus yang mempunyai kemampuan dalam bidang peruwatan.

Sang anak –dengan sebutan anak sukerta– yang akan menjalani proses ruwat, setelah selesai pewayangan akan dilakukan siraman dengan air yang sudah dicampur dengan bunga tujuh rupa dan diiringi dengan pemotongan rambut untuk dihanyutkan di sungai. Kemudian dalang tersebut memberinya semacam rajah yang disebut rajah kalacakra. Rajah ini ditulis dalam huruf jawa melalui tirakatan khusus. Bagi orang tua yang kurang mampu, biasanya hanya mengundang dalangnya saja untuk meruwat anaknya tanpa mengadakan acara pewayangan. Si dalang hanya perlu bercerita tentang riwayat Dewa Kala sehingga prosesi peruwatan seperti ini disebut Dalang Kanda (dalang bercerita)

3.   Ruwatan Menurut Cara Pandang Islam

Bulan suro (Muharram) menurut Islam merupakan bulan yang terletak di awal tahun menurut penanggalan hijriyyah. Sudah menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia menggelar doa akhir tahun di penghujung bulan Dzulhijjah dan doa awal tahun di awal bulan Muharram. Di Indonesia sendiri, umat Islam dalam menghadapi bulan Muharram banyak menggelar berbagai macam acara –termasuk doa awal dan akhir tahun– dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, seperti istighosah, mujahadah, i’tikaf, pengajian dan berbagai acara lainnya di lingkungannya masing-masing (masjid, musholla dan semacamnya).

Pelaksanaan ruwat menurut tatacara Islam –tentunya dengan menghilangkan ritual-ritual yang mengundang kemusyrikan, namun tidak merubah makna essensialnya– yakni memohon keselamatan kepada Allah melalui pendekatan budaya seperti hal-hal yang mengandung unsur-unsur dan simbol-simbol dasar (pagelaran wayang kulit, siraman, potong rambut). Dengan demikian, disinilah letak kehebatan dakwah ulama-ulama terdahulu (wali songo tentunya) yang berusaha memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya setempat tanpa menghapus ajaran Islam yang pokok, sehingga dapat menarik perhatian masyarakat yang justru lama-kelamaan akan sadar dengan sendirinya atas kepercayaannya yang selama ini mereka peluk. Dalam satu sisi mereka menyebarkan agama Islam, namun di sisi lain mereka tidak berkeinginan untuk menolak apa yang telah menjadi tradisi mereka. Dengan itu, mereka melakukan dakwah dengan cara yang santun melalui beberapa inovasi dan konstruksivasi budaya nenek moyang yang sarat kesyirikan dan kejahiliyyahan yang kemudian diarahkan pada budaya yang tidak bertentangan dengan Islam.

Salah satu contoh yang lazim dilakukan dalam prosesi ruwatan ini adalah pengambilan air dari sumur tertentu yang sudah diberi larutan doa yang biasa dipakai oleh seorang kyai untuk siraman. Kemudian memotong rambut dan labuhan yang hanya sebatas simbol saja sebagai sarana penyucian diri sebagaimana seseorang yang bertaubat, mu’allaf ataupun simbol hijrah. Lalu pembuatan sesajen, yang ditaruh di punden atau tempat-tempat yang dianggap keramat untuk ditujukan kepada roh-roh halus, kemudian diubah menjadi sedekah. Jadi, walaupun namanya ruwat, tapi unsur-unsur di dalamnya telah terislamkan.

Meski masyarakat Jawa pada umumnya sudah mulai paham bahwasanya ruwatan merupakan tradisi yang sarat dengan tahayyul. Apalagi di zaman modern ini, pola pikir masyarakat yang sudah sangat berkembang dan maju menganggapnya acara semacam ini hanyalah dongeng belaka, namun mereka masih sangat berat meninggalkan tradisi yang unik ini karena sudah melekat erat dengan kebiasaan mereka selaku orang Jawa. Termasuk pagelaran wayang kulit selaku unsur penting dalam pelaksanaan ruwatan, yang oleh Sunan Kalijaga diubah inti ceritanya yang sarat dengan kebiasaan lama dan tahayyul untuk diganti dengan isi cerita yang lebih islami. Cerita tentang kepahlawanan dan karakter seorang tokoh, dewa-dewa dan berbagai cerita fiktif lainnya tidak serta-merta langsung dihilangkan. Misalnya pagelaran wayang kulit yang bercerita tentang Ramayana dan Mahabarata yang merupakan kisah yang lahir dari ajaran agama Hindu, kemudian di sela-sela cerita disusupi ajaran-ajaran tasawuf dan syari’at yang sesungguhnya termasuk agenda dakwah.

