PERKEMBANGAN SEKTARIANISME DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM

copy-2-of-e-96

A. Pengertian Sektarianisme Dan Sebab-Sebabnya

Istilah Sektarianisme berasal dari kata ‘sekte’ yang berarti kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan yang sama dalam suatu agama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah sektarianisme dapat diartikan sebagai sebuah semangat membela suatu sekte atau mazhab, kepercayaan, atau pandangan agama yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut[1]. Dengan demikian, istilah sekte ini lebih cenderung kepada sebutan golongan, aliran, atau kelompok dalam suatu agama atau kepercayaan.

Sektarianisme adalah bigotri, diskriminasi, atau kebencian yang muncul sebagai akibat perbedaan di antara suatu kelompok, seperti perbedaan denominasi agama atau fraksi politik[2]. Fenomena sektarianisme ini merujuk pada aliran-aliran, yang muncul diakibatkan pada cara pandang atau perbedaan pemahaman tertentu, baik itu bersifat religius maupun dalam berpolitik. Seringkali nampak dalam sektarian melahirkan sikap atau perilaku yang antikomunikasi, reaksioner, amat emosional, tidak kritis, angkuh dan anti dialog yang akan menyebabkan seseorang atau sekelompok masyarakat membabi buta membela kelompoknya atau mahdzabnya.

Banyak hal yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran dalam Islam. Ada yang dilatar belakangi oleh kepentingan politik, pribadi, kelompok atau golongan. Secara garis besar, yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran atau sekte-sekte dalam Islam dari mulai awal perkembangannya hingga saat ini diantaranya adalah:

1. Adanya kepentingan kelompok atau golongan

Kepentingan kelompok atau golongan pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sebagai contoh timbulnya aliran seperti Syi’ah dan Khawarij yang penyebabnya penyebabnya sangat jelas, yaitu karena adanya kepentingan kelompok atau golongan, dimana Syi’ah dalam sejarahnya sangat berlebihan dalam mencintai dan memuja Ali bin Abi Thalib, sedangkan Khawarij sebagai kelompok yang sebaliknya, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan-kepentingan tersebut.

2. Pengaruh Dari Luar Islam

Ada kalanya penyebab timbulnya perpecahan ditubuh umat Islam yaitu pengaruh dari luar Islam, seperti golongan luar Islam yang menyusup menjadi orang Islam, contohnya seperti salah seorang Yahudi tulen yang mengaku Islam yaitu Abdullah bin Saba’ pada era Rasulullah SAW.

3. Mengedepankan Akal

Akibat dari mempertuhankan akal dalam memahami Islam, dapat memmbulkan perpecahan dikalangan umat Islam, seperti munculnya sekte Mu’tazilah yang juga disebut sebagai aliran selalu mengedepankan akal dalam memahami Islam.

4. Terpengaruh Paham Filsafat Yunani

Diterjemahkannya buku-buku karya para filosof Yunani pada era Bani Abbasiyah, disamping banyak membawa manfaat juga ada sisi negatifnya bila ditangan kalangan yang tidak punya pondasi yang kuat tentang aqidah dan syari’at Islam. Seperti paham Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh paham filsafat Yunani.

5. Termasuki Doktrin Paham Orientalisme

Syaikh Ghalib bin Ali Iwaji menambahkan beberapa hal yang melatarbelakangi timbulnya firqah-firqah dalam Islam diantaranya adalah:

a. Adanya orang yang mengaku Ulama, namun beraqidah menyimpang dan aqidah Islam.

b. Kebodohan yang merajalela yang timbul dikalangan umat Islam.

c. Tidak memiliki standar pemahaman yang benar dalam memahami Islam.

d. Adanya perbedaan pendapat yang didasari oleh hawa nafsu, seperti demi kepentingan politik, golongan, organisasj, pribadi atau aliran tertentu.

e. Timbulnya fanatik golongan atau Madzhab secara berlebihan.

6. Adanya kedengkian terhadap sesama Muslim.

7. Adanya sikap mempertuhankan akal dan menomorduakan Al-Qur’an dan Hadits

8. Akibat adanya pengaruh internal yang memicu timbulnya aliran-aliran[3].

B. Sejarah dan Perkembangan Sektarianisme Dalam Islam

Fenomena munculnya aliran-aliran dalam Islam ini tidak terlepas dari sejarah penyebab lahirnya sektarianisme ini.

1. Masa Rasulullah

H.R. Gibb dalam A. Djazuli memandang peran Muhammad setidaknya menggunakan dua periode besar, yakni periode Makkah dan periode Madinah. Dalam periode Makkah, kedudukan Muhammad disebutnya sebagai Nabi atau Rasul semata sebagaimana Isa. Ia tidak pernah memaklumkan sebuah komunitas baru dengan segala prinsip-prinsipnya. Ia juga tidak melakukan usaha-usaha proteksi dengan kekuatan senjata meski ia dipojokkan. Tidak pernah ditemukan sebuah konflik politik yang besar, yang kemudian memungkinkan terjadinya perang antara kaum Muhammad dengan kaum Arab lainnya. Bahkan dipandang dalam kehidupan di Makkah ini, Muhammad sebagai seorang Nabi tidak membedakan antara umat beriman dengan tidak beriman[4].

Sedangkan dalam periode Madinah, fungsi dan peran kenabian dari Muhammad berubah fungsi menjadi seorang raja. Dalam pandangan Gibb pula, Muhammad menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin Islam dari komunitas masyarakat Islam yang khas. Ia tidak hanya menjalankan peran kenabian akan tetapi lebih menjalankan tugas seorang raja yang mengatur suatu komunitas[5]. Lebih lanjut Al-Mubarakfuri mengemukakan, kehidupan di Madinah semenjak Muhammad menjadi seorang kepala Negara, ia berusaha mengaktualisasikan wahyu yang diterimanya dalam wujud Piagam Madinah, perjanjian antara umat Islam dengan elemen masyarakat Madinah di bawah kekuasaan Islam. Isi dari perjanjian itu sangat monumental sepanjang sejarah Islam, yaitu usaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Hal ini dimaksudkan agar fanatisme jahiliyah menjadi cair dan tidak ada yang dibela kecuali Islam. Dan juga perbedaan-perbedaan keturunan, ras, warna kulit, dan daerah tidak mendominasi agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan yang lain lebih rendah kecuali karena ketakwaannya[6]. Pertautan persaudaraan antara saudara muslim serta masyarakat Madinah secara umum inilah yang merupakan usaha yang benar-benar mampu memecahkan banyak persoalan yang terjadi semenjak era beliau, salah satunya ialah menanggulangi munculnya aliran-aliran/sekte-sekte yang berusaha merusak persaudaraan Islam.

2. Masa Khulafaur Rasyidin

Persoalan politik pertama dihadapi kaum muslimin adalah pada saat setelah Nabi wafat. Sebelum wafat, beliau tidak menentukan siapa penggantinya, sehingga dikenal berbagai mekanisme penetapan kepala Negara dan berbagai kriteria yang sesuai sosiohistoris yang ada. Pada akhirnya sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ditetapkan sebagai khalifah penggantri Rasulullah saw berdasarkan “pemilihan suatu musyawarah terbuka”. Kemudian khalifah kedua, Umar bin Khattab, melewati “penunjukkan oleh kepala Negara pendahulunya”. Begitu pula halnya dengan khalifah ketiga dan keempat, Utsman bin Affan, yang berdasarkan “pemilihan dalam suatu dewan formatur”, dan Ali bin Abu Thalib melalui musyawarah dalam pertemuan terbuka[7].

Pada saat dilantiknya Abu Bakar sebagai khalifah pertama, sebagaimana dikemukakan Khudari Bek yang dikutip A. Hasimy, pada masanya sering terjadi pemberontakan yang dilakukan beberapa suku Arab terhadap Islam[8]. Maka disinilah timbul pertama kali perpecahan di kalangan umat Islam. Untuk menghadapi kaum pemberontak ini, khalifah mempersiapkan beberapa pasukan untuk menghadapi pasukan pemberontak dan memukul lumat mereka sehingga dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian persatuan umat Islam di Arab pulih kembali.

Gejolak terbesar dan paling massif dalam perpecahan di kalangan umat Islam terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib. Sebagai akibat dari suatu pergolakan politik antara Ali bin Abu Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka lahirlah golongan atau sekte yang muncul pertama kali terhadap masing-masing pihak. Masing-masing golongan yang berseteru tersebut memiliki basis kekuatan yang besar dengan jumlah pengikut yang banyak. Maka tidaklah aneh bila secara politis, dua kekuatan ini bukannya menjadi padam tapi justru malah bertambah dahsyat. Pada masa ini muncul tiga aliran politik yang dikenal sering berseteru: pertama golongan Syi’ah, yaitu para pengikut Ali yang hingga kini masih eksis, kemudian golongan Murji’ah yang lebih cenderung memihak Bani Umayyah, dan golongan Khawarij yang secara terang-terangan menganggap golongan Syi’ah dan Murji’ah telah keluar dari agama mereka. Untuk itulah pada saat itu dalam dunia Islam sedang mengalami kegoncangan yang besar sekali, dan konflik ini masih tetap berlanjut hingga masa setelahnya, yakni masa Bani Umayyah[9].

Awalnya munculnya aliran-aliran itu membahas persoalan politik, namun lambat laun persoalan tersebut berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah yang akhirnya memunculkan aliran-aliran baru yang memusatkan diri pada permasalahan teologis.

3. Masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, timbullah masa dinasti yaitu kekuasaan yang dipegang oleh keturunan Umayyah dan kemudian keturunan Abasiyah. Pada masa Abbasiyah, dunia Islam dipegang oleh beberapa dinasti dalam wilayahnya masing-masing: dinasti Abbasiyah di Baghdad, dinasti Umayyah di Andalusia, dan dinasti Fathimiyyah di Mesir.

Pada masa Nabi tercermin prinsip-prinsip politik dari adanya piagam Madinah yang dipegung teguh oleh para Khulafaur Rasyidin. Prinsip-prinsip itu berupa: persatuan, persamaan, keadilan, perdamaian, musyawarah, kemanusiaan, kejujuran dan pemimpin sebagai abdi masyarakat. Tetapi pada masa setelahnya, prinsip-prinsip itu tergeser sehingga kekuasaan yang menjadi panglima dan bukan hukum menjadi panglima dengan perebutan kekuasaan. Akhirnya tergambarkan dari keruntuhan kekuasaan Abbasiyah dan Umayyah[10].

Pada masa Bani Umayyah, kondisi wilayah Islam kembali stabil, rakyat kembali merasa aman dan tenang pasca terjadinya konflik pada masa Ali bin Abu Thalib. Kekuatan militernya bertambah kuat dan wilayah kekuasaannya semakin luas. Hanya saja di wilayah Irak (termasuk Kufah, Bashrah, dan sekitarnya) sering terjadi gejolak dan fitnah yang dilakukan oleh golongan Syi’ah, namun masih dapat diatasi oleh pemerintah Umayyah[11]. Begitu pula dengan kelompok Khawarij yang merupakan duri bagi pemerintahan Bani Umayyah. Khawarij terus-menerus mengganggu dan berusaha untuk tetap memeranginya, seperti di daerah Irak (dekat Bashrah) dan di Jazirah Arab (Hadramaut, Yaman, Tha’if). Pemerintahan Umayyah tidak mampu memberantas kelompok ini, namun pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, basis kekuatan kelompok ini lambat laun menurun dan berkurang[12].

Sistem pemerintahan yang dijalankan ialah sistem kerajaan berupa pewarisan tahta kepada putra mahkota, namun sebagaimana dituturkan Ibnu Khaldun, Mu’awiyah melakukan hal tersebut karena selain merupakan tokoh Quraisy yang paling disegani, ia juga ingin menjaga keutuhan dan persatuan umat dengan cara ini, yang itupun melalui persetujuan dewan tinggi (ahlul hill wal aqd)[13]. Sistem pewarisan putra mahkota ini tetap terus berlanjut hingga berakhirnya masa kekuasaan Bani Umayyah.

Setelah kekuasaan Bani Umayyah berakhir, periode kekuasaan Islam dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Pada masa ini, Islam berada pasa masa keemasannya, baik secara politik, militer, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan[14]. Pada aspek teologis, muncul aliran-aliran baru yang merupakan kelanjutan dari aliran-aliran yang muncul pada masa Ali bin Abu Thalib dan awal Bani Umayyah. Aliran tersebut antara lain Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Aliran-aliran ini muncul sebagai akibat perkembangan pemikiran teologis yang dibawa oleh pemikiran Yunani, yang pada akhirnya membawa pemikiran rasional dalam Islam. Munculnya tokoh-tokoh seperti Abu Al-Huzail Al-Allaf (135-235 H/752-849 M, perumus pemikiran aliran Mu’tazilah) dan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (873-935 M, pendiri aliran Asy’ariyah) membawa nafas baru di bidang teologi Islam. Begitupun di bidang keagamaan, banyak mujtahid bermunculan yang mengeluarkan pendapatnya serta mendirikan mazhab-mazhab. Namun karena pengikutnya tidak berkembang, sebagian besar mazhab-mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman, kecuali empat mazhab yang masih dikenal dan dianut oleh umat Islam seluruh dunia sampai saat ini[15].

4. Pada Pertengahan Abad Kedua Puluh

Pada masa ini terjadi dekolonisasi Negara-negara muslim yang terpisah satu sama lain akibat imperialisme yang dilakukan Negara-negara Barat/Eropa. Banyak Negara-negara Islam mulai memerdekakan diri, yang umumnya negeri-negeri Islam yang merdeka ini dipimpin oleh pimpinan yang terdidik secara barat.

Dunia Islam dewasa ini dilihat dari pelaksanaan siyasah syar’iyyah (politik Islam) dapat dibagi menjadi 3 tipe :

a. Negara yang melaksanakan hukum Islam secara penuh (pola integralistik)

b. Negara yang menolak hukum Islam secara penuh (pola sekuleristik)

c. Negara yang tidak menjadikan sebagai suatu kekuatan struktural (dalam sektor politik) tetapi menempatkannya sebagai kekuatan kultural atau mencari kompromi (pola simbiostik)[16].

Pemikiran tokoh-tokoh dalam politik Islam dapat dikategorikan menjadi dua periode, yakni periode pra modern dan modern. Kedua masa itu pada hakikatnya para pemikir politik Islam bergulat pada upaya untuk mencari basis intelektual dari hubungan politik dan Islam.

a. Pada masa pra modern pemikiran politik Islam dipengaruhi oleh pemikiran yunani, melalui kajian filsafat.

b. Sedangkan pada masa modern pengaruh politik barat terhadap politik Islam sudah masuk melalui imperalisme[17].

