PERKEMBANGAN SEKTARIANISME DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM

copy-2-of-e-96

A. Pengertian Sektarianisme Dan Sebab-Sebabnya

Istilah Sektarianisme berasal dari kata ‘sekte’ yang berarti kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan yang sama dalam suatu agama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah sektarianisme dapat diartikan sebagai sebuah semangat membela suatu sekte atau mazhab, kepercayaan, atau pandangan agama yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut[1]. Dengan demikian, istilah sekte ini lebih cenderung kepada sebutan golongan, aliran, atau kelompok dalam suatu agama atau kepercayaan.

Sektarianisme adalah bigotri, diskriminasi, atau kebencian yang muncul sebagai akibat perbedaan di antara suatu kelompok, seperti perbedaan denominasi agama atau fraksi politik[2]. Fenomena sektarianisme ini merujuk pada aliran-aliran, yang muncul diakibatkan pada cara pandang atau perbedaan pemahaman tertentu, baik itu bersifat religius maupun dalam berpolitik. Seringkali nampak dalam sektarian melahirkan sikap atau perilaku yang antikomunikasi, reaksioner, amat emosional, tidak kritis, angkuh dan anti dialog yang akan menyebabkan seseorang atau sekelompok masyarakat membabi buta membela kelompoknya atau mahdzabnya.

Banyak hal yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran dalam Islam. Ada yang dilatar belakangi oleh kepentingan politik, pribadi, kelompok atau golongan. Secara garis besar, yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran atau sekte-sekte dalam Islam dari mulai awal perkembangannya hingga saat ini diantaranya adalah:

1. Adanya kepentingan kelompok atau golongan

Kepentingan kelompok atau golongan pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sebagai contoh timbulnya aliran seperti Syi’ah dan Khawarij yang penyebabnya penyebabnya sangat jelas, yaitu karena adanya kepentingan kelompok atau golongan, dimana Syi’ah dalam sejarahnya sangat berlebihan dalam mencintai dan memuja Ali bin Abi Thalib, sedangkan Khawarij sebagai kelompok yang sebaliknya, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan-kepentingan tersebut.

2. Pengaruh Dari Luar Islam

Ada kalanya penyebab timbulnya perpecahan ditubuh umat Islam yaitu pengaruh dari luar Islam, seperti golongan luar Islam yang menyusup menjadi orang Islam, contohnya seperti salah seorang Yahudi tulen yang mengaku Islam yaitu Abdullah bin Saba’ pada era Rasulullah SAW.

3. Mengedepankan Akal

Akibat dari mempertuhankan akal dalam memahami Islam, dapat memmbulkan perpecahan dikalangan umat Islam, seperti munculnya sekte Mu’tazilah yang juga disebut sebagai aliran selalu mengedepankan akal dalam memahami Islam.

4. Terpengaruh Paham Filsafat Yunani

Diterjemahkannya buku-buku karya para filosof Yunani pada era Bani Abbasiyah, disamping banyak membawa manfaat juga ada sisi negatifnya bila ditangan kalangan yang tidak punya pondasi yang kuat tentang aqidah dan syari’at Islam. Seperti paham Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh paham filsafat Yunani.

5. Termasuki Doktrin Paham Orientalisme

Syaikh Ghalib bin Ali Iwaji menambahkan beberapa hal yang melatarbelakangi timbulnya firqah-firqah dalam Islam diantaranya adalah:

a. Adanya orang yang mengaku Ulama, namun beraqidah menyimpang dan aqidah Islam.

b. Kebodohan yang merajalela yang timbul dikalangan umat Islam.

c. Tidak memiliki standar pemahaman yang benar dalam memahami Islam.

d. Adanya perbedaan pendapat yang didasari oleh hawa nafsu, seperti demi kepentingan politik, golongan, organisasj, pribadi atau aliran tertentu.

e. Timbulnya fanatik golongan atau Madzhab secara berlebihan.

6. Adanya kedengkian terhadap sesama Muslim.

7. Adanya sikap mempertuhankan akal dan menomorduakan Al-Qur’an dan Hadits

8. Akibat adanya pengaruh internal yang memicu timbulnya aliran-aliran[3].

B. Sejarah dan Perkembangan Sektarianisme Dalam Islam

Fenomena munculnya aliran-aliran dalam Islam ini tidak terlepas dari sejarah penyebab lahirnya sektarianisme ini.

1. Masa Rasulullah

H.R. Gibb dalam A. Djazuli memandang peran Muhammad setidaknya menggunakan dua periode besar, yakni periode Makkah dan periode Madinah. Dalam periode Makkah, kedudukan Muhammad disebutnya sebagai Nabi atau Rasul semata sebagaimana Isa. Ia tidak pernah memaklumkan sebuah komunitas baru dengan segala prinsip-prinsipnya. Ia juga tidak melakukan usaha-usaha proteksi dengan kekuatan senjata meski ia dipojokkan. Tidak pernah ditemukan sebuah konflik politik yang besar, yang kemudian memungkinkan terjadinya perang antara kaum Muhammad dengan kaum Arab lainnya. Bahkan dipandang dalam kehidupan di Makkah ini, Muhammad sebagai seorang Nabi tidak membedakan antara umat beriman dengan tidak beriman[4].

Sedangkan dalam periode Madinah, fungsi dan peran kenabian dari Muhammad berubah fungsi menjadi seorang raja. Dalam pandangan Gibb pula, Muhammad menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin Islam dari komunitas masyarakat Islam yang khas. Ia tidak hanya menjalankan peran kenabian akan tetapi lebih menjalankan tugas seorang raja yang mengatur suatu komunitas[5]. Lebih lanjut Al-Mubarakfuri mengemukakan, kehidupan di Madinah semenjak Muhammad menjadi seorang kepala Negara, ia berusaha mengaktualisasikan wahyu yang diterimanya dalam wujud Piagam Madinah, perjanjian antara umat Islam dengan elemen masyarakat Madinah di bawah kekuasaan Islam. Isi dari perjanjian itu sangat monumental sepanjang sejarah Islam, yaitu usaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Hal ini dimaksudkan agar fanatisme jahiliyah menjadi cair dan tidak ada yang dibela kecuali Islam. Dan juga perbedaan-perbedaan keturunan, ras, warna kulit, dan daerah tidak mendominasi agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan yang lain lebih rendah kecuali karena ketakwaannya[6]. Pertautan persaudaraan antara saudara muslim serta masyarakat Madinah secara umum inilah yang merupakan usaha yang benar-benar mampu memecahkan banyak persoalan yang terjadi semenjak era beliau, salah satunya ialah menanggulangi munculnya aliran-aliran/sekte-sekte yang berusaha merusak persaudaraan Islam.

