JEJAK SEJARAH YAHUDI DI INDONESIA

Perlu diketahui bersama, bahwa gerakan Zionis Internasional Freemasonry didirikan di Inggris pada tahun 1717. Orang-orang Yahudi lebih suka menyelami bentuk aktivitas mereka dengan selimut perkumpulan theosofi dengan tujuan “kemanusiaan”. Pemimpinnya ialah Nyonya Blavatsky, seorang Yahudi keturunan Rusia, dan berpusat di New York.

Jurnal “The Theosofist” terbitan New York tahun 1881 menyiarkan kabar bahwa Blavatsky mengutus Braon Van Tengnagel untuk mendirikan loge, yaitu tempat peribadatan kaum Vrijmetselarij (Freemasonry) di Pekalongan, Jawa Tengah. Kota ini dipilih karena sejak tahun 1868 berubah status dari desa menjadi kota, disamping dikenal sebagai konsentrasi santri di Jawa Tengah. Loge didirikan pada tahun 1883, tetapi tidak berkembang karena reaksi keras masyarakat yang disebabkan adanya praktik ritualisme mereka, yaitu memanggil arwah. Atas sebab itulah, masyarakat sekitar menyebut bangunan Yahudi tersebut sebagai gedong setan.

Peristiwa di Pekalongan tersebut memaksa mereka mengalihkan kegiatan mereka ke Batavia. Terdapat dua loge besar didirikan di Jalan Merdeka Barat dan Jalan Budi Utomo. Selain dua loge di Batavia, terdapat pula loge-loge di daerah lain, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Makasar dan Bandung, yang hanya dikhususkan bagi orang Yahudi dan Eropa yang bekerja di Hindia Belanda dan di sektor Birokrasi Perdagangan Belanda (VOC) saja sebagai pusat kegiatan ritual semata.

Hindia Belanda dianggap sebagai negeri yang aman dalam menjalankan operasi mereka, karena penduduk saat itu menganggap Yahudi Belanda dan Yahudi Eropa sebagai orang Nasrani. Di samping itu, Gubernur Hindia Belanda selalu menjadi pembina Rotary Club.

Aktivitas ritual yang dilakukannya berujung pada kebuntuan (stagnasi), artinya gerakan zionis jalan di tempat. Maka selanjutnya, gerakan zionisme internasional untuk Asia yang berpusat di Adyar, India, pada tanggal 31 Mei 1909 mengutus Ir. A.J.E. Van Bloomenstein ke Jawa.

Untuk mengubah pola pergerakan, pada tanggal 12 November 1912, Bloomenstein berhasil mendirikan Theosofische Vereeniging (TV), yang kemudian mendapatkan pengakuan dan dimuat dalam Staatblaad Nomor 543.

TV bekerja di kalangan intelektual dan calon intelektual bumiputra dan juga berperan dalam membiayai Kongres Pemuda I pada tahun 1926. Kongres itu bahkan digelar di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg. Akibatnya, ormas pemuda memboikot kongres itu. Kemudian sebagai reaksi dari peristiwa pemboikotan tersebut, maka ormas pemudia menggelar Kongres Pemuda II pada tanggal 27-28 Oktober 1928 dan menghasilkan sumpah pemuda.

Aktivitas zionis yang kian menggeliat ini tidak hanya bergerak di kalangan masyarakat saja, namun juga di pemerintahan. Terutama sekali menjelang dan pasca Perang Dunia I, yang sempat menggelisahkan orang-orang Jerman. Terutama terlihat pada perannya tokoh Yahudi Belanda, Snock Hurgronje dalam perang Aceh.

Seperti diketahui, Turki sebagai sekutu Jerman gagal membantu Aceh karena panjangnya garis supply. Kehadiran agen zionis internasional Sneevliet di Jawa yang berhasil mengkader pemuda intelektual Indonesia, maka makin menguatkan tekad Jerman untuk meruntuhkan pemerintah zionis Hindia Belanda.

Hal itu tercium oleh agen Belanda. Tersebarlah isu bahwa H.O.S. Tjokroaminoto (pendiri SI) menerima dana dua juta gulden untuk mengkudeta kompeni. Untuk mengklarifikasi isu tersebut, Agus Salim ditugaskan menguntit Tjokroaminoto. Sayangnya, kewibawaan Tjokroaminoto malah memikat Salim. Dan pada tahun 1918 Salim memotong kawat dari Surabaya, dan mengabarkan bahwa ia masuk SI (Serikat Islam) dan berhenti sebagai agen.

Di bidang bisnis, orang Yahudi di Jakarta menguasai pusat bisnis elite di Pasar Baru, Jalan Juanda dan Jalan Majapahit. Mereka menguasai perdagangan permata, jam tangan, dan kacamata. Pusat hiburan elite di Jakarta juga diramaikan oleh pemusik Yahudi Polandia. Akhirnya, Batavia menjadi salah satu kota zionis yang terpenting di Asia.

Maka dari itu, tidak mengherankan kalau Jepang yang saat itu menjadi sekutu Jerman ketika merebut Polandia dari tangan Belanda, Jepang melakukan kampanye anti-zionis itu. Beberapa tokoh penting Zionis Hindia Belanda, salah satunya ialah Ir. Van Leeweun dikirim ke camp tahanan dan tewas di tempat tersebut. Kesadaran anti-zionis juga merebak di kalangan rakyat biasa. Dr. Ratulangi pada bulan Maret 1943 memimpin rakyat raksasa di lapangan Ikada (sekarang Monas) yang mengutuk zionisme.

Pasca kemerdekaan, usaha untuk menghidupkan kembali gerakan Zionisme masih dilakukan. Pada tanggal 14 Juni 1954, berdirilah Jewish Community in Indonesia yang dipimpin oleh F. Dias Santilhano selaku ketua dan Panitera I. Khazam. Di dalam anggaran dasarnya dinyatakan, perkumpulan itu merupakan kelanjutan dari Vereehiging Voor Joodsche Belangen in Nederlandsch-Indie di Batavia pada tanggal 16 Juli 1927.

Saat ini, pembicaraan tentang gerakan Zionisme masih berlanjut, yaitu berkaitan dengan operasi Zionis internasional di Indonesia, yang sepertinya mempunyai dasar yang kuat, baik dipandang dari segi historis maupun pada data mutakhir. Sebagaimana kesaksian mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro yang termuat dalam memoarnya dikatakan, “Saya sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Israel. Paling-paling saya ingat, saya pernah ke Jalan Tosari memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta”.

Dikutip dari: berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s