ALIRAN REKONSTRUKSIONISME DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

1.Pengertian Aliran Rekonstruksionisme

Istilah Rekonstruksionisme berasal dari kata Rekonstruksi yang tersusun atas dua kata: “Re” yang berarti kembali dan “konstruk” yang berarti menyusun. Bila kedua kata tersebut digabung maka dapat dimaknai menjadi penyusunan kembali (Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, 2001:664). Adapun imbuhan ‘-isme’ yang disisipkan dalam istilah di atas akan mengubah makna tersebut kepada penegasan bahwa ia merupakan suatu paham atau aliran tertentu.

Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme adalah aliran yang berupaya merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern, serta berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruk-sionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Untuk tujuan tersebut diperlukan kerja sama antarumat manusia (Jalaluddin, 2010:119).

Aliran Rekonstruktivisme ini intinya merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme yang menyatakan bahwa peradaban manusia di masa depan sangat diutamakan. Dalam konteks pendidikan, aliran ini bertujuan hendak membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia, dengan merombak kembali tata susunan pendidikan lama dengan tata susunan pendidikan yang sama sekali baru (Zuhairini, 1991:29). Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

2.Sejarah Perkembangan Aliran Rekonstruksionisme di Dunia Barat

Lahirnya aliran rekonstruksionisme ini berawal dari krisis kebudayaan modern, sama halnya dengan aliran perenialisme. Menurut Muhammad Noor Syam seperti yang dikutip Jalaluddin (2010:118-119), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Meskipun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perenialisme memilih cara tersendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama (regressive road culture) yang mereka anggap paling ideal.

Suatu ketika pada tahun 1930, George Count dan Harold Rugg muncul gagasan yang bermaksud ingin membangun masyarakat baru, yang pantas dan adil. Dari sinilah awal kemunculan aliran ini. Ide gagasannya selanjutnya didukung oleh pemikiran progresif Dewey, dan menjelaskan bahwa aliran rekonstruksionisme berlandaskan filsafat pragmatisme (Teguh Wangsa, 2011:190). Berawal dari pemikiran Theodore Brameld, mereka terinspirasi melalui karya filsafat pendidikannya, mulai dari Pattern of Educational Philosophy (1950), Toward a reconstructed Philosophy of Education (1956), dan Education as Power (1965).

3.Tokoh-Tokoh Aliran Rekonstruksionisme dan Pemikirannya

Rekonstrusionisme sebagai salah satu aliran dalam filsafat pendidikan pertama kali diprakarsai oleh John Dewey pada tahun 1920 melalui karyanya yang berjudul “Reconstruction in Philosophy”. Kemudian aliran ini berlanjut dengan munculnya tokoh-tokoh lain seperti Caroline Pratt, George Counts, Harold Rugg, John Hendrik dan Muhammad Iqbal sebagai wakil dari tokoh intelektual muslim.

George Counts dan Harold Rugg sebagai tokoh penggerak aliran rekonstrusionisme yang dipelopori John Dewey bermaksud ingin membangun masyarakat baru yang dipandang pantas dan adil. Dalam karya klasik milik George Counts yang berjudul “Dare the Schools Build a New Social Order” yang terbit pada tahun 1932 sebagaimana yang dikutip Arthur K. Ellis, ia berkeinginan menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana rekonstruksi masyarakat (Muhmydaieli, 2011:172).

Hal yang sama dikemukakan oleh John Hendrik, bahwa rekonstrusionisme merupakan reformasi sosial yang menghendaki budaya modern para pendidik. Rekonstrusionisme memandang kurikulum sebagai problem sentral dimana pendidikan harus menjawab pertanyaan beranikah sekolah membangun suatu orde sosial yang baru. Sehingga tujuan utama dan tertinggi hanya dapat diraih melalui kerjasama antar bangsa tanpa membeda-bedakan warna kulit, nasionalitas, dan kepercayaan supaya peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran di tatanan sosial masyarakat akan terwujud. (Muhmydaieli, 2011:173)

Tak tertinggal pula dari kalangan intelektual muslim, Muhammad Iqbal (w. 1938) dalam hal ini mengungkapkan, bahwa perubahan mendasar dalam pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang meliputi keseluruhan sistem pendidikan guna untuk membentuk pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Menciptakan masyarakat baru melalui rekonstruksi pendidikan merupakan suatu keharusan.

4.Islam dan Aliran Rekonstruksionisme

Aliran rekonstruksionisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang kemunculannya diawali dengan sebuah keprihatinan terhadap kondisi kehidupan modern sehingga menuntut apa yang harus dipersiapkan manusia di masa depan. Sama halnya dengan aliran perenialisme, kehidupan manusia modern adalah zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang terganggu, sakit, penuh kebingungan, serta kesimpangsiuran proses. Namun aliran rekonstruksionisme ingin membentuk susunan tata kehidupan yang baru dan membutuhkan kerjasama antar manusia. Dan memang, tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa (Teguh Wangsa, 2011:190). Hal ini persis ketika Islam turun ketika kondisi dunia pada saat itu berada dalam kejahiliyyahan dari segi budaya dan perilaku manusia saat itu, terutama kaum Quraisy di Jazirah Arab, tempat turunnya agama Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa tujuan Islam diturunkan ke dunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai penutup dan penyempurna agama-agama sebelumnya. Dalam ajarannya, Islam sangat peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tidak terikat dengan zaman-zaman tertentu, sehingga diharapkan mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi umat manusia dan rahmat dari semesta alam dari generasi ke generasi. Segala persoalan yang terjadi di tengah-tengah manusia, baik terkait urusan keduniaan maupun ukhrawi dalam konteks sosial cukup dikembalikan pada sumber hukum Islam itu sendiri (QS.4:59).

Muhammad Iqbal, tokoh intelektual muslim India yang dikutip Mukti Ali (1993:187) pernah menyatakan bahwa upaya menginterpretasikan prinsip-prinsip hukum Islam pada era pendiri-pendiri mazhab adalah belum final, sebab realitas yang dihadapi pada setiap generasi akan selalu berubah. Karenanya sangat perlu untuk terus menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar pada setiap generasi, terutama pada kondisi kehidupan modern ini. Juga dalam karyanya “Reconstruction of Religious Thought in Islam”, beliau sangat menekankan pada ‘ijma” sebagai sebuah metodologi yang harus diambil oleh umat muslim dalam kondisi modern seperti saat ini. Disebutkan di dalamnya bahwa upaya ijma ditempatkan pada sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Hadits.

Pemikirannya yang cukup revolusioner dalam merekonstruksi pemahaman Islam dirasa cukup berpengaruh di era modern ini. Terlebih pula pada ketegasan dalam mengemukakan pendapatnya bahwa ajaran Islam tidak sekaku seperti yang dipersepsikan masyarakat di zamannya. Beliau melalui kutipan Mukti Ali (1993:187) menyatakan,

“Tuntutan generasi muslim sekarang ini untuk menginterpretasikan kembali prinsip-prinsip hukum yang mendasar dalam pandangan dan pengalaman mereka sendiri serta kondisi kehidupan modern yang mengalami perubahan ini, menurut pendapat saya adalah sah. Ajaran Al-Qur’an bahwa hidup ini adalah suatu proses dari penciptaan yang progresif mengharuskan bahwa setiap generasi harus dibimbing, tetapi tidak terhalang oleh pandangan-pandangan para ulama terdahulu, harus dipersilahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri”.

Terkait substansi dari Islam itu sendiri yang ajarannya senantiasa berlaku sepanjang zaman, maka upaya interpretasi terhadap sebuah fenomena yang sedang berkembang saat ini paling tidak harus disinergikan pada dasar agama secara kontekstual. Secara teks, Islam memang dinyatakan sebagai ajaran yang tidak pernah berubah sampai berakhirnya zaman (QS.15:9), hanya saja secara realitas, zaman itu senantiasa berkembang. Semua itu adalah fenomena kehidupan yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi sumber tekstual (Al-Qur’an dan Sunnah) tidak dapat dimaknai begitu saja bila dihadapkan dengan zaman yang senantiasa terus berubah. Ditambah lagi dalam tulisan Atho’ Mudzhar (2006:19) disebutkan, para ahli sosiologi bersepakat bahwa agama tidak semuanya mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam fungsi-fungsi sosial, seperti persoalan psikologis dapat diselesaikan oleh psikoterapi, fungsi penanaman rasa cinta oleh humanisme, dan fungsi memahami arti hidup dan arti alam oleh sains. Meski begitu, beberapa disiplin ilmu diatas dapat disinergikan dalam agama sehingga menjadikannya sebagai functional equivalent of religion.

5.Aliran Rekonstruksionisme dan Hubungannya Dengan Pendidikan Islam

Islam turun membawa rahmat bagi seluruh alam. Inilah yang menjadi misi ajaran Islam. Nuansa risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin ini akan memberi dampak pada aspek-aspek yang lain, termasuk dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang merupakan bagian dari manifestasi ajaran Islam harus mengikuti kaidah-kaidah pada nilai-nilai keislaman dan berorientasi pada tujuan penciptaan manusia. Mengingat manusia diciptakan Allah ke dunia ini mempunyai misi religus-sosial, maka pendidikan dipahami sebagai media untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia yang sejalan dengan tujuan penciptaan manusia. Diharapkan tugas pendidikan menurut aliran rekonstruksionisme ditekankan pada pengembangan aspek individual dan sekaligus pengembangan aspek tanggung jawab kemasyarakatan, serta lebih bersikap proaktif dan antisipatif dalam menghadapi permasalahan di masa depan (Muhaimin, 2003:143).

Demikian halnya dalam wacana pendidikan Islam, pendidikan bukanlah persoalan yang stagnan. Sebagai sebuah kegiatan yang menitikberatkan pada fungsi pembentukan manusia seutuhnya pada setiap perkembangannya, persoalan yang dihadapi akan selalu berubah dan dinamis. Sehingga berbagai macam problem yang sama sekali baru di dunia pendidikan sangat membutuhkan penyelesaian secara ijtihadiyah (Mujamil Qamar, 2005:225). Lebih jelasnya Hasan Langgulung (1980:187-235) mengemukakan bahwa sumber-sumber pemikiran pendidikan Islam dalam konteks ini tidak hanya kitab Allah dan Sunnah, tetapi juga perkataan sahabat, kemaslahatan sosial, nilai-nilai dan kebiasaan sosial, serta pemikir-pemikir Islam. Oleh karenanya kendatipun Allah secara tekstual telah menurunkan wahyu dan berfungsi sebagai sarana petunjuk bagi manusia, namun dalam kenyataannya isi dari wahyu tersebut perlu dijabarkan secara detail yang melibatkan akal untuk menafsirkan problem-problem kehidupan secara mendalam, utamanya saat mengupas permasalahan dalam pendidikan.

Meski begitu Azra sebagaimana dikutip Muhaimin (2003:131) merasa prihatin ketika mengamati pendidikan Islam yang ada selama ini, salah satunya ialah fenomena pendidikan Islam yang seringkali terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat, baik sekarang maupun yang akan datang. Untuk itulah rekonstruksionisme menghendaki agar pendidikan sekarang mampu membangkitkan kemampuan peserta didik untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga para peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas (Muhaimin, 2003:41). Bertolak dari hal tersebut, maka Islam juga menuntut seseorang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang menurut Ismail Yusanto (2011:70) agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan misi sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Dengan pola pengintegrasian potensi agama dan iptek, diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat menuju tatanan sosial yang lebih baik.

6.Implementasi Pembelajaran Menurut Aliran Rekonstruksionisme

Bila dikaitkan pada sebuah implementasi pendidikan, maka rekonstruksionisme dapat diimplikasikan dalam proses pendidikan dan pembelajaran, yang penerapan tersebut beserta metodologinya dalam pembelajaran dapat dipetakan sebagai berikut (Uyoh Sadulloh, 2006:171; Muhaimin, 2003:65-67):

Tujuan Pendidikan 1.      Siswa memiliki kesadaran akan problem sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Siswa memiliki keterampilan untuk memecahkan problem tersebut.

