Tradisi Tahlilan

1. Pendahuluan

Acara tahlilan yang kedengarannya tak lagi asing di telinga orang Indonesia merupakan salah satu tradisi zaman wali songo yang sampai sekarang masih diamalkan oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan ada sebagian orang masih mempercayai bahwa tradisi semacam ini dapat membawa keberuntungan tersendiri bagi yang menyelenggarakannya. Keberuntungan ini bisa berupa ketenangan hati bagi yang berhajat, berlimpahnya rezeki serta menambah rasa kebersamaan antar sesama dan bahkan mampu menambah dekat kepada Sang Pencipta selaku pemberi rezeki.

Namun apabila kita mau jujur, asal usul tradisi ini sebenarnya berasal dari kebudayaan Hindu-Budha yang termodifikasi oleh ide-ide kreatif pada wali songo, penyebar agama Islam di Jawa. Awalnya tradisi tahlilan ini belum ada, sebab masyarakat zaman dulu masih mempercayai kepada makhluk-makhluk halus dan gaib. Oleh sebab itu, mereka berusaha meminta sesuatu kepada makhluk-makhluk gaib tersebut berdasarkan keinginan yang dikehendakinya. Agar keinginan itu terkabul, maka mereka membuat semacam sesajen yang nantinya ditaruh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti punden dan pohon-pohon besar.

Melihat kenyataan tersebut, selain menyebar dakwah Islam, para wali songo juga bertekad ingin merubah kebiasaan mereka yang sangat kental akan nuansa tahayyul untuk kemudian diarahkan kepada kebiasaan yang bercorak islami dan realistik. Untuk itulah, mereka berdakwah lewat jalur budaya dan kesenian yang cukup disukai oleh masyarakat dengan sedikit memodifikasi serta membuang unsur-unsur yang berseberangan dengan Islam. Dengan begitu, agama Islam akan cepat berkembang di tanah Jawa dengan tidak membuang mentah-mentah tradisi yang selama ini mereka lakukan.

2. Tahlilan dan Pelaksanaannya

Kata “Tahlilan” berasal dari kata “tahlil” yang dalam bahasa Arab bermakna mengucapkan kalimat thayyibah “Laa ilaaha illallah”, yang berarti tiada Tuhan selain Allah swt. Makna tahlil kemudian berkembang menjadi serangkaian bacaan yang terdiri dari kumpulan dzikir seperti tasbih, tahmid, shalawat, takbir, tahlil dan beberapa bacaan dzikir yang lain, serta ayat-ayat Al-Qur’an dan doa. Oleh karena bacaan tahlil lebih dikenal dan lebih dominan daripada yang lainnya, maka kata tahlil terpilih menjadi nama serangkaian bacaan tersebut. Dengan demikian, rangkaian bacaan inilah yang menimbulkan istilah tahlilan, yang berarti kegiatan berkumpulnya orang-orang di suatu tempat untuk membaca tahlil.

Tradisi tahlilan ini diadakan oleh sebagian besar masyarakat agar orang yang sudah meninggal diterima amalnya di sisi Allah dan mendapat ampunan atas dosanya yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah.

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berkata, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 10)

Tahlilan memiliki beberapa tujuan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan bagi keluarga yang melaksanakan saja, namun juga dapat dirasakan oleh para undangan yang menghadirinya. Di antara tujuan tahlilan bagi para undangan yang hadir dalam acara ini adalah:

  1. Menghibur keluarga almarhum/almarhumah
  2. Mengurangi beban keluarga almarhum/almarhumah
  3. Mengajak keluarga almarhum/almarhumah agar senantiasa bersabar atas musibah yang telah dihadapinya.

Adapun tujuan tahlilan bagi keluarga almarhum/almarhumah adalah:

  1. Dapat menyambung dan mempererat tali silaturahmi antara para undangan dengan keluarga almarhum/almarhumah.
  2. Meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat oleh almarhum/almarhumah semasa hidupnya kepada para undangan.
  3. Sebagai sarana penyelesaian terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajiban almarhum/almarhumah terhadap orang-orang yang masih hidup.
  4. Melakukan amal shaleh dan mengajak beramal shaleh dengan bersilaturahmi, membaca doa dan ayat-ayat al-Qur’an, berdzikir, dan bersedekah.
  5. Berdoa kepada Allah agar segala dosa-dosa almarhum/almarhumah diampuni, dihindarkan dari siksa neraka dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah.
  6. Untuk mengingat akan kematian bagi para undangan dan keluarga almarhum serta dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Tahlilan sudah merupakan tradisi yang sudah dilakoni oleh sebagian masyarakat secara turun-temurun semenjak masuknya Islam di Jawa hingga sekarang ini untuk memperingati waktu kematian seseorang. Tradisi ini diselenggarakan secara berurutan, yaitu mulai malam ketujuh, keempat puluh, keseratus, pendak pisan (satu tahun), pendak pindho (dua tahun) hingga keseribu hari dari wafatnya seseorang. Setelah itu, tahlilan dilaksanakan secara periodik setiap tahun pada tanggal dan bulan kematiannya yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan istilah kenduri atau slametan dalam rangka kirim doa, atau juga sering disebut dengan istilah “haul”.

Setelah acara selesai, biasanya yang mempunyai hajat (dalam hal ini adalah tuan rumah atau ahli warisnya) menghidangkan makanan dan minuman kepada para undangan tahlil, bahkan sebelum pulang pun juga diberi berkat (makanan/jajanan yang dibungkus untuk dibawa pulang) dengan maksud bersedekah. Seperti yang sudah disebutkan di atas, tujuan diadakannya tahlilan ialah mengirim doa dan pahala yang diperuntukkan bagi si mayit melalui serangkaian bacaan tahlil dan diteruskan dengan doa agar amal seseorang yang ditahlili (si mayit) diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah swt.

Maksud pahala disini bukan hanya berarti balasan dari Allah terhadap seseorang atas ketaatannya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, namun makna pahala dalam acara tahlilan ini ialah kenyamanan dan kenikmatan atas Rahmat dan Maghfirah Allah swt yang dirasakan seseorang baik diperoleh dari amal salehnya selama hidup di dunia maupun atas pemberian hadiah dari orang lain melalui mengirimkan pahala kepada seseorang yang dituju. Sehingga menghadiahkan pahala dimaksudkan untuk menjadikan ganjaran dari sebuah amal agar dapat dinikmati oleh orang lain yang dituju dan juga dapat dinikmati oleh orang yang membaca itu sendiri.

3. Tahlilan: Bid’ah Atau Bukan?

Tradisi tahlilan ini memang tidak terdapat pada zaman Nabi saw. Lebih tepatnya tradisi ini lebih identik dengan perpaduan antara kebudayaan Jawa Kuno dengan tradisi Islam. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan menolak, bahkan menentang tradisi ini. Sebab, mereka meyakini bahwa acara tahlilan merupakan amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw, sehingga termasuk bid’ah. Dan mereka tak segan-segan menjatuhkan vonis neraka jahannam bagi orang-orang yang tetap mengamalkannya. Mereka merujuk pada sebuah hadits Rasulullah saw yang sangat populer berikut:

و شرّ لأمر محدثاتها وكلّ بدعة ضلالة وكلّ ضلالة في النّار (رواه مسلم و النّساء)

Artinya: “Perkara yang terburuk adalah pembaharuan-pembaharuan, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempat tinggalnya di neraka” (HR Muslim dan Nasa’i).

Namun perlu diingat, para wali songo dalam berdakwah sangat mengedepankan kehati-hatian serta strategi yang jitu dalam misinya menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Sebab, di kala itu kondisi mereka yang masih beragama Hindu dan Budha masih belum mampu merubah total apa yang menjadi kebiasaan dan tradisi mereka, sehingga sangat sulit bagi para wali apabila langsung mengkikis kebudayaan yang mereka lakukan selama itu dalam dakwahnya. Mereka juga tidak sembarangan membuang adat-istiadat yang mereka lakukan serta sangat selektif dan teliti memilah-milah kebiasaan mana yang masih dalam koridor syari’at dan mana yang bertentangan. Sebab apabila para wali songo bertindak gegabah dalam menjalankan misinya, maka agama Islam pun sulit diterima oleh orang Jawa pada waktu itu. Bahkan tak jarang merekapun semakin membenci pada Islam yang justru semakin menghambat berkembangnya agama yang dibawa baginda Rasulullah saw ini. Strategi wali songo ini kemudian diperkuat dengan statement Imam Syafi’i yang dikutip dalam buku “Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam” karangan Ibnu Rajab yang berbunyi:

Bid’ah itu ada dua, yaitu bid’ah hasanah (terpuji) dan bid’ah dhalalah (tercela). Bid’ah hasanah berarti bid’ah yang selaras dengan sunnah, sedangkan bid’ah dhalalah berarti bid’ah yang bertentangan dengan sunnah.