2. Masa Khulafaur Rasyidin

Persoalan politik pertama dihadapi kaum muslimin adalah pada saat setelah Nabi wafat. Sebelum wafat, beliau tidak menentukan siapa penggantinya, sehingga dikenal berbagai mekanisme penetapan kepala Negara dan berbagai kriteria yang sesuai sosiohistoris yang ada. Pada akhirnya sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ditetapkan sebagai khalifah penggantri Rasulullah saw berdasarkan “pemilihan suatu musyawarah terbuka”. Kemudian khalifah kedua, Umar bin Khattab, melewati “penunjukkan oleh kepala Negara pendahulunya”. Begitu pula halnya dengan khalifah ketiga dan keempat, Utsman bin Affan, yang berdasarkan “pemilihan dalam suatu dewan formatur”, dan Ali bin Abu Thalib melalui musyawarah dalam pertemuan terbuka[7].

Pada saat dilantiknya Abu Bakar sebagai khalifah pertama, sebagaimana dikemukakan Khudari Bek yang dikutip A. Hasimy, pada masanya sering terjadi pemberontakan yang dilakukan beberapa suku Arab terhadap Islam[8]. Maka disinilah timbul pertama kali perpecahan di kalangan umat Islam. Untuk menghadapi kaum pemberontak ini, khalifah mempersiapkan beberapa pasukan untuk menghadapi pasukan pemberontak dan memukul lumat mereka sehingga dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian persatuan umat Islam di Arab pulih kembali.

Gejolak terbesar dan paling massif dalam perpecahan di kalangan umat Islam terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib. Sebagai akibat dari suatu pergolakan politik antara Ali bin Abu Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka lahirlah golongan atau sekte yang muncul pertama kali terhadap masing-masing pihak. Masing-masing golongan yang berseteru tersebut memiliki basis kekuatan yang besar dengan jumlah pengikut yang banyak. Maka tidaklah aneh bila secara politis, dua kekuatan ini bukannya menjadi padam tapi justru malah bertambah dahsyat. Pada masa ini muncul tiga aliran politik yang dikenal sering berseteru: pertama golongan Syi’ah, yaitu para pengikut Ali yang hingga kini masih eksis, kemudian golongan Murji’ah yang lebih cenderung memihak Bani Umayyah, dan golongan Khawarij yang secara terang-terangan menganggap golongan Syi’ah dan Murji’ah telah keluar dari agama mereka. Untuk itulah pada saat itu dalam dunia Islam sedang mengalami kegoncangan yang besar sekali, dan konflik ini masih tetap berlanjut hingga masa setelahnya, yakni masa Bani Umayyah[9].

Awalnya munculnya aliran-aliran itu membahas persoalan politik, namun lambat laun persoalan tersebut berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah yang akhirnya memunculkan aliran-aliran baru yang memusatkan diri pada permasalahan teologis.

3. Masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, timbullah masa dinasti yaitu kekuasaan yang dipegang oleh keturunan Umayyah dan kemudian keturunan Abasiyah. Pada masa Abbasiyah, dunia Islam dipegang oleh beberapa dinasti dalam wilayahnya masing-masing: dinasti Abbasiyah di Baghdad, dinasti Umayyah di Andalusia, dan dinasti Fathimiyyah di Mesir.

Pada masa Nabi tercermin prinsip-prinsip politik dari adanya piagam Madinah yang dipegung teguh oleh para Khulafaur Rasyidin. Prinsip-prinsip itu berupa: persatuan, persamaan, keadilan, perdamaian, musyawarah, kemanusiaan, kejujuran dan pemimpin sebagai abdi masyarakat. Tetapi pada masa setelahnya, prinsip-prinsip itu tergeser sehingga kekuasaan yang menjadi panglima dan bukan hukum menjadi panglima dengan perebutan kekuasaan. Akhirnya tergambarkan dari keruntuhan kekuasaan Abbasiyah dan Umayyah[10].

Pada masa Bani Umayyah, kondisi wilayah Islam kembali stabil, rakyat kembali merasa aman dan tenang pasca terjadinya konflik pada masa Ali bin Abu Thalib. Kekuatan militernya bertambah kuat dan wilayah kekuasaannya semakin luas. Hanya saja di wilayah Irak (termasuk Kufah, Bashrah, dan sekitarnya) sering terjadi gejolak dan fitnah yang dilakukan oleh golongan Syi’ah, namun masih dapat diatasi oleh pemerintah Umayyah[11]. Begitu pula dengan kelompok Khawarij yang merupakan duri bagi pemerintahan Bani Umayyah. Khawarij terus-menerus mengganggu dan berusaha untuk tetap memeranginya, seperti di daerah Irak (dekat Bashrah) dan di Jazirah Arab (Hadramaut, Yaman, Tha’if). Pemerintahan Umayyah tidak mampu memberantas kelompok ini, namun pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, basis kekuatan kelompok ini lambat laun menurun dan berkurang[12].

Sistem pemerintahan yang dijalankan ialah sistem kerajaan berupa pewarisan tahta kepada putra mahkota, namun sebagaimana dituturkan Ibnu Khaldun, Mu’awiyah melakukan hal tersebut karena selain merupakan tokoh Quraisy yang paling disegani, ia juga ingin menjaga keutuhan dan persatuan umat dengan cara ini, yang itupun melalui persetujuan dewan tinggi (ahlul hill wal aqd)[13]. Sistem pewarisan putra mahkota ini tetap terus berlanjut hingga berakhirnya masa kekuasaan Bani Umayyah.

Setelah kekuasaan Bani Umayyah berakhir, periode kekuasaan Islam dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Pada masa ini, Islam berada pasa masa keemasannya, baik secara politik, militer, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan[14]. Pada aspek teologis, muncul aliran-aliran baru yang merupakan kelanjutan dari aliran-aliran yang muncul pada masa Ali bin Abu Thalib dan awal Bani Umayyah. Aliran tersebut antara lain Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Aliran-aliran ini muncul sebagai akibat perkembangan pemikiran teologis yang dibawa oleh pemikiran Yunani, yang pada akhirnya membawa pemikiran rasional dalam Islam. Munculnya tokoh-tokoh seperti Abu Al-Huzail Al-Allaf (135-235 H/752-849 M, perumus pemikiran aliran Mu’tazilah) dan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (873-935 M, pendiri aliran Asy’ariyah) membawa nafas baru di bidang teologi Islam. Begitupun di bidang keagamaan, banyak mujtahid bermunculan yang mengeluarkan pendapatnya serta mendirikan mazhab-mazhab. Namun karena pengikutnya tidak berkembang, sebagian besar mazhab-mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman, kecuali empat mazhab yang masih dikenal dan dianut oleh umat Islam seluruh dunia sampai saat ini[15].

4. Pada Pertengahan Abad Kedua Puluh

Pada masa ini terjadi dekolonisasi Negara-negara muslim yang terpisah satu sama lain akibat imperialisme yang dilakukan Negara-negara Barat/Eropa. Banyak Negara-negara Islam mulai memerdekakan diri, yang umumnya negeri-negeri Islam yang merdeka ini dipimpin oleh pimpinan yang terdidik secara barat.