3.      Membangun tatanan masyarakat baru.

Tema pendidikan Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
Kurikulum 1.      Semua bidang kajian yang meliputi sosial, politik, ekonomi umat manusia.

2.      Problem sosial dan personal dari siswa sendiri.

Kedudukan siswa Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, mana kala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
Metode Scientific inquiry sebagai metode kerja problem solving
Peran Guru 1.      Membuat siswa sadar akan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia.

2.      Project director dan research teacher

Peran Sekolah 1.      Perantara utama bagi perubahan sosial, politik, ekonomi dalam masyarakat.

2.      Mengembangkan insinyur sosial.

Selepas mempelajari aliran rekonstruksionisme ini, maka sebagai calon pendidik PAI harus berupaya mampu memahami dan menerapkannya. Dikarenakan seorang guru dituntut mampu memberi arahan kepada peserta didik terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapinya. Guru juga berupaya membantu peserta didik dalam mengidentifikasi masalah-masalah tersebut untuk dipecahkan dalam proses pembelajaran melalui problem solving. Disamping itu pula seorang guru juga harus mampu mendorong peserta didik untuk dapat berpikir tentang beberapa alternatif solusi dalam memecahkan masalah di kehidupan modern ini, utamanya terkait dengan keagamaan Islam.

 

Iklan

KANDUNGAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SERAT WEDHATAMA

Oleh: Muchson AR*

A.  Pendahuluan

Pendidikan saat ini hanya mengedepankan aspek keilmuan dan kecerdasan intelektual anak. Adapun pembentukan karakter dan budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Rapuhnya karakter dan budaya dalam kehidupan bangsa dapat membawa kemunduran dalam peradaban bangsa. Sebaliknya, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara. Persoalan itu mengemuka dalam Saresehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis 14 Januari 2010, yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.

Sebenarnya dalam Pasal 3  Undang-Undang  No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah dirumuskan : ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Akan tetapi dalam hal pembentukan watak (karakter), rumusan yang bersifat normatif tersebut tidak secara nyata diimplementasikan dalam kebijakan pendidikan maupun praktik persekolahan kita.

Berbagai kasus yang tidak sejalan dengan etika, moralitas, sopan santun atau peroilaku yang menunjukkan rendahnya karakter telah sedemikian marak dalam masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, perilaku itu tidak sedikit ditunjukkan oleh  orang-orang yang terdidik. Ini membuktikan bahwa pendidikan kurang berhasil dalam membentuk watak (karakter) yang terpuji. Dalam kondisi yang demikian, kiranya cukup relevan untuk diungkapkan kembali “paradigma lama” tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai. Warisan nilai-nilai budaya masa lalu itu tidak sedikit yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter.

Persoalan yang muncul dalam wacana pendidikan karakter menyangkut banyak hal, antara lain aspek substansi-materi dan aspek pedagogi. Dengan kata lain, menyangkut ”apa” yang diajarkan dan ”bagaimana” mengajarkannya. Beberapa tahun yang lalu pernah dikeluarkan kebijakan menteri tentang pendidikan budi pekerti, yang arahnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan karakter. Persoalan yang diramaikan saat itu justru tentang curriculum design, apakah dikembangkan berdasar konsep separated curriculum atau integrated curriculum. Maksudnya, apakah akan berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri (terpisah) atau akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang telah ada.

Substansi-materi pendidikan karakter yang utama pada dasarnya adalah nilai-nilai moral, baik yang bersifat universal maupun lokal kultural. Nilai-nilai moral itu dapat berasal dari ajaran agama, etika, adat istiadat, tradisi, dan ajaran-ajaran moral yang diwariskan melalui tradisi tutur maupun tertulis. Salah satu warisan naskah lama yang di dalamnya terkandung ajaran moral adalah Serat Wedhatama, buku kumpulan tembang karya KGPAA Mangkunegara IV (1811-1881, naik tahta 1853).

Isi buku Serat Wedhatama itu secara selintas cukup dikenal oleh berbagai kalangan, namun isi yang lebih dalam masih belum banyak diungkapkan. Pengungkapan isi yang lebih dalam itu antara lain tentang : profil buku Serat Wedhatama dan sosok pengarangnya; nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam buku Serat Wedhatama;  dan sebagainya. Kandungan nilai-nilai moral itu sangat relevan untuk diteliti dan diungkapkan kembali dalam kondisi moralitas yang carut marut seperti sekarang ini. Nilai-nilai moral dalam Serat Wedhatama itu dapat memberikan sumbangan dan menjadi tawaran alternatif bagi upaya perbaikan moralitas bangsa.

B.  Serat Wedhatama dan Sosok Pengarangnya

Secara harfiah, Serat Wedhatama berasal dari kata-kata: serat  yang berarti tulisan; wedha yang berarti ajaran atau ilmu pengetahuan; dan tama berasal dari kata utama yang berarti kebaikan. Jadi Serat Wedhatama berarti tulisan yang berisi tentang ajaran kebaikan atau tuntunan moral. Serat Wedhatama adalah karya sastra dalam bentuk tembang, sebagaimana dinyatakan pada bagian awal buku tersebut yang berbunyi: sinawung resmining kidung, yang artinya: dihias dengan indahnya lagu (tembang).

Tembang-tembang dalam Serat Wedhatama dikategorikan dalam jenis tembang macapat. Menurut Suwarno (2008: 4-7) dan Suwardi Endraswara (2006: 87), ada beberapa pendapat tentang pengertian tembang macapat. Pertama, tembang macapat  dibaca per  empat wanda (suku kata) untuk setiap penggalan. Penggalan terakhir jika tidak genap empat wanda dibaca sisa wanda yang ada. Contoh : bapak pocung/dudu watu/dudu gunung/ asal saka/ Plembang/; Ngon- ingone/sang bupati/yen lumampah/si pocung lem-/beyan grana. Dalam Serat Wulang Reh juga demikian, misalnya pada pupuh Pocung pada/bait 7 yang berbunyi : lamun bener/lan pinter pa-/momongipun/kang ginawe/ tuwa/haja nganggo/habot sisih/ dipun padha/ pamengkune/mring santana. Kedua, tembang macapat  itu berasal dari kata maca cepet (cara membacanya dengan cepat). Akronimnya adalah macapet, namun dalam perkembangannya agar enak didengar menjadi macapat. Ketiga, tembang macapat termasuk jenis sekar (tembang) klasisifikasi empat. Klasifikasi satu adalah sekar ageng sapadaswara. Klasifikasi dua adalah sekar ageng sapadadirga. Klasifikasi tiga adalah sekar tengahan.

       Menurut Suwarno (2008: 8-9), sebagian besar pendapat mengatakan bahwa tembang macapat terdiri dari 11 macam tembang. Sebagian ada yang mengatakan hanya 9 macam tembang, namun malah ada juga yang mengatakan 15 macam tembang. Macam-macam tembang tersebut adalah : (1) Mijil; (2) Kinanthi; (3) Sinom; (4) Asmaradana; (5) Dhandanggula; (6) Maskumambang; (7) Durma; (8) Pangkur; (9) Pocung; (10) Gambuh; (11) Megatruh; (12) Balabak; (13) Wirangrong; (14) Jurudemung; (15) Girisa.

       Penamaan tembang-tembang tersebut menggambarkan tahap-tahap perkembangan hidup manusia. Kehidupan manusia dimulai  dari lahir (mijil) dan dilanjutkan masa kanak-kanak yang masih dibimbing atau digandeng (kinanthi) orang tua.  Selanjutnya tahapan  masa muda (sinom) dan mengenal asmara (asmaradana). Pada tahapan selanjutnya orang merancang kehidupan yang baik, manis, indah, sejahtera (dandanggula). Pada perkembangan selanjutnya orang sudah memikirkan kebaikan atau keutamaan, namun belum mengendap (maskumambang). Perkembangan selanjutnya, orang memasuki masa tua, yang seharusnya sudah mundur dari ‘ma lima’ (durma). Tahapan selanjutnya ditandai dengan sikap yang menghindari (nyimpang) dan mengesampingkan atau membelakangi (mungkur) berbagai urusan duniawi (pangkur). Kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian dan kemudian dikafani (pocung).

      Serat Wedhatama pada umumnya dikenal sebagai buku tembang yang berisi ajaran moral karangan KGPAA Mangkunegara IV, dengan nama kecil Sudira, yang lahir pada 1811. Namun dalam buku Serat Wedhatama tulisan Anjar Any, terbitan CV Aneka Ilmu Semarang (hal. 21-23) dikemukakan kontroversi pengarang buku tersebut. Ada sebuah sumber yang menyatakan bahwa Wedhatama itu sebenarnya ditulis oleh satu team yang dipimpin oleh RT Padmodipuro, seorang bangsawan Mangkunegaran. Ada pula yang menyatakan bahwa buku tersebut ditulis oleh RM.Ng. Wiryokusumo. Sementara itu di Mangkunegaran saat ini masih tersimpan sebuah surat dari RMT Tondokusumo, cucu R.M.Ng. Wiryokusumo, tertanggal 10 April 1941,  yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar pertanyaan kakaknya yang bernama KPH Suryokusumo kepada neneknya, yaitu R.Ay. Wiryokusumo. Jawaban yang diperoleh menyatakan bahwa KGPAA Mangkunegara IV adalah pengarang Serat Wedhatama. Beliau  mempunyai beberapa orang murid untuk pengajaran Bahasa Kawi, yaitu BRMH Suryoputro, BRMH Suryohasmoro, BRM Suryodarmojo, RMH Tondokusumo, RM. Ng. Joyosaroso, RM. Ng. Cokrowijoyo, dan RM. Ng. Wiryokusumo. Mereka sering menerima batu tulis (sabak) dan oleh RM. Ng. Wiryokusumo, batu tulis yang sudah berisi tulisan itu  dikumpulkan untuk diserahkan kembali kepada KGPAA Mangkunegara IV.

KGPAA Mangkunegara IV adalah cucu Mangkunegara II dari garis ibu dan saudara sepupu Mangkunegara III. Ia menjadi penguasa Mangkunegaran (1853-1881), sebuah kadipaten (kerajaan kecil) yang didirikan oleh KGPAA Mangkunegara I atau RM Said, yang juga terkenal dengan panggilan Pangeran Sambernyawa. Kadipaten itu didirikan   berdasarkan Perjanjian Salatiga pada tahun 1757, dua tahun sesudah Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua (palihan nagari), yaitu Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Berdasar Perjanjian Salatiga itu wilayah kekuasaan Surakarta Hadiningrat dikurangi lagi oleh wilayah kekuasaan Mangkunegaran.

Sesudah berakhirnya palihan nagari dan sekaligus berakhirnya perang suksesi itu merupakan zaman renaisans, yang melahirkan pujangga-pujangga besar. Mereka adalah Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita. Masa kepujanggaan Surakarta itu berlangsung selama kurang lebih 120 tahun, dihitung sejak Perjanjian Salatiga 1757  hingga wafatnya Ranggawarsita pada 1873 atau mangkatnya Mangkunegara IV pada 1881 (Hasanu Simon, 2004: 515).

Mangkunegara IV telah menjalankan dua peran ganda yang kontradiktif, yaitu peran pemegang kekuasaan pemeritahan dan peran pujangga. Dua peran tersebut sulit dijalankan oleh sosok pribadi yang sama dalam kurun waktu yang bersamaan. Ini yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang raja yang dalam terminologi Jawa disebut raja pinandhita (raja yang berwatak pendeta). Dalam dunia pewayangan, yang tidak lain merupakan dunia ide, sosok seperti itu ditemukan pada diri Begawan Abiyasa. Setelah lengser dari  kedudukannya sebagai raja Hastina, ia kemudian menjadi seorang begawan di Pertapan Wukiratawu atau Pertapaan Sapta Arga.

