FIDA’AN: TRADISI TAHLILAN KAUM SUFI DAN PARA SADAT

Fida’ atau dengan istilah lain “Ataqah” adalah ungkapan umum untuk bacaan surat Al-Ikhlash yang diiringi dengan kalimah thayyibah seperti tasbih dan tahlil dengan jumlah bilangan tertentu dengan harapan agar orang yang membaca dan orang yang sudah meninggal dunia diberi ampunan oleh Allah serta dibebaskan dari api neraka.

Sama halnya dengan tradisi tahlilan, secara pelaksanaannya pun juga mengirimkan doa dan surat Al-Fatihah melalui pembacaan kalimah thayyibah. Namun yang membedakan adalah dalam dzikir fida’ ini terdapat beberapa bacaan, yakni kalimat tasbih sebanyak 1000 kali dan kalimat tahlil yang dibaca hingga 70.000 kali. Teknis pelaksanaannya pun sama dengan tahlilan yaitu dengan mengumpulkan masyarakat sekitar yang diiringi niat untuk menghadiahkan bacaan dan kalimah thayyibah kepada orang yang wafat.

Saat ini, amalan fida’ ini masih kita jumpai di tanah Jawa, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat yang masih memegang teguh tradisi para leluhur dan sangat kental dengan amalan tarekatnya. Pelaksanaannya pun sering kita temui saat menjelang malam ketujuh atau malam keseribu dari wafatnya seseorang, dan pelaksanaan rutin mingguannya dilaksanakan setelah ba’da maghrib pada malam jum’at di masjid-masjid setempat.

Amalan fida’ ini juga telah masyhur di kalangan para Sadat dan sufiyah. Sayyid Abu Bakar bin Ahmad bin Abdillah, seorang sadat yang hidup di permulaan abad ke-13 H dari Tarim Yaman yang terkenal sangat konsisten dalam memegang ajaran Rasulullah dan para salafusshalih, biasa mengamalkan bacaan dzikir fida’ ini dengan cara mengumpulkan orang untuk membaca tasbih 1.000 kali dan tahlil 70.000 kali yang dihadiahkan untuk orang yang wafat. Penduduk Tarim juga biasa menyisihkan sejumlah harta untuk keperluan pelaksanaan amalan tersebut sebagai wujud perhatian besar mereka supaya tradisi fida’an ini tetap dipertahankan.

Dalam riwayat shahih Muslim hadits ke-305 disebutkan:

Nabi saw bersabda ketika turun ayat “wa andir ‘asyiraatakal aqrabiin” (dan peringatkanlah kerabat dekatmu): “Hai orang-orang Quraisy !, belilah dirimu sendiri dari Allah swt, aku tidak bisa memenuhi sedikitpun (untuk menjauhkan) pada kalian dari (azab) Allah. Hai Bani Abdul Muthalib, aku tidak bisa memenuhi sedikitpun (untuk menjauhkan) pada kalian dari (azab) Allah. Hai ‘Abbas din Abdul Muthalib, aku tidak bisa memenuhi sedikitpun (untuk menjauhkan) padamu dari (azab) Allah. Hai Shofiyah bibi Rasulullah, aku tidak bisa memenuhi sedikitpun (untuk menjauhkan) padamu dari (azab) Allah. Hai Fatimah putri Rasulullah aku tidak bisa memenuhi sedikitpun (untuk menjauhkan) padamu dari (azab) Allah.

Maksud dari hadits diatas adalah menjelaskan anjuran Rasulullah kepada para sahabatnya untuk dapat membeli diri pada Allah swt, sebab nabi sendiri tidak mampu melindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh Allah swt. Adapun cara membebaskan diri sendiri ialah dengan meningkatkan iman dan menjelaskan segala apa yang diperintah Allah dan Rasulullah serta menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Imam Hasan berkata:

“Orang mukmin di dunia bagaikan tawanan yang beramal untuk memerdekakan dirinya”.

Lebih lanjut Abu Bakar bin ‘Iyasy (w. th 723 H) menjelaskan:

“Ketika aku masih muda, ada seorang laki-laki berkata padaku: ‘Bebaskan kebudakanmu di akhirat selagi kamu masih mampu di dunia, sebab sesungguhnya tawanan akhirat tidak akan bisa bebas selamanya’. Dari perkataan orang tersebut, sungguh demi Allah aku tidak pernah melupakannya. Kemudian Muhammad bin Hanifah (putra sayyidina Ali dari istrinya Hanifah) berkata: ‘Sesungguhnya Allah menjadikan surga sebagai harga jual untuk diri kalian. Maka janganlah kamu menjual diri kalian kepada selain surga’. Orang yang menganggap dirinya mulia, niscaya tidak bernilai atas dunia bagi dirinya”.

Maksud dari pernyataan diatas ialah seseorang mukmin selama masih hidup di dunia ibarat budak yang harus dibayar dengan amalnya agar bisa merdeka dari perbudakan di akhirat. Maka dari itu, para generasi salaf pada waktu itu menyedekahkan harta bendanya, bersungguh-sungguh beramal shaleh dan ada pula yang membaca tasbih sebanyak 12.000 kali dan lain sebagainya. Dan masih banyak lagi kalangan sufiyah yang berpendapat pentingnya mengamalkan dzikir fida’ ini. An-Najm al-Ghatiry (w. th 931 H), seorang pakar hadits dari Kairo mengatakan, meski dalil tentang dzikir fida’ statusnya dha’if, namun seyogyanya dilestarikan mengingat faidahnya yang begitu besar bagi yang mengamalkannya. Bahkan kelompok mutaakhirin mazhab Maliki menganjurkan dan menyunnahkan amalan fida’ dengan membaca Al-Ikhlash.

Tata cara pelaksanaan dzikir fida’ sama dengan pelaksanaan tahlil pada umumnya. Bacaan yang dibacanya pun hampir tidak ada bedanya dengan tradisi tahlilan, yakni membaca surat Al-Fatihah sebagai penghadiahan kepada si mayit, surat Al-Ikhlash, surat Mu’awwizatain, akhir surat Al-Baqarah, ayat kursi dan lain-lain. Yang membedakan ialah terletak pada bilangan yang dibaca pada masing-masing kalimah thayyibah dan diakhiri dengan doa wahbah (untuk doa wahbah dapat ditanyakan oleh masing-masing imam fida’ masing-masing atau ulama’-ulama’ tarekat yang lebih tahu tentang amalan fida’ ini). Jika fida’ sughra membaca tasbih 1000 kali dan tahlil 70.000 kali. Sedangkan fida’ kubra membaca surat al-Ikhlash sebanyak 100.000 kali.

Demikian penjelasan singkat mengenai amalan sufiyah ini. Mudah-mudahan dapat menjadi wawasan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas dzikir kita kepada Allah swt.

One thought on “FIDA’AN: TRADISI TAHLILAN KAUM SUFI DAN PARA SADAT

  1. Bara Indrawan mengatakan:

    Mohon dikirim via email niat bacaan tahlil ataqahnya.Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s