Dunia Islam dewasa ini dilihat dari pelaksanaan siyasah syar’iyyah (politik Islam) dapat dibagi menjadi 3 tipe :

a. Negara yang melaksanakan hukum Islam secara penuh (pola integralistik)

b. Negara yang menolak hukum Islam secara penuh (pola sekuleristik)

c. Negara yang tidak menjadikan sebagai suatu kekuatan struktural (dalam sektor politik) tetapi menempatkannya sebagai kekuatan kultural atau mencari kompromi (pola simbiostik)[16].

Pemikiran tokoh-tokoh dalam politik Islam dapat dikategorikan menjadi dua periode, yakni periode pra modern dan modern. Kedua masa itu pada hakikatnya para pemikir politik Islam bergulat pada upaya untuk mencari basis intelektual dari hubungan politik dan Islam.

a. Pada masa pra modern pemikiran politik Islam dipengaruhi oleh pemikiran yunani, melalui kajian filsafat.

b. Sedangkan pada masa modern pengaruh politik barat terhadap politik Islam sudah masuk melalui imperalisme[17].

Dikalangan Umat Islam sampai sekarang terdapat tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan politik.

a. Aliran pertama, berpendapat bahwa Islam bukan semata-mata agama dalam pegertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Tokoh utama aliran ini antara lain Syekh Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Rasyid Ridla dan Abul A’la al-Maududi.

b. Aliran kedua, berpendapat bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Muhammad hanyalah seorang Rasul biasa seperti halnya Rasul-rasul yang lain, dengan tugas utama mengajak (dakwah) manusia kepada jalan Tuhannya dengan menjunjung tinggi nilai moral, dan Nabi tidak dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai suatu negara. Pendapat ini dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer diwakili oleh seorang ulama Mesir, Ali Abd ar-Raziq, dalam risalahnya yang sangat ramai diperdebatkan, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan), pernah mengemukakan bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul dan juru dakwah, bukan seorang pemimpin negara.

c. Aliran ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Tetapi aliran ini pula menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian sekuler yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Aliran ini berpendapat bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Salah satu tokoh yang mendukung pendapat ini diantaranya adalah Mohammad Husein Haekal, Fazlur Rahman dan di Indonesia tokohnya Nurcholish Madjid[18].

C. Profil Masing-Masing Sekte atau Aliran Dalam Sejarah Islam

Sektarianisme dalam Islam ini cukup banyak. Namun bila dikelompokkan, secara garis besar menurut beberapa pakar sejarah, aliran-aliran tersebut diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni aliran politik dan aliran kepercayaan (aqidah). Masing-masing dari aliran tersebut akan diulas secara rinci sebagai berikut:

  1. Aliran Politik

Pada masa Nabi SAW dan para Khulafaur Rasyidin, umat Islam bersatu. Mereka berada pada satu aqidah, satu siyasah, satu politik, satu akhlaqul karimah. Apabila terjadi perselisihan pendapat di antara kaum muslimin masih dapat diatasi dengan wahyu. Meski begitu benih-benih perpecahan sudah dimulai pada zaman Nabi saw, yakni munculnya Abdullah bin Ubay, seorang munafik yang berusaha memecah belah Umat Islam di Madinah[19]. Kemudian perselisihan ini muncul kembali dengan hadirnya figur seperti sosok Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi) pada pemerintahan Utsman bin Affan dan berlanjut pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib[20].

Cikal bakal munculnya aliran politik ini bermula pada masa khalifah Utsman bin Affan. Pada masa itu, terjadi perselisihan yang dilatarbelakangi oleh kepentingan kelompok yang mengarah pada peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman. Kemudian kepemimpinan umat Islam digantikan oleh Ali bin Abu Thalib. Pada masanya, permasalahan umat Islam masih tetap berlanjut dan kondisinya pun semakin kacau, hingga pada puncaknya terjadilah perang Jamal antara Khalifah Ali dengan Aisyah yang terjadi pada tahun 36 H. Namun perang ini dapat diselesaikan oleh khalifah. Kemudian muncul perang Shiffin, antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang terjadi pada tahun 37 H. Bermula dari sinilah awal perpecahan umat Islam benar-benar tampak. Di saat pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Amr bin Ash nyaris mengalami kekalahan, kemudian Amr mengangkat al-Qur’an sebagai isyarat perdamaian. Usulan ini kemudian diterima sehingga terjadilah perundingan (tahkim). Hasilnya, Ali diturunkan dari jabatannya dan Muawiyah diangkat menjadi Khalifah. Dari sinilah muncul aliran politik yang pertama kali, yakni Syi’ah, Khawarij, dan Murji’ah[21].

Persoalan awal dari perpecahan ini sebenarnya bukan terletak pada ambisi politik dari Mu’awiyah untuk meraih jabatan yang lebih tinggi, melainkan karena adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mu’awiyah sebagai gubernur Damaskus pada saat itu bermaksud untuk melawan Ali bin Abu Thalib bukan karena ingin merebut kekuasaan atau menginginkan jabatan khalifah, namun karena ingin menuntut dijatuhkannya qishash bagi pembunuh Utsman. Namun bagi Ali, ia bukan bermaksud mengulur-ulur waktu dalam mengusut dan menjatuhkan hukuman bagi pembunuh Utsman, tapi masih ada permasalahan lain yang jauh lebih besar dan segera dituntaskan, seperti munculnya kaum pemberontak yang masih menguasai Kota Madinah di kala itu[22].

Begitu halnya dengan Aisyah, isteri Nabi saw yang terlibat dalam perang Jamal. Semuanya tidak lepas dari persoalan politik. Ketika Ali telah dibaiat sehari setelah Utsman terbunuh di Madinah. Semua sahabat membaiatnya, demikian juga Thalhah dan Zubair yang membaiatnya dengan terpaksa dan bukan dengan kerelaan. Mereka pergi ke Bashrah untuk menunutut mati pembunuh Utsman. Ali mendengar kabar ini dan menyusulnya hingga menemui mereka semua. Disinilah terjadinya Perang Jamal. Pada peperangan ini Thalhah dan Zubair serta beberapa orang lainnya terbunuh. Peperangan ini menelan tiga belas ribu jiwa dan meraka itu adalah kaum muslimin.[23] Peristiwa ini merupakan salah satu pertentangan antarkelompok sehingga penumpahan darah pertama yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Peperangan inilah kemudian pada akhirnya membagi umat Islam ke dalam kelompok besar atau aliran politik yang menjurus kepada sektarianisme yang cukup kuat.

Adapun profil masing-masing aliran (sekte) dalam aspek politik ini akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Sekte Syi’ah

Secara bahasa, kata ‘Syi’ah’ berarti pengikut. Dalam perkembangannya, istilah ‘Syi’ah’ ini dipakai oleh kalangan umat Islam sebagai kaum yang beri’tiqad bahwa Ali bin Abu Thalib adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi[24]. Sedangkan menurut Asy-Syahrastani, sekte Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abu Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui nash (wahyu) dan wasiat dari Nabi, baik secara terang-terangan maupun secara eksplisit. Mereka juga beranggapan bahwa imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalur keturunan Ali[25].

