PEDOMAN PENULISAN MAKALAH : GAMBARAN, URGENSI, DAN SISTEMATIKA PEMBUATAN BAGI SISWA SMA DAN YANG SEDERAJAT

A. LATAR BELAKANG

Di dalam proses pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi, tradisi menulis adalah suatu hal yang sangat penting. Dikatakan demikian karena menulis merupakan  suatu  kegiatan yang dapat memberi kontribusi yang cukup potensial bagi pelajar dalam memahami suatu materi/topik tertentu pada suatu mata pelajaran. Lebih lanjut bila seorang pelajar ingin mengeksplorasikan sebuah ide atau gagasan yang dapat mendukung proses belajarnya, menulis menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Peristiwa yang bersifat aktual dan penting untuk dikaji, suatu ide yang ingin diungkapkan, maupun gagasan yang dapat mendukung suatu ilmu pengetahuan, dapat dituangkan melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan  begitu, tulisan  tersebut  dapat  dikategorikan  sebagai  karya  ilmiah. Karya tersebut dapat berupa artikel, laporan, makalah, ataupun karya tulis.

Di samping karena  tuntutan yang cukup tinggi dari kurikulum terhadap pentingnya  menulis bagi siswa, maka kali ini, kita akan belajar membuat suatu karya tulis ilmiah yang masih cukup sederhana untuk dibuat, yaitu penulisan makalah.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Pembuatan makalah ini dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya dalam memahami suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan topik yang diulas melalui sebuah  karya tulis. Disebabkan karena isi makalah harus dapat dipertanggungjawabkan, maka ide maupun gagasan yang ditulis harus didukung dengan sumber data atau referensi yang relevan dan terpercaya.

Kemudian, tujuan dari pembuatan makalah ialah agar siswa terbiasa dalam membuat tugas yang bersifat obyektif (siswa  mengeksplorasi  idenya sendiri  dalam memahami  materi tertentu) dan kredibel (hasilnya  dapat  dipertanggungjawabkan). Dengan  tugas  makalah ini, diharapkan siswa lebih mampu memahami materi tertentu secara komprehensif dan menyeluruh. Atau dalam teori taksonomi Bloom, siswa harus terpenuhi aspek kognitif mulai dari C1 hingga C6 (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi)

Urgensi dari tugas ini sebenarnya tercermin pada Firman Allah yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan  perantaraan kalam (pena/tulisan). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

C. PENGERTIAN

Apa sih sebenarnya makalah itu? Bagi yang masih asing dengan istilah ini, atau barangkali ada yang sudah tahu istilah ini tetapi belum mengerti bagaimana cara membuatnya, maka marilah kita ulas bersama-sama.

Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya sudah dijelaskan secara panjang  lebar  tentang penulisan makalah ini. Namun secara ringkasnya, istilah makalah hampir sama  maknanya dengan paper, kertas kerja, atau laporan ilmiah yang tersusun secara sistematis. Lebih tepatnya, makalah dapat disebut sebuah karya tulis yang membahas suatu  masalah/topik tertentu berdasarkan logika (ide/gagasan), pustaka (sumber atau literatur), atau fakta di lapangan yang disajikan dalam sebuah diskusi maupun seminar. Isi makalah  dapat berupa gagasan atau pandangan penulis terhadap sesuatu yang belum dibuktikan  terlebih dahulu melalui proses penelitian, atau bisa juga ditulis berdasarkan laporan  penelitian berupa temuan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan makalah pada umumnya terdiri dari enam komponen: judul, identitas penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, isi atau pembahasan, kesimpulan,  dan daftar pustaka. Namun format penulisan makalah tidak selalu seperti  itu.  Terkadang  bagi pemula atau untuk ukuran siswa SMA dan yang sederajat, sistematika penulisan tidak harus selalu persis seperti di atas.  Lebih rincinya, format penulisan makalah paling tidak sebagai berikut:

1.Cover makalah

Di dalam cover makalah terdiri atas judul makalah, maksud ditulisnya suatu makalah (biasanya ditulis: makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajaran …. yang dibina oleh Bapak/Ibu ….), nama penulis (NIS bila punya), logo lembaga,  dan nama lembaga beserta alamat.

2.Kata pengantar

Di dalam kata pengantar ini bisanya ditulis ungkapan rasa syukur, maksud ditulisnya suatu makalah dan diberi penjelasan singkat tentang tujuan dari ditulisnya makalah ini, dan  ucapan terima kasih serta permohonan maaf apabila ada suatu kekurangan.

3.Daftar isi

Ditulis mulai cover halaman sampai daftar pustaka.

4.Pendahuluan

Pendahuluan merupakan suatu uraian singkat yang menyatakan secara jelas tentang  maksud dari topik yang diulas, mulai dari ungkapan kerisauan penulis akan judul makalah  yang ditulis, kemudian kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi nyata. Singkatnya, pada pendahuluan ini, penulis mengungkapkan alasan-alasan logis tentang pentingnya  topik itu dibicarakan.

5.Pembahasan

Bagian ini merupakan bagian utama atau inti dari makalah. Semua ide, teori pendukung,  identifikasi dan analisis permasalahan, dan penyelesaian ditulis dalam pembahasan ini.

6.Penutup

Dalam penutup ini, penulis mengungkapkan kesimpulan dari makalah yang dibuat.

7.Daftar pustaka

Tulis beberapa literatur yang menjadi rujukan dalam penulisan makalah ini, baik dari buku, majalah, surat kabar, internet, atau bahkan hasil wawancara atau  penelitian. Beberapa  literatur tersebut disusun berdasarkan kaidah penulisan daftar pustaka yang berlaku.

Demikian gambaran dan penjelasan singkat tentang bagaimana sistematika pembuatan makalah bagi siswa SMA dan yang sederajat. Bagi pembaca yang memang memiliki bakat menulis, maka tidak ada salahnya mencoba membuat karya tulis sendiri yang mampu mempengaruhi pembaca yang lain, mulai dari membuat makalah ini. Memang pada awalnya agak-agak susah (seperti saya waktu SMA dulu) karena cukup banyak aturan-aturan penulisan yang harus dipatuhi, tetapi bila sering dilatih dan sering bertanya pada guru (terutama guru Bahasa Indonesia), lama kelamaan pasti akan terbiasa dan mudah. Sebab nanti ketika mulai masuk perguruan tinggi, membuat makalah adalah salah satu tuntutan tugas yang harus dibuat oleh mahasiswa pada setiap mata kuliah. Dari sini tidak jarang pula para mahasiswa yang stress dan frustasi pada saat dosen menyuruh membuat makalah –biasanya dosen menuntut makalah yang dibuat harus perfect – . Apalagi bagi yang pada waktu SMA dulu sama sekali tidak dilatih dan diberi tugas membuat makalah, maka akan lebih susah lagi.

Maka dari itu, yuk mulai sekarang sering-seringlah menulis. Ungkapkan ide atau gagasan anda dalam wujud tulisan ilmiah. Terutama dalam membuat makalah.

TIPOLOGI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

Dalam kajian pemikiran (filsafat) pendidikan Islam, beberapa ahli pendidikan Islam menggarisbawahi adnaya tiga alur pemikiran dalam menjawab persoalan pendidikan, yaitu:

Pertama, kelompok yang berusaha membangun konsep (filosofis) pendidikan Islam, disamping melalui al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber utama, juga mempertimbangkan kata sahabat, kemaslahatan sosial, nilai-nilai dan kebiasaan sosial, serta pandangan-pandangan pemikir Islam.

Kedua, kelompok yang berusaha mengangkat konsep pendidikan Islam dari al-Qur’an dan al-Hadits, sehingga konsep filsafatnya hanya berasal dari kedua sumber ajaran Islam tersebut.

Ketiga, kelompok yang berusaha membangun pemikiran (filsafat) pendidikan Islam melalui al-Qur’an dan al-Hadit, dan bersedia menerima setiap perubahan dan perkembangan budaya baru yang dihadapinya untuk ditransformasikan menjadi budaya yang Islami.

Disisi lain, pengembangan pemikiran (filosofis) pendidikan Islam juga dapat dicermati dari pola pemikiran Islam yang berkembang menjawab tantangan perubahan zaman serta era modernitas. Sehubungan dengan itu, Abdullah (1996) mencermati adanya empat model pemikiran keislaman, yaitu:

1. Tekstualis Salafi

Pemikiran Islam model ini berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunah dengan melepaskan diri dan kurang begitu mempertimbangkan situasi kongkrit dinamika pergumulan masyarakat muslim (era klasik maupun kontemporer) yang mengitarinya. Masyarakat ideal yang diidam-idamkan adalah masyarakat salaf, yakni struktur masyarakat era kenabian Muhammad SAW dan para sahabat yang menyertainya. Rujukan utama pemikirannya adalah kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits. Tanpa menggunakan pendekatan keilmuan yang lain. Sehingga model pemikiran ini terlihat kurang peka terhadap perubahan dan hanya menjadikan masyarakat salaf sebagai parameter dalam menjawab tantangan dan perubahan zaman serta era modenitas.