Dikalangan Umat Islam sampai sekarang terdapat tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan politik.

a. Aliran pertama, berpendapat bahwa Islam bukan semata-mata agama dalam pegertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Tokoh utama aliran ini antara lain Syekh Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Rasyid Ridla dan Abul A’la al-Maududi.

b. Aliran kedua, berpendapat bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Muhammad hanyalah seorang Rasul biasa seperti halnya Rasul-rasul yang lain, dengan tugas utama mengajak (dakwah) manusia kepada jalan Tuhannya dengan menjunjung tinggi nilai moral, dan Nabi tidak dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai suatu negara. Pendapat ini dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer diwakili oleh seorang ulama Mesir, Ali Abd ar-Raziq, dalam risalahnya yang sangat ramai diperdebatkan, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan), pernah mengemukakan bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul dan juru dakwah, bukan seorang pemimpin negara.

c. Aliran ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Tetapi aliran ini pula menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian sekuler yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Aliran ini berpendapat bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Salah satu tokoh yang mendukung pendapat ini diantaranya adalah Mohammad Husein Haekal, Fazlur Rahman dan di Indonesia tokohnya Nurcholish Madjid[18].

C. Profil Masing-Masing Sekte atau Aliran Dalam Sejarah Islam

Sektarianisme dalam Islam ini cukup banyak. Namun bila dikelompokkan, secara garis besar menurut beberapa pakar sejarah, aliran-aliran tersebut diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni aliran politik dan aliran kepercayaan (aqidah). Masing-masing dari aliran tersebut akan diulas secara rinci sebagai berikut:

  1. Aliran Politik

Pada masa Nabi SAW dan para Khulafaur Rasyidin, umat Islam bersatu. Mereka berada pada satu aqidah, satu siyasah, satu politik, satu akhlaqul karimah. Apabila terjadi perselisihan pendapat di antara kaum muslimin masih dapat diatasi dengan wahyu. Meski begitu benih-benih perpecahan sudah dimulai pada zaman Nabi saw, yakni munculnya Abdullah bin Ubay, seorang munafik yang berusaha memecah belah Umat Islam di Madinah[19]. Kemudian perselisihan ini muncul kembali dengan hadirnya figur seperti sosok Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi) pada pemerintahan Utsman bin Affan dan berlanjut pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib[20].

Cikal bakal munculnya aliran politik ini bermula pada masa khalifah Utsman bin Affan. Pada masa itu, terjadi perselisihan yang dilatarbelakangi oleh kepentingan kelompok yang mengarah pada peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman. Kemudian kepemimpinan umat Islam digantikan oleh Ali bin Abu Thalib. Pada masanya, permasalahan umat Islam masih tetap berlanjut dan kondisinya pun semakin kacau, hingga pada puncaknya terjadilah perang Jamal antara Khalifah Ali dengan Aisyah yang terjadi pada tahun 36 H. Namun perang ini dapat diselesaikan oleh khalifah. Kemudian muncul perang Shiffin, antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang terjadi pada tahun 37 H. Bermula dari sinilah awal perpecahan umat Islam benar-benar tampak. Di saat pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Amr bin Ash nyaris mengalami kekalahan, kemudian Amr mengangkat al-Qur’an sebagai isyarat perdamaian. Usulan ini kemudian diterima sehingga terjadilah perundingan (tahkim). Hasilnya, Ali diturunkan dari jabatannya dan Muawiyah diangkat menjadi Khalifah. Dari sinilah muncul aliran politik yang pertama kali, yakni Syi’ah, Khawarij, dan Murji’ah[21].

Persoalan awal dari perpecahan ini sebenarnya bukan terletak pada ambisi politik dari Mu’awiyah untuk meraih jabatan yang lebih tinggi, melainkan karena adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mu’awiyah sebagai gubernur Damaskus pada saat itu bermaksud untuk melawan Ali bin Abu Thalib bukan karena ingin merebut kekuasaan atau menginginkan jabatan khalifah, namun karena ingin menuntut dijatuhkannya qishash bagi pembunuh Utsman. Namun bagi Ali, ia bukan bermaksud mengulur-ulur waktu dalam mengusut dan menjatuhkan hukuman bagi pembunuh Utsman, tapi masih ada permasalahan lain yang jauh lebih besar dan segera dituntaskan, seperti munculnya kaum pemberontak yang masih menguasai Kota Madinah di kala itu[22].

Begitu halnya dengan Aisyah, isteri Nabi saw yang terlibat dalam perang Jamal. Semuanya tidak lepas dari persoalan politik. Ketika Ali telah dibaiat sehari setelah Utsman terbunuh di Madinah. Semua sahabat membaiatnya, demikian juga Thalhah dan Zubair yang membaiatnya dengan terpaksa dan bukan dengan kerelaan. Mereka pergi ke Bashrah untuk menunutut mati pembunuh Utsman. Ali mendengar kabar ini dan menyusulnya hingga menemui mereka semua. Disinilah terjadinya Perang Jamal. Pada peperangan ini Thalhah dan Zubair serta beberapa orang lainnya terbunuh. Peperangan ini menelan tiga belas ribu jiwa dan meraka itu adalah kaum muslimin.[23] Peristiwa ini merupakan salah satu pertentangan antarkelompok sehingga penumpahan darah pertama yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Peperangan inilah kemudian pada akhirnya membagi umat Islam ke dalam kelompok besar atau aliran politik yang menjurus kepada sektarianisme yang cukup kuat.

Adapun profil masing-masing aliran (sekte) dalam aspek politik ini akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Sekte Syi’ah

Secara bahasa, kata ‘Syi’ah’ berarti pengikut. Dalam perkembangannya, istilah ‘Syi’ah’ ini dipakai oleh kalangan umat Islam sebagai kaum yang beri’tiqad bahwa Ali bin Abu Thalib adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi[24]. Sedangkan menurut Asy-Syahrastani, sekte Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abu Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui nash (wahyu) dan wasiat dari Nabi, baik secara terang-terangan maupun secara eksplisit. Mereka juga beranggapan bahwa imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalur keturunan Ali[25].

Secara historis, aliran atau sekte ini berawal dari sebuah pendapat yang muncul dari kalangan sahabat pada saat Nabi saw wafat dan segera digantikan posisi beliau dalam kepemimpinan Islam, bahwa Ali bin Abu Thalib lah yang lebih utama memegang kepemimpinan umat Islam bila dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka yang berpendapat demikian ialah Ammar, Abu Dzar, Salman Al-Farisi, Jabir bin Abdullah, Al-Abbas dan anaknya, Ubay bin Kaab, Huzaifah, dan lainnya[26].

Namun aliran ini baru menampakkan diri setelah terjadinya proses perundingan (tahkim) antara Ali dengan Mu’awiyah pasca perang Shiffin. Pada saat proses tahkim ini, ternyata tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Umat Islam terpecah menjadi tiga aliran, salah satunya adalah Syi’ah (pengikut Ali). Bagi kaum Syi’ah, jabatan kepala negara bukanlah hak tiap orang Islam, dan bukan hak setiap orang Quraisy, tetapi adalah hak monopoli Ali bin Abu Thalib dan keturunannya. Mereka tidak mengakui kepemimpinan khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), dan mereka juga tidak mengakui kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah[27].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Syi’ah dari segi politik antara lain:

1) Pangkat khalifah pengganti Nabi setelah Nabi wafat diwarisi oleh ahli waris Nabi dengan jalan penunjukan langsung dari Nabi. Siapa saja yang tidak menerima paham ini adalah orang yang tidak mau menuruti wasiat Nabi dan termasuk orang yang terkutuk.

2) Khalifah atau ‘imam’ (menurut istilah Syi’ah) adalah pangkat yang tertinggi dalam Islam. Artinya, pangkat khalifah itu tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada pilihan rakyat, melainkan harus ditunjuk terlebih dulu oleh Nabi dan imam-imam yang lain yang ditunjuk pula oleh Imam itu. Adapun orang-orang yang memilih khalifah dengan jalan Syura (musyawarah) adalah orang-orang yang berdosa.

3) Khalifah atau imam adalah ma’shum keberadaannya, artinya tidak pernah berbuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan dikritik karena ia adalah pengganti Nabi yang sama kedudukannya dengan Nabi.

4) Khalifah atau imam masih mendapat wahyu dari Tuhan walaupun tidak dengan perantaraan jibril, dan wahyu yang dibawanya tersebut wajib ditaati[28].

b. Sekte Khawarij

Secara bahasa, kata ‘Khawarij’ berarti keluar, artinya kaum atau sekte yang keluar dari Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan[29]. Menurut Asy-Syahrastani, istilah ‘Khawarij’ ini dipergunakan untuk menyebut kelompok yang memberontak dan tidak mengakui keabsahan imam yang sah, baik pada zaman sahabat (empat orang khalifah pilihan), atau pada masa tabi’in atau terhadap imam-imam yang sah sepanjang masa[30].

Dalam sejarah, aliran Khawarij ini dimulai sejak terjadinya perundingan (tahkim) antara Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan pasca peperangan Shiffin. Mereka ingin berunding untuk menyelesaikan perkara tersebut secara damai antara kedua belah pihak. Dari sinilah timbul perpecahan (salah satunya Khawarij). Khawarij tidak bisa menerima tahkim karena mereka merasa bahwa Ali bin Abu Thalib adalah khalifah yang sah pada saat itu, dan sebaliknya mereka menyalahkan Ali karena menerima tahkim tersebut dan menuduhnya sebagai kafir[31].

Adapun intisari pemahaman-pemahaman Khawarij dari segi politik antara lain:

1) Pengangkatan khalifah-khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, begitu pula dengan pengangkatan Ali bin Abu Thalib yang juga sah hingga terjadi persitiwa tahkim. Semenjak itulah kedudukan Ali sebagai khalifah gugur.

2) Kekhalifahan adalah haknya seluruh kaum muslimin, baik merdeka maupun budak asalkan mampu dan adil[32].

c. Sekte Murji’ah

Secara bahasa, kata ‘Murji’ah’ berasal dari kata irja’ yang berarti menangguhkan. Jadi kaum Murji’ah dapat diartikan sebagai kaum yang menangguhkan[33]. Maksud dari penangguhan ini menurut Asy-Syahrastani, ialah penundaan kepemimpinan Ali bin Abu Thalib dari yang pertama menjadi yang keempat. Sesuai dengan pengertian ini, maka sekte Murji’ah adalah lawan dari sekte Syi’ah[34]. Sedangkan menurut Ahmad Amin, istilah Murji’ah ini dialamatkan pada upaya penangguhan yang dilakukan golongan ini terhadap persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukumnya bagi golongan yang berselisih ini[35]. Penjelasan lebih lanjut tentang pendapat Ahmad Amin mengenai Murji’ah ini akan dijelaskan pada bab aliran kepercayaan.

Dari sini dapat diketahui bahwa golongan Murji’ah ini adalah golongan politik yang tidak mau mengotori tangan mereka dengan berbagai fitnah meski secara politik nampaknya lebih cenderung memihak kepada Mu’awiyah dalam perundingan tahkim. Mereka tidak mau menentukan kesalahan atau kebenaran dari salah satu golongan yang berselisih (Syi’ah dan Khawarij). Golongan Khawarij mengkafirkan Ali dan Utsman serta orang-orang penyokong tahkim, sementara Syi’ah mengagung-agungkan Ali dan keturunannya namun mangkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Namun untuk Murji’ah tidak mau terlibat dalam hal tersebut[36].

Adapun intisari dari pemahaman Murji’ah secara politis ialah tidak mau menyalahkan orang lain. Mereka tidak mau mencampuri persoalan seolah-olah mereka hanya mau ‘berpangku tangan’ atau pasif saja. Mereka hanya menjawab bahwa persoalan tersebut ditangguhkan sampai di hadapan Tuhan, nama yang benar dan mana yang salah[37].

  1. Aliran kepercayaan (Aqidah/Teologi)

Dalam kaitannya dengan teologi Islam, aliran kepercayaan ini lebih disebut dengan aliran kalam. Kajian ini dalam disiplin ilmu agama dimasukkan ke dalam ilmu kalam. Menurut Ibnu Khaldun seperti yang dikutip A. Hanafi, ilmu kalam ini mengulas beberapa alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah[38].

Di masa Nabi Muhammad umat Islam belum mengenal namanya teologi. Karena sumber penyelesaian segala permasalahan masa di tangan Nabi. Setelah wafatnya Nabi barulah mulai muncul sedikit permasalahan yang penyelesaiannya agak rumit. Persoalan pertama itu adalah masalah politik, siapa yang akan menggantikan Nabi. Namun persoalan ini masih dapat diselesaikan dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah. Hingga di zaman Umar bin Khattab persoalan teologi belum muncul. Hingga pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, aliran kepercayaan/teologi ini muncul sebagai simbol pertama perpecahan di kalangan umat Islam. Berangkat dari permasalahan politik waktu itu yang kemudian berangsur-angsur membahas masalah kepercayaan yang menyangkut aqidah. Jadi, persoalan-persoalan yang terjadi dalam masalah politik sebagaimana digambarkan di atas inilah pada akhirmya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi, seperti persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam islam, kedudukan umat Islam di akhirat, dan lain sebagainya.

Adapun beberapa aliran yang muncul pada aspek teologis/kepercayaan masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.

a. Aliran Khawarij

Kelompok ini pada awalnya adalah suatu aliran kelompok yang memberontak terhadap imam yang sah pada saat itu, yakni Ali bin Abi Thalib. Lebih tepatnya ialah kelompok yang tidak sepakat dengan tahkim yang diusulkan oleh kelompok Muawiyah. Pada awalnya, kelompok ini membela dan membantu Ali dalam pertempuran Shiffin melawan Mu’awiyah. Namun mereka merasa tidak puas terhadap gencatan senjata hingga melahirkan tahkim yang diputuskan antara kedua belah pihak. Mereka yang tidak puas itulah akhirnya keluar dari pasukan Ali dan membentuk kelompok Khawarij ini. Tokoh Khawarij pertama dari pergolakan ini ialah Al-Asy’asy bin Qais Al-Kindi, Mas’ar bin Fudaki At-Tamami, dan Zaid bin Husain Ath-Thai[39].

Kelompok ini beranggapan bahwa genjatan senjata dengan cara tahkim adalah tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam hukum Islam karena hukum Allah sudah sangat jelas. Bagi Khawarij, berperang melawan pemberontak (maksudnya Mu’awiyah) mereka yakini itulah yang benar, dan golongan ini menuntut agar Ali mengakui kesalahan dan kekafirannya karena menerima perundingan dengan Mu’awiyah. Begitu kerasnya keyakinan Khawarij ini sehingga melahirkan semboyan ‘Laa hukma illallaah’ (tidak ada hukum kecuali dari Allah)[40].