Wayang bukan hanya bernilai budaya semata, namun juga berfungsi sebagai alat komunikasi religius dan sarana dakwah Islam. Wayang juga bukan tontonan dan hiburan semata, namun  juga merupakan tuntunan yang harus diajarkan kepada penonton dalam pengarahan mindset masyarakat yang terkesan kaku menuju kepada kehidupan yang religius. Pagelaran wayang kulit juga dapat dijadikan sarana yang efektif untuk memasukkan doktrin dan ajaran-ajaran agama Islam. Maka dari itu, sudah menjadi tanggungan kita semuanyalah untuk meluruskan hal tersebut.

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

Pendahuluan

Pertanyaan yang selalu menjadi fokus pikiran orang tua dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan belajar adalah: “Bagaimanakah sebaiknya belajar itu dilakukan agar dapat berhasil dengan memuaskan?”.

Setiap orang tua ingin agar anaknya selalu sukses dan berusaha agar dapat menyelesaikan pelajarannya dengan baik. Guru-guru juga berusaha memberikan bantuan dan bimbingan kepada para siswanya agar mereka berhasil dalam pelajarannya. Alangkah sedihnya jika seseorang yang mengenyam pendidikan di sekolah telah kehilangan gairah belajarnya. Penyebab turunnya gairah belajar yang sering terjadi adalah kekecewaan, derajat inteligensi yang kurang dan kemalasan akibat ketidaktahuan siswa terhadap tujuan belajar yang sebenarnya. Kekecewaan merupakan gangguan psikologis yang diakibatkan oleh berbagai peristiwa yang telah dialaminya dan kekecewaan ini akan menimbulkan keengganan, termasuk di antaranya ialah enggan untuk belajar.

Setiap pelajar tentu menyadari bahwa kepentingan belajar merupakan bagian dari tugas hidupnya kini. Mereka sebenarnya tidak menghendaki kegagalan studi terjadi pada dirinya. Yang dimaksud kegagalan studi disini adalah tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Bahkan dalam hati kecilnya berkeinginan memperoleh prestasi tinggi selama pendidikan sehingga akhirnya timbul pertanyaan pada mereka, “Bagaimana cara meningkatkan prestasi belajar?”.

Sebelum mengulas tentang cara-cara meningkatkan prestasi belajar, terlebih dahulu kita membahas tentang pengertian belajar. Tinjauan terhadap pengertian belajar ini lebih bersifat psikologis sebagai landasan pembahasan teknik-teknik belajar atau untuk meneliti cara-cara belajar yang efisien yang sebaiknya dilakukan.

1. Definisi belajar

Para ahli pendidikan modern mengemukakan pendapatnya mengenai perbuatan belajar sebagai berikut:

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku baru yang diperoleh dari pengalaman atau latihan. Tingkah laku yang baru ini misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmaniah.

Perumusan pengertian perbuatan belajar ini meliputi perubahan jasmaniah dan rohaniah. Kedua aspek ini saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Keduanya merupakan aspek-aspek yang bersifat komplementer. Manusia dan perbuatannya selalu menuntut kegiatan jasmani dan rohani.

Misalnya, membaca buku adalah perpaduan antara kegiatan jasmaniah dan gerakan rohaniah. Gerakan jasmaniah berupa gerakan mata, gerakan tangan, dan sikap tubuh. Sedangkan gerakan rohaniah ialah berupa mengolah pengertian-pengertian yang ada dalam bacaan, membandingkan, mengingat kembali, memikirkan persoalan dan lain sebagainya.