2. Tradisionalis Mazhabi

Dalam pandangan pemikiran model tradisional salafi, ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunah dipahami melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, tetapi sering kali kurang begitu memperhatikan situasi historis dan sosiologis masyarakat setempat di mana ia turut hidup di dalamnya. Hasil pemikiran ulama’ terdahulu dianggap sudah pasti dan absolute tanpa mempertimbangkan dimensi historisitasnya. Masyarakat muslim yang diidealkan adalah masyarakat muslim era klasik, dimana semua persoalan keagamaan dianggap telah terkupas habis oleh para ulama atau cendikiawan muslim terdahulu.

Pola pikirnya selalu bertumpu pada hasil ijtihad ulama’ terdahulu dalam menyelesaikan persoalan ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan pada umumnya. Kitab kuning menjadi rujukan pokok, dan sulit untuk keluar dari mazhab atau pemikiran keislaman yang terbentuk beberapa abad lalu. Model pemikiran ini lebih menonjolkan wataknya yang tradisional dan mazhabi. Watak tradisionalnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai, norma dan adat kebiasaan serta pola-pola pikir yang ada secara turun menurun dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi sosio historis masyarakat yang sudah mengalami perubahan dan perkembangan sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan watak mazhabinya diwujudkan dalam bentuk kecenderungannya untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relative mapan.

3. Modernis

Model pemikiran Islam modernis berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah dengan hanya semata-mata mempertimbangkan kondisi dan tantangan sosio-historis dan cultural yang dihadapi oleh masyarakat Muslim kontemporer, tanpa mempertimbangkan muatan-muatan khazanah intelektual muslim era klasik yang terkait dengan persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Model ini tidak sabar dalam menekuni dan mencermati pemikiran era klasik, malahan lebih bersikap potong kompas, yakni ingin langsung memasuki teknologi modern tanpa mempertimbangkan khazanah intelektual muslim dan bangunan budaya masyarakat muslim yang terbentuk berabad-abad. Obsesi pemikirannya adalah pemahaman langsung terhadap nash Al-Qur’an dan langsung loncat ke peradaban modern.

4. Neo Modernis

Kalangan Neo Modernis untuk memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah harus berupaya mengikut sertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia teknologi modern. Jadi model ini selalu mempertimbangkan Al-Qur’an dan Al-Sunah, khazanah pemikiran Islam klasik, serta pendekatan-pendekatan keilmuan yang muncul pada abad ke 19 dan 20 M. Jargon yang sering dikumandangkan adalah: “ al-Muhafazah ‘ala al-Qadim al-Salih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah”, yakni memelihara hal-hal yang baik yang telah ada sambil mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Sumber: lihat di http://imtaq.com. Mengutip dari Buku Wacana Pengembangan Pendidikan Islam Karya Dr. Muhaimin, M.A. Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003

Pengaruh Perkembangan Jiwa Anak Saat Ditinggal Ibu Bekerja

1. Pendahuluan

Saat ini, jumlah wanita yang bekerja sudah hampir seimbang dengan jumlah pria. Pengaruh industrialisasi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong terjadinya perubahan peran sosial-budaya dari kaum wanita. Apabila dulu jenis pekerjaan yang dapat dan boleh dilakukan oleh para wanita masih sangat terbatas. Namun sekarang kondisinya sangat leluasa hingga dapat ditemukan wanita yang mampu mengerjakan segala jenis pekerjaan. Bila zaman dahulu karir wanita sudah berhenti sebelum mencapai posisi menengah maupun puncak, namun zaman seperti sekarang ini sudah banyak ditemukan wanita menduduki jabatan yang justru lebih tinggi daripada pria.

Gejala semacam ini patut membesarkan hati oleh sebagian pihak karena memang dari dulu sudah timbul aspirasi wanita untuk dapat mengembangkan potensinya sampai batas tertinggi. Terlebih lagi kebiasaan dan berbagai norma kebudayaan jangan sampai menghambat wanita untuk dapat berkembang sebagaimana halnya kaum pria. Nampaknya saat ini aspirasi kaum wanita sudah hampir menjadi kenyataan.

Sementara itu, timbul persoalan baru yang khas, siapa yang akan menggantikan peran ibu di rumah jika ia pergi bekerja?

Masalah yang berkaitan dengan ketidakadaan seorang ibu di rumah, pengurusan dan perawatan anak-anaknya masih dilimpahkan kepada mereka yang masih kerabat dekatnya. Tetapi sekarang keadaannya berbeda secara struktur keluarga, terutama di kota-kota besar, struktur keluarga sudah mulai berubah dari struktur keluarga besar ke keluarga inti (kecil) sehingga tidak biasa lagi antar kerabat untuk diajak tinggal bersama.

Menghadapi realita seperti inilah, menuntut semua masyarakat untuk sedapat mungkin bisa menyediakan sesosok orang yang mampu menjalankan profesinya mendampingi sang anak tersebut. Itu berarti harus tersedia wadah pendidikan yang dapat mengasuh dan mendidik mereka bagi mereka yang berminat menjalankan profesi tersebut.

2. Proses perkembangan anak

Berikut akan diuraikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak dari segi psikologis. Kesemuanya itu tak lain ditujukan agar dapat merancang program pendidikan yang bermanfaat bagi mereka yang betugas mendampingi anak yang ditinggal sang ibu bekerja.

Proses pertumbuhan dan perkembangan anak umumnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor hereditas / bawaan yang dimiliki oleh anak, sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan yang meluputi faktor belajar dan latihan. Proses tumbuh kembang yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik ialah yang menyangkut proses menjadi matang (maturation) dan menyebabkan perubahan dimensi fisik pada diri anak. Proses kematangan (maturation) ini biasanya tergantung oleh sifat gen sebagai faktor yang membawa sifat keturunan. Sedangkan proses tumbuh kembang yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik, seperti faktor belajar, akan terjadi melalui pengalaman-pengalaman empirik, bisa melalui pendidikan formal, atau bisa pula terjadi secara tidak disengaja.

            1. Ciri-ciri perkembangan anak usia 0 – 2 tahun (masa bayi)

Secara fisik, seorang anak pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Tinggi dan berat badan si bayi cepat sekali bertambah, begitu pula kemampuannya di bidang motorik (pergerakan) nya. Sebelum usia dua tahun, anak-anak sudah dapat berjalan, berlari, bahkan melompat. Keseimbangan tubuhnya makin lama makin baik walaupun kemungkinan sering jatuh, menabrak dan lain sebagainya masih tetap ada.

Salah satu aktivitas fisik yang sering dilakukan pada masa ini adalah bermain, sebab bermain merupakan kegiatan yang amat menyenangkan bagi mereka. Oleh sebab itu, aktivitas bermain ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana mendidik anak mengenai berbagai hal. Dengan kata lain, melalui bermain anak dapat dicerdaskan dapat dikembangkan alam perasaannya, dapat diperkaya alam fantasi dan kreativitasnya. Namun manfaat utama dari kegiatan bermain ini adalah untuk menggembirakan anak sambil melatih kemampuan motoriknya, yakni menyangkut latihan otot-otot berikut koordinasinya.

Selanjutnya dari segi mental, anak-anak pada usia 0 – 2 tahun juga berkembang pesat. Perkembangan mental amat erat kaitannya dengan perkembangan berbicara dan bahasa. Sebelum umur satu tahun, anak tersebut sudah mulai mencoba bersuara dan berkata-kata. Merangsang perkembangan berbicara berarti merangsang perkembangan kecerdasan. Perkembangan mental amat dipengaruhi oleh perkembangan panca indera. Jadi melatih kemampuan pendengaran, penglihatan, penciuman dan lain sebagainya sejak usia dini amatlah dianjurkan.

Kemudian dari segi sosial-emosional, perkembangan seorang anak belum begitu menonjol, kecuali bahwa hendaknya ia memperoleh pengalaman sosial yang menyenangkan dengan orang dewasa dalam keluarganya. Ia hendaknya merasa aman berada di antara keluarganya. Apabila ia memperoleh kasih sayang dan kelembutan (love and tender care) dari lingkungan sosialnya, maka dasar-dasr suatu sikap (attitude) sosial yang positif telah terbentuk. Namun proteksi (perlindungan) atau pemanjaan yang berlebihan justru akan merusak perkembangan sikap sosial selanjutnya.

