ALIRAN REKONSTRUKSIONISME DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

1.Pengertian Aliran Rekonstruksionisme

Istilah Rekonstruksionisme berasal dari kata Rekonstruksi yang tersusun atas dua kata: “Re” yang berarti kembali dan “konstruk” yang berarti menyusun. Bila kedua kata tersebut digabung maka dapat dimaknai menjadi penyusunan kembali (Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, 2001:664). Adapun imbuhan ‘-isme’ yang disisipkan dalam istilah di atas akan mengubah makna tersebut kepada penegasan bahwa ia merupakan suatu paham atau aliran tertentu.

Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme adalah aliran yang berupaya merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern, serta berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruk-sionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Untuk tujuan tersebut diperlukan kerja sama antarumat manusia (Jalaluddin, 2010:119).

Aliran Rekonstruktivisme ini intinya merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme yang menyatakan bahwa peradaban manusia di masa depan sangat diutamakan. Dalam konteks pendidikan, aliran ini bertujuan hendak membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia, dengan merombak kembali tata susunan pendidikan lama dengan tata susunan pendidikan yang sama sekali baru (Zuhairini, 1991:29). Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

2.Sejarah Perkembangan Aliran Rekonstruksionisme di Dunia Barat

Lahirnya aliran rekonstruksionisme ini berawal dari krisis kebudayaan modern, sama halnya dengan aliran perenialisme. Menurut Muhammad Noor Syam seperti yang dikutip Jalaluddin (2010:118-119), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Meskipun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perenialisme memilih cara tersendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama (regressive road culture) yang mereka anggap paling ideal.

Suatu ketika pada tahun 1930, George Count dan Harold Rugg muncul gagasan yang bermaksud ingin membangun masyarakat baru, yang pantas dan adil. Dari sinilah awal kemunculan aliran ini. Ide gagasannya selanjutnya didukung oleh pemikiran progresif Dewey, dan menjelaskan bahwa aliran rekonstruksionisme berlandaskan filsafat pragmatisme (Teguh Wangsa, 2011:190). Berawal dari pemikiran Theodore Brameld, mereka terinspirasi melalui karya filsafat pendidikannya, mulai dari Pattern of Educational Philosophy (1950), Toward a reconstructed Philosophy of Education (1956), dan Education as Power (1965).

3.Tokoh-Tokoh Aliran Rekonstruksionisme dan Pemikirannya

Rekonstrusionisme sebagai salah satu aliran dalam filsafat pendidikan pertama kali diprakarsai oleh John Dewey pada tahun 1920 melalui karyanya yang berjudul “Reconstruction in Philosophy”. Kemudian aliran ini berlanjut dengan munculnya tokoh-tokoh lain seperti Caroline Pratt, George Counts, Harold Rugg, John Hendrik dan Muhammad Iqbal sebagai wakil dari tokoh intelektual muslim.

George Counts dan Harold Rugg sebagai tokoh penggerak aliran rekonstrusionisme yang dipelopori John Dewey bermaksud ingin membangun masyarakat baru yang dipandang pantas dan adil. Dalam karya klasik milik George Counts yang berjudul “Dare the Schools Build a New Social Order” yang terbit pada tahun 1932 sebagaimana yang dikutip Arthur K. Ellis, ia berkeinginan menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana rekonstruksi masyarakat (Muhmydaieli, 2011:172).

Hal yang sama dikemukakan oleh John Hendrik, bahwa rekonstrusionisme merupakan reformasi sosial yang menghendaki budaya modern para pendidik. Rekonstrusionisme memandang kurikulum sebagai problem sentral dimana pendidikan harus menjawab pertanyaan beranikah sekolah membangun suatu orde sosial yang baru. Sehingga tujuan utama dan tertinggi hanya dapat diraih melalui kerjasama antar bangsa tanpa membeda-bedakan warna kulit, nasionalitas, dan kepercayaan supaya peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran di tatanan sosial masyarakat akan terwujud. (Muhmydaieli, 2011:173)

Tak tertinggal pula dari kalangan intelektual muslim, Muhammad Iqbal (w. 1938) dalam hal ini mengungkapkan, bahwa perubahan mendasar dalam pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang meliputi keseluruhan sistem pendidikan guna untuk membentuk pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Menciptakan masyarakat baru melalui rekonstruksi pendidikan merupakan suatu keharusan.