Khawarij dianggap sebagai kelompok politik pertama yang kemudian memunculkan persoalan teologi yakni tuduhan siapa yang kafir di kalangan kaum muslimin. Mereka memandang bahwa orang yang berdosa besar telah berubah menjadi kafir. Orang-orang yang terlibat dan menyetujui perundingan pascaperang Shiffin adalah orang-orang berdosa besar. Kelompok inilah menganggap hanya dirinya yang benar, sehingga Ali dan Muawiyah harus dibunuh. Dan hal itu terwujud pada Ali yang berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (salah satu pengikut Khawarij), namun untuk Muawiyah tidak berhasil[41].

Di antara paham-paham yang melekat dan menjadi ciri khas kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1) Kelompok ini sangat keras dalam hal iman dan kufur. Mereka lekas-lekas menuduh ‘kafir’ dan halal darah serta hartanya bagi orang-orang di luar kelompoknya atau lawan-lawan politiknya. Bahkan Ali bin Abu Thalib, Mu’awiyah (Gubernur Damaskus yang menjadi rivalnya Ali saat perang Shiffin), dan Aisyah binti Abu Bakar (yang merupakan lawan Ali saat perang Jamal) juga dicap sebagai kafir.

2). Iman menurut Khawarij, bukan hanya pengakuan dari dalam hati dan ucapan dengan lisan saja, tapi amal ibadah menjadi rukun iman pula. Maka dari sini menurut pemahaman Khawarij, orang yang tidak shalat, zakat, puasa, dan haji maka orang itu telah kafir.

3). Pelaku dosa, baik besar maupun kecil sekalipun pelaku tersebut seorang mukmin adalah kafir, wajib diperangi, dan boleh dibunuh serta dirampas hartanya.

4). Anak kecil yang orang tuanya kafir, bila mati maka statusnya juga kafir karena mengikuti ibu bapaknya[42].

b. Aliran Murji’ah

Nama ‘Murji’ah’ ini mencuat setelah dari kelompok Khawarij menyatakan pernyataannya dalam hal teologi (iman dan kufur), sehingga kemunculannya seringkali disandingkan dengan Khawarij. Bahkan bisa diibaratkan, bila tidak ada persoalan politik (kepemimpinan/khalifah), maka tidak ada Khawarij. Bila tidak ada Khawarij maka tidak ada pula Murji’ah dan Syi’ah[43].

Kelompok ini dipelopori oleh Jaham bin Shafwan, yang berusaha bersikap netral atas persoalan yang mendera umat Islam pada masa itu, tepatnya pada masa Ali. Secara teologis, kelompok ini menyatakan bahwa orang Muslim yang melakukan dosa sebesar apapun tidak boleh dihukumi kafir selama dia masih tetap muslim[44]. Maka dari itu, Ahmad Amin menuturkan bahwa kelompok ini dinamai Murji’ah sebab mereka menangguhkan persoalan golongan-golongan yang berselisih yang telah banyak menumpahkan darah umat sampai hari pembalasan nanti. Mereka tidak menentukan hukum bagi orang atau golongan yang berselisih ini, apakah ia berubah menjadi kafir ataukan tidak[45].

Adapun beberapa paham yang menjadi keyakinan kelompok Khawarij dalam hal aqidah antara lain:

1). Iman itu adalah mengenal Tuhan dan para Rasul-Nya. Bila seseorang sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup untuk menjadi seorang yang mukmin.

2). Orang yang telah beriman di dalam hatinya, percaya pada Tuhan dan Rasul-Nya meski kelihatan menyembah berhala atau mengerjakan dosa-dosa besar, orang ini masih dianggap mukmin.

3). Seperti pada sebutannya, Murji’ah yang berarti memberi tangguh, mereka berusaha menangguhkan orang yang bersalah/berdosa sampai ke hadapan Tuhan pada hari kiamat. Tidak ada balasan dari Tuhan di dunia[46].

Beberapa paham Murji’ah di atas seolah-olah bertentangan dan saling berseberangan dengan paham yang diyakini Khawarij. Tetapi memang begitulah bila dilihat dari sudut pandang historis bahwa keberadaan aliran Murji’ah ini adalah sebagai bentuk perlawanan teologis terhadap apa yang diyakini Khawarij yang sangat ekstrem dan keras.

c. Aliran Qadariyah

Qadariyah berakar pada ‘qadara’ yang dapat berarti memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan. Sedangkan sebagai aliran, Qadariyah adalah nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. Dalam paham Qadariyah, manusia dipandang mempunyai gudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar atau qada Tuhan. Aliran Qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya.

Aliran yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani. Ia berpandangan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam menentukan hidupnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia menentukan segala perbuatan yang dia inginkan.

d. Aliran Jabariyah

Nama Jabariyah berasal dari kata ‘jabara” yang mengandung arti memaksa. Paham Jabariyah disebut fatalisme atau predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia ditentukan sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan. Dengan demikian posisi manusia dalam paham ini tidak memilki kebebasan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Dalam sejarah tercatat, aliran Jabariyah ini dibawa oleh Ja’ad bin Dirham. Selanjutnya aliran ini mengembangkan pahamnya sejalan dengan perkembangan masyarakat pada masa itu.  Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Jabariyah ini mengajarkan paham bahwa manusia dalam melakukan perbuatannya berada dalam keadaan terpaksa. Manusia dianggap tidak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

Golongan ini sangat berlawanan dengan paham Qadariyah, karena manusia dianggap tidak mempunyai kehendak. Perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Tuhan. Golongan yang diprakarsai oleh Jahm bin Safwan (penggagas paham Murji’ah) ini, bahkan menyalahkan Tuhan atas perbuatan dosa manusia. Di mana hal itu sudah menjadi setingan Tuhan. Manusia tinggal menjalankan skenario yang telah ada tersebut.

e. Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah adalah aliran pemikiran Islam yang terbesar yang memegang peranan penting dalam konseptualisasi teologi Islam. Aliran ini lahir kurang lebih pada permulaan abad kedua hijriyah di kota Basrah, yang pada saat itu menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam. Di kota ini pula dijadikan tempat perpaduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama[47].

Munculnya golongan ini benar-benar membawa sejarah baru dalam konsep teologi Islam yang berpegangan kepada konsep rasionalitas. Aliran  Mu’tazilah ini dipelopori oleh Washil bin Atha’ Al-Ghazal Al-Farisi (wafat 131 H). Browne dalam bukunya Literature History of Persia’ seperti yang dikutip A. Hasimy, Washil bin Atha’ adalah salah satu murid dari Hasan Al-Basri, seorang ulama hukum Islam terkenal. Ia berselisih paham dengan gurunya ketika dihadapkan pada persoalan apakah masih mukmin ataukah sudah kafir bila seseorang telah melakukan kejahatan besar, dan juga persoalan-persoalan yang lain seperti al-Qadar. Karena paham yang bertentangan dengan gurunya lah akhirnya Washil disuruh memisahkan diri dari majelis pengajiannya. Setelah berpisah dengan gurunya, maka ia mendirikan suatu aliran baru dan menyebarluaskan pahamnya kepada murid-muridnya[48].

Prinsip-prinsip teologis Mu’tazilah terhimpun dalam apa yang disebut Al-Ushul Al-Khamzah atau “pokok-pokok yang lima” yaitu Keesaan tuhan (At-Tauhid), keadilan tuhan (Al-Adl), Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid), Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin), dan Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)[49]. Beberapa prinsip dari aliran Mu’tazilah akan dijelaskan sebagai berikut:

1). Keesaan tuhan (At-Tauhid)

Tauhid adalah dasar Islam yang pertama dan utama. Hanya saja aliran Mu’tazilah menafsirkannya secara khusus dan sedemikian rupa sehingga dapat dipertahankan dengan sungguh-sungguh. Untuk itu dalam sejarah Islam, aliran ini dikenal sebagai ahli tauhid.

Menurut aliran Mu’tazilah, Allah tidak mempunyai ‘sifat azali’ seperti ilmu, qudrah, iradah, hayat, sama’, dan bashar yang bukan Dzatnya, tetapi Allah itu ‘alim, qadir, hayyun, sami’un, dan bashirun dengan Dzatnya, dan sama sekali tidak ada sesuatu sifat yang bukan Dzatnya.

2). Keadilan tuhan (Al-Adl)

Dasar keadilan ialah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia dan tidak menghendaki keburukan. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan juga menjauhi larangan-larangan-Nya karena qudrah-Nya yang ada pada diri mereka.

Dengan dasar keadilan ini mereka menolak pendapat aliran Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia dalam segala perbuatannya tidak mempunyai kebebasan, bahkan menganggap suatu kedzaliman bila Tuhan menjatuhkan siksa karenanya.

3). Janji dan ancaman (Al-Wa’d Wal Waid)

Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip keadilan (Al-Adl) yang ada pada keyakinan Mu’tazilah. Mu’tazilah meyakini bahwa Allah akan melaksanakan janji dan ancamannya. Allah berjanji akan memberikan pahala bagi orang yang berbuat baik, dan Allah tidak akan memberi ampun dan akan memberikan siksa kepada orang yang berbuat jahat kecuali dengan taubat. Kalau itu tidak dilaksanakan, maka mustahil Allah bersifat adil.

Prinsip ini mengisyaratkan bahwa siapapun yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan yang berupa pahala, dan siapa yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatan yang berupa murka dan siksa-Nya. Dengan demikian, prinsip ini bertolakbelakang dengan keyakinan aliran Murji’ah. Bila keyakinan Murji’ah ini dibenarkan, maka menurut aliran Mu’tazilah, ancaman Tuhan tidak ada artinya sama sekali sehingga dianggap Tuhan tidak adil.

4). Posisi diantara dua tempat (Al-Manzilah Bainal Manzilatin)

Prinsip ini sangat menarik yang karena keyakinan inilah, Washil memisahkan diri dengan gurunya, Hasan Basri. Mu’tazilah memiliki keyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan kejahatan besar statusnya bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan fasik. Orang yang fasik berada pada tempat tersendiri, yakni di antara iman dan kafir. Maka dalam hal ini, Mu’tazilah mengambil jalan tengah dengan menggunakan pola prinsip rasionalis – etis – filosofis yang dibawa oleh Plato dan Aristoteles, yaitu pengambilan jalan tengah antara dua ujungnya yang berlebih-lebihan.

Berangkat dari upaya ini, maka akhirnya Mu’tazilah membagi perbuatan maksiat kepada dua bagian, yaitu besar dan kecil. Untuk maksiat besar dibagi menjadi dua: maksiat yang sampai merusak dasar agama (contohnya syirik) sehingga menyebabkan pelakunya menjadi kafir, dan maksiat yang tidak sampai merusak dasar agama (contohnya dosa-dosa besar selain syirik) sehingga tidak menjadikan pelakunya kafir, melainkan hanya fasik. Sehingga dari pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa sikap aliran Mu’tazilah berada diantara sikap Khawarij dan Murji’ah.

5) Amar ma’ruf nahi munkar (Al-Amr bil Ma’ruf Wan Nahy ‘anil Munkar)

Prinsip ini lebih banyak berhubungan dengan taklif dan lapangan fiqih daripada lapangan kepercayaan atau tauhid, yakni kewajiban menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Prinsip ini harus dijalankan oleh setiap orang Islam dalam menyebarluaskan ajaran agamanya dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat. Dalam praktiknya, aliran Mu’tazilah sangat konsisten dalam memegang teguh prinsip ini. Dibuktikan dalam sejarah, bahwa pada era Abbasiyah inilah seringkali para pengikutnya mempraktikkan Amar ma’ruf nahi munkar, bahkan kepada orang yang tidak sepaham dengannya. Maka wajar bila Mu’tazilah sering menggunakan kekerasan dalam menerapkan prinsip ini kepada masyarakat luas[50].

Selain keenam prinsip pokok yang menjadi landasan keyakinan aliran Mu’tazilah, ada juga keyakinan lain yang menjadi ciri khas dari aliran ini. Di antaranya ialah:

1). Cara mereka membentuk mazhabnya yang tertuju pada penggunaan akal daripada nash. Artinya, mereka lebih mengutamakan akal daripada wahyu. Bila ditimbang, maka akal lebih berat bagi mereka dibanding dengan ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits[51].

2). Mereka lebih cenderung suka berdebat, terutama di hadapan umum. Bila ada yang berlainan pendapat dengan mereka, maka orang tersebut diajak berdebat karena mereka yakin akan kemampuan dan kekuatan akal mereka[52].

3). Baik dan buruk ditentukan oleh akal, bukan wahyu[53].

4). Aliran Mu’tazilah menganggap bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bukan sifat Allah yang Qadim. Kepercayaan ini adalah kelanjutan dari pemahaman mereka bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Keyakinan inilah yang menyebabkan Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri mazhab Hanbali) disiksa dan Imam Buwaihi disiksa sampai mati oleh kelompok Mu’tazilah[54].

5). Tuhan menurut aliran Mu’tazilah tidak dapat dilihat meski seluruh umat Islam masuk surga[55].

6). Mereka menafikkan mi’raj Nabi Muhammad saw, ‘arsy (singgasana Allah), azab kubur, mizan (timbangan), hisab, shirath (jembatan), kolam, syafa’at, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan akal mereka[56].

f. Aliran Asy’ariyah

Aliran Asy’ariyah adalah aliran teologi tradisionil yang lahir dan disusun oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dari Baghdad. Asy’ariyah muncul pada saat suasana paham Mu’tazilah yang keruh karena ajarannya yang dirasa bertentangan namun dipaksakan untuk diyakini oleh masyarakat Islam pada masanya[57].

Tokoh terpenting sekaligus pendiri aliran Asy’ariyah yang bernama lengkap Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M) adalah keturunan dari Abu Musa Al-Asy’ari. Sebagai pribadi yang pernah belajar dan menjadi penganut paham Mu’tazilah, beliau telah terbiasa dengan argumentasi pikiran dan upaya pemakaian akal dalam soal-soal agama. Hasil karyanya juga banyak, terhitung ada 90 karya yang pernah ditulis. Isinya sebagian besar menyangkut masalah-masalah teologis, seperti menolak pemikiran-pemikiran Aristoteles, golongan materialis, antropomorphis, khawarij, dan golongan-golongan Islam lain. Di antara beberapa karyanya tersebut, yang paling populer ada tiga, yaitu Maqalat Al-Islamiyyin (Beberapa Pendapat Golongan-Golongan Islam), Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah (Keterangan Tentang Dasar-Dasar Agama), dan Al-Luma (Sorotan)[58].