2. Ciri-ciri perkembangan anak usia 3 – 5 tahun (masa prasekolah / balita)

Secara fisik, seorang anak pada masa-masa ini terjadi penguatan otot-otot dan peningkatan kemampuan koordinasi sensorimotorik, artinya anak sudah mulai mampu melakukan gerakan yang lebi halus dan mengatur kerjasama antara mata dengan tangan dan kakinya. Pada masa balita ini, anak terlihat selalu bergerak dengan amat lincah. Bagi mereka, bergerak berarti memperoleh kesenangan walaupun bagi orang dewasa menganggapnya gerakan ini seolah-olah tanpa tujuan. Selain penguatan otot kasar dan tulang-tulang, terjadi juga penguatan otot-otot halus, sehingga pada masa prasekolah, anak sudah mampu mengerjakan gerakan yang sulit, seperti menulis, menggambar, menguntai dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan perkembangan mentalnya, masa-masa ini adalah masa-masa bertanya bagi mereka. Sebab anak balita memiliki rasa ingin tahu yang tak terpuaskan tentang segala sesuatu yang terdapat di sekelilingnya. Dan juga pada usia ini adalah usia berfantasi / bergaul, berimajinasi, bermain-main, bercanda dan berpura-pura.

Dari segi bahasa, terjadi perkembangan yang sangat menonjol yang dibuktikan dengan penguasaan perbendaharaan kata-katanya yang sudah cukup kaya serta diiringi dengan kemampuan membuat kalimat dengan tata bahasa yang cukup tepat. Makin banyak teman sebaya yang diajak bercakap-cakap maka makin baik pula perkembangan bahasanya, demikian juga bila ia sering dibacakan cerita atau membaca buku. Sehingga minat terhadap ilmu pengetahuan sudah dapat mulai dirangsang.

Selanjutnya, dari segi perkembangan sosial-emosional, pada masa tersebut sang anak sudah dapat dididik untuk berdisiplin walaupun dalam batas-batas tertentu yang ditentukan dengan kemampuan anak. Pada masa ini, pertama kali terbentuk “pribadi” anak sebagai sebuah unit yang disadari oleh anak, atau dalam bahasa psikologinya lebih dikenal dengan sebutan egosentris. Agar pribadi ini, atau yang biasa disebut “aku”nya anak dapat berkembang dengan baik, ia perlu diakui dan dihargai. Kepercayaan akan dirinya akan mulai muncul jika orang dewasa memberi “support” (semangat) ada anak tersebut. Namun yang perlu diingat, memberi support bukan berarti memanjakan anak.

Pada masa prasekolah ini pula anak sudah mulai menunjukkan kebutuhan untuk berkawan sehingga penanaman akan norma-norma sosial bisa dimulai. Usia 3 – 5 tahun merupakan usia dimana anak dapat dilatih untuk membedakan baik dan buruk.

  3. Ciri-ciri perkembangan anak usia 6 – 12 tahun (masa Sekolah Dasar)

Perkembangan anak pada masa ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai masa-masa / usia yang cukup tenang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang dewasa –terutama pendamping anak- mendidik dengan menyeimbangkan antara bermain, belajar dan istirahat bagi mereka. Aktivitas belajar misalnya, orang dewasa perlu membantu anak mengembangkan disiplin belajar yang akan sangat membantu bagi keberhasilan belajar selanjutnya.

Anak pada usia 6 – 12 tahun suka sekali menjelajah kesana kemari, seperti suka bermain agak jauh dari rumah. Mereka juga suka sekali berkawan hingga sering meninggalkan rumah.

  4. Ciri-ciri perkembangan anak usia 13 – 18 tahun ( masa remaja)

Pada masa ini, sang anak mulai dihadapkan dengan berbagai masalah dan cobaan. Maka tak jarang masa-masa ini disebut-sebut sebagai masa penuh gejolak. Kadang-kadang mereka bertengkar dengan orang tua, sering terganggu komunikasi antara anak dengan orang tua. Kecenderungan berkelompok dan kegiatan bersama dengan teman seumurannya makin menonjol. Anakpun makin sering keluar rumah dan beberapa diantaranya sudah mulai mempunyai pasangan (pacar).

3. Peran orang tua pendamping

Perkembangan zaman yang semakin kompleks seperti saat ini nampaknya menuntut tumbuhnya suatu perubahan dalam pribadi seseorang. Begitu pula dengan bertambahnya sebuah profesi baru yang dinamakan “surrogate mother” atau ibu pendamping. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa peluang pekerjaan yang diperuntukkan bagi wanita semakin hingga kesulitan untuk mengatur waktunya bagi buah hatinya di rumah. Maka menuntut pula keberadaan seorang ibu pendamping untuk mengganti perannya mengurus anak. Nah, tugas utama ibu pendamping adalah mengasuh anak selama ditinggal ibu bekerja.

Sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu diperdebatkan lagi bahwa tanggung jawab mengasuh anak sesungguhnya terletak di bahu seorang ibu, walaupun tanggung jawab tersebut juga harus dipikul oleh seorang bapak. Kewajiban ini harus dilaksanakan sebab proses tumbuh kembang anak memerlukan pendamping, pengawasan dan suri taudanan dari orang tuanya.

Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda-beda dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Di dalam pola asuh tersebut, interaksi (hubungan timbal balik) antara anak dengan orang tua akan tertata dengan baik. Disamping tersampainya keinginan anak kepada orang tua, interaksi yang kondusif juga akan membentuk akhlak dan moral sang anak melalui didikan yang positif, seperti anjuran, larangan maupun pengendalian aktivitas anak.

Setiap orang tua pastilah menyadari akan kewajiban ini, membina dan mendidik anaknya supaya bertanggung jawab dan menghormati nilai-nilai di masyarakat dan  memenuhi kebutuhan sang anak, mulai dari kebutuhan akan makanan dan pakaian yang merupakan kebutuhan yang bersifat fisik-biologis sampai pada pendidikan, pemberian rasa aman dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang merupakan kebutuhan yang bersifat psikologis-sosial. Maka lama-lama orang tua secara langsung ataupun tidak langsung berusaha memenuhi kebutuhan anaknya.

Namun tidak semua kebutuhan sang anak dapat dipenuhi oleh ibu kandungnya disebabkan sang ibu sedang bekerja, walaupun keberadaannya di samping anak tidak tergantikan. Maka disinilah peran penting seorang ibu pendamping dalam menggantikan posisinya sebagai ibu sejati. Berikut ini beberapa kriteria seorang ibu pendamping yang ideal bagi anak:

  1. Memiliki watak yang baik dan kepribadian yang sehat.
  2. Mempunyai minat untuk merawat dan mendidik, walaupun yang dirawat dan dididik itu adalah anak orang lain.
  3. Memiliki latar belakang pendidikan umum yang cukup memadai dan telah memperoleh pendidikan khusus membina anak dalam keluarga.
  4. Beberapa ilmu yang dikuasainya antara lain mengenai: kesehatan anak, pendidikan anak dalam keluarga, dan psikologi perkembangan yang meliputi tentang proses tumbuh kembang anak hingga etika sopan santun agama.
  5. Pandai berkomunikasi dengan anak dan keluarganya, berani mengutarakan pendapat dan mampu bermusyawarah dengan orang tua mengenai hal-hal yang pelu disepakati bersama atau dicarikan jalan keluarnya bersama. Dalam kata lain, ia mampu menjalin hubungan baik dengan seluruh anggota keluarganya.
  6. Sadar akan posisinya sebagai seorang pendamping anak yang profesional sehingga tidak dianggap sebagai baby sitter biasa apalagi pembantu rumah tangga.

Dengan begitu, sang ibu sedapat mungkin tetap menjalankan tugasnya dalam mengasuh anak kandungnya dan tidak membiarkan ibu pendamping mengambil seluruh kasih sayang anak hingga mengurangi kualitas hubungan anak dengan ibu kandungnya.