C.  Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wedhatama

Dalam tradisi sastra Jawa, buku-buku tembang pada umumnya berisi ajaran moral atau tuntunan budi pekerti yang luhur. Hal itu berbeda dengan gendhing-gending dolanan yang isinya lebih bersifat hiburan. Dalam konteks masa kini, keinginan untuk menjadikan nyanyian atau lagu-lagu agar berfungsi sebagai media pendidikan nilai masih sering mengemuka, tidak hanya dari kalangan pemikir dan praktisi pendidikan, namun juga dari sebagian artis penyanyi itu sendiri.

Franky Sahilatua, pelantun lagu Bis Kota, Kereta Malam, Orang Pinggiran, dan Perahu Retak itu mengatakan bahwa ia lebih suka berbicara tentang nilai-nilai dan realitas sosial. Ia berpesan kepada generasi muda yang bergelut di bidang seni musik agar mampu mengangkat tema-tema lagu yang sarat dengan nilai-nilai yang didasari pemahaman terhadap realitas sosial (Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi UII, “Mimpi Indah Masyarakat Etis” majalah Kognisia; No. 02 Tahun II, September 2000),

Persoalan nilai dan realiatas sosial yang timpang juga muncul dalam pikiran Bimbo, kelompok musikus yang melegenda.  Ia mengemukakan kegelisahannya dalam melihat karut-marut negeri ini. Ia merasakan bangsa Indonesia saat ini sudah kehilangan rasa (roh) Indonesianya, yakni akhlak santun, budi pekerti, dan nuansa-nuansa filosofis, spiritual. Ada perubahan nilai, perubahan karakter pada bangsa ini, bahkan rasanya bangsa ini bukan bangsa Indonesia lagi (Kompas, Jumat 11 Sepember 2009).

Adapun kandungan nilai-nilai moral atau budi pekerti dalam buku tembang Serat Wedhatama itu tersebar di dalam lima pupuh tembang yang ada. Nilai-nilai yang terkandung dalam masing-masing tembang dapat dideskripsikan pada unit-unit tembang berikut ini.

 

1. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Pangkur

           Bait ke 1. Dengan menjauhi sifat angkara murka (mingkar mingkur ing angkara), Sri Mangkunegara IV berkenan mendidik para putra, yang dirangkai dalam bentuk tembang  (sinawung resmining kidung). Dalam hubungan ini, agama merupakan pegangan hidup yang berharga (agama ageming aji).

           Bait ke 2. Petuah agar jangan menjadi orang yang lemah budinya. Sebab, jika lemah budinya dan tumpul perasaannya (yen tan mikani rasa), meskipun sudah tua, ia bagaikan sepah tebu dan ketika dalam pertemuan sering bertindak memalukan (gonyak-ganyuk nglelingsemi).

            Bait ke 3-4. Petuah agar tidak bertindak semaunya sendiri (nggugu karepe priyangga). Sifatnya, jika berbicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, tidak mau dianggap bodoh, dan mabuk pujian. Adapun perilaku orang yang dungu, bualannya tidak karuan dan tidak masuk akal (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Namun bagi orang yang bijaksana, dengan cara yang halus (sinamun ing samudana) hal itu ditanggapi dengan baik (sesadon ing adu manis).

            Bait ke 5. Ajaran tentang ilmu sejati, yang membuat nyaman di hati. Ilmu ini mengajarkan agar menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh (bungah ingaran cubluk) dan tetap gembira jika dihina (sukeng tyas yen den ina). Tidak demikian halnya dengan si Dungu yang selalu sombong (anggung gumrunggung) dan ingin dipuji setiap hari (ugungan sedina-dina).

            Bait ke 6-8. Petuah yang menggambarkan tentang hidup yang hanya sekali, namun berantakan (uripe sepisan rusak). Orang yang demikian, pikirannya tidak berkembang dan kacau (nora mulur nalare pating seluwir), ibarat dalam gua yang gelap (kadi ta guwa kang sirung), picik pengetahuannya, namun sombong. Anak yang demikian, jika menghadapi kesulitan, ia mengandalkan orang tuanya yang bangsawan (pelayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur). Wataknya tampak ketika bertutur kata, tak mau kalah (lumuh asor kudu unggul), sombong dan meremehkan orang lain (sumengah sesongaran).

       Bait ke 9. Ajaran tentang keburukan ilmu karang (ilmu gaib, ilmu kekebalan, ilmu sihir). Ilmu tersebut diibaratkan bedak, tidak meresap ke dalam jiwa (iku boreh upaminipun, tan rumasuk ing jasad), dan jika menghadapi mara bahaya tidak dapat diandalkan.

       Bait ke 10-11. Petuah agar berguru tentang kebaikan (puruita kang patut), serta dapat menempatkan diri (traping angganira) dan mematuhi tatanan negara (angger ugering keprabon). Juga agar berguru pada orang bijak yang berjiwa pertapa (sarjana kang martapi), untuk memahami ilmu yang hakiki, tidak harus kepada orang yang lebih tua, namun bisa juga kepada anak muda ataupun orang kebanyakan (tan mesthi neng janma wredha, tuwin mudha sudra).

            Bait ke 12. Ajaran tentang sebutan “orang tua” (wong tuwa, wong sepuh).Dia adalah orang yang memahami wahyu Allah, menguasai ilmu kesempurnaan, serta memahami makna dwitunggal (roroning atunggil, yaitu makhluk dan Khalik, titah dan yang menitahkan). Orang disebut “orang tua” bila ia tidak dikuasai hawa nafsu (lire sepuh sepi hawa).

       Bait ke 13-14. Ajaran tentang pemahaman terhadap sukma (roh, namun ada yang memaknai Tuhan) (tan samar pamoring sukma). Caranya dengan diresapi dan direnungkan di kala sepi (sinuksmaya winahya ing asepi), di simpan di lubuk hati (sinimpen telenging kalbu), dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, bagaikan mimpi. Dalam kondisi demikian itu lah hadirnya rasa yang sejati. Jika mampu mencapainya, ia telah mendapatkan anugerah Tuhan. Ia mampu mencapai alam kosong (bali alaming ngasuwung), kembali ke asal mula (mulih mula mulanira), tidak mabuk dunia yang sifatnya kuasa-menguasai

2. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Sinom

           Bait ke 15-18. Petuah agar meniru perilaku yang baik (laku utama), yang dicontohkan oleh Panembahan Senopati, raja Mataram (wong agung ing Ngeksiganda). Ia sungguh-sungguh dalam menekan hawa nafsu (kapati amarsudi sudaning hawa lan nefsu), yang dijalani dengan bertapa (pinesu tapa brata). Ia berusaha membuat senang hati orang lain dan dalam setiap pertemuan ia membuat suasana tenteram. Di kala tiada kesibukan ia berkelana mencari ilham (kala kalaningasepi lelana teki-teki), untuk mencapai cita-cita (nggayuh geyonganing kayun), yang terpesona pada ketenteraman hati (kayungyun eninging tyas), senantiasa menjalani prihatin, kuat dalam mengurangi makan dan tidur (puguh panggah cegah dhahar lawan nendra). Setiap pergi meninggalkan istana, ia berkelana ke tempat yang sunyi (lelana laladan sepi) untuk menyerap kesempurnaan ilmu agar jelas apa yang dituju. Tujuannya untuk mencapai kehalusan budi (budya tulus) dan kemampuan yang optimal (mesu reh kasudarman). Di tepi samodra (neng tepining jalanidhi), ia memahami kekuasaan samodra, yang seakan digenggamnya dalam satu genggaman.

            Bait ke 19-21. Pada bait (pada) ini lebih banyak berisi mitos tentang hubungan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul, kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

           Bait ke 22-24. Ajaran tentang corak keislaman yang tidak begitu islami. Hal itu tampak pada sindiran terhadap anak muda yang dianggap suka meniru Nabi (manulad nelad Nabi), hanya untuk pamer, sebelum bekerja singgah dahulu di masjid (saben seba mampir mesjid). Bagi pengarang, anak muda seperti itu hanya berkutat pada syariat dan tidak sampai pada hakikat (anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi). Bahkan terungkap sinisme, jika berkhotbah berirama Dandanggula gaya palaran (kalamun maca kotbah, lelagone Dandanggendis, swara arum ngumandang cengkok palaran). Ia menghendaki keislaman yang tidak mendalam (sathitihik bae wus cukup), jangan bersemangat meniru ahli fikih (nelad kas ngepleki pekih).

            Bait ke 25-28. Ajaran yang cenderung pada pragmatisme, yaitu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi pengarang, dari pada mendalami agama, lebih baik mencari nafkah (ngupa boga). Berhubung ditakdirkan sebagai orang lemah, lebih baik mengabdi raja, bertani, atau berdagang (suwiteng nata, tani tanapi agrami). Dengan nada sarkastis terhadap diri sendiri, ia memberi alasan “ini karena saya orang bodoh, belum tahu cara hidup orang Arab” (padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab). Ia pernah menghadapi dilema, antara mengutamakan perintah agama atau pekerjaan (bot Allah apa Gusti, tambuh-tambuh solah ingsun). Pada masa mudanya ia rajin beribadah dan dalam hatinya ada perasaan takut menghadapi hari akhir (sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan ngakir jaman). Akan tetapi hal itu terhenti, karena alasan pekerjaan. Tidak sempat sembahyang, karena ketika dipanggil yang memberi makan, jika tidak segera menghadap akan dimarahi (nora kober sembahyang, gya tinimbalan, marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani).

            Bait ke 29. Petuah tentang tiga nilai yang mengangkat kedudukan manusia, yaitu pangkat, harta, dan kepintaran (wirya harta tri winasis). Jika seseorang tidak memiliki satu pun di antara ketiganya, maka tidak ada artinya sebagai manusia, bahkan lebih berharga daun jati kering, sehingga ia menjadi peminta-minta atau gelandangan (kalamun kongsi sepi saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman, ngulandara).

            Bait ke 30-32. Ajaran tentang samadi atau meditasi, sehingga seseorang mampu melihat hakikat pribadinya sendiri secara jelas  (wosing jiwangga melok tanpa aling-aling), serta menerawang keadaan yang seakan tanpa batas (angelangut tanpa tepi). Demikian itu manusia yang luhur,  gemar menyepi (tuman tumanem ing sepi), mempertajam dan membersihkan jiwa (masah amemasuh budi), namun secara lahiriah tetap menjalankan tugas kewajibannya, bersikap rendah hati, dan senantiasa membuat senang hati orang lain.

3. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Pucung

            Bait ke 33-34. Ajaran bahwa ilmu itu dapat tercapai dengan diamalkan (ngelmu iku kelakone kanthi laku), yang dimulai dengan kemauan kuat. Adapun budi yang baik akan mampu menghancurkan nafsu angkara yang berada di dalam diri manusia itu sendiri.

            Bait ke 35-37. Ajaran bahwa orang yang terpesona pada kehidupan ruhani (wus sengsem reh ngasamun), bersifat pemaaf dan  sabar. Dalam sunyi, hati yang jahat dapat ditenggelamkan oleh cinta kasih (karana karoban ing sih).

            Bait ke 38-41.  Pandangan yang bernada sarkastis terhadap praktik keislaman kalangan muda, dengan ucapan: belum mampu tetapi berani memaknai lafadz seperti sayid dari Mesir (durung pecus keselak besus, amaknani rapal kaya sayid seka Mesir), aneh, tidak suka ke-Jawa-annya, memaksa diri mencari pengetahuan di Mekah (elok Jawane den mohi, paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah). Sedangkan inti pengetahuan yang dicari itu ada pada diri sendiri. Asal mau berikhtiar, di sana dan di sini (Jawa) tidak berbeda.