Secara historis, aliran atau sekte ini berawal dari sebuah pendapat yang muncul dari kalangan sahabat pada saat Nabi saw wafat dan segera digantikan posisi beliau dalam kepemimpinan Islam, bahwa Ali bin Abu Thalib lah yang lebih utama memegang kepemimpinan umat Islam bila dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka yang berpendapat demikian ialah Ammar, Abu Dzar, Salman Al-Farisi, Jabir bin Abdullah, Al-Abbas dan anaknya, Ubay bin Kaab, Huzaifah, dan lainnya[26].

Namun aliran ini baru menampakkan diri setelah terjadinya proses perundingan (tahkim) antara Ali dengan Mu’awiyah pasca perang Shiffin. Pada saat proses tahkim ini, ternyata tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Umat Islam terpecah menjadi tiga aliran, salah satunya adalah Syi’ah (pengikut Ali). Bagi kaum Syi’ah, jabatan kepala negara bukanlah hak tiap orang Islam, dan bukan hak setiap orang Quraisy, tetapi adalah hak monopoli Ali bin Abu Thalib dan keturunannya. Mereka tidak mengakui kepemimpinan khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), dan mereka juga tidak mengakui kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah[27].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Syi’ah dari segi politik antara lain:

1) Pangkat khalifah pengganti Nabi setelah Nabi wafat diwarisi oleh ahli waris Nabi dengan jalan penunjukan langsung dari Nabi. Siapa saja yang tidak menerima paham ini adalah orang yang tidak mau menuruti wasiat Nabi dan termasuk orang yang terkutuk.

2) Khalifah atau ‘imam’ (menurut istilah Syi’ah) adalah pangkat yang tertinggi dalam Islam. Artinya, pangkat khalifah itu tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada pilihan rakyat, melainkan harus ditunjuk terlebih dulu oleh Nabi dan imam-imam yang lain yang ditunjuk pula oleh Imam itu. Adapun orang-orang yang memilih khalifah dengan jalan Syura (musyawarah) adalah orang-orang yang berdosa.

3) Khalifah atau imam adalah ma’shum keberadaannya, artinya tidak pernah berbuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan dikritik karena ia adalah pengganti Nabi yang sama kedudukannya dengan Nabi.

4) Khalifah atau imam masih mendapat wahyu dari Tuhan walaupun tidak dengan perantaraan jibril, dan wahyu yang dibawanya tersebut wajib ditaati[28].

b. Sekte Khawarij

Secara bahasa, kata ‘Khawarij’ berarti keluar, artinya kaum atau sekte yang keluar dari Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan[29]. Menurut Asy-Syahrastani, istilah ‘Khawarij’ ini dipergunakan untuk menyebut kelompok yang memberontak dan tidak mengakui keabsahan imam yang sah, baik pada zaman sahabat (empat orang khalifah pilihan), atau pada masa tabi’in atau terhadap imam-imam yang sah sepanjang masa[30].

Dalam sejarah, aliran Khawarij ini dimulai sejak terjadinya perundingan (tahkim) antara Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan pasca peperangan Shiffin. Mereka ingin berunding untuk menyelesaikan perkara tersebut secara damai antara kedua belah pihak. Dari sinilah timbul perpecahan (salah satunya Khawarij). Khawarij tidak bisa menerima tahkim karena mereka merasa bahwa Ali bin Abu Thalib adalah khalifah yang sah pada saat itu, dan sebaliknya mereka menyalahkan Ali karena menerima tahkim tersebut dan menuduhnya sebagai kafir[31].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Khawarij dari segi politik antara lain:

1) Pengangkatan khalifah-khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, begitu pula dengan pengangkatan Ali bin Abu Thalib yang juga sah hingga terjadi persitiwa tahkim. Semenjak itulah kedudukan Ali sebagai khalifah gugur.

2) Kekhalifahan adalah haknya seluruh kaum muslimin, baik merdeka maupun budak asalkan mampu dan adil[32].

c. Sekte Murji’ah

Secara bahasa, kata ‘Murji’ah’ berasal dari kata irja’ yang berarti menangguhkan. Jadi kaum Murji’ah dapat diartikan sebagai kaum yang menangguhkan[33]. Maksud dari penangguhan ini menurut Asy-Syahrastani, ialah penundaan kepemimpinan Ali bin Abu Thalib dari yang pertama menjadi yang keempat. Sesuai dengan pengertian ini, maka sekte Murji’ah adalah lawan dari sekte Syi’ah[34]. Sedangkan menurut Ahmad Amin, istilah Murji’ah ini dialamatkan pada upaya penangguhan yang dilakukan golongan ini terhadap persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukumnya bagi golongan yang berselisih ini[35]. Penjelasan lebih lanjut tentang pendapat Ahmad Amin mengenai Murji’ah ini akan dijelaskan pada bab aliran kepercayaan.

Dari sini dapat diketahui bahwa golongan Murji’ah ini adalah golongan politik yang tidak mau mengotori tangan mereka dengan berbagai fitnah meski secara politik nampaknya lebih cenderung memihak kepada Mu’awiyah dalam perundingan tahkim. Mereka tidak mau menentukan kesalahan atau kebenaran dari salah satu golongan yang berselisih (Syi’ah dan Khawarij). Golongan Khawarij mengkafirkan Ali dan Utsman serta orang-orang penyokong tahkim, sementara Syi’ah mengagung-agungkan Ali dan keturunannya namun mangkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Namun untuk Murji’ah tidak mau terlibat dalam hal tersebut[36].

Adapun intisari dari pemahaman Murji’ah secara politis ialah tidak mau menyalahkan orang lain. Mereka tidak mau mencampuri persoalan seolah-olah mereka hanya mau ‘berpangku tangan’ atau pasif saja. Mereka hanya menjawab bahwa persoalan tersebut ditangguhkan sampai di hadapan Tuhan, nama yang benar dan mana yang salah[37].

  1. Aliran kepercayaan (Aqidah/Teologi)

Dalam kaitannya dengan teologi Islam, aliran kepercayaan ini lebih disebut dengan aliran kalam. Kajian ini dalam disiplin ilmu agama dimasukkan ke dalam ilmu kalam. Menurut Ibnu Khaldun seperti yang dikutip A. Hanafi, ilmu kalam ini mengulas beberapa alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah[38].

Di masa Nabi Muhammad umat Islam belum mengenal namanya teologi. Karena sumber penyelesaian segala permasalahan masa di tangan Nabi. Setelah wafatnya Nabi barulah mulai muncul sedikit permasalahan yang penyelesaiannya agak rumit. Persoalan pertama itu adalah masalah politik, siapa yang akan menggantikan Nabi. Namun persoalan ini masih dapat diselesaikan dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah. Hingga di zaman Umar bin Khattab persoalan teologi belum muncul. Hingga pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, aliran kepercayaan/teologi ini muncul sebagai simbol pertama perpecahan di kalangan umat Islam. Berangkat dari permasalahan politik waktu itu yang kemudian berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah. Jadi, persoalan-persoalan yang terjadi dalam masalah politik sebagaimana digambarkan di atas inilah pada akhirmya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi, seperti persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam islam, kedudukan umat Islam di akhirat, dan lain sebagainya.