Aliran Asy’ariah juga disebut dengan Ahlussunnah atau Sunni sejak kemunculannya yang menentang paham Mu’tazilah. Dalam hal ini, Harun Nasution menukil keterangan Tasy Kubra Zadah, yang menjelaskan bahwa aliran Sunni muncul atas keberanian dan usaha Abul Hasan Al-Asy’ari sekitar tahun 300 Hijriyah[59]. Al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah setelah berumur 40 tahun  dan mengumumkannya pada jama’ah masjid Basrah dan meyatakan akan membeberkan keburukan-keburukan Mu’tazilah. Menurut Ibnu ‘Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah konon Al-Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah SAW sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 dalam bulan Ramadhan. Dalam tiga kali mimpinya, Rasulullah memperingatkan agar segera meninggalkan Mu’tazilah dan segera membentuk paham yang sesuai dengan sunnah beliau[60].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Asy’ariah antara lain:

1). Dalam hal sifat Tuhan, Asy’ariah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat seperti ilmu, hayat, sama’, bashith dan qudrat. Sifat-sifat tersebut bukanlah dzat- Kalaui itu dzat-Nya berarti dzat-Nya adalah pengetahuan, dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukanlah ilmu melainkan ‘alim (yang mengetahui).

2). Persoalan akal, aliran Asy’ariah berpendapat bahwa akal tidak begitu besar daya kekuatannya, tapi sebaliknya, wahyu lah yang paling banyak berperan dalam menyelesaikan masalah teologis maupun persoalan baik dan buruk. Hal ini berbeda dengan Mu’tazilah yang lebih mengedepankan rasio (akal) daripada wahyu.

3). Kaitannya dengan masalah Al-Kasb, aliran Asy’ariah lebih cenderung pada paham kekuasaan mutlak berada pada otoritas Tuhan. Berdasarkan pandangan ini, Asy’ariah lebih dekat pada pemahaman aliran Jabariyah (fatalisme) daripada aliran Qadariyah (kebebasan manusia)[61].

Salah satu unsur utama kemajuan aliran Asy’ariyah adalah tidak sedikit pengikut yang mendukung pemikiran Al-Asy’ari dalam membangun dan mengkonstruksikan paham-pahamnya. Tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah yang terkemuka setelah Abu Hasan Al-Asy’ari adalah Al-Baqillani (wafat 403 H/1013 M), Al-Juwaeni (419-478 H/1028-1085 M), dan Al-Ghazali (450-505 H, tokoh tasawuf terkenal), dan Al-Sanusi (833-895 H/1427-1490 M)[62].

g. Aliran Maturidiyah

Aliran Maturidiyah adalah aliran yang kemunculannya bersamaan dengan aliran Asy’ariyah yang masih tergolong Ahlus Sunnah. Pendiri aliran Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur Al-Maturidi (lahir di Samarkand, wafat 332 H). Beliau semasa hidupnya sering bersama dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, pendiri aliran Asy’ariyah. Kedua-duanya sama-sama menentang pemikiran Mu’tazilah. Hanya saja Al-Asy’ari menghadapi Mu’tazilah di pusatnya (Basrah), sedangkan Al-Maturidi menghadapinya di daerahnya, Samarkand, yang juga mengulang-ulang pemikiran-pemikiran Mu’tazilah di Basrah[63].

Beberapa prinsip keyakinan dan pemikiran dari aliran Maturidiyah antara lain:

1). Mengenai konsep Ketuhanan, Maturidiyah meneguhkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang berbeda dari segala yang temporal. Jadi, Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

2). Kalam Allah merupakan sifat yang ada pada Dzat Allah. Ini memberikan kesempatan untuk membedakan mana yang termasuk Al- Kalam Al-Nafsi (sifat Maha Beriman yana ada pada Allah) dan mana yang termasuk Al-Kalam Al-Lafdzi (bicara dengan kata-kata).

Namun bila diselidiki lebih lanjut, antara aliran Asy’ariyah dengan Maturidiyah perbedaanya lebih jelas lagi. Perbedaan tersebut terletak pada persoalan-persoalan antara lain:

1). Menurut Asy’ariyah, mengetahui Tuhan diwajibkan syara’. Sedangkan Maturidiyah, mengetahui Tuhan diwajibkan akal. Dari sini, pemahaman Maturidiyah serupa dengan Mu’tazilah.

2). Menurut golongan Asy’ariyah, suatu perbuatan tidak memiliki sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Sedangkan Maturidiyah, pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk.

3). Aliran Asy’ariah menganggap sifat baqa’ sebagai sifat tambahan bagi zat Allah, sementara aliran Maturidiyah menolak sifat ini yang mempunyai pendapat bahwa al Baqa’ itu adalah kenyataan adanya Dzat di dalam zaman, bukan sesuatu yang ditambahkan pada Dzat[64].

D. Nilai-Nilai yang Dapat Diambil Dari Fenomena Sektarianisme Dalam Periode Sejarah Islam

Dalam mempelajari dan menginterpretasi ajaran Islam pasti tidak lepas dari sebuah perbedaan yang itu adalah sunatullah yang musti harus diterima. Termasuk munculnya aliran-aliran yang berkembang dalam ajaran agama Islam selama ini. Mujiburrahman menuturkan, munculnya berbagai aliran di tubuh Islam sudah terjadi pada sejak zaman sahabat. Pada era Nabi belum ada perpecahan dalam tubuh Islam karena penafsiran terhadap agama itu cukup disampaikan oleh Nabi saja sebagai otoritas pemegang ajaran agama. Ketika Nabi sudah meninggal dunia, Al-Quran dan Hadits kemudian ditafsir sehingga pengertiannya bisa berbeda-beda. Itulah sebabnya sejak zaman para sahabat sampai sekarang terjadi berbagai kelompok dan aliran[65].

Adapun nilai-nilai yang dapat diambil dari fenomena sektarianisme dalam periode sejarah islam antara lain:

  1. Umat Islam akan tergerak hatinya untuk semakin mendalami pemikiran dari berbagai aliran yang masih bersumber pada dalil dan argumennya dengan cara memperbanyak membaca sumber atau literatur-literatur ilmiah lainnya. Sebab hal tersebut akan mendorong untuk saling bersikap toleransi dan menghargai pendapat.
  2. Memotivasi diri terhadap masa depan Islam dengan senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah-tengah umat Islam. Sebab ilmu bagi umat Islam adalah harta yang paling berharga demi kemajuan Islam dari masa ke masa.
  3. Dapat menyadarkan umatnya agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan meski berbeda pandangan. Sebab persatuan dan kesatuan dapat memperkuat barisan umat Islam di dunia.
  4. Perbedaan cara pandang bukanlah penghambat kemajuan atau pemecah persatuan. Justru dengan perbedaan itulah yang akan mewujudkan rahmat. Maka diharapkan agar umat Islam tetap menjaga hubungan antara sesama muslim dengan baik dengan saling menghormati.
  5. Sikap umat Islam yang seharusnya ditunjukkan terhadap aliran-aliran atau sekte-sekte yang dikatakan menyimpang adalah harus senantiasa mengedepankan cara-cara yang ma’ruf (yang baik), bukan dengan jalan anarkhi. Hal tersebut penting sebab ajaran pokok Islam (Qur’an dan Hadits) tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan yang anarkhi dan main hakim sendiri baik oleh individu atau kelompok seperti yang terjadi pada masa Bani Abbasiyah periode pertengahan yang ideologi keagamaan dikuasai oleh paham Mu’tazilah yang terkenal anarkhis dalam hal pahamnya yang dipaksakan kepada masyarakat pada masa itu.
  6. Mengambil pelajaran dan hikmah akan kekurangan maupun kesalahan yang dilakukan umat Islam sepanjang sejarah peradaban Islam, baik dari sisi teoritis maupun praktis supaya tidak terulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin. Cet. 2008. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2010. Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Amin, Ahmad. 1968. Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan. Jakarta: Bulan Bintang.

Anwar, Rosihon, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel. 2006. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.

As-Suyuthi, Imam. 2005. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Asy-Syahrastani. Tt. Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia, terj. Asywadie Syukur. Surabaya: Bina Ilmu.

Djazuli, A. 2013. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah. Jakarta: Kencana.

Hasimy, A. 1973. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hanafi, Ahmad. Cet. 2010. Teologi Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Saleh. 2014. Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin. Jakarta: Pustaka Zaman.

Nasution, Harun. cet  2011. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I. Jakarta: UI Press.

_____________.  1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan. Jakarta: UI Press.

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: Rajawali Pers.

Aziz, F. Aminuddin. Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam. Dikutip dalam situs http://www. aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

Novi Novitasari. Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam. Dikutip dalam situs http://bilikislam.blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya. Dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.

Sektarianisme. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

CATATAN KAKI / FOOTNOTE

[1] Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online dalam situs http://kbbi.web.id/sektarianisme

[2] Sektarianisme, dikutip dalam situs https://id.wikipedia.org/wiki/Sektarianisme, diakses pada tanggal 6 April 2013, pukul 17.04.

[3] Novi Novitasari, Latar Belakang Timbulnya Aliran (Firqah) Dalam Islam, dikutip dalam situs http://bilikislam. blogspot.co.id/2015/09/latar-belakang-timbulnya-aliran-firqah.html, diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 16.00.

[4] A. Djazuli. Fiqih Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat Islam Dalam Rambu-Rambu Syariah (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 25.

[5] Ibid., hlm 25-26.

[6] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 206-207.

[7] A. Djazuli, op.cit., hlm. 27-28

[8] A. Hasimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 127.

[9] A. Hasimy, op.cit., hlm. 157.

[10] A. Djazuli. op.cit., hlm. 21-23

[11] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Buku Pintar Sejatah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Zainal Arifin (Jakarta: Pustaka Zaman, 2014), hlm. 241.

[12] Ahmad Amin, Fadjar Islam, terj. Zaini Dahlan (Jakarta: Bulan Bintang, 1968),  hlm. 330-331

[13] Ibid., hlm. 248.

[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 55-57.

[15] Ibid., hlm. 57.

[16] A. Djazuli, op.cit., hlm. 25.

[17] F. Aminuddin Aziz, Kuliah Fiqh Siyasah Politik Islam, dikutip dalam situs http://www.aminazizcenter.com/ 2009/artikel-62-September-2008-kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011.

[18] Ibid.

[19] Lihat Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, op.cit., hlm. 215.

[20] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 214-215.

[21] Lihat Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, cet. 2008), hlm. 109-117. Dan Ahmad Amin, op.cit., hlm. 327-328.

[22] Qasim A.Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, op.cit., hlm. 228.

[23] Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam, terj. Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm. 202.

[24] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93.

[25] Asy-Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi Dalam Sejarah Umat Manusia (buku 1), terj. Asywadie Syukur (Surabaya: Bina Ilmu, tt), hlm. 124.

[26] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 341

[27] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I (Jakarta: UI Press, cet  2011), hlm. 93-94.

[28] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 93-94.

[29] Ibid., hlm. 168.

[30] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[31] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328 dan 331.

[32] A Hasimy. op.cit., hlm. 160.

[33] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182.

[34] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 174-175.

[35] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 358.

[36] Ibid., hlm. 358-359.

[37] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 182-183.

[38] Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. 2010), hlm. 3.

[39] Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 101.

[40] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 328.

[41] Ibid., hlm. 330.

[42] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm.174-180.

[43] Ahmad Amin, op.cit., hlm. 357-358.

[44] A Hasimy. op.cit., hlm. 164,

[45] Ibid., hlm. 358.

[46] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 186-188.

[47] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 43.

[48] A Hasimy. op.cit., hlm. 165-166.

[49] Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35.

[50] Lihat Harun Nasution, op.cit., hlm. 34-35; Asy-Syahrastani, op.cit., hlm. 37-39; A Hasimy. op.cit., hlm. 166-167; Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 46-50.

[51] Siradjuddin Abbas, op.cit., hlm. 195.

[52] Ibid., hlm. 198.

[53] Ibid., hlm. 203.

[54] Ibid., hlm. 210.

[55] Ibid., hlm. 219.

[56] Ibid., hlm. 225, 234, 246,dan 251.

[57] Harun Nasution, op.cit., hlm. 35.

[58] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 65-66.

[59] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Perbandingan  (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 12

[60] Rosihon Anwar, Abdul Rozak, dan Maman Abdu Djalel, Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 19-20.

[61] Harun Nasution, Islam Ditinjau….., hlm. 38-39.

[62] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 69-77.

[63] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 78-79.

[64] Ahmad Hanafi, op.cit., hlm. 79.

[65] Aliran Dalam Islam, Konflik, dan Hikmah di Baliknya, dikutip dalam situs http://we-care-we-share.blogspot.co.id/2010/10/aliran-dalam-islam-konflik-dan-hikmah.html, diakses pada tanggal 8 oktober 2010.

QUNUT DALAM SHALAT: ANTARA ANJURAN DAN LARANGAN

Ilustrasi Gerakan Shalat

Ilustrasi Gerakan Shalat

A.      Pendahuluan

Qunut, yang dalam sebutannya mengindikasikan pada salah satu doa dalam shalat, merupakan perihal agama yang sampai saat ini statusnya masih terus menjadi tema perdebatan oleh sebagian kaum muslimin. Kedudukannya dalam syariat Islam masih begitu rumit untuk ditempatkan secara pasti apakah masuk ke dalam koridor ajaran Islam atau tidak. Sebab sudah terlalu sering perihal qunut ini diulas, kemudian diperselisihkan hingga pada akhirnya berakibat pada terpecahnya kaum muslimin menjadi dua golongan besar yang berseberangan paham. Terlebih sifat ashabiyah (fanatik) terhadap salah satu pendapat juga seringkali muncul saat dihadapkan pada ulasan ini. Mengapa demikian? Sebab teramati hampir semua umat muslim di masa ini telah mengalami krisis multidimensional. Selain mengalami kemerosotan akhlak, umat saat ini telah nampak semakin surut semangatnya untuk terus belajar agama serta mengkaji lebih dalam akan keagungan dan keluasan syariat Allah, belum lagi tidak fair dalam menyikapi dalil-dalil (nash-nash) yang ada.

Artikel ini sengaja ditulis mengingat tidak sedikit dari kalangan kaum muslimin yang cenderung mempersoalkan persoalan cabang (furu’iyyah) dan mengabaikan persoalan prinsip (ushuliyyah) dalam Islam. Ini berakibat sangat fatal karena justru akan memperlemah persatuan dan persaudaraan sesama kaum muslimin dan cenderung berpecah-belah (mukhalafah). Bila hal ini terjadi, maka akan semakin mudah lagi bagi orang kafir untuk memperdaya dan menghancurkan kaum muslimin. Padahal bila dari diri umat Islam timbul kesadaran dan mau berkaca diri atas kesalahan yang sudah dilakukan, maka akan muncul pemikiran bahwa permasalahan qunut ini tidak perlu terus-menerus diusut, yang justru dipikirkan ialah bagaimana mempersatukan kaum muslimin walaupun berbeda pemahaman.