 

Metode Tanya Jawab Dalam Proses Belajar Mengajar

Guru Bertanya

Seorang Guru Bertanya Kepada Siswanya

Tanya jawab adalah salah satu metode pengajaran yang paling sering dipakai dalam mengajarkan pelajaran Agama dan pelajaran non eksak lainnya. Hal ini mengingat pelaksanaannya yang sederhana, artinya tidak terlalu banyak biaya atau fasilitas yang diperlukan seperti metode proyek karyawisata, sosiodrama, dan lain sebagainya. Namun metode ini mempunyai banyak sekali manfaat, yaitu:

1. Untuk meninjau pelajaran yang lalu (melalui metode ceramah).

2. Melatih siswa untuk berani mengemukakan atau menanyakan sesuatu yang menurutnya tidak/kurang jelas

3. Untuk mengarahkan pemikiran siswa ke suatu kesimpulan (generalisasi).

4. Membangkitkan perasaan ingin tahu dan ingin bisa pada diri siswa.

Berdasarkan manfaat tersebut yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan kembali bahwa: Pertama, seorang guru ketika mengajar dapat melihat umpan balik dari siswa yang akan memudahkan baginya untuk mengevaluasi dan menentukan tindakan selanjutnya. Kedua, bagi siswa, di samping menjadi aktif dan berani mengemukakan buah pemikirannya, merekapun juga semakin bertambah kreatif.

Disamping itu, semua para ahli menggambarkan tentang pentingnya metode tanya jawab dalam proses belajar mengajar, yaitu:

1. Bertanya dengan baik berarti mengajar dengan baik.

2. Seni/strategi mengajar adalah seni/strategi menuntun pertanyaan.

3. Berpikir itu sendiri adalah bertanya.

4. Pertanyaan yang sudah tersusun baik sebenarnya sudah sebagian terjawab.

Dan masih banyak manfaat lain dari metode tanya jawab tersebut. Namun yang menjadi permasalahan sekarang, bagaimana tanya jawab itu bisa berjalan dengan baik dan efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan? Atau sejauh manakan efektivitas pertanyaan yang telah dilaksanakan?

Proses belajar yang efektif bisa ditimbulkan oleh pertanyaan yang efektif. Kenyataannya pun membuktikan demikian. Namun metode ini sering ditemukan berbagai hambatan dan kelemahan yang tidak diinginkan, baik dari segi pendidik, siswa dan efisiensi waktu. Untuk itu, kepada para pendidik diharapkan:

1. Adanya pengertian tentang eksistensinya di dalam kelas.

2. Memahami peranan pertanyaan saat proses belajar berlangsung.

3. Menguasai teknik mengajukan pertanyaan.

Agar pertanyaan yang diajukan menjadi efektif, dibutuhkan penguasaan keterampilan dasar sebagai berikut:

1. Phrasing

Phrasing adalah menyusun kalimat tanya yang jelas dan singkat. Dan hendaknya hindari pertanyaan yang bisa mengaburkan pikiran siswa. Juga kata-kata yang dipakai disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa.

2. Focusing

Focusing adalah memusatkan perhatian siswa ke arah jawaban yang diminta oleh sang penanya (pendidik). Ini menyangkut tingkat scope pertanyaan dan aspek jumlah tugas dari pertanyaan. Yang diminta adalah respon tunggal, bukan respon ganda.

3. Pausing

Pausing adalah memberi kesempatan sejenak kepada siswa untuk menyusun jawabannya. Ini disebabkan adanya perbedaan siswa dalam kecepatan merespon dalam berpikirnya (persepsi). Sehingga cara ini memperhatikan perbedaan individual.

4. Reinforcement

Reinforcement yaitu teknik memberi hadiah atau dorongan yang dikehendaki siswa. Hadiah ini bisa berupa ucapan-ucapan atau pesan fissi seperti senyuman dan anggukan kepala, dan lain sebagainya.

5. Promting

Promting adalah memancing siswa dengan pertanyaan lain agar terbimbing dalam menemukan jawaban dari pertanyaan pertama. Cara ini dapat ditempuh dengan cara:

  • Menyusun pertanyaan baru, tapi maksudnya sama.
  • Menjelaskan pertanyaan tersebut dengan contoh-contoh konkrit.
  • Menyederhanakan pertanyaan.
  • Menurunkan tingkat kesukaran dari isi pertanyaan.

6. Probing (pelacakan)

Yaitu mengajukan pertanyaan yang bersifat melacak. Guru mengikuti respon siswa kemudian merangsang siswa untuk memikirkan jawaban yang telah mereka ajukan dengan maksud untuk mengembangkan jawaban pertama tadi agar lebih jelas, akurat dan original.

Apa yang disebutkan pada point-point diatas sebenarnya tidak begitu sulit untuk dilaksanakan, hanya saja tumbuhnya kesadaran dalam bertanya dan menjawab inilah yang kadang-kadang sulit. Namun dengan berangsur-angsur mencoba, Insya Allah akan berjalan secara otomatis pada diri kita. Semoga ada manfaatnya, bisa dicoba dan diterapkan.

Sumber: Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”. Edisi 171, Oktober 1985.

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

Pendahuluan

Pertanyaan yang selalu menjadi fokus pikiran orang tua dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan belajar adalah: “Bagaimanakah sebaiknya belajar itu dilakukan agar dapat berhasil dengan memuaskan?”.

Setiap orang tua ingin agar anaknya selalu sukses dan berusaha agar dapat menyelesaikan pelajarannya dengan baik. Guru-guru juga berusaha memberikan bantuan dan bimbingan kepada para siswanya agar mereka berhasil dalam pelajarannya. Alangkah sedihnya jika seseorang yang mengenyam pendidikan di sekolah telah kehilangan gairah belajarnya. Penyebab turunnya gairah belajar yang sering terjadi adalah kekecewaan, derajat inteligensi yang kurang dan kemalasan akibat ketidaktahuan siswa terhadap tujuan belajar yang sebenarnya. Kekecewaan merupakan gangguan psikologis yang diakibatkan oleh berbagai peristiwa yang telah dialaminya dan kekecewaan ini akan menimbulkan keengganan, termasuk di antaranya ialah enggan untuk belajar.

Setiap pelajar tentu menyadari bahwa kepentingan belajar merupakan bagian dari tugas hidupnya kini. Mereka sebenarnya tidak menghendaki kegagalan studi terjadi pada dirinya. Yang dimaksud kegagalan studi disini adalah tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Bahkan dalam hati kecilnya berkeinginan memperoleh prestasi tinggi selama pendidikan sehingga akhirnya timbul pertanyaan pada mereka, “Bagaimana cara meningkatkan prestasi belajar?”.

Sebelum mengulas tentang cara-cara meningkatkan prestasi belajar, terlebih dahulu kita membahas tentang pengertian belajar. Tinjauan terhadap pengertian belajar ini lebih bersifat psikologis sebagai landasan pembahasan teknik-teknik belajar atau untuk meneliti cara-cara belajar yang efisien yang sebaiknya dilakukan.

1. Definisi belajar

Para ahli pendidikan modern mengemukakan pendapatnya mengenai perbuatan belajar sebagai berikut:

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku baru yang diperoleh dari pengalaman atau latihan. Tingkah laku yang baru ini misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmaniah.

Perumusan pengertian perbuatan belajar ini meliputi perubahan jasmaniah dan rohaniah. Kedua aspek ini saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Keduanya merupakan aspek-aspek yang bersifat komplementer. Manusia dan perbuatannya selalu menuntut kegiatan jasmani dan rohani.

Misalnya, membaca buku adalah perpaduan antara kegiatan jasmaniah dan gerakan rohaniah. Gerakan jasmaniah berupa gerakan mata, gerakan tangan, dan sikap tubuh. Sedangkan gerakan rohaniah ialah berupa mengolah pengertian-pengertian yang ada dalam bacaan, membandingkan, mengingat kembali, memikirkan persoalan dan lain sebagainya.

Setiap perbuatan belajar senantiasa memiliki aspek jasmaniah yang disebut struktur, dan aspek rohaniah yang disebut fungsi. Otak kita sebagai kegiatan yang penting dalam diri mengandung kedua aspek tersebut. Otak sendiri adalah strukturnya dan berpikir adalah fungsinya.

Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti contoh, apabila otak sedang cedera, maka fungsi berpikirnya akan terganggu. Sebaliknya, apabila fungsi berpikir dari otak itu tidak normal, maka struktur otak akan berubah bentuknya juga.