Adapun beberapa aliran yang muncul pada aspek teologis/kepercayaan masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.

a. Aliran Khawarij

Kelompok ini pada awalnya adalah suatu aliran kelompok yang memberontak terhadap imam yang sah pada saat itu, yakni Ali bin Abi Thalib. Lebih tepatnya ialah kelompok yang tidak sepakat dengan tahkim yang diusulkan oleh kelompok Muawiyah. Pada awalnya, kelompok ini membela dan membantu Ali dalam pertempuran Shiffin melawan Mu’awiyah. Namun mereka merasa tidak puas terhadap gencatan senjata hingga melahirkan tahkim yang diputuskan antara kedua belah pihak. Mereka yang tidak puas itulah akhirnya keluar dari pasukan Ali dan membentuk kelompok Khawarij ini. Tokoh Khawarij pertama dari pergolakan ini ialah Al-Asy’asy bin Qais Al-Kindi, Mas’ar bin Fudaki At-Tamami, dan Zaid bin Husain Ath-Thai[39].

Kelompok ini beranggapan bahwa genjatan senjata dengan cara tahkim adalah tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam hukum Islam karena hukum Allah sudah sangat jelas. Bagi Khawarij, berperang melawan pemberontak (maksudnya Mu’awiyah) mereka yakini itulah yang benar, dan golongan ini menuntut agar Ali mengakui kesalahan dan kekafirannya karena menerima perundingan dengan Mu’awiyah. Begitu kerasnya keyakinan Khawarij ini sehingga melahirkan semboyan ‘Laa hukma illallaah’ (tidak ada hukum kecuali dari Allah)[40].

Khawarij dianggap sebagai kelompok politik pertama yang kemudian memunculkan persoalan teologi yakni tuduhan siapa yang kafir di kalangan kaum muslimin. Mereka memandang bahwa orang yang berdosa besar telah berubah menjadi kafir. Orang-orang yang terlibat dan menyetujui perundingan pascaperang Shiffin adalah orang-orang berdosa besar. Kelompok inilah menganggap hanya dirinya yang benar, sehingga Ali dan Muawiyah harus dibunuh. Dan hal itu terwujud pada Ali yang berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (salah satu pengikut Khawarij), namun untuk Muawiyah tidak berhasil[41].

Di antara paham-paham yang melekat dan menjadi ciri khas kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1) Kelompok ini sangat keras dalam hal iman dan kufur. Mereka lekas-lekas menuduh ‘kafir’ dan halal darah serta hartanya bagi orang-orang di luar kelompoknya atau lawan-lawan politiknya. Bahkan Ali bin Abu Thalib, Mu’awiyah (Gubernur Damaskus yang menjadi rivalnya Ali saat perang Shiffin), dan Aisyah binti Abu Bakar (yang merupakan lawan Ali saat perang Jamal) juga dicap sebagai kafir.

2). Iman menurut Khawarij, bukan hanya pengakuan dari dalam hati dan ucapan dengan lisan saja, tapi amal ibadah menjadi rukun iman pula. Maka dari sini menurut pemahaman Khawarij, orang yang tidak shalat, zakat, puasa, dan haji maka orang itu telah kafir.

3). Pelaku dosa, baik besar maupun kecil sekalipun pelaku tersebut seorang mukmin adalah kafir, wajib diperangi, dan boleh dibunuh serta dirampas hartanya.

4). Anak kecil yang orang tuanya kafir, bila mati maka statusnya juga kafir karena mengikuti ibu bapaknya[42].

b. Aliran Murji’ah

Nama ‘Murji’ah’ ini mencuat setelah dari kelompok Khawarij menyatakan pernyataannya dalam hal teologi (iman dan kufur), sehingga kemunculannya seringkali disandingkan dengan Khawarij. Bahkan bisa diibaratkan, bila tidak ada persoalan politik (kepemimpinan/khalifah), maka tidak ada Khawarij. Bila tidak ada Khawarij maka tidak ada pula Murji’ah dan Syi’ah[43].

Kelompok ini dipelopori oleh Jaham bin Shafwan, yang berusaha bersikap netral atas persoalan yang mendera umat Islam pada masa itu, tepatnya pada masa Ali. Secara teologis, kelompok ini menyatakan bahwa orang Muslim yang melakukan dosa sebesar apapun tidak boleh dihukumi kafir selama dia masih tetap muslim[44]. Maka dari itu, Ahmad Amin menuturkan bahwa kelompok ini dinamai Murji’ah sebab mereka menangguhkan persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukum bagi orang atau golongan yang berselisih ini, apakah ia berubah menjadi kafir ataukan tidak[45].

Adapun beberapa paham yang menjadi keyakinan kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1). Iman itu adalah mengenal Tuhan dan para Rasul-Nya. Bila seseorang sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup untuk menjadi seorang yang mukmin.

2). Orang yang telah beriman di dalam hatinya, percaya pada Tuhan dan Rasul-Nya meski kelihatan menyembah berhala atau mengerjakan dosa-dosa besar, orang ini masih dianggap mukmin.

3). Seperti pada sebutannya, Murji’ah yang berarti memberi tangguh, mereka berusaha menangguhkan orang yang bersalah/berdosa sampai ke hadapan Tuhan pada hari kiamat. Tidak ada balasan dari Tuhan di dunia[46].

Beberapa paham Murji’ah di atas seolah-olah bertentangan dan saling berseberangan dengan paham yang diyakini Khawarij. Tetapi memang begitulah bila dilihat dari sudut pandang historis bahwa keberadaan aliran Murji’ah ini adalah sebagai bentuk perlawanan teologis terhadap apa yang diyakini Khawarij yang sangat ekstrem dan keras.

c. Aliran Qadariyah

Qadariyah berakar pada ‘qadara’ yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan. Sedangkan sebagai aliran, Qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. Dalam paham Qadariyah, manusia dipandang mempunyai gudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar atau qada Tuhan. Aliran Qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya.

