TRADISI MASYARAKAT JAWA PADA BULAN SAFAR

Bulan Safar menurut penanggalan Islam merupakan bulan kedua dalam kalender hijriyah. Tidak ada amalan ibadah khusus yang dicontohkan oleh Rasulullah saw di bulan ini sebagaimana di bulan-bulan lain. Hanya saja, bulan ini menurut anggapan masyarakat awam memiliki karakteristik yang sangat unik dan sarat dengan mitos sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi orang-orang yang belum tahu. Banyak tradisi atau kepercayaan nenek moyang yang saat sekarang masih dipertahankan dan dilestarikan yang dikaitkan dengan beberapa peristiwa yang muncul di bulan ini. Cukup banyak yang harus dikaji tentang tradisi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat kita yang begitu konsisten mempertahankan budaya dan kepercayaan masing-masing yang diwariskan nenek moyang pada zaman dahulu.

1. Mitos hari sial

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa umumnya, sifat bulan safar hampir sama dengan bulan sebelumnya yang merupakan kelanjutan dari bulan Suro (Muharram). Bulan ini diyakini sebagai bulan yang penuh bencana, bala’, malapetaka dan kesialan. Mayoritas masyarakat jawa hingga saat ini masih mempercayai bahwa bulan ini dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan.

Tidak hanya masyarakat Jawa saja tentunya, bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia pun juga masih beranggapan yang sama terhadap bulan ini. Seperti contoh Bangsa Yunani kuno, yang telah menganggap bulan safar adalah bulan yang secara mitos sebagai bulan sial yang tidak baik untuk melakukan segala aktivitas, sehingga mereka menunda atau menyegerakannya. Bangsa arab pun juga beranggapan demikian, bulan ini dijuluki dengan istilah dabbar (hari kebinasaan dan kerusakan). Sebab pada zaman peradaban awal bangsa Arab telah terjadi serentetan peristiwa na’as pada hari rabu pada bulan ini, seperti dihancurkannya kaum ‘Aad, ditumpasnya kaum Tsamud, dan tenggelamnya Raja Fir’aun pada zaman Nabi Musa as.

Masyarakat Jawa sendiri yang beraliran kejawen, menganggap hari rabu legi pada bulan safar dianggap sebagai hari yang jelek sekali sehingga tidak boleh dibuat bepergian, dan hari rabu pahing yang dipercaya sebagai dina taliwangke yaitu hari yang sebaiknya disirik.

Di kalangan umat Islam sendiri masih meyakini bahwa ketidakberuntungan bulan ini disebabkan karena Al-Qur’an menyinggung tentang perihal hari na’as, seperti yang telah disebutkan dalan QS Fushilat ayat 16, QS. Al-Haaqah ayat 7 dan QS Al-Qamar ayat 19. Para mufassir (ahli tafsir hadits) banyak menafsirkan bahwa hari rabu berdasarkan hadits mauquf riwayat Thabrani merupakan hari na’as. Kemudian dipertegas dengan karena adanya sabda Rasulullah yang berbunyi, “Barangsiapa yang memberikan kabar gembira kepadaku tentang telah berlalunya (bulan) safar, maka aku akan memberi mereka berita gembira tentang surga yang akan dimasukinya”.

Walaupun sekilas dapat dimaknai bahwa Rasulullah juga tidak menyukai bulan safar karena ketidakberuntungannya, tetapi sebenarnya makna dari hadits tersebut bukan seperti itu. Menurut riwayat yang lain, Rasulullah mengatakan seperti itu lantaran diberitahu oleh Allah bahwa beliau akan dipanggil oleh-Nya pada bulan sesudahnya (Rabi’ul Awal). Untuk itu, Rasulullah memberitahu ummatnya bahwa beliau menanti tibanya bulan Rabi’ul Awal sebagai bulan yang dinanti-nanti keberkahannya dengan dipertemukannya dengan Allah swt melalui perantara kematian.

Jadi, sebenarnya sudah ada pemahaman tentang hari na’as di sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Terbukti dengan berkembangnya hitungan hari sebagai langkah ikhtiar supaya mendapat keberuntungan, baik dalam kosmologi kejawen, Arab dan Bangsa Maya. Hanya saja, banyak terjadi penyimpangan perilaku di dalamnya yang mengarah pada kesyirikan dan menafikan pengaruh takdir Allah. Dan tak jarang sebagian orang mempercayai bahwa hari punya roh, punya kekuatan dan punya pengaruh sendiri yang berdampak pada perubahan kondisi pada hari itu. Hal inilah yang dapat membahayakan aqidah umat sehingga perlu diluruskan.

2. Tradisi Rebo Wekasan

Rebo wekasan (istilah masyarakat Jawa Timur), Rebo Pungkasan (istilah Yogya dan Jawa Tengah), dan Rebo Kasan (istilah Sunda Banten) adalah sebutan untuk hari rabu minggu keempat pada bulan safar. Rebo (rabu) merupakan hari ketiga dalam sepekan. Sedangkan wekasan adalah istilah yang berasal dari akar kata wekas yang berarti “pesan” atau “wanti-wanti”. Kemudian istilah pungkasan berasal dari akar kata pungkas yang berarti “akhir”. Yang terakhir, kasan adalah kata yang berasal dari kedua istilah diatas dengan menghilangkan suku kata di depannya.