Setiap perbuatan belajar senantiasa memiliki aspek jasmaniah yang disebut struktur, dan aspek rohaniah yang disebut fungsi. Otak kita sebagai kegiatan yang penting dalam diri mengandung kedua aspek tersebut. Otak sendiri adalah strukturnya dan berpikir adalah fungsinya.

Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti contoh, apabila otak sedang cedera, maka fungsi berpikirnya akan terganggu. Sebaliknya, apabila fungsi berpikir dari otak itu tidak normal, maka struktur otak akan berubah bentuknya juga.

2. Gambaran tentang proses belajar

Telah sama-sama diketahui bahwa belajar senantiasa merupakan kegiatan yang berlangsung di dalam suatu proses dan terarah menuju pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dibawah ini akan digambarkan tentang bagaimana proses belajar itu terjadi:

Langkah-langkah kegiatan belajar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Seseorang memiliki motivasi dan melihat suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai. Lalu kemudian mengarahkan perbuatannya dengan motivasi tadi.
  2. Dengan sadar, ia memfokuskan perhatiannya kepada ke arah tujuannya itu dan mengarahkan segala daya yang ada untuk diarahkan kepada tujuan itu.
  3. Dengan menggunakan kecakapannya (inteligensi), ia berusaha mencoba menemukan sebuah metode atau cara baru untuk mencapai suatu tujuan, atau juga memperbaiki metode yang telah ia miliki.
  4. Selanjutnya, ia menggunakan pengalaman-pengalamannya yang lalu yang telah dimiliki terhadap tugas-tugas yang dihadapinya, memisahkan unsur-unsur yang ada di dalam situasi sekarang dengan maksud menghayati metode secara tepat dan mengintegrasikan (menyatukan) semua jawaban yang sama sekali baru yang tingkatannya lebih tinggi.
  5. Di dalam proses pemisahan dan integrasi itu, ia menghilangkan atau membuang metode-metode yang dirasa tidak cocok, mencari jawaban yang benar dan menjadikan suatu metode baru untuk dijadikan sebagai pola kelakuan baru (learned behavior pattern) yang dapat digunakan ke dalam situasi yang lain.

Tegasnya, hal tersebut sedang terjadi perubahan tingkah laku.

Langkah-langkah belajar diatas dapat dibuat contoh sebagai berikut:

  1. Seorang pelajar SMA kelas XII mempunyai motivasi ingin meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran.
  2. Dengan sadar ia memfokuskan perhatian ke arah tujuan yang dibuatnya itu dan mengerahkan segala daya untuk mempelajari semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran.
  3. Dengan menggunakan kecakapannya, ia berusaha menemukan metode belajar yang baik untuk mencapai tujuan ini. Misalnya mengumpulkan bahan pelajaran, ikut bimbingan tes, belajar di tempat yang tenang, belajar sendiri dan ikut belajar kelompok.
  4. Selanjutnya ia memakai pengalaman yang lalu untuk melaksanakan tugas ini dengan maksud menghayati metode belajar secara tepat.
  5. Dengan metode belajar ini, ia dapat menemukan jawaban-jawaban yang benar dan membuang jawaban-jawaban yang salah dalam menjawab soal-soal semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran, sehingga pada akhirnya timbul kelakukan baru dalam bentuk: a) Jasmani: perubahan dalam sikap, kebiasaan, dan timbul keterampilan dalam menjawab soal semua mata pelajaran. b) Rohani: dari tidak tahu menjadi tahu sehingga mampu mengingat semua mata pelajaran yang dipergunakan untuk tes masuk   Fakultas Kedokteran.

3. Prinsip-prinsip belajar

Proses belajar memang beragam dan kompleks, tetapi dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut:

1)      Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan yang saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungannya.

2)      Belajar harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya melalui belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

3)      Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni bersumber dari dalam dirinya sendiri.

4)      Proses belajar selalu ada rintangan dan hambatan. Maka dari itu, siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.

5)      Belajar senantiasa membutuhkan bimbingan, baik dari guru/dosen atau tuntunan dari buku pelajaran itu sendiri.