2. Gambaran tentang proses belajar

Telah sama-sama diketahui bahwa belajar senantiasa merupakan kegiatan yang berlangsung di dalam suatu proses dan terarah menuju pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dibawah ini akan digambarkan tentang bagaimana proses belajar itu terjadi:

Langkah-langkah kegiatan belajar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Seseorang memiliki motivasi dan melihat suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai. Lalu kemudian mengarahkan perbuatannya dengan motivasi tadi.
  2. Dengan sadar, ia memfokuskan perhatiannya kepada ke arah tujuannya itu dan mengarahkan segala daya yang ada untuk diarahkan kepada tujuan itu.
  3. Dengan menggunakan kecakapannya (inteligensi), ia berusaha mencoba menemukan sebuah metode atau cara baru untuk mencapai suatu tujuan, atau juga memperbaiki metode yang telah ia miliki.
  4. Selanjutnya, ia menggunakan pengalaman-pengalamannya yang lalu yang telah dimiliki terhadap tugas-tugas yang dihadapinya, memisahkan unsur-unsur yang ada di dalam situasi sekarang dengan maksud menghayati metode secara tepat dan mengintegrasikan (menyatukan) semua jawaban yang sama sekali baru yang tingkatannya lebih tinggi.
  5. Di dalam proses pemisahan dan integrasi itu, ia menghilangkan atau membuang metode-metode yang dirasa tidak cocok, mencari jawaban yang benar dan menjadikan suatu metode baru untuk dijadikan sebagai pola kelakuan baru (learned behavior pattern) yang dapat digunakan ke dalam situasi yang lain.

Tegasnya, hal tersebut sedang terjadi perubahan tingkah laku.

Langkah-langkah belajar diatas dapat dibuat contoh sebagai berikut:

  1. Seorang pelajar SMA kelas XII mempunyai motivasi ingin meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran.
  2. Dengan sadar ia memfokuskan perhatian ke arah tujuan yang dibuatnya itu dan mengerahkan segala daya untuk mempelajari semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran.
  3. Dengan menggunakan kecakapannya, ia berusaha menemukan metode belajar yang baik untuk mencapai tujuan ini. Misalnya mengumpulkan bahan pelajaran, ikut bimbingan tes, belajar di tempat yang tenang, belajar sendiri dan ikut belajar kelompok.
  4. Selanjutnya ia memakai pengalaman yang lalu untuk melaksanakan tugas ini dengan maksud menghayati metode belajar secara tepat.
  5. Dengan metode belajar ini, ia dapat menemukan jawaban-jawaban yang benar dan membuang jawaban-jawaban yang salah dalam menjawab soal-soal semua mata pelajaran yang diperlukan untuk tes masuk Fakultas Kedokteran, sehingga pada akhirnya timbul kelakukan baru dalam bentuk: a) Jasmani: perubahan dalam sikap, kebiasaan, dan timbul keterampilan dalam menjawab soal semua mata pelajaran. b) Rohani: dari tidak tahu menjadi tahu sehingga mampu mengingat semua mata pelajaran yang dipergunakan untuk tes masuk   Fakultas Kedokteran.

3. Prinsip-prinsip belajar

Proses belajar memang beragam dan kompleks, tetapi dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut:

1)      Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan yang saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungannya.

2)      Belajar harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya melalui belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

3)      Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni bersumber dari dalam dirinya sendiri.

4)      Proses belajar selalu ada rintangan dan hambatan. Maka dari itu, siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.

5)      Belajar senantiasa membutuhkan bimbingan, baik dari guru/dosen atau tuntunan dari buku pelajaran itu sendiri.

6)      Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berpikir kritis. Berpikir kritis ini lebih baik daripada pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanis.

7)      Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk pemecahan masalah yang diselesaikan melalui kerja kelompok (belajar kelompok), asalkan masalah yang akan dibahas telah disadari bersama.

8)      Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.

9)      Belajar memerlukan latihan dan ulangan/ujian agar materi yang sudah dipelajari dapat dikuasai.

10)   Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan/hasil yang diinginkan

11)   Proses belajar dapat dikatakan berhasil dan sukses apabila siswa telah sanggup memindahkan atau menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

4. Cara-Cara Belajar Yang Baik

Belajar akan lebih berhasil apabila pelajar memiliki: 1) Kesadaran atas tanggung jawab belajar; 2) Cara belajar yang efisien; dan 3) Beberapa syarat yang diperlukan.

Ada beberapa hal yang harus diingat dan menjadi catatan bagi setiap pelajar adalah:

Yang pertama, tanggung jawab belajar terletak dalam diri setiap pelajar masing-masing.

Jika muncul sebuah pertanyaan, siapakah pelaku belajar dan siapa pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar itu? Maka jawabnya adalah bahwa masing-masing pelajarlah yang melakukan proses belajar dan mereka jugalah yang bertanggung jawab untuk mengusahakannya agar supaya berhasil.

Andaikata seorang pelajar tersebut mengalami kegagalan dalam belajar, maka pelajar tersebutlah yang menanggung akibatnya. Tidak mungkin perbuatan belajar dilakukan oleh orang lain demi kepentingan si pelajar itu sendiri. Orang lain (guru, orang tua, teman sebaya) hanya bertugas memberi petunjuk, tuntunan, atau bimbingan, kemudian selanjutnya pelajar sendiri yang mengolah, menyimpan, dan memanifastasikan serta menerapkannya. Oleh sebab itu, sebagian besar kesuksesan terletak pada usaha yang dilakukan si pelajar itu sendiri. Maka, faktor kemauan, bakat minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita yang tinggi merupakan unsur-unsur mutlak yang mendukung usaha yang dilakukan oleh si pelajar tersebut. Jangan sampai muncul anggapan bahwa belajar itu:

1)      Cukup ala kadarnya

2)      Tak menimbulkan hasrat ingin tahu

3)      Tak punya keinginan untuk maju

Sehingga aktivitas belajar tidak berencana dan dilakukan asal sempat saja. Pandangan yang demikian itu sudah tentu sangat keliru dan tidak boleh untuk diikuti.

Yang kedua, cara belajar yang efisien akan mempertinggi hasil belajar.

Cara belajar yang efisien artinya cara belajar yang tepat, praktis, ekonomis, dan terarah sesuai dengan situasi dan tuntutan yang ada guna mencapai tujuan belajar. Hasil belajar yang diperoleh akan sangat bergantung pada bagaimana cara belajar yang dilakukan. Dengan menggunakan cara belajar yang efisien maka akan meningkatkan serta mempertinggi hasil belajarnya.

Ada beberapa cara belajar yang baik yang bisa digunakan antara lain:

a)      Membuat rencana belajar (program studi) yang dapat dijadikan semacam rencana belajar selanjutnya.

Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari pembuatan rencana belajar ini, antara lain:

1)      Sebagai wadah penyimpanan berbagai jenis catatan dan bahan-bahan berguna lainnya.

2)      Sebagai alat belajar dan mempermudah pekerjaan yang berguna untuk mencapai tujuan.

3)      Memberikan motivasi belajar dan merangsang belajar secara teratur.

4)      Bagi guru, dapat mempergunakannya sebagai sarana penilaian bagi siswa, terutama dalam hal kebersihan dan kerajinan siswa.

5)      Dapat membantu teman sebayanya yang ketinggalan atau yang catatannya kurang lengkap.

Pembuatan rencana belajar dalam sebuah buku catatan ini dianjurkan agar ditulis secara teliti dan serapi mungkin serta disusun secara sistematis, logis, teratur dan bersih, jangan dicampuradukkan dengan catatan-catatan yang lain agar tidak membingungkan si penulis.

Begitu pula dengan merawat buku rencana belajar ini. Diusahakan buku catatan rencana belajar agar disimpan dan dipelihara dengan baik. Hal itu penting untuk efisiensi belajar.

b)      Syarat-Syarat Yang Harus Diperhatikan Dalam Belajar

Beberapa syarat yang perlu diperhatikan agar siswa dapat dengan baik, yakni meliputi faktor-faktor:

1)      Kesehatan jasmaniah

Jasmani yang sehat berarti tidak mengalami penyakit tertentu, dan tercukupinya gizi sehingga fungsi badan berjalan dengan baik.

2)      Rohani yang sehat

Rohani yang sehat berarti tidak terganggu syaraf / jiwanya, tidak mengalami gangguan emosional dan berpikiran tenang dan stabil. Dan juga tidak mempunyai banyak persoalan yang menyangkut pribadi pelajar maupun persoalan lingkungan yang mempengaruhi jiwanya. Sebab kondisi psikologis sangat mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan pelajar.

3)      Lingkungan yang tenang

Yakni lingkungan yang tidak sedang dalam kondisi ribut, ramai, dan beberapa gangguan suara lainnya.

4)      Tempat belajar yang menyenangkan

Tempat yang efektif untuk belajar adalah tersedianya cukup udara, ventilasi yang memadai, penerangan yang cukup dan lain sebagainya.