           Bait ke 42. Pandangan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan nalar (logika) (ngelmu iku mupakate lan panemu) dan untuk mencapainya dengan bertapa (pasahe lan tapa).

            Bait ke 43. Ajaran tentang tiga hal yang perlu dijadikan pegangan, yaitu: rela jika kehilangan sesuatu, menerima dengan sabar jika mendapat perlakuan yang menyakitkan hati, ikhas menyerahkan diri pada Tuhan (lila lamun kelangan nora gegetun, trima lamun ketaman saserik sameng dumadi, legawa nalangsa srah ing bathara).

            Bait ke 44. Pandangan sepintas tentang teologi yang bersifat mistis, kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

            Bait ke 45-47.  Petuah tentang sifat-sifat angkara, yang kesukaannya mencaci maki tanpa isi, asalkan marah-marah (kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring), kesalahannya sendiri ditutupi, kemarahannya  dilampiaskan untuk memukul orang lain, belum seberapa ilmunya namun ingin dianggap pandai, itupun sering terhalang oleh pamrih.

4. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Gambuh

           Bait ke 48. Ajaran tentang empat macam sembah (sembah catur), yaitu sembah raga, cipta, jiwa, dan rasa.

           Bait ke 49-57. Ajaran sembah raga yang dianggap sebagai tahapan akan memulai perjalanan (semacam thariqat) (amagang laku). Pembersihannya dengan air sebagaimana bersuci sebelum shalat lima kali sehari (sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu). Pada tahapan ini, orang tergesa-gesa ingin melihat cahaya Tuhan (kesusu arsa weruh, pan cahyaning Hyang), tetapi belum mampu. Tahapan ini disebut syariat, ritualnya dilakukan dengan tetap dan tekun.

            Bait ke 56-62. Ajaran sembah kalbu (cipta) yang jika dilakukan secara terus-menerus akan menjadi ritual (laku). Pembersihannya tanpa air, melainkan dengan mengendalikan hawa nafsu (sesucine tanpa banyu, hamung nyuda mring hardaning kalbu). Jika dilakukan dengan baik, orang akan berada pada suasana batin yang remang-remang atau sayup-sayup (tumalawung) dan terbukanya alam yang di atas. Pada tahapan ini syaratnya adalah sabar dalam segala tindakan dan terlaksananya dengan tenang, jernih, dan sadar (eneng, ening, eling).

            Bait ke 63-69. Ajaran sembah sukma, yaitu sembah yang dilakukan setiap saat dan merupakan perjalanan (ritual) terakhir (pepuntoning laku). Pembersihannya dengan waspada dan ingat (sadar) (awas, emut). Pemeliharaannya dengan membiasakan diri untuk menguasai dan merangkul tiga alam (yang dimaksud adalah: alam fisik, alam rasa, dan alam angan-angan). Selain itu, makrokosmos (jagad agung) digulung ke dalam mikrokosmos (jagad alit).

            Bait ke 70-72. Ajaran sembah rasa, yang dengan sembah ini akan mampu memahami hakikat (makna terdalam) dari kehidupan (sembah rasa karasa wosing dumadi). Tercapainya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Di sini tidak ada lagi was-was dan keragu-raguan, hanya percaya sepenuhnya pada takdir (wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ing takdir). Dipesankan agar jika belum mampu sampai pada tahapan ini jangan mengaku telah mampu, sebab akan mendapat laknat.

            Bait ke 73. Untuk melaksanakan petuah-petuah dalam tembang ini, orang harus sentausa dan teguh budinya. Demikian pula harus sabar, tawakal, ikhlas di hati, rela dan menerima segala keadaan, berjiwa pandhita, dan paham terhadap akhir dari hidup ini.

            Bait ke 74. Petuah agar segala tindak-tanduk dikerjakan sekedarnya (tidak berlebihan), memberi maaf kesalahan orang kain (den ngaksama kasisipaning sesami), menghindari tindakan tercela dan sifat angkara (sumimpanga ing laku dur).

            Bait ke 75. Petuah agar orang mampu membedakan antara baik dan buruk, agar terpancar pelita yang menerangi hati (pandaming kalbu).

            Bait ke 76-82. Lebih banyak berisi pandangan yang bersifat mistis tentang  rasa dan wujud (endi manis, endi madu) dan ajaran-ajaran lain yang kurang relevan dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

5. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tembang Kinanthi

           Bait ke 83. Petuah agar dalam hidupnya, orang berbekal ingat dan waspada (eling lan waspada; awas lan eling). Ingat yang dimaksud adalah ingat pada petunjuk atau contoh pelajaran yang diberikan oleh alam (eling lukitaning alam).

            Bait ke 84. Petuah agar mempertajam perasaan (angulah lantiping ati) dan menyingkirkan hawa nafsu agar menjadi manusia yang berbudi luhur (bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami).

            Bait ke 85. Ajaran tentang cara mempertajam hati, yaitu dengan samadi di tempat yang sunyi (pangasahe sepi samun). Ketajamannya dapat mengikis gunung penghalang, yang menjadi penghalangnya budi (bengkas kahardaning driya, kekes srabedaning budi).

            Bait ke 86-88.  Petuah agar waspada, artinya mengetahui penghalang dalam hidup (wruh warananing urip). Juga agar tidak lengah dalam hati (aywa sembrana ing kalbu) dan memperhatikan pada kata-kata yang diucapkan sendiri,  menghilangkan keraguan dalam hati, dan waspada dalam memandang sesuatu (waspada ing pangeksi).

            Bait 88-90. Petuah agar tidak membiasakan diri berbuat nista (awya mematuh nalutuh), hati-hati terhadap berbagai rintangan dalam hidup. Umpama orang berjalan, jalan yang berbahaya dilalui, apabila kurang waspad, dapat tertusuk duri (sayekti kasandung ri) atau terantuk batu.

            Bait 91-93. Petuah agar tidak seperti diibaratkan ‘berobat sesudah terluka’ (atetamba yen wus bucik). Yang demikian itu, meskipun orang mempunyai pengetahuan, tetapi tidak ada gunanya, sehingga pengetahuannya hanya untuk mencari nafkah dan pamrih (kawruhe kinarya ngupaya kasil lan melik).

            Bait ke 94. Ajaran bahwa syarat menjalani ilmu sejati (lakune ngelmu sejati) adalah tidak iri dan dengki (tan dahwen pati openan), tidak berhati panas (tan panasten), tidak mengganggu orang lain (nora jail), tidak melampiaskan hawa nafsu (tan njurung ing kahardan), namun hanyalah diam agar tenang (amung eneng amrih ening).

       Bait ke 95-98. Ajaran bahwa budi yang baik itu biasanya pandai bergaul dengan berbagai kalangan (bangkit ajur ajer). Meskipun pengetahuannya yang benar berbeda dengan pendapat orang lain, ia bersikap baik, sekedar untuk menyenangkan hati orang lain (mung ngenaki tyasing lyan). Oleh karena itu hendaknya dapat berpura-pura bodoh (den bisa mbusuki ujaring janmi).

       Bait ke 99-100. Petuah agar mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan itu sebagai langkah mencapai kemuliaan. Meskipun tidak mampu untuk persis, tetapi harus ikhtiar semampunya. Jika tidak demikian berarti sungguh rugi hidup ini (yekti tuna tinitah).

D. Makna Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wedhatama

Sesuai dengan metode penelitian, inferensi atau pemaknaan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Serat Wedhatama dikelompokkan ke dalam unit-unit tematik, yang dikonstruk menjadi tema-tema : etika pribadi, etika sosial, dan etika terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.  Dalam inferensi atau pemaknaan ini juga dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu, baik yang bersifat historis, sosiologis, maupun kultural.

 

Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika pribadi adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasar uraian tersebut tampak bahwa Serat Wedhatama menekankan pentingnya pendidikan bagi setiap orang. Sebagaimana ajaran-ajaran dalam kultur Jawa, termasuk dalam Serat Wulang Reh, pendidikan yang dimaksud lebih menekankan pada pengembangan hati, rasa, emosionalitas, atau bahkan spiritualitas. Hal itu terungkap pada pesan agar: mempertajam perasaan (angulah lantiping ati),  menyingkirkan hawa nafsu agar menjadi manusia yang berbudi luhur (bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami), dan jangan menjadi orang yang lemah budinya dan tumpul perasaannya (tan mikani rasa). Serat Wedhatama memberi pujian pada orang yang terpesona pada kehidupan ruhani (wus sengsem reh ngasamun), yang sifatnya pemaaf dan  sabar. Sebagaimana ajaran Serat Wulang Reh, pengembangan hati, rasa, emosionalitas, atau bahkan spiritualitas itu akan menghasilan ‘ilmu sejati’, yang membuat nyaman di hati. Orang yang telah memiliki ilmu ini akan menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh (bungah ingaran cubluk) dan tetap gembira jika dihina (sukeng tyas yen den ina).

       Namun demikian, Serat Wedhatama juga menekankan pentingnya pengembangan akal, pikiran, rasionalitas, atau intelektualitas. Hal itu terungkap pada pesan agar: jangan sampai hidup yang hanya sekali ini berantakan (uripe sepisan rusak), yaitu orang yang pikirannya tidak berkembang dan kacau (nora mulur nalare pating seluwir), ibarat dalam gua yang gelap (kadi ta guwa kang sirung), sehingga picik pengetahuannya. Pandangan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan pendapat akal sehat (nalar, logika) (ngelmu iku mupakate lan panemu).

       Tentang etos belajar (menuntut ilmu), terutama “ilmu sejati’ yaitu dengan samadi di tempat yang sunyi (pangasahe sepi samun) atau dengan bertapa (pasahe lan tapa). Dalam sunyi, hati yang jahat dapat ditenggelamkan oleh cinta kasih (karana karoban ing sih) Oleh karena itu, pencapaian ilmu itu harus dijalani dengan suatu proses (ngelmu iku kelakone kanthi laku) dan dimulai dengan kemauan kuat (lekase klawan kas). Syarat untuk menjalani ilmu sejati (lakune ngelmu sejati) adalah tidak iri dan dengki (tan dahwen pati openan), tidak berhati panas (tan panasten), tidak mengganggu orang lain (nora jail), tidak melampiaskan hawa nafsu (tan njurung ing kahardan), tetapi lebih menyukai diam agar tenang (amung eneng amrih ening). Untuk itu dianjurkan agar berguru pada orang bijak yang berjiwa pertapa (sarjana kang martapi). Orang hendaknya tidak menggunakan pengetahuannya semata-mata hanya untuk mencari nafkah dan pamrih (kawruhe kinarya ngupaya kasil lan melik).

       Serat Wedhatama mengajarkan tiga hal yang perlu dijadikan pegangan, yaitu: rela jika kehilangan sesuatu (lila lamun kelangan nora gegetun),  menerima dengan sabar jika mendapat perlakuan yang menyakitkan hati (trima lamun ketaman saserik sameng dumadi), ikhas menyerahkan diri pada Tuhan (legawa nalangsa srah ing bathara).

       Serat Wedhatama mengajarkan tiga nilai yang mengangkat kedudukan manusia, yaitu pangkat, harta, dan kepintaran (wirya harta tri winasis). Jika seseorang tidak memiliki satu pun di antara ketiganya, maka tidak ada artinya sebagai manusia, bahkan lebih berharga daun jati kering, sehingga ia menjadi peminta-minta atau gelandangan (kalamun kongsi sepi saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman, ngulandara).

       Serat Wedhatama mengajarkan agar dalam hidupnya, orang berbekal ingat dan waspada (eling lan waspada; awas lan eling). Ingat yang dimaksud adalah ingat pada petunjuk atau pelajaran yang diberikan oleh alam (eling lukitaning alam). Adapaun maksud waspada adalah mengetahui penghalang dalam hidup (wruh warananing urip), tidak lengah dalam hati (aywa sembrana ing kalbu) dan memperhatikan pada kata-kata yang diucapkan sendiri,  menghilangkan keraguan dalam hati, dan waspada dalam memandang sesuatu (waspada ing pangeksi).  Orang jangan sampai  diibaratkan ‘berobat sesudah terluka’ (atetamba yen wus bucik). Yang demikian itu, meskipun orang mempunyai pengetahuan, tetapi tidak ada gunanya.