Menurut Sarjana Belanda, Pyper, dalam bukunya yang berjudul “Beberapa Aspek Tentang Sejarah Islam Indonesia Abad ke-19” menyebutkan sejak awal abad ke-17, tradisi ini sudah muncul di masyarakat muslim, khususnya di Aceh, Sumatera Barat dan Jawa. Masyarakat Cirebon misalnya, mempercayai bahwa ritual rebo pungkasan digagas oleh Sunan Kalijaga dan disetujui oleh Sunan Gunung Jati, bermula dari peristiwa dieksekusi matinya Syekh Lemah Abang/Syekh Siti Jenar di Masjid Agung Cirebon karena telah menyebarkan paham sesat “wihdatul wujud” (bersatunya Allah dengan manusia). Saat dieksekusi, dari mulut Syekh Siti Jenar keluar sumpah serapah yang tidak mengenakkan. Kemudian untuk ngemong murid-murid Syekh Siti Jenar, dibuatlah tradisi sedekah dengan membagikan kue apem kepada tetangga-tetangga.

Di beberapa tempat pula, misal dari kalangan Islam Sufiyah atau di pondok-pondok pesantren Salaf pada saat memasuki bulan safar, didapati mereka tengah sibuk melakukan tirakat dan bershadaqah hingga bulan tersebut berlalu. Kemudian pada puncaknya yakni pada hari rabu akhir bulan Safar, mereka melaksanakan shalat sunnah hajat untuk memohon kepada Allah agar dijauhi dari bala’ bencana. Kemudian mereka melanjutkan agenda dengan melakukan ritual mandi dan minum air barokah, atau air yang sudah dicampur dengan doa-doa atau rajah-rajah tertentu. Walaupun banyak kalangan yang meyakini tradisi seperti ini merupakan bid’ah yang tidak diajarkan oleh Nabi, tapi masih banyak pula yang meneruskan dan melestarikannya.

3. Bulan safar perspektif Islam

Islam adalah agama rahmat yang tidak berdasarkan asumsi dan anggapan apalagi ramalan semata, sehingga sangat tidak benar bahwa bulan safar adalah satu satunya bulan yang penuh kesialan dan malapetaka. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui takdir manusia sehingga Allah-lah yang berhak memberikan kemujuran dan kesialan terhadap manusia yang Dia kehendaki, bukan melalui hari maupun bulan apapun. Justru dengan hadirnya mitos hari sial tersebut, orang akan semakin mendekatkan diri kepada Allah swt dan dapat meningkatkan takwa kepada-Nya.

Sial menurut kacamata syari’at adalah etika yang jelek, tempat yang tidak mendatangkan berkah dan apa yang menjadi sumber bencana. Kekufuran dan kemaksiatan adalah sial, bahkan ada yang berpendapat bahwa setiap apa-apa yang melalaikan dan memalingkan dari Allah swt adalah sial. Namun sial secara syara’ secara khusus juga dimaknai sebagai akibat dari ditimpanya bala’ bencana. Jadi kesialan tidak dikhususkan bagi bulan atau hari yang dianggap sial saja, tapi Allah juga berhak menimpakan kesialan dan bala’ pada hari-hari selain bulan safar dan hari rabu menurut apa yang Dia kehendaki. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw yang artinya:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada hammah (ruh dan jiwa manusia berada pada burung saat meninggal), tidak ada tathayyur (mengundi nasib dengan burung), tidak ada kesialan pada bulan shafar dan tidak ada ‘adwa (penularan)”. (HR. Bukhari Muslim)

Semua bulan menurut Islam adalah baik, tidak ada bulan maupun hari yang dianggap buruk karena semua itu adalah asumsi dan anggapan semata dari manusia. Manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang hari na’as maupun hari mujur. Bahkan Allah swt dengan tegas menyebutkan bahwa bala’ bencana yang terjadi justru akibat dari perbuatan manusia itu sendiri, bukan karena hari sial atau semacamnya, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka sehingga datanglah janji Allah” (QS. Ar-Ra’d :31)

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41)

Malapetaka, bencana dan bala’ menurut Islam justru dapat dicegah dengan memperbanyak amalan sedekah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Artinya: Diriwayatkan dari Ali ra. Dalam hadits marfu’: “Bersegeralah sedekah karena bala’ tidak akan melangkahinya” (HR Thabrani).

Umat Islam dianjurkan untuk berdoa dan memperbanyak amalan shalat sunnah di setiap waktunya. Tidak hanya di bulan safar saja, namun juga di bulan-bulan yang lain, sebab melalui do’a-lah takdir Allah dapat diubah. Para wali songo pun sudah mengajarkan tradisi yang Islami bagi masyarakat Jawa seperti sedekah, shalat hajat, berdiam diri di masjid dan berdoa sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian, maka akan semakin menyadarkan manusia supaya mereka yakin bahwa semua kemujuran dan kesialan adalah sepenuhnya berada pada genggaman takdir Allah swt dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Wallahu A’lamu Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s