AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Al-Qur'anul Karim

Kekelaman Ilmu Pengetahuan dan Krisis Moralitas di Masa Lampau

Telah kita akui bahwa abad ke-20 seperti sekarang ini merupakan abad kebangkitan segala bentuk pemikiran. Abad ini juga disebut-sebut sebagai abad pencerahan. Namun pada abad ini pula terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan dalam memandang segala hal, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan agama. Di dalam agama misalnya, berbagai paradigma banyak yang ditentang. Tak sedikit ilmuwan yang ragu terhadap kredibelitas kitab suci mereka, dan mempertanyakan kebenaran yang diungkap dalam agama yang dianutnya. Maka wajar, banyak dari mereka yang tidak percaya dengan kitab suci yang diyakininya sejak lahir.

Bagi yang masih belajar di sekolah dasar atau tingkat menengah, tentu pasti ingat tentang kisah kedua tokoh yang amat terkenal di bidang astronomi. Mereka tak lain adalah bernama Nicholas Copernicus dan Galileo Galilei, yang mereka berdua ialah penemu teori heliosentris yang sangat fenomenal. Berdasarkan penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta namun mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bahkan Galileo galilei dihukum mati oleh pihak gereja lantaran dia meragukan keputusan gereja yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta.

Semenjak peristiwa itu, maka selanjutnya gereja menginstruksikan bahwa semua ilmuwan yang menentang keputusan gereja akan bernasib sama dengan Galileo Galilei. Akhirnya, mereka yang takut dengan ancaman itu terpaksa membenarkan dogma gereja tersebut. Namun ada juga beberapa ilmuwan yang tetap bersikukuh tidak setuju terhadap dogma yang diyakini gereja itu. Maka dari itu, mereka mencoba untuk membuka forum-forum diskusi dengan pihak gereja bahwa apa yang menjadi dogma selama ini adalah tidak ilmiah sehingga perlu diluruskan dengan argumen-argumen ilmiahnya. Namun sayang, pihak gereja tetap bersikeras mempertahankan dogma tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka kecewa berat dan berkesimpulan bahwa gereja telah menghalangi mereka dalam berpikir, sehingga hal ini dinamakan pembodohan intelektualitas. Akibatnya, agama dituding sebagai salah satu penyebab terhambatnya perkembangan ilmu pengetahuan, yang perlahan mereka meninggalkan agama mereka.

Atas perdebatan antara kaum intelektual dengan pihak gereja tersebut, maka orang-orang non muslim yang notabene bukan petinggi agama atau orang yang paham tentang kitab sucinya menyimpulkan, agama tidak mengatur ilmu pengetahuan. Mereka perlahan mengingkari isi kitab suci mereka yang selama ini mereka baca setiap minggu. Statement inilah yang melahirkan paradigma tersendiri dalam sejarah lahirnya ideologi dunia, yakni sekularisme.

Peristiwa berpisahnya ilmu pengetahuan dari agama menyebabkan terlepasnya kontrol agama dalam kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat. Dunia Amerika dan Eropa dilanda krisis moral hingga sekarang. Pergaulan bebas, hubungan seksual di luar pernikahan, kelahiran bayi yang tidak punya ayah yang jelas, merebaknya kasus narkoba dan aborsi, banyak gadis yang masih umur dibawah 17 tahun dudah nikah dan berumah tangga, dan lain sebagainya menunjukkan betapa parahnya kondisi moral yang mereka alami. Maka jelaslah, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan dilahirkan oleh ajaran agama, namun karena jiwa ilmiah semata. Sejak itulah, moral dan etika tidak terkontrol lantaran tak adanya agama di dalam kehidupannya. Para kaum moralis cemas melihat perkembangan dunia yang tak beraturan tersebut. Kekhawatiran mereka beralasan, jika perkembangan seperti ini terus berlangsung, maka akan membawa suatu peristiwa yang akan menghancurkan dirinya sendiri dan peradaban dunia. Beginilah kegoncangan yang menimpa suatu masyarakat dengan kehidupannya yang sekular.