Aliran yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani. Ia berpandangan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam menentukan hidupnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia menentukan segala perbuatan yang dia inginkan.

d. Aliran Jabariyah

Nama Jabariyah berasal dari kata ‘jabara” yang mengandung arti memaksa. Paham Jabariyah disebut fatalisme atau predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia ditentukan sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan. Dengan demikian posisi manusia dalam paham ini tidak memilki kebebasan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Dalam sejarah tercatat, aliran Jabariyah ini dibawa oleh Ja’ad bin Dirham. Selanjutnya aliran ini mengembangkan pahamnya sejalan dengan perkembangan masyarakat pada masa itu.  Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Jabariyah ini mengajarkan paham bahwa manusia dalam melakukan perbuatannya berada dalam keadaan terpaksa. Manusia dianggap tidak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Golongan ini sangat berlawanan dengan paham Qadariyah, karena manusia dianggap tidak mempunyai kehendak. Perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Tuhan. Golongan yang diprakarsai oleh Jahm bin Safwan (penggagas paham Murji’ah) ini, bahkan menyalahkan Tuhan atas perbuatan dosa manusia. Di mana hal itu sudah menjadi setingan Tuhan. Manusia tinggal menjalankan skenario yang telah ada tersebut.

e. Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah adalah aliran pemikiran Islam yang terbesar yang memegang peranan penting dalam konseptualisasi teologi Islam. Aliran ini lahir kurang lebih pada permulaan abad kedua hijriyah di kota Basrah, yang pada saat itu menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam. Di kota ini pula dijadikan tempat perpaduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama[47].

Munculnya golongan ini benar-benar membawa sejarah baru dalam konsep teologi Islam yang berpegangan kepada konsep rasionalitas. Aliran  Mu’tazilah ini dipelopori oleh Washil bin Atha’ Al-Ghazal Al-Farisi (wafat 131 H). Browne dalam bukunya Literature History of Persia’ seperti yang dikutip A. Hasimy, Washil bin Atha’ adalah salah satu murid dari Hasan Al-Basri, seorang ulama hukum Islam terkenal. Ia berselisih paham dengan gurunya ketika dihadapkan pada persoalan apakah masih mukmin ataukah sudah kafir bila seseorang telah melakukan kejahatan besar, dan juga persoalan-persoalan yang lain seperti al-Qadar. Karena paham yang bertentangan dengan gurunya lah akhirnya Washil disuruh memisahkan diri dari majelis pengajiannya. Setelah berpisah dengan gurunya, maka ia mendirikan suatu aliran baru dan menyebarluaskan pahamnya kepada murid-muridnya[48].

Prinsip-prinsip teologis Mu’tazilah terhimpun dalam apa yang disebut Al-Ushul Al-Khamzah atau “pokok-pokok yang lima” yaitu Keesaan tuhan (At-Tauhid), keadilan tuhan (Al-Adl), Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid), Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin), dan Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)[49]. Beberapa prinsip dari aliran Mu’tazilah akan dijelaskan sebagai berikut:

1). Keesaan tuhan (At-Tauhid)

Tauhid adalah dasar Islam yang pertama dan utama. Hanya saja aliran Mu’tazilah menafsirkannya secara khusus dan sedemikian rupa sehingga dapat dipertahankan dengan sungguh-sungguh. Untuk itu dalam sejarah Islam, aliran ini dikenal sebagai ahli tauhid.

Menurut aliran Mu’tazilah, Allah tidak mempunyai ‘sifat azali’ seperti ilmu, qudrah, iradah, hayat, sama’, dan bashar yang bukan Dzatnya, tetapi Allah itu ‘alim, qadir, hayyun, sami’un, dan bashirun dengan Dzatnya, dan sama sekali tidak ada sesuatu sifat yang bukan Dzatnya.

2). Keadilan tuhan (Al-Adl)

Dasar keadilan ialah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia dan tidak menghendaki keburukan. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan juga menjauhi larangan-larangan-Nya karena qudrah-Nya yang ada pada diri mereka.

Dengan dasar keadilan ini mereka menolak pendapat aliran Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia dalam segala perbuatannya tidak mempunyai kebebasan, bahkan menganggap suatu kedzaliman bila Tuhan menjatuhkan siksa karenanya.

3). Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid)

Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip keadilan (Al-Adl) yang ada pada keyakinan Mu’tazilah. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah akan melaksanakan janji dan ancamannya. Allah berjanji akan memberikan pahala bagi orang yang berbuat baik, dan Allah tidak akan memberi ampun dan akan memberikan siksa kepada orang yang berbuat jahat kecuali dengan taubat. Kalau itu tidak dilaksanakan, maka mustahil Allah bersifat adil.

Prinsip ini mengisyaratkan bahwa siapapun yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan yang berupa pahala, dan siapa yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatan yang berupa murka dan siksa-Nya. Dengan demikian, prinsip ini bertolakbelakang dengan keyakinan aliran Murji’ah. Bila keyakinan Murji’ah ini dibenarkan, maka menurut aliran Mu’tazilah, ancaman Tuhan tidak ada artinya sama sekali sehingga dianggap Tuhan tidak adil.

4). Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin)

Prinsip ini sangat menarik yang karena keyakinan inilah, Washil memisahkan diri dengan gurunya, Hasan Basri. Mu’tazilah memiliki keyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan kejahatan besar statusnya bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan fasik. Orang yang fasik berada pada tempat tersendiri, yakni di antara iman dan kafir. Maka dalam hal ini, Mu’tazilah mengambil jalan tengah dengan menggunakan pola prinsip rasionalis – etis – filosofis yang dibawa oleh Plato dan Aristoteles, yaitu pengambilan jalan tengah antara dua ujungnya yang berlebih-lebihan.

Berangkat dari upaya ini, maka akhirnya Mu’tazilah membagi perbuatan maksiat kepada dua bagian, yaitu besar dan kecil. Untuk maksiat besar dibagi menjadi dua: maksiat yang sampai merusak dasar agama (contohnya syirik) sehingga menyebabkan pelakunya menjadi kafir, dan maksiat yang tidak sampai merusak dasar agama (contohnya dosa-dosa besar selain syirik) sehingga tidak menjadikan pelakunya kafir, melainkan hanya fasik. Sehingga dari pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa sikap aliran Mu’tazilah berada diantara sikap Khawarij dan Murji’ah.

5) Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)

Prinsip ini lebih banyak berhubungan dengan taklif dan lapangan fiqih daripada lapangan kepercayaan atau tauhid, yakni kewajiban menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Prinsip ini harus dijalankan oleh setiap orang Islam dalam menyebarluaskan ajaran agamanya dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat. Dalam praktiknya, aliran Mu’tazilah sangat konsisten dalam memegang teguh prinsip ini. Dibuktikan dalam sejarah, bahwa pada era Abbasiyah inilah seringkali para pengikutnya mempraktikkan Amar ma’ruf nahi munkar, bahkan kepada orang yang tidak sepaham dengannya. Maka wajar bila Mu’tazilah sering menggunakan kekerasan dalam menerapkan prinsip ini kepada masyarakat luas[50].

Selain keenam prinsip pokok yang menjadi landasan keyakinan aliran Mu’tazilah, ada juga keyakinan lain yang menjadi ciri khas dari aliran ini. Di antaranya ialah:

1). Cara mereka membentuk mazhabnya yang tertuju pada penggunaan akal daripada nash. Artinya, mereka lebih mengutamakan akal daripada wahyu. Bila ditimbang, maka akal lebih berat bagi mereka dibanding dengan ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits[51].

