TRAGEDI RUSAKNYA PEMIKIRAN BARAT MELALUI PAHAM SEKULARISME

Dunia Islam dewasa ini sedang mengalami suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sepanjang sejarahnya. Krisis ini ditimbulkan oleh benturan peradaban Barat terhadap dunia Islam. Keadaan ini dimulai ketika kekuatan-kekuatan imperialis Barat merencanakan strategi mereka yang halus dan licik ke arah penghancuran jiwa dan budaya, di satu pihak mereka menentukan nasibnya sendiri di antara umat Islam, dan di pihak yang lain dikenalkan dengan suatu sistem pendidikan yang bertujuan memperbudak pikiran umat Islam.

Betapa permusuhan dan diaturnya dengan baik strategi yang dibuatnya itu dapat dinilai, walaupun kita hanya memperhatikan laporan Macaulay (The Macaulay Report) tentang politik pendidikan di daerah jajahan Inggris, undang-undang yang disusun oleh kolonialis Perancis untuk menggerogoti Islam di Afrika dan politik tekanan imperialis yang dijalankan Belanda di Indonesia.

Kekuatan-kekuatan imperialis Barat melaksanakan strategi mereka dengan segala kebiadaban dalam pemerintahan mereka, sementara rencana imbangan (Counter Planning) umat Islam terbukti tidak dapat diharapkan dan tidak memadai dalam segala hal. Dan “hasil bersih” dari semua ini adalah walaupun sebagian besar daerah-daerah Islam telah memperoleh kembali kemerdekaan politik, Islam tetap belum mampu mendapatkan kemerdekaan kembali untuk dirinya sendiri secara hakiki. Islam masih tetap sebagai apa yang diperbuat oleh imperialis Barat, yaitu: suatu urusan / persoalan individu secara pribadi, sedangkan segala masalah bersama (all the collective problems) berada di bawah kekuasaan Barat. Sungguhpun proses westernisasi (pembaratan) masih terus berlangsung dengan tidak berkurang di seluruh dunia Islam. Hal tersebut agaknya mendapatkan momentum di kebanyakan daerah-daerah Islam sejak pengakhiran perbudakan politik.

Kebudayaan Barat, dalam satu segi adalah anak Islam (The Child of Islam). Tetapi dia adalah anak yang durhaka lantaran kemajuannya, seperti di bidang teknologi yang telah diambil alih oleh mereka yang secara diametral bertentangan dengan cara hidup Islam. Tiga babakan sejarah yang telah dilalui oleh peradaban sejak Reneisans antara lain: Sekularisme, materialisme dan komunisme, serta darah kehidupan inderawi (The Sensate Culture) yang lambat laun mengakibatkan keyakinan tentang tidak adanya Tuhan dan jiwa. Maka jelaslah bahwa darah ini apabila diinjeksikan ke dalam badan politik Islam hanya akan merupakan racun, bukan sebagai obat. Ada berbagai macam tragedi yang dialami oleh peradaban Barat, antara lain:

1. Melalui sekularisme ke komunisme

Sekularisme, materialisme dan komunisme adalah saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Dalam penafsiran hidup yang materialistis, tingkatan yang pertama dicapai oleh kebudayaan Barat adalah tingkatan tingkatan Sekularisme dimana negara dipisahkan dari gereja dan berbagai cabang ilmu pengetahuan dipisahkan dari kepercayaan kepada Tuhan. Tingkatan ini akhirnya membukakan pintu selebar-lebarnya bagi materialisme yang mengatakan bahwa segala realitas atau kenyataan yang hakiki semata-mata hanyalah materi.

Materialisme filosofi ini (philosophical materialism), setelah menembus / memasuki secara cukup ke dalam berbagai medan kehidupan Barat, mentransformir (mengubah) dirinya sendiri menjadi materialisme ilmiah (scientific materialism) di tangan Karl Marx yang pada abad ke-19 memberikan kepada dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, filsafat materialistis yang sangat sempurna dan agresif.