5)      Tersedianya cukup bahan dan alat-alat pelajaran yang diperlukan

Bahan-bahan dan alat-alat yang menjadi sumber belajar sebaiknya tersedia dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Apabila kurang maka setidak-tidaknya akan menghambat tercapainya hasil belajar yang memuaskan.

Dengan memakai cara-cara tersebut diatas maka diharapkan akan meningkatkan prestasi belajar setiap siswa dengan tidak melupakan sebuah upaya untuk meningkatkan gairah belajar dan pembiasaan hidup disiplin secara teratur.

c)       Teknik Mempelajari Buku Pelajaran

Teknik mempelajari buku pelajaran antara lain:

1)      Membaca buku pelajaran harus ada tujuan tertentu, tidak asal membaca dan harus mampu memahami isi buku.

2)      Menggarisbawahi hal-hal yang penting dari isi buku.

3)      Membuat rangkuman (outline) dari setiap mata pelajaran

d)      Membuat Diskusi Kelompok

Membentuk kelompok teman-teman untuk belajar bersama terdiri dari 5-8 orang dan direncanakan berdiskusi bersama dalam kelompok dengan topik atau masalah yang ditentukan lebih dahulu.

Berdiskusi kelompok sebaiknya dilakukan secara kontinu dan setiap anggota kelompok harus belajar lebih dahulu mengenai topik yang akan didiskusikan. Dengan diskusi kelompok akan diperoleh:

1)      pertukaran pendapat

2)      pengalaman dari teman yang lain

3)      ada take and give dalam belajar.

4)      lebih mudah menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama.

5)      menambah efisiensi belajar

6)      membantu teman-teman yang malas, pemalu, dan sebagainya

e)      Melakukan Tanya Jawab

Setiap mata pelajaran yang kurang dimengerti sebaiknya ditanyakan pada guru atau teman sebayanya yang lebih pandai dan mengerti, sehingga mata pelajaran dapat dimengerti semuanya. Dengan demikian akan lebih memudahkan untuk memahami dan menghafal pelajaran yang dipelajarinya.

f)       Belajar Berpikir Kritis

Penguasaan keterampilan berupa berpikir mendalam (kritis) merupakan suatu syarat mutlak cara belajar secara efisien. Dengan berpikir kritis maka akan dapat memecahkan masalah dari setiap mata pelajaran yang telah diberikan di sekolah.

g)      Memantapkan Hasil Belajar

Mempelajari suatu mata pelajaran hendaknya dilakukan berkali-kali, seperti ulangan harian atau latihan-latihan soal. Cara ini disebut pemantapan hasil belajar atau kompetensi siswa. Dengan begitu, maka akan melatih siswa untuk lebih memahami isi pelajaran dan tidak mudah dilupakan begitu saja.

Sumber: Majalah “Mimbar Pendidikan Agama”, Edisi 171, Oktober 1985.

Sistem Pendidikan Islam

1.  Tinjauan Umum Tentang Sistem 

1.1. Pengertian Sistem

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa berada dalam bingkai sistem di mana ia berada. Manusia tidak bisa menghindar dari sistem, karena sistem lahir dari komunitas makhluk dalam hubungannya dengan komunitas makhluk yang lainnya. Dalam lingkungan keluarga, ia berada dalam sistem keluarga, dalam kehidupan masyarakat ia berada dalam lingkungan sosial. Dalam kehidupan berbangsa ia berada dalam sistem nagara dimana ia tinggal. Dalam diri manusia, tubuh merupakan suatu sistem, bahkan pembelajaran juga sebagai suatu sistem, begitu pula dengan pendidikan adalah suatu sistem.

Istilah sistem merupakan suatu konsep yang abstrak. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam konteks pembelajaran, sistem dapat didefinisikan sebagai keseluruhan komponen terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan untuk bekerjasama mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, sistem mempunyai sejumlah komponen, setiap komponen mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi antar komponen yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan dan bekerjasama untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Semua sistem tersebut memiliki batasan tersendiri yang membedakan antara sistem yang satu dengan sistem yang lainnya, apabila di tinjauh dari unsur-unsur sistem yang menjadi input proses dan hasil yang dicapai. Akan tetapi ciri-ciri sistem memiliki kesamaan dalam bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan.

1.2. Sifat-sifat Sistem

a.  Terbuka vs Tertutup.

Terbuka berarti menerima informasi dari luar, tertutup berarti tak dapat menerima informasi dari luar.

b.  Sederhana vs Komplek.

Makna Sederhana adalah: a) Secara relatif hanya terdiri atas beberapa komponen, misalnya: amuba, sel-sel tubuh. (b) Hasil/produknya mungkin sederhana, misal hasilnya sama un¬tuk sepanjang waktu (hasil cetakan bata). Komplek (rumit); (a) Terdiri banyak komponen yang saling berinteraksi, misalnya pabrik televisi. (b) Keseluruhannya (totalitasnya) lebih daripada sekedar jumlah dari bagian-bagian. (c) Bagian-bagiannya tak bisa dipahami kalau berdiri terpisah satu sama lain. (d) Bagian-bagiannya saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.

1.3. Ciri-ciri Sistem

Adapun ciri-ciri sistem adalah memiliki tujuan fungsi masing-masing komponen, keterkaitan komponen yang satu dengan komponen yang lainnya dan keterpautan atau kerjasama, proses transformasi, umpan balik dan ada kawasan.

Suatu sistem sudah pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan menjadi pegangan kerja dan arah dari semua proses sistem kerena titik akhir produk yang dihasilkan dari kerja adalah tercapainya tujuan. Misalnya: tujuan pembelajaran adalah pelajar dapat bertingkah laku tertentu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Adanya tujuan yang hendak dicapai maka suatu sistem menuntut terlaksananya berbagai fungsi dari masing-masing komponen yang diperlukan untuk menunjang tercapainya tujuan secara maksimal. Dalam konteks pembelajaran, dituntut berfungsinya komponen pengembangan, penelitian, pelaksanaan pembelajaran dan sebagainya.

Supaya masing-masing komponen berfungsi dengan baik dalam mencapai tujuan pembelajaran maka dalam suatu sistem fungsi masing-masing komponen harus dilakukan tenaga yang berkompeten. Misalnya; fungsi pengembangan dilakukan oleh ahli desain pembelajaran, fungsi pelaksana dilakukan oleh guru, intruktur, dosen sesuai dengan bidangnya.

Keterpaduan dan kerjasama merupakan ciri sistem. Di mana bagian-bagian terorganisasi. Semua komponen terjalin secara padu sebagai suatu sistem yang bekerjasama untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Seperti hasil pembelajaran akan tercapai jika semua komponen pembelajaran bekerjasama secara utuh dan padu.  Kuutuhan ditunjukkan oleh kelengkapan unsur-unsur komponen yang harus ada dalam mempengrahui keberhasilan pembelajaran. Kepaduan ditunjukkan dengan adanya keterkaitan, kesesuaian, dan kerjasama antar komponen pembelajaran dalam mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran.

Pengertian dan ciri-ciri sistem atau pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisik (misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit dibanding analisis sistem fisis dan sistem biotis; sistem sosial pada umumnya dan khususnya sistem pendidikan bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistemnya (rentan terhadap pengaruh luar), misalnya: sistem sekolah mudah dipengaruhi oleh situasi masya­rakatnya (supra sistemnya). Karakter sistem pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang kritis (dalam mawas diri) dan kreatif (dalam mencari alternatif pengembangan yang positif) secara berkesinambungan.

Secara lebih rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem atau pendekatan sistem, adalah:

          1. Adanya tujuan

Setiap rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentu­kan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok ukur pemilihan kompo­nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng­arah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu sistem.

          2. Adanya komponen sistem (selain tujuan)

Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.

            3. Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem

Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang keseluruhan­nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia ber­jalan secara sehat dan semestinya.

Penyelenggaraan pengajaran di sekolah merupakan suatu sis­tem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi tertentu itu mesti menyumbang secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan dan semua fungsi tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran berlangsung secara efektif dan cfisien. Misalnya: fungsi komponen yang berstatus guru adalah pem­bimbing belajar siswa (pendorong motivasi belajar siswa, peng­arah, pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai nara sumber (fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil belajar siswa. Jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat membantu kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.

           4. Adanya interaksi antar komponen

Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kri­tis, dan koordinatif banyak membantu guru dalam mengem­bangkan kariernya. Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik.

Sedangkan menurut Darwyn Syah sistem memiliki ciri-ciri sistem adalah sebagai berikut:

  1. Adanya struktur tertentu (suatu gabungan, kombinasi atau kumpulan) unsur, elemen, komponen, bagian, hal yang disebut subsistem.
  2. Bagian- bagian atau unit-unit memiliki sistem masing-masing.
  3. Bagian atau unit yang ada memiliki hubungan satu sama lain.
  4. Rangkaian bagian atau unit tersebut merupakan kebulatan yang utuh dan bergerak kearah tujuan.