Bila kita melihat kembali pada perjalanan sejarah umat Islam, ditemukan bahwa salah satu faktor kehancuran Daulah Islamiyyah, seperti halnya di Cordova (Bani Umayyah di Andalusia) ialah sering terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam disana. Perbedaan pendapat (ikhtilaf fil furu’) ini sering terjadi di tengah-tengah mereka. Berawal dari perbedaan pendapat inilah pada akhirnya mengesampingkan persoalan pokok yang justru lebih penting, yaitu jihad fii sabilillah dan mempertahankan persatuan dan kesatuan kaum muslimin di seluruh dunia dalam naungan daulah khilafah yang saat ini sirna, sehingga dengan mudah diserang oleh musuh.

Namun sebelum diulas lebih lanjut, perlu disampaikan bahwa tulisan ini sepenuhnya tidak bersumber dari pemikiran saya sendiri, namun mengambil intisari (atau dalam istilah lainnya disebut dengan ringkasan) dari buku yang berjudul “Qunut Antara Pro dan Kontra” Karya KH. M. Ihya’ Ulumiddin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang. Dalam buku tersebut, beliau menulis dengan gaya bahasa sekaligus cara penyampaiannya yang santun dan lugas, sehingga menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi saya pribadi. Selain itu, penulisan artikel ini sama sekali bukan bermaksud untuk menyudutkan ataupun memihak pada salah satu golongan. Namun berangkat dari artikel inilah kita mencoba bersama-sama untuk belajar, mengkaji, dan berusaha menyampaikannya secara apa adanya berdasarkan fakta tertulis yang tertuang dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.

Dengan dasar kerisauan yang tinggi akan masa depan kaum muslimin inilah, saya merasa berkewajiban untuk memaparkannya kembali melalui artikel ini. Dan tentu harapannya, perbedaan pendapat (khilafiyah furu’iyyah) ini jangan menjadikan faktor penghalang bersatunya kaum muslimin. Perbedaan ini justru kita tempatkan pada proporsi yang tepat, yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam serta menjadi nilai positif tersendiri bahwa ajaran Islam sangat luas, fleksibel tapi konsisten, mengikat dan tegas namun tidak mempersulit. Maka dari itu kaum muslimin seharusnya senantiasa membuka diri dengan terus menggali cakrawala pemikiran yang tidak lepas dari dasar ilmu dan wawasan keislaman yang benar sehingga dapat memberikan sebuah solusi maupun toleransi dalam masalah furu’iyyah demi terwujudnya izzul Islam wal muslimin. Dan terakhir, semoga jasa hasil tulisan dan ilmu beliau mendapatkan balasan yang tiada akhir oleh Allah swt di yaumil qiyamah. Amin.

B.      Definisi dan Sejarah Kronologis Qunut

Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), qunut berasal dari kata-kata berikut:

  1. Taat, sebagaimana ayat, “Dan laki-laki yang taat dan perempuan yang taat” (QS. Al-Ahzab: 35).
  2. Berdiri lama dalam shalat, sesuai dengan hadits, “Seutama-utama shalat adalah yang lama berdirinya” (HR. Muslim dalam kitab Shahih Musllim Jilid I hlm. 336).
  3. Diam, sebagaimana ayat, “Berdirilah karena Allah dengan diam” (QS. Al-Baqarah: 238).
  4. Doa, baik berdoa untuk kebaikan maupun berdoa untuk keburukan (Lihat Al-Majmu’ III/502)

Sedangkan dari segi istilah (terminologi), qunut adalah: suatu dzikir tertentu yang mencakup doa dan syiir/pujian. Seperti ucapan, “Ya Allah, berilah pengampunan kepadaku, wahai Dzat yang Maha Pengampun” (Lihat An-Nafahatush Shamadiyah hlm. 107). Lebih khusus, qunut adalah berdoa di tempat tertentu sewaktu berdiri di dalam shalat (lihat Syarh Az-Zarqani Jilid I hlm. 322).

Adapun sejarah qunut, bermula dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Kabilah Ri’il, Dzakwan, dan Kabilah Ushayyah (semuanya berasal dari Bani Salim) terhadap tujuh puluh Al-Qurra’(duta dakwah) dari kalangan Ahlus Shuffah yang saat itu dikirim oleh Rasulullah saw. Pengiriman ini atas dasar permintaan mereka sendiri kepada Nabi ketika datang ke Madinah untuk menyatakan masuk Islam. Pengiriman mereka pada awalnya bermaksud agar kaum musyrikin dari kalangan bangsa Najd mau menerima ajaran Islam.

Akan tetapi misi mereka hanyalah tipu muslihat belaka untuk menghentikan dakwah Nabi. Sebab di tengah perjalanan, mereka membantai 70 Al-Qurra’ di tempat yang bernama Bi’ru Ma’unah. Diantara 70 Al-Qurra’ yang dibantai, hanya satu yang selamat, yaitu Ka’ab bin Zaid al-Anshari. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun keempat hijriyah.

Mendengar cerita peristiwa tersebut, beliaupun akhirnya murka dan pada saat shalat lima waktu, di tiap-tiap rakaat akhir beliau selalu berdoa yang intinya ialah beliau mengutuk mereka (di dalam riwayat Anas beliau hanya berdoa di akhir shalat maghrib dan shubuh saja) selama satu bulan berturut-turut. Peristiwa inilah sebagai awal mula disyariatkannya Qunut. Oleh sebagian kaum muslimin berpendapat qunut ini lazim disebut qunut nazilah. (Lihat Bidayatul Mujtahid Jilid I/103, Fiqhus Sunnah I/167), dan Hasyiah Sindi I/178).

C.      Dalil Ketetapan (Itsbat) Qunut

Mengenai dalil yang menunjukkan ketetapan (itsbat) akan keberadaan qunut antara lain:

Dari Muhammad, ia berkata, “Anas ditanya, apakah Nabi saw. melakukan qunut?” Ia menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari I: 177).

Dari Al-Bara’, sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut di dalam shalat shubuh. (HR. Abu Dawud II: 337).

Dari Al-Baro’ bin Azib, sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut di dalam shalat shubuh dan shalat maghrib. (HR. Tirmidzi I: 249).

Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. senantiasa melakukan qunut Shubuh hingga beliau wafat”. (HR. Abdurrazaq, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim, dalam kitab Bulughul Maram: 326, dan Aunul Ma’bud IV: 320)

Dari Anas r.a., ia berkata: “Adalah qunut itu dilakukan di dalam shalat maghrib dan Shubuh”. (HR. Bukhari I: 178, dan Aunul Bari’ II: 106).

Dari Said bin Thariq, aku bertanya kepada ayahku, “ Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah melaksanakan shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, maka apakah mereka melakukan qunut shubuh?”. Ayahku menjawab, “Wahai putraku, karena itu ceritakanlah”. (HR. Nasa’i dan Tirmidzi, dalam Majmu’ III: 504).

Dari hadits-hadits di atas, maka Imam Asy-Syafi’i dalam Al –Majmu’ III:  502 memberi penegasan adanya qunut dalam shalat, walaupun ada hadits tentang “meniadakan qunut” – yang insya Allah akan diulas pada bagian peniadaan (nafi) qunut –, beliau masih belum memastikan atau menjamin tidak bolehnya melakukan qunut, terutama dalam shalat shubuh.

D.      Dalil Peniadaan (Nafi) Qunut

Selanjutnya, ada beberapa riwayat menyebutkan peniadaan (nafi) qunut. Hal tersebut terdapat pada beberapa hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan qunut selama sebulan setelah ruku’ melaknat tokoh-tokoh Arab, kemudian beliau meninggalkannya”. (HR. Mukhari Muslim)

Dari Saad bin Thariq Al-Asyja’i r.a., aku berkata kepada ayahku, “ Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah melaksanakan shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, maka apakah mereka melakukan qunut shubuh?”. Ayahku menjawab, “Wahai putraku, itu adalah perkara baru (muhdats)”. (HR. Al-Khamsah kecuali Abu Dawud, dalam Al-Majmu’ III: 504, Bulughul Maram: 74, Zaadul Ma’ad I: 69, dan Misykatul Mashabih I: 403)

Thariq Al-Asyja’i kepada putranya: Aku shalat di belakang Rasulullah saw, maka beliau tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Abu Bakar, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Umar, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Utsman, beliaupun tidak qunut. Aku juga shalat di belakang Ali, beliaupun tidak qunut. Kemudian ia berkata, “Wahai putraku, sesungguhnya qunut adalah perkara bid’ah”. (HR. Nasa’i, dalam Tuhfatul Ahwadzi II: 436).

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. tidak melakukan qunut kecuali bila mendoakan kebaikan atau keburukan atas suatu kaum. (HR. Ibnu Khuzaimah, dalam Sulubussalam I: 150)

Dari Saad bin Zubair, ia berkata, “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya qunut pada shalat shubuh adalah bid’ah”. (HR. Daraquthni, dalam Zaadul Ma’ad I: 69)

Dari Abu Makhlad, aku shalat shubuh bersama Ibnu Umar, maka beliau tidak qunut. Aku pun bertanya, “Aku tidak melihat tuan qunut”. Beliau menjawab, “Aku tidak meriwayatkannya salah satu pun dari sahabat-sahabat kami”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Zaadul Ma’ad I: 69)

Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah qunut dalam shalat beliau”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Al-Majmu’ III: 505)

Dari Ummu Salamah r.ha., sesungguhnya Nabi saw. melarang qunut dalam (shalat) shubuh”. (HR. Al-Baihaqi, dalam Al-majmu’ III: 504)

Dari beberapa hadits di atas, maka lebih lanjut Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan ulama’-ulama’ yang sepandangan dengan beliau berpendapat bahwa qunut adalah perkara baru (muhdats) dan identik dengan perbuatan bid’ah yang terlarang.

E.       Pencarian Titik Temu

Cukup rumit dalam mencari penyelesaian dan titik temu tentang permasalahan qunut ini, karena masing-masing pihak memiliki dasar yang sama-sama kuat dan sulit terbantahkan. Bagi kelompok yang kontra qunut, mereka berlandaskan pada argumen bahwa hadits yang dijadikan pegangan disyariatkan qunut tidak memenuhi syarat-syarat yang sah untuk dipakai hujjah. Seperti contoh hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. berikut ini:

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. melakukan qunut selama sebulan untuk mendoakan jelek kepada pembunuh-pembunuh sahabatnya di Bi’ru Maunah, kemudian beliau meninggalkannya. Adapun shalat shubuh beliau tidak meninggalkan qunut sampai meninggal dunia. (HR. Daraquthni, Abdurrazzaq, Abu Mu’a’m, Baihaqi, dan Hakim, dalam Shahih Tuhfatul Ahwadzi II: 433)

Di dalam sanad hadits ini terdapat Abu Ja’far Arrazy. Walaupun oleh sebagian ulama dianggap tsiqah, namun ada pula yang berpendapat bahwa ia memiliki kelemahan, seperti tidak kuat hafalan, kacau hafalannya, banyak bimbang, jelek hafalannya, dan pernah berbuat salah. Beberapa kelemahan ini diungkapkan oleh beberapa tokoh, seperti Ali Al-Madini, Abu Zur’ah, Amr bin Ali Fallah, Ibnu Ma’in, dan Ad Duwary. Dari penuturan beberapa tokoh ini, maka hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik menjadi tidak shahih (baca: tidak murni) lagi. Coba bandingkan dengan hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut:

Kami bertanya kepada Anas, bahwa sesungguhnya suatu kaum berpandangan Nabi saw. senantiasa melakukan qunut shubuh. Anas menjawab, “Mereka berdusta (tidak benar), beliau hanya melakukan qunut sebulan mendoakan jelek kabilah dari kabilah-kabilah orang-orang musyrik”. (Tuhfatul Ahwadzi II: 433).

Juga dikuatkan oleh riwayat Ibnu Khuzaimah sebagai berikut:

Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi saw. tidak melakukan qunut kecuali bila mendoakan kebaikan atau mendoakan keburukan atas suatu kaum. (Subulussalam I: 150).

Sehingga dari sini, pihak yang kontra qunut berkesimpulan, riwayat-riwayat yang menetapkan qunut (itsbaatul qunut) tidak bisa dijadikan pegangan karena sudah tidak shahih dan murni lagi, dan terkesan kacau lantaran dibantah oleh riwayat-riwayat yang meniadakan qunut (nafi qunut) yang lebih rajih (kuat). Akhirnya mereka berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja (nazilah).

Selanjutnya kelompok yang setuju atas disyariatkannya qunut (pro qunut) berpendapat, hadits yang diriwayatkan oleh Saad bin Thariq – yang sudah disebutkan di atas – dan hadits-hadits lain yang menunjukkan ketetapan qunut (Itsbaatul Qunut) menggambarkan tambahan ilmu (ziyadah ‘ilmu) dan riwayat tersebut lebih banyak daripada yang menunjukkan peniadaan qunut (Nafi Qunut).

Oleh karena itu lebih lanjut Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits Itsbaatul qunut wajib lebih didahulukan. Dalam hal ini hadits Ibnu Mas’ud menunjukkan Nafiul qunut, sedangkan hadits Anas bin Malik menunjukkan Itsbaatul qunut, maka hadits Anas lah yang lebih didahulukan. Dalam kaidah ushul disebutkan: Idzaa ta’aaradha al-itsbaatu wannafyu quddima al-itsbaatu (Jika itsbat dan nafi bertentangan, maka itsbat lebih didahulukan).

Imam Asy-Syaukani menyebutkan bahwasanya Al-Hafidz Al-Iraqi menceritakan qunut dari sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ibnu Abbas, ia berkata: Perihal qunut dari mereka benar-benar shahih. Beliau menambahkan: Jika itsbat dan nafi bertentangan, maka itsbat lebih didahulukan (Nailul Authar II: 385).

Imam Al-Hamdani berkata: Hadits-hadits kami menunjukkan itsbaatul qunut dan hadits-hadits mereka menunjukkan nafiul qunut, sedangkan itsbat harus lebih didahulukan daripada nafi karena asal mulanya adalah tiadanya qunut, atau hadits-hadits kami lebih memberi tambahan hukum karena telah menetapkan qunut. Jadi lebih utama. (Al-I’tibar , hlm. 97).

Dan bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi berkata: Hadits-hadits riwayat Anas semuanya shahih. Antara satu dengan yang lainnya saling membenarkand an tidak bertentangan. Adapun qunut yang disebutkan sebelum ruku’ sebenarnya berbeda dengan yang disebutkan setelah ruku’. Begitu pula qunut yang waktunya dibatasi berbeda dengan qunut yang waktunua tidak dibatasi. Qunut yang disebut oleh sahabat Anas sebelum ruku’ bermakna berdiri lama untuk qira’ah (bacaan dalam shalat), sedang yang disebut setelah ruku’ bermakna berdiri lama untuk berdoa. Qunut ini dilakukan Rasulullah saw. selama sebulan tujuannya mendoakan kebaikan untuk suatu kaum dan mendoakan keburukan atas kaum yang lain. Hal itu berlangsung lama sampai kemudian berlanjut menjadi doa dan pujian hingga beliau meninggal dunia. Sedangkan beliau tinggalkan adalah qunut untuk mendoakan buruk atas kaum-kaum bangsa Arab, dan demikian itu dilakukan beliau setelah ruku’. (Zaadul Ma’ad I: 72-73).