2). Mereka lebih cenderung suka berdebat, terutama di hadapan umum. Bila ada yang berlainan pendapat dengan mereka, maka orang tersebut diajak berdebat karena mereka yakin akan kemampuan dan kekuatan akal mereka[52].

3). Baik dan buruk ditentukan oleh akal, bukan wahyu[53].

4). Aliran Mu’tazilah menganggap bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bukan sifat Allah yang Qadim. Kepercayaan ini adalah kelanjutan dari pemahaman mereka bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Keyakinan inilah yang menyebabkan Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri mazhab Hanbali) disiksa dan Imam Buwaihi disiksa sampai mati oleh kelompok Mu’tazilah[54].

5). Tuhan menurut aliran Mu’tazilah tidak dapat dilihat meski seluruh umat Islam masuk surga[55].

6). Mereka menafikkan mi’raj Nabi Muhammad saw, ‘arsy (singgasana Allah), azab kubur, mizan (timbangan), hisab, shirath (jembatan), kolam, syafa’at, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan akal mereka[56].

f. Aliran Asy’ariyah

Aliran Asy’ariyah adalah aliran teologi tradisionil yang lahir dan disusun oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dari Baghdad. Asy’ariyah muncul pada saat suasana paham Mu’tazilah yang keruh karena ajarannya yang dirasa bertentangan namun dipaksakan untuk diyakini oleh masyarakat Islam pada masanya[57].

Tokoh terpenting sekaligus pendiri aliran Asy’ariyah yang bernama lengkap Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M) adalah keturunan dari Abu Musa Al-Asy’ari. Sebagai pribadi yang pernah belajar dan menjadi penganut paham Mu’tazilah, beliau telah terbiasa dengan argumentasi pikiran dan upaya pemakaian akal dalam soal-soal agama. Hasil karyanya juga banyak, terhitung ada 90 karya yang pernah ditulis. Isinya sebagian besar menyangkut masalah-masalah teologis, seperti menolak pemikiran-pemikiran Aristoteles, golongan materialis, antropomorphis, khawarij, dan golongan-golongan Islam lain. Di antara beberapa karyanya tersebut, yang paling populer ada tiga, yaitu Maqalat Al-Islamiyyin (Beberapa Pendapat Golongan-Golongan Islam), Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah (Keterangan Tentang Dasar-Dasar Agama), dan Al-Luma (Sorotan)[58].

Aliran Asy’ariah juga disebut dengan Ahlussunnah atau Sunni sejak kemunculannya yang menentang paham Mu’tazilah. Dalam hal ini, Harun Nasution menukil keterangan Tasy Kubra Zadah, yang menjelaskan bahwa aliran Sunni muncul atas keberanian dan usaha Abul Hasan Al-Asy’ari sekitar tahun 300 Hijriyah[59]. Al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah setelah berumur 40 tahun  dan mengumumkannya pada jama’ah masjid Basrah dan meyatakan akan membeberkan keburukan-keburukan Mu’tazilah. Menurut Ibnu ‘Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah konon Al-Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah SAW sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 dalam bulan Ramadhan. Dalam tiga kali mimpinya, Rasulullah memperingatkan agar segera meninggalkan Mu’tazilah dan segera membentuk paham yang sesuai dengan sunnah beliau[60].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Asy’ariah antara lain:

1). Dalam hal sifat Tuhan, Asy’ariah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat seperti ilmu, hayat, sama’, bashith dan qudrat. Sifat-sifat tersebut bukanlah dzat- Kalaui itu dzat-Nya berarti dzat-Nya adalah pengetahuan, dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukanlah ilmu melainkan ‘alim (yang mengetahui).

2). Persoalan akal, aliran Asy’ariah berpendapat bahwa akal tidak begitu besar daya kekuatannya, tapi sebaliknya, wahyu lah yang paling banyak berperan dalam menyelesaikan masalah teologis maupun persoalan baik dan buruk. Hal ini berbeda dengan Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio (akal) daripada wahyu.

3). Kaitannya dengan masalah Al-Kasb, aliran Asy’ariah lebih cenderung pada paham kekuasaan mutlak berada pada otoritas Tuhan. Berdasarkan pandangan ini, Asy’ariah lebih dekat pada pemahaman aliran Jabariyah (fatalisme) daripada aliran Qadariyah (kebebasan manusia)[61].

Salah satu unsur utama kemajuan aliran Asy’ariyah adalah tidak sedikit pengikut yang mendukung pemikiran Al-Asy’ari dalam membangun dan mengkonstruksikan paham-pahamnya. Tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah yang terkemuka setelah Abu Hasan Al-Asy’ari adalah Al-Baqillani (wafat 403 H/1013 M), Al-Juwaeni (419-478 H/1028-1085 M), dan Al-Ghazali (450-505 H, tokoh tasawuf terkenal), dan Al-Sanusi (833-895 H/1427-1490 M)[62].

g. Aliran Maturidiyah

Aliran Maturidiyah adalah aliran yang kemunculannya bersamaan dengan aliran Asy’ariyah yang masih tergolong Ahlus Sunnah. Pendiri aliran Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur Al-Maturidi (lahir di Samarkand, wafat 332 H). Beliau semasa hidupnya sering bersama dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, pendiri aliran Asy’ariyah. Kedua-duanya sama-sama menentang pemikiran Mu’tazilah. Hanya saja Al-Asy’ari menghadapi Mu’tazilah di pusatnya (Basrah), sedangkan Al-Maturidi menghadapinya di daerahnya, Samarkand, yang juga mengulang-ulang pemikiran-pemikiran Mu’tazilah di Basrah[63].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Maturidiyah antara lain:

1). Mengenai konsep Ketuhanan, Maturidiyah meneguhkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang berbeda dari segala yang temporal. Jadi, Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

2). Kalam Allah merupakan sifat yang ada pada Dzat Allah. Ini memberikan kesempatan untuk membedakan mana yang termasuk Al- Kalam Al-Nafsi (sifat Maha Beriman yana ada pada Allah) dan mana yang termasuk Al-Kalam Al-Lafdzi (bicara dengan kata-kata).

Namun bila diselidiki lebih lanjut, antara aliran Asy’ariyah dengan Maturidiyah perbedaanya lebih jelas lagi. Perbedaan tersebut terletak pada persoalan-persoalan antara lain:

1). Menurut Asy’ariyah, mengetahui Tuhan diwajibkan syara’. Sedangkan Maturidiyah, mengetahui Tuhan diwajibkan akal. Dari sini, pemahaman Maturidiyah serupa dengan Mu’tazilah.

2). Menurut golongan Asy’ariyah, suatu perbuatan tidak memiliki sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Sedangkan Maturidiyah, pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk.

3). Aliran Asy’ariah menganggap sifat baqa’ sebagai sifat tambahan bagi zat Allah, sementara aliran Maturidiyah menolak sifat ini yang mempunyai pendapat bahwa al Baqa’ itu adalah kenyataan adanya Dzat di dalam zaman, bukan sesuatu yang ditambahkan pada Dzat[64].

