KEMEROSOTAN UMAT ISLAM DAN CARA MEMPERBAIKINYA (1)

Kebangkitan Umat Islam

MUQADDIMAH

Lebih dari 1.350 tahun yang lalu, ketika dunia ini penuh kekafiran, kebodohan, kejahiliyyahan dan kegelapan, maka dari balik pegunungan Makkah terpancarlah cahaya hidayah menembus ke arah timur, barat, utara, dan selatan. Seluruh penjuru dunia mendapat cahaya hidayah itu. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, yakni 23 tahun, Nabi Muhammad saw. dapat membawa manusia kepada kemajuan. Dan sejarah dunia  tidak akan sanggup membuat perubahan semacam ini. Dengan cahaya hidayah dengan segala kebaikan dan kemenangannya yang telah diberikan kepada umat Islam, maka mereka berada di puncak kemajuan dan mampu menguasai seluruh dunia selama berabad-abad. Setiap kekuatan yang menentangnya akan dihancurkan hingga berkeping-keping. Ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari dalam sejarah.

Namun keadaan umat Islam sekarang ini menjadi terbalik, menjadi sangat memprihatinkan dan sungguh menyedihkan. Kaum muslimin pada saat ini telah jauh dari kehidupan Islami. Apabila kita menengok sekilas pada catatan sejarah kehidupan umat Islam 1.300 tahun lalu, maka akan diketahui bahwa kita adalah pemilik kemuliaan, keagungan, keperkasaan dan kekuasaan. Sebaliknya kondisi umat Islam seperti apa yang kita lihat sekarang sedang mengalami kemunduran, dipermalukan dan berada di jurang kehinaan yang besar. Kaum muslimin tidak lagi memiliki kekuatan, kekuasaan, persaudaraan, kasih sayang, akhlak serta amal perbuatan yang baik. Kita sekarang memiliki lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Orang-orang kafir merasa senang dengan keadaan kita seperti ini. Mereka membicarakan kelemahan-kelemahan Islam sembari menertawakannya. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha membuat ajaran-ajaran baru (bisa pola pikir, budaya, pemahaman) untuk memecah belah umat Islam. banyak generasi muda Islam mencela asas Islam yang suci dan tak jarang mengkritik  ajarannya serta memahami bahwa syariah Islam yang mulia itu sudah tidak pantas untuk diamalkan lagi. Sangat mengherankan sekali bagaimana suatu kaum yang dahulu mampu menguasai dunia, sekarang malah jatuh dan terpuruk. Suatu kaum yang mengajarkan adab dan kemajuan kepada dunia, mengapa sekarang tidak beradab dan tidak maju?

Sebenarnya para pemimpin Islam sudah memperkirakan dan sudah mencoba sekuat tenaga dengan segala cara untuk memperbaikinya. Namun pengobatannya justru semakin menambah sakit umat Islam. dalam kondisi yang sangat rusak ini, terbayang masa yang akan datang akan lebih buruk lagi. Sedangkan kita hanya berdiam diri dan tidak berusaha sungguh-sungguh. Ini adalah kekeliruan yang besar. Tapi sebelum melangkahkan kaki kita, penting sekali untuk memikirkan penyebab semua ini, mengapa kehinaan dan adzab menimpa kita umat Islam. Penyebab keruntuhan dan kemunduran ini telah dianalisa dengan berbagai cara dan telah dicari jalan keluarnya, namun kenyataannya tidak juga dapat terselesaikan secara tuntas, padahal penyebabnya telah kita ketahui dan nampak dengan jelas.

Sebenarnya kita belum menemukan asal penyakit yang sebenarnya. Penemuan-penemuan yang telah banyak dikupas bukanlah penyakit yang sebenarnya karena itu semua adalah sesuatu yang datang dari luar. Sedangkan penyakit yang sesungguhnya muncul dari diri sendiri. Oleh karena itulah sampai sekarang perhatian kepada penyakit yang sebenarnya belum ada. Sedangkan perbaikan hanya kepada faktor luar sangatlah sulit dan hampir mustahil. Sebelum kita mengetahui penyakit yang sebenarnya, maka cara pengobatannyapun tidak akan ditemukan.

Kita mengetahui bahwa syariat agama kita adalah peraturan Allah yang sempurna, yang merupakan jaminan atas keberhasilan dan kebaikan dunia dan akhirat sampai hari kiamat. Maka tidak ada lagi alasan selain memeriksa penyakit kita sendiri dan mulai mengobatinya, bahkan ini sangat penting bagi kita untuk mengetahui penyakit yang kita derita sesungguhnya ialah dari Al-Qur’an. Melalui petunjuk dan pencerahannya, kita tutup seluruh seluruh cara yang lain setelah mengetahui pengobatan yang benar. Selama Al-Qur’an dijadikan sebagai tatanan amal yang sempurna bagi kita sampai hari kiamat, maka jangan sampai timbul alasan bahwasanya Al-Qur’an kurang memberikan petunjuk kepada kita dalam mengatasi keadaan yang kritis ini. Janji Allah adalah pasti bahwa seluruh permukaan bumi adalah kerajaan dan khilafah bagi orang-orang beriman.