       Serat Wedhatama mengajarkan agar segala tindak-tanduknya tidak berlebihan, memberi maaf kesalahan orang kain (den ngaksama kasisipaning sesami), menghindari tindakan tercela dan sifat angkara (sumimpanga ing laku dur). Orang juga harus mampu membedakan antara baik dan buruk, agar terpancar pelita yang menerangi hati (pandaming kalbu). Juga dipesankan  agar orang mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan dalam buku itu sebagai langkah mencapai kemuliaan. Meskipun tidak mampu untuk persis, tetapi harus berikhtiar semampunya. Jika tidak demikian berarti sungguh rugi hidup ini (yekti tuna tinitah).

       Serat Wedhatama mengajarkan agar orang menghindari sifat-sifat angkara dan perbuatan nista (awya mematuh nalutuh). Sifat angkara itu suka mencaci maki tanpa isi, asalkan marah-marah (kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring) dan  kemarahannya  dilampiaskan untuk memukul orang lain.

       Serat Wedhatama memberikan contoh sosok Panembahan Senopati, raja Mataram pertama (wong agung ing Ngeksiganda), sebagai modeliing dalam pendidikan karakter dan tingkah laku yang terpuji (laku utama).  Bait ini cukup populer di kalangan masyarakat Jawa. Panembahan Senopati digambarkan sebagai pribadi yang sungguh-sungguh dalam menekan hawa nafsu (kapati amarsudi sudaning hawa lan nefsu), yang dijalani dengan bertapa (pinesu tapa brata). Ia berusaha membuat senang hati orang lain dan dalam setiap pertemuan ia membuat suasana tenteram. Di kala tiada kesibukan ia berkelana mencari ilham (kala kalaningasepi lelana teki-teki), untuk mencapai cita-cita (nggayuh geyonganing kayun), yang terpesona pada ketenteraman hati (kayungyun eninging tyas), senantiasa menjalani prihatin, kuat dalam mengurangi makan dan tidur (puguh panggah cegah dhahar lawan nendra). Setiap pergi meninggalkan istana, ia berkelana ke tempat yang sunyi (lelana laladan sepi) untuk menyerap kesempurnaan ilmu agar jelas apa yang dituju. Tujuannya untuk mencapai kehalusan budi (budya tulus) dan kemampuan yang optimal (mesu reh kasudarman). Di tepi samodra (neng tepining jalanidhi), ia memahami kekuatan samodra, yang baginya seakan digenggamnya dalam satu genggaman.

 

Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika sosial adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

       Serat Wedhatama mengajarkan agar orang jangan sampai bertindak kurang sopan santun dalam pertemuan, sehingga memalukan  (gonyak-ganyuk nglelingsemi). Demikian juga, jangan bertindak semaunya sendiri (nggugu karepe priyangga). Sifatnya, jika berbicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, tidak mau dianggap bodoh, dan mabuk pujian. Orang harus dapat menempatkan diri (traping angganira) dan mematuhi tatanan negara (angger ugering keprabon).

       Dalam pandangan Serat Wedhatama, orang yang baik budinya itu biasanya pandai bergaul dengan berbagai kalangan (bangkit ajur ajer). Meskipun pengetahuannya benar dan berbeda dengan pendapat orang lain, ia bersikap baik, sekedar untuk menyenangkan hati orang lain (mung ngenaki tyasing lyan). Oleh karena itu kadang kala ia  berpura-pura bodoh (den bisa mbusuki ujaring janmi). Orang yang bijaksana akan menanggapi orang yang dungu dengan cara yang halus (sinamun ing samudana)  dan baik (sesadon ing adu manis).

Serat Wedhatama mengajarkan agar jangan berperilaku seperti perilakunya orang yang dungu, yang bualannya tidak karuan dan tidak masuk akal (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Orang yang dungu itu suka sombong (anggung gumrunggung) dan ingin dipuji setiap hari (ugungan sedina-dina). Orang yang picik pengetahuannya, namun sombong, wataknya tampak ketika bertutur kata, tak mau kalah (lumuh asor kudu unggul), dan meremehkan orang lain (sumengah sesongaran).

3.  Etika terhadap Tuhan Yang Maha Esa

     Kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkait dengan etika terhadap Tuhan adalah beberapa ajaran atau petuah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam bait yang cukup populer, Serat Wedhatama mengajarkan bahwa agama merupakan pegangan hidup yang berharga (agama ageming aji). Namun pandangan keagamaannya bersifat mistis, pandangan keagamaan khas Jawa yang kerap kali menggunakan term-term Islam. Hal itu tampak pada ajaran tentang empat macam sembah (sembah catur), yaitu sembah raga, cipta, jiwa, dan rasa. Dengan sembah rasa, orang akan mampu memahami hakikat (makna terdalam) dari kehidupan (sembah rasa karasa wosing dumadi). Tercapainya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Di sini tidak ada lagi was-was dan keragu-raguan, hanya percaya sepenuhnya pada takdir (wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ing takdir). Ajaran yang bersifat mistis itu juga tampak pada ungkapan tentang ilmu kesempurnaan yang mengajarkan makna dwitunggal (roroning atunggil, yaitu makhluk dan Khalik, titah dan yang menitahkan).

Serat Wedhatama mengajarkan tentang pemahaman terhadap sukma (roh, namun ada yang memaknai Tuhan) (tan samar pamoring sukma). Caranya dengan diresapi dan direnungkan di kala sepi (sinuksmaya winahya ing asepi), di simpan di lubuk hati (sinimpen telenging kalbu), dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, bagaikan mimpi. Dalam kondisi demikian itu lah hadirnya rasa yang sejati. Jika mampu mencapainya, ia telah mendapatkan anugerah Tuhan. Ia mampu mencapai alam kosong (bali alaming ngasuwung), kembali ke asal mula (mulih mula mulanira), tidak mabuk dunia yang sifatnya kuasa-menguasai.

       Serat Wedhatama mengajarkan tentang samadi atau meditasi, sehingga seseorang mampu melihat hakikat pribadinya sendiri secara jelas (wosing jiwangga melok tanpa aling-aling), serta menerawang keadaan yang seakan tanpa batas (angelangut tanpa tepi). Manusia yang luhur gemar menyepi (tuman tumanem ing sepi), mempertajam dan membersihkan jiwa (masah amemasuh budi), namun secara lahiriah tetap menjalankan tugas kewajibannya, bersikap rendah hati, dan senantiasa membuat senang hati orang lain.

       Serat Wedhatama tampak kurang sepaham dengan corak keislaman yang islami. Hal itu tampak pada sindiran terhadap anak muda yang dianggap suka meniru Nabi (manulad nelad Nabi), hanya untuk pamer, sebelum bekerja singgah dahulu di masjid (saben seba mampir mesjid). Anak muda seperti itu katanya hanya berkutat pada syariat dan tidak sampai pada hakikat (anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi). Bahkan terungkap sinisme, jika berkhotbah berirama Dandanggula gaya palaran (kalamun maca kotbah, lelagone Dandanggendis, swara arum ngumandang cengkok palaran). Ia menghendaki keislaman yang tidak mendalam (sathitihik bae wus cukup), jangan bersemangat meniru ahli fikih (nelad kas ngepleki pekih).

       Pandangan yang bernada sarkastis terhadap praktik keislaman kalangan muda, dengan ungkapan: belum mampu tetapi berani memaknai lafadz seperti sayid dari Mesir (durung pecus keselak besus, amaknani rapal kaya sayid seka Mesir), aneh, tidak suka ke-Jawa-annya, memaksa diri mencari pengetahuan di Mekah (elok Jawane den mohi, paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah). Sedangkan, katanya, inti pengetahuan yang dicari itu ada pada diri sendiri. Asal mau berikhtiar, di sana dan di sini (Jawa) tidak berbeda.

Serat Wedhatama bahkan mengemukakan ajaran yang cenderung pada pragmatisme. Hal itu tampak pada pesan yang menyatakan bahwa dari pada mendalami agama, lebih baik mencari nafkah (ngupa boga). Berhubung ditakdirkan sebagai orang lemah, lebih baik mengabdi raja, bertani, atau berdagang (suwiteng nata, tani tanapi agrami). Dengan nada sarkastis terhadap diri sendiri, pengarang memberi alasan “ini karena saya orang bodoh, belum tahu cara hidup orang Arab” (padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab). Ia pernah menghadapi dilema, antara mengutamakan perintah agama atau pekerjaan (bot Allah apa Gusti, tambuh-tambuh solah ingsun). Pada masa mudanya ia rajin beribadah dan dalam hatinya ada perasaan takut menghadapi hari akhir (sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan ngakir jaman). Akan tetapi hal itu terhenti, karena alasan pekerjaan. Tidak sempat sembahyang, karena ketika dipanggil yang memberi makan, jika tidak segera menghadap akan dimarahi (nora kober sembahyang, gya tinimbalan, marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani).

 

*Artikel ini ditulis dalam rangka tugas penelitian Prodi Kewarganegaraan UNY.