Maka dari itu, definisi bid’ah perlu diluruskan kembali pemahamannya. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa’i diatas merupakan dasar agama yang sangat urgen dan universal sehingga maknanya masih umum. Akan tetapi, hadits tersebut dibatasi maknanya dengan hadirnya hadits yang lain:

من أحدث في أمرنأ هذا ما ليس منه فهو ردّ (رواه بخاري ومسلم)

Artinya: “Barangsiapa yang membuat pembaharuan dalam agamaku ini dengan hal yang bukan dari-Nya maka ia tertolak” (HR Bukhari Muslim)

عن ابن مسعود موقوفا: ما راد المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما راد المسلمون قبيحا فهو عند الله قبيح (أخرجه أحمد)

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud ra: “Apa yang menurut kaum muslimin baik maka menurut Allah adalah baik. Dan apa yang menurut kaum muslimin jelek maka menurut Allah adalah jelek” (Hadits Mauquf dan ditakhrij oleh Ahmad)

Maksud hadits di atas adalah segala jenis pembaharu-pembaharu yang sama sekali tidak berdasarkan kaidah syara’ maka amalannya ditolak oleh Allah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bid’ah adalah setiap amalan yang dilakukan tanpa ada legalitas syari’at sama sekali, bukan hanya dimaknai dengan setiap amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw saja.

Memang setiap perbuatan atau amalan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw adalah sunnah dan dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam, namun bukan berarti segala apa yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh beliau disebut bid’ah seperti yang telah dinashkan pada hadits yang pertama tadi. Dicek terlebih dahulu apakah amalan yang tidak dicontohkan oleh beliau masih terkandung nilai-nilai yang selaras dengan sunnah atau tidak sama sekali. Bila ditemukan suatu hal yang mana bid’ah lebih banyak daripada sunnah, maka perlu dibenahi kembali amalan tersebut, apakah masyarakat masih memerlukan dan sangat berat untuk meninggalkan amalan tersebut ataukah tidak. Jika masih diperlukan, maka perlu memodifikasi kembali agar sesuai dengan sunnah, bukan malah membuangnya mentah-mentah kecuali jika benar-benar dilarang oleh hukum syara’ dan mengandung madharat yang besar.

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan tahlilan ini? Apakah ada dasar syari’atnya ataukah tidak? Hal tersebut hingga saat ini masih dalam permasalahan perbedaan pendapat (khilafiyah) dan sukar untuk memutuskan hukum yang pasti yang status hukumnya bersifat universal. Karena masing-masing kelompok bersikukuh mempertahankan pendapatnya masing-masing yang sama-sama merujuk pada nash yang sama, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Kalaupun tahlilan tidak pernah dilakukan pada masa kehidupan Rasulullah, maka harus dikaji dan diteliti kembali apakah pelaksanaan tahlilan mengandung nilai-nilai yang dibenarkan syara’ ataukah tidak. Yang jelas, tradisi tahlilan ini dirintis oleh para wali songo yang hingga saat ini masih dianggap sebagai generasi tabiit tabiien yang sangat diacungi jempol keberadaannya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Jika tahlilan dianggap bid’ah sehingga pelakunya diancam neraka, maka seharusnya dari dulu-dulu wali songo sudah menentangnya karena tradisi ini bertentangan dengan Islam.

Sebagaimana yang telah diungkap diatas, diadakannya tahlilan dimaksudkan agar amal armarhum diterima dan segala dosa yang diperbuat sewaktu didunia diampuni oleh Allah swt. Hal ini wajar sebab Rasulullah sendiri menganjurkan agar umat muslim selalu mendoakan umat muslim yang lain. Maka dari sinilah muncul istilah mengirim pahala yang ditujukan kepada almarhum.

Mengirim pahala ini pula tak jarang mengundang kontroversi, dikarenakan terdapat sebuah ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa si mayit tidak dapat menerima pahala dari orang lain yang masih hidup, yakni di surat An-Najm ayat 39:

وَأَنْ لَّيْسَ لِلْإَنْسَانَ إِلاَّ مَاسَعَى (النجم: 39)

Artinya: “Dan sesungguhnya seorang manusia tidak mempunyai hak selain pahala dari amal yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39)

Ayat diatas dengan tegas bahwa pahala seseorang diperolehnya hanya karena amal saleh yang dilakukan sewaktu di dunia. Namun ayat diatas dipersempit maknanya oleh Hadits populer berikut:

عن أبي هريرة رصي االله عنه أنّ رسول االله صلّى االله عليه وسلّم قال: إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلاّ من ثلاث, صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له (رواه الترمذي)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya” (HR. Turmudzi).

Hadits kedua inilah yang oleh kelompok pro-tahlilan dijadikan sumber dalil diperbolehkannya tahlilan. Namun ada pula kelompok yang bersikukuh tetap tidak memperbolehkan tahlilan lantaran isi hadits tersebut hanya dipahami secara tekstual yang disitu dijelaskan bahwa amalan si mayit akan tetap mengalir apabila terpenuhinya tiga hal, salah satunya ialah anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Maka selain ahli waris, pengiriman pahala tidak akan sampai kepada si mayit. Walaupun begitu, kita tetap tidak bisa menyalahkan kelompok yang mentradisikan tahlilan karena mereka memiliki pemahaman sendiri terhadap hadits tersebut.

Status hukum tahlilan pun juga masih belum jelas, apakah sunnah ataukah sebaliknya. Yang jelas, ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan bahwa al-urf (adat/tradisi masyarakat) yang masih sejalan dengan sunnah maka tidak bisa dihukumi haram dan bid’ah karena masih sejalan dengan sunnah. Karena itu, kita tidak perlu ribut-ribut memperselisihkannya sebab akan menimbulkan masalah baru yang dapat memperkeruh suasana keberagaman pandangan di tengah-tengah umat Islam.

Agar tidak timbul pertentangan dan konflik yang berkepanjangan di kalangan internal umat Islam, maka jalur tengahnya adalah saling mentolerir dan membuka diri antar sesama muslim. Bagi pihak yang pro-tahlilan, dipersilakan untuk melakukannya asal tidak menganggapnya sebagai hal yang mutlak wajib dilakukan. Namun bagi yang sangat antipati terhadap tahlilan, alangkah baiknya jika diam dengan tidak menjelek-jelekkan apalagi membid’ahkan pihak yang menyukai tradisi ini, atau lebih baik men-tabayyun-i (menyampaikan argumennya secara bijak) kepada pihak yang menyukai tahlilan maupun tidak. Sebab Islam adalah agama yang tidak mengajarkan perpecahan dan permusuhan antar sesama umat muslim. Justru perbedaan ini akan semakin memperkaya ajaran Islam yang berdampak pada umat Islam dan non-muslim akan semakin tertarik untuk mempelajari dan mendalami agama Islam.

Semoga dengan diuraikannya bahasan singkat tentang tradisi tahlilan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi khazanah keilmuan Islam, khususnya kepada kaum muslimin dimanapun berada agar senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah dan saling bertoleransi ketika terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Hanya Allah yang Maha Tahu yang terbaik.

Iklan

Tradisi Masyarakat Jawa Tentang Kelahiran

Masyarakat Jawa terkenal dengan keteguhannya mempertahankan dan melestarikan tradisi nenek moyangnya. Setelah Islam masuk, para ulama’ seperti wali songo memodifikasi kebudayaan yang berbau mistik dan tahayyul kepada tradisi yang sesuai dengan norma-norma Islam. Tradisi Jawa mengenai kelahiran seorang anak misalnya, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, bahkan penuh dengan pengkultusan, kemusyrikan dan kemubadziran. Lalu oleh usaha kreatifitas wali songo diubahlah kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi yang Islami. Di antara kebiasaan yang lazim dilakukan orang Jawa yang telah diakulturasikan dengan tradisi Islam berkenaan dengan kelahiran seorang anak seperti berikut:

1. Adzan dan Iqamah Bagi Bayi Yang Baru Lahir

Adzan dan iqamah adalah kalimat dakwah yang sempurna, pula yang keberadaannya merupakan salah satu tonggak awal berdirinya ajaran Islam.  Lantunan adzan secara hukum syar’i  tidak hanya dikumandangkan pada saat akan melaksanakan ibadah shalat saja, namun boleh dilakukan kapan saja, termasuk ketika sang bayi baru lahir dari rahim ibunya.

Para ulama’ sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan dan iqamah ketika bayi baru lahir. Kesunnahan ini dapat diketahui dari sebuah hadits berikut:

Dari Ubaidah r.a. dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali r.a. ketika Fatimah melahirkannya” (HR. Abu Daud).