Lain lagi dengan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud berikut:

Rasulullah saw. tidak pernah melakukan qunut sama sekali dalam shalatnya. (HR. Baihaqi)

Hadits diatas sangat lemah, karena di dalamnya terdapat Muhammad bin Jabir As-Sahmi. Ia sangat dhaif dan bahkan matruk (ditinggalkan haditsnya). Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, sangat dhaif. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Abu Laila Al-Kufi. Lebih lanjut Imam Al-baihaqi berkata: Hadits ini tidak shahih. Abu Laila Al-Kufi matruk, dan kami sendiri meriwayatkan hadits: Sesungguhnya Nabi saw. berqunut. Begitu pula hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah r.ha, juga dhaif. Hadits ini bersanadkan Muhammad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Nafi dari ayahnya Nafi dari Ummu Salamah r.ha. Imam Ad-Daraquthni berkata: Ketiga perawi itu dhaif. Tidaklah shahih bila nafi mendengar dari Ummu Salamah. (Lihat Al-Majmu’ III: 505).

Sementara haditsnya Ibnu Umar yang mengatakan: Aku tidak menghafal (riwayat) qunut dari satupun sahabat kami. Ucapan Ibnu Umar ini menunjukkan bahwa beliau tidak menghafalnya atau beliau lupa akan qunut shubuh. Di samping Ibnu Umar, ternyata sahabat Anas, Al-Bara’ bin Azib, dan yang lainnya tidak lupa. Maka selayaknya yang tidak lupa didahulukan (Lihat Al-Majmu’ III: 505).

Kembali pada fokus hadits yang diriwayatkan Saad bin Thariq di atas, baik yang pro maupun yang kontra qunut. Dapat diperhatikan dalam hadits tersebut terdapat perbedaan matan. Satu matan menyebutkan, “Ay bunayya muhdatsun” (puteraku, qunut adalah perkara baru), dan yang lain menyebutkan, “ Ay bunayya fahaddats” (puteraku, maka ceritakanlah perkara qunut ini). Para ulama mazhab menanggapi hadits ini secara berlainan. Imam Abu Hanifah mengambil yang pertama, sedangkan Imam Asy-Syafi’i yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawi mengambil matan yang kedua.

Dalam usaha memadukan dua pendapat ini, ada sebuah cerita, suatu ketika Imam Asy-Syafi’i (yang pro qunut) menjadi Imam shalat shubuh di sebuah masjid yang mayoritas masyarakatnya mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah yang kontra qunut, beliau tidak berqunut, padahal qunut adalah hasil ijtihad beliau (Lihat Ar-Risalah Al-Islamiyyah hlm. 47 dan Mauqiful Ikhtilafi hlm. 113).

F.       Upaya Jalan Tengah

Ulasan tentang beberapa argumen di atas cukup menggambarkan secara jelas dan terperinci perihal qunut tersebut, yang masing-masing mempunyai pendapat yang mampu dipertanggungjawabkan di atas landasan syariat yang benar meski bertolakbelakang. Untuk menanggapinya, ada beberapa ulama yang tidak terlalu memihak terhadap salah satu kelompok yang senantiasa berusaha untuk mencari jalan tengah, yaitu dengan jalan pemaduan (jama’) sebelum menyatakan bahwa kedudukannya saling bertentangan dalam hakikatnya.

Ulama-ulama tersebut salah satunya ialah, seperti Imam An-Shan’ani. Beliau berpendapat, dari sini terdapat petunjuk yang dilakukan oleh para sahabat bahwa praktik mengenai qunut ini diamalkan oleh sebagian dari mereka pada saat yang lain meninggalkannya. Begitu pula pendapat yang diutarakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau berkata, “Perihal qunut tidaklah mengherankanku (laa yu’jibuni) ”. Pada kesempatan yang lain beliau berkata, “Aku tidak bersikap keras terhadap orang yang qunut (laa a’tu man yaqnutu)”. (Al-Inshaf II: 174).

Berangkat dari pertentangan terhadap dalil qunut tersebut, Syaikh Ad-Dahlawi berkata:

“Menurutku, qunut dan tidak qunut sama saja”. (Hujjatullah Al-Balighah II: 11).

Dengan adanya hadits-hadits qunut yang kontradiktif di atas, maka sebagian ulama berpendapat: “Bisa jadi nafi qunut memberikan petunjuk bahwa qunut hukumnya jawaz (mubah), tidak sampai ke tingkat sunnah ataupun haram”. (Lihat Sulubussalam I: 150).

Ada pula golongan yang berpendapat bahwa mengerjakan qunut adalah sunnah, begitu pun meninggalkan qunut juga sunnah. Orang yang konsisten melakukan qunut di setiap shalat shubuh tidaklah bid’ah dan tidak pula menentang sunnah. Demikian pula orang yang meninggalkan qunut tidak dapat dikatakan bid’ah dan menentang sunnah. Bagi mereka, melakukan qunut dan meninggalkannya sama-sama baik. (Zaadul Ma’ad I: 70).

Sekedar menambahkan, beberapa sahabat dan tabi’in yang tidak melakukan qunut shubuh antara lain Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka semua berpendapat, “Tidak ada qunut shubuh”. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menambahkan dalam pendapatnya bahwa yang boleh melakukan qunut adalah khalifah.

Sebaiknya, beberapa sahabat dan tabi’in yang melakukan qunut shubuh antara lain Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, semuanya termasuk Khulafaur Rasyidin. Selain mereka, ada pula para sahabat yang lain seperti Ammar bin Yasir, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Al-Bara’, Anas bin Malik, Mu’adz bin Harits Al-Anshari, Khalaf bin Imaa’ bin Rahadlah, Ahban bin Shaifi, Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi, Arfajah bin Syuraih, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Aisyah. Di kalangan tabi’in ada Sa’id bin Musayyib, Hasan bin Al-Hasan, Muhammad bin Sirin, Rabi’ bin Khaitsam, Aban bin Utsman, Qatadah, Thawus, Ubaid bin Umair, Ayyub As-Salmani, Urwah bin Zubair, Ziyad bin Utsman, Abdurrahman bin Abu Laila, Umar bin Abdul Aziz, dan Humaid Ath-Thawil. Terakhir, dari kalangan fiqih ada Abu Ishaq, Abu Bakar bin Muhammad, Hakam bin Utaibah, Hammad, Malik bin Anas, Auza’i, Ulama Hijaz, mayoritas Ulama Syam, Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya, dan lain-lain. Mereka semuanya berpendapat, “Sunnah melakukan qunut Shubuh”. (Tuhfatul Ahwadzi I: 432).

Perbedaan ini berlanjut hingga generasi khalaf (kontemporer) yang akhirnya datang ke Indonesia diikuti oleh dua organisasi besar, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang masing-masing memegang pada salah satu pendapat di atas.

G.     Kesimpulan

Masalah qunut sudah menjadi ikhtilaf semenjak masa sahabat, tabi’in, sampai kepada masa mazhab empat. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pro qunut dan kelompok kontra qunut. Adanya dua kubu/kelompok di atas justru merupakan cerminan dinamika umat yang dapat memperkaya khazanah ilmu agama, sehingga perbedaan pendapat yang bersifat khilafiyah furu’iyyah masih dianggap wajar selama tidak masuk pada ranah aqidah. Bahkan keberadaan ikhtilaf ini merupakan rahmat bagi umat. Rasulullah saw. telah bersabda:

“Ikhtilaf (perbedaan pendapat) umatku merupakan rahmat”. (HR Ibnu Al-Hajib dan Al-Khaththabi).

Sebagaimana kisah Imam Asy-Syafi’i saat menjadi imam shalat shubuh di atas, dapat dilihat bagaimana para mujtahid terdahulu menghargai mendapat mujtahid lainnya sekalipun bertentangan. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih:

“Al-Ijtihaadu laa yunqadhu bi al-ijtihaadi” (Suatu ijtihad tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad lainnya.

Oleh karena itu, dalam menyikapi ikhtilaf seharusnya tidak jumud (kaku) dan eksklusif (tertutup) dan mengklaim pendapat sendiri yang benar. Perbedaan seperti ini justru jadikan antara umat satu dengan umat yang lain saling bertasamuh, ta’awun, dan mahabbah dalam lingkaran ukhuwah islamiyah semata-mata mengharapkan ridha Allah. Silakan masing-masing beramal pada pendapatnya sesuai dengan hujjahnya sendiri, dalam arti tidak perlu memperuncing persoalan ini dan menjadikannya sebagai jalan untuk bermukhalafah (berpecah belah) di kalangan kaum muslimin. Sebab bermukhalafah, saling mengejek, menghina, menyalahkan, membid’ahkan, hingga memvonis saudara muslim sendiri agar masuk neraka adalah tindakan yang dapat mendatangkan murka Allah. Terlebih perbedaan pendapat mengenai qunut ini  sudah terjadi semenjak periode empat belas abad silam.

Untuk itu, semua umat Islam, mulai dari kalangan tokoh-tokoh agama, ulama, hingga kalangan masyarakat muslim biasa, baik yang pro maupun yang kontra, hendaknya memaklumi situasi semacam ini dan jangan terlalu dipermasalahkan, malah justru diarahkan agar perbedaan ini dapat dijadikan wawasan baru sekaligus menyadarkan umat Islam bahwa ada persoalan yang lebih penting dan urgen, yakni persatuan umat.

Semoga ulasan tentang qunut ini menjadi tambahan ilmu, mampu bersikap fair dalam menerapkan ilmu, yang akan semakin mewarnai keragaman  dalam satu bingkai kesatuan umat Islam di tengah-tengah pluralitas masyarakat Islami.

Wallaahu a’lamu bishawaab.

AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Al-Qur'anul Karim

Kekelaman Ilmu Pengetahuan dan Krisis Moralitas di Masa Lampau

Telah kita akui bahwa abad ke-20 seperti sekarang ini merupakan abad kebangkitan segala bentuk pemikiran. Abad ini juga disebut-sebut sebagai abad pencerahan. Namun pada abad ini pula terjadi banyak sekali pertentangan-pertentangan dalam memandang segala hal, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan agama. Di dalam agama misalnya, berbagai paradigma banyak yang ditentang. Tak sedikit ilmuwan yang ragu terhadap kredibelitas kitab suci mereka, dan mempertanyakan kebenaran yang diungkap dalam agama yang dianutnya. Maka wajar, banyak dari mereka yang tidak percaya dengan kitab suci yang diyakininya sejak lahir.

Bagi yang masih belajar di sekolah dasar atau tingkat menengah, tentu pasti ingat tentang kisah kedua tokoh yang amat terkenal di bidang astronomi. Mereka tak lain adalah bernama Nicholas Copernicus dan Galileo Galilei, yang mereka berdua ialah penemu teori heliosentris yang sangat fenomenal. Berdasarkan penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta namun mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bahkan Galileo galilei dihukum mati oleh pihak gereja lantaran dia meragukan keputusan gereja yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta.

Semenjak peristiwa itu, maka selanjutnya gereja menginstruksikan bahwa semua ilmuwan yang menentang keputusan gereja akan bernasib sama dengan Galileo Galilei. Akhirnya, mereka yang takut dengan ancaman itu terpaksa membenarkan dogma gereja tersebut. Namun ada juga beberapa ilmuwan yang tetap bersikukuh tidak setuju terhadap dogma yang diyakini gereja itu. Maka dari itu, mereka mencoba untuk membuka forum-forum diskusi dengan pihak gereja bahwa apa yang menjadi dogma selama ini adalah tidak ilmiah sehingga perlu diluruskan dengan argumen-argumen ilmiahnya. Namun sayang, pihak gereja tetap bersikeras mempertahankan dogma tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka kecewa berat dan berkesimpulan bahwa gereja telah menghalangi mereka dalam berpikir, sehingga hal ini dinamakan pembodohan intelektualitas. Akibatnya, agama dituding sebagai salah satu penyebab terhambatnya perkembangan ilmu pengetahuan, yang perlahan mereka meninggalkan agama mereka.

Atas perdebatan antara kaum intelektual dengan pihak gereja tersebut, maka orang-orang non muslim yang notabene bukan petinggi agama atau orang yang paham tentang kitab sucinya menyimpulkan, agama tidak mengatur ilmu pengetahuan. Mereka perlahan mengingkari isi kitab suci mereka yang selama ini mereka baca setiap minggu. Statement inilah yang melahirkan paradigma tersendiri dalam sejarah lahirnya ideologi dunia, yakni sekularisme.

Peristiwa berpisahnya ilmu pengetahuan dari agama menyebabkan terlepasnya kontrol agama dalam kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat. Dunia Amerika dan Eropa dilanda krisis moral hingga sekarang. Pergaulan bebas, hubungan seksual di luar pernikahan, kelahiran bayi yang tidak punya ayah yang jelas, merebaknya kasus narkoba dan aborsi, banyak gadis yang masih umur dibawah 17 tahun dudah nikah dan berumah tangga, dan lain sebagainya menunjukkan betapa parahnya kondisi moral yang mereka alami. Maka jelaslah, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan dilahirkan oleh ajaran agama, namun karena jiwa ilmiah semata. Sejak itulah, moral dan etika tidak terkontrol lantaran tak adanya agama di dalam kehidupannya. Para kaum moralis cemas melihat perkembangan dunia yang tak beraturan tersebut. Kekhawatiran mereka beralasan, jika perkembangan seperti ini terus berlangsung, maka akan membawa suatu peristiwa yang akan menghancurkan dirinya sendiri dan peradaban dunia. Beginilah kegoncangan yang menimpa suatu masyarakat dengan kehidupannya yang sekular.

Pesan-Pesan Al-Qur’an Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Di tengah-tengah kehidupan sekular dan carut-marutnya pergolakan ilmiah dengan doktrinitas agama waktu itu. Islam lahir dan memberikan pencerahan kepada seluruh manusia bahwa paradigma semacam itu sungguh keliru dan harus diluruskan. Perhatikan beberapa ayat berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali-Imran: 190-191)

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS Yaasin: 34-35)

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yaasin: 40)

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah: 11)

Beberapa ayat di atas merupakan pesan yang disampaikan oleh Al-Qur’an kepada para pakar saintis dan teknolog ketika menyikapi keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam yang memiliki kesempurnaan di setiap ajarannya sangat terasa keindahannya dan tidak membelenggu akal pikiran para pemeluknya. Justru mereka diajak untuk berpikir lebih mendalam dan kritis. Hanya saja, Al-Qur’an memberikan sebuah warning agar manusia senentiasa bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya yang berupa akal tersebut. Selain itu juga memberikan batasan agar manusia jangan sampai terjerumus ke dalam ilmu pengetahuan yang sesat, yaitu mendahulukan akal/logika dari pada wahyu.

