HIKMAH MENAHAN LAPAR DAN AKIBATNYA BILA TERLALU KENYANG

Suatu hari, Abu Hurairah r.a. sedang membersihkan hidungnya dengan sehelai sapu tangan yang bagus. Kemudian ia berbicara seorang diri, “Ah, lihatlah Abu Hurairah! Sekarang ia sedang membersihkan hidungnya dengan sapu tangan yang bagus. Padahal dulu aku pernah jatuh pingsan di antara mimbar dan rumah Nabi saw. Orang-orang yang melihat keadaanku mengira aku sedang menderita penyakit gila. Padahal aku sedang menderita kelaparan”.

Aisyah r.ha., isteri Rasulullah saw berkata, “Pernah dalam waktu satu setengah bulan rumah kami tidak ada api, baik api pelita ataupun yang lainnya”. Qasim yang setia mendengarkan perkataannya berseru dan bertanya, “Subhanallah! Lantas, dengan apa anda sekalian hidup?”. Lalu Aisyah menjawab, “Dengan kurma dan air. Kebetulan kami mempunyai beberapa tetangga dari kalangan Anshar, mudah-mudahan dibalas oleh Allah dengan kebaikan. Mereka terkadang berbagi dengan kami”.

Di dalam riwayat lain, Aisyah r.ha. mengungkapkan, “Rasulullah saw. tidak pernah kenyang dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat”.

Lain lagi cerita Hafsah r.ha. yang juga isteri Rasulullah saw. Suatu ketika ia berkata kepada ayahnya, Umar bin Khattab, “Allah telah melapangkan rezeki kita. Mengapa Ayahanda tidak makan lebih banyak dari yang Ayahanda makan sekarang, dan mengenakan baju lebih bagus daripada Ayahanda pakai sekarang?” Kemudian ayahnya menyergah, “Awas anakku!, kau harus melawan dirimu dan nafsumu. Tidaklah yang demikian itu termasuk perintah Rasulullah saw? Bukankan beliau mewanti-wanti tentang hal ini?” Atas jawaban ayahnya tersebut, Hafsah langsung menangis. Umar berkata lagi, “Demi Allah, aku pernah mengatakan sesuatu kepadamu mengenai tekadku untuk berbagi dengan beliau dalam kehidupannya yang berat, supaya aku dapat menikmati kehidupan yang lapang (akhirat)”.

Begitulah para pemimpin dan pendahulu kita. Mereka jauh dari sikap berlebih-lebihan, termasuk dalam urusan perut. Berlebihan dalam makan dan minum itu amat besar resikonya. Seorang Ulama pernah berkata, “Barangsiapa melampaui batas dalam urusan makan dan minum, maka sesuatu hal yang dapat manghinakan dan meremehkannya akan datang di dunia sebelum di akhiratnya”. Ulama lain juga berucap, “Sebuah pintu besar tempat kita masuk menuju Allah adalah meninggalkan makan siang”.

Coba dengar kisah yang diungkapkan oleh Dzun Nun al-Mishri, “Aku tidak makan hingga kenyang dan tidak akan minum hingga puas kecuali ketika aku ingin atau sedang melakukan maksiat”. Bisyir al-Hafi menuturkan, “Lapar memang agung, agung pula buahnya. Lapar menjernihkan hati, mematikan hawa nafsu, dan membuahkan ilmu yang lembut”. Hal ini sesuai dengan penjelasan Aisyah r.ha., “Teruslah mengetuk pintu malakut (alam malaikat), niscaya akan dibukakan pintunya untuk kalian”. Lalu orang-orang di sekelilingnya bertanya, “Bagaimana cara kami bisa mengetuk pintu terus-menerus?”. Aisyah r.ha. menjawab, “Dengan rasa lapar dan haus”.

Salah satu fadhilah lapar ialah sebagaimana dikisahkan oleh Abu Hurairah r.a. diatas. Dia adalah sahabat Rasulullah saw. dan seorang ahli ibadah. Dia juga rajin mengerjakan shalat-shalat sunnah dan selalu menghidupkan malamnya dengan beribadah. Karena amalannya dan sering mengalami kelaparan itulah, dia menjadi salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits-hadits Rasulullah saw.

Suatu hari, Iblis datang kepada Nabi Yahya as. sambil membawa jerohan binatang. Nabi Yahya as. bertanya, “Apa ini?”. Jawab Iblis, “Ini adalah syahwat (birahi) anak cucu Adam”. Nabi Yahya as. bertanya lagi, “Apakah kamu menemukan syahwatku di dalamnya?”. “Tidak, kecuali jika anda tidur kenyang di malam hari, maka aku beratkan anda untuk melakukan shalat dan dzikir”. Kemudian Nabi Yahya as. menegaskan, “Tidak akan!, aku tidak akan kenyang selamanya!”.

Imam Syaqiq berkata, “Ibadah adalah pekerjaan, bengkelnya adalah berkhalwat (menyendiri), dan alatnya adalah rasa lapar”. Luqman al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Hai anakku, manakala perut diisi penuh, maka daya pikir akan tertidur, hikmah akan membisu dan anggota badan menjadi malas beribadah”.

Para ulama terdahulu juga menjauhi makanan yang enak-enak. Imam Hasan al-Bashri berkata, “Janganlah kamu menggabungkan dua lauk, sebab yang demikian itu adalah makanannya orang-orang munafik”. Ulama lain juga berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari ahli zuhid yang merusak perutnya dengan bermacam-macam makanan”.

Dan marilah kita menyimak sabda Rasulullah saw. berikut, “Tidaklah anak cucu Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perut. Sesungguhnya suapan-suapan kecil (tidak banyak) sudah mencukupi bagi anak cucu Adam untuk menegakkan lambungnya. Jika memang tidak boleh tidak (untuk menelan banyak suapan), maka hendaknya diisi perutnya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s