2. Pintu gerbang Kristen

Sekularisme berhutang budi kepada dua faktor. Pertama, agama Kristen yang menjadi satu-satunya agama di dunia Barat sejak beberapa abad yang lalu dan telah meletakkan sebuah kaidah, undang-undang dan hukum “Give unto Caesar what is Caesar’s and unto God what is God’s”, berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi miliknya (haknya), dan berikanlah kepada Tuhan apa-apa yang sudah menjadi miliknya (haknya).

Demikianlah agama Kristen telah membagi hidup manusia ke dalam dua bidang / bagian secara ketat. Salah satu dari padanya yaitu bidang / bagian spiritual yang dipegang oleh Tuhan, sedangkan yang lainnya yakni bidang / bagian kehidupan duniawi diletakkan di bawah bimbingan dan kekuasaan manusia.

Dengan cara ini, agama Kristen telah meratakan jalan bagi Sekularisme, ketika sebuah faktor baru menampilkan diri di atas panggung sejarah Eropa, suatu faktor yang membawa dogma Kristen sampai batas-batas inspirasi yang berakar pada permusuhan terhadap gereja Kristen, dan akibat-akibat yang muncul darinya adalah sangat suram dan kelam bagi kemanusiaan.

Faktor ini menimbulkan peperangan antara agama Kristen dengan kekuatan-kekuatan zaman “Pencerahan” (Enlightenment; Aufklarung) setelah masa Renesans di Eropa.

3. Pengaruh Islam

Sebagaimana para penyelidik sejarah mengetahui bahwa agama Kristen datang ke dunia ketika cahaya ajaran dan kebudayaan Yunani-Romawi sedang mengalami proses kehancuran, redup dan hampir mati. Tetapi jangankan menghidupkan api yang hampir padam supaya kembali tumbuh dan berkembang cahayanya, agama Kristen sejak kemunculannya malah justru memaklumatkan perang terhadap segala ajaran filsafat dan ilmiah, yang akibatnya adalah abad-abad antara pengenalan agama Kristen di Eropa dan munculnya Renesans yang oleh sejarawan-sejarawan Barat disebut-sebut sebagai “Abad-Abad Kegelapan (The Dark Ages)”.

Waktu demi waktupun berlalu, kegelapan yang dialami Eropa sedikit demi sedikit sirna ketika matahari Islam Memancar dari lembah Faran (Jazirah Arabia) yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Zaman tersebut disebut sebagai zaman pengetahuan modern (Inaugurated the Modern Scientific Area). Ulama-ulama dan sarjana-sarjana Islamlah yang menggali beberapa cabang ilmu pengetahuan dari bawah puing-puing kebudayaan yang telah mati, yakni kebudayaan Yunani, Romawi, Babilonia, Iran, India dan Cina.

Mereka menggali ilmu pengetahuan, mengklasifikasi, memperbaiki, dan mengembangkannya dan kemudian menyerahkannya ke Eropa melalui Universitas-universitas mereka di Baghdad, Kairo dan Spanyol. Dengan demikian jelaslah bahwa pendiri zaman Reneisans di Eropa sebenarnya adalah ajaran Islam dan guru-guru Islam yang melalui ajaran mereka dapat membangunkan orang-orang seperti Roger Bacon, Pope Syivester II dan lainnya.

4. Gereja versus Enlightenment (masa Pencerahan; Aufklarung)

Zaman Reneisans benar-benar merupakan benturan yang keras terhadap agama Kristen. Dan ketika agama Kristen memiliki kekuatan poliitk, dia memberikan reaksi dengan menggunakan segala cara, tak terkecuali dengan menaburkan racun yang berada di bawah kekuasaannya. Pemimpin Renesans dikejar-kejar dan sejumlah dari mereka dibakar hidup-hidup. Mereka dipaksa supaya menarik kembali pendapat-pendapat mereka. Bagi yang tidak mau, akan mengalami berbagai macam siksaan dan penderitaan.