4.Islam dan Aliran Rekonstruksionisme

Aliran rekonstruksionisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang kemunculannya diawali dengan sebuah keprihatinan terhadap kondisi kehidupan modern sehingga menuntut apa yang harus dipersiapkan manusia di masa depan. Sama halnya dengan aliran perenialisme, kehidupan manusia modern adalah zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang terganggu, sakit, penuh kebingungan, serta kesimpangsiuran proses. Namun aliran rekonstruksionisme ingin membentuk susunan tata kehidupan yang baru dan membutuhkan kerjasama antar manusia. Dan memang, tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa (Teguh Wangsa, 2011:190). Hal ini persis ketika Islam turun ketika kondisi dunia pada saat itu berada dalam kejahiliyyahan dari segi budaya dan perilaku manusia saat itu, terutama kaum Quraisy di Jazirah Arab, tempat turunnya agama Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa tujuan Islam diturunkan ke dunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai penutup dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Dalam ajarannya, Islam sangat peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tidak terikat dengan zaman-zaman tertentu, sehingga diharapkan mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi umat manusia dan rahmat dari semesta alam dari generasi ke generasi. Segala persoalan yang terjadi di tengah-tengah manusia, baik terkait urusan keduniaan maupun ukhrawi dalam konteks sosial cukup dikembalikan pada sumber hukum Islam itu sendiri (QS.4:59).

Muhammad Iqbal, tokoh intelektual muslim India yang dikutip Mukti Ali (1993:187) pernah menyatakan bahwa upaya menginterpretasikan prinsip-prinsip hukum Islam pada era pendiri-pendiri mazhab adalah belum final, sebab realitas yang dihadapi pada setiap generasi akan selalu berubah. Karenanya sangat perlu untuk terus menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar pada setiap generasi, terutama pada kondisi kehidupan modern ini. Juga dalam karyanya “Reconstruction of Religious Thought in Islam”, beliau sangat menekankan pada ‘ijma” sebagai sebuah metodologi yang harus diambil oleh umat muslim dalam kondisi modern seperti saat ini. Disebutkan di dalamnya bahwa upaya ijma ditempatkan pada sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Hadits.

Pemikirannya yang cukup revolusioner dalam merekonstruksi pemahaman Islam dirasa cukup berpengaruh di era modern ini. Terlebih pula pada ketegasan dalam mengemukakan pendapatnya bahwa ajaran Islam tidak sekaku seperti yang dipersepsikan masyarakat di zamannya. Beliau melalui kutipan Mukti Ali (1993:187) menyatakan,

“Tuntutan generasi muslim sekarang ini untuk menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar dalam pandangan dan pengalaman mereka sendiri serta kondisi kehidupan modern yang mengalami perubahan ini, menurut pendapat saya adalah sah. Ajaran Al-Qur’an bahwa hidup ini adalah suatu proses dari penciptaan yang progresif mengharuskan bahwa setiap generasi harus dibimbing, tetapi tidak terhalang oleh pandangan-pandangan para ulama terdahulu, harus dipersilahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri”.

Terkait substansi dari Islam itu sendiri yang ajarannya senantiasa berlaku sepanjang zaman, maka upaya interpretasi terhadap sebuah fenomena yang sedang berkembang saat ini paling tidak harus disinergikan pada dasar agama secara kontekstual. Secara teks, Islam memang dinyatakan sebagai ajaran yang tidak pernah berubah sampai berakhirnya zaman (QS.15:9), hanya saja secara realitas, zaman itu senantiasa berkembang. Semua itu adalah fenomena kehidupan yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi sumber tekstual (Al-Qur’an dan Sunnah) tidak dapat dimaknai begitu saja bila dihadapkan dengan zaman yang senantiasa terus berubah. Ditambah lagi dalam tulisan Atho’ Mudzhar (2006:19) disebutkan, para ahli sosiologi bersepakat bahwa agama tidak semuanya mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam fungsi-fungsi sosial, seperti persoalan psikologis dapat diselesaikan oleh psikoterapi, fungsi penanaman rasa cinta oleh humanisme, dan fungsi memahami arti hidup dan arti alam oleh sains. Meski begitu, beberapa disiplin ilmu diatas dapat disinergikan dalam agama sehingga menjadikannya sebagai functional equivalent of religion.