Selain hadits di atas, anjuran disunnahkannya adzan dan iqamah pada sang bayi beralasan bahwa sebelum mendengarkan ucapan atau suara lain dari luar, alangkah baiknya sang bayi terlebih dahulu mendengarkan kalimat tauhid untuk mengingatkan janji yang telah diikrarkan oleh sang bayi ketika berusia 4 bulan di dalam kandungan di hadapan Allah. Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka, dan Allah mengambil janji terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf: 172)

Selain itu, suara adzan juga berfaedah untuk mendidik aqidah dan kepercayaan yang benar dan merupakan awal dari serangkaian proses pendidikan selanjutnya. Hanya dengan aqidah yang benar sajalah seseorang dapat mengarungi hidup secara sempurna melalui tauhid yang benar demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pelaksanaan adzan dan iqamah dilakukan pada saat sang bayi sudah dibersihkan dari cairan dan kotoran lainnya. Lantunan adzan dikumandangkan di telinga bayi sebelah kanan, sedangkan iqamah dilantunkan di telinga bayi sebelah kiri. Hal ini berfungsi agar kedua telinga sang bayi terbentengi oleh suara kalimat tauhid. Ditambah kalimat “Qad qaamatis shalah” pada saat iqamah yang mengisyaratkan bahwa terdapat penegasan tentang penghambaan diri manusia kepada Allah dan sebagai sarana berkomunikasi antara manusia dengan Allah melalui penegakan shalat.

Dengan demikian, pelantunan adzan dan iqamah bertujuan tidak lain sebagai sarana doa serta seruan kepada bayi agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.

2. Tahnik dan Brokohan Untuk Bayi

Tahnik artinya suapan pertama dari makanan yang diberikan pada bayi yang baru lahir. Pada umumnya, makanan yang akan ditahnik terlebih dahulu dilumat atau dihaluskan, kemudian diberikan kepada sang bayi sambil menggosok-gosokkannya kelangit-langit mulut. Terkadang makanan yang akan diberikan juga diberi madu dengan maksud sebagai pelatihan bagi sang bayi untuk dapat makan, memberikan rangsangan terhadap makanan dan minuman, dan menjaga kondisi fisik dan kesehatan bayi agar tahan terhadap serangan penyakit.

Brokohan artinya meminta doa dan keberkahan. Maksudnya ialah serangkaian acara –mulai dari pelaksanaan adzan dan iqamah di telinga bayi, memohon doa kepada para ulama dan masyarakat bagi keselamatan si jabang bayi hingga memberi nama– dalam rangka memperingati kelahiran bayi dalam wujud selamatan atau kenduri.

Pelaksanaan brokohan sudah menjadi tradisi  yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara dan sebagian masyarakat muslim Indonesia, sebab asal-usul tradisi ini sebenarnya meniru kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. 1400 tahun yang lalu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Dari Aisyah r.a. berkata: Asma’ binti Abu Bakar telah keluar sewaktu hijrah. Padahal pada waktu itu ia sedang berat mengandung bayi Abdullah bin Zubair. Pada saat ia melewati dan sampai di Quba’, ia melahirkan Abdullah.  Setelah lahir, ia keluar menemui Rasulullah saw. supaya beliau meletakkan sesuatu pada langit-langit mulut anaknya. Lalu Rasulullah saw. mengambil anak tersebut darinya dan meletakkannya ke pangkuannya, kemudian beliau meminta buah kurma. Aisyah berkata, “Kami harus mencarinya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada beliau”. Beliau meludahkannya ke dalam mulut anak tersebut sehingga yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludahnya Rasulullah saw. Selanjutnya Asma’ berkata, kemudian Rasulullah saw. mengusap kepala anak tersebut sembari mendoakannya dan menamainya dengan nama Abdullah. Kemudian apabila anak itu berumur tujuh ata delapan tahun, ia datang dan berbai’at kepada Rasulullah saw., karena ayahnya, Zubair, memerintahkannya berbuat demikian. Rasulullah saw. tersenyum ketika melihat anak itu menghadapnya, kemudian ia berbai’at kepada beliau. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 1257).

Dalam hadits lain juga diceritakan:

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw, katanya: Rasulullah saw. selalu diserahkan beberapa orang bayi supaya didoakan dengan keberkatan serta mentahnik mereka. Sebaik sahaja beliau diserahkan seorang bayi, bayi tersebut kencing diatas beliau. Beliau meminta sedikit air kemudian mencurahkannya di atas kencing tersebut tanpa membasuhnya. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 158).

Jadi tidak benar apabila tradisi ini disebut-sebut sebagai bid’ah yang dilarang dalam Islam hanya karena sebab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sehingga munculnya tradisi ini –walaupun secara penyebutan istilah berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh beliau, tetapi intinya sama saja – tetap bersumber dari sunnah Rasulullah saw.

3. Ritual Barakahan

Sebagaimana acara “brokohan” di atas, setiap bayi yang baru lahir kemudian oleh Rasulullah saw. didoakan. Doa merupakan salah satu komponen paling penting dalam Islam dan sebagai perisai orang-orang mukmin. Tak terkecuali bagi sang bayi, sangat dianjurkan untuk didoakan agar ia memperoleh kebaikan dalam beragama Islam dan kebahagiaan di dunia maupun akhiratnya. isteri Rasulullah saw, Aisyah r.a. menuturkan:

“Setiap bayi yang dihadapkan kepada Rasulullah saw., maka beliau mendoakannya, menyuapinya dengan kurma yang sudah dikunyah, dan mendoakannya dengan keberkahan” (HR. Abu Daud).

Pelaksanaan doa dalam acara barakahan di antaranya: Ayat Kursi 7 kali, Surat Alam Nasyrah 3 kali, Surat al-Qadr 7 kali, Surat al-Ikhlas 7 kali, Surat al-Falaq, Surat an-Naas dan Surat  al-fatihah masing-masing satu kali, dan dilanjutkan dengan doa:

“Dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bayi beserta keturunannya terhindar dari godaan syetan yang terkutuk” (QS. Ali-Imran: 36).

Sedangkan para tetangga dan kerabat dekat dianjurkan untuk menjenguk saudaranya yang sedang dikaruniai anak. Hal ini dimaksudkan untuk mendoakan anak tersebut supaya menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tua.

4. Mengebumikan Ari-Ari

Mengebumikan ari-ari dalam istilah lain ialah mengubur tali pusar yang sewaktu masih berada di dalam kandungan ibunya menjadi bagian dari tubuh sang bayi. Dalam tradisi Islam, semua yang termasuk bagian dari tubuh manusia dianjurkan dikubur atau dikebumikan, seperti kuku, rambut dan bagian-bagian tubuh yang lain akibat pembunuhan atau kematian seseorang yang tidak lazim. Termasuk tali pusar (ari-ari), darah dan semua yang menyertai kelahiran bayi ini tetap disyariatkan untuk dikubur.

Tradisi mengebumikan ari-ari ini sudah cukup populer dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu yang hingga saat inipun masih tetap dilestarikan. Merujuk pada ketentuan syariat, masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa tradisi seperti ini menjadi suatu hal yang sangat utama, ari-ari beserta “batir”nya supaya dikebumikan layaknya orang yang sudah mati. Sebab, mengubur anggota badan atau semua yang termasuk di dalamnya adalah anjuran yang sangat ditekankan demi menghormati (memuliakan) pemiliknya.

Semua anggota-anggota tubuh manusia, sebagaimana di atas adalah organ-organ vital ketika sang bayi berada dalam kehidupan di alam kandungan. Namun atas qudrah dan sunnatullah, di saat sang bayi berpindah dari alam kandungan menuju alam dunia, organ-organ ini akan tidak berfungsi dan mengalami kematian dengan sendirinya. Sehingga organ-organ tersebut ketika masih berada di dalam kandungan ibunya juga memiliki nyawa selama mendampingi anaknya hingga melahirkan. Maka dari itu, wajar bila masyarakat memperlakukannya sebagaimana manusia, yakni dengan mengebumikan atau menguburnya.

Adapun pelaksanaannya ialah seperti proses pemakaman, namun dalam pengebumian ari-ari ini, ditambah dengan pemberian kunyit, bunga, dan lainnya. Terkadang ditambah pula dengan pemasangan lampu, lilin dan dimasukkan ke dalam “takir”. Akan tetapi penambahan ini dianggap sangat berlebihan dikarenakan tidak adanya kejelasan akan maksud dan tujuannya secara syar’i, sehingga dipandang haram hukumnya dalam norma agama.

5. Tradisi “Njagong” Bayi dan Sepasaran

Sebagaimana syukuran dan barakahan di atas, tradisi “njagong” atau majelis dzikir bagi kelahiran sang bayi juga ditradisikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Para tetangga dan sanak saudara diundang untuk datang ke tempat orang yang baru melahirkan dalam rangka membaca doa dan dzikir. Acara ini ditujukan sebagai rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan atas kelahiran si jabang bayi selaku calon generasi penerus bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Kata “njagong” ini berasal dari bahasa jawa yang berarti duduk-duduk bercengkerama bersama sambil menikmati hidangan. Para undangan datang dalam rangka turut berbahagia atas kelahiran sang buah hati dari orang yang mempunyai hajat. Tuan rumah juga ikut njagongi (menemani ngobrol) para undangannya sambil makan bersama, yang makanan yang disuguhkan tersebut dimaksudkan sebagai sedekah.

