KEMEROSOTAN UMAT ISLAM DAN CARA MEMPERBAIKINYA (2)

BEBERAPA PENYEBAB KELALAIAN KITA

Kelalaian kita dari kewajiban yang sangat penting ini, dapat diketahui dari berbagai alasan. Pertama, kita membatasi bahwa kewajiban ini hanya diperuntukkan bagi ulama’ saja, padahal jelas perintah Allah dalam Al-Qur’an adalah bagi setiap orang dari umat Muhammad saw juga mempunyai kewajiban dan bertanggung jawab dengan usaha ini. Dan juga para sahabat r.a dengan cara hidup mereka yang dikatakan sebagai zaman yang terbaik pada waktu itu (khairul qurun) menjadi saksi adil mengenai hal ini.

Membatasi usaha tabligh dan amar ma’ruf nahi munkar sebagai tugas ulama’, kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada ulama’ saja dan kita meninggalkan usaha yang sangat penting ini adalah merupakan kebodohan yang besar. Tugas ulama’ adalah memberitahukan jalan yang hak dan menunjukkan yang lurus. Sedangkan menyuruh manusia untuk beramal sesuai dengan petunjuk mereka, dan mengajak kepada Allah juga merupakan tugas selain ulama’. Hal ini diperingatkan dalam hadits sebagai berikut:

Sesungguhnya kalian semua adalah pemimpin. Kalian semua akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Dan raja adalah pemimpin rakyat dan akan ditanya tentang rakyatnya. Dan laki-laki adalah pemimpin bagi rumah tangga, dan akan ditanya tentang rumah tangganya itu. Isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga kaum-kaumnya dan akan-anaknya, dan akan ditanya tentang itu. Dan hamba sahaya bertanggung jawab tentang harta majikannya, dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya itu. Maka singkatnya, kalian semua adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya itu (HR. Bukhari Muslim)

Dan juga diterangkan dengan jelas dalam hadits yang lain:

Rasulullah saw bersabda: “Agama dalah nasihat”. Kemudian para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau bersabda: “Untuk Allah, untuk Rasulullah, untuk pemimpin-pemimpin orang Islam dan untuk orang-orang Islam biasa” (HR. Muslim).

Maka dari itu, setiap orang harus bergabung dalam usaha dakwah dan bersatu padu menegakkan kalimat Allah dan menjada agama yang mulia ini.

Kedua, apabila diantara kita memiliki iman yang kuat, maka kesesatan orang lain tidak akan mempengaruhi kita. Seperti mafhum ayat di bawah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, pikirkanlah diri kalian sendiri. Apabila kalian berada di atas petunjuk, maka kesesatan orang yang tersesat tidak akan merugikan diri kalian” (QS. Al-Maidah: 105)

Maksud ayat diatas bukan dimaknai secara tekstual (zhahir), sebab sangat bertentangan dengan hikmah illahiyah dan pengajaran syariat. Syariat Islam memberitahukan bahwa hidup, perbaikan dan maju bersama adalah hal pokok, sebagaimana kedudukan umat Islam yang diibaratkan seperti satu tubuh. Bila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga akan merasakan sakit. Maka dari itu, maksud sebenarnya dari ayat diatas ialah walaupun manusia berjaya sampai kapan pun, pasti di dalamnya ada orang-orang yang meninggalkan jalan lurus dan terjerumus ke dalam kesesatan. Ayat ini adalah penghibur bagi orang-orang yang beriman, selama berada dalam petunjuk yang benar, maka tak perlu khawatir akan mendapatkan kemadlaratan dari orang-orang yang tersesat.

Hidayah yang sebenarnya ialah bahwa seluruh manusia menerima syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. beserta seluruh perintahnya, yang diantaranya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata:

“Wahai manusia, kalian membaca ayat ini: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu ‘alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhalla idzahtadaitum (Hai orang-orang yang beriman, waspadalah terhadap diri kalian, orang yang tersesat tidak dapat mencelakakan diri kalian jika kalian berada di atas petunjuk). Maka sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya manusia apabila melihat kemunkaran, lalu ia tidak berusaha mengubahnya, maka hampir saja Allah manurunkan azab-Nya secara menyeluruh kepada mereka”.

Kemudian Imam Nawawi rah.a. berkata dalam kitabnya, Syarah Muslim, “Pendapat yang shahih dari ulama’ muhaqiqin mengenai ayat ini adalah selama kalian mengerjakan perintah yang diberikan kepada kalian, maka kesesatan orang-orang selain kalian tidak akan membahayakan kalian.