Pesan-Pesan Al-Qur’an Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Di tengah-tengah kehidupan sekular dan carut-marutnya pergolakan ilmiah dengan doktrinitas agama waktu itu. Islam lahir dan memberikan pencerahan kepada seluruh manusia bahwa paradigma semacam itu sungguh keliru dan harus diluruskan. Perhatikan beberapa ayat berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imran: 190-191)

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS Yaasin: 34-35)

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yaasin: 40)

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah: 11)

Beberapa ayat di atas merupakan pesan yang disampaikan oleh Al-Qur’an kepada para pakar saintis dan teknolog ketika menyikapi keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam yang memiliki kesempurnaan di setiap ajarannya sangat terasa keindahannya dan tidak membelenggu akal pikiran para pemeluknya. Justru mereka diajak untuk berpikir lebih mendalam dan kritis. Hanya saja, Al-Qur’an memberikan sebuah warning agar manusia senentiasa bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya yang berupa akal tersebut. Selain itu juga memberikan batasan agar manusia jangan sampai terjerumus ke dalam ilmu pengetahuan yang sesat, yaitu mendahulukan akal/logika dari pada wahyu.

Dalam masalah hubungan agama dengan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dalam sejarah Islam bahwa jazirah Arab yang kondisi geografis dan geologisnya yang sangat ekstrem dan gersang, kondisi sosiologisnya yang melahirkan masyarakat yang berwatak keras dan kejam. Namun disinilah letak kejayaan dan kemajuan peradaban baru yang mampu mengungguli peradaban barat sekular waktu itu. Dialah Nabi Muhammad saw., yang dibangkitkan oleh Allah dengan membawa risalah illahi (Al-Qur’an) untuk mengajak manusia menyembah dan taat kepada Allah. Dalam usahanya membangkitkan ruh imaniyah dan ubuddiyah, Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dan berpikir, sebab akal adalah anugerah Allah yang amat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Begitu ayat Al-Qur’an diwahyukan, maka lahirlah konsepsi Islam yang amat fundamental: Iman, ibadah, ilmu dan amal shaleh.

Keilmiahan ayat-ayat Al-Qur’an telah terwujud dengan dibuktikannya kejayaan Islam di masa pertengahan. Umat Islam selama berabad-abad telah memimpin dunia dengan mendirikan pusat-pusat kebudayaan Islam yang cahayanya mampu menerangi penjuru dunia. Sejarah mencatat, tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi berjayanya Islam ialah: Cordova, Baghdad, Istanbul, Damaskus, Dranada dan Sevilla. Beberapa kota yang disebutkan ini telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia Islam dan teknologi.

Integrasi Agama Terhadap Ilmu Pengetahuan

Ajaran Islam sebenarnya tidak terlepas dari sebuah kebenaran, yang pada hakikatnya ialah sebuah nilai yang senantiasa dicari manusia untuk mendapatkan kualitas hidup yang nyaman, damai, dan sebagainya. Sudah banyak yang dilakukan manusia demi meraih hal tersebut seiring dengan berkembangnya kebudayaan itu sendiri. Mulai dari manusia tidak mampu menciptakan teknologi (primitive) menjadi manusia yang mampu menciptakan teknologi yang amat canggih sekalipun (modern). Kemajuan ilmu pengetahuan yang sedemikian pesat tersebut  tidak terlepas dari peran science sehingga mampu menciptakan teknologi itu sendiri.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengintegrasilan ilmu-ilmu sains dan kehidupan dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga sangat perlu untuk mengidentifikasi kurikulum pendidikan yang memadai bagi terwujudnya manusia yang berkualitas, baik jasmani maupun rohani, intelektual maupun spiritual, kebutuhan materi maupun kebutuhan kerohanian. Sebab, anak didik yang akan memasuki dunia pendidikan adalah bersifat netral. Dapat diibaratkan dengan sebuah air yang masih bening tanpa ada campuran zat lain sedikitpun di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan sabda Nabi saw:

“Setiap anak yang lahir di dunia adalah dalam keadaan suci. Hanya saha orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi”. (HR. Bukhari Muslim)

Atas dasar tersebut, sebaiknya nilai-nilai yang terkandung dalam religion yang tentunya mengandung kebenaran yang haq harus dijadikan sebagai titik sentral atau acuan pokok sistem pendidikan yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah orang yang beragama, khususnya beragama Islam. Agama hingga saat ini masih menjadi kebutuhan asasi manusia meski barat tidak memperdulikannya kerena pola pikir mereka telah menjadi apa yang kita sebut sekular.