5.Aliran Rekonstruksionisme dan Hubungannya Dengan Pendidikan Islam

Islam turun membawa rahmat bagi seluruh alam. Inilah yang menjadi misi ajaran Islam. Nuansa risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin ini akan memberi dampak pada aspek-aspek yang lain, termasuk dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang merupakan bagian dari manifestasi ajaran Islam harus mengikuti kaidah-kaidah pada nilai-nilai keislaman dan berorientasi pada tujuan penciptaan manusia. Mengingat manusia diciptakan Allah ke dunia ini mempunyai misi religus-sosial, maka pendidikan dipahami sebagai media untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia yang sejalan dengan tujuan penciptaan manusia. Diharapkan tugas pendidikan menurut aliran rekonstruksionisme ditekankan pada pengembangan aspek individual dan sekaligus pengembangan aspek tanggung jawab kemasyarakatan, serta lebih bersikap proaktif dan antisipatif dalam menghadapi permasalahan di masa depan (Muhaimin, 2003:143).

Demikian halnya dalam wacana pendidikan Islam, pendidikan bukanlah persoalan yang stagnan. Sebagai sebuah kegiatan yang menitikberatkan pada fungsi pembentukan manusia seutuhnya pada setiap perkembangannya, persoalan yang dihadapi akan selalu berubah dan dinamis. Sehingga berbagai macam problem yang sama sekali baru di dunia pendidikan sangat membutuhkan penyelesaian secara ijtihadiyah (Mujamil Qamar, 2005:225). Lebih jelasnya Hasan Langgulung (1980:187-235) mengemukakan bahwa sumber-sumber pemikiran pendidikan Islam dalam konteks ini tidak hanya kitab Allah dan Sunnah, tetapi juga perkataan sahabat, kemaslahatan sosial, nilai-nilai dan kebiasaan sosial, serta pemikir-pemikir Islam. Oleh karenanya kendatipun Allah secara tekstual telah menurunkan wahyu dan berfungsi sebagai sarana petunjuk bagi manusia, namun dalam kenyataannya isi dari wahyu tersebut perlu dijabarkan secara detail yang melibatkan akal untuk menafsirkan problem-problem kehidupan secara mendalam, utamanya saat mengupas permasalahan dalam pendidikan.

Meski begitu Azra sebagaimana dikutip Muhaimin (2003:131) merasa prihatin ketika mengamati pendidikan Islam yang ada selama ini, salah satunya ialah fenomena pendidikan Islam yang seringkali terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat, baik sekarang maupun yang akan datang. Untuk itulah rekonstruksionisme menghendaki agar pendidikan sekarang mampu membangkitkan kemampuan peserta didik untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga para peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas (Muhaimin, 2003:41). Bertolak dari hal tersebut, maka Islam juga menuntut seseorang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang menurut Ismail Yusanto (2011:70) agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan misi sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Dengan pola pengintegrasian potensi agama dan iptek, diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat menuju tatanan sosial yang lebih baik.

6.Implementasi Pembelajaran Menurut Aliran Rekonstruksionisme

Bila dikaitkan pada sebuah implementasi pendidikan, maka rekonstruksionisme dapat diimplikasikan dalam proses pendidikan dan pembelajaran, yang penerapan tersebut beserta metodologinya dalam pembelajaran dapat dipetakan sebagai berikut (Uyoh Sadulloh, 2006:171; Muhaimin, 2003:65-67):

Tujuan Pendidikan 1.      Siswa memiliki kesadaran akan problem sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Siswa memiliki keterampilan untuk memecahkan problem tersebut.

3.      Membangun tatanan masyarakat baru.

Tema pendidikan Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
Kurikulum 1.      Semua bidang kajian yang meliputi sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Problem sosial dan personal dari siswa sendiri.

Kedudukan siswa Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, mana kala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
Metode Scientific inquiry sebagai metode kerja problem solving
Peran Guru 1.      Membuat siswa sadar akan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia.

2.      Project director dan research teacher

Peran Sekolah 1.      Perantara utama bagi perubahan sosial, politik, ekonomi dalam masyarakat.

2.      Mengembangkan insinyur sosial.

Selepas mempelajari aliran rekonstruksionisme ini, maka sebagai calon pendidik PAI harus berupaya mampu memahami dan menerapkannya. Dikarenakan seorang guru dituntut mampu memberi arahan kepada peserta didik terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapinya. Guru juga berupaya membantu peserta didik dalam mengidentifikasi masalah-masalah tersebut untuk dipecahkan dalam proses pembelajaran melalui problem solving. Disamping itu pula seorang guru juga harus mampu mendorong peserta didik untuk dapat berpikir tentang beberapa alternatif solusi dalam memecahkan masalah di kehidupan modern ini, utamanya terkait dengan keagamaan Islam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s