Dengan demikian, amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu perintah dari berbagai macam perintah yang diberikan kepada kalian. Oleh karenanya, apabila seseorang telah menyempurnakan perintah ini, tetapi orang yang dinasihati tidak mengamalkannya, maka tidak ada celaan bagi orang yang menasihatinya karena ia telah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan pengamalan orang lain dan penerimaan atas nasihatnya bukan tanggung jawab pemberi nasihat itu.

Ketiga, hampir semua kalangan sudah berputus asa dengan segala cara dan jalan untuk memperbaiki diri. Mereka juga menyadari bahwa upaya untuk memajukan dan membangkitkan umat Islam sudah tidak mungkin lagi karena sangat sulitnya. Apabila disodorkan kepada seseorang tentang cara perbaikannya, mereka akan menjawab bagaimana mungkin sekarang ini orang-orang Islam bisa maju, sedangkan mereka tidak memiliki kekuasaan, pemerintahan, harta benda, senjata, markas, kekuatan tangan serta persatuan.

Khususnya bagi orang yang beragama, mereka berpendapat bahwa sekarang sudah 14 abad berlalu. Saat ini agama Islam beserta umat Islam pasti akan mengalami kemunduran. Oleh karenanya usaha sungguh-sungguh dan kerja keras akan mengalami kegagalan dan sia-sia belaka. Memang benar bahwa apabila semakin jauh kita dari pelita kenabian maka cahaya Islam akan pudar. Namun ini bukan berarti bermaksud bahwa kita tidak perlu lagi berusaha keras demi kelanggengan syariat dan penjagaan atas agama Muhammad. Karena seandainya pemahaman seseorang dan orang-orang terdahulu seperti itu, maka agama ini pasti tidak sampai ke tangan kita hingga hari ini. Maka dari itu, penting sekali bagi kita untuk membina usaha ini dengan penuh semangat dan kerja keras sambil melihat perkembangan zaman dan kecepatan waktu.

Sungguh mengherankan jika agama yang seluruhnya terbina di atas amal dan usaha dengan sungguh-sungguh, hari ini betul-betul kosong dari itu semua. Padahal di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits diterangkan secara jelas tentang amal dan usaha sungguh-sungguh, ada orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan ibadah, dan siang harinya untuk shaum (puasa). Ada pula orang-orang yang senantiasa berdzikir dan mengingat Allah dimanapun berada, sama sekali tidak akan menyamai orang-orang yang berpikir dan risau dalam perbaikan dan hidayah bagi orang lain.

Dalam Al-Qur’an banyak sekali menyebutkan tentang keutamaan orang yang berjihad di jalan Allah dan mencontohkan keistimewaan para mujahid.

“Tidaklah sama orang-orang mukmin yang tanpa uzur duduk di rumah dengan orang-orang mukmin yang keluar di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa mereka di atas orang-orang yang tinggal di rumah mereka. Dan Allah telah menjanjikan kepada mereka semua dengan pahala yang baik. Dan Allah akan memberi kelebihan kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dibandingkan dengan mereka yang tinggal di rumah dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat darinya, ampunan dan rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisa’: 95-96)

Walaupun maksud dari jihad yang terdapat pada ayat di atas adalah berperang melawan kaum kuffar supaya suara Islam akan tinggi dan kekufuran dan kemusyrikan dikalahkan, namun jangan sampai kita terjauh dari nikmat tersebut, yaitu nikmat untuk mengajak kepada kebaikan. Jangan sampai kita melalaikannya, karena kita tetap memerlukan usaha dan perjuangan.

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah sudah berjanji akan selalu menjaga agama yang dibawa Muhammad ini. Namun untuk meningkatkan kemajuan agama ini diperlukan usaha sungguh-sungguh dari kita semua. Hal ini telah dilakukan oleh para sahabat yang senantiasa berusaha keras untuk mencapai tujuan itu, dan buah keberhasilan mereka telah disaksikan dan mereka juga diberi pertolongan gaib. Kitapun sering menyebut nama-nama mereka dan berusaha mengikuti jejak mereka. Kitapun juga bersiap-siap untuk menegakkan kalimat Allah dan menyebarkan agama Islam, maka pasti kita juga akan mendapatkan pertolongan gaib.