Dalam pelaksanaan njagong ini, para undangan beserta tuan rumah diminta untuk membacakan kitab-kitab Maulid Nabi Muhammad saw, seperti al-Barzanji (berzanjian), shalawat Burdah Syaikh al-Bushairi (burdahan), dan kitab maulid ad-Diba’i (diba’an), terkadang pula dibacakan kitab manaqib. Pembacaan beberapa kitab-kitab tersebut dimaksudkan untuk memohon keberkahan kepada Allah melalui kemuliaan Rasul-Nya sehingga semua yang dihajatkan mendapat ridha dari Allah swt. Tradisi ini berlangsung lima hari hingga pada puncak acaranya ialah pada hari kelima, yakni diadakan tradisi “sepasaran”.

6. Pelaksanaan Aqiqah

Setelah upacara sepasaran dilangsungkan, kemudian pada hari ketujuh dilanjutkan dengan acara penyembelihan kambing, mencukur rambut bayi dan memberi nama. Dalam Islam, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan aqiqah. Para tamu dan tetangga diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan maksud yang sama dengan acara sepesaran di atas, yakni mendoakan agar supaya sang bayi yang akan diaqiqahi menjadi insan yang senantiasa taat kepada perintah Allah, menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tuanya serta berguna bagi masyarakat.

Pelaksanaannya pun hampir sama dengan sepasaran. Dengan melalui pendekatan syariat, para tamu diundang dan diminta untuk membaca kitab Maulid Nabi Muhammad saw dan kitab manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kenduri, seperti membaca tahlil dan ditutup dengan doa. Setelah selesai, para undangan disuguhkan dengan makanan yang menu utamanya ialah berupa daging sembelihan hewan aqiqah.

7. Menindik Telinga Bagi Anak Perempuan

Khusus anak perempuan, pada saat pelaksanaan aqiqah biasanya disertai dengan tradisi melubangi daun telinga yang nantinya dimaksudkan untuk tempat dipasangnya anting-anting atau tindik. Tradisi ini memang belum ada pada zaman Rasulullah dengan tidak adanya pernyataan langsung dari beliau tentang hal ini. Sehingga tradisi menindik telinga anak perempuan dihukumi boleh (mubah) asal diniatkan untuk tempat perhiasan semata. Namun untuk anak laki-laki hukumnya makruh, bahkan haram apabila akan menyerupai wanita.

Tradisi menindik ini sebenarnya sudah ditradisikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. Ceritanya ialah suatu ketika Nabi Ibrahim diusir oleh keluarganya karena menyebarkan agama Tauhid. Kemudian dia lari ke utara (ke arah Haran). Di sanapun juga dimusuhi masyarakat sehingga ia pindah ke Kana’an (Palestina Selatan). Namun karena suatu sebab, ia dan isterinya pindah kembali ke Mesir. Ternyata disana terdapat seorang Raja yang justru menginginkan isterinya, yang tak lain bernama Sarah. Kemudian Ibrahim mencari akal agar istrinya supaya tidak jadi diperistri oleh Raja tersebut, yaitu dengan cara melubangi daun telinga milik Sarah. Menurut masyarakat Mesir pada masa lalu, wanita yang diketahui telinganya lubang dikategorikan sebagai orang yang cacat, yang menandakan bahwa ia adalah seorang budak. Dengan demikian, sang Raja mengurungkan niatnya untuk memperisteri Sarah.

Setelah tidak jadi memperistri Sarah, sang raja malah menghadiahkan seorang wanita dari keturunan Habsyi kepada Ibrahim. Wanita tersebut tak lain adalah Hajar, ibunda Ismail. Beberapa saat kemudian, Sarah kaget dan marah-marah ketika melihat daun telinganya berlubang. Maka dari itu, Ibrahim menutupi daun telinga istrinya dengan emas agar ia lebih kelihatan cantik. Nah, dari kisah inilah kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat setempat, tak terkecuali oleh masyarakat Jawa.

Tidak hanya menindik daun telinga perempuan, khitan bagi anak laki-laki juga merupakan tradisi dari Nabi Ibrahim as. yang sampai saat ini tetap dilaksanakan. Begitupun budaya memakai sarung, yang akar sejarahnya juga berasal dari bapaknya Ismail as. Ini. Singkat cerita, saat Nabi Ibrahim as. berkhitan pada umur 97 tahun, beliau menggunakan kain penutup yang lebar sejenis sarung. Maka dari itulah, nabi kita tercinta Rasulullah saw.membiarkan kebiasaan tersebut agar tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as. Begitu pula agama Islam yang sudah dirintis sebelumnya oleh Nabi Ibrahim as. dalam bingkai agama Tauhid.

Allah swt. berfirman:

Katakanlah: “Benarkah (apa yang telah difirmankan) Allah?” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukankah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95).

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah millah Ibrahim seorang yang hanif”. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. An-Nahl: 123).

Demikianlah rincian mengenai tradisi tentang kelahiran, semoga menjadi wawasan bagi kita selaku umat Islam serta penerus tradisi para pendahulu kita.

Dikutip: Berbagai sumber

Tradisi Jawa Tentang Kematian

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Jawa pada umumnya masih berpegang teguh dalam melestarikan tradisi kebudayaan nenek moyangnya. Mayoritas masyarakat Jawa juga masih mempercayai eksistensi ruh seseorang yang telah berpisah dari raganya sebagai penghormatan terakhir padanya. Berikut beberapa tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Jawa umumnya berkenaan tentang peristiwa kematian seseorang, antara lain:

Brobosan

Yakni suatu upacara yang diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal. Waktunya pun dilaksanakan ketika jenazah akan diberangkatkan ke peristirahatan terakhir (dimakamkan) dan dipimpin oleh salah satu anggota keluarga yang paling tua. Tata cara pelaksanaannya antara lain: 1) Keranda/peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah doa jenazah selesai; 2) Secara berturutan, para ahli waris yang ditinggal (mulai anak laki-laki tertua hingga cucu perempuan) berjalan melewati keranda yang berada di atasnya (mbrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam; 3) Secara urutan, yang pertama kali mbrobosi keranda adalah anak laki-laki tertua dan keluarga inti, selanjutnya disusul oleh anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.

Upacara ini dilakukan untuk menghormati, menjunjung tinggi, dan mengenang jasa-jasa almarhum semasa hidupnya dan memendam hal-hal yang kurang baik dari almarhum. Dalam istilah jawanya disebut “Mikul dhuwur mendhem jero”.

Surtanah

Kata “surtanah” berasal dari ungkapan “ngesur tanah” yang bermakna membuat pekuburan. Istilah ini dilakukan dengan membuat sajian saat almarhum baru saja dimakamkan.

Tigang dinten

Yaitu semacam kenduri/slametan yang dilakukan pada hari ketiga dari kematian almarhum.

Pitung dinten

Sama halnya dengan kenduri tigang dinten, yakni dilakukan pada hari ketujuh dari kematian almarhum.

Petang puluh dinten

Yakni kenduri pada hari keempat puluh dari kematian almarhum.

Nyatus dinten

Yakni kenduri pada hari keseratus dari kematian almarhum.

Mendhak

Yakni kenduri yang dilakukan setelah satu tahun (pendhak siji) dan dua tahun (pendhak pindho) dari kematian almarhum.

Nyewu

Yakni kenduri pada hari keseribu dari kematian almarhum.

Kol (kirim-kirim)

Sebagaimana kenduri yang dilakukan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu dari kematian almarhum, namun diselenggarakan setelah kenduri keseribu dan dilakukan pada waktu bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya.

Adapun syarat sajian yang mesti disiapkan dalam acara kematian, merujuk pada adat yang telah ditradisikan Keraton Yogya, antara lain:

Surtanah

Sajian yang harus disiapkan antara lain nasi gurih (sekul uduk), ingkung (ayam yang dimasak utuh), urap (daun sayuran rebus dengan kelengkapannya), cabe merah utuh, bawang merah yang sudah dikupas kulitnya, kedelai hitam, krupuk rambak, garam yang sudah dihaluskan, bunga kenanga, dan tumpeng yang sudah dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng ungkur-ungkuran). Maknanya ialah bahwa orang mati itu telah terpisah antara ruh dan jasadnya, sehingga upacara ini dimaksudkan untuk mendoakan almarhum yang telah berpindah dari alam dunia ke alam kubur.

Tigang dinten

Sajian yang dipersiapkan antara lain: 1) Takir pontang berisi nasi putih dan nasi kuning yang dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang sudah dipotong, bawang merah yang sudah diiris, garam yang sudah dihaluskan, kue apem putih, uang, dan gantal dua buah; 2) Nasi asahan tiga tampah, daging sapi yang sudah dimasak, lauk-pauk yang kering, sambal santan, sayur menir dan jenang merah; 3) Dan makanan yang disukai almarhum juga dibuat dan diletakkan di samping kuburannya selama tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari setelah kematiannya.

Pitung dinten

Sajian yang dipersiapkan antara lain: 1) Takir berisi kue apem, uang logam, ketan dan kolak; 2) Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang yang  diikat kecil-kecil, daging jerohan yang ditaruh di dalam conthong (wadah berbentuk kerucut), dan pindang putih.