Suatu Mahkamah pemeriksaan yang kejam didirikan. Maka akibat dari semua ini adalah para pemimpin Renesans bersumpah untuk menjadi musuh-musuh gereja Kristen. Permusuhan terhadap gereja ini segera berubah menjadi permusuhan terhadap agama Kristen. Kemudian berlanjut ke arah kebencian dan permusuhan terhadap semua agama yang pada akhirnya memuncak kepada kebenciannya terhadap Tuhan itu sendiri.

5. Sekularisme sebagai suatu dogma

Seorang ahli dan ilmuwan besar pertama yang bekerja meletakkan dasar-dasar sekularisme pemikiran Barat adalah Charles Darwin (1809-1882) dengan bukunya yang berjudul “Origin of the Species” atau Asal Dari Berbagai Macam Spesies. Dia mencoba untuk menerangkan fenomena biologis atas dasar sebab-sebab mekanis dimana kebutuhan untuk membutuhkan dan menguatkan Tuhan tidak diperlukan lagi.

Pendapat Darwin dalam bidang biologi itu diterapkan ke dalam ilmu Sosiologi oleh Huxley dan Helbert Spencer; ilmu Metafisika oleh Hume; ilmu Hukum, Moral dan Politik oleh Bentham, Mill dan Hobbes. Pemikiran tersebut terus berkembang dan sejak itu alam pikiran Barat semakin bertambah materialistis dan sekuler, sehingga dewasa ini paham Sekularisme telah menjadi kepercayaan yang menghujam jauh ke dalam pikiran dan hati sarjana-sarjana Barat. Sebagai contoh, seorang sarjana yang konservatif seperti Marshall mengatakan dalam hubungannya dengan ilmu Ekonomi:

“In Economics, we are concerned only with the economics facts and not with any ethical considerations”.

(dalam Ilmu Ekonomi, kita hanya mengurusi (berpegang) pada fakta-fakta ekonomis dan tidak pada pertimbangan-pertimbangan etis).

6. Berbagai Akibat Dari Sekularisme

Pemisahan berbagai aktivitas manusia ke dalam bagian-bagian yang terpisah secara ketat menimbulkan apa yang oleh para ahli ilmu jiwa disebut sebagai disintegration in the social order and dissosiation in the human personality (kehancuran dalam tata-sosial dan keretakan dalam kepribadian manusia).

Mengenai disintegrasi tata-sosial manusia, ada suatu dorongan hati yang menjadi dasar di dalam etos sosial manusia untuk bersatu dan manunggal (unity and coordination). Sekarang, dimana tidak ada wawasan yang menyeluruh (comprehensive outlook) atau dimana nilai-nilai spiritual tidak dipertimbangkan sebagai nilai tertinggi seperti yang terjadi di dunia Barat, aspek material dari kehidupan menjadi prinsip utama. Dan demikianlah materialisme menjadi titik awal dan akhir segala kehidupan (be all and end all of life).

Hal ini merupakan sebuah akibat yang dialami oleh Barat yang mana segmentasi ilmu pengetahuan dan fragmentasi kehidupan telah membawanya kepada sekularisme. Sekularisme telah membawanya kepada metrialisme, yang akhirnya menyeretnya menuju malapetala.

Mengenai dissosiasi dalam kepribadian manusia, yaitu kepribadian individu, dissosiasi ini menurut ilmu jiwa akan mengakibatkan disharmoninya fungsi-fungsi yang ujung-ujungnya akan menimbulkan neurosis (penyakit saraf). Neurosis ini selanjutnya akan meningkatkan volume kejahatan-kejahatan, termasuk bunuh diri. Hal inilah yang dewasa ini sedang diderita oleh sejumlah besar penduduk Barat sebagai bentuk akibat dari penyakit neurosis ini, dan prosentase orang-orang gila dan penjahat-penjahat adalah yang paling tinggi di negeri-negeri maju di dunia Barat. Keadaan ini terus berlanjut dan semakin memburuk seiring berjalannya hari dan waktu.