6)      Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berpikir kritis. Berpikir kritis ini lebih baik daripada pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanis.

7)      Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk pemecahan masalah yang diselesaikan melalui kerja kelompok (belajar kelompok), asalkan masalah yang akan dibahas telah disadari bersama.

8)      Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.

9)      Belajar memerlukan latihan dan ulangan/ujian agar materi yang sudah dipelajari dapat dikuasai.

10)   Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan/hasil yang diinginkan

11)   Proses belajar dapat dikatakan berhasil dan sukses apabila siswa telah sanggup memindahkan atau menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

4. Cara-Cara Belajar Yang Baik

Belajar akan lebih berhasil apabila pelajar memiliki: 1) Kesadaran atas tanggung jawab belajar; 2) Cara belajar yang efisien; dan 3) Beberapa syarat yang diperlukan.

Ada beberapa hal yang harus diingat dan menjadi catatan bagi setiap pelajar adalah:

Yang pertama, tanggung jawab belajar terletak dalam diri setiap pelajar masing-masing.

Jika muncul sebuah pertanyaan, siapakah pelaku belajar dan siapa pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar itu? Maka jawabnya adalah bahwa masing-masing pelajarlah yang melakukan proses belajar dan mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengusahakannya agar supaya berhasil.

Andaikata seorang pelajar tersebut mengalami kegagalan dalam belajar, maka pelajar tersebutlah yang menanggung akibatnya. Tidak mungkin perbuatan belajar dilakukan oleh orang lain demi kepentingan si pelajar itu sendiri. Orang lain (guru, orang tua, teman sebaya) hanya bertugas memberi petunjuk, tuntunan, atau bimbingan, kemudian selanjutnya pelajar sendiri yang mengolah, menyimpan, dan memanifastasikan serta menerapkannya. Oleh sebab itu, sebagian besar kesuksesan terletak pada usaha yang dilakukan si pelajar itu sendiri. Maka, faktor kemauan, bakat minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita yang tinggi merupakan unsur-unsur mutlak yang mendukung usaha yang dilakukan oleh si pelajar tersebut. Jangan sampai muncul anggapan bahwa belajar itu:

1)      Cukup ala kadarnya

2)      Tak menimbulkan hasrat ingin tahu

3)      Tak punya keinginan untuk maju

Sehingga aktivitas belajar tidak berencana dan dilakukan asal sempat saja. Pandangan yang demikian itu sudah tentu sangat keliru dan tidak boleh untuk diikuti.

Yang kedua, cara belajar yang efisien akan mempertinggi hasil belajar.

Cara belajar yang efisien artinya cara belajar yang tepat, praktis, ekonomis, dan terarah sesuai dengan situasi dan tuntutan yang ada guna mencapai tujuan belajar. Hasil belajar yang diperoleh akan sangat bergantung pada bagaimana cara belajar yang dilakukan. Dengan menggunakan cara belajar yang efisien maka akan meningkatkan serta mempertinggi hasil belajarnya.

Ada beberapa cara belajar yang baik yang bisa digunakan antara lain:

a)      Membuat rencana belajar (program studi) yang dapat dijadikan semacam rencana belajar selanjutnya.

Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari pembuatan rencana belajar ini, antara lain:

1)      Sebagai wadah penyimpanan berbagai jenis catatan dan bahan-bahan berguna lainnya.

2)      Sebagai alat belajar dan mempermudah pekerjaan yang berguna untuk mencapai tujuan.

3)      Memberikan motivasi belajar dan merangsang belajar secara teratur.

4)      Bagi guru, dapat mempergunakannya sebagai sarana penilaian bagi siswa, terutama dalam hal kebersihan dan kerajinan siswa.

5)      Dapat membantu teman sebayanya yang ketinggalan atau yang catatannya kurang lengkap.

Pembuatan rencana belajar dalam sebuah buku catatan ini dianjurkan agar ditulis secara teliti dan serapi mungkin serta disusun secara sistematis, logis, teratur dan bersih, jangan dicampuradukkan dengan catatan-catatan yang lain agar tidak membingungkan si penulis.