Petang puluh dinten Nyatus dinten

Sajian yang dihidangkan sama dengan sajian ketika tujuh hari, kemudian ditambah nasi uduk, ingkung, kedelai hitam, cabe merah utuh, kerupuk kulit rambak, bawang merah yang sudah dikupas kulitnya, garam dan bunga kenanga.

Pendhak siji lan pendhak pindho

Sama halnya dengan sajian yang dihidangkan pada saat hari keempat puluh dan keseratus.

Nyewu

Sama halnya dengan sajian yang dihidangkan pada saat mendhak. Lalu ditambah: 1) daging kambing/domba yang dimasak becek. Sehari sebelum disembelih, kambing/domba tersebut disiram dengan bunga setaman, dicuci bulunya dan diselimuti dengan kain mori selebar satu tangan, diberi kalungan bunga dan diberi makan daun sirih. Keesokan harinya, domba tersebut ditidurkan di tanah dan diikat talinya, badan domba digambar dengan ujung pisau, kemudian disembelih dan dimasak becek; 2) sepasang burung merpati yang dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung tersebut dilepas dan diterbangkan. Hal ini dimaksudkan agar arwah orang yang meninggal diberi tunggangan agar cepat kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci, bersih dan tanpa beban sedikitpun; 3) Sesaji yang terdiri atas tikar bangka, benang lawe sebanyak empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua, cermin/kaca, kapun, kemenyan, pisang raja dan gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dan perlenglapannya untuk nginang, dan bunga boreh. Semua perlengkapan ini ditaruh di atas tampah dan diletakkan di tangah-tengah orang yang berkenduri untuk melakukan doa.

Kol (kirim-kirim)

Kol atau ngekoli dilakukan dengan cara kenduri dengan bahan-bahan yang dipersiapkan: apem, kolak, ketan yang semuanya ditaruh di dalam takir, pisang raja setangkep, uang dan dupa.

Semua rangkaian upacara dan persiapan sesajen diatas kemudian oleh wali songo di-islamisasi-kan dengan ditambah doa-doa mayit, yasinan, fida’an, tahlilan yang dilakukan pada waktu-waktu itu. Walaupun tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang ini terlihat sangat kental dengan aura mistik yang sangat mendekati kemusyrikan dan kejahiliyyahan, namun oleh gagasan kreatif wali songo, tradisi tersebut dimodifikasi kembali hingga sesuai dengan ajaran Islam. Pelaksanaan kenduri lebih ditekankan pada pembacaan doa yang ditujukan kepada almarhum, sedangkan sesaji nantinya dimaksudkan untuk bersedekah. Sehingga tradisi tahlilan dan semacamnya ini bertujuan untuk bahan pembelajaran masyarakat (piwulang) yang lebih baik dan lebih Islami, dan bukan untuk tujuan nihayah (meratapi si mayit).

Selain itu, acara semacam ini dimaksudkan sebagai sarana dakwah yang mampu melebur dengan budaya setempat dan menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat lokal bahwa kematian bukan merupakan sesuatu yang harus ditakuti dan dikeramatkan, melainkan sebagai proses penyadaran akan beratnya proses kematian yang dialami seseorang sehingga timbul rasa bakti dan hormat kepada orang tua yang dapat dimplementasikan dalam wujud doa.

TIPOLOGI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

Dalam kajian pemikiran (filsafat) pendidikan Islam, beberapa ahli pendidikan Islam menggarisbawahi adnaya tiga alur pemikiran dalam menjawab persoalan pendidikan, yaitu:

Pertama, kelompok yang berusaha membangun konsep (filosofis) pendidikan Islam, disamping melalui al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber utama, juga mempertimbangkan kata sahabat, kemaslahatan sosial, nilai-nilai dan kebiasaan sosial, serta pandangan-pandangan pemikir Islam.

Kedua, kelompok yang berusaha mengangkat konsep pendidikan Islam dari al-Qur’an dan al-Hadits, sehingga konsep filsafatnya hanya berasal dari kedua sumber ajaran Islam tersebut.

Ketiga, kelompok yang berusaha membangun pemikiran (filsafat) pendidikan Islam melalui al-Qur’an dan al-Hadit, dan bersedia menerima setiap perubahan dan perkembangan budaya baru yang dihadapinya untuk ditransformasikan menjadi budaya yang Islami.

Disisi lain, pengembangan pemikiran (filosofis) pendidikan Islam juga dapat dicermati dari pola pemikiran Islam yang berkembang menjawab tantangan perubahan zaman serta era modernitas. Sehubungan dengan itu, Abdullah (1996) mencermati adanya empat model pemikiran keislaman, yaitu:

1. Tekstualis Salafi

Pemikiran Islam model ini berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunah dengan melepaskan diri dan kurang begitu mempertimbangkan situasi kongkrit dinamika pergumulan masyarakat muslim (era klasik maupun kontemporer) yang mengitarinya. Masyarakat ideal yang diidam-idamkan adalah masyarakat salaf, yakni struktur masyarakat era kenabian Muhammad SAW dan para sahabat yang menyertainya. Rujukan utama pemikirannya adalah kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits. Tanpa menggunakan pendekatan keilmuan yang lain. Sehingga model pemikiran ini terlihat kurang peka terhadap perubahan dan hanya menjadikan masyarakat salaf sebagai parameter dalam menjawab tantangan dan perubahan zaman serta era modenitas.

2. Tradisionalis Mazhabi

Dalam pandangan pemikiran model tradisional salafi, ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunah dipahami melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, tetapi sering kali kurang begitu memperhatikan situasi historis dan sosiologis masyarakat setempat di mana ia turut hidup di dalamnya. Hasil pemikiran ulama’ terdahulu dianggap sudah pasti dan absolute tanpa mempertimbangkan dimensi historisitasnya. Masyarakat muslim yang diidealkan adalah masyarakat muslim era klasik, dimana semua persoalan keagamaan dianggap telah terkupas habis oleh para ulama atau cendikiawan muslim terdahulu.

Pola pikirnya selalu bertumpu pada hasil ijtihad ulama’ terdahulu dalam menyelesaikan persoalan ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan pada umumnya. Kitab kuning menjadi rujukan pokok, dan sulit untuk keluar dari mazhab atau pemikiran keislaman yang terbentuk beberapa abad lalu. Model pemikiran ini lebih menonjolkan wataknya yang tradisional dan mazhabi. Watak tradisionalnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai, norma dan adat kebiasaan serta pola-pola pikir yang ada secara turun menurun dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi sosio historis masyarakat yang sudah mengalami perubahan dan perkembangan sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan watak mazhabinya diwujudkan dalam bentuk kecenderungannya untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relative mapan.

3. Modernis

Model pemikiran Islam modernis berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah dengan hanya semata-mata mempertimbangkan kondisi dan tantangan sosio-historis dan cultural yang dihadapi oleh masyarakat Muslim kontemporer, tanpa mempertimbangkan muatan-muatan khazanah intelektual muslim era klasik yang terkait dengan persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Model ini tidak sabar dalam menekuni dan mencermati pemikiran era klasik, malahan lebih bersikap potong kompas, yakni ingin langsung memasuki teknologi modern tanpa mempertimbangkan khazanah intelektual muslim dan bangunan budaya masyarakat muslim yang terbentuk berabad-abad. Obsesi pemikirannya adalah pemahaman langsung terhadap nash Al-Qur’an dan langsung loncat ke peradaban modern.

4. Neo Modernis

Kalangan Neo Modernis untuk memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah harus berupaya mengikut sertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia teknologi modern. Jadi model ini selalu mempertimbangkan Al-Qur’an dan Al-Sunah, khazanah pemikiran Islam klasik, serta pendekatan-pendekatan keilmuan yang muncul pada abad ke 19 dan 20 M. Jargon yang sering dikumandangkan adalah: “ al-Muhafazah ‘ala al-Qadim al-Salih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah”, yakni memelihara hal-hal yang baik yang telah ada sambil mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Sumber: lihat di http://imtaq.com. Mengutip dari Buku Wacana Pengembangan Pendidikan Islam Karya Dr. Muhaimin, M.A. Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003

Shalat Lidaf’il Bala’: Tradisi Islam di Bulan Safar Warisan Para Ahli Sufiyah

Shalat sunnah lidaf’il bala’ (tolak bala’) merupakan shalat sunnah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu pada pekan keempat. Shalat sunnah ini dikerjakan empat rakaat dua salam dan dilaksanakan secara berjamaah.