Perubahan Kurikulum Di Tengah Mitos Globalisasi

Dunia pendidikan kita sudah berkali-kali mengalami perubahan kurikulum. Setidaknya sudah enam kali perubahan kurikulum tercatat dalam sejarah, yakni Kurikulum 1962, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK. Namun, apa dampaknya terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global? Sudahkah “rahim” dunia pendidikan kita melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial?
Jawaban terhadap semua pertanyaan itu agaknya membuat kita sedikit gerah. Jutaan generasi datang silih-berganti memasuki tembok sekolah. Namun, kenyataan yang kita rasakan, nilai kesalehan, baik individu maupun sosial, nyaris tak terhayati dan teraplikasikan dalam panggung kehidupan nyata. Yang kita saksikan, justru kian meruyaknya kasus korupsi, kolusi, manipulasi, kejahatan krah putih, atau perilaku anomali sosial lain yang dilakukan oleh orang-orang yang notabene sangat kenyang “makan sekolahan”. Yang lebih memprihatinkan, negeri kita dinilai hanya mampu menjadi bangsa “penjual” tenaga kerja murah di negeri orang. Kenyataan empiris semacam itu, disadari atau tidak, sering dijadikan sebagai indikator bahwa dunia pendidikan kita telah “gagal” melahirkan tenaga-tenaga ahli yang memiliki kompetensi untuk bersaing di pasar kerja, meskipun berkali-kali terjadi perubahan kurikulum.
Di tengah-tengah keprihatinan semacam itu, secara mendadak Mendiknas meluncurkan Peraturan Nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan pelaksanaannya pada awal tahun ajaran 2006/2007 lalu. Melalui ketiga Permendiknas tersebut, sekolah (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) harus menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Satuan pendidikan (baca: sekolah) dapat menerapkan Permendiknas tersebut mulai tahun ajaran 2006/2007 dan paling lambat pada tahun ajaran 2006/2007 semua sekolah harus sudah mulai menerapkannya.
Persoalannya sekarang, apakah KTSP mampu mengantisipasi perubahan dan gerak dinamika zaman ketika semua negara di dunia sudah menjadi sebuah perkampungan global? Apakah KTSP mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas?
Mitos Globalisasi
Sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia mustahil mampu menghindar dari dampak dan imbas globalisasi. Globalisasi telah mendorong terciptanya rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-sosial tidak lagi semata dipetakan oleh kawasan teritorial, jarak teritorial, dan batas-batas teritorial. A. Giddens (1990) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial global yang menghubungkan komunitas lokal sedemikian rupa sehingga peristiwa yang terjadi di kawasan yang jauh bisa dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang jauh pula, dan sebaliknya. Dalam konteks ini, globalisasi juga dipahami sebagai sebuah proses (atau serangkaian proses) yang melahirkan sebuah transformasi dalam spatial organization dari hubungan sosial dan transaksi –ditinjau dari segi ekstensitas, intensitas, kecepatan dan dampaknya– yang memutar mobilitas antar-benua atau antar-regional serta jejaringan aktivitas.
Dunia pendidikan pun tak luput dari imbas dan pengaruh yang dihembuskan oleh globalisasi. Paling tidak, ada tiga perubahan mendasar yang akan terjadi dalam dunia pendidikan kita. Pertama, dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dan komersil seiring dengan kuatnya hembusan paham neo-liberalisme yang melanda dunia. Paradigma dalam dunia komersial adalah usaha mencari pasar baru dan memperluas bentuk-bentuk usaha secara kontinyu. Globalisasi mampu memaksa liberalisasi berbagai sektor yang dulunya non-komersial menjadi komoditas dalam pasar yang baru. Tidak heran apabila sekolah masih membenani orang tua murid dengan sejumlah anggaran berlabel uang komite atau uang sumbangan pengembangan institusi meskipun pemerintah sudah menyediakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Kedua, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis.
Ketiga, globalisasi akan mendorong delokalisasi dan perubahan teknologi dan orientasi pendidikan. Pemanfaatan teknologi baru, seperti komputer dan internet, telah membawa perubahan yang sangat revolusioner dalam dunia pendidikan yang tradisional. Pemanfataan multimedia yang portable dan menarik sudah menjadi pemandangan yang biasa dalam praktik pembelajaran di dunia persekolahan kita.
Meskipun demikian, diperlukan kearifan dalam memahami pengaruh dan dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan kita. Mitos yang berkembang selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal dan etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.
Dalam pandangan Mursal Esten, anggapan atau jalan pikiran semacam itu tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tidak berguna. Kemajuan Iptek telah membuat surutnya peranan kekuasaan ideologi dan kekuasaan negara. Dalam buku Global Paradox, Naisbitt pun memperlihatkan hal yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Di dalam bidang ekonomi, misalnya, Naisbitt mengatakan bahwa semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, perusahaan-perusahaan kecil dan sedang akan semakin mendominasi. “Semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin bersifat kesukuan”, “berfikir lokal, bersifat global,” ujar Naisbitt. Ini artinya, proses globalisasi tetap menempatkan masalah lokal ataupun masalah etnis sebagai masalah yang penting yang harus dipertimbangkan.
Dalam konteks demikian, perlu ada penekanan dan perhatian yang lebih serius dari tim pengembang KTSP di sekolah untuk “membumikan” unsur-unsur kearifan dan kebudayaan lokal ke dalam kurikulum. Bahasa dan Sastra Jawa, misalnya, harus menjadi muatan lokal yang “wajib” dikembangkan di sekolah, termasuk di SMA/SMK/MA. Bahkan, perlu dikembangkan lebih lanjut melalui kegiatan pengembangan diri secara terprogram dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler dengan merangkul para pemerhati, pakar, atau penggiat Bahasa dan Sastra Jawa. Dengan cara demikian, sekolah benar-benar akan mampu menjalankan fungsinya sebagai “agen peradaban” yang menggambarkan masyarakat mini –lengkap dengan segala atribut, identitas, dan jatidirinya secara utuh– di tengah-tengah perkampungan global yang gencar menawarkan perubahan gaya hidup dan kultur modern lainnya. Dengan kata lain, sekolah harus menjadi “benteng” terakhir pengembangan unsur-unsur kearifan dan kebudayaan lokal ketika atmosfer sosial-budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat demikian liar dan masif dalam mengadopsi kultur global dengan berbagai ikon modernitasnya.
Implementasi KTSP dalam dunia persekolahan kita juga perlu diikuti dengan perubahan sistem pembelajaran yang benar-benar memberikan ruang gerak kepada siswa didik untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Namun, diakui atau tidak, perubahan kurikulum selama ini hanya sebatas papan nama. Secara lahiriah menggunakan label kurikulum baru, tetapi sejatinya masih menggunakan “roh” kurikulum yang lama.
Dalam pandangan Prof. Aleks Maryunis, guru besar Universitas Negeri Padang (2006), selama ini pemerintah sibuk mengurusi dan membenahi dokumen tertulisnya saja. Menurutnya, perubahan kurikulum di negara kita kebanyakan menitikberatkan pada perubahan konsep tertulis, tanpa mau memperbaiki proses pelaksanaannya di tingkat sekolah. Kurikulum di Indonesia sebenarnya memiliki empat dimensi dasar, yakni konsep dasar kurikulum, dokumen tertulis, pelaksanaan, dan hasil belajar siswa. Di Indonesia yang kerap mengalami perubahan hanya dimensi dokumen tertulis berupa buku-buku pelajaran dan silabus saja yang sudah dilaksanakan. Persoalan proses dan hasilnya, tak pernah mampu dijawab oleh kurikulum pendidikan kita.
Kita berharap, implementasi KTSP saat ini tidak lagi terjebak ke dalam praktik semu di mana perubahan kurikulum hanya sekadar jadi momentum “adu konsep”, sedangkan dimensi proses dan hasil-hasilnya sama sekali tak terurus. Jangan sampai terjadi, dunia persekolahan kita hanya menjadi ladang “kelinci percobaan” yang pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi-generasi “setengah jadi” yang gagap menyelesaikan persoalan-persoalan riil yang sedang dihadapinya.
Peran Keluarga
Yang tidak kalah penting, implementasi KTSP harus diimbangi dengan intensifnya peran pendidikan dalam lingkungan keluarga. Berbagai kajian empiris membuktikan bahwa peranan keluarga dan orang tua berkaitan memiliki pengaruh yang signfikan terhadap prestasi belajar anak. Menurut Idris dan Jamal (1992), peranan orang tua dalam mendidik anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap dan watak, dan ketrampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan-santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar mematuhi peraturan, serta menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan disiplin.
Globalisasi, disadari atau tidak, juga telah membawa perubahan dan pergeseran gaya hidup dalam lingkungan keluarga. Kuatnya gerusan gaya hidup konsumtif, materistis, dan hedonis ke dalam ruang keluarga seringkali menimbulkan dampak memudarnya komunikasi antaranggota keluarga. Orang tua sibuk di luar rumah, sedangkan anak yang luput mendapatkan perhatian dan kasih sayang sering kali menghabiskan waktunya dengan cara mereka sendiri. Hubungan anak dan orang tua pun hanya semata-mata bersifat biologis. Orang tua sudah merasa cukup jika sanggup memenuhi kebutuhan hidup materiil sampai kelak sang anak bisa hidup berumah tangga. Sedangkan, hubungan yang hakiki; kesuntukan membangun komunikasi dan interaksi secara utuh – lahir dan batin—luput dari perhatian.
Dalam upaya menghadapi “penjajahan” kultur yang dominan sebagai imbas globalisasi, idealnya keluarga harus menjadi “barikade” yang mampu menciptakan “imunisasi” terhadap anasir-anasir negatif globalisasi. Anak-anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global, tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, dari ranah keluarga, anak-anak bangsa negeri ini perlu diarahkan secara optimal untuk meraih manfaat dan nilai positif dari segala macam bentuk pengaruh globalisasi yang demikian liar membombardir keutuhan keluarga.
Seiring dengan dinamika globalisasi yang terus merambah ke segenap lapis dan lini kehidupan, sekolah tidak lagi mampu berperan sebagai in loco parentis yang akan mengambil alih peran orang tua secara utuh. Harus ada sinergi antara pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga dan di sekolah. Keluarga harus kembali kepada “fitrah”-nya sebagai institusi yang menyenangkan; tempat menaburkan dan membumikan nilai-nilai akhlakul karimah, etika, kasih sayang, dan nilai-nilai luhur lainnya. Jika dasar-dasar karakter anak sudah terbentuk, mereka akan memiliki motivasi berprestasi yang lebih tinggi karena perpaduan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial sudah mulai terformat dengan baik. Dengan cara demikian, peran sekolah dalam mengoptimalkan pengembangan potensi kognitif, afektif, dan motorik anak akan bisa berlangsung dengan baik.
Sebagus apa pun konsep perubahan kurikulum, tanpa diimbangi dengan optimalnya peran stakeholder pendidikan, hal itu tidak akan banyak membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban bangsa. Sudah terlalu lama bangsa ini merindukan lahirnya generasi bangsa yang “utuh dan paripurna”; berimtaq tinggi, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Hanya potret generasi semacam ini yang akan mampu membawa bangsa ini sanggup bersaing di tengah kancah peradaban global yang demikian kompetitif secara arif, matang, dan dewasa.

Pendidikan di Indonesia: Masalah dan Solusinya

img_20160503_070646

Kualitas pendidikan diIndonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia,Indonesiamenempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan diIndonesiaberada pada urutan ke-12 dari 12 negara diAsia. PosisiIndonesiaberada di bawahVietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000),Indonesiamemiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang samaIndonesiahanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Apa makna data-data tentang rendahnya kualitas pendidikan Indonesia itu? Maknanya adalah, jelas ada something wrong (masalah) dalam sistem pendidikanIndonesia. Ditinjau secara perspektif ideologis (prinsip) dan perspektif teknis (praktis), berbagai masalah itu dapat dikategorikan dalam 2 (dua) masalah yaitu :

Pertama, masalah mendasar, yaitu kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran sistem pendidikan.

Kedua, masalah-masalah cabang, yaitu berbagai problem yang berkaitan aspek praktis/ teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, seperti mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraaan guru, dan sebagainya.

Walhasil, jika pendidikan kita diumpamakan mobil, mobil itu berada di jalan yang salah yang –sampai kapan pun– tidak akan pernah menghantarkan kita ke tempat tujuan (masalah mendasar/paradigma).

Di samping salah jalan, mobil itu mengalami kerusakan dan gangguan teknis di sana-sini, seperti bannya kempes, mesinnya bobrok, AC-nya mati, lampu mati, jendelanya rusak, dan sebagainya (masalah cabang/praktis).

1.Masalah Mendasar : Sekularisme Sebagai Paradigma Pendidikan

Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”

Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti “iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi masalah privat dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).

Sesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus.

Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia salih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.

Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.

Hal ini juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang ketentuan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran yang lainnya.

Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunya kurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan tsaqâfah Islam dan pembentukan kepribadian Islam.

Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqâfah Islam. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi.

Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag), tidak mampu terjun di sektor modern.

Jadi, pendidikan sekular memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritas kepribadian atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular itu akan melahirkan insan pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini adalah out put umum dari sistem pendidikan sekular.

Mari kita lihat contoh negara Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju, kehidupan publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan publik tinggi.

Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungi secara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak boleh dirayakan di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absen di sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat 5 waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik kita tidak boleh melihat wajah agama.

Sistem pendidikan yang material-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular. Dalam sistem sekular, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.

2.Masalah-Masalah Cabang

Masalah-masalah cabang yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah cabang ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :

2.1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2.2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

2.3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikanIndonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru IndependenIndonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.Adayang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).


2.4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswaIndonesiadi dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswaMalaysiadan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan iniIndonesiahanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisiIndonesiaberada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anakIndonesiaternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.


2.5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan.

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.


2.6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

2.7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeriIndonesiasebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku diIndonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

3.Solusinya

3.1. Solusi Masalah Mendasar

Penyelesaian masalah mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Ini sangat penting dan utama.

Ibarat mobil yang salah jalan, maka yang harus dilakukan adalah : (1) langkah awal adalah mengubah haluan atau arah mobil itu terlebih dulu, menuju jalan yang benar agar bisa sampai ke tempat tujuan yang diharapkan. Tak ada artinya mobil itu diperbaiki kerusakannya yang macam-macam selama mobil itu tetap berada di jalan yang salah. (2) Setelah membetulkan arah mobil ke jalan yang benar, barulah mobil itu diperbaiki kerusakannya yang bermacam-macam.