Ilmu eksakta telah melahirkan berbagai macam  hard technology, seperti pertanian, kedokteran, teknik dan sebagainya. Kemudian ilmu tersebut menggandeng ilmu-ilmu di bidang sosial (soft sciences) untuk menciptakan teknologi atau pemikiran sejenis di bidang sosial yang disebut sebagai soft technology, seperti ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Kedua bidang ilmu tersebut dalam perjalanannya mencari status kebenarannya, namun seringkali melahirkan paradigma yang berbeda. Hal inilah yang tentunya menyebabkan terjadinya antagonistik (saling bertubrukan) antar nilai kebenaran. Maka dari itu, seberapa tinggi nilai kebenaran yang diproduksi oleh sains, tetap ada batasnya dan kurangnya. Dengan kata lain, kebenaran yang bersifat ilmiah tidak mampu mendapatkan kebenaran 100 persen.

Dengan demikian, selama kita hidup dalam sebuah zaman yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, maka kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran yang pasti sehingga mampu memecahkan berbagai macam persoalan dan problema yang dialami oleh masyarakat demi keberlangsungan hajat hidup manusia. Tingkat kesalahan akan semakin besar manakala kita mengembangkan sebuah ilmu yang membidangi ilmu-ilmu sosial, yang kita sebut soft technology tersebut lantaran sulitnya mencari identifikasi variabel kunci sebuah teori. Bila hal ini kita biarkan berlarut-larut tanpa mau melakukan evaluasi dari sebuah kegagalan, maka akan menimbulkan berbagai macam persoalan sosial yang terjadi di masyarakat sehingga menjadi problem yang amat ruwet di masa depan.

Untuk menjembatani kesenjangan dan keruwetan yang tengah terjadi akibat human error yang ditimbulkan oleh soft technology tersebut, maka perangkat lain yang selama ini sudah ada dalam masyarakat pada umumnya, yakni dikenal dengan istilah agama. Keberadaan dan perannya yang pernah berkiprah di era pertengahan pun perlu dioptimalkan kembali. Karena agama mampu membimbing dan memberikan informasi tentang bagaimana seharusnya manusia berbuat dan menyesuaikan dirinya dengan alam lingkungan dan kehidupan. Adalah Islam, yang dikodifikasikan melalui Al-Qur’an dan Sunnah yang hingga saat ini masih sedikit orang di abad modern seperti sekarang yang memanfaatkannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara orang lain, terutama mayoritas kaum muslimin masih mengadopsi nilai-nilai keislaman yang bersifat ‘ubudiyah (ritual) yang ternyata belum berpengaruh sama sekali terhadap perilaku kesehariannya.

Kesalahan pemahaman yang sedemikian itu pasti akan terus berlanjut dan tidak akan berakhir karena hakikat pengembangannya memang berasal dari sebuah premis logika yang salah, yang menimbulkan kesesatan berpikir. Logika semacam itu harus diluruskan dengn dua cara:

  1. Memposisikan sumber wahyu di atas akal dan logika manusia, dan menjadikannya sebagai satu-satunya informasi kebenaran untuk dikaji secara deduktif, khususnya dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Melakukan eksplorasi teori, dalil, aksioma, dan data empiris (induktif) di lapangan terhadap sumber wahyu dan dikaji secara bersamaan dengan ilmu-ilmu sains dalam rangka menemukan kebenaran antara keduanya.

Dengan cara ini, peran agama (Islam) akan semakin terasa sebagai kebutuhan yang begitu menyenangkan yang dipergunakan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ber-Islamnya seseorang tidak lagi diakibatkan dari suatu keterpaksaan dalam sebuah dogma semata.

“(Dialah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah”. (QS. Al-Mulk: 3-4)

Seperti halnya sains, Islam bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Islam dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki kesalahan –yang dalam konteks ini lebih mengarah pada kesalahan sains– untuk membimbingnya ke jalan yang benar sebagai kebenaran yang bersifat hakiki dan mutlak (absolut). Pengertian absolut disini tentu bukan mengarah pada pengertian dogmatis yang selama ini dipahami oleh mayoritas masyarakat dan kaum intelektual, sebab Islam merupakan agama yang kebenarannya tidak boleh diperdebatkan, apalagi diubah-ubah oleh tangan manusia.

Sistem pendidikan yang sarat dengan perkembangan sains yang dikolerasikan dengan pemahaman agama sudah waktunya dikembangkan dan diperbudayakan. Keberadaan Interdisiplin Sains dalam Islam (Inter-Disipline Sciences in Islam) sangat dibutuhkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat modern ini sebagai proptotipe kebangkitan peradaban baru yang akan merombak peradaban saat ini yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Dengan sistem pendidikan yang baru ini, kurikulum yang dipakai ialah kurikulum yang mampu menyatukan antara nilai-nilai illahiyah (wahyu) dengan sains sebagai jalan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik dan beradab.

Dikutip dari: Berbagai Sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s