Shalat sunnah ini dilakukan dalam rangka memperingati sekaligus menenangkan umat dalam rangka berlindung kepada Allah akan datangnya bala’ dan bencana yang terjadi pada bulan Safar. Awal mula munculnya ibadah ini adalah berdasarkan ilham dan ijtihad para ulama’ salaf maupun ulama’ sufiyah terdahulu yang teringat bahwa bulan safar adalah bulan yang penuh dengan kesialan dan malapetaka, dan hari rabu pekan keempat merupakan hari yang paling na’as pada bulan itu. Seorang sufi asal India, Ibnu Khothiruddin Al-Atthor (w. th 970 H/1562 M), dalam kitab “Jawahir Al-Khomsi” menyebutkan, Syekh Al-Kamil Farid-Din Sakarjanj telah berkata bahwa dia melihat dalam “Al-Awrad Al-Khawarija” nya Syekh Mu’inuddin sebagai berikut:

أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلاَثُمِائَةِ اَلْفٍ وَعِشْرِيْنَ أَلَفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّهَا فَيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِرَةِ مِنْ شَهْرِ صَفَرِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبُ أَيِّمِ تِلْكَ السَّنَةِ، فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرُأُ فِيْ كُلِّ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ سَبْعَةَ عَشَرَ وَالْإِخْلاَصَ خَمْسَ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّاةً وِيَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفَظَهُ االلهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا  الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَمْ تُحْمَ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلاَيَا إِلَى تَمَام السَّنَةِ.

Artinya: “Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan sekitar 320.000 macam bala’ yang semuanya ditimpakan pada hari rabu akhir bulan Safar. Maka hari itu adalah hari tersulit dalam tahun itu. Barang siapa shalat empat rakaat pada hari itu, dengan membaca di masing-masing rakaatnya setelah Al-Fatihah yakni surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, mu’awwidzatain masing-masing satu kali dan berdoa –do’anya Insya Allah akan disebutkan setelah ini–, maka dengan sifat karomnya Allah, Allah akan menjaganya dari semua bala’ yang turun pada hari itu dan di sekelilingnya akan terhindar dari bala’ tersebut sampai genap setahun” .

Adapun cara pelaksanaan shalat sunnah ini sama dengan shalat-shalat sunnah pada umumnya. Namun yang membedakannya adalah, setiap habis membaca surat Al-Fatihah pada masing-masing rakaatnya membaca: Surat Al-Kautsar 17 kali, Surat Al-Ikhlas 5 kali, Surat Al-Falaq dan surat An-Naas masing-masing satu kali.

Adapun doa yang dibaca setelah selesai shalat lidaf’il bala’ seperti berikut:

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَّ عَلَى ألهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ القَيُّوْمُ وَنَتُوْبُ إلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَيَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ مَوْتًا وَلاَ نُشُوْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّيْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ. وَادْفَعْنَا مِنَ الْبَلاَءِ الْمُبْرَامِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْدُ بِكَلِمَاتِ التَّآمَّاتِ كُلِّهَا مِنَ الرَّيْحِ الْأَحْمَرِ وَمِنَ الدَّآءِ الْأَكْبَرِ فِيْ نَفْسِنَا وَدَمِّنَا وِلحمِنَا وَعَظْمِنَا وَجُلُوْدِنَا وَعُرُوْقِنَا. سُبْحَانَكَ إِذَا قَضَيْتَ مَرًّا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ. الله أَكْبَرُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ ٣X.

اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقَوِيَّ وَيَا شَدِيْدَ الْمَحَالِ يَا عَزِيْزُ يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جمِيْعَ خَلْقِكَ يَا مُحِسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لآاِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ارْحَمْنَا بِرَحْمًتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَاَخِيْهَا وَجَدِّهَا وَاَبِيْهِ وَاُمِّهِ وَبَنِيْهِ اكْفِنَا شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَاكَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَادَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. آمين.

Setelah pelaksanaan shalat berakhir, biasanya diadakan shodaqohan sekadarnya seperti halnya kenduri yang diawali dengan membaca doa tahlil, kemudian dilanjutkan dengan ceramah atau mauidhah hasanah secukupnya, yang selanjutnya acara tersebut diakhiri dengan makan bersama. Setelah itu, para jamaah dipersilakan mengambil air barokah yang sudah dipersiapkan oleh panitia sebelumnya. Para jamaah pun bisa langsung meminumnya di tempat, atau boleh juga dibawa pulang untuk diminum bersama keluarga di rumah.

Status Hukum Shalat Sunnah Lidaf’il Bala’

Walaupun ibadah ini oleh sebagian kalangan dikategorikan sebagai amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw dan bahkan menganggapnya sebagai bid’ah, namun oleh para ulama’ sufiyah dan tarekat, amalan shalat lidaf’il bala’ ini tetap boleh dikerjakan asalkan tidak menganggapnya sebagai keharusan yang mesti dilakukan. Keeksistensian ibadah ini pula jangan sampai dijadikan barang perselisihan sehingga timbul pertentangan di kalangan internal umat muslim. Akan tetapi justru amalan ini dijadikan momentum peningkatan kualitas ibadah kepada Allah swt serta sebuah sarana agar dapat berlindung kepada-Nya dari segala macam bencana dan mara bahaya yang akan menimpanya.

Allah swt berfirman:

وَ اسْتَعِيْنُوْا بِا الصَّبْرِ وَالصَّلَوةِ (البقرة: 45)

“Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45).

Ayat diatas diperkuat dengan hadirnya sunnah Rasulullah saw:

عن حذيفة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا حزبه أمر فزع إلى الصّلاة (رواه أحمد و أبو داود)

Dari Hudzaifah ra berkata: “Apabila Rasulullah saw menemui suatu kesulitan, maka beliau segera menunaikan shalat” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Apalagi semua shalat –baik shalat wajib maupun shalat sunnah– merupakan sebuah ibadah yang ditekankan untuk dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah saw telah bersabda:

الصّلاة خير موضوع

“Shalat adalah sebaik-baik amal yang ditetapkan (Allah untuk hamba-Nya)”

Ditambah lagi, setelah selesai shalat dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah dan disertai dengan shadaqahan ala kadarnya. Inipun juga dianjurkan oleh Nabi saw dalam sabda beliau:

بَكِرٌوْا بِا الصَّدَقَةِ فَإِنَّ الْبَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّاهَا (رواه الطبراني)

“Segeralah bershadaqah, sebab bala’ bencana tidak akan melangkahinya” (HR. Thabrani).

Yang menjadi permasalahan disini ialah, banyak di kalangan umat Islam meyakini bahwa amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya secara langsung dari Rasulullah saw – seperti halnya shalat lidaf’il bala’ ini – dianggapnya sebagai keharusan yang mesti dikerjakan, akan tetapi ibadah-ibadah yang jelas-jelas ada tuntunannya dari Rasulullah saw, oleh masyarakat tidak dianggap sebagai keharusan –seperti shalat berjamaah, shadaqah dan semacamnya–bahkan terasa malas untuk mengerjakannya. Pandangan seperti inilah yang sangat keliru, dan perkara ini amat dekat dengan bid’ah. Padahal, perkara yang sifatnya qath’i (jelas dalil dan contohnya) harus didahulukan untuk diamalkan daripada perkara yang tidak langsung dicontohkan oleh Rasulullah saw, atau terakulturasi oleh budaya-budaya tertentu. Namun yang jelas, bentuk ibadah seperti di atas, bukan bermaksud untuk mengubah-ubah syari’at, tetapi sebagai bentuk strategi dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah, dengan catatan tidak menafikkan perkara-perkara yang jelas dalilnya.

Jadi tidak benar apabila shalat ini dianggap sebagai bid’ah dan statusnya haram dikerjakan oleh umat Islam.

Dikutip dari: Berbagai Sumber.

JEJAK SEJARAH YAHUDI DI INDONESIA

Perlu diketahui bersama, bahwa gerakan Zionis Internasional Freemasonry didirikan di Inggris pada tahun 1717. Orang-orang Yahudi lebih suka menyelami bentuk aktivitas mereka dengan selimut perkumpulan theosofi dengan tujuan “kemanusiaan”. Pemimpinnya ialah Nyonya Blavatsky, seorang Yahudi keturunan Rusia, dan berpusat di New York.

Jurnal “The Theosofist” terbitan New York tahun 1881 menyiarkan kabar bahwa Blavatsky mengutus Braon Van Tengnagel untuk mendirikan loge, yaitu tempat peribadatan kaum Vrijmetselarij (Freemasonry) di Pekalongan, Jawa Tengah. Kota ini dipilih karena sejak tahun 1868 berubah status dari desa menjadi kota, disamping dikenal sebagai konsentrasi santri di Jawa Tengah. Loge didirikan pada tahun 1883, tetapi tidak berkembang karena reaksi keras masyarakat yang disebabkan adanya praktik ritualisme mereka, yaitu memanggil arwah. Atas sebab itulah, masyarakat sekitar menyebut bangunan Yahudi tersebut sebagai gedong setan.

Peristiwa di Pekalongan tersebut memaksa mereka mengalihkan kegiatan mereka ke Batavia. Terdapat dua loge besar didirikan di Jalan Merdeka Barat dan Jalan Budi Utomo. Selain dua loge di Batavia, terdapat pula loge-loge di daerah lain, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Makasar dan Bandung, yang hanya dikhususkan bagi orang Yahudi dan Eropa yang bekerja di Hindia Belanda dan di sektor Birokrasi Perdagangan Belanda (VOC) saja sebagai pusat kegiatan ritual semata.