Keempat, kita memahami bahwa apabila kita konsisten dan konsekuen dengan perkataan kita dan kita bukan ahli dalam usaha ini, maka bagaimana kita menasihati orang lain? Namun sebenarnya ini adalah penipuan yang jelas. Apabila ada suatu tugas yang diperintahkan oleh Allah kepada kita, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk meninggalkannya, sebab kita menyadari bahwa itu adalah perintah Allah. Maka insya Allah semua usaha yang kita lakukan akan menjadi sebab bagi kekuatan kita dengan ketegaran dan istiqamah. Apabila senantiasa terus kita kerjakan maka suatu hari kita akan mendapatkan kedekatan kepada Allah swt. Mustahil bila berkorban dan bersungguh-sungguh berusaha menegakkan agama, namun Allah tidak memandang dengan pandangan kasih sayang. Ada sebuah hadits menyebutkan:

Dari Anas r.a. berkata, bahwa kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi kemunkaran”. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Tidak, bahkan serulah untuk berbuat baik meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah kemunkaran meskipun kalian belum menghindari semuanya” (HR. Thabrani).

Kelima, kita memahami bahwa pondok pesantren, nasihat dan petunjuk ulama’, ramainya tempat-tempat dzikir dan penulisan kitab-kitab agama, pengiriman surat-surat, semuanya merupakan cabang-cabang dari amar ma’ruf nahi munkar. Dengan sebab itu, kewajiban ini sudah terlaksana.

Dan tidak diragukan lagi bahwa keberadaan tempat-tempat tersebut sangatlah penting, dan kondisi agama yang kembang kempis ini disebabkan oleh faktor keberkahan sarana itu semua. Namun apabila hal itu dipikirkan dengan memperhatikan sarana tersebut, maka itu pun tidaklah cukup. Termasuk kesalahan besar jika hanya mengandalkan segalanya pada usaha itu. Dan kesalahan yang sangat besar karena kita baru akan mendapatkan manfaatnya dari semua itu jika sekilas di dalam hati terbesit pula rasa rindu dan keinginan, ta’dzim dan penghormatan pada agama. Lima puluh tahun yang lalu, kerinduan dan semangat agama yang begitu tinggi masih terlihat. Oleh karena itulah sarana-sarana itu masih cukup memadai. Namun saat ini, suatu kondisi yang kekuatan asing lebih mendominasi dari kehidupan ini dan disertai dengan gaya hidup kekinian benar-benar telah memadamkan semangat keislaman kita. Bahkan yang seharusnya keinginan dan kecintaan pada Islam bertambah justru sekarang berbalik menjauhi dan lari dari agama.

Dalam keadaan seperti ini, penting sekali bagi kita untuk memulai suatu pergerakan yang berdiri sendiri. Dengan cara inilah, suatu usaha untuk menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada agama akan tumbuh pada diri masyarakat dan membangkitkan semangat mereka. Maka baru akan dapat mengambil manfaat dari semua sarana tersebut. Sebaliknya jika kita semakin tidak mempedulikan dan memperhatikan agama, maka akan sulit untuk mendapatkan manfaat dari berbagai sarana tersebut.

Alasan keenam, apabila kita membawa usaha ini kepada orang lain, maka ia akan merespon dengan pandangan yang buruk dan jawaban yang keras, bahkan menghina dan merendahkan. Dan hendaklah kita tahu akan hal ini bahwa inilah pekerjaan para Nabi yang selama membawa usaha ini selalu mendapat kesusahan. Bahkan kerja Nabi mendapat tantangan yang lebih berat. Akan tetapi justru inilah letak keistimewaan usaha ini, karena mereka menghadapinya dengan sabar. Sebagaimana firman Allah:

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus (Beberapa Rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang Rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Demikianlah, Kami mamasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir), mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan Sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu. Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya. (QS. Al-Hijr: 10-14)

Rasulullah saw. bersabda: “Saya telah mengalami penderitaan dan rasa sakit dalam mendakwahkan agama Allah yang begitu berat yang tidak pernah dialami oleh para Nabi terdahulu”.

Jika Nabi kita mampu bertahan terhadap segala musibah dan kesulitan dan bersabar dalam usaha dakwah ini, maka kita sebagai pengikut beliau seharusnya juga membawa dan meneruskan usaha beliau dan tidak bersedih serta mampu bertahan atas segala musibah tersebut.