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, (QS. An-Nuur: 55)

Allah juga telah memberi ketenangan bagi orang-orang mukmin untuk senantiasa mengalahkan orang-orang kafir, dan tidak ada satupun penolong bagi orang kafir.

“dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong” (QS. Al-Fath: 22).

Dan apabila orang-orang kafir memerangi kamu maka pasti mereka akan berbalik lari kemudian mereka tidak akan mendapatkan teman dan penolong.

Bantuan dan pertolongan bagi orang-orang mukmin merupakan tanggung jawab Allah swt. dan orang-orang mukmin akan selalu menang.

“dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. Ar-Ruum: 47)

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 139).

….. padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui (QS. Al-Munafiquun: 8)

Dari beberapa ayat yang telah disebutkan diatas, maka dapat diketahui bahwa kemuliaan orang mukmin, pangkat, keberanian, ketinggian, kemenangan, dan kebaikan hanya dengan sifat keimanannya. Apabila hubungan mereka dengan Allah dan Rasul-Nya kuat (yang merupakan maksud dari iman), maka semua akan menjadi milik mereka. Namun jika hubungan mereka dengan Allah dan Rasul-Nya lemah, maka bencana, kemerosotan dan kegagalan yang akan mereka dapat. Seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr: 1-3).

Para pendahulu kita telah mencapai kemuliaan yang sempurna, sementara kita berada di dalam jurang kehinaan  dan keburukan. Sudah jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki iman yang sempurna, sedangkan kita sendiri terhalang dari nikmat yang besar ini. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah: “Akan datang suatu masa atas manusia tidak akan tersisa daripada Islam kecuali namanya saja, dan daripada Al-Qur’an kecuali tulisannya saja”.

Sekarang perlu direnungkan, apabila kita telah terhalang dari Islam yang sesungguhnya, yang sesuai dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya, yang dengannya keberhasilan dan kebaikan dunia dan akhirat akan wujud, maka apakah ada cara lain untuk mengembalikan semua itu? Dan apakah penyebab keluarnya ruh Islam dari diri kita sehingga yang tersisa hanyalah jasad tanpa ruh. Ketika mushaf langit (Al-Qur’an) dibacakan dan kemuliaan umat ini serta ketinggiannya disebutkan. Maka diketahuilah bahwa umat ini telah diberikan tugas yang paling tinggi dan mulia, yang dengannya mereka disebut sebagai khairu ummah (umat terbaik).

Maksud diciptakannya dunia adalah untuk mengetahui keesaan Dzat dan sifat Allah. Dan ini tidak mungkin tercapai apabila keburukan yang ada itu tidak dihilangkan dan diganti dengan kebaikan. Dalam rangka terwujudnya maksud tersebut maka dikirim ribuan Nabi, dan untuk menyempurnakan maksud itu maka Allah swt. mengutus penghulu Nabi dan Rasul dan memperdengarkan ayat berikut:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu [QS. Al-Maaidah: 3]

Sekarang, karena maksud telah sempurna, setiap kebaikan dan kejahatan telah dijelaskan, dan Islam sudah merupakan agama yang sempurna. Oleh karena itu, risalah kenabian yang dahulu hanya dikerjakan oleh para Nabi, maka sekarang kerja itu telah diberikan kepada umat Nabi Muhammad saw. sampai hari kiamat.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Ali Imran: 110)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran: 104)

Pada ayat pertama, umat terbaik dinyatakan bagi mereka yang menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sedangkan pada ayat kedua disertai pembatasan bahwa “merekalah orang-orang yang beruntung”, hanya bagi merekalah keberhasilan dan kebahagiaan. Bahkan di ayat lain ditegaskan bahwa bagi mereka yang tidak mengambil keputusan untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran akan mendapat adzab dan laknat dari Allah swt.

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu (QS. Al-Maaidah: 78-79).