Artinya, setelah masalah mendasar diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang pendidikan diselesaikan, baik itu masalah rendahnya sarana fisik, kualitas guru, kesejahteraan gutu, prestasi siswa, kesempatan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

Solusi masalah mendasar itu adalah merombak total asas sistem pendidikan yang ada, dari asas sekularisme diubah menjadi asas Islam, bukan asas yang lain.

Bentuk nyata dari solusi mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan Islam. Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan, seperti tujuan pendidikan dan struktur kurikulum.

3.2. Solusi Masalah-Masalah Cabang

Seperti diuraikan di atas, selain adanya masalah mendasar, sistem pendidikan diIndonesiajuga mengalami masalah-masalah cabang, antara lain :

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan gutu,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Untuk mengatasi masalah-masalah cabang di atas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah cabang yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan gutu, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Karakter Pendidikan Islam vs Pendidikan Barat

Pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting terhadap pembentukan karakter dan pembangun  peradaban suatu bangsa. Setidaknya ada tiga faktor pembentukan sebuah peradaban yaitu pandangan hidup (worldview), ilmu pengetahuan (science) dan salah satunya adalah pendidikan (education). Kaitan antara ketiga faktor tersebut merupakan vicious circle (lingkaran setan). Artinya pandangan hidup dapat lahir dan berkembang dari akumulasi ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan.

Islam dan Barat memiliki pandangan berbeda mengenai pendidikan. Paham rasionalisme empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya yang berkembang di Barat dijadikan dasar pijakan bagi konsep-konsep pendidikan Barat. Ini jauh berbeda dengan Islam yang memiliki al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad para ulama sebagai konsep pendidikannya. Hal inilah yang membedakan ciri pendidikan yang ada di Barat dengan pendidikan Islam. Masing-masing peradaban ini memiliki karakter yang berbeda sehingga out put yang ‘dihasilkan’ pun berbeda.

Tokoh pendidikan Barat, John Dewey mengatakan bahwa Pendidikan suatu bangsa dapat ditinjau dari dua segi; pertama, dari sudut pandang masyarakat (community perspective), dan kedua, dari segi pandangan individu (individual perspective). Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berlanjutan. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi.

Jadi, Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Pengertian Pendidikan Islam

Dr. Yusuf Qaradhawi memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai pendidikan manusia seutuhnya (whole human education); akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Sedangkan Prof. Dr. Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.

Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan , yaitu:

1.     Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.

2.     Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima\’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Dari pendapat dua tokoh Islam diatas dapat diambil kesimpulan  bahwa pendidikan Islam, bukan hanya mementingakan pembentukan pribadi untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat. Lebih dari itu, pendidikan Islam berusaha membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran Islam, sehingga pribadi-pribadi yang terbentuk itu tidak terlepas dari nilai-nilai agama. Hal ini mendorong perlunya mengetahui tujuan-tujuan pendidikan Islam secara jelas.
Adapun tujuan-tujuan pendidikan yang dimaksud adalah perubahan-perubahan pada tiga bidang asasi, yaitu :

a.    Tujuan-tujuan individual, seperti pertumbuhan yang diinginkan pada pribadi mereka, serta pada persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan akhirat.

b.    Tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan keseluruhan tingkah laku masyarakat umumnya.

c.    Tujuan-tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi dan sebagai suatu aktifitas di antara aktifitas-aktifitas masyarakat.

Meskipun demikian tujuan akhir sebuah pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seseorang Muslim. Karena Pendidikan Islam itu hanyalah suatu sarana untuk mencapai tujuan hidup Muslim, bukan tujuan akhir. Dan tentunya tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai tentunya harus berangkat dari dasar-dasar pokok pendidikan dalam ajaran Islam, yaitu keutuhan (syumuliah), keterpaduan, kesinambungan, keaslian, bersifat praktikal, kesetiakawanan dan keterbukaan. Dan yang paling penting adalah tujuan pendidikan tersebut dapat diterjemahkan secara operasional ke dalam silabus dan mata pelajaran yang diajarkan di berbagai tingkat pendidikan, rendah, menengah dan perguruan tinggi, malah juga pada lembaga-lembag pendidikan non formal.

Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam mempunyai beberapa karakteristik yaitu pertama, Penguasaan Ilmu Pengetahuan. Ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan muslimat. Kedua, Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain. Ketiga, penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilmu penetahuan. Keempat, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum. Keempat, penyesuaian terhadap perkembangan jiwa, dan bakat anak. Kelima, pengembangan kepribadian serta penekaanan pada amal saleh dan tanggung jawab.

Dengan karakteristik-karakteristik pendidikan tersebut tampak jelas keunggulan pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan lainnya. Karena, pendidikan dalam Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupannya.

Pengertian Pendidikan Barat

Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Prancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran.

Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya

Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah . Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-ilmu sekular.

Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat, pertama, menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia; kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran; ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; empat, menggunakan doktrin humanisme; dan kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan . Kelima faktor ini amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di Barat.

Kesimpulan

Penjelasan tentang pendidikan Islam dan Barat di atas memperlihatkan adanya kesenjangan pola berfikir yang digunakan para ilmuwan mereka sehingga menghasilkan karakter yang berbeda. Jika sumber dan metodologi ilmu di Barat bergantung sepenuhnya kepada kaedah empiris, rasional dan cenderung materialistik serta mengabaikan dan memandang rendah cara memperoleh ilmu melalui wahyu dan kitab suci, maka metodologi dalam ilmu pengetahuan Islam bersumber dari kitab suci al-Qur’an yang diperoleh dari wahyu, Sunnah Rasulullah saw, serta ijtihad para ulama.

Jika Westernisasi ilmu hanya menghasilkan ilmu-ilmu sekular yang cenderung menjauhkan manusia dengan agamanya, maka Islamisasi ilmu justru mampu membangunkan pemikiran dan keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani pribadi muslim yang akan menambahkan lagi keimanannya kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab

Sumber: www.hidayatullah.com. Diakses pada hari kamis, 10 Maret 2011. Penulis: Muhammad Deden Suryadiningrat.

Masa Depan Kurikulum Pendidikan Indonesia dan Minimnya Gaji Guru

 

Membicarakan realita sistem pendidikan kita memang tak ada kata berakhir, selalu timbul hal-hal atau masalah-masalah baru yang menuntut untuk diselesaikan. Seperti contoh persoalan kurikulum pendidikan sekarang yang mengalami perubahan terlalu cepat, dari kurikulum 1994 ke KBK, dan KBK ke KTSP. Terutama KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang hanya berumur sekitar dua tahun. Tak sedikit guru yang kaget dan kurang begitu mempersiapkan diri menghadapi pergantian kurikulum ini. Hal ini awalnya sangat mengganggu aktivitas pendidikan walaupun banyak juga guru yang paham dan mengerti serta dapat mengkondisikan diri terhadapnya.

Tak hanya itu, muncul segelintir wacana yang menyatakan bahwa bongkar pasang kurikulum seperti ini hanya dijadikan proyek kepentingan politik tertentu untuk menggelembungkan dana, yang akhirnya dikorupsi dan diselewengkan demi kepentingan pribadi dan golongan. Akibatnya, banyak dana alokasi pendidikan yang dikeluarkan pusat kepada setiap lembaga pendidikan yang tidak tepat sasaran. Tak sedikit dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dialokasikan tidak sebagaimana mestinya. Maka, efek riil yang muncul ialah gedung sekolah banyak yang sudah uzur dan siap ambruk, banyak guru yang sangat kewalahan menghadapi apa yang diminta pusat dan berbagai masalah lainnya. Bahkan ada sebuah sekolah yang sangat tertekan oleh peraturan pusat yang menuntut ini dan itu, sampai-sampai kepala sekolah sangat suntuk dan tak mengerti apa yang harus dilakukan. Sehingga diambil sebuah kebijakan, semua proses operasional sekolah ditentukan sendiri, membuat kurikulum sendiri, membuat bahan ajar sendiri, membuat model rapor sendiri dan sebagainya.

Mereka juga dihadapkan berbagai masalah yang lain. Beberapa hari ini, beberapa media massa menyuguhkan sebuah iklan yang sangat menggiurkan, yakni wacana sekolah gratis. Pemirsa pasti langsung menyimpulkan, dana yang diberikan pemerintah kepada setiap sekolah sangatlah besar. Mereka berpikiran mekanisme transferisasi dana dari pusat sepertinya sangat efisien tanpa adanya penyelewengan sedikitpun. Maka efek yang timbul ialah banyak wali murid yang enggan membayar uang pembangunan (gedung). Padahal tidak demikian faktanya, sekolah gratis hanya dijadikan isu sementara agar masyarakat terbuai dengan rayuan dan iming-iming pemerintah belaka. Dana BOS memang setiap sekolah menerima, tetapi bukan berarti uang SPP digratiskan begitu saja. Sebab, dana BOS hanya untuk kepentingan operasional sekolah dan belum mencukupi bagi pembangunan infrastruktur sekolah. Sehingga pihak sekolah membutuhkan kerjasama dengan wali murid dengan membayar uang SPP setiap bulan.

Dari berbagai masalah tersebut, yang sangat ironis ialah minimnya gaji seorang guru. Masih banyak guru atau dosen yang hidup serba pas-pasan. Bahkan diantara mereka banyak yang menerima gaji dibawah taraf kepantasan, yakni seperti yang telah diatur oleh Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Kurangnya gaji seperti ini tidak hanya dialami oleh guru honorer, namun ada juga yang sudah berstatus sebagai pegawai negeri. Akibat gaji yang sangat kurang tersebut, tak jarang guru ketika diluar aktivitasnya, mereka menyempatkan diri mencari nafkah diluar pekerjaan pokoknya sebagai pengajar. Seakan-akan nafkah yang diperoleh di luar lebih menghidupi keluarganya disamping mengajar, seperti berjualan di pasar, tukang becak, tukang ojek, bahkan pemulung. Mirisnya, tak sedikit dari mereka yang sangat bersyukur dan menganggap pekerjaan tambahan diluar lebih penting dan lebih menyejahterakan keluarganya daripada pekerjaannya sebagai guru sehingga enggan membuat tugas-tugas layaknya guru yang lain. Pembuatan rancangan pembelajaran, silabus dan RPP mereka tinggalkan, sebab terkesan hanya membuang-buang waktu dan mengganggu pekerjaan sampingannya. Akibatnya, mereka jarang memperoleh predikat guru profesional lantaran kurangnya mendapat perhatian dalam hal finansial dari pemerintah.

Apabila perhatian pemerintah terhadap akuntabilitas seorang guru sudah sangat berkurang, lalu bagaimana nasib peserta didik nantinya yang sangat membutuhkan perannya dalam menghadapi masa depan mereka? Tak sedikit peserta didik yang ketika lulus hanya membawa ijazah dan title saja tanpa ada perubahan dari dalam diri, baik keilmuan dan akhlak mereka. Banyak kasus yang melibatkan antara siswa dan guru, seperti tindak kekerasan hingga kasus pelecehan seksual yang dilakukan guru terhadap siswa. Itu semua diakibatkan karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kualitas pendidikan yang telah dirancang dan kurikulum yang dibuat. Serta tidak adanya tali penghubung (ikatan kekeluargaan) yang kondusif antara para guru dengan pemerintah.