1.4. Manfaat Sistem

Pengetahuan tentang sistem sangat bermanfaat bagi kegiatan penyusunan perencanaan pembelajaran. Ely (1979) mengemukakan bahwa perencanaan merupakan suatu proses dan cara berfikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan.

Kegiatan perencanaan pembelajaran dilakukan melalui beberapa tahap, yang dimulai dari memilih suatu cara terbaik berdasarkan pertimbangan dan penilaian dengan memperhatikan faktor tujuan, karakteristik pelajar, dan pemanfaatan sumber-sumber belajar guna mencapai hasil yang maksimal. Dengan pendekatan sistem, penyusunan perencanaan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara menganalisis lebih dulu semua komponen yang mempengaruhi pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilakukan atau hasil yang ingin dicapai dapat direncanakan dengan baik, bukan berdasarkan spekulasi semata atau coba-coba.

Dengan demikian, manfaat yang diperoleh dari penyusunan perencanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem antara lain bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang kadang tidak disadari. Karena itu diperlukan: 1). Penyusunan perencanaan pembelajaran yang sistematis sebagai alat untuk menganalisis, mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang sesuai yang dibutuhkan. 2). Perencanaan yang sistematis mempunyai daya ramal dan daya kontrol yang baik sehingga hasil yang diinginkan dapat dicapai secara optimal.

2.  Pendekatan Sistem Pembelajaran

2.1.  Pengertian Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem adalah suatu proses kegiatan mengidentifikasi kebutuhan, memilih problem, mengidentifikasi syarat-syarat pemecahan problem, memilih alternatif pemecahan problem yang paling tepat, mengevaluasi hasil dan merevisi sebagian atau seluruh dalam memecahkan masalah secara lebih baik.

Pola pendekatan sistem pembelajaran, menurut Oemar Hamalik (2002: 9), melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan pendidikan (merumuskan masalah); (2) analisis kebutuhan untuk mentransfomasikan menjadi tujuan pembelajaran (analisis masalah); (3) merancang metode dan materi pembelajaran (pengembangan suatu pemecahan); (4) pelaksanaan pembelajaran (eksperimental); dan (5) menilai dan merevisi.

Dari uraian di atas, dapat penulis rumuskan bahwa untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien dibutuhkan pengelolaan komponen pembelajaran secara baik. Dalam pendekatan sistem bahwasanya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal harus didukung dengan komponen pembelajaran yang baik, yang meliputi tujuan, siswa, guru, metode, media, sarana, lingkungan pembelajaran dan evaluasi.

Masing-masing komponen memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Akan tetapi dari beberapa komponen-komponen tersebut guru merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran, karena guru bersifat dinamis, sehingga dapat mengelola dan menggerakkan komponen-komponen yang lain.

2.2. Model Pendekatan Sistem

Pada mulanya pendekatan sistem digunakan dalma bidang teknik yang pertama-tama dilaksanakan untuk mendisain sistem-sistem elektronik, mekanik, dan militer. Dalam hal ini pendekatan sistem dilibatkan dalam sistem-sistem manusia dengan mesin dan selanjutnya dilaksanakan pula dalma bidang keorgainisasian dan menajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960an.

Pendekatan sistem mulai dipergunankan dlam bidang latihan dan pendidikan (merumuskan  masalah), analisis kebutuhan dengan maksud menstransformasikannya menjadi tujuan-tujuan (analisis masalah), desain metode dan materi instruksional (pengembangan dan pemecahan), pelaksanaan secara eksperimental, dan akhirnya menilai dan merevisi.

2.3. Pendekatan Sistem Pengajaran

Pendekatan sistem mengandung dua aspek, aspek filososif dan aspek proses. Aspek filosofis adalah pendangan hidup yang mendasari sikap perancang sistem yang terarah pada kenyataan. Aspek proses adalah suatu proses dan suatu perangkat alat konseptual.

Gagasan inti filosofis ialah bahwa suatu sistem merupakan kumpulan dari sejumlah komponen yang berinteraksi dan saling bergantung satu sama lain. Untuk mengenal suatu sistem kita harus mengenal semua komponen yang beroperasi di dalamnya. Perubahan suatu sistem harus pula dilihat dari perubahan komponen-komponen tersebut. Kita tidak akan mungkin mengubah suatu sistem tanpa perubahan sistem secara menyeluruh.

Pendekatan sistem merupakan suatu perangakat alat atau teknik. Alat-alat itu berbentuk kemampuan dalam:

  1. Merumuskan tujuan-tujuan secara operasional
  2. Mengembangkan deskripsi tugas-tugas secara lengkap dan akurat
  3. Melaksanakan analisis tugas-tugas.

Alat-alat dan pendekatan rancangan sistem pengajaran menuntut para guru agar pengajaran agar menyediakan kondisi belajar bagi siswa. Jadi, prinsip-prinsip belajar merupakan petunjuk bagi guru dalam menata kondisi belajar yang efektif.

Ada dua ciri pendekatan sistem pengajaran yakni sebagai berikut:

  1. Pendekatan sistem merupakan suatu pendapat tertentu yang mengarah ke proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu penataan yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi satu sama lain untuk memberikan kemudahan bagi siswa belajar.
  2. Penggunaan metodologi khusus untuk mendisain sistem pengajaran. Metodologi khusus itu terdiri atas prosedur sistemik, perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penilaian keseluruhan dari proses belajar mengajar. Penerapan metodologi tersebut akan menghasilkan suatu sistem belajar yang memanfaatkan sumber manusiawi dan non manusiawi secara efisien dan efektif.

2.4. Aplikasi perencanaan pendekatan sistem

Perencanaan pembelajaran yang sistematis pada hakikatnya sama dengan proses pemecahan masalah secara umum (a general problem solving process). Untuk dapat membuat perencanaan pembelajaran yang sistematis diperlukan pola pemikiran sistematis yang biasanya dituangkan dalam bentuk model.

Salah satu contoh model perencanaan pembelajaran sistematis di kemukakan adalah sebagai berikut:

Dari model tersebut, langkah-langkah kerja suatu perencanaan yang sistematis dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah berdasarkan kebutuhan. Masalah adalah kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi riil dari kebutuhan yang diinginkan. Sebagai contoh, kondisi ideal untuk memudahkan belajar pelajar. Perlu menggunakan media yang cocok sesuai dengan karakteristik isi mata pelajaran. Akan tetapi, kondisi riilnya guru tidak tidak mampu menggunakan media yang cocok sesuai karakteristik isi mata pelajaran yang diajarkan. Maka timbul kesulitan dalam belajar pada pelajar karena ketidakmampuan guru dalam menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik isi mata pelajaran yang diajarkan.

3. Konsep Sistem Pengajaran

3.1. Pengertian Sistem Pengajaran

Gagne dan Atwi Suparman mengatakan bahwa sistem pengajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar. Proses belajar yang dilakukan siswa bisa digerakkan oleh guru yang dikenal dengan pengajaran, bisa juga dilakukan dengan sendiri oleh siswa dengan menggunakan sumber belajar.

Kegiatan pengajaran sebagai suatu sistem terdapat subsistem-subsistem sebagai berikut: siswa, guru, tujuan,  bahan pengajaran, tes, setrategi pengajaran dan evaluasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem pengajaran adalah suatu kombinasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan serta sebagai panduan dalam rangka perencanaan dan penyelenggaraan pengajaran.

3.2. Ciri-ciri Sistem Pengajaran

Berdasarkan rumusan di atas, ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pengajaran, ciri-ciri tersebut adalah:

1)      Rencana, penataan intensional orang, material, dan prosedur, yang merupakan unsur sistem pengajaran sesuai dengan suatu rencana khusus, sehingga tidak mengembang.

2)      Kesalingtergantungan (interpendent). Unsur-unsur suatu sistem merupakan bagian yang koheren dalam keseluruhan, masing-masing bagian bersifat esensial. Satu sama lain memberikan sumbangan tertentu.

3)      Tujuan, setiap sistem pengajaran memiliki tujuan tertentu, ciri itu menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dengan sistem-sistem alam.

Tujuan sistem pengajaran adalah siswa belajar dalam bentuk terjadinya perubahan tingkah laku baik aspek koknitif, afektif maupun psikomotorik. Karenanya perencanaan pengajaran harus dirancang oleh seorang perancang sistem pengajaran dengan tugas utama mengorganisasi sumber daya manusia, sumber daya material, dan prosedur pengajaran agar siswa melakukan kegiatan belajar secara efisien.