Dalam masalah hubungan agama dengan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dalam sejarah Islam bahwa jazirah Arab yang kondisi geografis dan geologisnya yang sangat ekstrem dan gersang, kondisi sosiologisnya yang melahirkan masyarakat yang berwatak keras dan kejam. Namun disinilah letak kejayaan dan kemajuan peradaban baru yang mampu mengungguli peradaban barat sekular waktu itu. Dialah Nabi Muhammad saw., yang dibangkitkan oleh Allah dengan membawa risalah illahi (Al-Qur’an) untuk mengajak manusia menyembah dan taat kepada Allah. Dalam usahanya membangkitkan ruh imaniyah dan ubuddiyah, Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dan berpikir, sebab akal adalah anugerah Allah yang amat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Begitu ayat Al-Qur’an diwahyukan, maka lahirlah konsepsi Islam yang amat fundamental: Iman, ibadah, ilmu dan amal shaleh.

Keilmiahan ayat-ayat Al-Qur’an telah terwujud dengan dibuktikannya kejayaan Islam di masa pertengahan. Umat Islam selama berabad-abad telah memimpin dunia dengan mendirikan pusat-pusat kebudayaan Islam yang cahayanya mampu menerangi penjuru dunia. Sejarah mencatat, tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi berjayanya Islam ialah: Cordova, Baghdad, Istanbul, Damaskus, Dranada dan Sevilla. Beberapa kota yang disebutkan ini telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia Islam dan teknologi.

Integrasi Agama Terhadap Ilmu Pengetahuan

Ajaran Islam sebenarnya tidak terlepas dari sebuah kebenaran, yang pada hakikatnya ialah sebuah nilai yang senantiasa dicari manusia untuk mendapatkan kualitas hidup yang nyaman, damai, dan sebagainya. Sudah banyak yang dilakukan manusia demi meraih hal tersebut seiring dengan berkembangnya kebudayaan itu sendiri. Mulai dari manusia tidak mampu menciptakan teknologi (primitive) menjadi manusia yang mampu menciptakan teknologi yang amat canggih sekalipun (modern). Kemajuan ilmu pengetahuan yang sedemikian pesat tersebut  tidak terlepas dari peran science sehingga mampu menciptakan teknologi itu sendiri.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengintegrasilan ilmu-ilmu sains dan kehidupan dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga sangat perlu untuk mengidentifikasi kurikulum pendidikan yang memadai bagi terwujudnya manusia yang berkualitas, baik jasmani maupun rohani, intelektual maupun spiritual, kebutuhan materi maupun kebutuhan kerohanian. Sebab, anak didik yang akan memasuki dunia pendidikan adalah bersifat netral. Dapat diibaratkan dengan sebuah air yang masih bening tanpa ada campuran zat lain sedikitpun di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan sabda Nabi saw:

“Setiap anak yang lahir di dunia adalah dalam keadaan suci. Hanya saha orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi”. (HR. Bukhari Muslim)

Atas dasar tersebut, sebaiknya nilai-nilai yang terkandung dalam religion yang tentunya mengandung kebenaran yang haq harus dijadikan sebagai titik sentral atau acuan pokok sistem pendidikan yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah orang yang beragama, khususnya beragama Islam. Agama hingga saat ini masih menjadi kebutuhan asasi manusia meski barat tidak memperdulikannya kerena pola pikir mereka telah menjadi apa yang kita sebut sekular.

Ilmu eksakta telah melahirkan berbagai macam  hard technology, seperti pertanian, kedokteran, teknik dan sebagainya. Kemudian ilmu tersebut menggandeng ilmu-ilmu di bidang sosial (soft sciences) untuk menciptakan teknologi atau pemikiran sejenis di bidang sosial yang disebut sebagai soft technology, seperti ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Kedua bidang ilmu tersebut dalam perjalanannya mencari status kebenarannya, namun seringkali melahirkan paradigma yang berbeda. Hal inilah yang tentunya menyebabkan terjadinya antagonistik (saling bertubrukan) antar nilai kebenaran. Maka dari itu, seberapa tinggi nilai kebenaran yang diproduksi oleh sains, tetap ada batasnya dan kurangnya. Dengan kata lain, kebenaran yang bersifat ilmiah tidak mampu mendapatkan kebenaran 100 persen.

Dengan demikian, selama kita hidup dalam sebuah zaman yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, maka kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran yang pasti sehingga mampu memecahkan berbagai macam persoalan dan problema yang dialami oleh masyarakat demi keberlangsungan hajat hidup manusia. Tingkat kesalahan akan semakin besar manakala kita mengembangkan sebuah ilmu yang membidangi ilmu-ilmu sosial, yang kita sebut soft technology tersebut lantaran sulitnya mencari identifikasi variabel kunci sebuah teori. Bila hal ini kita biarkan berlarut-larut tanpa mau melakukan evaluasi dari sebuah kegagalan, maka akan menimbulkan berbagai macam persoalan sosial yang terjadi di masyarakat sehingga menjadi problem yang amat ruwet di masa depan.

Untuk menjembatani kesenjangan dan keruwetan yang tengah terjadi akibat human error yang ditimbulkan oleh soft technology tersebut, maka perangkat lain yang selama ini sudah ada dalam masyarakat pada umumnya, yakni dikenal dengan istilah agama. Keberadaan dan perannya yang pernah berkiprah di era pertengahan pun perlu dioptimalkan kembali. Karena agama mampu membimbing dan memberikan informasi tentang bagaimana seharusnya manusia berbuat dan menyesuaikan dirinya dengan alam lingkungan dan kehidupan. Adalah Islam, yang dikodifikasikan melalui Al-Qur’an dan Sunnah yang hingga saat ini masih sedikit orang di abad modern seperti sekarang yang memanfaatkannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara orang lain, terutama mayoritas kaum muslimin masih mengadopsi nilai-nilai keislaman yang bersifat ‘ubudiyah (ritual) yang ternyata belum berpengaruh sama sekali terhadap perilaku kesehariannya.

Kesalahan pemahaman yang sedemikian itu pasti akan terus berlanjut dan tidak akan berakhir karena hakikat pengembangannya memang berasal dari sebuah premis logika yang salah, yang menimbulkan kesesatan berpikir. Logika semacam itu harus diluruskan dengn dua cara:

  1. Memposisikan sumber wahyu di atas akal dan logika manusia, dan menjadikannya sebagai satu-satunya informasi kebenaran untuk dikaji secara deduktif, khususnya dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Melakukan eksplorasi teori, dalil, aksioma, dan data empiris (induktif) di lapangan terhadap sumber wahyu dan dikaji secara bersamaan dengan ilmu-ilmu sains dalam rangka menemukan kebenaran antara keduanya.

Dengan cara ini, peran agama (Islam) akan semakin terasa sebagai kebutuhan yang begitu menyenangkan yang dipergunakan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ber-Islamnya seseorang tidak lagi diakibatkan dari suatu keterpaksaan dalam sebuah dogma semata.

“(Dialah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah”. (QS. Al-Mulk: 3-4)

Seperti halnya sains, Islam bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Islam dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki kesalahan –yang dalam konteks ini lebih mengarah pada kesalahan sains– untuk membimbingnya ke jalan yang benar sebagai kebenaran yang bersifat hakiki dan mutlak (absolut). Pengertian absolut disini tentu bukan mengarah pada pengertian dogmatis yang selama ini dipahami oleh mayoritas masyarakat dan kaum intelektual, sebab Islam merupakan agama yang kebenarannya tidak boleh diperdebatkan, apalagi diubah-ubah oleh tangan manusia.

Sistem pendidikan yang sarat dengan perkembangan sains yang dikolerasikan dengan pemahaman agama sudah waktunya dikembangkan dan diperbudayakan. Keberadaan Interdisiplin Sains dalam Islam (Inter-Disipline Sciences in Islam) sangat dibutuhkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat modern ini sebagai proptotipe kebangkitan peradaban baru yang akan merombak peradaban saat ini yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Dengan sistem pendidikan yang baru ini, kurikulum yang dipakai ialah kurikulum yang mampu menyatukan antara nilai-nilai illahiyah (wahyu) dengan sains sebagai jalan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik dan beradab.

Dikutip dari: Berbagai Sumber.

MUDZAKARAH IMAN: HARI KIAMAT SUDAH DEKAT

Salah satu prinsip keimanan yang sangat pokok dalam agama Islam adalah beriman kepada hari akhir atau hari kiamat. Iman kepada hari kiamat merupakan salah satu rukun iman yang enam. Hari akhir dan kebangkitan yang diimani oleh kaum muslimin adalah salah satu hal yang yang banyak ditolak oleh kaum kafir, penentang pada Rasul, baik di masa lampau maupun masa kini.

Kaum muslimin sendiri dituntut tidak ragu sedikit pun untuk mempercayainya karena hari kiamat pasti akan tiba dan terjadi. Hari kiamat adalah salah satu perkara ghaib yang telah dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw., dan juga merupakan kesepakatan para sahabat dan ulama serta kaum muslimin. Tidak ada yang meragukannya kecuali kaum kafir, atheis ataupun materialis. Yang menjadi masalah sekarang ialah, kapan kiamat itu akan terjadi? Setiap orang pasti tidak ada satupun yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Maka jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini ialah sebagaimana jawaban yang diberikan Nabi saw. kepada orang-orang Mekkah, ketika mereka bertanya tentang hari kiamat:

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (QS Al-Ahzab: 63).

Demikian pula dengan firman Allah yang lain:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”. (QS. Al-Ahzab: 187)

Meskipun tidak ada satupun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah semata, namun Rasulullah saw. sendiri telah menerangkan dalam haditsnya bahwa, “Kiamat tidak akan terjadi selagi di muka bumi masih ada orang yang berdzikir kepada Allah dengan mengucapkan lafadz Allah, baik di dalam hati maupun lisan”. Oleh karenanya, kita sebagai kaum muslimin tidak perlu khawatir bahwa kiamat akan tiba, karena hanya Allah saja yang tahu perkara ini, asalkan kita senantiasa selalu berbenah diri atas segala tingkah laku yang buruk, membenahi sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji.

Maka dari itu, marilah kita semua segera bertaubat, memperbaiki kesalahan yang telah dibuat, dan jangan sampai mengingkari nikmat yang sudah diberikan Allah. Karena Allah telah mengingatkan bahwa jika hamba-Nya bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan maka Dia akan menambah nikmat-Nya, sebaliknya jika hamba-Nya kufur atas pemberian nikmat tersebut, maka Allah akan menyiksanya dengan adzab yang pedih.

Meskipun hari kiamat adalah perkara gaib dan merupakan rahasia Allah, tetapi Allah dan rasulullah saw. telah memberitahukan tanda-tandanya. Bila dicermati tanda-tanda hari kiamat tersebut, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa hari kiamat sudah amat dekat. Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri di dalam kitabnya Mukhtashar al-Fiqh al-Islami menyebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat yang begitu sistematis. Beliau membagi tanda-tanda hari kiamat tersebut menjadi dua bagian, yaitu asyrathus sa’ah as-sughra (tanda-tanda kiamat kecil) dan asyrathus sa’ah al-kubra (tanda-tanda kiamat besar).

Tanda-tanda kiamat kecil oleh beliau dibagi lagi menjadi tiga bagian:

  1. Pertama, tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi dan telah berlalu, seperti terbelahnya bulan, wafatnya Rasulullah saw, penaklukan Baitul Maqdis, dan keluarnya api di negeri Nejad.
  2. Kedua, tanda-tanda kiamat yang sedang terjadi dan masih terus berlangsung, seperti tersebarnya fitnah, meluasnya kekacauan dan kemunkaran, banyak bermunculan nabi-nabi palsu, diangkatnya ilmu dan menyebarnya kebodohan, kedzaliman terjadi di sana-sini, merebaknya alat-alat musik, merajalelanya zina dan riba, banyak orang yang suka meminum khamr, orang-orang saling berlomba membuat gedung-gedung tinggi, menghias masjid hanya untuk bermegah-megahan, banyak terjadi pembunuhan, waktu terasa pendek, sering terjadi gempa bumi, banyak wanita berpakaian namun terlihat telanjang, dan lain sebagainya.
  3. Ketiga, tanda-tanda kiamat yang akan terjadi.

Selanjutnya tanda-tanda kiamat besar (kubra) antara lain sebagaimana diterangkan oleh Allah di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah saw. melalui hadits-hadits beliau yang shahih. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:

  1. Keluarnya dajjal. Dajjal adalah makhluk semacam manusia keturunan Adam, yang akan muncul di akhir zaman dan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dia muncul dari arah timur dari negeri Khurasan dan selanjutnya dia akan menjelajahi hampir seluruh tempat di bumi, kecuali Baitul Maqdis, kota Mekkah, kota Madinnah dan bukit Thursina.
  2. Turunnya Nabi Isa AS (al-Masih).
  3. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, yaitu dua bangsa yang membuat kerusakan di muka bumi.
  4. Munculnya dukhan, yakni asap yang menyelimuti bumi.
  5. Terbitnya matahari dari barat.
  6. Munculnya dabbah, yakni sejenis monster atau binatang melata yang bisa berbicara dan mampu membedakan orang mukmin dengan orang kafir melalui indera penciumannya.

Dari penjelasan tentang tanda-tanda hari kiamat di atas, maka penulis menghimbau kepada diri dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Kerusakan, kemaksiatan, dan fitnah yang sedang mendera, bahkan di mana-mana terjadi krisis, baik krisis multidimensional, ekonomi, pangan dan sebagainya. Namun ingatlah bahwa Allah SWT masih membuka pintu taubat bagi kita, maka sudah menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbanyak bertaubat kepada-Nya hingga nafas sampai di tenggorokan kita. Teruslah berusaha mencari rahmat Allah demi kebaikan kaum muslimin di dunia maupun akhirat.

KEISTIMEWAAN DOA DALAM SURAT AL-FATIHAH

Salah satu keistimewaan surat al-Fatihah ialah, surat ini merupakan surat yang wajib dibaca ketika shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Di dalam hadits Rasulullah saw disebutkan: Shalat seseorang tidak sah jika tidak membaca surat Al-Fatihah. Oleh karenanya, surat ini dinamakan sebagai ummul qur’an (induknya Al-Qur’an), dan juga disebut sebagai As-Sab’ul Matsaani yang artinya tujuh ayat yang diulang-ulang (dalam shalat).