Begitu pula dengan merawat buku rencana belajar ini. Diusahakan buku catatan rencana belajar agar disimpan dan dipelihara dengan baik. Hal itu penting untuk efisiensi belajar.

b)      Syarat-Syarat Yang Harus Diperhatikan Dalam Belajar

Beberapa syarat yang perlu diperhatikan agar siswa dapat dengan baik, yakni meliputi faktor-faktor:

1)      Kesehatan jasmaniah

Jasmani yang sehat berarti tidak mengalami penyakit tertentu, dan tercukupinya gizi sehingga fungsi badan berjalan dengan baik.

2)      Rohani yang sehat

Rohani yang sehat berarti tidak terganggu syaraf / jiwanya, tidak mengalami gangguan emosional dan berpikiran tenang dan stabil. Dan juga tidak mempunyai banyak persoalan yang menyangkut pribadi pelajar maupun persoalan lingkungan yang mempengaruhi jiwanya. Sebab kondisi psikologis sangat mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan pelajar.

3)      Lingkungan yang tenang

Yakni lingkungan yang tidak sedang dalam kondisi ribut, ramai, dan beberapa gangguan suara lainnya.

4)      Tempat belajar yang menyenangkan

Tempat yang efektif untuk belajar adalah tersedianya cukup udara, ventilasi yang memadai, penerangan yang cukup dan lain sebagainya.

5)      Tersedianya cukup bahan dan alat-alat pelajaran yang diperlukan

Bahan-bahan dan alat-alat yang menjadi sumber belajar sebaiknya tersedia dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Apabila kurang maka setidak-tidaknya akan menghambat tercapainya hasil belajar yang memuaskan.

Dengan memakai cara-cara tersebut diatas maka diharapkan akan meningkatkan prestasi belajar setiap siswa dengan tidak melupakan sebuah upaya untuk meningkatkan gairah belajar dan pembiasaan hidup disiplin secara teratur.

c)       Teknik Mempelajari Buku Pelajaran

Teknik mempelajari buku pelajaran antara lain:

1)      Membaca buku pelajaran harus ada tujuan tertentu, tidak asal membaca dan harus mampu memahami isi buku.

2)      Menggarisbawahi hal-hal yang penting dari isi buku.

3)      Membuat rangkuman (outline) dari setiap mata pelajaran

d)      Membuat Diskusi Kelompok

Membentuk kelompok teman-teman untuk belajar bersama terdiri dari 5-8 orang dan direncanakan berdiskusi bersama dalam kelompok dengan topik atau masalah yang ditentukan lebih dahulu.

Berdiskusi kelompok sebaiknya dilakukan secara kontinu dan setiap anggota kelompok harus belajar lebih dahulu mengenai topik yang akan didiskusikan. Dengan diskusi kelompok akan diperoleh:

1)      pertukaran pendapat

2)      pengalaman dari teman yang lain

3)      ada take and give dalam belajar.

4)      lebih mudah menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama.

5)      menambah efisiensi belajar

6)      membantu teman-teman yang malas, pemalu, dan sebagainya

e)      Melakukan Tanya Jawab

Setiap mata pelajaran yang kurang dimengerti sebaiknya ditanyakan pada guru atau teman sebayanya yang lebih pandai dan mengerti, sehingga mata pelajaran dapat dimengerti semuanya. Dengan demikian akan lebih memudahkan untuk memahami dan menghafal pelajaran yang dipelajarinya.

f)       Belajar Berpikir Kritis

Penguasaan keterampilan berupa berpikir mendalam (kritis) merupakan suatu syarat mutlak cara belajar secara efisien. Dengan berpikir kritis maka akan dapat memecahkan masalah dari setiap mata pelajaran yang telah diberikan di sekolah.

g)      Memantapkan Hasil Belajar

Mempelajari suatu mata pelajaran hendaknya dilakukan berkali-kali, seperti ulangan harian atau latihan-latihan soal. Cara ini disebut pemantapan hasil belajar atau kompetensi siswa. Dengan begitu, maka akan melatih siswa untuk lebih memahami isi pelajaran dan tidak mudah dilupakan begitu saja.

Sumber: Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.