Apabila personality (kepribadian) manusia terpecah menjadi beberapa segmen dan tiap-tiap segmen diperlukan secara individual, maka hal ini adalah wajar adanya. Sebab kepribadian manusia yang berupa segmen fisik adalah sangat dekat dengan pengalaman manusia sehingga menjadi pusat dari kecintaan manusia (the centre of human love). Apabila segman fisik menjadi pusat kecintaan, maka sifat tamak akan muncul dan hasrat untuk mencapai sesuatu, termasuk kesenangan dan kenikmatan fisik menjadi cita-cita hidup manusia yang paling tinggi. Lantaran cita-cita ini tidak dapat dicapai tanpa menghilangkan aspek-aspek kepribadian seseorang dan merugikan kepentingan-kepentingan orang lain, maka kasus-kasus kriminalitas menjadi berlipat ganda, prosentase orang yang bunuh diri semakin meningkat, dan kehidupan menurut mereka sudah menjadi basi. Oleh karena itu, dunia Barat yang berdiri tegak berdasarkan paham sekularisme saat ini sedang berada di ujung tanduk dan dilematis, yakni dalam keadaan sangat sulit dan berbahaya. Lebih jelasnya, dunia Barat sedang berada diantara lingkaran setan dan lautan yang dalam (between the devil and the deep sea).

Inilah pendapat yang telah disuarakan dengan penuh gairah dan semangat oleh filosof sejarah modern terbesar, Arnold J. Toynbee dengan pendalulunya, Sprengler.

7. Timbulnya Komunisme

Apabila kita menganalisis konsep Sekularisme, kita menemukan dua aliran pemikiran yang mungkin, yaitu:

Pertama, suatu masyarakat yang mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan dan Agama, namun mereka memisahkan segala urusan-urusan duniawi mereka dari agama. Pandangan hidup inilah yang lebih lanjut kita kenal sebagai paham kapitalisme. Salah satu contoh negara yang memiliki paham ini adalah negara-negara demokrasi Barat semisal AS dan imitator-imitatornya.

Kedua, suatu masyarakat yang sama sekali tidak percaya terhadap Tuhan dan Agama, yang akibatnya mereka memiliki pandangan hidup yang sama sekali tanpa Tuhan dan sangat materialistis terhadap segala hal. Pandangan hidup ini lebih lanjut kita kenal dengan paham sosialisme dan komunisme. Salah satu contoh negara yang memiliki paham ini adalah negara Uni Soviet dan negara-negara komunis yang lain.

Namun demikian, paham sekularisme yang mentolerir Tuhan hanyalah merupakan sebuah langkah pendahuluan ke arah paham sekularisme tanpa Tuhan. Fakta ini telah dibuktikan dengan baik oleh sejarah. Seperti contoh, ketika agama kristen datang ke Eropa, imperium kristen yang tumbuh sebagai konsekuensi logisnya pada dasarnya bukanlah sekuler, namun justru teokratis. Kemudian datang suatu ketika fungsi-fungsi negara dan gereja dipisahkan dan negara-negara sekuler. Sekularisme ini lambat laun menggerogoti kekuatan-kekuatan agama dan moralitas yang prosesnya terus berlangsung hingga sekarang ini.

Sementara itu, anak kandung Sekularisme dilahirkan dalam bentuk Komunisme. Sekularisme yang mentolerir Tuhan diganti oleh Sekularisme yang membenci Tuhan. Adalah Karl Marx, pendiri Komunisme, tidak menginginkan membangun rumah-rumah setengah jadi (half way house). Dia menggiring Sekularisme dan mengangkatnya sampai ke titik puncak, yaitu “materialisme yang tidak kenal malu” atau “Scientific Materialism” (materialisme ilmiah).

