KEISTIMEWAAN DOA DALAM SURAT AL-FATIHAH

Salah satu keistimewaan surat al-Fatihah ialah, surat ini merupakan surat yang wajib dibaca ketika shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Di dalam hadits Rasulullah saw disebutkan: Shalat seseorang tidak sah jika tidak membaca surat Al-Fatihah. Oleh karenanya, surat ini dinamakan sebagai ummul qur’an (induknya Al-Qur’an), dan juga disebut sebagai As-Sab’ul Matsaani yang artinya tujuh ayat yang diulang-ulang (dalam shalat).

Surat Al-Fatihah juga merupakan sebuah bentuk percakapan (dialog) antara seorang hamba dengan Allah ‘Azza Wa Jalla. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: Allah swt berfirman:

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, sebagian untuk-Ku dan sebagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Arrahmanir rahim” (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Maaliki yaumid diin” (Yang menguasai hari pembalasan), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), maka Aku menjawab, “Ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Ketika seorang hamba mengatakan “Ihdinas shiraathal mustaqim. Shiraathal ladziina an’amta alaihim, ghairil maghdhuubi alaihim, wa ladh-dhaalliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. [yaitu] jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan [jalannya] orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula [jalannya] orang-orang yang tersesat), maka Aku menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta”.

Bila kita perhatikan hadits ini, maka dapat ditemukan sebuah ibrah (pelajaran) yang cukup penting, yaitu mengajarkan mengenai tata cara berdoa sekaligus isi doa yang senantiasa dipanjatkan dalam shalat.

Terminologi shalat manakala ditinjau secara etimologi memiliki makna “do’a” sehingga dalam shalat yang kita kerjakan terdapat tempat-tempat yang berisi do’a atau anjuran untuk berdoa, seperti ketika duduk antara dua sujud, ketika sujud atau setelah membaca tasyahud akhir sebelum salam. Salah satu tempat yang di dalamnya terdapat anjuran berdoa ialah di penghujung surat al-Fatihah.

Jika diperhatikan lebih seksama, mulai ayat pertama hingga ayat keempat dari surat al-Fatihah adalah berisi pujian, sanjungan dan pengagungan kepada Allah swt. Kemudian apabila membaca ayat-ayat dari surat al-Fatihah maka Allah akan menjawabnya sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi di atas. Pada ayat kelima (iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in), merupakan hak atau bagian untuk Allah yaitu ketika seorang hamba berikrar bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut disembah dan diibadahi, selanjutnya merupakan hak hamba untuk meminta pertolongan yang hanya dipanjatkan kepada Allah semata.

Pelajaran pertama yang dapat diperoleh dari pembahasan ini adalah berkenaan dengan adab berdoa. Seorang hamba memulai doanya dengan lantunan pujian, sanjungan serta pengagungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang akan memperkuat dikabulkannya doa hamba-Nya ialah bila seorang hamba pandai dalam memuji Rabbnya, dan Allah amat cinta kepada hamba-Nya yang melantunkan pujian dan sanjungan yang ditujukan kepada-Nya.

Setelah mengucapkan pujian dan sanjungan, maka selanjutnya ialah memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Yang dimaksud jalan yang lurus dalam surat Al-Fatihah ini adalah jalannya orang-orang yang oleh Allah dianugerahi nikmat, bukan jalannya orang yang dimurkai maupun jalannya orang yang tersesat di jalan-Nya. Artinya, seorang hamba hendaknya meminta petunjuk kepada Allah agar senantiasa dibimbing kepada jalan yang benar dan diberi kekuatan dan keistiqomahan dalam mengikuti jalan tersebut hingga titik akhir (mati), yaitu jalan Islam.

Ayat permohonan ini merupakan salah satu susunan kata-kata yang bagus dan teratur, yang dalam kaidah ilmu tafsir disebut dengan menafsirkan satu ayat kepada ayat yang lainnya. Dapat diperhatikan pada ayat, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. Maka timbul pertanyaan, “jalan yang lurus itu seperti apa?”. Maka pertanyaan ini dijawab pada ayat berikutnya, yaitu  jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Maka akan timbul pertanyaan kembali, “jalannya orang-orang yang diberi nikmat itu jalannya siapa?”. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Allah dalam ayat lainnya, seperti yang disebutkan dalam Surat An-Nisaa’ ayat 69:

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Ayat ini menjelaskan tentang golongan manusia yang telah diberi nikmat oleh Allah, sehingga ketika seseorang sedang mengerjakan shalat, hendaknya memohon kepada Allah agar diberi kemuliaan seperti para nabi, para shiddiiqiin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan para shalihin (orang-orang yang shalih).

Kemudian ayat tersebut menjelaskan bagaimana cara-cara agar seseorang dapat meraih kedudukan atau kemuliaan tersebut, yaitu dengan taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya berupa syari’at. Kedudukan antara Allah dan Rasul dalam rangka mentaati perintahnya adalah sama. Firman Allah dalam surat an-Nisaa’ ayat 80:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman dalam surat Al-A’raaf ayat 157:

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Selanjutnya, dalam ayat selanjutnya dalam surat al-Fatihah terdapat doa yang dipanjatkan kepada Allah agar dijauhkan dari golongan orang-orang yang mendapat murka dari Allah dan golongan orang-orang yang tersesat. Apabila ada yang bertanya, “siapakah orang-orang yang dimurkai itu?”, maka dijawab bahwa orang-orang tersebut adalah golongan orang-orang Yahudi, yang secara khusus mereka telah dimurkai dan dilaknat oleh Allah sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Maa’idah ayat 60:

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi [Yahudi] dan (orang yang) menyembah thaghut?”. mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Orang-orang Yahudi menurut Syaikhul Islam adalah tergolong kaum yang hidup dalam kemurkaan Allah karena mereka tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka ketahui. Mereka enggan menerima kebenaran yang sudah jelas-jelas ada di depan mata mereka, baik melalui perkataan maupun perbuatan

Adapun yang tergolongan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana Firman Allah pula dalam surat Al-Maa’idah ayat 77:

Katakanlah: “Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Penafsiran ini kemudian diperkuat oleh Rasulullah saw. dalam sabda beliau:

“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi, dan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nashara” (HR. Turmudzi).

Semoga kita semua senantiasa ditunjukkan kepada jalan yang lurus lagi diridhai oleh-Nya, diberi kekuatan iman dan istiqamah berada di jalan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s