Dari keterangan tersebut, dapat dipahami bahwa penyakit yang tengah umat muslim derita sebenarnya adalah lemahnya dan menurunnya ruh Islam dan hakikat iman. Semangat dalam memperjuangkan Islam telah punah dan kekuatan iman di masing-masing umat telah hilang. Maka, apabila kedua asas di atas sudah melemah, maka tentu saja semua kebaikan dan kebenaran akan melemah juga. Segala kelemahan dan kekurangan itu pasti terjadi dan penyebabnya pun karena kita meninggalkan asas tersebut, sedangkan kelestarian agama tergantung padanya. Perkara asal tersebut ialah amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga jelaslah, bahwa umat tidak akan mendapat kemajuan selama masih belum memiliki kebaikan dan kesempurnaan yang ditunjukkan oleh Islam.

Hanya inilah obat dari penyakit tersebut, yaitu melakukan usaha dakwah dan tabligh yang akan menguatkan iman kita, dan membangkitkan semangat keislaman yang kita miliki, dengan cara mengenal Allah swt. dan Rasul-Nya dan senantiasa meletakkan perintah Allah di hadapan kita. Oleh karena itulah, kita akan menempuh jalan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.untuk memperbaiki orang-orang arab jahiliyyah:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS. Al-Ahzab: 21).

Imam Malik r.a. berkata:

“Tidak akan pernah menjadi baik umat pada kurun (abad) terakhir ini kecuali dengan cara perbaikan pada kurun umat yang pertama”.

Ketika Rasulullah saw. mulai berdakwah, beliau berdiri sendiri tanpa dibantu oleh para sahabat. Dan kita pun mungkin tidak pernah berpikir bahwa beliau tidak mempunyai kekuatan sedikit pun. Segala bentuk kesombongan dan kekeraskepalaan kaumnya telah sampai pada puncaknya sehingga tidak mungkin ada harapan untuk mau mendengar dan mengikuti seruan beliau yang haq dan taat dengan kalimat yang dibawa beliau karena mereka semua membencinya.

Dalam kondisi seperti itu, kekuatan macam apakah yang menyebabkan seorang yang miskin, direndahkan, dan tidak memiliki seorang penolong, ternyata mampu menarik perhatian seluruh kaum padanya. Sekarang pikirkanlah, mengapa bisa seperti itu? Meski banyak kaum yang menolak, namun beliau tetap istiqomah untuk menyeru mereka, dan orang-orang yang menerima seruannya akan meniringi beliau selamanya. Seluruh dunia mengakui bahwa hal ini adalah suatu pelajaran, bahwa itulah maksud beliau yang sesungguhnya, yaitu apa yang telah beliau tawarkan kepada kaumnya.

Tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali-Imran: 64)

Allah swt. melarang diri-Nya dipersekutukan dengan apapun, baik di dalam ibadah maupun dalam ketaatan. Dan meninggalkan seluruh cara dan tempat yang ada dan menetapkan suatu aturan amalan dan Dia juga memberitahukan bahwa janganlah berpaling dari-Nya dan mencari arah yang lain.

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (QS. Al-A’raaf: 3).

Ini sebenarnya pelajaran yang telah diajarkan Rasulullah saw. yang olehnya diperintahkan agar supaya disebarkan.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)

Dan inilah jalan yang ditempuh Rasulullah saw. dan pengikut-pengikutnya.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. 108)

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Menyeru kepada manusia agar supaya taat kepada Allah, menuntun manusia ke jalan yang benar, dan menunjukkan manusia yang tersesat kepada jalan hidayah, semuanya termasuk amalan hidup Rasulullah saw. dan merupakan maksud hidup beliau. Dengan maksud seperti itulah, Allah swt. mengutus ribuan para nabi ke dunia ini.

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (QS. Al-Anbiya’: 25)

Apabila kita melihat kehidupan Rasulullah saw. dan para nabi sebelumnya, akan nampak bahwa mereka semua mempunyai satu maksud dan tujuan, yaitu yakin kepada sifat Allah swt. Inilah makna iman dan Islam. untuk itulah manusia dikirim ke dunia ini.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Sekarang jelaslah, bahwa maksud kita hidup di alam dunia ini hanyalah untuk menyembah kepada Allah. Dengan demikian, maka kita telah mengetahui dengan jelas penyakit yang diderita umat saat ini dan usaha untuk mengobatinya. Maka insya Allah upaya penyembuhan tidak akan sulit dan akan membuahkan hasil. Sesuai dengan kepahaman yang lemah ini, maka untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya, yakni kejayaan dan kemenangan Islam, maka mesti memerlukan sebuah aturan kerja yang dapat mewujudkan suatu hakikat kehidupan Islami dan meneladani kehidupan orang-orang terdahulu yang telah berhasil.

Sumber: lihat buku “Fadhilah amal” karangan Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi. Artikel ini terdapat sedikit perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s