D. Nilai-Nilai yang Dapat Diambil Dari Fenomena Sektarianisme Dalam Periode Sejarah Islam

Dalam mempelajari dan menginterpretasi ajaran Islam pasti tidak lepas dari sebuah perbedaan yang itu adalah sunatullah yang musti harus diterima. Termasuk munculnya aliran-aliran yang berkembang dalam ajaran agama Islam selama ini. Mujiburrahman menuturkan, munculnya berbagai aliran di tubuh Islam sudah terjadi pada sejak zaman sahabat. Pada era Nabi belum ada perpecahan dalam tubuh Islam karena penafsiran terhadap agama itu cukup disampaikan oleh Nabi saja sebagai otoritas pemegang ajaran agama. Ketika Nabi sudah meninggal dunia, Al-Quran dan Hadits kemudian ditafsir sehingga pengertiannya bisa berbeda-beda. Itulah sebabnya sejak zaman para sahabat sampai sekarang terjadi berbagai kelompok dan aliran[65].

Adapun nilai-nilai yang dapat diambil dari fenomena sektarianisme dalam periode sejarah islam antara lain:

  1. Umat Islam akan tergerak hatinya untuk semakin mendalami pemikiran dari berbagai aliran yang masih bersumber pada dalil dan argumennya dengan cara memperbanyak membaca sumber atau literatur-literatur ilmiah lainnya. Sebab hal tersebut akan mendorong untuk saling bersikap toleransi dan menghargai pendapat.
  2. Memotivasi diri terhadap masa depan Islam dengan senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah-tengah umat Islam. Sebab ilmu bagi umat Islam adalah harta yang paling berharga demi kemajuan Islam dari masa ke masa.
  3. Dapat menyadarkan umatnya agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan meski berbeda pandangan. Sebab persatuan dan kesatuan dapat memperkuat barisan umat Islam di dunia.
  4. Perbedaan cara pandang bukanlah penghambat kemajuan atau pemecah persatuan. Justru dengan perbedaan itulah yang akan mewujudkan rahmat. Maka diharapkan agar umat Islam tetap menjaga hubungan antara sesama muslim dengan baik dengan saling menghormati.
  5. Sikap umat Islam yang seharusnya ditunjukkan terhadap aliran-aliran atau sekte-sekte yang dikatakan menyimpang adalah harus senantiasa mengedepankan cara-cara yang ma’ruf (yang baik), bukan dengan jalan anarkhi. Hal tersebut penting sebab ajaran pokok Islam (Qur’an dan Hadits) tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan yang anarkhi dan main hakim sendiri baik oleh individu atau kelompok seperti yang terjadi pada masa Bani Abbasiyah periode pertengahan yang ideologi keagamaan dikuasai oleh paham Mu’tazilah yang terkenal anarkhis dalam hal pahamnya yang dipaksakan kepada masyarakat pada masa itu.
  6. Mengambil pelajaran dan hikmah akan kekurangan maupun kesalahan yang dilakukan umat Islam sepanjang sejarah peradaban Islam, baik dari sisi teoritis maupun praktis supaya tidak terulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin. Cet. 2008. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2010. Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Amin, Ahmad. 1968. Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan. Jakarta: Bulan Bintang.

Anwar, Rosihon, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel. 2006. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.

As-Suyuthi, Imam. 2005. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Asy-Syahrastani. Tt. Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia, terj. Asywadie Syukur. Surabaya: Bina Ilmu.

Djazuli, A. 2013. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah. Jakarta: Kencana.

Hasimy, A. 1973. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hanafi, Ahmad. Cet. 2010. Teologi Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Saleh. 2014. Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin. Jakarta: Pustaka Zaman.

Nasution, Harun. cet  2011. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I. Jakarta: UI Press.

_____________.  1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan. Jakarta: UI Press.

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: Rajawali Pers.

Aziz, F. Aminuddin. Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam. Dikutip dalam situs http://www. aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

Novi Novitasari. Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam. Dikutip dalam situs http://bilikislam.blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya. Dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.

Sektarianisme. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

CATATAN KAKI / FOOTNOTE

[1] Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

[2] Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

[3] Novi Novitasari, Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam, dikutip dalam situs http://bilikislam. blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html, diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

[4] A. Djazuli. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 25.

[5] Ibid., hlm 25-26.

[6] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 206-207.

[7] A. Djazuli, op.cit., hlm. 27-28

[8] A. Hasimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 127.

[9] A. Hasimy, op.cit., hlm. 157.

[10] A. Djazuli. op.cit., hlm. 21-23

[11] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Buku Pintar Sejatah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin (Jakarta: Pustaka Zaman, 2014), hlm. 241.

[12] Ahmad Amin, Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan (Jakarta: Bulan Bintang, 1968),  hlm. 330-331

[13] Ibid., hlm. 248.

[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 55-57.

[15] Ibid., hlm. 57.

[16] A. Djazuli, op.cit., hlm. 25.

[17] F. Aminuddin Aziz, Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam, dikutip dalam situs http://www.aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

[18] Ibid.

[19] Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, op.cit., hlm. 215.

[20] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 214-215.

[21] Lihat Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, cet. 2008), hlm. 109-117. Dan Ahmad Amin, op.cit., hlm. 327-328.

[22] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 228.

[23] Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm. 202.

[24] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93.

[25] Asy-Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia (buku 1), terj. Asywadie Syukur (Surabaya: Bina Ilmu, tt), hlm. 124.

[26] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 341

[27] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I (Jakarta: UI Press, cet  2011), hlm. 93-94.

[28] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93-94.

[29] Ibid., hlm. 168.

[30] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[31] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328 dan 331.

[32] A Hasimy. op.cit., hlm. 160.

[33] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182.

[34] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 174-175.

[35] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 358.

[36] Ibid., hlm. 358-359.

[37] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182-183.

[38] Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. 2010), hlm. 3.

[39] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[40] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328.

[41] Ibid., hlm. 330.

[42] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm.174-180.

[43] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 357-358.

[44] A Hasimy. op.cit., hlm. 164,

[45] Ibid., hlm. 358.

[46] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 186-188.

[47] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 43.

[48] A Hasimy. op.cit., hlm. 165-166.

[49] Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35.

[50] Lihat Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35; Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 37-39; A Hasimy. op.cit., hlm. 166-167; Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 46-50.

[51] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 195.

[52] Ibid., hlm. 198.

[53] Ibid., hlm. 203.

[54] Ibid., hlm. 210.

[55] Ibid., hlm. 219.

[56] Ibid., hlm. 225, 234, 246,dan 251.

[57] Harun Nasution, op.cit., hlm. 35.

[58] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 65-66.

[59] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan  (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 12

[60] Rosihon Anwar, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel, Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 19-20.

[61] Harun Nasution, Islam Ditinjau….., hlm. 38-39.

[62] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 69-77.

[63] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 78-79.

[64] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 79.

[65] Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya, dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html, diakses pada tanggal 8 oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s