Hindia Belanda dianggap sebagai negeri yang aman dalam menjalankan operasi mereka, karena penduduk saat itu menganggap Yahudi Belanda dan Yahudi Eropa sebagai orang Nasrani. Di samping itu, Gubernur Hindia Belanda selalu menjadi pembina Rotary Club.

Aktivitas ritual yang dilakukannya berujung pada kebuntuan (stagnasi), artinya gerakan zionis jalan di tempat. Maka selanjutnya, gerakan zionisme internasional untuk Asia yang berpusat di Adyar, India, pada tanggal 31 Mei 1909 mengutus Ir. A.J.E. Van Bloomenstein ke Jawa.

Untuk mengubah pola pergerakan, pada tanggal 12 November 1912, Bloomenstein berhasil mendirikan Theosofische Vereeniging (TV), yang kemudian mendapatkan pengakuan dan dimuat dalam Staatblaad Nomor 543.

TV bekerja di kalangan intelektual dan calon intelektual bumiputra dan juga berperan dalam membiayai Kongres Pemuda I pada tahun 1926. Kongres itu bahkan digelar di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg. Akibatnya, ormas pemuda memboikot kongres itu. Kemudian sebagai reaksi dari peristiwa pemboikotan tersebut, maka ormas pemudia menggelar Kongres Pemuda II pada tanggal 27-28 Oktober 1928 dan menghasilkan sumpah pemuda.

Aktivitas zionis yang kian menggeliat ini tidak hanya bergerak di kalangan masyarakat saja, namun juga di pemerintahan. Terutama sekali menjelang dan pasca Perang Dunia I, yang sempat menggelisahkan orang-orang Jerman. Terutama terlihat pada perannya tokoh Yahudi Belanda, Snock Hurgronje dalam perang Aceh.

Seperti diketahui, Turki sebagai sekutu Jerman gagal membantu Aceh karena panjangnya garis supply. Kehadiran agen zionis internasional Sneevliet di Jawa yang berhasil mengkader pemuda intelektual Indonesia, maka makin menguatkan tekad Jerman untuk meruntuhkan pemerintah zionis Hindia Belanda.

Hal itu tercium oleh agen Belanda. Tersebarlah isu bahwa H.O.S. Tjokroaminoto (pendiri SI) menerima dana dua juta gulden untuk mengkudeta kompeni. Untuk mengklarifikasi isu tersebut, Agus Salim ditugaskan menguntit Tjokroaminoto. Sayangnya, kewibawaan Tjokroaminoto malah memikat Salim. Dan pada tahun 1918 Salim memotong kawat dari Surabaya, dan mengabarkan bahwa ia masuk SI (Serikat Islam) dan berhenti sebagai agen.

Di bidang bisnis, orang Yahudi di Jakarta menguasai pusat bisnis elite di Pasar Baru, Jalan Juanda dan Jalan Majapahit. Mereka menguasai perdagangan permata, jam tangan, dan kacamata. Pusat hiburan elite di Jakarta juga diramaikan oleh pemusik Yahudi Polandia. Akhirnya, Batavia menjadi salah satu kota zionis yang terpenting di Asia.

Maka dari itu, tidak mengherankan kalau Jepang yang saat itu menjadi sekutu Jerman ketika merebut Polandia dari tangan Belanda, Jepang melakukan kampanye anti-zionis itu. Beberapa tokoh penting Zionis Hindia Belanda, salah satunya ialah Ir. Van Leeweun dikirim ke camp tahanan dan tewas di tempat tersebut. Kesadaran anti-zionis juga merebak di kalangan rakyat biasa. Dr. Ratulangi pada bulan Maret 1943 memimpin rakyat raksasa di lapangan Ikada (sekarang Monas) yang mengutuk zionisme.

Pasca kemerdekaan, usaha untuk menghidupkan kembali gerakan Zionisme masih dilakukan. Pada tanggal 14 Juni 1954, berdirilah Jewish Community in Indonesia yang dipimpin oleh F. Dias Santilhano selaku ketua dan Panitera I. Khazam. Di dalam anggaran dasarnya dinyatakan, perkumpulan itu merupakan kelanjutan dari Vereehiging Voor Joodsche Belangen in Nederlandsch-Indie di Batavia pada tanggal 16 Juli 1927.

Saat ini, pembicaraan tentang gerakan Zionisme masih berlanjut, yaitu berkaitan dengan operasi Zionis internasional di Indonesia, yang sepertinya mempunyai dasar yang kuat, baik dipandang dari segi historis maupun pada data mutakhir. Sebagaimana kesaksian mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro yang termuat dalam memoarnya dikatakan, “Saya sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Israel. Paling-paling saya ingat, saya pernah ke Jalan Tosari memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta”.

Dikutip dari: berbagai sumber.

AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Al-Qur'anul Karim

Kekelaman Ilmu Pengetahuan dan Krisis Moralitas di Masa Lampau

Telah kita akui bahwa abad ke-20 seperti sekarang ini merupakan abad kebangkitan segala bentuk pemikiran. Abad ini juga disebut-sebut sebagai abad pencerahan. Namun pada abad ini pula terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan dalam memandang segala hal, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan agama. Di dalam agama misalnya, berbagai paradigma banyak yang ditentang. Tak sedikit ilmuwan yang ragu terhadap kredibelitas kitab suci mereka, dan mempertanyakan kebenaran yang diungkap dalam agama yang dianutnya. Maka wajar, banyak dari mereka yang tidak percaya dengan kitab suci yang diyakininya sejak lahir.

Bagi yang masih belajar di sekolah dasar atau tingkat menengah, tentu pasti ingat tentang kisah kedua tokoh yang amat terkenal di bidang astronomi. Mereka tak lain adalah bernama Nicholas Copernicus dan Galileo Galilei, yang mereka berdua ialah penemu teori heliosentris yang sangat fenomenal. Berdasarkan penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta namun mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bahkan Galileo galilei dihukum mati oleh pihak gereja lantaran dia meragukan keputusan gereja yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta.

Semenjak peristiwa itu, maka selanjutnya gereja menginstruksikan bahwa semua ilmuwan yang menentang keputusan gereja akan bernasib sama dengan Galileo Galilei. Akhirnya, mereka yang takut dengan ancaman itu terpaksa membenarkan dogma gereja tersebut. Namun ada juga beberapa ilmuwan yang tetap bersikukuh tidak setuju terhadap dogma yang diyakini gereja itu. Maka dari itu, mereka mencoba untuk membuka forum-forum diskusi dengan pihak gereja bahwa apa yang menjadi dogma selama ini adalah tidak ilmiah sehingga perlu diluruskan dengan argumen-argumen ilmiahnya. Namun sayang, pihak gereja tetap bersikeras mempertahankan dogma tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka kecewa berat dan berkesimpulan bahwa gereja telah menghalangi mereka dalam berpikir, sehingga hal ini dinamakan pembodohan intelektualitas. Akibatnya, agama dituding sebagai salah satu penyebab terhambatnya perkembangan ilmu pengetahuan, yang perlahan mereka meninggalkan agama mereka.

Atas perdebatan antara kaum intelektual dengan pihak gereja tersebut, maka orang-orang non muslim yang notabene bukan petinggi agama atau orang yang paham tentang kitab sucinya menyimpulkan, agama tidak mengatur ilmu pengetahuan. Mereka perlahan mengingkari isi kitab suci mereka yang selama ini mereka baca setiap minggu. Statement inilah yang melahirkan paradigma tersendiri dalam sejarah lahirnya ideologi dunia, yakni sekularisme.

Peristiwa berpisahnya ilmu pengetahuan dari agama menyebabkan terlepasnya kontrol agama dalam kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat. Dunia Amerika dan Eropa dilanda krisis moral hingga sekarang. Pergaulan bebas, hubungan seksual di luar pernikahan, kelahiran bayi yang tidak punya ayah yang jelas, merebaknya kasus narkoba dan aborsi, banyak gadis yang masih umur dibawah 17 tahun dudah nikah dan berumah tangga, dan lain sebagainya menunjukkan betapa parahnya kondisi moral yang mereka alami. Maka jelaslah, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan dilahirkan oleh ajaran agama, namun karena jiwa ilmiah semata. Sejak itulah, moral dan etika tidak terkontrol lantaran tak adanya agama di dalam kehidupannya. Para kaum moralis cemas melihat perkembangan dunia yang tak beraturan tersebut. Kekhawatiran mereka beralasan, jika perkembangan seperti ini terus berlangsung, maka akan membawa suatu peristiwa yang akan menghancurkan dirinya sendiri dan peradaban dunia. Beginilah kegoncangan yang menimpa suatu masyarakat dengan kehidupannya yang sekular.