Ayat diatas dijelaskan kembali dalam beberapa hadits berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: Sesungguhnya ada umat sebelum kamu yang apabila diantara mereka berbuat salah, datanglah orang yang melarang (menegur) seraya memperingatkan, “Wahai kamu, takutlah kepada Allah!”. Hari esoknya ia duduk-duduk dengan pelaku maksiat tadi, makan dan minum bersama mereka, seolah-olah ia tidak melihat mereka melakukan dosa pada hari kemarin. Ketika Allah swt. menyaksikan perbuatan mereka, maka Dia menyatukan hati mereka. Kemudian Allah melaknat mereka melalui lisan Nabi-Nya yaitu Dawud a.s. dan Isa a.s. putra Maryam. Demikian ini karena mereka tidak taat kepada Allah dan sudah melampaui batas. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman-Nya, kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran dan hendaklah kalian memegang tangan orang yang bodoh dan memaksanya kepada yang haq! Kalau tidak, Allah swt. akan menyatukan hati-hati kalian, kemudian melaknat kalian sebagaimana Dia telah melaknat mereka” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang melakukan maksiat dan ia tinggal dalam suatu kaum, lalu kaum tersebut tidak mencegah perbuatan orang itu, padahal mereka mampu, melainkan Allah swt. akan menurunkan azab kepada mereka sebelum mereka mati” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ummatku sudah mengagungkan dunia, maka tercabutlah mereka dari kehebatan Islam. dan apabila ummatku meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar (dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu. Dan apabila ummatku seling mencaci maki satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah swt.” (HR. Hakim dan Turmudzi).

Dari beberapa hadits di atas, dapat direnungkan bersama bahwa meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar dapat mendatangkan laknat dan murka Allah swt. Dan apabila ummat Muhammad saw. meninggalkan kewajiban ini, maka akan ditimpa berbagai macam musibah dan kehinaan, serta akan dijauhkan dari pertolongan Allah yang gaib. Semua ini disebabkan karena mereka tidak mengenal dan lupa akan tanggung jawab dan kewajiban mereka selaku ummat Muhammad saw. dan sebagai konsekuensi yang harus ditanggung bersama dari kelalaian mereka dari tugas ini.

Karena itulah, Rasulullah saw. telah menempatkan kedudukan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bagian iman yang istimewa. Beliau pula memberitahukan bahwa meninggalkan tugas tersebut adalah tanda-tanda lemah dan turunnya iman, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Dari Abu Said al-Khudri r.a. berkata, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa dari kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah mencegahnya dengan tangan kalian. Jika tidak mampu maka cegahlah dengan lisan (perkataan) kalian. Jika tidak mampu maka hendaklah dari kalian benci di dalam hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Dengan demikian, maka tidak diragukan lagi sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Al-Ghazali rah.a. bahwa aktivitas amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebuah sendi agama yang kuat, yang oleh karenanya maka seluruh ajaran agama akan berdiri dengan kokoh. Untuk itulah, Allah mengutus para Nabi-nabi untuk menjalankan aktivitas mulia ini. Maka apabila segala kebaikan, ilmu dan amalnya ditinggalkan, maka tugas kenabian akan tidak dapat berjalan dan berfungsi. Sebab amanah adalah suatu bentuk kemuliaan seseorang yang jika tidak dijalankan akan melemah dan hilang. Ketidakpedulian dan kemalasan akan merajalela, kesesatan dan kegelapan akan terbuka, kebodohan dan kejahilan akan menyebar ke seluruh dunia, dan akan terjadi berbagai kerusakan di setiap pekerjaan serta terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin. Kehidupan ini akan rusak. Makhluk ciptaan Allah akan hancur. Kehancuran ini dapat diperhatikan ketika terjadinya hari kiamat nanti dan ketika amal perbuatan manusia dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.

Penyesalan di atas penyesalan, kekhawatiran telah datang, apa yang dulunya dikhawatirkan telah muncul di depan mata. Tanda-tanda dari tiang agama yang dahulunya kokoh yang berupa ilmu dan amal, sekarang telah terhapus. Hakikat keberkahan bentuknya telah hilang. Menghina dan merendahkan orang sudah menjadi hobinya. Hubungan batin antara manusia dengan Allah telah terputus total berganti dengan hawa nafsu layaknya binatang. Di seluruh jagad ini mencari orang yang benar-benar mukmin sangatlah sulit, bahkan sudah tidak ada orang yang bertahan terhadap hujatan dan hinaan dalam rangka menegakkan yang haq.

Apabila seorang mukmin berusaha menghentikan segala kerusakan ini dan berusaha untuk menghidupkan sunnah, kemudian mempunyai kemauan untuk terjun ke dalam aktivitas dakwah, maka yakinlah bahwa orang seperti ini adalah orang yang paling istimewa dan merupakan contoh teladan yang baik. Kata-kata yang diterangkan oleh Imam Al-Ghazali diatas sebenarnya cukup untuk memberi peringatan dan membangun kesadaran kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s