Unsur minimal yang harus ada dalam sistem pengajaran adalah suatu tujuan, seorang siswa serta suatu prosedur kerja untuk mencapai tujuan. Fungsi guru dalam suatu sistem pengajaran ialah sebagia disainer (perancang) sekaligus sebagai pelaksana pengajaran (unsur suatu sistem). Fungsi guru sebagai perancang sistem pengajaran adalah penyusun suatu sistem pengajaran. Sedangkan sebagai pelaksana sistem pengajaran guru melaksanakan kegiatan mengajar di kelas yang ditunjukan kepada siswa. Tugas sebagai pelaksana sistem pengajaran yang dilaksanakan oleh guru harus didukung oleh: kompetensi mengajar, sikap profesional , penguasahan materi pelajaran, menguasahi prinsip-prinsip dan teknik pengajaran serta keterampilan-keterampilan dasar mengajar lainnya.

3.3. Komponen-komponen Sistem Pengajaran

Secara sederhana komponen-komponen pengajaran telah diuraikan di atas. Namun demikian dari sudut pandang teknologi intruksional komponen sistem pengajaran diuraikan secara lebih luas sebagai berikut: 1). Spsifikasi isi pokok bahan 2). Spesifikasi tujuan pengajaran 3). Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa 4). Penentuan cara pendekatan, metode dan teknik mengajar 5). Pengelompokan siswa 6). Penyediaan waktu 7). Pengaturan ruangan 8). Pemilihan media 9). Evaluasi dan 10). Analisis  umpan balik.

MEMAHAMI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Arti Sejarah

Kata sejarah dalam bahasa Arab di sebut Tarikh yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedang menurut istilah berarti “keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. Dalam bahasa Inggris disebut History yang berarti: pengalaman masa lampau daripada umat manusia (the past experience of mankind). Sedangkan pengertian Sejarah Pendidikan Islam (Tarikhut Tarbiyah Islamiyah) adalah: catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam sejak lahirnya hingga sekarang ini.

Adapun secara terminologi berarti sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia. Sedangkan pengertian yang lain sejarah juga mencakup perjalanan hidup manusia dalam mengisi perkembangan dunia dari masa ke masa karena sejarah mempunyai arti dan bernilai sehingga manusia dapat membuat sejarah sendiri dan sejarah pun membentuk manusia2.

Sejarah menurut Sidi Gazalba adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Definisi ini lebih menekankan pada materi peristiwa tanpa mengaitkan dengan aspek yang lainnya. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, sejarah adalah gambaran masa lalu tentang aktivitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang disusun berdasarkan fakta dan interpretasi terhadap objek peristiwa masa lampau.

Sejarah Islam menurut Abuddin Nata adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam berbagai aspek. Dari sini, maka muncullah berbagai istilah yang biasanya digunakan untuk sejarah itu, di antaranya: Sejarah Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Pendidikan Islam.

Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

Dari pengertian sejarah dan pendidikan islam maka dapat dirumuskan pengertian tentang sejarah pendidikan islam atau tarihut Tarbiyah islamiyah dalam buku Zuhairini yaitu: keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya islam sampai dengan masa sekarang.

Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan operasionalisasi sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang.

Kemudian Dra. Hasbullah merumuskan bahwa sejarah pendidikan islam yaitu: Suatu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun opersinalisasi sejak zaman nabi Muhammad hingga saat ini

Sejarah Pendidikan Islam merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun operasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang ini.

Manfaat Sejarah Pendidikan Islam

Secara umum sejarah memegang peranan penting bagi kehidupan umat manusia. Hal ini karena sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta perkembangan kehidupan umat manusia. Sumber utama ajaran Islam (Al-Qur’an) mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejarahan yang langsung dan tidak langsung mengandung makna benar, pelajaran yang sangat tinggi dan pimpinan utama khususnya umat islam. Ilmu tarikh (sejarah) dalam islam menduduki arti penting dan berguna dalam kajian dalam islam. Oleh karena itu kegunaan sejarah pendidikan meliputi dua aspek yaitu kegunaan yang bersifat umum dan yang bersifat akademis14.

Sejarah pendidikan islam memiliki kegunaan tersendiri diantaranya sebagai faktor keteladanan, cermin, pembanding, dan perbaikan keadaan. Sebagai faktor keteladanan dapat dimaklumi karena al-Qur’an sebagai sumber ajaran islam banyak mengandung nilai kesejarahan sebagai teladan. Hal ini tersirat dalam Al-Qur’an :

Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu sekalian ….( Q.S. Al-Ahzab: 21)

Katakanlah: “jika kamu (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”……(Q.S. Ali-Imran:31)

…. Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (Q.S Al-A’raaf:158)

Berpedoman pada ayat diatas umat islam dapat meneladani proses pendidikan islam semenjak zaman kerasulan Muhammad saw, Khulafaur Rasyidin, ulama-ulama besar dan para pemuka gerakan pendidikan islam.

Dengan mengkaji sejarah akan bisa memperoleh informasi tentang pelaksanaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran, dan kebangkitan kembali tentang pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui segala sesuatu yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, intitusi, sistem, dan operasionalisnya yang terjadi dari waktu ke waktu, jadi sejarah pada dasarnya tidak hanya sekedar memberikan romantisme tetapi lebih dari itu merupakan refleksi historis. Dengan demikian belajar sejarah pendidikan islam dapat memberikan semangat (back projecting theory) untuk membuka lembaran dan mengukir kejaya dan kemajuan pendidikan islam yang baru dan lebih baik. Dengan demikian sejarah pendidikan islam sebagai study tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah pendidikan sudah barang tentu sangat bermanfaat terutama dalam rangka memberikan sumbangan bagi pertumbuhan atau perkembangan pendidikan.

 

Sebagai cermin ilmu sejarah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan bahwa tidak semua kagiatan manusia berjalan mulus terkadang menemukan rintangan-rintangan tertentu sehingga dalam proses kegiatannya mendapat sesuatu yang tidak diharapkan, maka kita perlu bercermin atau dengan kata lain mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian masa lampau sehingga tarikh itu bagi masa menjadi cermindan dapat diambil manfaatnya khususnya bagi perkembangan pendidikan islam.

Sebagai pembanding, suatu peristiwa yang berlangsung dari masa ke masa tentu memiliki kesamaan dan kekhususan. Dengan demikian hasil proses pembanding antara masa silam, sekarang, dan yang akan datang diharapkan dapat memberi andil bagi perkembangan pendidikan islam karena sesungguhnya tarikh itu menjadi cermin perbandingan bagi masa yang baru.

Sebagai perbaikan, setelah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan kita berusaha pula untuk memperbaiki keadaan yang sebelumnya kurang konstruktif menjadi lebih konstruktif.

Adapun kegunaan sejarah pendidikan islam yang bersifat akademis diharapkan dapat :

1.Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang.

2.Mengambil manfaat dari proses pendidikan islam, guna memecahkan problematika pendidikan islam pada masa kini.

3.Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan islam.

Selain itu sejarah pendidikan islam akan mempunyai kegunaan dalam rangka pembangunan dan pengembangan pendidikan islam. Dalam hal ini, sejarah pendidikan islam akan memberikan arah kemajuan yang pernah dialami sehingga pembangunan dan pengembangan itu tetap berada dalam kerangka pandangan yang utuh dan mendasar.

Pentingnya dalam Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam

Dari mengkaji sejarah kita dapat memperoleh informasi tentang pelaksaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran dan kebangkitan kembali dari pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui bagaimana yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, institusi, sistem, dan opersionalnya yang terjadi dari waktu ke waktu.

Dalam ajaran islam, pendidikan mendapatkan posisi yang sangat penting dan tinggi karena pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral (central attention) masyarakat. Pengalaman pembangunan di negara-negara sudah maju khususnya negara-negara di dunia Barat membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.

Tepatnya dikatakan oleh Ghulam nabi Saqib bahwa: Education may be used to help modernize a society, education, therefore is certainly the key to the modernization of muslim societies. Demikian juga tepat dapat dikatakan Jhon Dewey, pendidikan diartikan sebagai social continuty of life. Pendidikan juga diartikan: it mo knowly as transmission from some persons to others of the skills the arts and the science. Adapun Kant, mengartikan pendidikan sebagai care, discipline and instruction. Oleh karena itu, peranan pendidik sangat penting dan pendidikan hendaknya memenuhi kebutuhan masyarakat.