Pesan-Pesan Al-Qur’an Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Di tengah-tengah kehidupan sekular dan carut-marutnya pergolakan ilmiah dengan doktrinitas agama waktu itu. Islam lahir dan memberikan pencerahan kepada seluruh manusia bahwa paradigma semacam itu sungguh keliru dan harus diluruskan. Perhatikan beberapa ayat berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imran: 190-191)

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS Yaasin: 34-35)

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yaasin: 40)

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah: 11)

Beberapa ayat di atas merupakan pesan yang disampaikan oleh Al-Qur’an kepada para pakar saintis dan teknolog ketika menyikapi keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam yang memiliki kesempurnaan di setiap ajarannya sangat terasa keindahannya dan tidak membelenggu akal pikiran para pemeluknya. Justru mereka diajak untuk berpikir lebih mendalam dan kritis. Hanya saja, Al-Qur’an memberikan sebuah warning agar manusia senentiasa bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya yang berupa akal tersebut. Selain itu juga memberikan batasan agar manusia jangan sampai terjerumus ke dalam ilmu pengetahuan yang sesat, yaitu mendahulukan akal/logika dari pada wahyu.

Dalam masalah hubungan agama dengan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dalam sejarah Islam bahwa jazirah Arab yang kondisi geografis dan geologisnya yang sangat ekstrem dan gersang, kondisi sosiologisnya yang melahirkan masyarakat yang berwatak keras dan kejam. Namun disinilah letak kejayaan dan kemajuan peradaban baru yang mampu mengungguli peradaban barat sekular waktu itu. Dialah Nabi Muhammad saw., yang dibangkitkan oleh Allah dengan membawa risalah illahi (Al-Qur’an) untuk mengajak manusia menyembah dan taat kepada Allah. Dalam usahanya membangkitkan ruh imaniyah dan ubuddiyah, Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dan berpikir, sebab akal adalah anugerah Allah yang amat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Begitu ayat Al-Qur’an diwahyukan, maka lahirlah konsepsi Islam yang amat fundamental: Iman, ibadah, ilmu dan amal shaleh.

Keilmiahan ayat-ayat Al-Qur’an telah terwujud dengan dibuktikannya kejayaan Islam di masa pertengahan. Umat Islam selama berabad-abad telah memimpin dunia dengan mendirikan pusat-pusat kebudayaan Islam yang cahayanya mampu menerangi penjuru dunia. Sejarah mencatat, tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi berjayanya Islam ialah: Cordova, Baghdad, Istanbul, Damaskus, Dranada dan Sevilla. Beberapa kota yang disebutkan ini telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia Islam dan teknologi.

Integrasi Agama Terhadap Ilmu Pengetahuan

Ajaran Islam sebenarnya tidak terlepas dari sebuah kebenaran, yang pada hakikatnya ialah sebuah nilai yang senantiasa dicari manusia untuk mendapatkan kualitas hidup yang nyaman, damai, dan sebagainya. Sudah banyak yang dilakukan manusia demi meraih hal tersebut seiring dengan berkembangnya kebudayaan itu sendiri. Mulai dari manusia tidak mampu menciptakan teknologi (primitive) menjadi manusia yang mampu menciptakan teknologi yang amat canggih sekalipun (modern). Kemajuan ilmu pengetahuan yang sedemikian pesat tersebut  tidak terlepas dari peran science sehingga mampu menciptakan teknologi itu sendiri.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengintegrasilan ilmu-ilmu sains dan kehidupan dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga sangat perlu untuk mengidentifikasi kurikulum pendidikan yang memadai bagi terwujudnya manusia yang berkualitas, baik jasmani maupun rohani, intelektual maupun spiritual, kebutuhan materi maupun kebutuhan kerohanian. Sebab, anak didik yang akan memasuki dunia pendidikan adalah bersifat netral. Dapat diibaratkan dengan sebuah air yang masih bening tanpa ada campuran zat lain sedikitpun di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan sabda Nabi saw:

“Setiap anak yang lahir di dunia adalah dalam keadaan suci. Hanya saha orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi”. (HR. Bukhari Muslim)

Atas dasar tersebut, sebaiknya nilai-nilai yang terkandung dalam religion yang tentunya mengandung kebenaran yang haq harus dijadikan sebagai titik sentral atau acuan pokok sistem pendidikan yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah orang yang beragama, khususnya beragama Islam. Agama hingga saat ini masih menjadi kebutuhan asasi manusia meski barat tidak memperdulikannya kerena pola pikir mereka telah menjadi apa yang kita sebut sekular.

Ilmu eksakta telah melahirkan berbagai macam  hard technology, seperti pertanian, kedokteran, teknik dan sebagainya. Kemudian ilmu tersebut menggandeng ilmu-ilmu di bidang sosial (soft sciences) untuk menciptakan teknologi atau pemikiran sejenis di bidang sosial yang disebut sebagai soft technology, seperti ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Kedua bidang ilmu tersebut dalam perjalanannya mencari status kebenarannya, namun seringkali melahirkan paradigma yang berbeda. Hal inilah yang tentunya menyebabkan terjadinya antagonistik (saling bertubrukan) antar nilai kebenaran. Maka dari itu, seberapa tinggi nilai kebenaran yang diproduksi oleh sains, tetap ada batasnya dan kurangnya. Dengan kata lain, kebenaran yang bersifat ilmiah tidak mampu mendapatkan kebenaran 100 persen.

Dengan demikian, selama kita hidup dalam sebuah zaman yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, maka kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran yang pasti sehingga mampu memecahkan berbagai macam persoalan dan problema yang dialami oleh masyarakat demi keberlangsungan hajat hidup manusia. Tingkat kesalahan akan semakin besar manakala kita mengembangkan sebuah ilmu yang membidangi ilmu-ilmu sosial, yang kita sebut soft technology tersebut lantaran sulitnya mencari identifikasi variabel kunci sebuah teori. Bila hal ini kita biarkan berlarut-larut tanpa mau melakukan evaluasi dari sebuah kegagalan, maka akan menimbulkan berbagai macam persoalan sosial yang terjadi di masyarakat sehingga menjadi problem yang amat ruwet di masa depan.

Untuk menjembatani kesenjangan dan keruwetan yang tengah terjadi akibat human error yang ditimbulkan oleh soft technology tersebut, maka perangkat lain yang selama ini sudah ada dalam masyarakat pada umumnya, yakni dikenal dengan istilah agama. Keberadaan dan perannya yang pernah berkiprah di era pertengahan pun perlu dioptimalkan kembali. Karena agama mampu membimbing dan memberikan informasi tentang bagaimana seharusnya manusia berbuat dan menyesuaikan dirinya dengan alam lingkungan dan kehidupan. Adalah Islam, yang dikodifikasikan melalui Al-Qur’an dan Sunnah yang hingga saat ini masih sedikit orang di abad modern seperti sekarang yang memanfaatkannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara orang lain, terutama mayoritas kaum muslimin masih mengadopsi nilai-nilai keislaman yang bersifat ‘ubudiyah (ritual) yang ternyata belum berpengaruh sama sekali terhadap perilaku kesehariannya.

Kesalahan pemahaman yang sedemikian itu pasti akan terus berlanjut dan tidak akan berakhir karena hakikat pengembangannya memang berasal dari sebuah premis logika yang salah, yang menimbulkan kesesatan berpikir. Logika semacam itu harus diluruskan dengn dua cara:

  1. Memposisikan sumber wahyu di atas akal dan logika manusia, dan menjadikannya sebagai satu-satunya informasi kebenaran untuk dikaji secara deduktif, khususnya dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Melakukan eksplorasi teori, dalil, aksioma, dan data empiris (induktif) di lapangan terhadap sumber wahyu dan dikaji secara bersamaan dengan ilmu-ilmu sains dalam rangka menemukan kebenaran antara keduanya.

Dengan cara ini, peran agama (Islam) akan semakin terasa sebagai kebutuhan yang begitu menyenangkan yang dipergunakan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ber-Islamnya seseorang tidak lagi diakibatkan dari suatu keterpaksaan dalam sebuah dogma semata.

“(Dialah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah”. (QS. Al-Mulk: 3-4)

Seperti halnya sains, Islam bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Islam dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki kesalahan –yang dalam konteks ini lebih mengarah pada kesalahan sains– untuk membimbingnya ke jalan yang benar sebagai kebenaran yang bersifat hakiki dan mutlak (absolut). Pengertian absolut disini tentu bukan mengarah pada pengertian dogmatis yang selama ini dipahami oleh mayoritas masyarakat dan kaum intelektual, sebab Islam merupakan agama yang kebenarannya tidak boleh diperdebatkan, apalagi diubah-ubah oleh tangan manusia.

Sistem pendidikan yang sarat dengan perkembangan sains yang dikolerasikan dengan pemahaman agama sudah waktunya dikembangkan dan diperbudayakan. Keberadaan Interdisiplin Sains dalam Islam (Inter-Disipline Sciences in Islam) sangat dibutuhkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat modern ini sebagai proptotipe kebangkitan peradaban baru yang akan merombak peradaban saat ini yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Dengan sistem pendidikan yang baru ini, kurikulum yang dipakai ialah kurikulum yang mampu menyatukan antara nilai-nilai illahiyah (wahyu) dengan sains sebagai jalan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik dan beradab.

Dikutip dari: Berbagai Sumber.