Surat Al-Fatihah juga merupakan sebuah bentuk percakapan (dialog) antara seorang hamba dengan Allah ‘Azza Wa Jalla. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: Allah swt berfirman:

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, sebagian untuk-Ku dan sebagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Arrahmanir rahim” (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Maaliki yaumid diin” (Yang menguasai hari pembalasan), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), maka Aku menjawab, “Ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Ketika seorang hamba mengatakan “Ihdinas shiraathal mustaqim. Shiraathal ladziina an’amta alaihim, ghairil maghdhuubi alaihim, wa ladh-dhaalliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. [yaitu] jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan [jalannya] orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula [jalannya] orang-orang yang tersesat), maka Aku menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta”.

Bila kita perhatikan hadits ini, maka dapat ditemukan sebuah ibrah (pelajaran) yang cukup penting, yaitu mengajarkan mengenai tata cara berdoa sekaligus isi doa yang senantiasa dipanjatkan dalam shalat.

Terminologi shalat manakala ditinjau secara etimologi memiliki makna “do’a” sehingga dalam shalat yang kita kerjakan terdapat tempat-tempat yang berisi do’a atau anjuran untuk berdoa, seperti ketika duduk antara dua sujud, ketika sujud atau setelah membaca tasyahud akhir sebelum salam. Salah satu tempat yang di dalamnya terdapat anjuran berdoa ialah di penghujung surat al-Fatihah.

Jika diperhatikan lebih seksama, mulai ayat pertama hingga ayat keempat dari surat al-Fatihah adalah berisi pujian, sanjungan dan pengagungan kepada Allah swt. Kemudian apabila membaca ayat-ayat dari surat al-Fatihah maka Allah akan menjawabnya sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi di atas. Pada ayat kelima (iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in), merupakan hak atau bagian untuk Allah yaitu ketika seorang hamba berikrar bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut disembah dan diibadahi, selanjutnya merupakan hak hamba untuk meminta pertolongan yang hanya dipanjatkan kepada Allah semata.

Pelajaran pertama yang dapat diperoleh dari pembahasan ini adalah berkenaan dengan adab berdoa. Seorang hamba memulai doanya dengan lantunan pujian, sanjungan serta pengagungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang akan memperkuat dikabulkannya doa hamba-Nya ialah bila seorang hamba pandai dalam memuji Rabbnya, dan Allah amat cinta kepada hamba-Nya yang melantunkan pujian dan sanjungan yang ditujukan kepada-Nya.

Setelah mengucapkan pujian dan sanjungan, maka selanjutnya ialah memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Yang dimaksud jalan yang lurus dalam surat Al-Fatihah ini adalah jalannya orang-orang yang oleh Allah dianugerahi nikmat, bukan jalannya orang yang dimurkai maupun jalannya orang yang tersesat di jalan-Nya. Artinya, seorang hamba hendaknya meminta petunjuk kepada Allah agar senantiasa dibimbing kepada jalan yang benar dan diberi kekuatan dan keistiqomahan dalam mengikuti jalan tersebut hingga titik akhir (mati), yaitu jalan Islam.

Ayat permohonan ini merupakan salah satu susunan kata-kata yang bagus dan teratur, yang dalam kaidah ilmu tafsir disebut dengan menafsirkan satu ayat kepada ayat yang lainnya. Dapat diperhatikan pada ayat, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. Maka timbul pertanyaan, “jalan yang lurus itu seperti apa?”. Maka pertanyaan ini dijawab pada ayat berikutnya, yaitu  jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Maka akan timbul pertanyaan kembali, “jalannya orang-orang yang diberi nikmat itu jalannya siapa?”. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Allah dalam ayat lainnya, seperti yang disebutkan dalam Surat An-Nisaa’ ayat 69:

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Ayat ini menjelaskan tentang golongan manusia yang telah diberi nikmat oleh Allah, sehingga ketika seseorang sedang mengerjakan shalat, hendaknya memohon kepada Allah agar diberi kemuliaan seperti para nabi, para shiddiiqiin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan para shalihin (orang-orang yang shalih).

Kemudian ayat tersebut menjelaskan bagaimana cara-cara agar seseorang dapat meraih kedudukan atau kemuliaan tersebut, yaitu dengan taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya berupa syari’at. Kedudukan antara Allah dan Rasul dalam rangka mentaati perintahnya adalah sama. Firman Allah dalam surat an-Nisaa’ ayat 80:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman dalam surat Al-A’raaf ayat 157:

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Selanjutnya, dalam ayat selanjutnya dalam surat al-Fatihah terdapat doa yang dipanjatkan kepada Allah agar dijauhkan dari golongan orang-orang yang mendapat murka dari Allah dan golongan orang-orang yang tersesat. Apabila ada yang bertanya, “siapakah orang-orang yang dimurkai itu?”, maka dijawab bahwa orang-orang tersebut adalah golongan orang-orang Yahudi, yang secara khusus mereka telah dimurkai dan dilaknat oleh Allah sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Maa’idah ayat 60:

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi [Yahudi] dan (orang yang) menyembah thaghut?”. mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Orang-orang Yahudi menurut Syaikhul Islam adalah tergolong kaum yang hidup dalam kemurkaan Allah karena mereka tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka ketahui. Mereka enggan menerima kebenaran yang sudah jelas-jelas ada di depan mata mereka, baik melalui perkataan maupun perbuatan

Adapun yang tergolongan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana Firman Allah pula dalam surat Al-Maa’idah ayat 77:

Katakanlah: “Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Penafsiran ini kemudian diperkuat oleh Rasulullah saw. dalam sabda beliau:

“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi, dan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nashara” (HR. Turmudzi).

Semoga kita semua senantiasa ditunjukkan kepada jalan yang lurus lagi diridhai oleh-Nya, diberi kekuatan iman dan istiqamah berada di jalan-Nya.

HIKMAH MENAHAN LAPAR DAN AKIBATNYA BILA TERLALU KENYANG

Suatu hari, Abu Hurairah r.a. sedang membersihkan hidungnya dengan sehelai sapu tangan yang bagus. Kemudian ia berbicara seorang diri, “Ah, lihatlah Abu Hurairah! Sekarang ia sedang membersihkan hidungnya dengan sapu tangan yang bagus. Padahal dulu aku pernah jatuh pingsan di antara mimbar dan rumah Nabi saw. Orang-orang yang melihat keadaanku mengira aku sedang menderita penyakit gila. Padahal aku sedang menderita kelaparan”.

Aisyah r.ha., isteri Rasulullah saw berkata, “Pernah dalam waktu satu setengah bulan rumah kami tidak ada api, baik api pelita ataupun yang lainnya”. Qasim yang setia mendengarkan perkataannya berseru dan bertanya, “Subhanallah! Lantas, dengan apa anda sekalian hidup?”. Lalu Aisyah menjawab, “Dengan kurma dan air. Kebetulan kami mempunyai beberapa tetangga dari kalangan Anshar, mudah-mudahan dibalas oleh Allah dengan kebaikan. Mereka terkadang berbagi dengan kami”.

Di dalam riwayat lain, Aisyah r.ha. mengungkapkan, “Rasulullah saw. tidak pernah kenyang dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat”.

Lain lagi cerita Hafsah r.ha. yang juga isteri Rasulullah saw. Suatu ketika ia berkata kepada ayahnya, Umar bin Khattab, “Allah telah melapangkan rezeki kita. Mengapa Ayahanda tidak makan lebih banyak dari yang Ayahanda makan sekarang, dan mengenakan baju lebih bagus daripada Ayahanda pakai sekarang?” Kemudian ayahnya menyergah, “Awas anakku!, kau harus melawan dirimu dan nafsumu. Tidaklah yang demikian itu termasuk perintah Rasulullah saw? Bukankan beliau mewanti-wanti tentang hal ini?” Atas jawaban ayahnya tersebut, Hafsah langsung menangis. Umar berkata lagi, “Demi Allah, aku pernah mengatakan sesuatu kepadamu mengenai tekadku untuk berbagi dengan beliau dalam kehidupannya yang berat, supaya aku dapat menikmati kehidupan yang lapang (akhirat)”.

Begitulah para pemimpin dan pendahulu kita. Mereka jauh dari sikap berlebih-lebihan, termasuk dalam urusan perut. Berlebihan dalam makan dan minum itu amat besar resikonya. Seorang Ulama pernah berkata, “Barangsiapa melampaui batas dalam urusan makan dan minum, maka sesuatu hal yang dapat manghinakan dan meremehkannya akan datang di dunia sebelum di akhiratnya”. Ulama lain juga berucap, “Sebuah pintu besar tempat kita masuk menuju Allah adalah meninggalkan makan siang”.

Coba dengar kisah yang diungkapkan oleh Dzun Nun al-Mishri, “Aku tidak makan hingga kenyang dan tidak akan minum hingga puas kecuali ketika aku ingin atau sedang melakukan maksiat”. Bisyir al-Hafi menuturkan, “Lapar memang agung, agung pula buahnya. Lapar menjernihkan hati, mematikan hawa nafsu, dan membuahkan ilmu yang lembut”. Hal ini sesuai dengan penjelasan Aisyah r.ha., “Teruslah mengetuk pintu malakut (alam malaikat), niscaya akan dibukakan pintunya untuk kalian”. Lalu orang-orang di sekelilingnya bertanya, “Bagaimana cara kami bisa mengetuk pintu terus-menerus?”. Aisyah r.ha. menjawab, “Dengan rasa lapar dan haus”.

Salah satu fadhilah lapar ialah sebagaimana dikisahkan oleh Abu Hurairah r.a. diatas. Dia adalah sahabat Rasulullah saw. dan seorang ahli ibadah. Dia juga rajin mengerjakan shalat-shalat sunnah dan selalu menghidupkan malamnya dengan beribadah. Karena amalannya dan sering mengalami kelaparan itulah, dia menjadi salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits-hadits Rasulullah saw.

Suatu hari, Iblis datang kepada Nabi Yahya as. sambil membawa jerohan binatang. Nabi Yahya as. bertanya, “Apa ini?”. Jawab Iblis, “Ini adalah syahwat (birahi) anak cucu Adam”. Nabi Yahya as. bertanya lagi, “Apakah kamu menemukan syahwatku di dalamnya?”. “Tidak, kecuali jika anda tidur kenyang di malam hari, maka aku beratkan anda untuk melakukan shalat dan dzikir”. Kemudian Nabi Yahya as. menegaskan, “Tidak akan!, aku tidak akan kenyang selamanya!”.

Imam Syaqiq berkata, “Ibadah adalah pekerjaan, bengkelnya adalah berkhalwat (menyendiri), dan alatnya adalah rasa lapar”. Luqman al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Hai anakku, manakala perut diisi penuh, maka daya pikir akan tertidur, hikmah akan membisu dan anggota badan menjadi malas beribadah”.

Para ulama terdahulu juga menjauhi makanan yang enak-enak. Imam Hasan al-Bashri berkata, “Janganlah kamu menggabungkan dua lauk, sebab yang demikian itu adalah makanannya orang-orang munafik”. Ulama lain juga berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari ahli zuhid yang merusak perutnya dengan bermacam-macam makanan”.

Dan marilah kita menyimak sabda Rasulullah saw. berikut, “Tidaklah anak cucu Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perut. Sesungguhnya suapan-suapan kecil (tidak banyak) sudah mencukupi bagi anak cucu Adam untuk menegakkan lambungnya. Jika memang tidak boleh tidak (untuk menelan banyak suapan), maka hendaknya diisi perutnya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya”.

GANJARAN YANG DIRAIH DALAM SHALAT TARAWIH PADA BULAN RAMADHAN

Menurut Ali bin Abi Thalib RA, yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibadah shalat tarawih di bulan puasa, Allah menjanjikan:

Malam ke-1: Allah menghapuskan dosa-dosanya seperti sang bayi yang baru lahir dari perut sang ibu.

Malam ke-2: Allah menghapuskan dosa-dosanya dan dosa-dosa kedua orang tuanya jika mereka mukmin.

Malam ke-3: Malaikat dari Arsy mohon kepada Allah agar diterima ibadah hamba-Nya serta dihapuskan dosa-dosanya yang telah lewat.

Malam ke-4: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang yang membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.

Malam ke-5: Diberikan pahala seperti pahala orang yang mengerjakan shalat di Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, serta Masjidil Aqsha di Palestina.

Malam ke-6: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang  yang tawaf di Baitul Makmur. Serta seluruh batu dan bata pada bangunan itu memintakan ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Malam ke-7: Diberikan pahala seperti pahala orang-orang yang ikut Nabi Musa AS melawan Fir’aun dan Haman.

Malam ke-8: Diberikan pahala seperti pahala yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim AS.

Malam ke-9: Akan diberikan pahala sesuai dengan ibadah seorang Nabi.

Malam ke-10: Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Malam ke-11: Akan dihapuskan dosa-dosanya bila telah meninggal sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya.

Malam ke-12: Pada hari kiamat, orang tersebut akan dibangkitkan dengan muka yang cemerlang seperti bulan.

Malam ke-13: Pada hari kiamat, orang tersebut akan terbebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.

Malam ke-14: Para malaikat akan memberikan kesaksian shalat tarawihnya dan Allah tidak menghisabnya lagi.

Malam ke-15: Akan diberi shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy dan Kursi.

Malam ke-16: Akan mendapatkan tulisan “selamat” dari Allah, dimasukkan ke dalam surga dan terbebas dari api neraka.

Malam ke-17: Akan diberikan pahala sesuai dengan pahala para Nabi.

Malam ke-18: Malaikat akan memohon kepada Allah agar dia dan orang tuanya selalu mendapat restu.

Malam ke-19: Allah akan mengangkat derajatnya ke Firdaus (surga tertinggi).

Malam ke-20: Akan diberikan pahala seperti pahala yang diperoleh para syuhada’ dan shalihin.

Malam ke-21: Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya di surga.

Malam ke-22: Akan dihindarkan dari rasa takut yang amat sangat sehingga akan merasa aman dan bahagia di hari kiamat.

Malam ke-23: Allah akan membuatkan sebuah kota di dalam surga.

Malam ke-24: Allah akan mengabulkan 24 permohonan hamba-Nya selagi masih hidup di dunia.

Malam ke-25: Akan dibebaskan dari siksa kubur.

Malam ke-26: Allah akan mengangkat derajat amal kebaikannya sebagaimana derajat amal kebaikannya selama 40 tahun.

Malam ke-27: Akan melewati shiratal mustaqim secepat kilat.

Malam ke-28: Akan dinaikkan derajatnya seribu kali oleh Allah di surga kelak.

Malam ke-29: Allah akan memberi pahala sebagaimana orang yang melakukan ibadah haji seribu kali diterima oleh Allah (haji mabrur)

Malam ke-30: Allah akan menyuruhnya memakan semua buah-buahan di surga, minum air di telaga al-kautsar, mandi air salsabil. Karena Allah Rabbnya dan dia adalah hamba Allah yang setia.