Lalu pertanyaannya sekarang, apakah kita membiarkan pendidikan kita terus mengalami penurunan dan terus jatuh ke dalam jurang keterpurukan? Rancangan kurikulum pendidikan kita dewasa ini memang sudah sangat bagus dan benar-benar menunjang kredibilitas sosok seorang guru yang unggul dan profesional di bidangnya. Kurikulum sekarang yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), merupakan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi pendidik dan peserta didik di masing-masing satuan pendidikan, yakni di masing-masing sekolah. Sekolah sudah tidak perlu menunggu kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan dan pengajaran, sebab pengembangan kurikulum sepenuhnya diberikan kepada masing-masing sekolah. Hal ini menuntut masing-masing guru membuat rancangan dan bahan ajarnya sendiri, dan disertai dengan pelaksanaan dan strategi yang cocok bagi model pengajarannya demi kesuksesan peserta didik itu sendiri. Hanya saja, kedaulatan seorang guru juga wajib diperhatikan. Mereka berprofesi sebagai guru tidak semata-mata mendidik peserta didik agar berhasil, namun mereka juga bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya sehingga sangat membutuhkan gaji yang pantas untuknya. Jika tidak, mereka akan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan beralih mencari pekerjaan lain sehingga yang menjadi korban adalah peserta didik itu sendiri selaku penerus generasi bangsa.

Di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 ditegaskan bahwa seorang guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik. Di sekian banyak tugas yang dibebankan kepada guru tersebut, maka tentu saja menguras dan mengorbankan banyak waktu dan tenaga, dan tentunya menuntut imbalan gaji yang pantas mereka terima atas kerja keras mereka. Apabila kewajiban seorang guru telah terpenuhi namun imbalan gaji yang diperoleh sangat jauh dari harapan, maka dampaknya mereka akan sering mengeluh. Keluhan mereka terkadang sampai pada taraf ekstrim, seperti melakukan demonstrasi dan unjuk rasa di depan sebuah gedung lembaga tertentu – misal dinas pendidikan –, hingga mogok mengajar.

Mengacu pada persoalan diatas, maka sangat perlunya dibentuk kurikulum yang dapat mengikat antara pemerintah, guru dan peserta didik dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran serta diiringi dengan dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Program KTSP yang sedang berjalan diharapkan terus dikembangkan dan disempurnakan demi terwujudnya sistem pendidikan yang diharapkan kita bersama. Walhasil, reformasi dalam bidang pendidikan semacam ini tidak akan ada gunanya jika hanya menitikberatkan pada pengembangan teori saja dan tidak ada kesinambungan gerak antara pusat dan daerah, lembaga pendidikan dengan instansi pendidikan, dan pendidik dengan peserta didiknya. Pada akhirnya, persoalan ini semua tentunya bukan menjadi tanggung jawab salah satu pihak saja, namun semua yang termasuk kategori penyelenggara pendidikan, mulai pemerintah pusat hingga sekolah, pendidik, sarjana pendidikan, praktisi pendidikan, stake holder, bahkan masyarakatpun turut ikut andil dalam mengembangkan sistem pendidikan kita. Semoga persoalan ini dapat terselesaikan tanpa melahirkan permasalahan baru yang lebih pelik dan rumit lagi.

Sumber: Inspirasi dari buku “Agenda Pendidikan Nasional” Karangan Benni Setiawan. Penerbit Ar-Ruzz Media Yogyakarta.

KENAKALAN ANAK CERMINAN KENAKALAN ORANG TUA

Masa muda dan remaja menurut Zakiah Daradjat merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa-masa ini ditandai dengan dengan adanya goncangan dan kegelisahan. Tanda-tanda ini mengisyaratkan bahwa ia telah merasa dewasa dan mampu melakukan sesuatunya dengan baik sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua. Ia merasa telah mampu berpikir dengan baik dan mandiri tanpa bantuan orang lain.

Kasus baru-baru ini, kurang lebih 2-3 tahun yang lalu, tayangan televisi dihebohkan dengan hadirnya kerusuhan yang diakibatkan oleh geng motor di Jawa Barat. Tidak hanya itu, hampir  setiap tempat di Indonesia terjaring kasus kerusuhan dan tawuran antar para pelajar, baik SMP dan SMA. Melihat fenomena tersebut, banyak pengamat menyatakan bahwa usia muda dan remaja adalah masa mencari jati diri dan identitas diri. Banyak juga orang yang memiliki perspektif bahwa usia muda sering dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, hura-hura, dan membuat aksi-aksi yang berpotensi dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Namun yang menjadi permasalahan, apakah setiap yang dialami oleh para remaja dan kaum muda semata-mata karena faktor dari dalam diri dan lingkungan? Faktor internal sudah memang merupakan bawaan fitrah dari dalam dirinya, sebab masa-masa ini merupakan masa peralihan dan pencarian identitas diri. Faktor eksternal, seperti faktor keadaan lingkungan dan teman sebaya juga sangat potensial menyebabkan kondisi jiwa anak terguncang dan lebih tendensius ke arah kondisi tersebut. Namun, apakah tidak ada upaya untuk membentengi dan mengantisipasi keadaan yang kurang stabil dari anak tersebut? Salah satunya yang memiliki peran ini adalah keluarga (orang tua). Apabila orang tua anak tersebut mampu mengontrol perilaku keseharian sang buah hatinya dengan penanaman norma-norma, pendidikan karakter dan agama, maka dapat diprediksi anak tersebut akan mampu mengendalikan diri dari pengaruh luar. Tetapi di sisi lain, kelakuan atau kurang berperannya orang tua juga berpotensi meningkatkan tingkat kekacauan kejiwaan sang anak.

1. Kelalaian orang tua pada tugasnya mengawasi sang anak.

Seorang anak, dalam fase pertumbuhannya sangat membutuhkan bimbingan dan bantuan orang lain, terutama orang yang lebih tua. Tanpa itu semua, sang anak akan beranggapan bahwa semua hal-hal yang ia lakukan itu benar, namun keliru. Mereka belum mampu mengatur perasaan dirinya dan orang lain. Inilah yang dalam ilmu psikologis disebut dengan sifat egosentris anak. Maka, disinilah peran penting orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya ke arah budi pekerti yang baik.

Kerusakan moral anak remaja, baik kasus tawuran antar pelajar dan geng motor, tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak institusi pendidikan, terlebih para pendidik. Seakan-akan mereka memikul tanggung jawab anak lebih dari yang lain. Namun sebenarnya, yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak adalah seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua dari anak itu sendiri. Saat ini, orang tua terlalu disibukkan oleh urusan dunia, materi dan bisnis sehingga melupakan tugas pokok mendidik anaknya. Banyak seorang anak yang kehilangan kasih sayang dari orang tuanya sehingga perkembangan anak tersebut menjadi tidak terkendali, melampiaskan keguncangan psikisnya kepada hal-hal yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain disekitarnya.

Orang tua seperti itu biasanya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawabnya kepada orang lain. Bila orang tuanya tergolong orang yang secara finansial sangat mampu dan kaya, maka tugasnya diserahkan sepenuhnya oleh baby sister atau pembantu rumah tangga. Mereka diberi amanah mengganti peran orang tua sehingga tiap bulannya dibayar dan digaji. Maka akibatnya ialah orang tua dari anak tersebut lalai dan mangkir dari tugasnya mendidik anak lantaran kesibukan ekonomi mereka masing-masing.

Perkembangan zaman seperti saat ini membuat banyak masyarakat berpikiran serba modern, dan bergaya hidup layaknya kehidupan orang elite. Kebanyakan seorang perempuan merasa malu disebut ibu rumah tangga agar disebut-sebut sebagai orang gaul. Padahal istilah “gaul” bisa bermakna positif atau juga bermakna negatif. Bila orang tua gaul dimaksudkan sebagai orang tua yang lebih mementingkan bekerja dan membanting tulang dari pada mengurus anaknya sendiri, maka istilah gaul ini patut dipertanyakan, jangan-jangan ini bermakna negatif, merusak norma yang tengah berlaku di masyarakat dan sebagainya. Maka kemungkinan akibat yang akan timbul adalah mereka jarang bahkan tidak pernah melihat perkembangan putra-putrinya selama diasuh oleh orang lain, baik fisik, psikis maupun emosinya.

Untuk itu, masa-masa awal perkembangan anak adalah masa-masa yang paling penting dalam kehidupan sang anak. Sebab masa depan anak sangat bergantung pada masa-masa kecilnya dulu. Bila di masa kecilnya kurang diperhatikan oleh orang tuanya, maka dapat dipastikan kehidupan masa depannya akan suram. Anak merupakan generasi penerus cita-cita keluarga dan masyarakat. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh generasi penerus kita, mau dibawa kemanakah masa depan bangsa ini akan dipertaruhkan. Jika anak-anak sudah berani melanggar norma dan etika yang tengah berlaku karena alasan orang tuanya mangkir dari tanggung jawabnya, dapat dibayangkan bagaimana kondisi mereka di masa depan.

2. Kenakalan orang tua meningkatkan emosional anak.

Orang tua bisa juga bertingkah laku layaknya seorang anak muda. Sebab sebagaimana potongan syair lagu yang dilantunkan oleh Rhoma Irama “masa muda masa yang berapi-api”. Karakter anak muda sangat berpotensi untuk mengubah sejarah, bisa mengarah kepada kebaikan atau mungkin juga dapat mengarah kepada kehancuran. Orang tua merupakan sumber inspirasi bagi anaknya, karena anak memandang orang tua sebagai sosok yang layak dan harus ditiru. Apabila orang tua memberi contoh yang kurang baik kepada anaknya, maka lama-kelamaan anak tersebut meniru dan mencontoh perilaku orang tuanya tersebut. Proses meniru dan mencontoh yang dilakukan sang anak tersebut sedikit demi sedikit tertanam dalam ingatannya sehingga akan membentuk karakter yang sama identik dengan orang tuanya. Bila suatu saat anak tersebut ditanya seseorang, “Mengapa kamu lakukan itu?”. Maka dengan relaks anak tersebut menjawab, “Lha wong bapak saya aja kesehariannya seperti ini, saya ya tinggal ikut aja”. Apakah pernyataan seperti itukah yang diharapkan?

Fenomena kekerasan yang dialami oleh kaum muda, seperti tawuran atau geng motor adalah satu contoh bukti orang tua tidak mempersiapkan generasi muda dengan baik. Karakter yang ditanam dalam jiwa anak semacam itu memang sudah disetting sedemikian rupa oleh keadaan eksternal dari anak tersebut. Kepribadian orang tua adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap masa depan buah hatinya. Akibat kelalaian orang tua sedikit saja, anak bisa tergelincir kepada hal-hal yang negatif. Apalagi orang tua yang tidak menunjukkan sikap kedewasannya kepada anak, sebagaimana istilah yang lazim diketahui orang jawa “wong tuwo kelakuane koyok gaplek pringkilan”.

Maka dari itu, guna mengantisipasi peluang kenakalan orang tua, perlu adanya penataan kembali sikap dan kepribadian dewasa bagi orang tua. Sudah saatnya orang tua bertegur sapa dan bercanda sembari mendidik anaknya hingga memberikan pengertian tanpa harus menggurui. Dengan sentuhan hangat anak-anak lama-kelamaan akan mengerti dengan sendirinya tentang identitas yang dibangun melalui sikap dan pola didik dari bapak ibunya.

3. Tindak kekerasan orang tua terhadap anak.

Tindak kekerasan dalam bentuk apapun, tidak pantas ditunjukkan kepada anaknya sendiri. Kekerasan semacam ini sudah saatnya dihindari oleh masing-masing orang tua. Sebab, tindak kekerasan hanya akan menimbulkan kebencian antara orang tua dan anak. Dampak dari tindak kekerasan ini sebagian besar akan terlihat ketika sang anak sudah menginjak dewasa. Kemungkinan besar efek yang timbul dari sifat sang anak akibat didikan keras orang tuanya bisa jauh lebih besar dari apa yang dialami semasa kecilnya. Malah anak tersebut dapat melakukan hal-hal yang lebih meresahkan.

Oleh sebab itu, kesadaran orang tua untuk meluangkan waktu mendidik dan membimbing anaknya dengan penuh kasih sayang akan mampu mengarahkan generasi muda menjadi insan mandiri dan bertanggung jawab.