Nampaknya Komunisme menjadi suatu doktrin ekonomi. Tetapi sesungguhnya ia bertujuan ke arah suatu filsafat hidup yang lengkap. Karl Marx yang telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap bukunya yang berjudul “Das Kapital” tidak memulai dengan problema-problema ekonomi, tetapi dengan kepercayaan falsafi. Dia memulai dengan membicarakan tentang Materialisme Dialektik. Dia menerapkan filsafat dialektikanya dengan fenomena sosial, yang membuat Materialisme menjadi awal dan akhir segala kehidupan (be all and end all of life). Dia memberikan filsafat yang membenci Tuhan, mencela agama dan memandang dengan rasa jijik terhadap nilai-nilai dan ide-ide yang ideal. Baginya, realitas yang sebenarnya hanyalah rasa lapar dan seks, dan menuntut untuk mendeduksikan segala sesuatu dari dua hal ini.

Inilah agamanya, dan inilah agama bagi setiap orang Komunis yang konsisten………..

Dengan demikian, makin jelaslah bahwa ada hubungan alamiah dan logis antara Sekularisme, Materialisme dan Komunisme.

8. Trinitas Baru Materialis (The New Materialist Trinity)

Seperti yang telah dikemukakan diatas, kebudayaan sekuler Barat Modern yang untuk tujuan-tujuan praktis adalah suatu kebudayaan materialistis dimana ide tentang ketuhanan hanya ia masukkan sebagai bagian yang irrasional. Bangsa-bangsa Barat telah banyak menganut Trinitas (Trinitarians) sejak beberapa waktu lamanya. Tetapi mereka telah mengganti arti Trinitas.

Makna trinitas pada mulanya adalah berasal dari ajaran Kristen, yakni God the father (Tuhan Ayah), God the Son (Tuhan Anak), dan God the Holy Ghost (Ruhul Kudus) menjadi Trinitas Sekularis 3W, yakni Wealth (Harta / Kekayaan), Wine (Arak / Anggur), dan Women (Wanita). Inilah Tuhan-Tuhan baru yang dipuja oleh kebudayaan Barat dewasa ini.

9. Dasar-Dasar Peradaban Barat

Keadaan diatas merupakan situasi yang dapat diamati dalam kehidupan praktis (practical life). Secara teoritis, berdasarkan suatu analisa falsafah hidup peradaban Barat menunjukkan bahwa dasar-dasar kebudayaan Barat tersebut adalah:

a. Wawasan metafisis: Materialisme

b. Wawasan psikologis: Sensasionisme; seni dan segala bentuknya membuktikan fakta ini dengan sangat meyakinkan.

c. Wawasan etis: Keenakan, kebebasan / liberal dan nafsu (Expediency and Lust).

d. Wawasan ekonomis: pemerasan terhadap kemanusiaan yang terbelakang (under development humanity). Walaupun cara yang dilakukan berbeda, baik kapitalisme maupun komunisme, namun itu tetap disebut pemerasan (exploiters) karena keduanya memperbudak manusia.

e.Wawasan politis: pertentangan rasional dan perbedaan warna kulit.

Sesungguhnya segala karakteristik atau ciri-ciri khas ini merupakan pernyataan dari “sesuatu” yaitu pandangan hidup yang materialistik.

10. Komunisme Sebagai Titik Puncak

Apabila kita mempelajari komunisme, kita menemukan ciri-ciri khas peradaban Barat ini telah dilipatgandakan sertaus kali dalam ideologi itu (Komunisme). Yang pertama, kebudayaan Barat sebagai “si kerdil”. Dan yang kedua, Komunisme sebagai raksasa.

Tetapi keduanya termasuk jenis yang sama. Sungguh, tanpa kebudayaan Barat Modern yang sekuler, paham Komunisme tidak akan lahir di dunia ini.

Sumber: Artikel “Islam dan Peradaban Barat” yang dikutip dari Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s